Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Rabu, 09 September 2026

Karil UT Jurusan PGSD

 

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEMBASED LEARNING TIPE CREATIVE PROBLEMSOLVING PADA SISWA KELAS IV

SDN 003 ..............

 

 

…………………1, …………………….2

 

1Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Terbuka

2 Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Terbuka

e-mail : ……………………., . ………………………

 

 

ABSTRAK

 

 

Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat keaktifan dan hasil belajar setelah mengimplementasikan model problem based learning tipe creative problem solving. Subjek penelitian sebanyak 20 siswa SDN 003 .............. pada kelas IV. Cara mendapatkan data melalui observasi, dokumentasi dan tes. Cara menganalisis data  digunakan teknik kualitatif. Validasi memakai teknik triangulasi. Perolehan data penelitian memberikan petunjuk meningkatnya keaktifan belajar 3 siswa (15%), meningkat sebanyak 12 siswa (60%), dan 100% atau 20 siswa pada akhir siklus. Hasil belajar siswa sebesar 56,00 pada awal penelitian menjadi  64,00 dan 71,50 pada akhir siklus dengan penjelasan mengenai ketuntasan belajar 2 siswa (10%), menjadi 10 siswa atau 50% dan 18 siswa atau 90% pada akhir pelaksanaan siklus kedua.

 

Kata Kunci:  creative problem solving, hasil belajar, keaktifan, problem based learning

 

PENDAHULUAN

Kondisi internal belajar mengacu pada faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang yang memengaruhi proses pembelajaran. Kondisi ini sangat penting karena dapat menentukan sejauh mana seseorang dapat memahami, menguasai, dan menerapkan apa yang dipelajari. Faktor eksternal yang memengaruhi hasil belajar adalah berbagai hal di luar diri individu yang dapat memengaruhi kemampuan dan hasil belajarnya (Lubis, 2021:97). Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pembelajaran siswa antara lain kondisi lingkungan fisik, lingkuangan sosial, kondisi ekonomi orang tua siswa, kebijakan dan sistem pendidikan, budaya di lingkungan siswa, dan media serta teknologi pembelajaran yang dimiliki Jayanti (2020:8).

Strategi pengajaran dan pembelajaran yang efektif harus dapat mencapai target belajar yang ditetapkan dengan cara terencana, sistematis, dan menyesuaikan kepentingan dan target belajar siswa.  Strategi pengajaran harus didasarkan pada metode yang relevan dengan tujuan pembelajaran, kemampuan siswa, dan kesesuian substansi materi ajar. Prosedur mengajar yang efektif membutuhkan rencana yang jelas, termasuk tujuan, langkah-langkah pembelajaran, alat bantu, dan evaluasi yang sesuai dengan capaian pembelajaran. Penggunaan alat bantu visual, teknologi, atau media lainnya dapat meningkatkan daya serap materi  dan menjadikan proses belajar membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Strategi pembelajaran harus berpusat pada siswa sehingga terjadi komunikasi dalam belajar yang optimal, seperti melalui kerja kelompok, proyek, atau eksplorasi mandiri. Upaya guru dalam membuat proses belajar yang menyenangkan dapat dilakukan memberikan motivasi, pujian, atau dorongan untuk meningkatkan minat dan partisipasi aktif siswa. Proses evaluasi harus dilakukan secara terus menerus sehingga capaian hasil belajar dapat dilihat keberhasilannya dan sebagai feed back bagi perbaikan proses pengajaran. Dengan mengintegrasikan aspek-aspek tersebut, guru dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (Nuryasana, 2020:8)

Peneliti ..............ukan observasi awal di SDN 003 .............. dan menemukan bahwa pada umumnya pendidik belum menerapkan mode ldan metode yangt epat dalam proses pembelajaran untuk setiap mata pelajaran. Hal ini disebabkan berbagai kendala yang menghambat pelaksanaan metode pengajaran. Media dan kelengkapan sekolah belum sepenuhnya menyokong untuk menerapkan metode pengajaran dengan tepat sasaran. Selain itu, pendidik mungkin tidak memiliki pemahaman yang lengkap tentang bagaimana benar memanfaatkan metode ini. Pada mata pelajaran bahasa Indonesia nampak sosok guru mengajar kelas IV mengandalkan buku teks dalam penjelasan dan tidak memakai media apapun untuk ..............ukan kegiatan yang menyokong proses belajar. Keadaan tersebut yang berhasil diamati di SDN 003 .............. adalah monotonnya  pemberikan materi dengan metode ceramah dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia.

