
UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MELALUI MEDIA PAPAN PINTAR ANGKA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PERKALIAN SISWA KELAS II
SD ....................... SEMESTER 2
TAHUN PELAJARAN 2022/2023
Laporan ini Disusun dan Diajukan untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PDGK 4501)
pada Program Studi S1 PGSD FKIP-UT
Oleh
.......................
NIM. .......................
UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPBJJ .......................
2023
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Nama Mahasiswa : .......................
N I M : .......................
Program Studi : S1 PGSD
Tempat Mengajar : SD ....................... .......................
Jumlah Siklus Pembelajaran : 2 (dua) siklus
Hari dan Tanggal Pelaksanaan : Siklus 1 : ………………………………..
………………………………..
Siklus 2 : ………………………………..
………………………………..
Masalah yang menjadi fokus perbaikan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah:
1. Bagaimana peningkatan keaktifan belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?
|
|
......................., Mei 2023 |
|
Menyetujui Supervisor I
............................................... NID. ........................... |
Mahasiswa,
....................... NIM. ....................... |
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan praktek Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi mata kuliah PKP pada Program Studi S1 PGSD Universitas Terbuka (UT) seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan karya saya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya sandang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
......................., Mei 2023
Yang membuat pernyataan,
.......................
NIM. .......................
KATA PENGANTAR
Puji syukur terpanjatkan ke hadirat Illahi Robbi, karena atas perkenan dan Ridho-Nya, penyusun laporan penelitian tindakan kelas ini dapat diselesaikan tepat waktu. Penelitian laporan ini merupakan syarat untuk melengkapi tugas mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).
Penyusunan laporan perbaikan pembelajaran ini tidak terlepas dari dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Olek karena itu, pada kesempatan ini, ijinkanlah peneliti menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada, Yth:
1. Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D, selaku Rektor Universitas Terbuka
2. Prof. Dr. Ucu Rahayu, M.Sc, selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka
3. Drs. Muhammad Tair A., M.M, selaku Kepala UPBJJ-UT ....................... yang telah memberikan ijin penelitian dan fasilitas dalam menempuh pendidikan di program S1 PGSD
4. ....................... selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing mahasiswa dengan sabar.
5. Kepala SD ....................... ....................... beserta rekan-rekan guru yang telah memberi dorongan dan dukungan selama pelaksanaan kegaitan PKP;
6. Teman sejawat yang telah membantu dalam pengumpulan data;
7. Siswa-siswi kelas I SD ....................... .......................
8. Semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, yang telah membantu tersusunnya laporan ini.
Akhirnya peneliti berharap, semoga laporan ini dapat menjadi salah satu alternatif yang dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi dalam pembelajaran di sekolah dasar.
......................., Mei 2023
Peneliti
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR JUDUL .......................................................................................... ....... i
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................... ...... ii
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT.................................................. iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... ..... iv
DAFTAR ISI .................................................................................................. ...... v
DAFTAR TABEL ........................................................................................... ..... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... .... vii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. .... vii
ABSTRAK ...................................................................................................... ..... ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................ ...... 1
1. Identifikasi Masalah....................................................................... 3
2. Analisis Masalah ............................................................................ 3
3. Alternatif Pemecahan Masalah ...................................................... 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 5
C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori ....................................................................................... 8
B. Kerangka Berpikir....................................................................... 21
C. Hipotesis Tindakan .......................................................................... 22
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu.. .... 23
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran......................................... 24
C. Teknik Analisa Data ........................................................................ 27
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran.......................... 32
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran.................... 44
BAB V SIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan .................................................................................... .... 51
B. Saran dan Tindak Lanjut ............................................................ .... 51
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas................... 23
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Keaktifan Belajar Siswa.......................... 30
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Kondisi Awal.................... 33
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan belajar Siswa pada Kondisi Awal 33
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Siklus I..................... 37
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Keaktifan belajar siswa pada Siklus I 38
Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Siklus II................... 42
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Keaktifan belajar siswa pada Siklus II 43
Tabel 4.7 Nilai Hasil Tes Formatif Temuan Awal, Siklus I dan Siklus II 44
Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II........................................................................................... 47
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas.......................... 22
Gambar 3.1 Alur PTK Model Kemmis & Taggart........................................ 24
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar Berdasarkan Hasil Nilai Tes Formatif Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II........................................ 45
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Belajar Siswa Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II ................................................................................................... 46
Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Keaktifan belajar siswa Pada Siklus I dan II................................................................................................... 47
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Lampiran 1 Surat Kesediaan Supervisor 2 Sebagai Pembimbing PKP
Lampiran 2 Perencanaan PTK (Fakta/Data Pembelajaran yang terjadi di kelas, Identifikasi Masalah, Analisis Masalah, Alternatif Pemecahan Masalah, dan Rumusan Masalah)
Lampiran 3 Berkas RPP Prasiklus, RPP Perbaikan Siklus I, RPP Perbaikan Siklus II
Lampiran 4 Lembar Hasil Tes Formatif, Lembar Observasi/Pengamatan Siswa dan Guru Prasiklus, Siklus I dan Siklus II
Lampiran 5 Jurnal Pembimbingan / Kartu Kendali
Lampiran 6 Hasil Pekerjaan Siswa Terbaik dan Terburuk per Siklus
Lampiran 7 Foto Dokumentasi Kegiatan PKP
UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR MELALUI MEDIA PAPAN PINTAR ANGKA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA MATERI PERKALIAN SISWA KELAS II
SD ....................... SEMESTER 2
TAHUN PELAJARAN 2022/2023
Oleh
.......................
.......................
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar melalui media papan pintar angka siswa kelas II SD ....................... ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023. Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian sebanyak 15 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi dan dokumentasi. Validasi data menggunakan triangulasi. Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan keaktifan belajar dari 7 siswa atau 46,67% yang dinyatakan tuntas, pada siklus I meningkat menjadi 12 siswa atau 80% , dan pada siklus II meningkat menjadi 100% atau 15 siswa. Peningkatan hasil belajar siswa dari rata-rata pada kondisi awal 59,33 menjadi 68,00 dan 77,14 pada siklus terakhir dengan penjelasan ketuntasan belajar dari 5 siswa (23,33%) pada kondisi awal, meningkat menjadi 11 siswa (73,33%) dan 14 siswa (93,33%) pada siklus kedua. Kesimpulan dari hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini adalah penggunaan media papan pintar angka terbukti dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas IV SD ....................... ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023.
Kata
kunci : keaktifan, hasil belajar, media gambar
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pengetahuan dan teknologi mengalami perkembangan yang sangat pesat di era globalisasi seperti sekarang ini. Perkembangan teknologi ini mengakibatkan berkembangnya ilmu pengetahuan yang memberikan dampak positif dan negatif kepada semua pihak. Pemerintah perlu meningkatkan pembangunan di bidang pendidikan dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran. Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari beberapa komponen pembelajaran yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya (Rusman, dalam Sri. 2020:792). Matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang sangat penting untuk dipelajari dalam dunia pendidikan. Matematika juga dipandang sebagai salah satu pelajaran yang sulit dan menakutkan, sehingga prestasi belajar matematika siswa masih rendah (Sutama, 2016:79).
Keaktifan siswa adalah aktifitas siswa dalam proses pembelajaran yang melibatkan emosional siswa untuk menguasai materi yang dipelajarinya, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Keaktifan siswa berperan penting dalam proses pembelajaran karena tingkat keaktifan belajar siswa baik fisik, mental maupun sosial merupakan tolak ukur dari kualitas dan keberhasilan proses pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika, salah satu faktor tersebut yaitu penyampaian guru yang monoton (metode ceramah) sehingga siswa menjadi pasif dan suasana pembelajaran matematika menjadi membosankan. Sutama (2016:29) berpendapat bahwa pada saat siswa belajar secara pasif, siswa mengalami proses pembelajaran tanpa ada rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa ada daya tarik terhadap hasil belajar siswa.
Matematika merupakan ilmu yang tidak dapat dipisahkan dari dunia pendidikan dan mempunyai peranaan yang sangat penting dalam mencetak SDM yang berkualitas. Hal ini dikarenakan matematika adalah ilmu yang berhubungan dengan penalaran dan pola pikir manusia. Menurut Marti dalam Sundayana (2016:3), mengatakan bahwa objek matematika yang bersifat abstrak menyebabkan kesulitan tersendiri yang harus dihadapi peserta didik dalam mempelajarai matematika. Matematika merupakan pelajaran yang berisi materi atau ide-ide yang hubunganya diatur dengan logika, sehingga sebagian besar materi matematika bersifat abstrak. Hal ini membuat peserta didik merasa kesulitan dalam mempelajarinya sehingga berpengaruh pada hasil belajar. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam memfasilitasi kegiatan belajar peserta didik.
Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran matematika di kelas II SD ......................., diperoleh beberapa permasalahan yang masih dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas diantaranya (1) proses pembelajaran dikelas masih menggunakan metode ekspositori dan bersifat teacher-center sehingga siswa menjadi pembelajar pasif, (2) siswa masih bingung menggunakan konsep-konsep matematika karena siswa hanya menghafal konsep bukan memahaminya, (3) kurangnya keaktifan siswa untuk belajar matematika sehingga daya serap siswa rendah, (4) kurang optimalnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sehingga motivasi siswa rendah, (5) guru kurang melakukan inovasi pembelajaran seperti penggunaan sumber belajar yang hanya berorientasi pada buku paket dan sedikit memberi peluang siswa untuk mengkonstruksi ide-ide matematika mereka sendiri. Kondisi pembelajaran seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan siswa, mengakibatkan rendahnya hasil belajar.
Perkalian merupakan salah satu materi dasar (Penjumlahan, Pengurangan, Perkalian dan Pembagian) dalam Matematika, peserta didik pertama kali belajar perkalian pada kelas 2 sekolah dasar. Sehingga sangat penting agar siswa memahami konsep dasar perkalian dan memahami pola-pola dari perkalian. Berdasarkan buku yang peneliti baca, ada beberapa pola perkalian yang harus diketahui siswa agar mudah mempelajari perkalian. Yang pertama, semua hasil perkalian 10 di akhiri dengan angka 0. Yang kedua, hasil perkalian 5 diakhiri dengan angka 5 atau angka 0. Yang ketiga, hasil perkalian dengan 0, hasilnya selalu 0. Yang keempat, semua angka jika dikali 1, hasilnya adalah angka itu sendiri.
Dari hasil tes pada studi pendahuluan yang dilakukan menunjukkan hasil 3 siswa (33,33%) dari 15 siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas dan 10 siswa (66,67%) yang memperoleh nilai di bawah nilai 70, dengan perolehan rata-rata hasil belajar secara klasikal sebesar 59,33. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih berada di bawah KKM yang ditentukan yaitu memperoleh nilai minimal 70.
1. Identifikasi Masalah
Langkah yang diambil penulis sebagai upaya untuk mengatasi hal itu, peneliti mencoba berkolaborasi dengan kepala sekolah dan teman sejawat/observer. Hasil diskusi dengan mereka, akhirnya dapat teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.
a. Proses pembelajaran di kelas masih menggunakan metode ekspositori dan bersifat teacher-center sehingga siswa menjadi pembelajar pasif,
b. Siswa masih bingung menggunakan konsep-konsep matematika karena siswa hanya menghafal konsep bukan memahaminya,
c. Kurangnya keaktifan siswa untuk belajar matematika sehingga daya serap siswa rendah,
d. Guru kurang melakukan inovasi pembelajaran seperti penggunaan sumber belajar yang hanya berorientasi pada buku paket dan sedikit memberi peluang siswa untuk mengkonstruksi ide-ide matematika mereka sendiri.
2. Analisis Masalah
Melalui refleksi diri, kaji literatur, dan diskusi dengan supervisor, kepala sekolah dan teman sejawat dapat diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran, dan rendahnya keaktifan serta hasil belajar siswa adalah
a. Guru belum melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran
b. Penjelasan materi terlalu cepat, sehingga kurangnya model dialog yang interaktif, efektif dan kreatif.
c. Guru belum mampu mengembangkan model dialog yang efektif, aktif dan kreatif.
d. Guru belum menggunakan media, model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan taraf perkembangan siswa sehingga siswa belum mempunyai kesempatan dalam mengkonstruksi ide-ide matematika mereka secara mandiri.
3. Alternatif Masalah
Pendekatan yang digunakan dalam mengajarkan matematika harus sesuai dengan materi sehingga dapat mengoptimalkan kegiatan pembelajaran. Di karenakan matematika menerangkan perhitungan, penalaran, keaktifan berpikir, karena mereka menganggap matematika merupakan pelajaran yang paling sulit. Dalam mengetahui kesulitan peserta didik banyak cara yang dilakukan agar pembelajaran matematika dapat dilaksanakan dengan lancar, efektif dan efisien sehingga tujuan yang ditetapkan tercapai. Guru juga harus mengoptimalkan media yang ada sebagai pendukung dalam mengajarkan materi. Akan tetapi, sebagian besar guru belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pada tiap-tiap materi dalam pelajaran matematika sehingga hasil belajar siswa masih rendah. Padahal, media dalam pembelajaran matematika sangat beragam.
