TUGAS AKHIR PROGRAM MAGISTER
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
Tujuan Penyusunan TAPM sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar
Magister pada program studi Magister Pendidikan Dasar Reguler
Disusun Oleh:
......................
NIM : ......................
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS TERBUKA
......................
2022
ABSTRACT
THE EFFECT OF PROJECT-BASED LEARNING MODEL AND CREATIVE THINKING ABILITY ON STUDENTS' LEARNING OUTCOMES IN CLASS IV IPS LESSONS SDN ......................
......................
Graduate Studies
Program
Indonesia
Open University
The teacher-centered learning approach is an approach that does not support efforts to develop students' creative thinking skills. The learning model needed is a learning model that allows the cultivation of thinking skills, the development of students' creative thinking skills. The purpose of this research is to find out whether project-based learning models and creative thinking skills can influence students' social studies learning outcomes. This research was conducted on students of SD Negeri ...................... with a population of 130 students, the sample used was 64 respondents. The research instrument used a questionnaire and a test. Data analysis was performed using T-test. Sig value for the effect of project-based learning models with student learning outcomes in social studies subjects is 0.000 <0.05 and tcount 4.083 < t table 2.738, the Sig value for the effect of Creative Thinking Ability with student learning outcomes in social studies subjects is 0.000 < 0.05 and the value of tcount 43,186 < ttable 2,738 and the significant value for the effect of Project-Based Learning Model and Creative Thinking Ability simultaneously on Student Learning Outcomes in Social Studies Subjects is 0.000 <0.05 and the F count is 1865,006>4,150. The results of the analysis show that there is an effect of Project-Based Learning Model on Student Learning Outcomes in Social Studies Subjects Class IV at SDN ......................, There is an Effect of Creative Thinking Ability on Student Learning Outcomes in Social Studies Subjects Class IV at SDN ...................... and there is an Effect of Project-Based Learning Models and Creative Thinking Ability Against Student Learning Outcomes in Social Studies Subject Class IV SDN .......................
Keywords: based, project, ability, thinking, creative, result, learning
ABSTRAK
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
......................
Program Pascasarjana
Universitas Terbuka
Pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru merupakan pendekatan yang kurang mendukung usaha pengembangan kemampuan berpikir kreatif siswa. Model pembelajaran yang diperlukan merupakan model pembelajaran yang memungkinkan keterbudayakannya kecakapan berpikir, terkembangnya kemampuan berpikir kreatif siswa. Tujuan dari penelirian ini adalah untuk mengetahui apakah model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif mampu mempengaruhi hasil belajar IPS siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa SD Negeri ...................... dengan jumlah populasi sebanyak 130 siswa, sampel yang digunakan sebanyak 64 responden. Instrumen penelitian menggunakan angket dan tes. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Uji-T. nilai Sig untuk pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS adalah sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 4,083 < ttabel 2,738, nilai Sig untuk pengaruh Kemampuan Berfikir Kreatif dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS adalah sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai thitung 43,186 < ttabel 2,738 dan nilai signifikan untuk pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif secara simultan terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS adalah sebesar 0,000< 0,05 dan nilai F hitung 1865,006>4,150. Hasil analisis menunjukan bahwa Terdapat pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ......................, Terdapat Pengaruh Kemampuan Berfikir Kreatif dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ...................... dan terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN .......................
Kata Kunci : berbasis, proyek, kemampuan, berpikir, kreatif, hasil, belajar
PERSETUJUAN TUGAS AKHIR PROGRAM MAGISTER
BIMBINGAN TAPM RESIDENSIAL 2 (BTR 2)
PROGRAM MEGISTER PENDIDIKAN DASAR
1. Judul Penelitian : Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ......................
2. Identitas Peneliti :
N a m a : ......................
NIM : ......................
UPBJJ : ......................
No hp/ telp : 081574500697
E-mail : ......................
3. Pembimbing I :
N a m a : ......................
NIP : ……………..
E-mail : ………………..
4. Pembimbing II
Nama : ......................
NIP : …………………….
Institusi : …………………….
Email : ………………….
......................, Oktober 2022
Peneliti
......................
NIM ......................
Pembimbing II Pembimbing I
…………………… …………………..
NIP. ………………… NIP. …………………………
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, penulis panjatkan puji dan
syukur ke hadirat Illahi Rabii
karena berkat rahmat dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan Tugas Akhir
Program Magister
ini. Shalawat
dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan kita
sebagai umatnya sampai akhir zaman. Proposal Tesis yang berjudul “Pengaruh Model Cooperative Integrated
Reading And Composition (CIRC) dan Teknik Close Reading terhadap
Literasi Membaca Kritis dalam
Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar”, merupakan hasil penelitian
kuantitatif yang dilaksanakan di Kabupaten ....................... Tugas Akhir Program Magister dilakukan sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Magister pada program studi Magister Pendidikan Dasar Reguler.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan Tugas Akhir Program Magister ini penulis telah mendapat banyak bantuan, dukungan, dan do’a dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini, penulis ingin menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:
1. ……………………..., selaku Rektor Universitas Terbuka.
2. …………………….,. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).
3. …………………., selaku Ketua Pusat Pengelolaan dan Penyelenggaraan Program Pascasarjana (P4s).
4. ……………………., selaku Ketua Program Pascasarjana Pendidikan Keguruan,
5. ……………………., Selaku Direktur UPBJJ .......................
6. ...................... selaku Pembimbing I
7. ...................... selaku Pembimbing II
8. ………………………. selaku Manager Bahan Ajar dan Tutorial.
9. ………………………….. selaku Penanggung Jawab PPs.UT .......................
10. Dosen-dosen di Program Studi Pendidikan Dasar yang telah memberikan ilmunya dengan ikhlas , dorongan dan saran dalam menuntun langkah menuju kesuksesan para mahasiswanya
11. ………………… selaku Kepala Sekolah yang
telah memberikan
kesempatan dan izin pada penulis untuk melaksanakan penelitian di SD
Negeri ...................... Kab. .......................
Penulis menyadari
bahwa tesis ini masih jauh dari kata sempurna.
Keterbatasan kemampuan membuat penulis mengharap masukan dan koreksi agar
di kemudian hari lebih baik. Semoga Tugas Akhir Program Magister ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya
dan bagi civitas akademika pada umumnya.