 KKM adalah pedoman untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar. Nilai 70 dianggap sebagai parameter keberhasilan. Setelah evaluasi terhadap hasil belajar siswa pada hasil tes di awal kegiatan penelitian, terlihat bahwa total 20 siswa sejumlah 18 siswa atau sekitar 90% dari total siswa, memperoleh nilai di bawah standar yang ditetapkan. Dari hasil penilaian, terdapat 2 siswa atau sekitar 10% dari total siswa yang berhasil mencapai atau melebihi KKM ≥70, dan rata-rata klasikal 56,00 dengan besaran keaktifan belajar 15% atau 3 siswa.

Berdasarkan uraian masalah pembelajaran sesuai dengan kondisi aktual di lapangan, maka dapat ditentukan rumusan masalah sebagai fokus pelaksanaan penelitian untuk perbaikan proses belajar bahasa Indonesia siswa kelas IV SDN 003 .............. yaitu bagaimana peningkatan keaktifan dan hasil belajar melalui penerapan model pembelajaran problem based learning tipe creative problem solving. Masalah penelitian yang dikemukakan mengarah pada penetapan tujuan yaitu untuk mendapatkan informasi yang valid tentang keaktifan dan hasil belajar melalui penggunaan model problem based learning tipe creative problem solving.

Beragamnya pilihan metode ajar menjadikan pengajar dapat dengan mudah menentukan metode yang paling sesuai tanpa lagi merasa bingung atau kesulitan. Dalam hal ini, pengajar memiliki kemudahan menyesuaikan metode ajar untuk kondisi dan mata pelajaran sehingga memberikan hasil yang optimal bagi siswa. Easy Safira (2021:172) Menurut para guru, dengan mengungkapkan metode pengajaran yang sesuai, efektivitas tujuan pembelajaran dapat meningkat secara signifikan. Apapun jalur yang yang dipilij prioritas utamanya adalah fokus terhadap aktivitas siswa bukan hanya aktivitas guru.

Keaktifan adalah gabungan antara tindakan fisik dan mental yang tak terpisahkan. Hal ini ditulis oleh Sardiman (2016:98) bahwa keaktifan memerlukan keduanya. Meningkatkan keaktifan belajar merupakan kunci utama dalam memperoleh hasil belajar siswa secara maksimal. Pernyataan ini adlaah sebagai bentuk kegiatan belajar yang mendorong siswa agar dalam peran serta dengan aktif pada proses belajar mereka. Menurut Rusman (2016:67), keaktifan siswa merupakan kunci penting dalam proses pembelajaran yang efektif. Temukan kekuatan pembelajaran aktif dengan hukum latihan Thorndike, yang menekankan pentingnya praktik dalam proses pembelajaran. Sementara itu, prinsip keaktifan Mc Keachie menyoroti fakta bahwa individu adalah pembelajar aktif yang selalu ingin memperluas pengetahuannya. Sebagaimana dicatat Dimyati dalam publikasi Sri Utami (201:686),  menjelaskan prinsip-prinsip ini menggarisbawahi peran penting keterlibatan dan rasa ingin tahu dalam pembelajaran yang efektif.

Sudjana (2016:19), menjelaskan hasil belajar merupakan capaian yang didapatkan dengan prosedur pembelajaran yang terukur dengan menggunakan tes yang direncanakan secara sistematis, baik yang tertulis, lisan, maupun yang berbasis kinerja. Perubahan ini meliputi pengembangan keterampilan dan nilai-nilai pribadi, selain peningkatan pengetahuan yang akan sangat bermanfaat (Darma, 2021:41). Hasil belajar menunjukkan  tingkatan kecakapan yang telah diperoleh siswa dengan kemahiran yang telah dijalani. Hasil dari kegiatan tersebut memiliki peran vital pada prosedur belajar. Pelaksanaan evaluasi terhadap hasil belajar memunculkan paparan data yang sangat berharga untuk guru perihal perkembangan siswa sebagai upaya mencapai tujuan belajar.  Dimyati dan Mudjiono (2015:213), menjelaskan hasil belajar dinilai dari sudut pandang yang berlainan dari persepsi peserta didik dan persepsi pendidik. Ini menunjukkan bahwa ada banyak cara untuk mengevaluasi hasil belajar dan memperbaikinya.