Banyak sekali benda dan alat yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran dan menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Guru yang dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar, maka hasil belajar siswa juga akan optimal. Contohnya dalam penggunaan media dalam pembelajaran sangat membantu dalam menyampaikan materi dan memudahkan pemahaman pada peserta didik. Media pembelajaran adalah alat belajar yang sangat berperan penting dalam suatu proses belajar mengajar baik pembelajaran formal maupun non formal. Beragam media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menampaikan materi pengajaran, disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas guru sendiri dalam menggunakannya (Rosdiana, 2016:73).
Papan pintar merupakan media papan hitung yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran matematika khususnya pada materi konsep bilangan yang mungkin dianggap sulit oleh anak menjadi lebih mudah dan menyenangkan, sehingga anak tidak akan merasa cepat bosan dalam belajar. Media Papan Pintar Angka (PAPINKA) merupakan suatu media pembelajaran untuk mengenal dan memahami konsep bilangan (Muhammad, dkk. 2019:27). Media ini terbuat dari papan yang diberi stiker dan dilapisi magnet untuk meletakkan benda-benda atau simbol yang akan digunakan dalam mengenalkan konsep bilangan. Selain itu juga terdapat roulette atau roda putar yang berfungsi untuk mendapatkan jumlah angka. Media PAPINKA ini merupakan jenis media visual yang hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh indera penglihatan dan indera peraba (Virda. 2020:189).
Hakikatnya untuk memahami konsep abstrak diperlukan alat peraga atau aktivitas nyata yang bisa dilihat oleh mata yang bisa menuntun siswa pada pemahaman konsep dan dapat diterapkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari. dari masalah yang ditemukan maka perlu solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap perkalian. Salah satu cara yang diterapkan oleh peneliti adalah menggunakan media/alat peraga papan pintar angka (PAPIKA), alasan peneliti memilih ini karena papan dan tabel adalah dua hal yang sering ditemui oleh siswa di kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
Dari penjelasan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Bagaimana peningkatan keaktifan belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?
C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan yang ingin dicapai penulis melalui penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui peningkatan keaktifan belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka.
2. Mengetahui peningkatan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka.
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Manfaat yang diharapkan dari pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini memberikan sumbangan informasi mengenai berbagai hal yang berkaiatan dengan penggunaan media papan pintar angka sebagai salah satu media pembelajaran yang dapat untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa di sekolah dasar
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi siswa
1) Mempermudah pemahaman siswa terhadap konsep-konsep matematika.
2) Dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
b. Manfaat bagi guru
1) Sebagai bahan masukan bagi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran dikelasnya.
2) Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan refleksi bagi guru untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran matematika
c. Manfaat bagi sekolah
Memacu guru untuk meningkatkan kualitas pengelolaan pembelajaran, mendorong para guru agar dapat mengadakan modifikasi pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan, dan sebagai referensi dan acuan apabila ada diantara guru yang mengalami kesulitan seperti yang dihadapi oleh peneliti.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Keaktifan Belajar
a. Pengertian Keaktifan Belajar
Pada dasarnya proses pembelajaran terjadi karena adanya interaksi antara guru dengan siswa beserta pengalaman yang didapatkan oleh keduanya. Keaktifan belajar siswa adalah salah satu unsur yang sangat penting dalam mencapai suatu keberhasilan dari proses pembelajaran. Maka dari itu seorang guru harus membuat suasana belajar menjadi aktif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata keaktifan mempunyai arti kegiatan atau aktivitas. Artinya seseorang yang dikatakan aktif adalah orang yang mempunyai kegiatan. Dalam hal ini berarti yang disebut dengan siswa aktif adalah siswa yang melakukan suatu kegiatan pada saat pembelajaran berlangsung. Sesuai dengan pendapat Pendapat ini sejalan dengan Hollingsworth & Lewis dalam Rikawati dan Sijintak (2020:44) yang menyatakan bahwa keadaan aktif adalah kondisi di mana siswa terlibat secara terus menerus baik mental dan fisik.
Sardiman (2001:98) berpendapat bahwa keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Dalam hal ini keaktifan siswa dapat dilihat dari kesungguhan mereka mengikuti pembelajaran. Menurut Rumiyati (2021:8) keaktifan siswa dalam belajar merupakan segala kegiatan yang bersifat fisik maupun nonfisik siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar yang optimal sehingga dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif.
Keaktifan belajar itu sendiri menurut Sareong & Supartini (2020) dinyatakan bahwa, keaktifan belajar merupakan kemampuan peserta didik dalam menyusun dan membangun sendiri pengetahuan yang diperoleh dari proses belajar, yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan siswa baik di dalam maupun di luar kelas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar adalah bagian dari proses belajar yang terkait tingkah laku peserta didik dalam kegiatan belajar, baik kegiatan yang bersifat fisik atau mental untuk mengolah dan memproses perolehan belajarnya serta di dalam pelaksanaanya peserta didik di turut serta terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada guru atau peserta didik lain apabila tidak memahami persoalan yang di hadapinya.
b. Indikator Keaktifan Belajar
Indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat dilihat pada dimensi siswa yaitu pembelajaran yang berkadar siswa aktif akan terlihat pada diri siswa akan adanya keberanian dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, keinginan dan kemauannya . dalam dimensi siswa ini nansti pada akhirnya akan tumbuh dan berkembang kemampuan kreativitas siswa.
Keaktifan belajar mempunyai indikator yaitu ketika siswa bersemangat, giat, berani dalam pembelajaran yang efektif. Pendapat dari Rusman, dkk (2012:87) dikatakan aktif jika siswa memiliki keberanian dalam bertanya dan menjawab pertanyaan. Bahwa keaktifan peserta didik dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar di kelas yaitu kegiatan kelompok, diskusi kelas, serta keberanian untuk tampil di depan kelas. Menurut Rusman, dkk (2012:87) guru dapat mengukur keaktifan siswa melalui indikator – indikator yaitu: 1) Bertanya kepada guru jika belum ada yang jelas. 2) Menjawab pertayaan yang diajukan guru. 3) Mengemukakan pendapat dalam diskusi. 4) Mendengarkan pendapat orang lain. 5) Bekerja sama dengan anggota kelompok dalam mengerjakan lembar kerja siswa. 6) Mempresentasikan hasil diskusi kelompok. 7) Menyimpulkan materi pelajaran.
Keaktifan belajar menurut Sudjana (2010, h. 61) dapat diliht dari beberapa indicator antara lain : 1) Siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya. Maksud dari indikator tersebut adalah dalam kegiatan pembelajaran, siswa berperan aktif menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru seperti mendengarkan, memberikan pendapat, menjawab pertanyaan, bertanya dan sebagainya. 2) Siswa terlibat dalam pemecahan masalah Siswa melakukan pemecahan masalah terhadap soal yang diberikan dengan baik. Pemecahan masalah di sini dalam bentuk individu atau kelompok, misalnya dalam kegiatan di kelas siswa mampu memecahkan permasalahan yang diberikan dan ikut serta membahas bersama atau mencatat hasil pemecahan yang telah dibahas. 3) Siswa bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya. Maksud dari indikator tersebut adalah apabila siswa menghadapi kesulitan, siswa berani bertanya kepada siswa lain yang dirasa mampu untuk membantu atau bertanya dengan guru. Dan ketika siswa lain atau guru yang sedang dimintai jawaban sedang menjawab, hendaknya siswa mendengarkan dengan seksama. 4) Siswa aktif mencari informasi yang berhubungan dengan pemecahan masalah. Maksud dari indikator tersebut adalah dalam memecahkan permasalahan, siswa aktif mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut seperti pergi ke perpustakaan atau mencari sumber belajar yang lainnya. 5) Siswa melaksanakan diskusi kelompok dengan petunjuk guru. Siswa aktif dalam bekerja sama dan mengikuti aturan yang diberikan oleh guru saat melaksanakan kegiatan diskusi bersama kelompoknya. 6) Siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. Indikator tersebut maksudnya adalah siswa mencoba melatih dirinya seperti mengerjakan soal setelah diterangkan oleh guru. 7) Siswa melatih diri dalam mengerjakan soal. Siswa terlihat aktif dan mampu memecahkan permasalahan terhadap soal yang diberikan. 8) Siswa mengerjakan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapi.
Dari penjelasan di atas maka indikator keaktifan belajar yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan 10 indikator, yaitu siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, siswa terlibat dalam pemecahan masalah, siswa bertanya kepada siswa lain atau guru, siswa aktif mencari informasi, siswa melaksanakan diskusi kelompok, bekerja sama dengan anggota kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menyimpulkan materi pelajaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya
2. Konsep Hasil Belajar
Hasil belajar didapatkan melalui proses belajar. Belajar telah didefinisikan oleh banyak ahli di dunia. Namun untuk mendapatkan pengertian dari belajar secara jelas dan objektif, diperlukan perumusan pengertian yang didapatkan dari para ahli. Berikut merupakan pengertian belajar dari beberapa ahli.
Kimble dalam (Hasanuddin, 2017), dalam belajar merupakan perubahan yang relatif permanen di dalam potensi behavioral (behavioural potentiality) yang terjadi sebagai akibat dari praktik yang diperkuat (reinforced practice). Pernyataan tersebut relevan dengan Lefudin (2017) yakni, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, yang dapat diamati serta diukur. Serta didukung oleh pernyataan Irham & Wiyani (2017) yang mengemukakan, belajar adalah proses seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang diwujudkan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang sifatnya relatif permanen karena interaksi seseorang dengan lingkungan belajarnya. Kemudian dari proses belajar tesebut, terbentuklah yang dinamakan dengan hasil belajar.
Menurut Hamalik (2014:31) “Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, abilitas, dan keterampilan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hamalik (2014:38) yang menyatakan “Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang relatif menetap dalam diri seseorang sebagai akibat dari interaksi seseorang dengan lingkungannya.” Sehingga, bentuk nyata dari hasil belajar sering dianggap adalah adanya perubahan tingkah laku, keterampilan dan nilai-nilai dari berbagai aspek.
Perubahan-perubahan tingkah laku pada hasil belajar tersebut memiliki beberapa ranah atau kategori. Menurut Husamah, Arina, Sumarno, & Pantiwati, (2018:20) “Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari proses belajar. Perubahan ini berupa pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap yang biasanya meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik”. Sehingga hasil yang didapatkan dari proses belajar, tidak luput dari ketiga aspek tersebut.
Ranah afekif, psikomotorik, dan kognitif memiliki cakupan yang berbeda beda di dalam hasil belajar. Menurut Iswadi (2017:63) Ranah afektif merupakan ranah di hasil belajar yang mencakup ha-hal yang berkaitan dengan emosi yang dibagi ke dalam lima kategori yakni penerimaan, responsif, nilai yang dianut, organisasi dan karakterisasi. Dengan begitu ranah afektif pada hasil belajar dapat diartikan sebagai perubahan perilaku peserta didik dalam segi sikap.
Sedangkan ranah psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani, keterampilan motorik dan kemampuan fisik. Dimana ranah ini dibagi ke dalam lima kategori yaitu peniruan, manipulasi, ketetapan, artikulasi dan pengalamiahan (Iswadi, 2017:64). Begitu juga dengan hasil belajar pada ranah kognitif yang memiliki cakupan yang berbeda dengan kedua ranah tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli atas definisi hasil belajar yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu penilaian atau kemampuan yang diperoleh peserta didik setelah melalui proses kegiatan belajar dan pembelajaran yang terjadi perubahan-perubahan pada diri siswa baik pada ranah kognitif, afektif, mapupun psikomotor.
3. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Mata pelajaran matematika perlu untuk diterima peserta didik untuk membekali kemampuan berfikir yang logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif (Efrida et al., 2020). Akan tetapi mata pelajaran matematika sering menjadi momok untuk peserta didik karena bersifat abstrak. peneliti terdahulu mencoba melihat pengaruh pendekatan PMRI pada perkembangan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas 2 yang dilatarbelakangi dengan adanya sistem pembelajaran matematika yang bersifat mekanis sehingga kurang maksimal pada siswa (Efrida et al., 2020).
Pembelajaran matematika merupakan sebuah proses peserta didik diberi pengalaman belajar melalui runtutan kegiatan yang terencana sehingga mencapai pengetahuan. Berbagai faktor – faktor pendukung ini mewujudkan keberhasilan dalam pembelajaran matematika. Faktor pendukung yang dimaksud dapat dari metode pembelajaran yang digunakan guru, penguasaan materi guru, media yang digunakan guru, dan sebagainnya. Dalam pembelajaran matematika terdapat salah satu faktor yang mendukung keberhasilan pembelajaran yaitu tujuan pembelajaran.
Pembelajaran matematika seharusnya menjadi mata pembelajaran yang disenangi peserta didik. Namun, sebagian peserta didik menganggap pembelajaran matematika adalah pelajaran yang sulit dan membosankan (Muliandari:2019). Ada juga beberapa peserta didik yang menganggap pembelajaran matematika adalah pembelajaran yang menyeramkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan yang nantinya menghasilkan peningkatan hasil belajar peserta didik dalam bidang matematika (Muliandari:2019).
Pembelajaran matematika cenderung bersifat abstrak serta menggunakan penalaran deduktif dan simbol yang disusun secara hierarkis. Pembelajaran ini menggunakan tingkat pemikiran yang tinggi (Karso,2014). Dengan dibutuhkannya ting pemikiran yang tinggi, peserta didik diharapkan berpartisipasi secara aktif pada pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika pada sekolah dasar merupakan pembelajaran yang bersatu dengan tema. Akan tetapi, pada kelas atas pembelajaran matematika dipisahkan oleh pembelajaran tema (Permendikbud Nomor 24:2016).
