Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Senin, 02 Juni 2014

PTK TK : UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN INTERPERSONAL ANAK MELALUI METODE KARYAWISATA DI KELOMPOK B TK ………………… KABUPATEN ……………… TAHUN AJARAN ……………….



UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN INTERPERSONAL ANAK
MELALUI METODE KARYAWISATA DI KELOMPOK B
TK ………………… KABUPATEN ………………
TAHUN AJARAN ……………….

 ABSTRAK

Penlitian  ini  dilatar  belakangi  oleh  kurang  berkembangnya  kemampuan interpersonal  anak,  kurang  beragamnya  permainanmetode  yang  mampu mengembangkan  kemampuan  interpersonal  anak  dan  masih  adanya  sifat egosentrisme  pada  anak  usia  dini  sehingga  belum  adanya  pembiasaan  dalam bermain  secara  berkelompok,  bekerjasama,  berempati,  berinteraksi, dan tanggung jawab anak.  
Permasalahan  yang  diungkap  dalam  penelitian  ini  adalah  bagaimana pengaruh  Metode karya wisata  terhadap perkembangan  kecerdasan  interpersonalanak.   Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan  yang  terjadi  pada  kecerdasan  interpersonal  anak  melalui  metodekaryawisata  kelompok  B  …………….  Kab  ……….  Tahun  Ajaran …………..
Berdasarkan  hasil analisis data penelitian setelah mendapatkan perlakuan menggunakan  Metode  karyawisata,  menunjukkan  adanya  pengaruh  positif  dan signifikan  darikecerdasan  interpersonal  anak  melalui  metode  karyawisata kelompok  B  …………….  Kab  ……….  Tahun  Ajaran …………... Peningkatan rata-rata kecerdasan interpersonal anak  melalui  metode karyawisata kelompok  B  …………….  Kab  ……….  Tahun  Ajaran …………...  Dari sebelum  treatment  adalah  sebesar  9,10  %,  dan  sesudah  dilakukan  treatment siklus 1, meningkat menjadi  45,45  %, dan dilakukan lagi treatment siklus yang kedua, maka  dihasilkan  peningkatan  kemampuan  kecerdaan  interpersonal  anak menjadi  86,37%.  oleh  karena  itu,  dapat  disimpulkan  bahwa  “menggunakan metode  karyawisata  dapat  meningkatkan  kecerdasan interepersonal  kelompok  B  …………….  Kab  ……….  Tahun  Ajaran …………...
Saran  yang dapat peneliti sampaikan, hendaknya Guru Diharapkan dapat mengembangkan  kecerdasan  interpersonal  anak  melalui  metode-metode pembelajaran  yang  lebih  bermakna  seperti  pemberian  tugas,  karyawisata, bercakap-cakap  dan  lain-lain  serta  menerapkan  berbagai  inovasi  pembelajaran yang  lebih  menarik  sebagai  upaya  untuk  melatih  komunikasi  anak, tanggungjawab, interaksi anak, serta bekerjasama dalam kelompok kecil maupun besar.