......................, Oktober 2022
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Abstrack............................................................................................................... ii
Abstrak................................................................................................................ iii
Lembar Pernyataan.............................................................................................. iv
Lembar Layak Uji................................................................................................ v
Lembar Pengesahan Hasil Uji Sidang.................................................................. vi
Kata Pengantar.................................................................................................... vii
Daftar Riwayat
Hidup......................................................................................... viii
Daftar Isi ............................................................................................................. ix
Daftar Bagan ...................................................................................................... x
Daftar Tabel ........................................................................................................ xi
Daftar Lampiran ................................................................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................... 12
C. Rumusan Masalah........................................................................ 12
D. Tujuan Penelitian.......................................................................... 13
E. Kegunaan Penelitian.................................................................... 13
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori.................................................................................. 15
B. Penelitian Terdahulu.................................................................... 61
C. Kerangka Berpikir........................................................................ 65
D. Operasionalisasi Variabel............................................................. 66
E. Hipotesis...................................................................................... 68
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian............................................................................. 69
B. Populasi dan Sampel.................................................................... 71
C. Instrumen Penelitian.................................................................... 72
D. Prosedur Pengumpulan Data........................................................ 79
E. Metode Analisis Data.................................................................. 80
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi dan Data Penelitian.......................................... 88
B. Analisis Data Penelitian............................................................... 99
C. Pembahasan.................................................................................. 123
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan.................................................................................. 127
B. Saran............................................................................................ 128
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 129
Lampiran 1 Lembar Validasi Ahli Materi
Lampiran 2 Lembar Validasi Ahli Media
Lampiran 3 Kisi-Kisi Angket Uji Coba
Lampiran 4 Angket Ujicoba
Lampiran 5 Kisi-Kisi Tes Ujicoba Hasil Belajar IPS Siswa
Lampiran 6 Tes Ujicoba Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS
Lampiran 7 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Lampiran 8 Hasil Ujicoba Instrumen
Lampiran 9 Hasil Uji Validitas Dan Reliabilitas Instrumen
Lampiran 10 Data Hasil Penelitian
Lampiran 11 Hasil Uji Statistik Deskriptif
Lampiran 12 Hasil Uji Prasyarat Penelitian
Lampiran 13 Hasil Uji Hipotesis
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir ....................................................................... 66
Gambar 4.1 Diagram Validitas Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa 91
Gambar 4.2 Diagram Validitas Tes Hasil Belajar Siswa ................................. 92
Gambar 4.3 Diagram Tingkat Kesukaran Tes Hasil Belajar Siswa ................. 93
Gambar 4.4 Diagram Daya Pembeda Tes Hasil Belajar Siswa ....................... 94
Gambar 4.5 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest ................................................................................................ 100
Gambar 4.6 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest 103
Gambar 4.7 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest ................................................................................................ 106
Gambar 4.8 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest 108
Gambar 4.9 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest 111
Gambar 4.10 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest 113
Gambar 4.11 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest 116
Gambar 4.12 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest 118
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
Tabel 3.1 Desain Penelitian.............................................................................. 71
Tabel 3.2 Besaran Populasi Penelitian.............................................................. 72
Tabel 3.3 Besaran Sampel Penelitian................................................................ 73
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Indikator Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa......... 74
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Indikator Tes Hasil Belajar Siswa .................................... 75
Tabel 3.6 Klasifikasi Koefisiensi Reliabilitas................................................... 77
Tabel 3.7 Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal................................................... 78
Tabel 3.8 Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal................................................... 80
Tabel 3.9 Klasifikasi Presentase Hasil Observasi............................................. 84
Tabel 4.1. Distribusi Butir Angket Berdasarkan Validitas ............................... 91
Tabel 4.2. Distribusi Butir Tes Soal Berdasarkan Validitas ............................. 91
Tabel 4.3 Hasil Ujicoba Reliabilitas Instrumen ............................................... 92
Tabel 4.4. Distribusi Butir Tes Soal Berdasarkan Tingkat Kesukaran .............. 93
Tabel 4.5. Distribusi Butir Tes Soal Berdasarkan Daya Pembeda .................... 94
Tabel 4.6 Hasil Skor Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Pretest...... 95
Tabel 4.7 Hasil Skor Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Posttest 96
Tabel 4.8 Hasil Skor Tes Hasil Belajar Siswa Prestest .................................... 97
Tabel 4.9 Hasil Skor Tes Hasil Belajar Siswa Postest ..................................... 98
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest 100
Tabel 4.11 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest 101
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest 102
Tabel 4.13 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest 104
Tabel 4.14 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest ... 105
Tabel 4.15 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest 106
Tabel 4.16 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest 108
Tabel 4.17 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest 109
Tabel 4.18 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest 110
Tabel 4.19 Kriteria Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest..... 119
Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas kontrol Pretest 113
Tabel 4.21 Kriteria Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest .......... 114
Tabel 4.22 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest 115
Tabel 4.23 Kriteria Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest 117
Tabel 4.24 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest 118
Tabel 4.25 Kriteria Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest......... 119
Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas ....................................................................... 120
Tabel 4.27 Hasil Uji Homogenitas ................................................................... 121
Tabel 4.28 Hasil Uji T ...................................................................................... 121
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
Lampiran 1 Surat Keterangan Uji Judges I................................................... 135
Lampiran 2 Surat Keterangan Uji Judges II................................................. 136
Lampiran 3 Lembar Validasi Ahli Materi .................................................... 137
Lampiran 4 Lembar Validasi Ahli Media...................................................... 139
Lampiran 5 Kisi-Kisi Angket Uji coba Kemampuan Angket Berpikir Kreatis Siswa 141
Lampiran 6 Angket Ujicoba.......................................................................... 142
Lampiran 7 Kisi-Kisi Tes Ujicoba Hasil Belajar IPS Siswa.......................... 144
Lampiran 8 Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS............................................... 145
Lampiran 9 RPP............................................................................................ 151
Lampiran 10 Hasil Ujicoba Instrumen............................................................ 167
Lampiran 11 Hasil Uji Validitas, Reabilitas, Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Soal 169
Lampiran 12 Soal Tes Hasil Belajar Mata Pelajaran IPS ................................ 175
Lampiran 13 Data Hasil Penelitian.................................................................. 181
Lampiran 14 Hasil Uji Statistik Deskriptif ..................................................... 189
Lampiran 15 Hasil Uji Prasyarat Penelitian .................................................... 198
Lampiran 16 Hasil Uji Hipotesis..................................................................... 204
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia sebagai pilar dalam memajukan tingkat kecerdasan bangsa bertujuan untuk mampu lebih meningkatkan kecerdasan pengembangan manusia seutuhnya. Berdasarkan perundang-undangan no 20 tahun 2003 pasal 3 menjelaskan pendidikan nasional mempunyai tujuan dalam berkembangnya kemampuan siswa supaya menjadikan peserta didik sebagai manusia yang mempunyai iman dan takwa terhadap Tuhan YME, mempunyai akhlak baik, sehat, mempunyai ilmu, memilki kecakapan hidup, bersifat kreatif, berperilaku mandiri dan bertanggung jawab, dan memilki pemerintahan yang demokratis.
Pencapaian misi tentu tidaklah mudah membutuhkan perjuangan serta cara dalam mencapainya, dibutuhkan suatu proses belajar mengajar yang mendorong siswa untuk lebih berfikir kreatif agar mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman. Namun pelaksanaan proses belajar mengajar terkadang tidak sesuai harapan tujuan proses belajar mengajar yang diinginkan. Banyak permasalahan-permasalahan yang dapat menghalangi proses belajar mengajar di sekolah. Contoh masalah yang sering dialami adalah rendahnya daya dukung siswa, model pembelajaran yang membosankan dan keterampilan berfikir kreatif yang rendah. Munculnya masalah tersebut tentu harus dicari penyelesaiannya supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Kemendikbud sebagai dinas yang menaungi permasalahan pendidikan mencatat bahwa siswa Indonesia pada studi PISA (2018)mempunyai tingkat apresiasi dalam single text dan multiple text yang rendah, dapat dikatakan bahwa para siswa yang ada di Indonesia mampu untuk pencarian informasi, menilai serta menerapkannya akan tetapi mereka tidak mampu dalam tahap menganalisa informasi(Kemendikbud, 2019). Berdasarkan penelitian tersebut membuktikan jika kapasitas berpikir siswa yang ada di Indonesia rendah.