Ferdiani & Khabibah (2022), menjelaskan representasi pembelajaran yang tepat dapat berkontribusi terhadap penyelesaian masalah adalah problem based learning tipe creative problem solving. Model pembelajaran dimaksud  merupakan adalah model ajar dengan titik fokus upaya pemecahan masalah yang rumit sehingga memerlukan daya nalar sebagai upaya mencari solusinya. Menurut Syaiful dkk. (2021), problem based learning dengan fokus pencarian solusi masalah secara kreatif adalah model tepat pemecahan masalah. Pendekatan ini memanfaatkan permasalahan dunia nyata sebagai dorongan siswa untuk belajar melalui pemikiran yang tajam dan keterampilan pemecahan masalah untuk memperoleh wawasan dan konsep penting dari materi pelajaran..

Penentuan jenis model belajar yang tepat untuk digunakan adalah problem based learning tipe creative problem solving. Model belajar jenis ini terbukti dapat mengarahkan siswa dalam pencarian ide, perolehan ide, dan menentukan penyelesaian pada suatu permasalahan, pendidik dapat menyodorkan persoalan untuk diselesaikan oleh siswa khususnya pada hal-hal yang terkait dengan masalah yang ada di lingkungan siswa dalam kesehariannya, menumbuhkan insting mencari tahu siswa, penyusunan upaya penyelesaian perkara, yang berujung pada tingkat pemahaman siswa terhadap upaya penggunaan prosedur yang cocok dan akurat.

Membahas tentang model pembelajaran tersebut menjadi sangat penting karena model tersebut membimbing siswa untuk memunculkan ide, mendapatkan ide, dan menemukan solusi dari suatu masalah. Bagian terbaiknya adalah ketika guru memberi siswa masalah kehidupan nyata untuk dikerjakan, hal itu memicu rasa ingin tahu mereka dan membantu mereka mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Jadi, dengan menggunakan strategi terbaik, siswa dapat menemukan solusi yang paling cocok diterapkan.

Model pembelajaran sebagaiman dijelaskan di atas menuntut siswa untuk menggunakan imajinasi dan emosinya untuk menemukan solusi yang baik yang penting untuk memecahkan masalah tersebut. Akibatnya siswa tidak mampu menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah sesuai kebutuhannya sendiri (Selviana, 2022). Model yang dipilih akan membantu masyarakat dalam mengembangkan ide-ide kerja baru yang relevan dengan kebutuhan kelompok, sehingga menghasilkan pemikiran kreatif ketika muncul permasalahan. Ketika seorang siswa berpartisipasi dalam suatu kelompok, mereka diharapkan untuk (1) ..............ukan penelitian mandiri mengenai tujuan dan masalahnya. (2) mengumpulkan data dan ..............ukan observasi. (3) mempunyai banyak ide. (4) Permasalahannya harus tepat dan harus ada cara penyelesaiannya. Seorang siswa tidak dapat memecahkan suatu masalah dengan memberi label pada masalah tersebut; sebaliknya, seorang siswa harus memulai dengan menganalisismasalah, menghasilkan ide-ide, dan kemudian mendapatkan metode yang tepat sebagai upaya pemecahan masalah yang ada.

 