Berdasarkan beberapa istilah di atas mengenai matematika tesebut maka matematika merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana cara berpikir logis dan masuk akal dalam memperoleh konsepan. Menurut teori Brunner mengungkapkan bahwa belajar matematika berlangsung akan lebih berhasil apabila proses pembelajaran berfokus pada konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat pada materi yang diajarkan di samping hubungan yang terkait antar konsep konsep dan struktur-struktur.
4. Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu medio. Dalam bahasa Latin, media dimaknai sebagai perantara. Media merupakan bentuk jamak dari medium, secara harfiah berarti perantara atau pengantar yang dikutip dari Nurseto (dalam Mashuri, 2019). Adapun media menurut (Association fot Education and Communication Technology) AECT memberi batasan tentang media sebagai salah satu bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi, dengan demikian media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Sedangkan (National Education Association) NEA (dalam Syafrita, 2020) mendefinisikan media sebagai benda yang dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca dan dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan dengan baik dalam proses belajar mengajar yang dapet mempengaruhi efektivitas program instruksional.
Media adalah semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa. Media apabila dilihat dari secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sehingga dengan batasan-batasan yang ada dapat disimpulkan bahwa media adalah sesuatu alat atau sarana komunikasi, baik berupa cetak maupun audio visual yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dari pengirim ke penerima pesan dan merangsang siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam proses belajar.
Menurut (Arysad, 2014) apabila media ini membawa pesan atau informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut media pembelajaran. Dikutip dari Sadiman (dalam Netriwati & Lena, 2017) menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat dan guna dan berdaya guna.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah segala sesuatu benda atau komponen yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan keaktifan, motivasi dan keaktifan siswa dalam proses belajar.
5. Media Papan Pintar Angka
a. Pengertian Media Papan Pintar Angka
Media Papan Pintar merupakan merupakan salah satu media dua dimensi yang dapat digunakan pada pembelajaran pada materi penjumlahan dan pengurangan karena Papan Pintar bersifat edukatif bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan kognitif siswa. Penggunaan media ini bertujuan untuk membangkitkan keaktifan dan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran serta siswa lebih mengerti maksud dari pembelajaran yang sedang berlangsung.
Media papan pintar adalah media grafis yang efektif untuk menampilkan pesan tertentu. Papan dapat digunakan secara praktis, gambar -gambar yang akan disampaikan dapat dengan mudah dipasang dan dilepas dan juga dapat digunakan untuk menempelkan huruf dan angka. Jenis media papan pintar ini sering digunakan untuk pembelajaran awal, seperti memperkenalkan konsep tambahan berupa konsep angka, huruf, nama hewan dan transportasi (Ulfah. 2020:163).
Media papan pintar adalah sebuah media yang dapat digunakan dalam menyampaikan pesan tertentu dalam proses pembelajaran. Media papan pintar juga merupakan sebuah media yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak. Media papan pintar memiliki bentuk persegi empat, yang terdiri berbagai macam warna menarik, memiliki bentuk-bentuk dari lambang bilangan atau angka – angka serta dilengkapi dengan bentuk-bentuk benda dua dimensi yang dapat disesuaikan dengan tema pembelajaran. Sehingga melalui media papan pintar anak diharapkan dapat mengetahui dan mengembangkan kemampuan lambang lambang bilangan terhadap anak usia dini, dan kegiatan melalui media papan pintar ini juga dapat meningkatkan konsentrasi pada anak.
Media papan pintar adalah sebuah media pembelajaran yang dirancang dengan tujuan memudahkan anak usia dini dalam memahami serta meningkatkan kemampuan berhitung permulaan, papan pintar dibuat dengan papan berbentuk persegi dengan didalamnya terdapat flanel berbentuk gambar yang dapat ditekuk untuk memudahkan anak dalam mengenal bilangan 1 – 10, serta terdapat berbagai macam bilangan angka (Munifer Bahfen, dkk.2020:2).
Media papan pintar angka adalah sebuah media pembelajarana menyusun kartu angka atau nomor, media papan angka dikembangkan dengan tujuan agar mata pelajaran matematika terkadang sering dianggap sulit oleh siswa, oleh sebab itu media papan pintar angka akan membuat anak senang atau tidak cepat bosan, selain itu juga diharapkann dengan media papan pintar angka ini dapat membantu siswa dalam proses berhitung.
Media Papan Pintar Angka yang terbuat dari kertas karton, media yang dikembangkan mengacu pada pembelajaran penjumlahan dan pengurangan. Media Papan pintar angka berpedoman pada prinsip “belajar sambil bermain” media permainan ini bertujuan akan membawa anak-anak ke dunia bermain sambal belajar karena media pembelajaran sebagai sumber belajar mengenai angka masih terbatas.
Penyelesaian guru terhadap permasalahan yang ada belum dapat sepenuhnya membantu anak belajar mengenai angka secara keseluruhan, pembelajaran angka harus menguasai bentuk tulisan angka, menyebut bunyi angka, nilai angka, urutan angka dan menulis angka. Guru biasanya menggunakan benda-benda disekitar (Midya, dkk:2021:22).
Media papan pintar angka adalah sebuah media pembelajarana menyusun kartu angka, media papan pintar angka merupakan salah satu media yang efektif untuk menyajikan dan menyampaikan pesan pesan secara visual melalui gambar, simbol ataupun tulisan yang ditampilkan pada papan pintar angka dan dapat dilepas dengan mudah (Virda, dkk, 2020:186).
Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat disimpulkan tentang media papan pintar angka yaitu suatu media pembelajaran untuk anak dalam menyusun angka - angka atau nomor, atau menjumlakan suatu benda yang ada dipapan pintar angka.
b. Manfaat Media Papan Pintar Angka
Manfaat dari media papan pintar angka yang ada pada media papan pintar angka dalam proses pembelajaran yaitu sebagai berikut: (a) Memvisualisasikan suatu gagasan melalui penempatan huruf-huruf, gambar, simbol, warna dan lain-lain. (b) Sebagai wahana permainan untuk melatih keberanian, keterampilan anak dalam memilih angka atau huruf abjad yang cocok (Ria. 2019:24).
Pendapat lain tentang manfaat penggunaan media papan angka yang juga terdapat pada media papan pintar angka adalah sebagai berikut:(a) Dapat dipakai untuk jenis pembelajaran apa saja. (b) Dapat memupuk anak untuk belajar aktif sehingga pada proses pembelajaran anak tidak hanya duduk diam dan mendenganrkan apa yang dijelaskan oleh guru tanpa melakukan (Midya, dkk, 2021:23).
Adapun manfaat lain yang didapatkan dari penggunaan media papan pintar angka juga dapat dirasakan pada penggunaan media papan pintar dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut: (a) Materi pembelajaran akan lebih menarik sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar pada peserta didik. (b) Materi pembelajaran akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik. (c) Metode pengajaran menjadi lebih bervariasi sehingga peserta didik tidak mudah bosan. (d) Peserta didik lebih aktif dalam melakukan kegiatan belajar (Midya, dkk, 2021:25).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, jadi dapat disimpulkan bahwa manfaat media papan pintar angka yang dikembangkan memiliki banyak manfaatnya, salah satunya adalah untuk memvisualisasikan suatu gagasan penempatan lambang bilangan, warna, simbol dan angka serta anak dapat belajar secara aktif dan tidak monoton dan juga mengatasi sikap pasif sehingga anak menjadi lebih semangat dan lebih mandiri dalam belajar serta mempermudahkan guru dalam menyampaikan pembelajaran melalui media pembelajaran papan pintar angka.
c. Kelebihan media papan pintar angka
Setiap media pembelajaran sudah pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan, berikut adalah beberapa kelebihan media pembelajaran papan pintar angka.
Kelebihan media papan pintar angka adalah sebagai berikut: (a) Dapat dibuat sendiri, (b) Item-item dapat diatur sendiri, (c) Dapat dipersiapkan terlebih dahulu, (d) Item-item dapat dipergunakan berkali-kali, (e) Memungkinkan penyesuaian dengan kebutuhan siswa, (f) Menghemat waktu dan tenaga (Virda, 2020:23).
Kelebihan menggunakan papan pintar angka adalah: a) gambar-gambar dengan mudah ditempelkan; b) efisiensi waktu dan tenaga; c) menarik atau memusatkan perhatian dan konsentrasi peserta didik terhadap suatu masalah yang dibicarakan atau suatu pembelajaran yang sedang di sampaikan oleh guru; d) memudahkan guru menjelaskan materi pelajaran ((Midya, dkk, 2021:31).
Sejalan dengan pendapat diatas tentang kelebihan media papan pintar angka, ada 4 kelebihan yang dimiliki oleh media papan angka yaitu: (a) guru dapat membuat sendiri media papan pintar (papan flanel), (b) media ini dapat dipersiapkan terlebih dahulu dengan teliti dan cermat, (c) media ini dapat memusatkan perhatian peserta didik terhadap suatu masalah yang dibicarakan, (d) dapat menghemat waktu pembelajaran, karena segala sesuatu sudah dipersiapkan terlebih dahulu dan peserta didik juga dapat melihat sendiri secara langsung.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, jadi dapat disimpulkan bahwa kelebihan dari media papan pintar angka yaitu media papan pintar angka dapat dibuat sendiri, item-itemnya dapat diatur sendiri, mempermudah guru dalam menyampaikan pembelajaran, media papan pintar angka dapat dipersiapkan terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada anak didik dan juga media dapat memusatkan perhatian anak serta dapat menghemat waktu pembelajaran karena segala sesuatu sudah dipersiapkan terlebih dahulu dan anak didik dapat melihat sendiri secara langsung.
d. Kekurangan media papan pintar angka
Kekurangan media papan pintar angka adalah anak akan merasa kesulitan diawal karena mereka harus beradaptasi dan tentunya masih banyak anak yang bertanya cara menggunakannya, walaupun Sebagian anak bisa memainkan papan pintar angka. Sedangkan menurut pendapat lain kekurang media papan pintar angka akan mengakibatkan kesulitan bagi guru akibat tidak kondusif nya kelas karena kuatnya pola interaksi antar peserta didik. Kekurangan media papan pintar angka adalah sebagai berikut: (a) walaupun bahan untuk membuat media papan pintar susah di buat , (b) bila terkena angin sedikit saja, bahan yang ditempel tersebut akan berhamburan jatuh (Desri, 2019:16). Lalu kekurangan atau kelemahan media papan angka adalah memerlukan keterampilan dan ketekunan, mudah rusak apabila tidak dipelihara dengan baik. Jadi jika menggunakan media papan angka guru sebaiknya harus memiliki persiapan dan keterampilan dalam menggunakannya, karena kalau tidak media papan angka akan kehilangan fungsinya.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, jadi dapat disimpulkan bahwa kekurangan atau kelemahan dari media papan pintar angka yaitu anak akan merasa kesulitan diawal karena mereka harus beradaptasi dan tentunya masih banyak anak yang bertanya cara menggunakannya, bahan yang digunakan untuk membuat media pembelajaran mudah rusak dan juga bila terkena angin sedikit saja, bahan yang ditempel di media papan pintar angka tersebut akan berhamburan jatuh dan juga memerlukan ketekunan dan ketrampilan saat menggunakan media papan pintar angka.
e. Alat dan bahan media papan pintar angka
Media Papan pintar angka merupakan media pembelajaran yang dibuat sendiri oleh guru berupa papan yang dilapisi dengan kain flannel yang berisi angka- angka dan gambar buah-buahan yang isinya yaitu jumlah suatu benda untuk menghitung sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
1) Bahan: papan, potongan-potongan balok, papan alas, kain panel, gambar angka, gambar benda.
2) Alat: gunting, cutter, lem, penggaris, spidol board maker (Nur Habibah. 2019:3)
Adapun alat dan bahan yang di perlukan dalam pembuatan media papan pintar angka yaitu sebagai berikut :
1) Gunting
2) Lem kertas
3) Cutter
4) Pena atau spidol
5) Papan atau triplek
6) Kain flannel
7) Kertas karton atau sejenis
8) Flannel gambar angka 1 – 10
9) Gambar buah buahan ((Nur Habibah. 2019:4).
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, jadi dapat disimpulkan bahwa alat dan bahan yang diperlukan atau yang akan digunakan dalam pembuatan media papan pintar angka yaitu seperti : papan atau triplek, kain flannel, kertas karton, gambar gambar yang sudah di siapakan seperti gambar angka - angka, gambar - gambar yang lain dan juga alat yang diperlukan seperti gunting, cutter, lem kertas maupun lem kayu, pena dan spidol.
B. Kerangka Pikir
Hasil belajar matematika rendah disebabkan proses pembelajaran matematika masih teacher centered menempatkan guru sebagai pusat belajar. Ada beberapa materi dalam matematika yang memiliki tingkat keabstrakan yang tinggi. Jika guru masih menggunakan pembelajaran teacher centered siswa akan mengalami kebosanan dan kesalahan persepsi makna yang disampaikan oleh guru. Tidak hanya itu saja siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran di kelas, siswa hanya menunggu informasi materi yang diberikan guru, tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan dan mencari informasi tersebut. Oleh karena itu perlu adanya solusi dalam menyelesaikan permasalahan tersebut, salah satunya dengan memanfaatkan media pembelajaran yang relevan, sehingga siswa tidak bosan dan justru akan meningkat hasil belajar siswa. Karena media tersebut memberikan kemungkinan kepada siswa untuk belajar sistematis, efisien, dan efektif. Sehubungan dengan karakteristik siswa SD yang suka bermain, masih pada tahap berpikir operasional konkret, penggunaan media dalam pembelajaran matematika sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. dengan penggunaan media papan pintar angka siswa tidak akan merasa bosan dengan pembelajaran di kelas dan media papan pintar angka dapat memberikan pengetahuan yang konkret dan tepat serta mudah dipahami, sehingga dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar matematika siswa.