RPJMN merupakan suatu rencana dari pembangunan dengan jangka menengah nasional (tahun 2019-2024) adalah tujuan yang terkandung dari program pemerintah Indonesia mengenai pemberdayaan SDM (sumber daya manusia) dengan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Mutu SDM (sumber daya manusia) akan maju sangat bergantung kepada mutu pendidikan dalam negara tersebut. Fungsi pendidikan adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan masyarakat bijaksana, tentram, transparan serta demokratis. Sehingga dibutuhkan perubahan-perubahan dalam bidang pendidikan untuk dapat menambah mutu pendidikan pada suatu negara. Negara Indonesia akan menjadi negara yang mengalami kemajuan jika pendidikan di negara kitapun maju.
Berbagai cara ditempuh untuk meningkatkan kualitas pendidikan terus diupayakan dengan tujuan meningkatkan nilai dan derajat negara. Dalam pencapaian harapan itu negara memerlukan perubahan-perubahan dalam bidang pendidikan agar dapat menghasilkan pendidikan yang mempu menyesuaikan dengan perubahan jaman. Sektor pendidikan formal, termasuk sekolah, adalah tempat terbaik untuk memperoleh pendidikan berkualitas tinggi.
Lewat bersekolah, ketrampilan setiap orang mampu untuk berkembang, mulai belum mampu sampai menjadi mampu, mulai dari yang tidak mengerti menjadi mengerti. Pendidikan secara formal adalah hak yang harus diterima oleh seluruh anak di Indonesia. Karena pendidikan merupakan upaya dalam mempersiapkan generasi penerus melalui arahan, pembelajaran serta bimbingan supaya anak mampu untuk menjalankan fungsinya diwaktu yang akan datang. Sehingga implementasi pendidikan di sekolah seyogyanya dilaksanakan oleh pendidik yang berkualitas dan berkompeten pada keahliannya agar dapat mewujudkan siswa bermutu. Kesuksesan tersebut akan dapat diukur melalui hasil belajar yang dimiliki siswa ketika mereka selesai mengikuti pembelajaran di sekolah.
Menurut Sudjana (2009:22), hasil belajar siswa terdiri dari keterampilan dan kemampuan yang diperoleh sebagai hasil dari pengalaman pendidikannya. Hasil belajar merupakan keterampilan yang diperoleh anak melalui sekolah, sebagaimana dikemukakan oleh Jihad dan Haris (2012: 14). Ditambahkan pula kemampuan seorang siswa dalam belajar adalah segala sesuatu yang menjadi miliknya sebagai hasil dari upaya pendidikannya. Hasil belajar adalah peningkatan pengetahuan, pemahaman, disposisi, dan kemampuan dan usaha yang telah diraih oleh siswa dari kegiatan belajar mengajar yang efektif. Setelah mempelajari sesuatu, kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor seseorang dalam situasi tertentu mengalami perubahan seiring dengan berjalannya waktu dengan pemaparan materi secara kontinu.
Menurut Bloom (2014), hasil belajar dikumpulkan di tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotor.Menurut Teni Nurrita (2018), seorang siswa menerima hasil belajar berupa evaluasi setelah mengikuti proses pengajaran, dengan evaluasi tersebut mempertimbangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa serta setiap perubahan yang dapat diamati pada tingkatannya. kompetensi.
Sjukur(2012) berpendapat bahwa hasil belajar berfungsi sebagai ukuran keberhasilan proses pembelajaran dan perolehan pengetahuan dari waktu ke waktu, dan bahwa hasil ini akan dipertahankan untuk masa mendatang dan seterusnya karena pentingnya hasil ini dalam membentuk tipe orang yang dicita-citakan pembelajar, adalah adil untuk mengatakan bahwa hasil belajar memainkan peran integral dalam membentuk tipe orang yang menjadi baik.
Kurikulum sekolah berfungsi sebagai panduan tentang bagaimana pengajaran harus dilakukan dan tongkat pengukur seberapa baik siswa belajar. Tujuan kurikulum adalah membuka peluang kepada siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pendidik agar tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan dan saling menguntungkan.
Tujuan pengembangan kurikulum adalah memanifestasikan harapan pendidikan nasional dengan melayani siswa pada tahap perkembangannya masing-masing dan memenuhi kebutuhannya yang spesifik dalam hal lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan, dan penanaman ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna. ciri-ciri karakter untuk disiplin khusus masing-masing sekolah. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan standar tingkat pendidikan dan modalitas pengajaran.
Tujuan Kurikulum 2013 yang sedang dilaksanakan adalah mendidik dan melatih masyarakat Indonesia agar “beriman”, “produktif”, “kreatif”, “inovatif”, dan “afektif”, serta “mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat, bangsa , dan kehidupan dunia (Permendikbud, No. 69 Tahun 2013).
Negara berharap siswa akan memperoleh berbagai keterampilan. Kemampuan ini meliputi pemikiran kritis, pemecahan masalah secara kreatif, kemampuan untuk bekerja dengan baik dengan orang lain, kemampuan untuk berkolaborasi, serta rasa percaya diri yang sehat. Ada lima hal yang dikatakan pemerintah yang menjadi target karakter siswa, dan itu semua berdampak pada cara kita menilai siswa dalam ujian nasional dan inilah krisis abad ke-21 (Ariyana, 2018).
Sistem pendidikan Indonesia saat ini lebih banyak memperkuat fungsi otak kiri (intelektualitas). Sedangkan perkembangan otak kanan(kreativitas) belum berkembang hampir sejauh ini (Tampubolon & Syahputra, 2018). Seseorang fungsi otak kanan sering untuk digunakan akan mempunyai kecenderungan daya kreativitasnya dalam menyelesaikan permasalahan. Mereka akan lebih mengandalkan naluri, mampu menganalisa keadaan menyeluruh secara cepat.
Kementerian Pendidikan Republik Indonesia (2010:10) mendefinisikan berpikir secara kreatif sebagai "proses menghasilkan cara baru dalam melakukan sesuatu atau hasil yang berbeda dengan menggunakan sumber daya yang sudah ada".
Kreativitas siswa di kelas dapat diukur dengan membina lingkungan yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif, serta dengan memberikan tugas yang mendorong pengembangan karya seni asli atau adaptasi inventif dari karya seni yang ada.
