Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Kamis, 03 September 2026

Karya Ilmiah (Karil) UT Pendas

 

METODE INQUIRI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MATERI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA KELAS VII DI SMP NEGERI 1 ........................

 

 

………………………i1)  …………………….2)

 

1Mahasiswa Program Studi S1 PPKn, FKIP, Universitas Terbuka

2 Dosen Program Studi S1 PPKn, FKIP, Universitas Terbuka

E-mail : ………………………………..

 

 

ABSTRAK

 

 

Peningkatan hasil belajar Pendidikan Pancasila adalah tujuan dari penelitian ini. Jenis penelitian mengadopsi model Kemmis dan McTaggart dalam bentuk penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian tindakan kelas sebanyak 31 siswa. Cara mengumpulkan data  melalui teknik observasi, dokumentasi dan tes. Perolehan data hasil penelitian membuktikan adanya peningkatan hasil dan ketuntasan belajar siswa. Nilai hasil belajar meningkat pada setiap siklusnya. Pada prasiklus  sebesar 66,77, meningkat 75,48 dan 86,45 pada siklus terakhir, sehingga telah memenuhi KKTP=77. Ketuntasan belajar  6 siswa (19,35%) pada prasiklus, menjadi 18 siswa (58,06%), meningkat 28 siswa (90,32%) pada siklus terakhir sehingga mecapai indikator keberhasilan ≥85% siswa tuntas belajarnya.

 

Kata Kunci : hasil belajar, inquiri, pendidikan pancasila

 

 

PENDAHULUAN

Kurikulum merdeka adalah reaktualisasi pendidikan yang bertujuan meningkatkan banyak aspek pendidikan.  Kurikulum merdeka pada prinsipnya menyediakan ruang yang seluas-luasnya kepada guru dan satuan pendidikan dalam pengembangan diri terhadap potensi mereka miliki, dan memberikan siswa kesempatan berpartisipasi dalam belajar menyesuaikan tingkat kemampuan dan tahapan perkembangan yang dimiliki siswa. Sebagai upaya dukungan terhadap implementasi kurikulum diperlukan banyak dukungan. Salah satunya adalah ketersediaan buku teks pelajaran yang menjadi keharusan untuk dimiliki baik siswa maupun satuan pendidikan. Kemendikbud Dikti mendukung sekolah dengan menerapkan Kurikulum Paradigma Baru (Uchrowi, 2021).

Pendidikan Pancasila yang dipelajari diharapkan dapat membantu peserta didik dalam pemahaman dan penerapan kaidah-kaidah tentang moral dan etika yang ada dalam kehidupan keseharian. Pemahaman yang baik terhadap kaidah-kaidah tersebut, diharapkan para siswa akan lebih siap menghadapi berbagai persoalan dan tantangan dalam kesehariannya. Pendidikan Pancasila juga membantu peserta didik meningkatkan kapasitas cara pikir kritis  dan berkarakter. Siswa belajar bagaimana memahami dan mengevaluasi situasi dan masalah sehingga mereka dapat membuat keputusan yang tepat. Pendidikan Pancasila juga membantu siswa memahami perlunya kerja tim dan toleransi dalam kehidupan sosial dan politik mereka. (Wahyudi, et.all., 2023).

Output proses belajar yang menunjukkan bahwa siswa mendapatkan nilai belajar yang tidak sesuai dengan harapan khususnya pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Dalam kegiatan pra-siklus kelas 7 di SMP Negeri 3 ........................ khususnya materi perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara, nilai menunjukkan bahwa hanya 6 siswa, atau 19,35%, mendapatkan nilai di atas KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran), dengan hasil belajar rata-rata 66,67 poin.

Pencapaian target hasil pembelajaran belum tercapai secara ideal. Banyak variabel yang menjadi penyebabnya. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar Pendidikan Pancasila hanya berfokus pada penyampaian guru dalam menyajikan materi belajar menjadi salah satu penyebab yang berakibat tidak terlatihnya siswa dalam pencarian masalah dan proses untuk memecahkannya secara mandiri. Dalam pemahaman materi belajar para siswa hanya berpegangan pada pemahaman konsep tanpa adanya upaya penemuan fakta dan konsep pemecahan masalah dari materi belajar dipelajarinya. Siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ rendah memiliki motivasi dan hasil belajar yang buruk karena keadaan ini. Dengan mempertimbangkan refleksi dan realitas di atas, maka dapat ditarik kesimpulan tentang pelaksanaan proses belajar Pendidikan Pancasila masih jauh dari harapan sehingga diperlukan tindakan perbaikan untuk menyelesaikan permasalahan yang muncul.