Kerangka berpikir dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam bentuk bagan sebagaimana gambar di bawah ini :

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir Penelitian Tindakan Kelas
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat dibuat hipotesis tindakan sebagai berikut : Jika pembelajaran matematika materi perkalian menerapkan media papan pintar angka maka keaktifan dan hasil belajar siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 akan meningkat.
BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek, Tempat dan Waktu Penelitian, Pihak yang Membantu
1. Subjek Penelitian
Yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas II SD ....................... pada Semester 2 tahun pelajaran 2022/2023 sebanyak 15 siswa dengan penjelasan 6 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan.
2. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil lokasi di SD ....................... yang beralamat di Jln. ………………. Desa ………… Kecamatan ………………., Kabupaten ………………
b. Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu dari bulan Maret 2023 sampai dengan Mei 2023. Penjelasan secara terperinci sebagaimana dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
|
No |
Kegiatan |
Minggu Ke |
|||||||||||
|
Maret |
April |
Mei |
|||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
I. |
Persiapan |
||||||||||||
|
1 |
Perencanaan |
√ |
|||||||||||
|
II. |
Pelaksanaan |
||||||||||||
|
1 |
Proses pembelajaran |
√ |
√ |
√ |
√ |
||||||||
|
2 |
Evaluasi |
√ |
√ |
||||||||||
|
3 |
Analisis Data |
√ |
|||||||||||
|
4 |
Penyusunan Hasil |
√ |
|||||||||||
|
III. |
Laporan |
||||||||||||
|
1 |
Pelaporan Hasil |
√ |
√ |
||||||||||
3. Pihak yang Membantu
Prosedur pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran ini dilaksanakan dalam dua siklus perbaikan pembelajaran dan selama proses pengambilan data, peneliti dibantu oleh teman sejawat dengan identitas dan tugas sebagai berikut :
Nama : ………………………
NIP : -
Pekerjaan/Jabatan : Guru Kelas VI
Tugas : Mengobservasi kegiatan penelitian perbaikan pembelajaran, memberikan bahan masukan refleksi hasil kegiatan penelitian dari awal sampai dengan selesai.
B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yaitu suatu penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki atau meningkatkan mutu praktek pembelajaran di kelas. Peneliti bersama mitra guru matematika berupaya memperoleh hasil yang optimal melalui metode dan rancangan penelitian yang dinilai paling efektif sehingga memungkinkan adanya tindakan yang berulang-ulang dengan revisi untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dalam pembelajaran.
Siklus dalam
penelitian ini terdiri dari beberapa langkah dengan ketentuan sebagai berikut :
Gambar 3.1 Alur PTK Model Kemmis & Taggart (Parnawi, 2020:12)
Penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan rancangan penelitian model Hopkins yang diawali dengan tindakan pendahuluan kemudian dilanjutkan perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian dilakukan sebanyak 2 siklus. Hasil evaluasi pada siklus I masih belum tuntas, sehingga dilakukan perbaikan pada siklus II. Refleksi siklus I dilakukan untuk menentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus II.
Pelaksanaan prosedur penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
1. Siklus I
a. Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan meliputi:
1) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan media papan pintar angka sebagai tindakan perbaikan pada pembelajaran matematika materi perkalian
2) Menyiapkan media media papan pintar angka dengan materi perkalian.
3) Menyusun pedoman observasi;
4) Menyusun alat evaluasi siswa.
b. Tindakan
1) Kegiatan Awal
Pada kegiatan awal, guru menyiapkan media pembelajaran kemudian membangkitkan skemata siswa dengan melakukan tanya jawab mengenai perkalian.
2) Kegiatan Inti
a) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
b) Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi
c) Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran
d) Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka
e) Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka
f) Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka
g) Guru menjawab pertanyaan peserta didik
h) Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka
i) Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
j) Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
k) Siswa diberikan LKS
l) Guru menjelaskan cara menyelesaikan LKS menggunakan media papan pintar
m) Peserta didik menghitung dan mengelompokkan sifat-sifat materi perkalian menggunakan media papan pintar
n) Siswa mendiskusikan jawabannya bersama teman kelompok
o) Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama
3) Kegiatan Akhir
a) Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari in
b) Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari
c) Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah
d) Kelas ditutup dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang siswa.
c. Pengamatan (Observasi)
Pelaksanaan pengamatan melibatkan beberapa pihak diantaranya guru, peneliti, dan teman sejawat. Pelaksanaan observasi dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung dengan berpedoman pada lembar observasi yang telah dibuat oleh peneliti. Hal yang harus diamati oleh observer adalah aktivitas siswa selama berlangsungnya proses pembelajaran, dan proses pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya dilakukan analisis hasil observasi untuk mengetahui keaktifan siswa, guru dan jalannya pembelajaran.
d. Refleksi
Seluruh hasil observasi, evaluasi siswa, dan catatan lapangan dianalisis, dijelaskan, dan disimpulkan pada tahap refleksi. Tujuan dari refleksi adalah untuk mengetahui keberhasilan dari proses pembelajaran matematika materi perkalian dengan menggunakan media papan pintar angka. Peneliti bersama observer menganalisis hasil tindakan pada siklus I dan II untuk mempertimbangkan apakah perlu dilakukan siklus lanjutan.
2. Siklus II
Siklus II merupakan tindakan perbaikan dari siklus I yang masih belum berhasil. Secara umum, penerapan pembelajaran pada siklus II sama dengan penerapan pembelajaran pada siklus I, hanya saja dilakukan lebih cermat dan memperhatikan hal-hal yang masih belum tercapai pada saat siklus I. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
C. Teknik Analisis Data
1. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
1) Data Kuantitatif.
Data Kuantitatif yaitu data tentang hasil tes formatif siswa sebelum dan sesudah diadakan perbaikan.
2) Data Kualitatif.
Data Kualitatif yaitu data tentang keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.
b. Sumber data
Yang dimaksud sumber data dalam penelitian ini adalah subjek dari mana data diperoleh. (Suharsimi Arikunto, 2019:114). Sumber data yang diperoleh dari penelitian ini meliputi:
1) Siswa
Untuk mendapatkan data berupa hasil belajar/evaluasi dan aktifitas siswa ketika diamati dalam kegiatan pembelajaran, yang tertuang dalam lembar pengamatan/observasi.
2) Guru kelas II
Untuk mendapatkan data berupa hasil pengamatan awal, peneliti dan juga subjek yang akan diamati dan kepala sekolah ketika pelaksanaan tindakan. Dengan demikian data yang diperoleh berupa komponen observasi pada lembar observasi yang akan diisi oleh peneliti dan kepala sekolah.
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan peneliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.
a. Observasi
Observasi berfungsi untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai suatu fenomena, baik berupa peristiwa maupun tindakan serta untuk mengukur perilaku, tindakan dan proses atau kegiatan yang sedang dilakukan. Saat melakukan observasi, peneliti mengamati kreativitas siswa dalam menjawab pertanyaan, apakah ada pengaruh setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan langkah-langkah polya. Instrumen observasi adalah pedoman observasi atau format pengamatan. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang terjadi (Purwanto, 2017:149).
b. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, biografi, peraturan, dan kebijakan. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, dan sketsa. Dokumen berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, dan film. Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif (Sugiyono, 2019:83).
c. Metode Tes
Metode tes adalah metode yang dilakukan untuk memperoleh data dengan menggunakan tes yaitu berupa pemberian soal atau serangkain tugas yang harus di kerjakan atau dijawab oleh siswa dalam penelitian ini. Tes yang diberikan kepada siswa dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang di jadikan penetapan skor angka. Tes tersebut berisikan soal-soal penyelesaian masalah yang digunakan untuk mengukur peningkatan hasil belajar siswa (Purwanto, 2017:66).
3. Validasi Data
Menurut Sugiyono (2019:125) menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Uji validitas ini dilakukan untuk mengukur apakah data yang telah didapat setelah penelitian merupakan data yang valid atau tidak, dengan menggunakan alat ukur yang digunakan.
Data-data yang diperoleh dapat juga divalidasi dengan cara triangulasi, yaitu memeriksa kebenaran hipotesis, konstruk, atau analisis yang peneliti lakukan dengan membandingkan hasil data-data yang diperoleh oleh mitra teman sejawat yang membantu dalam melakukan penelitian tindakan ini. Selanjutnya hasil validasi dengan mitra teman sejawat dibandingkan dengan pendapat dan pandangan siswa tentang aspek yang diteliti. Triangulasi untuk menguji atau memeriksa keterangan-keterangan, informasi, dan lain-lain di atas dapat dilihat dari sudut pandang peneliti, sudut pandang mitra teman sejawat, dan sudut pandang siswa.
Dalam penelitian ini triangulasi yang digunakan adalah triangulasi metode. Triangulasi metode yaitu dengan cara menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data antara lain: observasi, wawancara, tes, catatan lapangan dan hasil dokumentasi. Pelaksanaannya dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari hasil observasi, dokumentasi dan metode tes.
4. Analisis Data
a. Data Keaktifan Belajar Siswa
Komponen-komponen yang diamati atau dinilai dari keaktifan belajar siswa adalah kegiatan belajar mereka selama mengikuti pembelajaran menggunakan 10 indikator, yaitu siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, siswa terlibat dalam pemecahan masalah, siswa bertanya kepada siswa lain atau guru, siswa aktif mencari informasi, siswa melaksanakan diskusi kelompok, bekerja sama dengan anggota kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menyimpulkan materi pelajaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. Dalam bentuk tabel penilaian keaktifan belajar siswa sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel 3.2 Kriteria Penilaian Keaktifan Belajar Siswa
|
No |
Rentang Skor |
Kriteria Ketuntasan |
Ket |
|
1 |
≥70 |
Tuntas |
|
|
4 |
<70 |
Belum Tuntas |
b. Hasil Belajar
Hasil belajar dianalisis dengan teknik analisis hasil evaluasi untuk mengetahui ketuntasan belajar dengan cara meganalisis data hasil tes dengan kriteria ketuntasan belajar, prosentase hasil belajar yang diperoleh peserta didik tersebut kemudian dibandingkan dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang telah ditentukan.
Seorang peserta didik disebut tuntas belajar jika telah mencapai nilai minimal sama dengan KKM =70, untuk menghitung hasil tes pada proses pembelajaran dengan menggunakan media papan pintar angka yaitu dengan membandingkan jumlah nilai yang diperoleh peserta didik dengan jumlah skor maksimum kemudian dikalikan 100% atau digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan:
S : nilai yang dicari (diharapkan)
R : jumlah skor dari item atau soal yang dijawab
N : skor maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2017:112)
Adapun teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui
peningkatan hasil belajar/siswa pada penilaian ini yakni dengan membandingkan
persentase ketuntasan belajar dalam penggunaan media papan pintar angka pada
siklus 1 dan siklus 2. Sedangkan persentase ketuntasan belajar dihitung dengan
cara membandingkan siswa yang tuntas belajar dengan jumlah siswa secara
keseluruhan (jumlah siswa maksimal) kemudian dikalikan 100%
Indikator untuk mengukur tingkat keberhasilan upaya perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut :
1. Siswa dinyatakan tuntas apabila menguasai 85% materi pembelajaran atau mendapatkan nilai di atas KKM sebesar 70.
2. Proses perbaikan pembelajaran (peningkatan hasil belajar siswa) dinyatakan berhasil jika 85% dari jumlah siswa tuntas dalam belajar.
3. Proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil jika 85% dari jumlah mengalami peningkatan keaktifan belajar.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II SD ........................ Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus untuk menentukan bagaimana cara meningkatkan proses pembelajaran, keaktifan dan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran matematika materi perkalian dengan menggunakan media papan pintar angka. Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan, mulai dari pemeriksaan tahap studi awal sampai pada siklus kedua diperoleh data sebagai berikut:
1. Kondisi Awal
Sebelum melaksanakan penelitian tindakan kelas, terlebih dahulu dilakukan kegiatan prasiklus. Dari observasi awal hasil prasiklus yang telah dilakukan, ditemukan kelemahan-kelemahan sehingga berakibat pada rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa. Kelemahan tersebut antara lain hasil belajar siswa dalam pelajaran matematika belum mencapai KKM, kurang keaktifannya siswa pada mata pelajaran matematika, penggunaan model maupun metode pembelajaran yang masih kurang bervariasi, dan guru masih jarang dalam menggunakan media papan pintar angka saat proses pembelajaran.
Dalam temuan observasi awal tersebut, maka perlu dilakukan perubahan pada proses pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat, dalam hal ini salah satu media pembelajaran yang dianggap tepat adalah media papan pintar angka dalam penggunaannya disesuaikan dengan kompetensi dasar, indikator, dan materi dalam melaksanakan pembelajaran matematika pada materi perkalian.