Para ahli telah mengidentifikasi sejumlah karakteristik yang harus dimiliki siswa yang sedang mengembangkan keterampilan berpikir kreatifnya. Salah satunya adalah kemampuan berpikir cepat, luas, dan mandiri, sebagaimana digariskan oleh Munandar (2012: 192) adalah 1) pemikiran yang jernih; seseorang yang dapat mempertimbangkan berbagai kemungkinan dan sampai pada penjelasan dan solusi yang masuk akal untuk masalah Seseorang yang (2) mampu berpikir luas dan menghasilkan berbagai kemungkinan jawaban atas sebuah pertanyaan, mampu berpikir kreatif dan menghasilkan bacaan dan wawasan menarik dari sumber informasi yang sudah dikenal, dan mampu berpikir kreatif dan menghasilkan wawasan baru dan menarik dari sumber informasi yang sudah dikenal, dikatakan (4) mampu berpikir asli. Karena itu, siswa memiliki waktu yang lebih sulit untuk menghasilkan ide dan solusi orisinal untuk masalah, dan mereka juga memiliki waktu yang lebih sulit secara umum tidak hanya mengembangkan keterampilan pemecahan masalah mereka sendiri, tetapi juga dalam menerapkannya ketika mereka menghadapi hambatan.
Susanto (2013:110) berpendapat bahwa berpikir kreatif adalah proses yang mencakup unsur-unsur seperti orisinalitas, struktur, kemampuan beradaptasi, dan elaborasi. Keadaan ini menunjukkan bahwa berpikir kreatif dapat mendorong pengembangan kapasitas mental yang luas yang mampu merangkum dunia secara keseluruhan dari berbagai sumber yang unik.
Mempunyai pemikiran secara kreatif akan mampu menciptakan suatu pemikiran berkualitas. Pendapat dari Sani(2014:15) mengemukakan yaitu berpikir secara kreatif adalah keterampilan dalam menuangkan gagasan yang hebat, bermutu serta sesuai dengan apa yang ditugaskan. Keadaan ini adalah bentuk pengembang diri dari gagasan-gagasan terbaru yang berkualitas tinggi. Agar keterampilan berpikir secara kreatif berkembang cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkannya adalah dengan menghasilkan pembelajaran berkualitas dan pembelajaran dengan memperlibatkan siswa dengan aktif.
Mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial sebagai salah satu mata pelajaran yang membantu siswa menginternalisasi nilai-nilai komunitas dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai bagian dari tindakan mereka sehari-hari dalam kehidupan. Harapan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan komunikasi siswa untuk interaksi sosial sehari-hari, pendidikan harus dilakukan dengan presisi, baik dari pihak guru dan siswa. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah yang dapat memfasilitasi untuk berkembangnya kemampuan berpikir, terutama kemampuan berpikir dengan kreatif (Sulaeman, 2016:3).
Model pembelajaran berbasis proyek adalah salah satu model yang mendukung kurikulum 2013; itu ditandai dengan fokus pada proses daripada produk, kerangka waktu yang lebih lama, konsentrasi pada masalah daripada metode, dan keterlibatan siswa dalam memecahkan masalah melalui inkuiri akademik. Pengembangan Kurikulum Berdasarkan Model Pengalaman Paradigma pembelajaran berbasis proyek adalah paradigma yang menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Kemampuan siswa untuk berpikir kreatif dan memecahkan masalah dikembangkan melalui partisipasi dalam proyek.Penting untuk memiliki guru yang kreatif yang dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreativitas mereka sendiri untuk mengatasi krisis kreativitas.
Sulaeman (2016:5) mengemukakan bahwa model pembelajaran berbasis proyek adalah metode pengajaran dimana siswa memecahkan masalah dan memperluas topik yang tercakup dalam materi pelajaran melalui implementasi proyek dunia nyata. Inovasi pembelajaran berbasis proyek ini mendorong siswa untuk mengembangkan kreativitas, inisiatif, tanggung jawab, kepercayaan diri, dan keterampilan berpikir kritis dan analitis mereka.
Menurut Kerangka Pelaksanaan Kurikulum 2013(2018: 42), pembelajaran berbasis proyek yaitu setiap kegiatan pendidikan di mana seorang siswa mengerjakan proyek dunia nyata sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap. dicakup oleh kurikulum.Fokus pendidikan adalah upaya siswa untuk menciptakan produk dengan menerapkan pengetahuan dan keterampilan mereka di berbagai bidang seperti penelitian, analisis, konstruksi, dan presentasi, yang semuanya diinformasikan oleh pengalaman dunia nyata. Siswa diharapkan membuat proyek yang berhubungan dengan materi pelajaran terkait dalam model pembelajaran ini.
Penerapan model pembelajaran berbasis proyek, ide siswa digunakan untuk membuat proyek yang menawarkan metode alternatif untuk memecahkan masalah disiplin tertentu, memungkinkan siswa untuk belajar melalui pengalaman langsung bagaimana memecahkan masalah yang dihadapi.
Salah satu manfaat dari teknik pengajaran ini adalah dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan pemecahan masalah siswa, seperti dikemukakan oleh Majid dan Chaerul (2014:164).Keterampilan memecahkan masalah adalah bagian penting dari berpikir kreatif. Ini menunjukkan bagaimana salah satu manfaat dari paradigma pembelajaran berbasis proyek dapat memicu keterampilan berpikir inovatif siswa. Disisi lain, ada beberapa kelemahan dalam menggunakan paradigma pembelajaran berbasis proyek, seperti kenyataan bahwa hal itu membutuhkan instruktur yang berkualifikasi tinggi yang juga bersemangat untuk belajar, serta sumber daya yang luas, termasuk uang dan waktu, serta peralatan dan bahan khusus. Siswa yang mudah terdistraksi, kurang pengetahuan dan keterampilan, dan sulit bekerja dalam kelompok tidak akan mendapat manfaat dari metode pengajaran ini.
Pada obervasi awal di sekolah dasar negeri ...................... Kabupaten ...................... yang dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa dari 28 guru yang ada, 60% guru masih melaksanakan proses belajar mengajar dengan berceramah tanpa menggunakan model pembelajaran, sehingga keadaan tersebut menjadikan pendidik lebih mendominasi pembelajaran dan kurang melibatkan aktifitas siswa. Saat pembelajaran berlangsung, siswa cenderung pasif, lebih banyak menyalin materi dari buku dan mengisi latihan-latihan yang ada pada LKPD.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan guru kelas IV pada 14 Juni 2022 mengungkapkan bahwa siswa di sekolah tersebut memiliki tingkat berpikir kreatif di bawah rata-rata. Hal ini dapat dilihat dari keengganan siswa untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban yang panjang terhadap suatu masalah tertentu. Bahkan para siswa tampaknya tidak menemukan ide, jawaban, atau pertanyaan yang menarik. Menjawab pertanyaan, siswa tidak menawarkan tanggapan yang berbeda dari yang biasanya diberikan oleh sebagian besar orang. Selain itu, siswa tidak dapat memusatkan perhatian pada satu solusi sejernih kristal untuk suatu masalah.
Sementara kurikulum yang digunakan di SD Negeri ...................... masih tahun 2013 dengan beberapa penyesuaian tematik, peneliti memfokuskan pada materi pelajaran IPS.Hasil belajar pada mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial akan diperoleh hasil nilai harian, sedangkan nilai akhir semester berisi nilai-nilai rata-rata nilai harian serta ketuntasan. Untuk nilai harian diperoleh skor rata-rata nilai 60% dengan siswa tuntas 40,91%. Nilai akhir semester dengan pencapaian sebesar 62,84 dan siswa tuntas 36,36%. Keadaan tersebut tidak sesuai dengan KKM yang sudah ditetapkan untuk mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial kelas 4 yaitu sebesar 70.