Pendidikan Pancasila adalah bagian penting dari kehidupan warganegara, di mana Pancasila digunakan sebagai pedoman untuk menjalani perilaku kehidupan yang selaras sesuai konstelasi dan etika yang menjadi pedoman dalam berbuat dan bertindak sebagai seorang warganegara (Hanafiah dkk, 2023). Pendidikan Pancasila merupakan pembelajaran yang wajib diselenggarakan pada semua tingkat dan jenjang kependidikan dan memiliki potensi untuk membangun pemahaman dan kesadaran diri yang harus dimiliki siswa sebagai dasar pengimplementasian norma-norma Pancasila pada kehidupan siswa dikesehariannya. Menurut Safitri, et al., (2022) Pendidikan Pancasila dapat memberikan pemahaman dan contoh nyata bagi siswa dalam menjalankan keseharian hidupnya sehingga siswa mampu mencontoh dan menerapkan tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Aini & Muhlis (2020:23) menyatakan bahwa hasil belajar mencakup patron-patron perilaku, tatanan kehidupan, pemahaman, tingkah laku, serta kecakapan dasar yang wajib dimiliki oleh peserta didik. Neni Triana (2021:14) menyatakan bahwa output hasil belajar merupakan perolehan yang mencerminkan terjadinya transformasi tingkah laku, yang umumnya melibatkan bidang-bidang pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Terdapat dua faktor yang berimbas terhadap tingkatan hasil belajar, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merujuk pada komponen-komponen dalam diri siswa, termasuk minat, bakat, motivasi, dan metode pembelajaran. Faktor eksternal merujuk pada komponen-komponen dari luar individu siswa, mencakup aspek lingkungan serta faktor-faktor instrumental (Hasan, 2020:68, Marlina & Solehun, 2021).

Kurniawan (2022:64) Inquiri merujuk pada pernyataan, penyelidikan, dan pemeriksaan. Ngalimun (2022:33) menyatakan bahwa inquiri berlandaskan pada tiga pengertian, yaitu keterlibatan siswa dalam kesempatan belajar dengan tingkat pengarahan diri yang tinggi, kemampuan siswa untuk mengembangkan sikap terhadap proses belajar yang positif, serta kemampuan siswa untuk mempertahankan dan memanfaatkan informasi dalam jangka panjang waktu yang lama. Sidiq (2019:62) menyatakan model belajar inquiri adalah kumpulan aktivitas belajar yang menekankan pada pengimplementasian pola pikir kritis dan dan analitik sebagai usaha mencari dan mendapatkan jawaban dari suatu permasalahan yang muncul. Keunggulan dari model pembelajaran inquiri terletak pada penekanan terhadap peningkatan perspektif  bidang kognitif, afektif, dan psikomotor, serta dorongan pada siswa untuk menarik kesimpulan secara independen berdasarkan hasil reka cipta dan penjelajahan yang dilakukan. Kelemahan model inquiri terletak pada kebutuhan waktu yang cukup lama untuk implementasinya, yang sering kali terhambat oleh kebiasaan belajar siswa. Kurniawan (2021).

Merujuk pada penjelasan yang telah disampaikan, peneliti dapat menguraikan masalah yang akan diteliti, yaitu bagaimana peningkatan hasil output belajar siswa kelas 7 di SMP Negeri 3 ........................ pada Semester 1 Tahun Pelajaran 2024/2025 dalam konteks pembelajaran Pendidikan Pancasila, khususnya pada materi perumusan dan penanaman Pancasila sebagai dasar negara, melalui penerapan model belajar inquiri. Strategi penyelesaian yang dipilih dan dilaksanakan oleh peneliti untuk meningkatkan proses pembelajaran adalah melalui penerapan model belajar inquiri. Tujuan dari pelaksanaan penelitian untuk melancarkan kemajuan hasil belajar siswa dalam konteks pembelajaran Pendidikan Pancasila, serta mengukur tingkat keberhasilan implementasi metode pembelajaran inquiri pada siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ selama Semester 1 Tahun Pelajaran 2024/2025.