Data hasil tes formatif untuk mengetahui hasil belajar siswa pada kondisi awal berdasarkan hasil kegiatan prasiklus sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Kondisi Awal
|
No |
Kriteria Ketuntasan |
Kondisi Awal |
Ket |
|
|
Jumlah |
% |
|||
|
1 |
Tuntas |
5 |
33,33 |
|
|
2 |
Belum Tuntas |
10 |
66,67 |
|
|
|
Jumlah |
15 |
100,00 |
|
|
|
Nilai terendah |
40,00 |
|
|
|
|
Nilai tertinggi |
70,00 |
|
|
|
|
Rata – rata |
59,33 |
|
|
|
|
Ketuntasan |
33,33 |
|
|
Penjelasan mengenai aspek keaktifan belajar yang dinilai menggunakan lembar observasi dengan 10 indikator, yaitu siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, siswa terlibat dalam pemecahan masalah, siswa bertanya kepada siswa lain atau guru, siswa aktif mencari informasi, siswa melaksanakan diskusi kelompok, bekerja sama dengan anggota kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menyimpulkan materi pelajaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. Hasil pengamatan pada kondisi awal sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan belajar Siswa pada Kondisi Awal
|
No |
Uraian |
Jumlah |
Ket |
|
1 |
Siswa Tuntas |
7 |
|
|
2 |
Persentase Tuntas |
46,67 |
|
|
3 |
Siswa Belum Tuntas |
8 |
|
|
4 |
Persentase Belum Tuntas |
53,33 |
|
|
5 |
Ketuntasan Klasikal |
46,67 |
|
Berdasarkan data tersebut di atas maka peneliti merasa perlu mengadakan perbaikan dalam masalah pembelajaran yang akan dilaksanakan pada siklus I. Dari hasil analisis data awal dari nilai Tes formatif serta observasi yang dilakukan menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
a. Media pembelajaran yang digunakan guru tidak membuat siswa tidak belajar mengalami langsung. Dalam penelitian ini belum menggunakan media pembelajaran dan hanya menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran matematika, meskipun sesekali diselangi dengan metode yang lainnya sehingga kesan yang timbul dalam proses belajar mengajar tersebut ternyata proses transfer informasi yang disampaikan secara lisan dari guru kepada siswa.
b. Keaktifan belajar siswa dalam proses belajar-mengajar tampak masih statis, sekedar mengejar target kurikulum yang telah ditentukan interaksi guru dengan siswa bersifat satu arah dari guru kepada siswa sehingga interaksi antara siswa dengan siswa jarang terjadi.
c. Tidak adanya penggunaan alat peraga, sehingga kesan yang timbul dalam kegiatan belajar mengajar tersebut siswa tidak bersemangat
Berdasarkan pada hasil observasi awal peneliti terkeaktifan untuk melakukan penelitian tindakan selanjutnya berupa penelitian tindakan kelas. Hal ini penulis lakukan melihat latar belakang penggunaan media pembelajaran berupa media papan pintar angka. Pada penelitian ini peneliti membagi 2 siklus yakni siklus I dan siklus II.
2. Siklus I
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti membuat berbagai perencanaan yaitu:
1) Rencana tindakan pembelajaran pada tindakan pertama yaitu berisi tentang kegiatan materi yang akan dibahas yakni tentang materi perkalian melalui pembelajaran menggunakan media papan pintar angka. Tahap perencanaan siklus, peneliti melakukan persiapan yang perlu dilakukan pada saat pelaksanaan siklus I. Persiapan-persiapan itu terdiri dari atas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), kemudian menyediakan bahan ajar, menetapkan sumber belajar, membuat lembar observasi peningkatan keaktifan belajar siswa, mempersiapkan media gambar yang akan ditampilkan, disusul dengan membuat membuat soal-soal tes.
2) Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dalam siklus I sistematikanya adalah sama seperti RPP yang disusun oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-hari, RPP memuat standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir, kemudian metode pembelajaran dan media pembelajaran. Dan RPP yang digunakan untuk siklus I memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) Kegiatan pembelajaran diawali dengan penjelasan tentang cara-cara perkalian, selanjutnya guru membimbing siswa untuk merumuskan masalah tentang perkalian, (2) Siswa melakukan pengamatan terhadap gambar-gambar untuk memperoleh informasi, (3) Siswa mengumpulkan data-data dan menganalisis data, (4) Siswa membuat kesimpulan, (5) Kegiatan evaluasi dilaksanakan di akhir pembelajaran
b. Tindakan
Pada siklus I kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses pembelajaran yang menggunakan media papan pintar angka sebagai bagian dari strategi pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut :
1) Pertemuan Pertama
Guru membagi siswa menjadi 3 kelompok. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka. Guru menjawab pertanyaan peserta didik. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah. Kelas ditutup dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang siswa.
2) Pertemuan Pertama
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan cara merolling anggota berbeda dengan pertemuan pertama. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka. Guru menjawab pertanyaan peserta didik. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa diberikan LKS. Guru menjelaskan cara menyelesaikan LKS menggunakan media papan pintar. Peserta didik menghitung dan mengelompokkan sifat-sifat materi perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa mendiskusikan jawabannya bersama teman kelompok. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah
Adapun hasil tes formatif pada akhir siklus pertama dijabarkan pada tabel berikut ini
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Siklus I
|
No |
Kriteria Ketuntasan |
Kondisi Awal |
|
|
Jumlah |
% |
||
|
1 |
Tuntas |
11 |
73,33 |
|
2 |
Belum Tuntas |
4 |
26,67 |
|
Jumlah |
15 |
100,00 |
|
|
Nilai terendah |
50,00 |
||
|
Nilai tertinggi |
80,00 |
||
|
Rata – rata |
68,00 |
||
|
Ketuntasan |
73,33 |
||
Dari tabel di atas di atas dapat diterangkan bahwa pada siklus pertama mengalami kenaikan menjadi 68,00. dan jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 11 siswa (73,33%). Dari penjelasan di atas, peneliti bersama observer sepakat bahwa pelaksanaan pembelajaran perlu dilanjutkan pada siklus II, karena prestasi belajar siswa belum mencapai perolehan di atas KKM sebesar 70,00 dengan tingkat ketuntasan belajar mencapai angka di atas 85%.
c. Observasi
Penjelasan mengenai aspek keaktifan belajar yang diamati dengan 10 indikator, yaitu siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, siswa terlibat dalam pemecahan masalah, siswa bertanya kepada siswa lain atau guru, siswa aktif mencari informasi, siswa melaksanakan diskusi kelompok, bekerja sama dengan anggota kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menyimpulkan materi pelajaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya. Hasil observasi terhadap peningkatan keaktifan belajar pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Keaktifan belajar siswa pada Siklus I
|
No |
Uraian |
Jumlah |
Ket |
|
1 |
Siswa Tuntas |
12 |
|
|
2 |
Persentase Tuntas |
80,00 |
|
|
3 |
Siswa Belum Tuntas |
3 |
|
|
4 |
Persentase Belum Tuntas |
20,00 |
|
|
5 |
Ketuntasan Klasikal |
80,00 |
|
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut pada siklus ke I, siswa yang menunjukkan peningkatan keaktifan belajar siswa sebanyak 12 siswa atau 80% pada siklus ke I, siswa yang belum meningkat keaktifan belajarnya sebanyak 3 siswa atau 20%. Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer sepakat untuk melanjutkan pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II dengan harapan pada siklus II keaktifan belajar siswa dapat mencapai perolehan di atas 85% sesuai dengan indikator dan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan.
d. Refleksi
Refleksi tindakan pada siklus I ini lebih difokuskan pada permaslahan yang muncul dan keberhasilan yang tampak selama pembelajaran. Permasalahan dan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Guru kurang jelas dalam menjelaskan materi dan kurang memperdalam materi.
2) Keaktifan yang diberikan guru masih kurang sehingga siswa masih ragu-ragu dalam berpendapat.
3) Guru belum mampu mengelola kelas dengan baik karena di tengah-tengah pembelajaran sebagian kecil siswa membuat gaduh sehingga menjadikan pembelajaran kurang kondusif.
4) Siswa masih belum terbiasa menanggapi jawaban dari kelompok yang maju pada saat presentasi kelompok sehingga belum terjadi interaksi yang baik saat kegiatan presentasi kelompok.
5) Sebagian siswa tidak memperhatikan siswa yang sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok siswa lain.
Berdasarkan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan siklus I yang telah diuraikan di atas, maka hal yang perlu diperbaiki atau direvisi untuk pelaksanaan tindakan berikutnya adalah :
1) Guru memperdalam dalam menjelaskan materi kurang memberikan penekanan pada materi pembelajaran
2) Guru memberikan keaktifan pada siswa untuk percaya diri dalam mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan penguatan positif.
3) Guru menegur siswa yang membuat gaduh dengan berbagai cara baik secara halus ataupun dengan sedikit penguatan negatif agar kondisi pembelajaran kondusif.
4) Guru mengajak siswa untuk menanggapi setiap jawaban yang disampaikan oleh siswa dan memancing siswa dengan pemberian reward berupa tanda bintang untuk siswa yang mau menanggapi hasil diskusi.
3. Siklus II
a. Perencanaan
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun pada tindakan kedua (siklus II) sistematikanya sama dengan (RPP) yang disusun pada siklus sebelumnya, namun demikian berdasarkan hasil refleksi tindakan pembelajaran siklus I maka perlu dilakukan perbaikan pada RPP siklus II. Perbaikan proses pembelajaran tersebut berkenaan dengan : penggunaan media gambar yang harus lebih optimal, selain itu cara membimbing, memotivasi dan memberikan perhatian pada seluruh siswa sehingga diharapkan keaktifan dan hasil belajar siswa dapat meningkat dari pelaksanaan siklus I dan memenuhi kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Pembagian waktu pembelajaran yang direncanakan pada siklus II meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Tindakan pembelajaran siklus II berisi kegiatan pembelajaran matematika materi perkalian menggunakan media papan pintar angka.
Peneliti melakukan persiapan yang perlu dilakukan pada saat pelaksanaan siklus II. Persiapan-persiapan itu terdiri dari atas membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), kemudian menyediakan bahan ajar, menetapkan sumber belajar, membuat lembar observasi peningkatan keaktifan belajar siswa, mempersiapkan media gambar yang akan ditampilkan, disusul dengan membuat membuat soal-soal tes.
b. Tindakan
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekuarangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan
Sedangkan penjelasan mengenai pelaksanaan tindakan pada siklus kedua sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
1) Pertemuan Pertama
Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka. Guru menjawab pertanyaan peserta didik. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah. Kelas ditutup dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang siswa.
2) Pertemuan Pertama
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok dengan cara merolling anggota berbeda dengan pertemuan pertama. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka. Guru menjawab pertanyaan peserta didik. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa diberikan LKS. Guru menjelaskan cara menyelesaikan LKS menggunakan media papan pintar. Peserta didik menghitung dan mengelompokkan sifat-sifat materi perkalian menggunakan media papan pintar. Siswa mendiskusikan jawabannya bersama teman kelompok. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah
Pada siklus kedua ini dalam tahap pelaksanaan berdasarkan hasil tes formatif akhir siklus kedua sudah menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan secara rinci pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Siklus II
|
No |
Kriteria Ketuntasan |
Kondisi Awal |
|
|
Jumlah |
% |
||
|
1 |
Tuntas |
14 |
93,33 |
|
2 |
Belum Tuntas |
1 |
6,67 |
|
Jumlah |
15 |
100,00 |
|
|
Nilai terendah |
60,00 |
||
|
Nilai tertinggi |
90,00 |
||
|
Rata – rata |
74,00 |
||
|
Ketuntasan |
93,33 |
||
Dari tabel tentang di atas dapat diterangkan sebagai berikut pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar sebesar 74,00 dan jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 14 siswa (93,33). Dari penjelasan sebagaimana tersebut di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer menyimpulkan bahwa hasil tes prestasi belajar menunjukkan hasil 74,00. Hal ini menunjukkan bahwa tes prestasi belajar sudah memenuhi kriteria keberhasilan karena berada di atas angka kriteria minimal ketuntasan (KKM) sebesar 70, dengan jumlah siswa yang telah tuntas belajarnya sebanyak 14 siswa atau 93,33 dan telah mencapai kriteria keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus II
c. Observasi
Penjelasan mengenai aspek keaktifan belajar yang diamati dengan 10 indikator, yaitu siswa turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, siswa terlibat dalam pemecahan masalah, siswa bertanya kepada siswa lain atau guru, siswa aktif mencari informasi, siswa melaksanakan diskusi kelompok, bekerja sama dengan anggota kelompok, mempresentasikan hasil diskusi kelompok, menyimpulkan materi pelajaran, mengemukakan pendapat dalam diskusi, siswa dapat menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.
Hasil observasi terhadap peningkatan keaktifan belajar pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II secara rinci sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini :
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Keaktifan belajar siswa pada Siklus II
|
No |
Uraian |
Jumlah |
Ket |
|
1 |
Siswa Tuntas |
15 |
|
|
2 |
Persentase Tuntas |
100,00 |
|
|
3 |
Siswa Belum Tuntas |
0 |
|
|
4 |
Persentase Belum Tuntas |
0,00 |
|
|
5 |
Ketuntasan Klasikal |
100,00 |
|
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai berikut pada siklus ke II, siswa yang menunjukkan peningkatan keaktifan belajar sebanyak 15 siswa atau 100%, pada siklus ke II, dan terdapat 0 siswa atau 0% siswa yang belum meningkat keaktifan belajarnya. Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer menyimpulkan bahwa keaktifan belajar mencapai angka 100%. Hal ini menunjukkan bahwa keaktifan belajar telah mencapai kriteria keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II
d. Refleksi
Dari analisis hasil penelitian siklus II, diperoleh data berupa hasil observasi keaktifan belajar siswa, dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika melalui penggunaan media papan pintar angka. Data tersebut kemudian dianalisis kembali bersama guru kolaborator (observer) sebagai bahan prtimbangan untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Refleksi tindakan pada siklus II ini lebih difokuskan pada permaslahan yang muncul dan keberhasilan yang tampak selama pembelajaran. Permasalahan dan keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Sebagian besar siswa sudah memahami materi pembelajaran.