Selain wawancara, peneliti juga melakukan observasi lanjutan terhadap praktik lapangan terhadap siswa selama proses belajar mengajar untuk memverifikasi fakta-fakta yang tertera di dalamnya. Hasil observasi menunjukkan bahwa kelas tersebut kurang kreatif dalam mengakses kreativitas di kelas IPS. Ketika kelas dimulai, guru sering mendengar dari siswa yang tidak mampu memahami masalah yang diberikan oleh instruktur. Siswa-siswa ini disarankan untuk mengeksplorasi ide dan/atau gagas dalam penciptaan produk tertentu, untuk mengungkapkan perbedaan tulang rahang mereka dengan orang lain, untuk menyajikan karya baru dalam penciptaan produk tertentu, untuk mempertahankan ide atau gagas mereka dalam kehidupan mereka. haknya sendiri, dan terus bekerja dengan materi yang diberikan tanpa perencanaan tambahan untuk menumbuhkan ide dan kreativitas.
Model pendidikan yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan kreatif menjadi semakin umum dalam beberapa tahun terakhir. Namun hasil temu lapangan menunjukkan bahwa masih banyak guru yang menggunakan paradigma pengajaran berpusat pada guru sehingga menghambat kemampuan berpikir kritis siswa. Pendekatan pendidikan yang berpusat pada guru ini tidak banyak mendorong upaya siswa untuk mengasah pemikiran kritis dan kapasitas imajinatif mereka.
Penelitian Puspita (2019) memberi penjelasan bahwa proses pendidikan berjalan lancar ketika semua faktor yang relevan diperhitungkan, seperti tujuan kursus, materi pelajaran, dan strategi pembelajaran. Agar siswa berhasil di kelas, guru harus mampu mengintegrasikan konten dan perilaku siswa yang relevan. Salah satu pendekatan tersebut adalah penerapan Model Pembelajaran pembelajaran berbasis proyek (PjBL), yang telah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa dan kemampuan pemecahan masalah kreatif mereka.
Kreativitas siswa tidak kurang, seperti yang dijelaskan oleh Febrianty (2020); sebaliknya, itu diatur dengan buruk oleh guru selama fase instruksi langsung dari proses pembelajaran.Pengajaran konvergen, sikap dan keyakinan guru tentang kreativitas siswa, motivasi lingkungan, dan keyakinan siswa sendiri tentang potensi kreatif mereka sendiri, semuanya berperan dalam pengembangan imajinasi dan orisinalitas siswa.Sehingga guru membutuhkan keterampilan untuk mengembangkan strategi pengajaran dan model kelas yang meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa sehingga tujuan tersebut dapat terwujud. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa siswa meningkatkan keterampilan berpikir kreatif mereka saat dihadapkan pada kerangka pembelajaran berbasis proyek, dibandingkan dengan siswa dalam lingkungan pendidikan konvensional.
Kusadi(2020) menjelaskan dalam jurnal penelitiannya bahwa model pembelajaran berbasis proyek paling sesuai dengan karakteristik pendidikan IPS, serta tujuan dan laju perubahan sosial saat ini. Salah satu metode pengajaran inovatif yang menekankan pembelajaran kontekstual dan partisipasi siswa dalam proyek penelitian kolaboratif dengan dicapai melalui aktivitas menantang yang pada gilirannya memotivasi siswa untuk lebih proaktif dan banyak akal dalam mengejar tujuan pembelajaran adalah model pembelajaran berbasis proyek.
Pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan inovatif untuk pendidikan yang menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran dan memposisikan guru sebagai fasilitator dan motivator. Dalam model ini, siswa lebih diberi tanggung jawab atas pendidikannya sendiri dan didorong untuk bekerja secara mandiri. Siswa diperkenalkan dengan masalah secara langsung dalam model pembelajaran berbasis proyek, dan kemudian mereka berlatih menyelesaikannya melalui pekerjaan proyek aktif, meskipun tidak langsung, yang melatih mereka untuk berpikir kreatif dan memecahkan masalah dengan cara baru.
Niswara (2019), berpendapat bahwa kreativitas siswa harus diakui dengan cara yang adil dan akurat, dengan penilaian yang memperhitungkan nilai akhir dan penilaian kemajuan yang berkelanjutan. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah dengan memasukkan lebih banyak pemikiran kritis ke dalam proses pengajaran dan penilaian. Melihat situasi seperti itu, langkah selanjutnya adalah mengubah strategi pengajaran, karena ada banyak model dan metode pengajaran baru yang sangat efektif dalam kurikulum 2013, terutama untuk siswa sekolah dasar, yang telah terbukti mendapat manfaat besar dari paparan mereka. Salah satu model tersebut adalah model pembelajaran berbasis proyek, yang didasarkan pada gagasan bahwa siswa belajar paling baik ketika mereka memiliki masalah dunia nyata untuk dipecahkan.
Permasalahan-permasalahan yang telah dijabarkan pada alenia di atas, penulis tertarik untuk dapat mengadakan penelitian lebih lanjut mengenai Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ....................... Diharapkan peneliti mampu menganalisis dampak penggunaan model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif terhadap kinerja siswa pada mata kuliah IPS sebagai hasil dari penelitian ini.
B. Identifikasi Masalah
Permasalahan yang dapat peneliti kumpulkan dan identifikasi agar tidak menjadi meluas adalah.
1. Hasil belajar mata pelajaran IPS di SDN ...................... rendah.
2. Kemampuan berpikir kreatif siswa pada mata pelajaran IPS rendah.
3. Model pembelajaran yang dipergunakan dalam proses belajar mengajar menggunakan model konvensional.
4. Suasana pembelajaran terkesan hening dan siswa tidak aktif selain kegiatan mencatat materi dari guru.
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang hendak diteliti sebagai berikut.
1. Apakah ada pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar negeri ...................... ?
2. Apakah ada pengaruh kemampuan berpikir kreatif dengan hasil belajar siswa dada mata pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar negeri ...................... ?
3. Apakah ada pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar negeri ...................... ?
D. Tujuan Penelitian
1. Menganalisa pengaruh model pembelajaran berbasis proyek dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV sekolah dasar negeri Tigaraksa.
2. Menganalisis pengaruh kemampuan berpikir dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar negeri .......................
3. Menganalisis interaksi model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV sekolah dasar negeri .......................
E. Kegunaan Penelitian
1. Secara Teoritis
Menambah pemahaman dan pengetahuan dan sebahai bahan implementasi dalam menerapkan model pembelajaran dalam pembelajaran IPS.