 

 

METODE

Pengaplikasian penelitian yang dijadikan dasar adalah penelitian tindakan kelas atau bisa dikenal dengan PTK. Amar (2022:85) mendefinisikan PTK sebagai definisi dari kata-kata yang menggabungkan arti “penelitian”, “tindakan”, dan “sekolah”.  Penelitian merupakan suatu aktivitas pengamatan terhadap suatu jenis subjek dengan memakai ketentuan yang sesuai dengan teknik khusus agar bisa mendapatkan suatu data mapun informasi yang memiliki kegunaan bagi peneliti maupun  lainnya yang memiliki kesamaan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tindakan merupakan setiap langkah dalam pelaksanaan tindakan dilakukan sesuai dengan kerangka waktu atau siklus kegiatan yang telah ditentukan sebelumnya. Kelas merupakan kelompok siswa yang secara teratur bertemu pada waktu dan tempat yang sama untuk mempelajari kumpulan topik yang sama yagn bersumber dari guru sama juga.

 Siklus dalam penelitian ini diawali dengan merencanakan aktivitas atau tindakan, mengimplementasikan rencana aktivitas atau tindakan, melakukan kegiatan observasi dan diakhiri dengan kegiatan refleksi, dan terus dilakukan berulang hingga tercapai hasil sesuai dengan kriteria sesuai ketetapan dan  dapat terpenuhi selaras ketetapan indikator (Djajadi, 2021:34). Berikut ini adalah alur siklus PTK sebagaimana dijelaskan :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar  1

Model Penelitian Tindakan Kelas  (Amar, 2020)

 

Implementasi kegiatan  tahapan penelitian dilaksanakan 2 siklus dengan uraikan kegiatan yang dilakukan pada tiap tahapannya sebagai berikut.

 

 

1.    Siklus I

a.    Perencanaan  

Merancang strategi implementasi proses belajar dengan memanfaatkan metode inquiri sebagai langkah perbaikan dalam proses pembelajaran difokuskan terhadap permasalahan belajar yang muncul untuk mendapatkan prioritas pemecahan masalahnya pada pembelajaran Pendidikan Pancasila, merumuskan hipotesis tindakan yakni  penerapan model inquiri diduga dapat meningkatkan  hasil belajar siswa, merumuskan pedoman observasi dan membuat instrumen evaluasi siswa.

b.    Tindakan  

Pengajar mempersiapkan suasana kelas dengan melakukan doa, mencatat kehadiran, dan melakukan pembentukan kelompok sebanyak 5 kelompok. Jumlah siswa sebanyak 31 sehingga pembagian kelompok terdapat perbedaan jumlah anggota di satu kelompok, dengan penjelasan 1 kelompok beranggotakan 7 siswa dan sisanya sebanyak 24 siswa terbagi menjadi 4 kelompok. Pengajar melaksanakan tahapan apersepsi. Kegiatan dilakukan dengan kegiatan tanya jawab antara pengajar dan siswa secara interaktif berkaitan dengan materi ajar . Pengajar mengemukakan capaian tujuan belajar yang harus dicapai oleh siswa selama mengikuti proses belajar. Pengajar menafsirkan beberapa ilustrasi berupa penampilan gambar yang relevan sesuai topik perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara dengan cara menempelkan di papan tulis, sementara para siswa mengamati dengan penuh perhatian sambil membaca buku paket Pendidikan Pancasila. Para siswa menyimak dengan seksama saat guru mengajukan sejumlah terkait materi belajar. Pengajar memberikan arahan kepada siswa untuk mengidentifikasi dan menguraikan mengenai proses perumusan serta menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Para siswa sedang melaksanakan tugas LKS. Para siswa diarahkan oleh guru untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi, merumuskan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara melalui diskusi di antara anggota kelompok mereka masing-masing. Para siswa diberikan peluang untuk menanggapi setiap permasalahan dan merumuskan kesimpulan. Memberikan perintah kepada masing-masing perwakilan anggota kelompok agar memaparkan hasil diskusi kelompok mereka secara mandiri di depan semua kelompok. Tugas kelompok yang belum berkesempatan presentasi diminta menyiapkan pertanyaan dan tanggapan terhadap hasil presentasi kelompok lain. Peserta didik memperoleh penguatan melalui metode materi terkait verbal dan non-verbal yang dibahas, dengan melaksanakan kegiatan tanya jawab serta merumuskan kesimpulan akhir dari proses pembelajaran.

c.    Pengamatan  (Observasi)