Kata Kunci : Kemampuan Interpersonal, MetodeKaryawisata




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan  Anak  Usia  Dini  (  PAUD  )  merupakan  pendidikan  yang diselenggarakan  untuk  mengembangkan  pribadi,  pengetahuan,  dan  ketrampilan yang  melandasi  pendidikan  dasar  serta  mengembangkan  diri  secara  utuh  sesuai dengan  asas  pendidikan  sedini  mungkin  dan  seumur  hidup.  Dalam   UU SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 Bab 1, Pasal 1, Butir 14 yang menyatakan bahwa “  Pendidikan  Anak  Usia  Dini  adalah  suatu  upaya  pembinaan  yang  ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun  yang dilakukan melalui pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk  membantu  pertumbuhan  dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan  lebih  lanjut.  Oleh  karena  itu,  pendidik  dituntut  mampu  atau  mau memberikan  berbagai  rangsangan  sesuai  potensi  kecerdasan  anak.Rangsangan didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anak memiliki berbagai kecerdasan yang perkembangannya mensyaratkan stimulasi atau rangsangan yang sesuai. Pendapat bahwa semua anak cerdas dan bahwa anak memiliki cara yang tidak selalu sama untuk  menjadi  cerdas adalah dasar teori multiple intelligence dan diterjemahkan sebagai kecerdasan majemuk atau kecerdasan jamak.
Multiple intelligences atau biasa disebut dengan kecerdasan  jamak adalah berbagai  keterampilan  dan  bakat  yang  dimiliki  siswa  untuk  menyelesaikan berbagai  persoalan  dalam  pembelajaran.  Delapan  macam   kecerdasan  jamak, yakni  kecerdasan  verbal-linguistik,  logis-matematis,  visual-spasial,  berirama-musik,  jasmaniah-kinestetik,  interpersonal,  intrapersonal,  dan  naturalistik. Kecerdasan  majemuk  anak  diidentifikasi  melalui  observasi  terhadap  perilaku, tindakan, kecenderungan bertindak, kepekaan anak terhadap sesuatu, kemampuan yang menonjol, reaksi spontan, sikap, dan kesenangan.
Salah  satu  kecerdasan  majemuk  adalah  kecerdasan  interpersonal, kecerdasan  interpersonal  adalah  kecerdasan  yang  melibatkan  kemampuan mencerna  dan  merespons  secara  tepat  suasana  hati,  temperamen,  motivasi,  dan keinginan  orang  lain.  Seseorang  yang  optimal  dalam  kecerdasan  ini  cenderung menyukai  dan  efektif  dalam  hal  mengasuh  dan  mendidik  orang  lain, berkomunikasi,  berinteraksi,  berempati  dan  bersimpati,  memimpin  dan mengorganisasikan  kelompok,  berteman,  menyelesaikan  dan  menjadi mediator konflik, menghormati pendapat dan hak orang lain, melihat sesuatu dari  berbagai sudut pandang, sensitive atau peka pada minat dan motif orang lain, dan handal bekerja  sama  dalam  tim.  Anak  dengan  kecerdasan  ini  akan  tampak  sebagai individu  yang  manis,  baik  hati,  dan  suka  perdamaian,  oleh  karena  itu mereka disukai banyak orang.
Kecerdasan  interpersonal  dimulai  sejak  dini  pada  masa  kanak-kanak dengan  munculnya  senyuman  sosial  yang  ditunjukkan  kepada  orang  dewasa, kemudian kepada bayi lain dan anak-anak. Pada masa anak-  anak awal yaitu usia 2-3  tahun  belum  banyak  menunjukkan  perkembangan  yang  baik  dalam kecerdasan interpersonal. Walaupun terlihat lincah dan dapat menjalin hubungan dengan teman sebaya, anak usia 2-3 tahun masih pada tahap memberi perhatian, bermain bersama, dan berbicara dengan sebayanya. Sementara itu, anak usia 4 -6 tahun sudah berani mengkomunikasikan masalahnya kepada orang lain, memilikikemampuan  menggunakan  isyarat  interpersonal,  seperti  sentuhan  dan  kontak mata, mengajari teman sebaya, menikmati kegiatan social, terdorong memimpin, berani bersosialisasi dengan orang baru.
Berdasarkan  observasi  yang  dilakukan  peneliti  di TK  Akhlaqul  Karimah kelompok B Kab. Jepara, kecerdasan interpersonal dikelompok B sangat rendah, semua itu terlihat dari  kurang terbangunnya sikap positif terhadap lingkungan dan kurang  tertanam  kerjasama  anak  secara  kelompok  ketika  bermain  balok dengan teman  sebaya,  hal  ini  menjadikan  dampak  kurang  berkembangnya  kecerdasan interpersonal  anak.  Meskipun  guru  telah  menerapkan   berbagai  metode  seperti pemberian  tugas  dan  bercakap-cakap  sebagai  alat  untuk  meningkatkan interpersonal  anak,  tetapi  metode  tersebut  hanya  sebatas  mengukur  kemampuan anak dalam berkomunikasi saja.
Dari  uraian  diatas  maka  peneliti  berkeinginan  untuk  menerapkan  suatu cara  yang  tepat  dalam  proses  pembelajaran  tersebut,  yaitu  upaya  meningkatkan kecerdasan  interpersonal  anak  melalui  metode  karyawisata  di  kelompok  B. Tujuannya  yaitu  Agar  anak  mendapatkan  pengalaman  belajar  secara  langsung tentang  suatu  hal  yang  belum  mereka  ketahui  secara  nyata  dan  anak  memilik keberanian  dalam  bersosialisasi  terhadap  orang  yang  baru  dikenal  serta lingkungan  yang baru. Semuanya ini  untuk mempertinggi kualitas proses belajar dalam  pengajaran  yang  pada  nantinya  diharapkan  dapat  mempertinggi  hasil belajar  yang  akan  dicapai.Salah  satu  cara  yang  digunakan  untuk  meningkatkan kecerdasan interpersonal anak yaitu dengan menggunakan metode karyawisata.
Metode  karyawisata  adalah  suatu  metode  dalam  kegiatan  pembelajaran dengan cara mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang ada secara langsung,meliputi  manusia,  hewan,  tumbuh-tumbuhan,  dan  benda-benda  lainnya. Mengamati  pengamatan  secara  langsung  anak  memperoleh  kesan  yang  sesuai pengamatannya. Pengamatan ini diproleh melalui panca indra,  yaitu penglihatan, pendegaran,  pengecap,  pembau,  dan  perabaan.  Melalui  metode  karyawisata, pendidik  mengajak  anak ke  suatu  tempat (objek)  tertentu untuk  mempelajarinya lebih  jauh.Berbeda  dengan   wisata  biasa,  di  mana  anak  sekadar  pergi  ke  suatu tempat  untuk   rekreasi.Metode  karyawisata  berguna  bagi  anak  untuk  membantu mereka  memahami  kehidupan riil  dalam  lingkungan  beserta  segala masalahnya. Misalnya,  anak  diajak  kemuseum,  kantor,  percetakan,  bank,  pengadilan,  kebun binatang,  atau  kesuatu  tempat  yang  mengandung  nilai  sejarah/kebudayaantertentu.
Dengan  latar  belakang  permasalahan  tersebut   maka  perlu  diadakannya penelitian  tindakan  kelas  dengan  judul  “Upaya  meningkatkan  kecerdasan interpersonal  anak  melalui  metode  karyawisata  kelompok  B  TK  Akhlaqul Karimah Kabupaten Jepara Tahun Ajaran 2012/2013”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan  latar  belakang  tersebut,  beberapa  permasalahan  yang berkenaan  dengan  kurangnya  kecerdasan  interpersonal  anak  di  TK  Akhlaqul Karimah kabupaten jepara dapat diidentifikasi sebagai  berikut:
1.   Kurang  pekanya  sikap  positif  anak  terhadap  lingkungan  sekitar  dan masyarakat
2.   Kurang bermaknanya pengalaman belajar  yang diperoleh anak ketika di kelas pada kelompok B TK Akhlaqul Karimah Kabupaten jepara. 
3.   Kurangnya kerjasama anak secara kelompok ketika bersosialisasi dengan teman sebaya pada kelompok B TK Akhlaqul Karimah Kabupaten jepara
4.   Kurangnya  antusias  anak  dalam  bersosialisasi  terhadap  lingkugan  yang baru bagi anak pada kelompok B TK Akhlaqul Karimah Kabupaten jepara