METODE

Penelitian merupakan PTK memakai rancangan penelitian Kemmis dan Mc. Taggart. Pelaksanaan penelitian pada bulan September sampai dengan November 2024 pada semester I Tahun Pelajaran 2024/2025. Subjek penelitian siswa kelas IV SDN 003 sebanyak 20 siswa. Fokus penelitiannya adalah pada keaktifan dan keberhasilan belajar siswa. Teknik pengumpulan data terbagi menjadi teknik tes, dilakukan menggunakan soal tes pilihan ganda sebanyak 10 soal dan dilaksanakan pada akhir siklus. Teknik non-tes didasarkan pada kegiatan observasi dan dokumentasi. Analisis secara deskriptif untuk selanjutnya dipaparkan menjadi tabel dan grafik. Pelaksanaan siklus mengikuti langkah-langkah Kemmis & Mc. Tegart (Hariatin, 2022:7), yang menitikberatkan pada kegiatan pokok yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi dan (4) refleksi.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengumpulan data dilakukan melalui pelaksanaan proses belajar mengajar yang dilaksanakan dalam dua siklus. Sebelum pelaksanaan penelitian diawali dengan kegiatan pra-penelitian yang dilaksanakan 1 pertemuan. Pada tahapan pelaksanaan penelitian setiap siklusnya dilaksanakan selama 70 menit. Kegiatan evaluasi dilaksanakan pada akhir siklus dengan kegiatan post-test. Pelaksana penelitian adalah peneliti sendiri dibantu satu guru bertindak sebagai observer. Hasil observasi terhadap proses belajar menggunakan model problem based learning tipe creative problem solving tersaji di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan grafik di atas terlihat bahwa tingkat keaktifan siswa pada kondisi awal sebanya 3 siswa (15%), pada siklus I sebesar 60% (12 siswa) dan tergolong baik. dan pada siklus II meningkat menjadi 100% (20 siswa) dan dinilai sangat baik. Hasil observasi keaktifan siswa meningkat sebesar 45% dari kondisi awal ke siklus I dan 40% dari siklus pertama ke siklus kedua.

Peningkatan keberhasilan belajar siswa ditentukan berdasarkan hasil tes formatif kondisi awal, siklus pertama dan siklue kedua sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa hasil belajar meningkat setelah penerapan model problem based learning tipe creative problem solving. Rata-rata nilai meningkat dari 56,00 pada pra kegiatan penelitian, siklus I menjadi 64,00, dan pada siklus II menjadi 71,50. Berdasarkan sajian data di atas diketahui pada pra kegiatan penelitian 2 siswa (10%) dinyatakan tuntas, siklus I menjadi 10 siswa (50%), dan pada siklus II menjadi 90% (18 siswa). Capaian angka di atas memberikan penjelasan bahwa siklus II indikator keberhasilan telah terpenuhi, yaitu ketuntasan belajar siswa sebesar ≥ 85%. Untuk memperjelas uraian tabel di atas disajikan grafik sebagai berikut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penerapan model creative problem solving type problem based learning pada pembelajaran bahasa Indonesia, pembelajaran tidak hanya menjadi lebih bermakna dan menyenangkan, namun siswa juga menjadi lebih aktif karena terlibat aktif dalam memecahkan masalah dengan prosedur dan alur pikir serta diskusi. Model pengajaran pembelajaran ini terfokus pada pemecahan masalah secara kreatif memastikan keterlibatan siswa dalam proses belajar secara maksimal baik aspek fisik maupun psikisnya. Inti dari model belajar ini adalah mempunyai kemampuan untuk menjadikan proses pembelajaran bermakna dan menyenangkan, sehingga peserta didik lebih mudah mengingat konten.

Hal tersebut sependapat dengan Ferdiani & Khabibah (2022), menjelaskan representasi pembelajaran yang tepat dapat berkontribusi terhadap penyelesaian masalah adalah problemxbased learning tipexcreative problemxsolving.  Ketetapan dalam penentuan model ajar akan sangat berpengaruh terhadap keluaran hasil yang tercapai secara maksimal. Model belajar jenis ini terbukti dapat mengarahkan siswa dalam pencarian ide, perolehan ide, dan menentukan penyelesaian pada suatu permasalahan, pendidik dapat menyodorkan persoalan untuk diselesaikan oleh siswa di lingkungan siswa dalam kesehariannya, menumbuhkan insting mencari tahu siswa, penyusunan upaya penyelesaian perkara, yang berujung pada tingkat pemahaman siswa terhadap upaya penggunaan prosedur yang cocok dan akurat.

Hasil penelitian memberikan pembuktian perbedaan keaktifan dan hasil belajar dari sebelum tindakan, siklus pertama dan siklus kedua. Keadaaan ini memberikan petunjuk yang kuat bahwa model belajar problem based learning tipe creative problem solving mampu meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa. Ketercapaian keberhasilan salah satu faktor utamanya adalah model pembelajaran yang digunakan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk dapat memecahkan persoalan yang dihadapi secara kreatif dengan memanfaatkan kebebasan memecahkan masalah yang diberikan. Syaiful (2021), menjelaskan bahwa model  problem based learning tipe creative problem solving berfokus pemecahan masalah kreatif merupakan model yang dapat membantu memecahkan masalah. Siswa terinspirasi oleh masalah-masalah dunia nyata untuk mengembangkan pemikiran perseptif dan kecakapan mengurai permasalahan menggunakan logika berpikir kreatif yang pada ujungnya akan dapat meningkatkan pola pikir yang lebih baik dan penguasaan konsepsi substansial dari materi yang dipelajari.