2) Media yang dibuat sudah dikemas lebih menarik karena ditambahkan efek suara.
3) Keaktifan belajar siswa juga meningkat dan telah mencapai indikator keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya ketuntasan klasikal 85%.
4) Pada saat kegiatan presentasi hasil diskusi tidak ada siswa yang membuat kegaduhan atau mengganggu jalannya presentasi sehingga proses pembelajaran dengan menggunakan media papan pintar angka berjalan dengan lancar.
B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Dari hasil analisis data pada masing-masing siklus baik data keaktifan maupun hasil belajar siswa pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran matematika materi perkalian dengan menggunakan media papan pintar angka pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel 4.7 Nilai Hasil Tes Formatif Temuan Awal, Siklus I dan Siklus II
|
No |
Kegiatan |
Nilai |
Tuntas |
Belum Tuntas |
||
|
Jml |
% |
Jml |
% |
|||
|
1 |
Pra Siklus |
59,33 |
5 |
33,33 |
10 |
66,67 |
|
2 |
Siklus I |
68,00 |
11 |
73,33 |
4 |
26,67 |
|
3 |
Siklus II |
74,00 |
14 |
93,33 |
1 |
6,67 |
Dari tabel di atas dapat dijelaskan peningkatan nilai hasil dan ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan II secara terperinci sebagai berikut :
1. Siswa Tuntas Belajar
a. Pada temuan awal siswa yang tuntas sebanyak 5 siswa atau 33,33% dari 15 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang tuntas sebanyak 11 siswa atau 73,33% dari 15 siswa
c. Pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 14 siswa atau 93,33 dari 15 siswa
2. Siswa Belum Tuntas Belajar
a. Pada temuan awal siswa yang belum tuntas sebanyak 10 siswa atau 66,67% dari 15 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak 4 siswa atau 26,67% dari 15 siswa
c. Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 1 siswa atau 6,67% dari 15 siswa.
Untuk memperjelas kenaikan ketuntasan
belajar siswa dan penurunan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada diagram
batang di bawah ini :
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan Ketuntasan Belajar Berdasarkan Hasil Nilai Tes Formatif Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa sebelum dilaksanakan perbaikan pembelajaran melalui penerapan penggunaan media papan pintar angka pada pembelajaran matematika, diperoleh keterangan sebagai berikut pada siklus I, angka peningkatan ketuntasan belajar naik menjadi 73,33%, pada siklus II angka peningkatan ketuntasan belajar naik menjadi 93,33 pada siklus I, nilai rata-rata hasil belajar mengalami kenaikan sebesar 68,00 dari studi awal menjadi 59,33, dan pada siklus II, nilai rata-rata hasil belajar mengalami kenaikan menjadi 74,00.
Peningkatan nilai rata-rata hasil
belajar siswa dalam bentuk grafik sebagaimana gambar di bawah ini :
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Belajar Siswa Pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Keberhasilan proses perbaikan pembelajaran tidak hanya dilihat dari peningkatan hasil belajar atau nilai Tes formatif saja. Keaktifan belajar siswa selama proses pembelajaran juga merupakan indikator keberhasilan dalam proses pembelajaran. Data keaktifan belajar siswa diperoleh dari lembar observasi yang telah diisi oleh observer selama perbaikan pembelajaran berlangsung. Fokus observasi difokuskan pada aspek-aspek rasa suka/senang, pernyataan lebih menyukai, adanya kesadaran untuk belajar tanpa di suruh, berpartisipasi dalam keaktifan belajar, memberikan perhatian, perasaan senang, ketertarikan, penerimaan, keterlibatan siswa, menyampaikan pendapat, ide atau sanggahan.
Secara rinci penjelasan mengenai peningkatan keaktifan belajar siswa dalam proses perbaikan pembelajaran sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Observasi Keaktifan belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
|
No |
Uraian |
Jumlah Siswa |
Siswa Tuntas |
Siswa Belum Tuntas |
||
|
Frekuensi |
% |
Frekuensi |
% |
|||
|
1 |
Awal |
15 |
7 |
46,67 |
8 |
53,33 |
|
2 |
Siklus I |
15 |
12 |
80,00 |
3 |
20,00 |
|
3 |
Siklus II |
15 |
15 |
100,00 |
0 |
0,00 |
Secara jelas peningkatan keaktifan belajar siswa selama proses perbaikan pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini :
![]() |
Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Keaktifan belajar siswa Pada Siklus I dan II
Dari hasil observasi mengenai keaktifan belajar siswa tersebut berdasarkan kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil karena peningkatan keaktifan belajar siswa mencapai angka 100% dari 85% batasan minimal yang telah ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Atas dasar pertimbangan sebagaimana diurakan di atas, maka peneliti dan observer sepakat memutuskan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran diakhiri pada siklus II.
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dengan penerapan media papan pintar angka. Kondisi awal penelitian diperoleh melalui hasil analisis pada kegiatan prasiklus. Berdasarkan hasil kegiatan prasiklus tersebut diketahui bahwa pelaksanana proses pembelajaran di kelas II SD ....................... mempunyai permasalahan diantaranya :
1. Metode pembelajaran konvensional yang lebih menitik beratkan pada kegiatan pengajaran ceramah, karena selain sederhana dan mudah dilaksanakan, metode ini juga tidak memakan banyak waktu. Tetapi metode ini memberikan kesan siswa cenderung hanya sebagai obyek dan membatasi siswa untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran,
2. Sebagian siswa berpendapat bahwa pelajaran matematika dianggap sulit, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar yang diperoleh siswa, dan
3. Penggunaan model, metode dan media pembelajaran yang belum tepat sesuai dengan karakteristik siswa sehingga fungsi model, metode dan media pembelajaran sebagai pembawa informasi atau pesan pembelajaran belum sesuai dengan pemahaman siswa. Hal ini berakibat pada rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis data keaktifan belajar siswa pada siklus I dan siklus II dengan menggunakan menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran meningkat. Pada kondisi awal hanya terdapat 7 siswa atau 46,67% yang dinyatakan tuntas, pada siklus I meningkat menjadi 12 siswa atau 80% , dan pada siklus II meningkat menjadi 100% atau 15 siswa dinyatakan meningkat keaktifan belajarnya. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran siswa akan keberhasilan dalam pembelajaran sangatlah penting. Peningkatan tersebut karena adanya kesadaran akan kebutuhan mereka dalam belajar. Dan juga, karena himbauan guru agar saat mempresentasikan jawaban ke depan kelas tidak membawa catatan hasil diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan memahami materi pembelajaran yang telah disampaikan.
Adapun untuk mengetahui peningkatan prestasi hasil belajar siswa, peneliti melakukan tes pada akhir pembelajaran setiap siklusnya. Setelah melakukan penelitian tindakan kelas ini, diketahui bahwa ada peningkatan rata-rata hasil belajar siswa. Hasil tes menunjukkan bahwa ada peningkatan rata-rata nilai dari pra siklus, siklus I ke siklus II yang tadinya 59,33 menjadi 68,00 dan 77,14 pada siklus terakhir dengan penjelasan ketuntasan belajar dari 5 siswa (23,33%) pada kondisi awal, meningkat menjadi 11 siswa (73,33%) dan 14 siswa (93,33%) pada siklus kedua. Hal ini dikarenakan metode pembelajaran yang digunakan membuat siswa lebih aktif di dalam proses pembelajaran, yang mana pada prakteknya menuntut siswa untuk lebih keras dalam memahami materi yang disampaikan. Hal ini tidak terlepas pada saat siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas, mereka tidak tahu siapa yang akan maju ke depan kelas. Dengan adanya hal tersebut, siswa seolah-olah mempunyai dorongan/ keaktifan untuk memahami materi yang telah disampaikan.
Dari uraian di atas, maka guru dituntut untuk melengkapi pembelajaran dengan berbagai media dan sarana yang menunjang. Media yang mendukung antara lain, media visual maupun audio visual. Dengan metode tersebut siswa dapat menumbuhkan keaktifan dan kemampuannya dalam mengerjakan soal dari materi yang diajarkan. Menurut Sadiman dalam jurnal (Maghfi, 2020: 4) menyatakan media papan pintar merupakan media pembelajaran yang efektif juga bagus yang dapat memberikan pesan kepada target. Media pembelajaran papan pintar ini didesain dan disusun secara sistematis yang akan digunakan oleh siswa dalam proses pembelajaran dengan tujuan untuk miningkatkan kemampuan berhitung siswa dalam proses belajar mengajar agar menjadi menyenangkan sehingga tidak membosankan.
Dimyati dan Mudjiono (2015:13) mengartikan hasil belajar sebagai hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan penggalan dan puncak proses belajar. Hasil belajar, untuk sebagian adalah berkat tindakan guru, suatu pencapaian tujuan pengajaran. Pada bagian lain, merupakan peningkatan kemampuan mental siswa.
Hal tersebut didukung oleh pernyataan Anni (dalam Hanifah Gitri. 2022:8) hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami keaktifan belajar. Hasil belajar juga merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar (H. Nashar, dalam Ratna, 2019:42). Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar.
Hal ini dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media papan pintar angka selain meningkatkan keaktifan belajar siswa juga meningkatkan hasil belajar siswa serta respon siswa menunjukan respon positif. Dengan demikian hipotesis tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, yang menyatakan bahwa dengan menggunakan media papan pintar angka dalam materi perkalian, maka keaktifan hasil belajar siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 menunjukkan peningkatan yang signifikan dan dapat diterima.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan temuan yang diperoleh pada siklus I, dan II dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Penggunaan media papan pintar angka dalam pembelajaran matematika materi perkalian terbukti dapat meningkatkan angka minat belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan minat siswa menunjukkan perolehan pada kondisi awal hanya terdapat 7 siswa atau 46,67% yang dinyatakan tuntas, pada siklus I meningkat menjadi 12 siswa atau 80% , dan pada siklus II meningkat menjadi 93,33% atau 14 siswa dinyatakan meningkat minat belajarnya
2. Penggunaan media papan pintar angka dalam pembelajaran matematika materi perkalian terbukti dapat meningkatkan hasil dan ketuntasan belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan perolehan hasil belajar siswa dari rata-rata pada pra siklus, siklus I ke siklus II yang tadinya 59,33 menjadi 68,00 dan 77,14 pada siklus terakhir dengan penjelasan ketuntasan belajar dari 5 siswa (23,33%) pada kondisi awal, meningkat menjadi 11 siswa (73,33%) dan 14 siswa (93,33%) pada siklus kedua.
Dari perolehan angka-angka di atas dapat disimpulan bahwa pada siklus kedua, proses pelaksanaan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua.
B. Saran dan Tindak Lanjut
Berdasarkan temuan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, berikut dikemukakan beberapa saran dan tindak lanjut yang ada hubungannya dengan pengajaran dan penelitian lanjutan sebagai berikut :
1. Bagi Siswa
Dalam mengikuti pembelajaran matematika siswa kelas II SD ....................... direkomendasikan untuk lebih giat dan lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran matematika terutama pada materi perkalian sehingga hasil belajar dapat ditingkatkan. Siswa juga disarankan untuk lebih aktif di dalam proses pembelajaran dengan menggunakan media papan pintar angka dan juga pada saat pelaksanaan diskusi kelas agar minat dan hasil belajar dapat ditingkatkan.
2. Guru
a. Dalam melaksanakan proses pembelajaran sebaiknya lebih banyak menggunakan media pembelajaran yang inovatif sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
b. Hendaknya mencoba menggunakan media gambar pada materi lainnya dalam pembelajaran matematika maupun pada mata pelajaran lainnya, karena dengan menggunakan media papan pintar angka ini membuat siswa terbiasa dalam berdiskusi dan bertukar pikiran dengan teman kelompoknya, semua siswa menjadi siap menjawab pertanyaan, dan siswa secara individu dapat mengerti materi yang diajarkan.
3. Sekolah
a. Penggunaan media papan pintar angka hendaknya dapat menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan sekolah ke arah yang lebih baik terutama kualitas pembelajaran.
b. Sarana dan prasarana serta fasilitas pembelajaran harus dioptimalkan agar tidak menghambat proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )
PRA SIKLUS
Nama Sekolah : SD .......................
Muatan : Matematika
Materi : Perkalian
Kelas/Semester : I/2
Alokasi Waktu : 1 x 35 menit (1 x pertemuan)
Waktu Pelaksanaan : ...................................
A. Kompetensi Inti
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah.
4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
Muatan : Matematika
|
No |
Kompetensi |
Indikator |
|
3.4
|
Menjelaskan perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian.
|
3.4.1 Menunjukkan kalimat matematika yang berkaitan dengan perkalian. 3.4.2 Mengidentifikasi perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
|
4.4 |
Menyelesaikan masalah perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian. |
4.4.1 Mempraktikkan perkalian dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
C. Tujuan
1. Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan kalimat matematika yang berkaitan dengan masalah tentang perkalian dengan benar.
2. Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang dengan benar.
3. Dengan bimbingan guru, siswa dapat menghitung hasil kali dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dengan tepat.
4. Contoh penyelesaian soal perkalian dan Soal-soal perkalian.
D. Materi ajar (materi pokok)
Perkalian
E. Model dan Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Pengamatan
3. Diskusi Kelompok
4. Penugasan
F. Langkah-Langkah Pembelajaran
|
Pendahuluan Apersepsi dan motifasi: 1. Mengulang materi pertemuan sebelumnya. 2. Menyampaikan indikator dan kompetensi yang diharapkan. 3. Menunjukkan sifat-sifat perkalian |
|
|
Kegiatan inti 1. Guru menyampaikan penjelasan mengenai perkalian sebagai penjumlahan berulang 2. Siswa melakukan perhitungan tentang perkalian dengan penjumlahan berulang. 3. Guru memberikan LKS. 4. Siswa secara berkelompok mengerjakan LKS yang diberikan guru 5. Guru melakukan pendampingan siswa pada saat mengerjakan LKS 6. Guru bertanya jawab tentang hal- hal yang belum diketahui siswa tentang perkalian 7. Guru bersama siswa bertanya jawab meluruskan kesalahan pemahaman, memberikan penguatan dan penyimpulan. 8. Melaksanakan kegiatan tes formatif |
|
|
Kegiatan penutup 1. Mengulang kembali materi pembelajaran secara lisan 2. Memberikan pekerjaan rumah |
|
G. Alat dan Bahan
Alat : Silabus Tematik Kelas 2
Bahan : Diri anak, Lingkungan keluarga, dan Lingkungan sekolah.
Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 2 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 2 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
Buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib.
Software Pengajaran SD/MI untuk kelas 2 semester 2 dari JGC/SCI Media.
Buku lain yang relevan
H. Evaluasi
1. Teknik Penilaian : Tes
2. Jenis Tes : Tertulis
3. Alat Tes : Lembar kerja dan soal tes formatif
4. Bentuk Tes : Pilihan ganda
5. Kunci Jawaban
1. 6.
2. 7.
3. 8.
4. 9.
5. 10.
5. Pedoman Penilaian
Jawaban benar = 1
Jawaban Salah = 0
Perolehan Skor
NA = ------------------------------------ x 100
Skor Maksimun
I. Tindak Lanjut
@ Untuk siswa yang memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan pengayaan
@ Untuk siswa yang tidak memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan Remedial.
=======================================================
Mengetahui ......................., ………………….
Kepala Sekolah Mahasiswa
……………………………… ………………………………
NIP. …………………. NIM. ………………..
LEMBAR KERJA SISWA
PRA SIKLUS
Petunjuk
Kerjakan dengan teman secara kelompok, laporkan hasilnya untuk diberikan penilaian !

\
========================================================
Kelompok : ...................................................
Ketua : ...................................................
Anggota : 1 ................................................
2 .................................................
3 ................................................
4 ................................................
5 .................................................
|
LEMBAR TES FORMATIF
PRA SIKLUS
Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat !
BERILAH TANDA SILANG (X) PADA HURUF A, B, C ATAU D PADA JAWABAN YANG BENAR!
1. 3 x 5 = 15
Jika ditulis dalam operasi penjumlahan adalah ….
a. 3 + 5
b. 3 + 3 + 5 + 5
c. 5 + 5 + 5
d. 3 + 3 + 3 + 3 + 5
2. 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = …. x ….. = ….
Titik-titik di atas yang tepat adalah …..
a. 6 x 4 = 24
b. 4 x 6 = 24
c. 6 x 6 = 36
d. 5 x 4 = 20
3. Semua bilangan yang dikali dengan angka 1,
maka hasilnya adalah ….
a. Dua kali lipat
b. Bilangan itu sendiri
c. Tiga kali lipat
d. Ditambah satu
Gambar di atas jika ditulis dalam operasi
perkalian menjadi ….
a. 3 + 3 + 3 + 3 + 3 + 3 = 18
b. 3 x 3 x 3 = 18
c. 6 x 3 = 18
d. 3 x 6 = 18
5. 7 x 6 = ….
Hasil dari operasi hitung perkalian di atas adalah ….
a. 36
b. 45
c. 42
d. 49
6. 8 x 6 = ….
Hasil dari operasi hitung perkalian di atas adalah ….
a. 46
b. 47
c. 48
d. 45
7. 4 x …. = 60
Angka yang tepat untuk mengisi titik-titik di atas adalah ….
a. 14
b. 15
c. 16
d. 17
8. Perkalian di bawah ini yang menghasilkan 40
adalah ….
a. 8 x 8
b. 7 x 5
c 4 x 9
d. 5 x 8
9. Perkalian di bawah ini yang tidak
menghasilkan 36 adalah ….
a. 4 x 9
b. 6 x 6
c. 3 x 12
d. 5 x 9
10. Rani membeli 3 bungkus permen. Setiap bungkus
berisi 9 permen. Jumlah seluruh permen rani adalah ….
a. 18
b. 28
c. 27
c. 39
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS I
Nama Sekolah : SD .......................
Muatan : Matematika
Materi : Perkalian
Kelas/Semester : I/2
Alokasi Waktu : 4 x 35 menit (2 x pertemuan)
Waktu Pelaksanaan : ................................ dan .............................
J. Kompetensi Inti
5. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
6. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
7. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah.
8. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
K. Kompetensi Dasar dan Indikator
Muatan : Matematika
|
No |
Kompetensi |
Indikator |
|
3.4
|
Menjelaskan perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian.
|
3.4.1 Menunjukkan kalimat matematika yang berkaitan dengan perkalian. 3.4.2 Mengidentifikasi perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
|
4.4 |
Menyelesaikan masalah perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian. |
4.4.1 Mempraktikkan perkalian dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
L. Tujuan
5. Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan kalimat matematika yang berkaitan dengan masalah tentang perkalian dengan benar.
6. Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang dengan benar.
7. Dengan bimbingan guru, siswa dapat menghitung hasil kali dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dengan tepat.
8. Contoh penyelesaian soal perkalian dan Soal-soal perkalian.
M. Materi ajar (materi pokok)
Perkalian
N. Metode/Media Pembelajaran
5. Diskusi Kelompok
6. Media Papan Pintar Angka
O. Langkah-Langkah Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama
a. Guru membagi siswa menjadi 3 kelompok
b. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi
c. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran
d. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka
e. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka
f. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka
g. Guru menjawab pertanyaan peserta didik
h. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka
i. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
j. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
k. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama
l. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari in
m. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari
n. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah
o. Kelas ditutup dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang siswa.
2. Pertemuan Kedua
a. Guru membagi siswa menjadi 3 kelompok dengan cara merolling anggota berbeda dengan pertemuan pertama berdasarkan tingkat ketuntasan belajar
b. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi
c. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran
d. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka
e. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka
f. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka
g. Guru menjawab pertanyaan peserta didik
h. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka
i. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
j. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
k. Siswa diberikan LKS
l. Guru menjelaskan cara menyelesaikan LKS menggunakan media papan pintar
m. Peserta didik menghitung dan mengelompokkan sifat-sifat materi perkalian menggunakan media papan pintar
n. Siswa mendiskusikan jawabannya bersama teman kelompok
o. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama
p. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini.
P. Alat dan Bahan
Alat : Silabus Tematik Kelas 2
Bahan : Diri anak, Lingkungan keluarga, dan Lingkungan sekolah.
Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 2 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 2 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
Buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib.
Software Pengajaran SD/MI untuk kelas 2 semester 2 dari JGC/SCI Media.
Buku lain yang relevan
Q. Evaluasi
6. Teknik Penilaian : Tes
7. Jenis Tes : Tertulis
8. Alat Tes : Lembar kerja dan soal tes formatif
9. Bentuk Tes : Pilihan ganda
10. Kunci Jawaban
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
5. Pedoman Penilaian
Jawaban benar = 1
Jawaban Salah = 0
Perolehan Skor
NA = ------------------------------------ x 100
Skor Maksimun
R. Tindak Lanjut
@ Untuk siswa yang memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan pengayaan
@ Untuk siswa yang tidak memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan Remedial.
=======================================================
Mengetahui ......................., ………………….
Kepala Sekolah Mahasiswa
……………………………… ………………………………
NIP. …………………. NIM. ………………..
LEMBAR KERJA SISWA
SIKLUS I
Petunjuk
Kerjakan dengan teman secara kelompok, laporkan hasilnya untuk diberikan penilaian !


Kelompok : ...................................................
Ketua : ...................................................
Anggota : 1 ................................................
2 .................................................
3 ................................................
4 ................................................
Nama : .......................................
No. Absen : .......................................
LEMBAR TES FORMATIF
SIKLUS I
BERILAH TANDA SILANG (X) PADA HURUF A, B, C ATAU D PADA JAWABAN YANG BENAR!
1. 4 x 5 = 20
Apabila ditulis kedalam operasi penjumlahan adalah….
a. 4 + 5
b. 5 + 5 + 5 + 5 + 5
c. 4 + 4 + 4 + 4 + 4
d. 4 + 5 + 4 + 20
2. 5 x 5 = ….
Hasil dari operasi perkalian yang di atas adalah….
a. 10
b. 15
c. 20
d. 25
3. Pada perhitungan perkalian dibawah ini hasil
yang sangat tepat adalah….
a. 3 x 9 = 27
b. 4 x 6 = 35
c. 7 x 5 = 32
d. 8 x 8 = 63
4. Semua bilangan yang sudah dikalikan dengan
angka 1, hasilnya adalah ….
a. Tiga kali lipat
b. Bilangan itu sendiri
c. Empat kali lipat
d. Ditambah dua
5. 3 x …. = 30
Agar bisa mengisi titik-titik yang diatas angka yang sangat tepat adalah….
a. 8
b. 9
c. 10
d. 11
7. 5 x …. = 70
Angka yang tepat untuk mengisi titik-titik di atas adalah ….
a. 17
b. 16
c. 15
d. 14
8. Perkalian
yang di bawah ini yang hasilnya tidak 36 adalah ….
a. 4 x 9
b. 7 x 9
c. 6 x 6
d. 12 x 3
9. Adi membeli 5 kantong kelereng. Di setiap kantong
itu isinya 10 buah kelereng. Jadi berapakah jumlah keseluruhan kelereng yang
sudah dibeli Adi….
a. 50 kelereng
b. 60 kelereng
c. 70 kelereng
d. 80 kelereng
10. Pak Abdi sudah
membeli 10 kardus roti. Di setiap kardusnya itu berisi 10 bungkus roti. Jadi
berapa jumlah keseluruhan roti yang sudah dibeli Pak Abdi sekrang….
a. 85 bungkus
b. 90 bungkus
c. 95 bungkus
d. 100 bungkus
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
SIKLUS II
Nama Sekolah : SD .......................
Muatan : Matematika
Materi : Perkalian
Kelas/Semester : I/2
Alokasi Waktu : 4 x 35 menit (2 x pertemuan)
Waktu Pelaksanaan : ................................ dan .............................
S. Kompetensi Inti
9. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
10.Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman dan guru.
11.Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati [mendengar, melihat, membaca] dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, sekolah.
12.Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis dan sistematis, dalam karya yang estetis dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
T. Kompetensi Dasar dan Indikator
Muatan : Matematika
|
No |
Kompetensi |
Indikator |
|
3.4
|
Menjelaskan perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian.
|
3.4.1 Menunjukkan kalimat matematika yang berkaitan dengan perkalian. 3.4.2 Mengidentifikasi perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
|
4.4 |
Menyelesaikan masalah perkalian dan pembagian yang melibatkan bilangan cacah dengan hasil kali sampai dengan 100 dalam kehidupan sehari-hari serta mengaitkan perkalian dan pembagian. |
4.4.1 Mempraktikkan perkalian dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dalam kehidupan sehari-hari. |
U. Tujuan
9. Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan kalimat matematika yang berkaitan dengan masalah tentang perkalian dengan benar.
10.Dengan mengamati contoh yang dijelaskan guru, siswa dapat menyatakan perkalian dua bilangan sebagai penjumlahan berulang dengan benar.
11.Dengan bimbingan guru, siswa dapat menghitung hasil kali dua bilangan dengan hasil bilangan cacah sampai 100 dengan tepat.
12.Contoh penyelesaian soal perkalian dan Soal-soal perkalian.
V. Materi ajar (materi pokok)
Perkalian
W. Metode/Media Pembelajaran
7. Diskusi Kelompok
8. Media Papan Pintar Angka
X. Langkah-Langkah Pembelajaran
1. Pertemuan Pertama
p. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok
q. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi
r. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran
s. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka
t. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka
u. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka
v. Guru menjawab pertanyaan peserta didik
w. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka
x. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
y. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
z. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama
aa. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari in
bb. Guru dan peserta didik bersama sama menyimpulkan pembelajaran yang sudah dipelajari
cc. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk memberikan contoh materi perkalian tentang materi yang sudah dipelajari dalam bentuk pekerjaan rumah
dd. Kelas ditutup dengan doa bersama yang dipimpin salah seorang siswa.