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi  masalah  diatas  maka  peneliti  hanya  membatasi pada  upaya  meningkatan  kecerdasan  interpersonal  anak  melalui  metode karyawisata.  Hal  ini  dimaksudkan  agar  permasalahan  yang  hendak  diteliti  lebih terfokus  pada  peningkatan  kecerdasan  interpersonal  anak  yang dilaksanakan  di kelompok B TK Akhlaqul Karimah kab. Jepara.

D. Rumusan Masalah
Apakah  melalui  metode  karyawisata  dapat  meningkatkan  kecerdasan interpersonal anakdi Kelompok B TK Akhlaqul Karimah kab. Jepara.

E. Tujuan Penelitian
1.  Tujuan umum
Untuk  mengetahui  peningkatan  kecerdasan  interpersonal  anak  dikelompok  B  TK  Akhlaqul  Karimah  kab.  Jepara  Tahun  Pelajaran 2012/2013.
2.  Tujuan Khusus
Untuk  mengetahui  peningkatan  kecerdasan  interpersonal  anak  melalui metode  karyawisata  di  kelompok  B  TK  Akhlaqul  Karimah  kab.  Jepara Tahun Pelajaran 2012/2013.

F. Maanfaat Penelitian
Peneliti  memberikan dua manfaat, yaitu manfaat yang berupa sumbangan teoritis dan manfaat yang berupa sumbangan praktis.
1. Manfaat Teoritis
Hasil  penelitian  ini  diharapkan  dapat  bermanfaat  secara  teoretis  sebagai pengembangan kecerdasan interpersonal anak melalui  metode karyawisata dan sebagai  referensi  yang  berhubungan  dengan  peningkatan  kecerdasan interpersonal pada anak serta menjadi bahan kajian lebih lanjut.
2. Manfaat Praktis
a.  Bagi Anak
Anak  didik  sebagai  subyak  penelitian,  diharapkan  dapat  memperoleh pengalaman  langsung  mengenai  pembelajaran  secara  aktif,  kreatif  dan menyenangkan  melalui  metode  karyawisata.  Agar  anak  didik  dapat bersosialisasi  dengan  masyarakat  dan  lingkungannya  sesuai  dengan perkembangan berfikirnya.
b.  Bagi guru
Dapat  menambah  pengetahuan  dan  sumbangan  pemikiran  tentang  cara meningkatkan  kecerdasan  interpersonal  pada  anak  khususnya  dengan metode karyawisata.
c.  Bagi sekolah
Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun program pembelajaran serta menentukan  metode  dan  media  pembelajaran  yang  lebih  tepat  untuk meningkatkan kecerdasan interpersonal pada anak usia dini.

file secara lengkap
silahkan kirim SMS ke 081327121707
semoga bermanfaat. 