Observasi dilakukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran (peneliti, observer, dan siswa). Observasi dilakukan selama proses pembelajaran, berdasarkan cek list kegiatan observasi yang disiapkan oleh peneliti. Pengamat diharapkan dalam melakukan penilaian terhadap partisipasi siswa secara objektif sesuai dengan kejadiaan yang ada  selama pembelajaran, memberikan kepastian bahwa pembelajaran terlaksana selaras dengan rencana belajar yang telah disusun. Terakhir, analisis terhadap perolehan hasil pengamatan yang digunakan sebagai dasar penilaian terhadap aktivitas siswa, guru dan efektivitas proses belajar.

d.   Refleksi  

Hasil analisis data diperiksa, dijelaskan, dan dicatat pada tahap refleksi. Refleksi merupakan alat untuk mengevaluasi keberhasilan suatu proses pembelajaran termasuk penggunaan metode inquiri untuk mengajarkan materi pembelajaran. Peneliti dan observer menganalisis hasil siklus pertama dan kedua untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan lanjutan belajar pada pelaksanaan siklus lanjutannya.

2.    Siklus II

Siklus kedua menjadi implmentasi selanjutnya sebagai wujud kegiatan penyempurnaan tindakan pada siklus sebelumnya yang dikategorikan belum berhasil sesuai indikator tindakan. Pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan belajar yang dilaksanakan pada siklus kedua tidak  memiliki perbedaan yang signifikan pada kegiatan siklus pertama. Pada kegiatan siklus kedua terfokus pada langkah-langkah perbaikan untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan yang didapatkan dari hasil refleksi pelaksanaan pada siklus pertama dengan harapan semua indikator ketercapaian penelitian dapat diwujudkan pada siklus kedua.

 

Kegiatan analisis data merupakan kegiatan inti penelitian. Teknik yang digunakan adalah teknik kualitatif dan kuantitatif dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan pada setiap siklusnya dan diolah dengan rumus :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                    Sumber : Sugiyono (2019)

 

Parameter untuk mengukur keberhasilan hasil penelitian tindakan kelas memenuhi kriteria keberhasilan apabila siswa memperoleh nilai ≥70 dan ≥85% dari siswa tuntas belajarnya.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.      Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Data sebelum tindakan menunjukkan perolehan nilai rerata hasil belajar sebesar 66,67. Tingkat ketuntasan menunjukkan angka 19,35% atau 6 siswa dan 25 siswa atau 80,65% dalam kriteria belum tuntas. Setelah menganalisis seluruh data yang telah dikumpulkan, peneliti menyimpulkan bahwa prestasi akademik siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ masih menunjukkan batasan yang signifikan. Langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan masalah tersebut adalah melaksanakan pembelajaran menggunakan model pembelajaran inquiri melalui prosedur yang sistematis. Prosedur penelitian ini dijelaskan secara rinci, meliputi tahap perencanaan (plan), tindakan (action), pengamatan (observation), refleksi (reflection).

Berdasarkan analisis siklus pertama diperoleh rata-rata hasil belajar selama proses perbaikan pembelajaran adalah 75,48. Dari 31 siswa terdapat 18 siswa sudah memperoleh nilai di atas KKTP (77) dengan presentase 58,06% dan 13 siswa yang tidak tuntas atau mencapai KKTP (77) dengan presentase 41,94%.  Data di atas memberikan kesimpulan bahwa target pencapaian indikator keberhasilan belum tercapai, sehingga masih diperlukan tindakan lanjutan pada siklus kedua. Melihat hasil di atas maka peneliti bekerjasama dengan pengamat untuk melakukan koreksi pembelajaran pada tahap kedua. Sesuai kriteria keberhasilan yang telah ditentukan pada tahap kedua, kemajuan belajar siswa dapat mencapai 85%.

Hasil kegiatan siklus II disajikan statistik hasil rata-rata dan kurva belajar untuk pekerjaan koreksi semester II yang berjumlah 86,45. Persentase siswa yang berhasil menyelesaikan pembelajaran dengan kriteria tuntas adalah sekitar 90,32% siswa. Siswa yang tidak tuntas 3 siswa belum mencapai KKTP (77) dengan presentase 9,68%. Menilik perolehan angka-angka tersebut, peneliti dibantu pengamat membuat kesimpulan bahwa hasil belajar telah memenuhi batasan ≥85%, artinya proses belajar dinyatakan meningkat dan sukses pada siklus  II