2. Secara Praktis
a. Peneliti
Mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana menerapkan paradigma pembelajaran berbasis proyek di kelas 4 sekolah dasar negeri Tigaraksa berdampak pada hasil belajar siswa dan kapasitas mereka untuk pemecahan masalah secara kreatif.
b. Siswa
Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan, memberi stimulus pada keterampilan berfikir kreatif melalui sebuah proyek pada mata pelajaran IPS.
c. Guru
Mampu dipergunakan oleh pendidik sebagai rujukan dalam menggunakan sumber belajar model pembelajaran berbasis proyek .
d. Peneliti lain
Dapat dipergunakan sebagai bahan studi perbandingan atau bahan rujukan untuk peneliti-peneliti selanjutnya.
e. Bagi Sekolah
Dapat menjadi acuan dalam mengembangkan sumber belajar dan metode pembelajaran berupa model pembelajaran berbasis proyek .
f. Institusi Pendidikan
Memberikan landasan dan informasi yang tepat mengenai model pembelajaran yang tepat dan berhasil guna.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Secara harfiah hasil belajar merupakan pengalaman dari siswa yang merupakan hasil aktivitas belajar yang telah dilakukannya. Sejauh mana siswa berubah tergantung pada isi dari yang mereka pelajari. Kesuksesan orang dalam mengikuti pembelajaran diukur mengunakan instrumen tes hasil belajar dengan cara melakukan tes di akhir kegiatan pembelajaran atau juga dapat dilakukan pada setiap akhir semester. Perolehan hasil belajar tiap-tiap individu akan berbeda karena hal tersebut terkait dengan proses belajar yang telah dilewatinya.
Hasil belajar adalah kapabilitas dari seorang siswa setelah melalui kegiatan belajar,” (Sudjana, 2009:22). Menurut Abdurrahman (dalam Jihad & Haris, 2012:14), Hasil belajar adalah kecakapan yang didapat siswa setelah melewati suatu kegiatan yang disebut dengan belajar. Sumber lain mengatakan, Hasil belajar adalah segala sesuatu yang menjadi milik siswa sebagai hasil dari kegiatan pendidikan siswa (Juliah, Jihad dan Haris, 2012, hlm. 15). Penjelasan mengenai definisi dari aasil belajar adalah eskalasi dari kemampah kognitif, pemahaman, tingkah laku, dan ketangkasan yang diperoleh oleh seorang individu sebagai hasil dari terlibat dalam proses pendidikan yang ketat.
Hasil belajar individu merupakan hasil dari perubahan tingkat kapabilitas pada bidang kognitif, bidang afektif, dan bidang psikomotor subjek yang dikaitkan dengan konteks tertentu sebagai akibat dari keahlian yang repetitif. Menurut Benjamin S. Bloom (dalam Jihad dan Haris, 2008: 14-15), "hasil belajar dapat dikategorikan menjadi tiga kategori besar: kognitif, afektif, dan perilaku." Menurut Nurrita (2018), siswa mendapatkan umpan balik atas hasil belajar mereka dalam bentuk nilai setelah berpartisipasi dalam proses belajar mengajar dengan menilai tingkat pengetahuan, sikap, dan keterampilan mereka sendiri dalam kaitannya dengan rekan-rekan mereka dan dunia di besar. Mengikuti keyakinan (Sjukur, 2012) bahwa hasil belajar adalah evaluasi dari titik ujung suatu kegiatan pembelajaran yang berulang sehingga pengetahuan yang diperoleh yang akan disimpan di masa mendatang, hasil belajar memainkan peran penting dalam membentuk seseorang menjadi seperti apa.
Hasil belajar adalah wujud intrepretasi yang berujud suatu bukti yang berkaitan dengan seseorang telah memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, yang ditunjukkan dengan adanya pergeseran perilaku dari seseorang yang sdang dalam tahapan belajar dari tidak memahami menjadi paham dan dari tidak mengetahui menjadi mengetahui (Hamalik 2014:30). Keberhasilan seorang siswa diukur dengan sejauh mana ia mampu berpindah dari keadaan ketidaktahuan atau ketidaktahuan tentang suatu mata pelajaran ke salah satu pengetahuan atau pengetahuan tentang mata pelajaran itu sebagai hasil dari terlibat dalam proses pembelajaran. Menurut Susanto (2015:5), hasil belajar siswa adalah keterampilan yang diperolehnya sebagai hasil dari sekolahnya. Karena belajar adalah tindakan yang diambil oleh seseorang yang mencoba untuk menghasilkan perubahan yang langgeng dalam perilaku dan cara pandangnya. Baik itu kegiatan kelas atau tamasya mendalam, tujuan pembelajaran hampir selalu ditetapkan oleh guru. Anak-anak yang sukses di sekolah adalah mereka yang memenuhi tujuan pendidikan mereka, yang sering dikenal sebagai "tujuan instruksional" mereka. Menurut Purwanto (2014:44), dua kata “hasil” dan “belajar” membentuk istilah “hasil belajar” yang dapat dipahami dengan menyatukan keduanya. Dalam istilah fungsional, istilah "produk" mengacu pada hasil akhir dari setiap tindakan atau prosedur yang memerlukan pengeluaran beberapa sumber daya. Komoditas yang dihasilkan merupakan hasil akhir dari upaya mengubah sumber daya mentah menjadi produk jadi (finished goods).
Berdasarkan definisi hasil belajar yang diberikan di atas, dapat dikatakan bahwa hasil penelitian ini menyangkut perubahan keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa yang diukur dengan nilai tes yang dibakukan.
b. Unsur-Unsur yang Berpengaruh pada Hasil Belajar
Keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa unsur, baik yang berasal dari dalam diri siswa sendiri maupun unsur-unsur diluar diri siswa itu sendiri. Dari pendapat yang dikemukakan oleh Slameto (2013) dapat diketahui tentang unsur-unsur yang berpengaruh terhadap hasil belajar diantaranya :
1) Unsur internal
a) Unsur jasmani
b) Unsur psikis
2) Unsur eksternal
a) Unsur keluarga
b) Unsur sekolah
c) Unsur masyarakat
Pendapat lain menjelaskan unsur-unsur yang berpengaruh pada tingkat belajar siswa diantaranya :
1) Unsur internal
a) Unsur fisik
b) Unsur psikis
2) Unsur eksternal
a) Unsur sosial
b) Unsur nonsosial
Penjelasan mengenai unsur pokok yang berpengaruh terhadap kualitas hasil belajar siswa yaitu :
1) Unsur domestik meliputi konteks jasmaniah dan rohaniah siswa
2) Unsur luar meliputi keadaan tempat tinggal siswa, misalnya kultur dan budaya di sekitarnya
3) Unsur teknik belajar meliputi usaha siswa dalam belajar misalnya teknik dan taktik serta cara yang dilakukan dalam melaksanakan proses belajar pada materi belajar di pelajarinya (Muhibbin, 2011).
Menurut Sudjana dan Rivai (2001:39), masalah kesehatan siswa dan kondisi fisik umum mereka adalah salah satu faktor lingkungan yang secara signifikan mempengaruhi kemampuan mereka untuk belajar, sedangkan paparan kelompok yang terakhir terhadap bencana alam juga membuat perbedaan. Tujuh puluh persen prestasi akademik siswa di madrasah bergantung pada kemampuan siswa, sedangkan lingkungan hanya berpengaruh pada prestasi akademik hingga 30 persen.
Sedangkan Hasan (1994:94) menjelaskan tentang unsur-unsur yang dapat berpengaruh terhadap aktivitas belajar yaitu:
1) Faktor yang muncul dari diri sendiri atau bisa disebut unsur individu dalam unsur perkembangan kematangan fisik, intelegensi dan unsur yang muncul secara pribadi.