PTK TK : PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI METODE DEMONSTRASI “MEMBUAT DONAT KENTANG” PADA KELOMPOK B TK ......................

PENINGKATAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS ANAK MELALUI
METODE DEMONSTRASI “MEMBUAT DONAT KENTANG” PADA
 KELOMPOK B TK ............ KECAMATAN .............
TAHUN PELAJARAN ............



ABSTRAK


……………...  NPM  …………  “Peningkatan  Kemampuan  Motorik Halus Anak Melalui Metode Demonstrasi “Membuat Donat Kentang” Pada Kelompok B ………….. Kecamatan ……….. Tahun Ajaran ………..”.
Latar belakang penelitian ini adalah masih kurangnya kemampuan motorik halus anak di TK …………... Hal ini disesbabkan pembelajaran pengembangan kemampuan motorik halus di TK …………..., lebih menekankan pada kegiatan akademik saja seperti kegiatan menulis, mewarnai gambar pada lembar kerja dan majalah  yang  ada  di  TK,  sedangkan  anak-anak  terlihat  bosan  karena  kegiatan kurang  bervariasi.  Media  yang  digunakan  dalam  pembelajaran  motorik  halus memanfaatkan metode demonstrasi membuat donat kentang.
 Tujuan  penelitian  ini  adalah  “Peningkatan  Kemampuan  Motorik  Halus Anak Melalui Metode Demonstrasi “Membuat Donat Kentang” Pada Kelompok B TK …………... Kecamatan …………… Tahun Ajaran ……./……….”.  Metode  yang  digunakan  adalah  analisis  deskriptif  kualitatif  melalui metode demonstrasi “membuat donat kentang”, penelitian tindakan kelas dengan subjek penelitian kelas B yang berjumlah 21 anak, dengan 10 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Penelitian dilaksanakan dengan dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan lembar observasi, dokumentasi dan pemberian tugas.
Hasil  penelitian  ini  yaitu  dari  hasil  akhir  dengan menggunakan  lembar instrumen  dan  observasi  dengan  dua  siklus  diperoleh hasil  peningkatan kemampuan  motorik  halus  anak  yaitu  52%  pada  siklu  I dan  85%  pada  siklu II (indikator  kinerja  tercapai).  Hasil  hipotesis  yang  berbunyi  peningkatan kemampuan  motorik  halus  anak  melalui  metode  demonstrasi  “membuat donat kentang”  pada  kelompok  TK …………...,  dan  berdasarkan  hasil  akhir tersebut  maka hipotesis yang diajukan diterima kebenarannya.  Berdasarkan  hasil  penelitian  dapat  disimpulkan  bahwa  kemampuan motorik  halus  anak  dapat  ditingkatkan melalui  metode  demonstrasi  “membuat donat  kentang”.  Oleh  karena  itu hendaknya  guru  mengajar  dengan  baik,  kreatif dan menarik minat untuk anak dalam pembelajaran. Saran dapat diajukan terkait dengan hasil penelitian ini, diantaranya adalah anak  agar  memanfaatkan  media  pembelajaran  dengan  baik  secara  maksimal dengan memainkannya dalam berbagai kesempatan, gurudapat memberi strategi kegiatan  belajar  yang  bervariasi  dan  media  sesuai  dengan  kebutuhan  dan perkembangan  anak,  lembaga  TK  dapat  memfasilitasi  pembelajaran  yang mendukung untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak.