B.       Pembahasan Penelitian Perbaikan Pembelajaran

Proses analisis data dari pelaksanaan penelitian dalam dua siklus menggunakan metode inquiri pada materi perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara memunculkan hasil yang semakin membaik. Pernyataan tersebut memberikan gambaran singkat bahwa penggunaan metode inquiri terbukti efektif meningkatkan hasil output belajar siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Untuk memperjelas kenaikan angka rerata dan ketuntasan belajar tersaji secara rinci pada grafik berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Temuan terhadap pendalaman paparan data di atas mengindikasikan bahwa implementasi metode inquiri selama proses pengajaran berpotensi dalam peningkatan kualitas dan mutu materi yang disampaikan di kelas 7. Peningkatan angka hasil pengamatan terhadap nilai rerata dan ketuntasan menunjukkan bahwa proses belajar mengajar berlangsung secara efektif, yang sejalan dengan peningkatan kualitas dalam proses pembelajaran.

Hasil pembelajaran siswa setelah penerapan model pembelajaran inquiri menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dari pada setiap tahapan siklusnya. Pada tahap awal, rerata nilai hasil belajar tercatat sebesar 66,67, dengan tingkat ketuntasan belajar yang dicapai oleh 6 siswa, atau setara dengan 19,35%. Melalui implementasi model pembelajaran inquiri, pada siklus pertama terungkap bahwa rata-rata skor evaluasi tes yang diperoleh siswa adalah 75,48, dengan nilai paling rendah sebesar 50 dan capaian nilai paling tinggi mencapai 90. Hasil dari pengujian ini menunjukkan bahwa proporsi siswa yang mencapai ketuntasan dalam belajar adalah 58,06% (18 siswa), sementara yang belum mencapai ketuntasan adalah 41,94% (13 siswa). Dalam tindakan siklus kedua, diperoleh skor assemen formatif didapatkan rerata nilai hasil tes siswa mencapai 86,45. Nilai minimum sebesar 60, sedangkan nilai maksimum yang diperoleh adalah 100 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 28 siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ dengan persentase ketuntasan yang mencapai 90,32%.

Peningkatan hasil dan ketuntasan belajar yang telah dijelaskan sebelumnya, sejalan dengan pandangan Kurniawan (2021) yang menyatakan bahwa model inquiri merupakan pendekatan belajar yang lebih memberikan fokus terhadap penekanan komponen kognitif, afektif dan komponen psikomotorik dengan perimbangan yang sama besar. Dengan demikian maka penerapan strategi belajar model inquiri dinyatakan dapat memberikan pembelajaran yang bermakna dan menyajikan keleluasaan terhadap siswa agar mampu belajar menyesuaikan daya serap materi yang beragam. Metode ini dianggap mempunyai keselarasan dalam perkembangan psikologi belajar siswa karena memberikan pandangan tentang belajar sebagai suatu proses alih bentuk yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan pendidikan.

Kelemahan penelitian ini termasuk bahwa guru cenderung sedikit memakai model tanya jawab dalam proses belajar sehingga guru terkadang memerlukan pelaksanaan kegiatan diskusi untuk mengurai permasalahan yang muncul. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, kelemahan siswa adalah adanya perebutan anggota kelompok pada saat kegiatan diskusi terjalan dan lebih memilih unsur kedekatan perteman untuk menjadi anggota dalam kelompoknya. Kelemahan lain adalah terdapat siswa yang tidak selalu ingin menjawab pertanyaan guru, sehingga perlu keaktifan guru untuk memberikan motivasi kepada siswa agar lebih kritis dalam bertanya sehingga dapat diidentifikasi kekurangpahaman siswa terkait  dengan materi pembelajaran. Meskipun demikian, lebih dari 85 persen dari siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru dalam pembelajaran siklus II muncul dalam tabel hasil analisis observasi. Walaupun terdapat beberapa kelemahan pada pelaksanaan kegiatan penelitian, tetapi tidak menghambat proses belajar siswa sehingga tidak menghambat proses pembelajaran serta ketercapaian indikator keberhasilan. Pembiasaan terhadap sistem belajar siswa, maka siswa diharapkan memiliki rasa tanggung jawab dalam bekerja secara kelompok karena keberhasilan kerja dalam kelompok adalah tanggung jawab semua anggota dalam kelompok tersebut. Hal tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas siswa. Siswa diajarkan untuk memberikan penghargaan terhadap pendapat dari teman satu kelompok dan memberikan keleluasaan terhadap anggota kelompok lain untuk mengutarakan pikiran dan gagasan-gagasannya secara terbuka. Sekarang siswa tidak memiliki ketakutan dalam bertanya dan menyampaikan pendapatnya sehingga guru mendapatkan kesempatan untuk memberikan kebebasan secara luas kepada siswa dalam interaksi belajarnya dan dominasi guru dalam proses belajar menjadi berkurang bahkan tidak ada sama sekali.