Model sebagaimana dijelaskan di atas menitikberatkan pada pola pemecahan substansi belajar secara kreatif dan memiliki keunggulan : (1) keikutsertaan siswa secara intensif dalam proses belajar sehingga pengetahuan dapat diserap secara efektif, (2) mereka dilatih untuk berhasil dengan teman sekelasnya untuk bekerja sama, dan (3) mereka mengembangkan kapasitas  dan pola berpikir energik selaras dengan bahan ajar yang dipelajari. Pembuktianya dapat dilihar dari keterlibatan siswa pada proses belajar, baik saat fokus pada permasalahan pada tahapan siklus belajar yang diikutinya. Siswa secara mandiri memulai meneliti sendiri memecahkan permasalahan yang dimunculkan guru. Selain kelebihan, model pembelajaran ini mempunyai kekurangan, yaitu memerlukan waktu tatap muka yang sangat lama. Persiapan yang matang dari pihak guru sangatlah penting. Untuk mengatasi masalah tersebut, guru terlebih dahulu mempersiapkan seluruh bahan ajar, termasuk lembar kerja dan peralatan praktik.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Implementasi model pembelajaran problem based learning tipecreative problemsolving  telah ditunjukkan untuk secara efektif meningkatkan keterlibatan siswa dalampembelajaran bahasa Indonesia, khususnya materi puisi. Jadi, seperti yang dijelaskan di atas, keaktifan siswa meningkat setelah dilakukan beberapa tindakan. Pada praperbaikan, hanya 3 siswa atau 15% yang menunjukkan peningkatan, tapi pada siklus awal, jumlah siswa yang aktif meningkatmenjadi 12 atau 60%., dan akhirnya mencapai 100% siswa atau 20 siswa, selama siklus kedua, sehingga memenuhi ambang batas minimal ≥85% siswa yang dianggap tuntas. Penerapan model pembelajaran tersebut  telah terbukti efektif menaikkan hasil belajar siswa materi puisi. Temuan di atas didukung dengan peningkatan hasil belajar awal 56,00 pada siklus Isebesar 64,00, dan pada siklusII sebesar 71,50, dengan nilai minimal kelulusan sebesar ≥70. Tingkat ketuntasan belajar pada awalnya mencapai 2 siswa (10%), menjadi 10 siswa (50%) pada siklus I setelah diterapkan model pembelajaran yang sesuai dan selanjutnya meningkat menjadi 18 siswa (90%) pada siklus II , melebihi nilai kelulusan minimal 85%.

Pemilihan metodologi yang tepat menghasilkan adil yang signifikan pada prosedur dan produk pembelajaran, khususnya dalam meningkatkan prestasi akademik siswa. Guru harus memberikan bimbingan intensif kepada siswa selama proses pembelajaran, sekaligus mampu menumbuhkan lingkungan belajar yang kondusif. Guru harus memfasilitasi keterlibatan siswa dalam berpartisipasi  secara bersungguh-sungguh pada saat  pelaksanaan pembelajaran.

Untuk meningkatkan kualitas keahlian guru, berdasarkan pengalaman peneliti, diperlukan kerjasama antara guru dengan rekan sejawatnya dan hasilnya dapat disampaikan kepada guru-gurumelalui Kelompok Kerja Guru (KKG). Hasil laporan perbaikan pendidikan bahasa Indonesia perlu ditindaklanjuti dengan penelitian tindakan kelas pada sesi selanjutnya. Penelitian lebih lanjut sangat diperlukan mengingat laporan peningkatan pembelajaran masih menunjukkan kekurangan dan kekurangan.