Kata Kunci: Motorik Halus, Metode Demonstrasi




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Menurut  Undang-undang  No.  20  Tahun  2003  yang  dimaksud dengan  pendidikan  anak  usia  dini  adalah  suatu  upaya pembinaan  yang ditujukan  kepada  anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  enam  tahun  yang dilakukan  melalui  pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk  membantu pertumbuhan  dan  perkembangan  jasmani  dan  rohani  agar  anak  memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Anak  usia  dini  adalah  jenjang  pendidikan  dasar  yang merupakan suatu  upaya  pembinaan  yang  ditujukan  bagi  anak  sejak  lahir  sampai  usia enam  tahun  yang  dilakukan  melalui  pemberian  rangsangan  untuk pertumbuhan  dan  perkembangan  jasmani  dan  rohani  agar  anak  memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan yang lebih lanjut, menurut Maimunah Hasan (2010:15).
Pada zaman modern ini pendidikan sangat penting untuk kemajuan anak  didik  dimasa  datang.  Anak  adalah  investasi  bangsa,  karena  mereka adalah generasi penerus bangsa. Pendidikan hendaknya diberikan sejak anak usia  dini,  sebab  usia  dini  merupakan  periode  emas  untuk  mulai  diberikan stimulasi  lewat  pendidikan  dan  masa  yang  akan  menjadi  landasan  bagi kehidupan  selanjutnya.  Usia  (0;4-  0;6  tahun)  adalah masa  peka  yang merupakan  masa  terjadinya  pematangan  fungsi-fungsi  dan  psikis  yang  siap merespon  stimulasi  lingkungan  ke  dalam  pribadinya.  Masa  ini  merupakan masa  awal  pengembangan  kemampuan  fisik,  kognitif,  bahasa,  sosial emosional,  konsep  diri,  disiplin,  kemandirian,  seni,  moral  dan  nilai-nilai agama. Oleh karena itu dibutuhkan kondisi dan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan  anak  agar  pertumbuhan  dan  perkembangannya tercapai  secara optimal.
Melalui  kegiatan  bermain  dengan  menggunakan  alat  permainan, anak terstimulasi untuk berkembang dengan baik perkembangannya. Melalui bermain,  gerak  motorik  anak  akan  senantiasa  terlatih  dengan  baik. Peningkatan keterampilan motorik seorang anak akan berdampak positif pada aspek perkembangan  yang  lain  pula.  Bagi  anak  usia  prasekolah,  gerakangerakan  fisik  tidak  sekedar  penting  untuk  mengembangkan  keterampilanketerampilan fisik,  melainkan  juga  dapat  berpengaruh  positif  terhadap pertumbuhan rasa harga diri (self esteem) dan bahkan perkembangan kognisi.
Perkembangan  motorik  merupakan  salah  satu  faktor  yang  sangat penting  dalam  perkembangan  anak  secara  keseluruhan. Perkembangan  fisik sangat  berkaitan  erat  dengan  perkembangan  motorik  anak.  Motorik merupakan  perkembangan  pengendalian  gerak  tubuh  melalui  kegiatan  yang terkoordinasi  antara  susunan  saraf,  otot,  dan  otak. Perkembangan  motorik meliputi motorik kasar dan halus. Perkembangan ini  akan berpengaruh pada kemampuan sosial emosi, bahasa, dan fisik anak.
Dalam  perkembangan  anak,  biasanya  kemampuan  motorik kasar lebih  dahulu  berkembang  dari  pada  kemampuan  motorik halus.  Hal  ini terbukti  ketika  anak  sudah  dapat  berjalan  dengan  menggunakan  otot-otot kakinya,  kemudian  anak  baru  mampu  dapat  mengontrol  tangan  dan  jari-jarinya  untuk  menggambar  atau  menggunting.  Kemampuan  motorik  halus pada  umumnya  memerlukan  jangka  waktu  yang  relatif  lama  untuk penyesuainnya.  Hal  ini  merupakan  suatu  proses  bagi  seorang  anak  untuk mencapainya.
Kemampuan motorik halus yang dimiliki setiap anak berbeda. Ada yang  lambat  diusianya  yang  seharusnya  ia  sudah  dapat  mengembangkan keterampilan baru, tetapi ia tidak dapat menunjukankemajuan. Terlebih jika sampai  memasuki  usia  sekolah  sekitar  6  tahun,  anak  belum  dapat menggunakan alat tulis dengan baik dan benar. Anak-anak yang mengalami kesulitan untuk mengkoordinasikan gerakan tangan dan jari-jemarinya secara fleksibel.  Ini  sudah  menyebabkan  kurang  berkembangnya  otot-otot  halus pada  tangan.  Keterlambatan  perkembangan  otot-otot  ini  menyebabkan kesulitan ketika anak masuk sekolah.