Dengan menggunakan model pembelajaran inquiri, siswa tidak hanya menghafal apa yang diajarkan oleh guru, tetapi mereka juga dapat memahami apa yang diajarkan dan menerapkannya dalam kegiatan diskusi dengan teman sekelompok mereka. Sesuai dengan hasil belajar dan observasi siswa dari siklus kedua, mereka mencapai ketuntasan klasikal sebesar 86,45 dan persentase ketuntasan 90,32%. Penjelasan tersebut memberikan petunjuk bahwa capaian indikator  telah terpenuhi dengan baik, dan tidak perlu ada siklus selanjutnya.

Melalui paparan di atas dapat ditarik kesimpulan mengenai implementasi model belajar  inquiri yang terbukti membawa peningkatan yang substansial terhadap persentase hasil dan ketuntasan belajar siswa. Hasil ini memberikan petunjuk yang jelas mengenai dampak digunakannya model inquiri sebagai solusi meningkatkan capain hasil belajar siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ pada pembelajaran Pendidikan Pancasila. Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Utami et al., (2022) yang menyebutkan hasil belajar  merupakan bentuk pencapaian hasil  yang didapatkan sebagai output proses belajar dan dapat diukur dengan melakukan penilaian terhadap aspek rekognisi, prinsip dan tingkah laku, kecakapan individu. Hasil belajar memberikan wawasan mendalam mengenai pencapaian siswa sepanjang proses pembelajaran. Nursari (2020) menjelaskan bahwa hasil belajar mencerminkan transformasi perilaku individu yang mengalami pembelajaran, dari keadaan ketidaktahuan menjadi interpretasi detail terkait materi yang dipelajari.

Capaian nilai hasil belajar siswa kelas 7 SMP Negeri 3 ........................ yang menggunakan model pembelajaran inquiri telah menunjukkan peningkatan yang signifikan, menandakan keberhasilan penerapan metode dan model belajar yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa. Output belajar melalui penerapan model Inquiri memberikan fakta perolehan output hasil belajar yang sangat memuaskan. Pelaksanaan proses belajar pada siklus kedua menunjukkan kemajuan yang signifikan. Hasil diskusi dan kegiatan refleksi pada siklus  keuda memberikan petunjuk bahwa guru menunjukkan keterampilan yang baik dalam menerapkan model pembelajaran Inquiri. Selain itu, guru juga memberikan kontribusi yang positif terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakannya secara aktif sehingga skema proses belajar yang dirancang bisa terlaksana dengan baik dan sesuai dengan pencapaian tujuan sesuai dengan harapan.

 

SIMPULAN DAN SARAN

A      Simpulan

 

Penerapan model pembelajaran inquiri berhasil meningkatkan  capaian hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Pancasila materi perumusan dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara. Terbukti dari peningkatan nilai rata-rata siswa dari 66,67 menjadi 75,48 pada siklus pertama dan 86,45 pada siklus kedua. Ketuntasan  belajar mengalami peningkatan yang signifikan dari 6 siswa atau 19,35% menjadi 18 siswa atau 58,06% dan bahkan mencapai 28 siswa atau 90,32% pada siklus kedua. Berdasarkan angka-angka yang diperoleh maka kesimpulan akhir yang didapatkan adalah kegiatan perbaikan pembelajaran dinyatakan selesai dan tuntas pada siklus kedua.