2. Pertemuan Kedua
q. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dengan cara merolling anggota berbeda dengan pertemuan pertama berdasarkan tingkat ketuntasan belajar
r. Siswa mengorganisasikan diri ke dalam kelompok yang sudah dibagi
s. Guru memperlihatkan media papan pintar angka yang akan digunakan dalam pembelajaran
t. Guru menjelaskan cara belajar menggunakan media papan pintar angka
u. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru terhadap media papan pintar angka
v. Peserta didik bertanya tentang media papan pintar angka
w. Guru menjawab pertanyaan peserta didik
x. Guru menjelaskan materi perkalian menggunakan media papan pintar angka
y. Guru membimbing peserta didik untuk membedakan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
z. Siswa dan guru sama-sama mengelompokkan sifat-sifat perkalian menggunakan media papan pintar
aa. Siswa diberikan LKS
bb. Guru menjelaskan cara menyelesaikan LKS menggunakan media papan pintar
cc. Peserta didik menghitung dan mengelompokkan sifat-sifat materi perkalian menggunakan media papan pintar
dd. Siswa mendiskusikan jawabannya bersama teman kelompok
ee. Setelah selesai, siswa dan guru mendiskusikan jawabannya bersama-sama
ff. Siswa bersama guru melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dipelajari dari kegiatan hari ini.
Y. Alat dan Bahan
Alat : Silabus Tematik Kelas 2
Bahan : Diri anak, Lingkungan keluarga, dan Lingkungan sekolah.
Buku Pedoman Guru Tema 4 Kelas 2 dan Buku Siswa Tema 4 Kelas 2 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013).
Buku Sekolahnya Manusia, Munif Chatib.
Software Pengajaran SD/MI untuk kelas 2 semester 2 dari JGC/SCI Media.
Buku lain yang relevan
Z. Evaluasi
11. Teknik Penilaian : Tes
12. Jenis Tes : Tertulis
13. Alat Tes : Lembar kerja dan soal tes formatif
14. Bentuk Tes : Pilihan ganda
15. Kunci Jawaban
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
5. Pedoman Penilaian
Jawaban benar = 1
Jawaban Salah = 0
Perolehan Skor
NA = ------------------------------------ x 100
Skor Maksimun
AA. Tindak Lanjut
@ Untuk siswa yang memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan pengayaan
@ Untuk siswa yang tidak memenuhi syarat penilaian KKM maka diadakan Remedial.
=======================================================
Mengetahui ......................., ………………….
Kepala Sekolah Mahasiswa
……………………………… ………………………………
NIP. …………………. NIM. ………………..
LEMBAR KERJA SISWA
SIKLUS II
Petunjuk

==========================================================
Kelompok : ......................................
Ketua : ......................................
Anggota : 1. ..................................
2. ..................................
3. ..................................
4. ..................................
5. ..................................
Nama : .......................................
No. Absen : .......................................
LEMBAR TES FORMATIF
SIKLUS II
BERILAH TANDA SILANG (X) PADA HURUF A, B, C ATAU D PADA JAWABAN YANG BENAR!
1. 4 x 8= 32
Apabila bilangan di atas ditulis ke dalam operasi penjumlahan adalah….
a. 4 + 8
b. 4 + 8 + 4 + 8
c. 8 + 8 + 8 + 8
d. 8 + 8 + 8 + 4
2. 2 + 2 + 2 + 2 + 2 = …. x ….. = ….
Titik-titik yang ada di atas jawaban yang tepat adalah ….
a. 4 x 6 = 24
b. 6 x 4 = 24
c. 2 x 5 = 20
d. 5 x 2 = 20
3. Perkalian yang ada di bawah ini yang hasilnya
40 adalah …
a. 5 x 8
b. 6 x 9
c. 5 x 4
d. 6 x 6
4. Rena sudah membeli 6 bungkus coklat. Setiap
bungkusnya berisi 5 coklat. Jadi jumlah seluruh coklat Rena adalah ….
a. 15
b. 20
c. 25
d. 30
5. Hasan membeli 2 lusin buku yang setiap
lusinnya ada 12 buku. Jadi berapakah jumlah keseluruhan buku Hasan sekarang ….
a. 24
b. 34
c. 44
d. 54
6. Semua bilangan yang apabila dikalikan dengan
angka 2, maka hasilnya ialah ….
a. Empat kali lipat
b. Tiga kali lipat
c. Dua kali lipat
d. Ditambah dua
7. Perkalian yang dibawah ini yang tidak
menghasilkan bilangan 24 adalah …..
a. 8 x 3
b. 7 x 6
c. 12 x 2
d. 6 x 4
8. 8 x ….. = 64
Bilangan berapakah yang bisa mengisi titik-titik yang ada di atas …..
a. 8
b. 9
c. 10
d. 11
9. Dibawah ini perkalian berapakah yang
menghasilkan angka 100 …..
a. 8 x 10
b. 9 x 10
c. 10 x 10
d. 11 x 10
10. Simak semua operasi perkalian yang ada di bawah
ini !
( I ) 12 x 2 = 24
( II ) 13 x 5 = 50
( III ) 17 x 5 = 60
( IV ) 9 x 8 = 72
Pada Operasi perkalian yang di atas yang
hasilnya benar itu ditunjukan pada nomor ….
a. I dan II
b. II dan III
c. II dan IV
d. I dan IV
Lampiran 1
Kesediaan sebagai Supervisor 2 dalam Penyelenggaraan
Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP)
Kepada
Kepala UPBJJ .......................
Di - .......................
Yang bertanda tangan di bawah ini menerangkan bahwa :
Nama : …………………………………
NIP : -
Tempat Mengajar : SD ....................... …………………………………..
Alamat Sekolah : …………………………………………………….. ……………………………………………………..
Menyatakan bersedia sebagai Supervisor 2 untuk membimbing mahasiswa dalam perencanaan dan pelaksanaan PKP (PDGK 4501) atas :
Nama : .......................
NIM : …………………….
Program Studi : S1 PGSD Universitas Terbuka UPBJJ .......................
Tempat Mengajar : SD ....................... …………………………………..
Alamat Sekolah : …………………………………………………….. ……………………………………………………..
Demikian agar surat pernyataan ini dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Mengetahui ………………., ………………..
Kepala Sekolah Supervisor 2
…………………………………… ……………………………
NIP. ………………… NIP. …………………….
Lampiran 2
PERENCANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
A. Fakta/Data Pembelajaran yang terjadi di kelas
Keaktifan siswa adalah aktifitas siswa dalam proses pembelajaran yang melibatkan emosional siswa untuk menguasai materi yang dipelajarinya, sehingga siswa dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Keaktifan siswa berperan penting dalam proses pembelajaran karena tingkat keaktifan belajar siswa baik fisik, mental maupun sosial merupakan tolak ukur dari kualitas dan keberhasilan proses pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajar matematika, salah satu faktor tersebut yaitu penyampaian guru yang monoton (metode ceramah) sehingga siswa menjadi pasif dan suasana pembelajaran matematika menjadi membosankan. Sutama (2016:29) berpendapat bahwa pada saat siswa belajar secara pasif, siswa mengalami proses pembelajaran tanpa ada rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan dan tanpa ada daya tarik terhadap hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran matematika di kelas II SD ......................., diperoleh beberapa permasalahan yang masih dihadapi guru dalam kegiatan pembelajaran di kelas diantaranya (1) proses pembelajaran dikelas masih menggunakan metode ekspositori dan bersifat teacher-center sehingga siswa menjadi pembelajar pasif, (2) siswa masih bingung menggunakan konsep-konsep matematika karena siswa hanya menghafal konsep bukan memahaminya, (3) kurangnya keaktifan siswa untuk belajar matematika sehingga daya serap siswa rendah, (4) kurang optimalnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran sehingga motivasi siswa rendah, (5) guru kurang melakukan inovasi pembelajaran seperti penggunaan sumber belajar yang hanya berorientasi pada buku paket dan sedikit memberi peluang siswa untuk mengkonstruksi ide-ide matematika mereka sendiri. Kondisi pembelajaran seperti ini tidak akan menumbuhkembangkan aspek kemampuan siswa, mengakibatkan rendahnya hasil belajar.
Dari hasil tes pada studi pendahuluan yang dilakukan menunjukkan hasil 3 siswa (33,33%) dari 15 siswa yang memperoleh nilai 70 ke atas dan 10 siswa (66,67%) yang memperoleh nilai di bawah nilai 70, dengan perolehan rata-rata hasil belajar secara klasikal sebesar 59,33. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa masih berada di bawah KKM yang ditentukan yaitu memperoleh nilai minimal 70.
B. Identifikasi Masalah
Langkah yang diambil penulis sebagai upaya untuk mengatasi hal itu, peneliti mencoba berkolaborasi dengan kepala sekolah dan teman sejawat/observer. Hasil diskusi dengan mereka, akhirnya dapat teridentifikasi beberapa masalah sebagai berikut.
1. Proses pembelajaran di kelas masih menggunakan metode ekspositori dan bersifat teacher-center sehingga siswa menjadi pembelajar pasif,
2. Siswa masih bingung menggunakan konsep-konsep matematika karena siswa hanya menghafal konsep bukan memahaminya,
3. Kurangnya keaktifan siswa untuk belajar matematika sehingga daya serap siswa rendah,
4. Guru kurang melakukan inovasi pembelajaran seperti penggunaan sumber belajar yang hanya berorientasi pada buku paket dan sedikit memberi peluang siswa untuk mengkonstruksi ide-ide matematika mereka sendiri
C. Analisis Masalah
Melalui refleksi diri, kaji literatur, dan diskusi dengan supervisor, kepala sekolah dan teman sejawat dapat diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran, dan rendahnya keaktifan serta hasil belajar siswa adalah
e. Guru belum melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran
f. Penjelasan materi terlalu cepat, sehingga kurangnya model dialog yang interaktif, efektif dan kreatif.
g. Guru belum mampu mengembangkan model dialog yang efektif, aktif dan kreatif.
h. Guru belum menggunakan media, model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan taraf perkembangan siswa sehingga siswa belum mempunyai kesempatan dalam mengkonstruksi ide-ide matematika mereka secara mandiri.
D. Alternatif Pemecahan Masalah
Pendekatan yang digunakan dalam mengajarkan matematika harus sesuai dengan materi sehingga dapat mengoptimalkan kegiatan pembelajaran. Di karenakan matematika menerangkan perhitungan, penalaran, keaktifan berpikir, karena mereka menganggap matematika merupakan pelajaran yang paling sulit. Dalam mengetahui kesulitan peserta didik banyak cara yang dilakukan agar pembelajaran matematika dapat dilaksanakan dengan lancar, efektif dan efisien sehingga tujuan yang ditetapkan tercapai. Guru juga harus mengoptimalkan media yang ada sebagai pendukung dalam mengajarkan materi. Akan tetapi, sebagian besar guru belum menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan mendukung pada tiap-tiap materi dalam pelajaran matematika sehingga hasil belajar siswa masih rendah. Padahal, media dalam pembelajaran matematika sangat beragam.
Banyak sekali benda dan alat yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran. Media pembelajaran dapat membantu guru dalam menyampaikan materi pelajaran dan menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Guru yang dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar, maka hasil belajar siswa juga akan optimal. Contohnya dalam penggunaan media dalam pembelajaran sangat membantu dalam menyampaikan materi dan memudahkan pemahaman pada peserta didik. Media pembelajaran adalah alat belajar yang sangat berperan penting dalam suatu proses belajar mengajar baik pembelajaran formal maupun non formal. Beragam media pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam menampaikan materi pengajaran, disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas guru sendiri dalam menggunakannya (Rosdiana, 2016:73).
Papan pintar merupakan media papan hitung yang dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran matematika khususnya pada materi konsep bilangan yang mungkin dianggap sulit oleh anak menjadi lebih mudah dan menyenangkan, sehingga anak tidak akan merasa cepat bosan dalam belajar. Media Papan Pintar Angka (PAPINKA) merupakan suatu media pembelajaran untuk mengenal dan memahami konsep bilangan (Muhammad, dkk. 2019:27). Media ini terbuat dari papan yang diberi stiker dan dilapisi magnet untuk meletakkan benda-benda atau simbol yang akan digunakan dalam mengenalkan konsep bilangan. Selain itu juga terdapat roulette atau roda putar yang berfungsi untuk mendapatkan jumlah angka. Media PAPINKA ini merupakan jenis media visual yang hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh indera penglihatan dan indera peraba (Virda. 2020:189).
Hakikatnya untuk memahami konsep abstrak diperlukan alat peraga atau aktivitas nyata yang bisa dilihat oleh mata yang bisa menuntun siswa pada pemahaman konsep dan dapat diterapkan oleh siswa pada kehidupan sehari-hari. dari masalah yang ditemukan maka perlu solusi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap perkalian. Salah satu cara yang diterapkan oleh peneliti adalah menggunakan media/alat peraga papan pintar angka (PAPIKA), alasan peneliti memilih ini karena papan dan tabel adalah dua hal yang sering ditemui oleh siswa di kehidupan sehari-hari.
E. Rumusan Masalah
Dari penjelasan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
1. Bagaimana peningkatan keaktifan belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?
2. Bagaimana peningkatan hasil belajar matematika materi perkalian pada siswa kelas II SD ....................... Semester 2 Tahun Pelajaran 2022/2023 melalui penggunaan media papan pintar angka?









0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, hindari unsur SARA.
Terima kasih