Setelah mengetahui permasalahan secara umum di atas, jika dilihat pada  kenyataan  di  lapangan,  sebagian  TK  menerapkan  pembelajaran  yang dijadikan  dasar  peningkatan  motorik  halus  terkadang kurang  terencana  dan terprogram.  Guru  masih  menerapkan  pembelajaran  yang bersifat konvensional  seperti  pembelajaran  yang  kurang  memunculkan  minat  anak dan  masih  kurangnya  sarana  prasarana  pembelajaran  dalam  meningkatkan motorik halus anak.Harus  diakui  secara  jujur,  kemampuan  motorik  halus  anak  TK ……….,  belum  maksimal.  Kondisi  ini  tidak  lepas  dari  proses pembelajaran  di  kelas  yang  dinilai  belum  mampu  dalam  membantu  siswa terampil  mengembangkan  motorik  halus  dalam  metode  demonstrasi  “membuat donat kentang”. Agar kegiatan pengembanganfisik atau  motorik dapat  terlaksana  dengan  baik,  maka  anak  didik  dituntut  memiliki  perhatian dan  daya  tangkap  yang  baik  pula,  seperti  kecepatan  bereaksi,  kesanggupan kerjasama,  disiplin,  jujur,  dan  lain-lain,  sesuai  dengan  kemampuan  anak didik.
  Sebagai seorang pendidik harus memfasilitasi anaksesuai dengan kebutuhan  dan  perkembangannya.  Maka  diinginkan  agar kegiatan  belajar mengajar  anak  tidak  menjenuhkan  dan  lebih  menyenangkan  digunakannya metode  demonstrasi  “membuat  donat  kentang”  untuk  meningkatkan kemampuan motorik halus anak.
  Donat kentang  merupakan  makanan yang di sukai oleh anak, apa lagi  yang  berhubungan  dengan  makanan  anak  pasti  suka,  jika  anak  bisa melihat dan praktik secara langsung membuat donat kentang anak pasti lebih senang dan semangat untuk belajar.
  Peranan  guru  sebagai  fasilitator  benar-benar  dibutuhkan,  guru dituntut untuk kreatif dalam menyiapkan alat peragaatau alat bermain. Alat peraga  atau  alat  bermain  digunakan  sebagai  sarana  untuk  membangkitkan motivasi anak dalam melakukan kegiatan bermain yangdimaksud adalah alat peraga atau alat bermain yang bahannya mudah di dapat, mudah di buat guru, mudah digunakan dalam pembelajaran, menarik perhatian anak dekat dengan lingkungan anak. TK ………… adalah sekolah TK yang berbasis Islam Terpadu, disamping  mengajarkan  kurikulum  yang  ada,  ................  menitik beratkan  pada  pembelajaran  Agama  Islam,  dan  yang  peneliti  dapatkan  data setelah  mengajar  dan  meneliti  di  ................  masih  terdapat  banyak kekurangan  dan  permasalahan  tentang  anak  misalnya  anak  belum  bisa konsentrasi, terlalu hiperaktif, belum pandai bersosialisasi, belum bisa tertib, motorik halus anak masih kurang dan lain-lain. TK …………… Kecamatan ................  ................  secara  resmi  berdiri  pada  tanggal  1  Juni  2011  dengan lokasi  di  atas  tanah  milik  ................ menggunakan kurikulum yang memadukan antara kurikulum Mulok (Muatan Lokal)  dengan  kurikulum  dari  DINAS.  ................  terdapat  4  kelas yaitu: kelas A1, A2, B1, B2, dimana jumlah anak A1 ada 20 anak, A2 ada 21anak, B1 ada 20 anak, B2 ada 21 anak TK………. menggunakan model pembelajaran  sentra  dianatranya  sentra  persiapan,  sentra  alam,  sentra  balok dan sentra seni.
Dengan  demikian  kemampuan  motorik  halus  anak  perlu  untuk ditingkatkan  untuk  mengubah  suatu  keadaan  dalam  memecahkan  persoalan pendidikan  yang  timbul  dan  memperbaiki  suatu  keadaan  di  bidang pendidikan, oleh karena itu peneliti ingin mengetahui efektifitas penggunaan metode  demonstrasi  membuat  donat  kentang  untuk  meningkatkan kemampuan motorik halus anak.
  Berdasarkan  uraian  di  atas  maka  peneliti  akan  melakukan penelitian dengan judul  “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Anak melalui  Metode  Demonstrasi  “Membuat  Donat  Kentang”  pada Kelompok  B  ................  Kacamatan  ................  ................  Tahun Ajaran ................”.