B       Saran Tindaklanjut

Sesuai dengan penjelasan di atas, peneliti memberikan wawasan mengenai topik-topik berikut untuk penelitian lebih lanjut: Bagi siswa, ada baiknya jika mereka secara konsisten meningkatkan hasil belajar dan berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, serta meningkatkan pemahaman bacaan mereka. Literatur bisa didapatkan dari beragam sumber misalnya buku atau bahan cetakan lainnya, televisi, internet, dan lain sebagainya. Bagi guru, hal ini berarti dapat mengatur kelas dan waktu pembelajaran secara efektif, serta lebih kreatif dalam berkreasi menggunakan bahan ajar. Hal ini akan mempermudah siswa dalam pencapaian hasil belajar secara maksimal dan proses belajar dapat berjalan dengan baik. Di sekolah, guru harus lebih bersedia mengekspresikan diri secara kreatif dan inovatif dalam memilih media dan metode pengajaran yang akan digunakan di sana dan memanfaatkan sumber daya seperti buku dan peraga lain yang diperlukan untuk memaksimalkan proses pembelajaran dan menghasilkan hasil yang lebih berkualitas.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aini, N. N., & Mukhlis, M. (2020). Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah pada Soal Cerita Matematika Berdasarkan Teori Polya ditinjau dari Adversity Quotient. Alifmatika: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Matematika, 105- 128. https://journal.ibrahimy.ac.id/index.php/Alifmatika/article/view/105-128

Djajadi, Muhammad. (2019). Pengantar Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Yogyakarta: Arti Bumi Intaran

Hanafiah, Diana, Badruli Martati, and Lilik Binti Mirnawati. (2023). Nilai Karakter Gotong Royong Dalam Pendidikan Pancasila Kelas IV Di Sekolah Implementasi Dasar. Al Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah 7(2): 539. https://jurnal.stiq-amuntai.ac.id/index.php/al-madrasah/article/view/1862

Hasan, K. (2020). Antara keteladanan dan motivasi belajar; pengaruh dari kompetensi kepribadian guru di mts aziddin medan. Bidayah : Studi Ilmu Ilmu Keislaman, 11(1), 101–110. https://doi.org/https://doi.org/10.47498/bidayah.v11i1.330

Kurniawan, Andri.(2022). Model Pembelajaran Inovatif. (n.p.): Global Eksekutif

Makruf, Amar. (2022). Meningkatkan Hasil Belajar IPS Materi Pola dan Bentuk-Bentuk Muka Bumi dengan Metode Out Door pada Siswa Kelas IX.A SMPN 8 Pujut Tahun Pelajaran 2020 /2021”. JUPE:Jurnal Pendidikan Mandala. Vol. 7. No. 1 Febuari 2022. 81-88. http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JUPE/inde

Marlina, L., & Solehun. (2021). Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Hasil Belajar Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas IV SD Muhammadiyah Majaran Kabupaten Sorong. Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 2(1),6674. https://unimuda.ejournal.id/ jurnalbahasaindonesia/article/downlod/

Ngalimun. (2022). Strategi Dan Model Pembelajaran. Aswanja Pressindo.

Nursari, B. (2020). Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Dengan Media Konkrit Kelas II SDN 6 Baturetno Kecamatan Baturetno Tahun Pelajaran 2019/2020. SHEs: Conference Series, 3(4), 968–973. https://jurnal.uns.ac.id/shes

Safitri, A., Wulandari, D., & Herlambang, Y. T. (2022). Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila: Sebuah Orientasi Baru Pendidikan dalam Meningkatkan Karakter Siswa Indonesia. Jurnal Basicedu, 6(4), 7076–7086. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i4.3274.

Sidiq, Umar , (2019).  Metode Penelitian Kualitatif di bidang Pendidikan, Ponorogo:  CV. Nata Karya,

Sugiyono (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alphabeta.

Triana, Neni. (2021). LKPD Berbasis Eksperimen Tingkatkan Hasil Belajar Siswa. Jakarta: Guepedia

Uchrowi, Z., & Ruslinawati. (2021). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. http://www.fkip.unsyiah.ac.id/wp-content/uploads/2015/06/Hasil-Tes Online-2015.pdf

Utami, H., Setiawan, N. A., Nugroho, B. S., Ayuwardani, M., & Suharmanto, S. (2022). Peningkatan Competitive Advantage Berdasarkan Pengaruh Learning Organization, Knowledge Sharing, Motivation Terhadap Employee Performance. Prosiding Seminar Hasil Penelitian, 4(1), 266 276. https://jurnal.polines.ac.id/index.php/Sentrikom/issue/view/343

Wahyudi, Yudi, L. Y. R., Azzahra, Salsabilah, Rachmadani, Nia Octavia & Santoso, Gunawan, M.Pd. (2023). Pentingnya Pancasila Dalam Membentuk Karakter Peserta Didik. Jurnal Pendidikan Transformatif, 2(3), 87–94. https://doi.org/10.9000/jpt.v2i3.473  

 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, hindari unsur SARA.
Terima kasih