2) Faktor eksternal individu, yang kita sebut sebagai faktor sosiokultural, termasuk keluarga dan pengaturan tempat tinggal, metode pengajaran, bahan ajar, pengaturan kelas fisik, ketersediaan waktu dan ruang untuk belajar, dan motivasi pribadi dan sosial guru dan siswa.
Unsur-unsur yang berpengaruh pada prosedur dan hasil belajar pada seorang siswa secara ringkas sebagaimana pendapat Sabri (2010:59-60) adalah :
1) Unsur dalam diri siswa
a) Unsur fisiologis siswa, termasuk kesehatan mereka dan ada atau tidak adanya penyakit fisik, serta keadaan mental mereka, terutama kemampuan mereka untuk melihat dan mendengar.
b) Unsur psikologis siswa, seperti minat, antusiasme, pemahaman, dan motivasi mereka, serta kemampuan kognitif mereka, yang mencakup hal-hal seperti kemampuan mereka untuk memahami, mengingat, dan bernalar, dan pemahaman mereka tentang informasi mendasar.
2) Unsur-unsur dari luar siswa
a) Unsur Lingkungan
Unsur ini dapat dibagi menjadi dua kategori: pertama, lingkungan seperti cuaca dan kualitas udara; kedua, sosial seperti lokasi masjid atau sekolah; dan ketiga, teknologi seperti kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Kedua, komponen lingkungan sosial, seperti manusia dan budayanya.
b) Unsur Instrumental
Unsur instrumental mencakup hal-hal seperti ruang kelas dan ruang fisik lainnya, alat bantu pengajaran seperti buku dan komputer, video instruksional dan bentuk media lainnya, guru dan ahli lainnya, materi kursus dan rencana pelajaran, dan pendekatan instruksional seperti menerapkan kelompok pembelajaran kooperatif.
Rendahnya prestasi akademik siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Ketidakpastian tersebut secara signifikan mempengaruhi upaya siswa untuk mencapai hasil belajar yang tinggi dan dapat membantu dalam pelaksanaan kegiatan instruksional untuk memastikan bahwa tujuan pembelajaran terpenuhi. Seperti yang dapat kita lihat dari pembahasan di atas, ada dua faktor terhadap hasil belajar siswa: yang datang dari dalam diri siswa (internal) dan yang dari luar (eksternal) Masing-masing faktor ini bekerja bersama-sama dengan yang lain untuk meningkatkan kinerja akademik siswa.
c. Pengertian Mata Pelajaran IPS
Sejak tahun 1970-an, IPS telah banyak dibahas dalam civitas akademika Indonesia, dan pada tahun 1975, secara resmi dimasukkan ke dalam kerangka kurikuler negara. Menurut Sapriya (2009:45), “ilmu sosial” (atau “pengantar ilmu sosial interdisipliner” atau “IPS”) adalah nama mata pelajaran yang diajarkan pada tingkat dasar dan tingkat menengah , serta nama program studi di tingkat sekolah dasar (SD/MI) dan menengah (SMP/MTs/SMA/SMK/MAK). Pada tingkatan universitas lebih dikenal dengan nama ilmu sosial. Namun, pengetahuan ilmu pengetahuan sosial pada tingkatan dasar mata pelajaran ini berdiri sendiri dan merupakan gabungan dari beberapa mata pelajaran yang berbeda.
Kurikulum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan kurikulum wajib yang telah dituangkan secara sistematis dan komprehensif dalam Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Pendidikan berbasis teori IPS bertujuan untuk memberikan wawasan dan dimensi lebar dan komprehensif kepada peserta didik tentang bidang studi terkait. Metode pengajaran yang digunakan dalam bidang ilmu sosial di Republik Indonesia telah banyak dipengaruhi oleh praktik pendidikan Barat. Di berbagai belahan dunia lain khususnya di Amerika, sebutan studi sosial digunakan untuk merujuk pada materi pelajaran mengajar siswa tentang ilmu sosial. Telah dicatat bahwa banyak teori dan gagasan IPS yang memberikan pengaruh besar terhadap pelaksanaan pembelajaran IPS yang menjadi struktur pembangun kurikulum di Indonesia (Sapriya 2009:34). Di Amerika Serikat, ada kelompok yang sering dikenal dengan akronimnya adalah NCSS. Menurut NCSS, tujuan pengajaran IPS adalah sebagai salah satu sarana dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat menumbuhkan unsur pengetahuan, unsur keterampilan dan unsur sikap mereka dalam konteks konteks sosial dan manusia yang beragam. Secara keseluruhan, bidang Ilmu Sosial dan Manusia mencakup berbagai subbidang akademik, termasuk Sejarah, Politik, Matematika, Agama, Hukum, Antropologi, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan bidang terkait lainnya.
Akan tetapi, menurut (Depdiknas, 2007:3), ilmu sosial adalah keterpaduan beberapa bidang studi, antara lain hukum, sosiologi, geografi, sejarah, ekonomi, politik, dan praktik budaya. Untuk mewujudkan pendekatan lintas disiplin terhadap studi masyarakat dari perspektif ilmu sosial, perlu dipertimbangkan bagaimana membumikan bidang ilmu sosial dalam realitas empiris dan fenomena sosial. Pembelajaran Sosiologi sebagai mata pelajaran adalah disiplin akademis dengan tujuan menyeluruh membentuk warga global yang bertanggung jawab, demokratis, dan berwawasan global (Sapriya:2009:62). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan pembelajaran disisi lain bertujuan untuk menciptakan manusia yang memiliki kemampuan untuk bersaing di masyarakat yang terdiri dari beberapa bagian di tingkat domestik, dalam negeri, bahkan laur negeri. Untuk mengatasi hal tersebut, inti pembelajaran IPS dikatakan sebagai pengembangan potensi siswa supaya memiliki kepekaan terhadap fakta-fakta sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat berwawasan luas dan mempunyai sifat membangun pada upaya-upaya pembaharuan terhadap kondisi sosial. penyakit, dan diberikan rangsangan atau contoh untuk membantu mereka melakukannya.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan tersebut dapat diambil sikap bahwa IPS adalah mata pelajaran yang merupakan gabungan dari bermacam-macam bidang keilmuan yang mempunyai maksud dan tujuan mencetak pribadi-pribadi yang konsekwen, demokratis, dan mempunyai perilaku mencintai kejadian yang bersifat sosial, mempunyai memiliki sikap cinta terhadap fenomena sosial, dan memiliki kecakapan psikologi yang baik serta memiliki kemampuan untuk mengatasi permasalahan yang muncul baik dari dalam diri sendiri maupun yang bersifat kelompok, mempunyai kemampuan untuk bersaing dalam lingkungan masyarakat dari berbagai tingkatan baik tingkatan lokal, regional, nasional maupun secara global dalam lingkup dunia.