B.  Identifikasi Masalah
Untuk  mengidentifikasi  masalah  ini  peneliti  melihat kondisi  di lapangan. Sebagai objek yang akan diteliti, yaitu …………… Kecamatan ................ ................. Dari hasil pengamatan sementaramaka persoalan yang dapat di identifikasi adalah sebagai berikut:
1.   Rendahnya kemampuan motorik halus anak.
2.  Rendahnya kemampuan anak dalam mengkoordinasi mata dan tangan.
3.   Kurangnya  sarana  prasarana  pembelajaran  dalam  meningkatkan  motorik halus.
4.   Kurangnya  pembelajaran  motorik  halus  anak  dengan  pembelajaran menarik dan menyenangkan.
5.  Media yang digunakan dalam pembelajaran masih menggunakan LKS.

C.  Pembatasan Masalah
Berdasarkan  identifikasi  masalah,  penelitian  ini  hanya  membatasi pada peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui metode demonstrasi “membuat  donat  kentang”,  hali  ini  dimaksudkan  agar  permasalahan  yang hendak  diteliti  lebih  terfokus.  Pada  peningkatan  kemampuan  motorik  halus anak  kelompok  B  ................  Kecamatan  ................  ................  Tahun Ajaran .................

D.  Rumusan Masalah
Bagaimana  peningkatan  kemampuan  motorik  halus  anak  melalui metode demonstrasi “membuat donat kentang” kelompok B ………. Kecamatan ................ ................ Tahun Ajaran .................

E.  Tujuan Penelitian
Tujuan yang dicapai dari hasil penelitian ini adalah:
1.  Tujuan Umum
Tujuan  umum  penelitian  ini  adalah  untuk  meningkatkan kemampuan  motorik  halus  anak  melalui  metode  demonstrasi  membuat donat kentang.
2.  Tujuan Khusus
Penelitian  ini  bertujuan  untuk  meningkatkan  kemampuan  motorik halus  anak  melalui  metode  demonstrasi  “membuat  donat  kentang”  pada Kelompok  B  ................  Kecamatan  ................  ................  tahun Ajaran .................

F.  Manfaat Penelitian
 Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian iniadalah:
1.  Manfaat Teoritis
 Sebagai  bahan  masukan  bagi  pengembangan  pengetahuan  ilmu pendidikan,  khususnya  dalam  pendidikan  anak  usia  dini  tentang peningkatan kemampuan motorik halus anak melalui metode demonstrasi  “membuat  donat  kentang”  sehingga  untuk  penelitian  berikutnya  sebagai bahan kajian yang lebih mendalam.
2.  Manfaat Praktis
a.  Bagi Anak
 Dapat  meningkatkan  kemampuan  motorik  halus  anak  melalui  metode demonstrasi “membuat donat kentang”.
b.  Bagi Guru
 Dapat  menggunakan  media  pembuatan  donat  kentang  untuk peningkatan motorik halus anak dalam proses pembelajaran.
c.  Bagi Sekolah
 Dapat  dipakai  sebagai  pedoman  untuk  mengadakan  sarana  dan prasarana yang cukup untuk keberhasilan pembelajaran menumbuhkan kemampuan motorik halus anak.


File secara lengkap
silahkan sms ke 081327121707 
semoga bermanfaat.

Rabu, 28 Mei 2014

PTS : UPAYA MENINGKATKAN KINERJA KEPALA SEKOLAH YANG MENDAPAT TUGAS TAMBAHAN SEBAGAI GURU KELAS DI SEKOLAH BINA GUGUS ..............................

UPAYA MENINGKATKAN KINERJA KEPALA SEKOLAH YANG MENDAPAT TUGAS TAMBAHAN SEBAGAI GURU KELAS  DI SEKOLAH BINA GUGUS ..............................