Sangat penting bahwa lembaga pendidikan menerima umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang diberikan. Hal ini dapat dicapai dengan mendorong para guru untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam semua kegiatan sekolah, sehingga meningkatkan persepsi publik terhadap lembaga tersebut dan meningkatkan standarnya secara keseluruhan. Penelitian tindakan kelas perlu dilakukan secara terus menerus melalui pemberian fasilitasi dan kesempatan oleh lembaga pendidikan kepada guru agar dapat ..............ukan penelitian tindakan kelas. 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

A.M, Sardiman. (2016). Interaksi Motivasi Belajar Mengajar. Ed. 1, Cet. 23 Jakarta: Rajawali Pers

Arikunto, Suharsimi. (2019). Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan Evaluasi Pendidikan. Edisi. Revisi, Cetakan kesebelas, Jakarta : Bumi Aksara

Darma, Indra Gultom. (2021). Studi Literatur Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Dengan Model Kooperatif Tipe Teams Games Tournaments (Tgt). SEPREN: Journal of Mathematics Education and Applied Vol. 02, No.02, 38 - 49, November 2021. 40-49. https://doi.org/10.36655/sepren.v2i2.510  

Dimyati dan Mudjiono. (2015). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Ferdiani, R. D., Manuharawati, & Khabibah, S. (2021). Activist learners’ creative thinking processes in posing and solving geometry problem. European Journal of Educational Research, 11(1), 117-126. https://doi.org/10.12973/eu-jer.11.1.117  

Hariatin. (2022). Kemampuan Menulis Siswa melalui Metode Berbasis Kompetensi: Penelitian Tindakan Kelas Di Sdnbaujeng 1. Jurnal PTK, 3(1), 1–9.

Iskandar, Dadang dan Narsim. (2015).Penelitian Tindakan Kelas dan Publikasinya
Untuk Kenaikan Pangkat dan Golongan Guru & Pedoman Penulisan PTK bagi Mahasiswa .Cilacap:Ihya Media.

Jayanti, I. ., Arifin, N., & Rahman Nur, D. (2020). Analisis Faktor Internal Dan Eksternal Kesulitan Belajar Matematika Kelas V. SISTEMA: Jurnal Pendidikan, 1(1), 1–7. https://doi.org/10.24903/sjp.v1i1.602

Lubis, M. S. (2021). Belajar Dan Mengajar Sebagai Suatu Proses Pendidikan Yang Berkemajuan. Jurnal Literasiologi, 5(2), 95–105.

Mardinugroho, S. (2021). Peningkatan Hasil Belajar Sifat Mekanik Bahan Melalui Latihan Konversi Satuan. Jurnal JIRA, 2(11). Https://Doi.Org/10.47387/Jira.V2i11.236.  

Nuryasana, E., & Desiningrum, N. (2020). Pengembangan Bahan Ajar Strategi Belajar Mengajar Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Mahasiswa. Jurnal Inovasi Penelitian, 1(5), 967-974. https://doi.org/10.47492/jip.v1i5.177

Rusman. (2016). Model – Model Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.

Safira, Easy dan Hadi Sunaryo, P. (2021). Pengaruh Metode Pembelajaran Dan Motivasi Terhadap Kedisiplinan dan Prestasi Belajar. Jurnal Ekonomi Pendidikan Dan Kewirausahaan, 9(2), 169–188. https://doi.org/10.26740/jepk.v9n2.p169-188

Selviana, N, Fitri, L. S., Rosyida, F., Putra, A. K., Wirahayu, Y. A., &. (2022). Improving comple problem-solving abilities: Geographical inquiry learning using SETS approach on environmental conservation materials. Pegem Journal of Education and Instruction, 12(4), 61–69. https://doi.org/10.47750/pegegog.12.04.07 .

Sudjana, Nana (2016). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Syaiful, S., Kamid, K., Kurniawan, D. A., & Pratama, W. A. (2021). Problem-based learning model on mathematical analytical thinking ability and science process skills. Al-Jabar  : Jurnal Pendidikan Matematika, 12(2), 385–398. https://ejournal.radenintan.ac.idinde.php/al-jabar/article/view/9744

Utami, Sri. (2021). Penerapan Model Pbl Untuk Merangsang Keaktifan Siswa Pada Pembelajaran PAI & Budi Pekerti Di Smp. Vol. 1 No. 1 September 2021 Seminar Nasional Pendidikan Profesi Guru Pedidikan Agama Islam. 685-695. https://e-proceedings.iain-palangkaraya.ac.id/inde.php/PPGAI/article/view/273/590