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kepala sekolah adalah guru yang diberikan tugas tambahan untuk memimpin suatu sekolah yang diselenggarakan proses belajar-mengajar atau tempat terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Secara etimologi, kepala sekolah merupakan padanan dari school principal yang tugas kesehariannya menjalankan principalship atau kekepalasekolahan. Istilah kekepalasekolahan mengandung makna sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah. Penjelasan ini dipandang penting, karena terdapat beberapa istilah untuk menyebut jabatan kepala sekolah, seperti administrasi sekolah (school administrator), pimpinan sekolah (school leader), manajer sekolah (school manajer), dan sebagainya.
Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. (Sudarman 2002: 145). Meskipun senabagi guru yang mendapat tugas tambahan kepala sekolah merupakan orang yang paling betanggung jawab terhadap aflikasi prinsif-prinsif administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah. Sebagai orang yang mendapat tugas tambahan berarti tugas pokok kepala sekolah tersebut adalah guru yaitu sebagai tenaga pengajar dan pendidik, di sini berarti dalam suatu sekolah seorang kepala sekolah harus mempunyai tugas sebagai seorang guru yang melaksanakan atau memberikan pelajaran atau mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan. Berati kepala sekolah menduduki dua fungsi yaitu sebagai  tenaga kependidikan dan tenaga pendidik. Hal ini dikuatkan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mendefinisikan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, namun, di samping tugas utama, ada tugas tambahan yang biasanya juga melekat pada guru.
Selain sebagai tenaga pengajar, guru juga berperan sebagai agen pembelajaran (learning agent). Maksud dari agen pembelajaran adalah guru tidak hanya berperan sebagai tenaga pengajar saja, tetapi guru juga harus bisa berperan sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Sehingga guru benar-benar menjadi seseorang yang dapat digugu dan ditiru.
Pengakuan dari pemerintah tersebut setidaknya dapat menjadi satu motivasi bagi guru untuk bekerja lebih giat dengan menunjukkan kinerja yang lebih baik demi mempertanggungjawabkan kedudukannya sebagai tenaga profesional. Seperti tertuang dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban untuk: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Demikian halnya di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. yang terdiri dari 9 sekolah baik negeri maupun swasta. Guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah di sekolah dasar Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. juga mendapatkan jam mengajar sebagaimana ketentuan yaitu 6 jam pelajaran perminggu.
Dengan padatnya kegiatan seorang kepala sekolah baik yang berhubungan dengan permasalahan manajemen di sekolah maupun di luar sekolah menyebabkan seorang kepala sekolah menjadikan ketentuan 6 jam per minggu hanya sebagai persyaratan administrasi saja, sementara para prakteknya kurang bisa maksimal bahkan mungkin tidak dijalankan sama. Kenyataan ini memacu peneliti sebagai Pengawas Sekolah di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. untuk meningkatkan kinerja kepala sekolah yang diberi tugas tambahan sebagai guru dengan tujuan kepala sekolah dapat menjalankan fungsinya dengan baik sebagai tenaga kependidikan dan tenaga pendidik.
Upaya yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan kegiatan penelitian tindakan sekolah dengan judul “Upaya Meningkatkan Kinerja Kepala Sekolah yang Mendapat Tugas Tambahan sebagai Guru Kelas  di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. Tahun 2013”.

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan tersebut serta mencermati pentingnya kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas, maka dapat diidentifikasikan beberapa permasalahan sebagai berikut :
  1. Kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas adalah  salah satu pelaku pendidikan di tingkat sekolah sangat menentukan berhasil dan tidaknya proses pembelajaran, dengan tugas-tugas kependidikannya, seorang kepala sekolah terkadang melupakan tugas pokoknya sebagai seorang pendidik.
  2. Kesesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan mata pelajaran yang diampu masih menjadi permasalahan tersendiri. Padahal kualifikasi pendidikan akan berpengaruh pada produktifitas, disiplin kerja dan prestasi kerja. Kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru yang latar belakang pendidikannya berbeda dengan mata pelajaran yang diampunya akan cenderung tidak disiplin dalam mengajar, dan hanya sekedar memenuhi syarat administrasi tentang ketentuan jam mengajar bagi Kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan beberapa permasalahan yang muncul, penelitian merumuskan sebagai berikut :”Bagaimana Upaya Pengawas Sekolah dalam Meningkatkan Kinerja Kepala Sekolah yang Mendapat Tugas Tambahan sebagai Guru Kelas melalui Penilaian Kinerja Guru di Sekolah Dinas Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. Tahun 2013”.

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan penelitian tindakan sekolah ini antara lain:
1.      Untuk mengetahui gambaran kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ..............
2.      Untuk mencari solusi bagi peningkatan kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ..............
3.      Untuk meningkat kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ..............

E.     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian tindakan sekolah ini diharapkan akan bermanfaat bagi pengembangan dan peningkatan kompotensi guru bagi :
1.      Kepala Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. untuk mengetahui masalah-masalah yang mungkin dan akan dihadapinya terutama yang berkaitan dengan tugas pokoknya sebagai tenaga pendidik.
2.      Sekolah
   Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi sekolah terkait untuk mengambil kebijakan dalam rangka meningkatkan kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............. sebagai tenaga profesional.

3.      Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini dapat memberikan konstribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama berkaitan dengan peningkatan kinerja kepala sekolah yang mendapat tugas tambahan sebagai guru kelas khususnya di Sekolah Bina Gugus ............. Kecamatan ............. Kota ............., dan umumnya dunia pendidikan dalam artin yang luas.