d. Tujuan Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial
Sebagai salah satu mata pelajaran wajib, maka IPS mempunyai tujuan yaitu membangun masyarakat madani yang patuh. Penjelasan mengenai tujuan utama pembelajaran IPS tersebut disampaikan Hasan (1996, 114-117) yaitu :
1) Pengembangan nilai-nilai dan norma-norma kemasyarakatan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pribadi siswa secara individu. Pola pikir, norma, dan etika yang dapat ditumbuhkan adalah
a) Pandangan dan apresiasi terhadap nilai-nilai dan moral yang berada di masyarakat diantaranya pribadi yang kritis, kejujuran, rasa menghargai pada pemikiran orang selain diri kita, paham keagamaan, tingkat kepedulian terhadap keadaan sekitar, menghargai orang-orang yang lebih tua, serta banyak lainnya.
b) Sikap tenggang rasa
c) Kebersamaan dan sikap saling menolong
d) Hak-hak dasar kemanusian
2) Peningkatan bidang konatif adalah kapasitas dari seseorang yang menjadi petunjuk tentang bagaimana orang tersebut bukan saja mempunyai pemahaman dan pengertian, perilaku, norma dan yaitu kapasitas yang memberikan petunjuk tentang seseorang yang bukan saja mempunyai tingkat kepandaian dan tingkat penafsiran, mempunyai kapabilitas yang tinggai dalam bidang kognitif, sikap, atura dan perwatakan serta memiliki yang menunjukan bahwa seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan dan pemahaman, kemampuan kognitif tinggi, sikap, norma, dan watak, dan juga mempunyai kemauan agar dapat melakukan dan memberikan pembuktian pada kehidupan nyata di kesehariannya. Penjelasan mengenai tujuan konatif adalah :
a) Melakukan kegiatan-kegiatan sosial
b) Giat dalam berkerja
c) Mempunyai kejujuran dalam bekerja
d) Memiliki kapasitas yang baik dalam beradaptasi
3) Memiliki pemahaman tentang nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, seperti kejujuran, kebaikan, empati, rasa hormat, dan tidak mementingkan diri sendiri; Kebanggaan nasional; dan perlunya bekerja sama untuk kebaikan bersama.
4) Mempunyai kapasitan dalam melakukan komunikasi, berkolaborasi, dan bersaing di tengah-tengah lingkungan tempat tinggal yang beragam di tingkat domestik, dalam negeri, dan internasional
Penjelasan mengenai tujuan dari pembelajaran IPS yang dikemukana oleh Sapriya (2009:201) adalah :
1) Mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang keterkaitan beberapa pola pikir dan mempunyai kaitan dengan lingkungan masyarakat.
2) Mempunyai kecakapan dasar dalam berpikir secara logis dan responsif, sifat ingin tahu yang tinggi, keinginan bertanya, mencari solusi suatu permasalahan dan mahir bersosialisasi.
3) Mempunyai rasa komitmen yang kuat terhadap, dan pengetahuan tentang, nilai-nilai kemanusiaan dan sosial.
4) Mempunyai kapasitas yang baik dalam berkomunikasi, berkolaborasi, dan bersaing dalam masyarakat yang kompleks di tingkat lokal, nasional, dan global.
Berdasarkan perspektif tersebut di atas tentang tujuan pendidikan IPS, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pendidikan IPS diharapkan akan membantu siswa mengembangkan cara berpikir yang lebih kritis dan analitis tentang masalah sosial yang mempengaruhi komunitas mereka dan membantu mereka menjadi warga negara yang lebih baik. negara mereka. Kemudian, menjadi bijaksana dan peduli terhadap komunitas dan lingkungan seseorang melalui pemahaman tentang pentingnya sejarah dan budayanya.
e. Ruang dan Lingkup IPS Sekolah Dasar
Pembagian ruang dan lingkup pembelajaran IPS di sekolah dasar menurut Tasrif (2008:4) adalah :
1. Ditilik dari sudut pandang hubungan yang melingkupi hubungan sosek, ilmu jiwa, kearifan lokal, histori, lingkungan tempat tinggal dan sudut pandang secara politik.
2. Ditilik dari sudut pandang kelompok bisa berupa keluarga, RT, RW, Dusun, antar warga dalam desa, serta bentuk-bentuk organisasi kemasyarakatan dan berbangsa.
3. Ditilik dari stratanya mencakup tingkatan lokal, tingkatan regional, serta dunia secara global.
4. Ditilik dari sudut pandang hubungan atau korelasi bisa berbentuk kebudayaan, bidang sosial, bidang politik maupun dalam bidang ekonomi.
Pada tataran dasar, mata pelajaran IPS dirancang untuk memberikan siswa pendidikan menyeluruh yang memperhitungkan semua aspek kehidupan dan kebutuhan manusia. Untuk melestarikan umat manusia, IPS memperhatikan bagaimana orang memenuhi kebutuhannya, termasuk kebutuhan untuk memperoleh makanan, tempat tinggal, pakaian, dan hiburan; untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Bumi; untuk mengatur keamanan dan pemerintahan mereka sendiri; dan untuk memenuhi kebutuhan lain yang mungkin mereka miliki.
Dalam artian singkat mata pelajaran IPS difokuskan pada pembelajaran yang secara umum untuk menyelidiki, menganalisis, dan mengevaluasi sistem sosial dan ekonomi manusia dalam konteks komunitas global. Mengingat luasnya konteks sosial manusia, maka pendidikan IPS harus dibatasi pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan kemampuan siswa yang terdaftar pada jenjang tersebut, sehingga ruang yang dialokasikan untuk pengajaran IPS bervariasi dari jenjang SD dan SMP. Di tingkat sekolah dasar, pengajaran IPS terbatas pada topik-topik yang sempit seperti yang tercakup dalam buku teks geografi dan sejarah. Lebih khusus lagi, kejahatan sehari-hari dan masalah sosial yang dihadapi oleh siswa sekolah dasar di lingkungan terdekat mereka.
Ruang penelitian diperluas pada tingkat pendidikan menengah. Tren serupa dapat dilihat di tingkat pendidikan atas, di mana berbagai tindakan diambil untuk memerangi penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan materi pelajaran dan penyelidikan akademis. Karena IPS di pendidikan tinggi adalah alat untuk melatih kemampuan berpikir dan berbicara siswa secara sistematis, pendekatan pengajaran interdisipliner dan multidisiplin adalah pilihan yang baik.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa materi pelajaran IPS adalah manusia dalam konteks sosialnya, maka ruang lingkup penelitian IPS meliputi (a) substansi disiplin ilmu sosial yang secara inheren peduli dengan masyarakat, dan (b) fenomena sosial. yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Pendekatan ganda terhadap pendidikan IPS ini diperlukan karena pendidikan IPS dirancang untuk memenuhi kebutuhan pembelajar individu maupun komunitas yang lebih besar. Oleh karena itu, pendidikan IPS harus memasukkan materi yang berakar pada masyarakat (Yani, 2012:23).
f. Karakteristik Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Dari pendapat Djahari (1989:4) dapat diuraikan secara rinci tentang karakteristik IPS di sekolah dasar yaitu :
1) Pembelajaran IPS berupaya untuk mentautkan antara konsep dan realita maupun kenyataan sebaliknya (mengkaji bukti dari sudut pandang keilmuan)
2) Upaya menganalisis dan membahas mata pelajaran IPS tidak terpaku pada satu bidang ilmu saja, tapi harus berpandangan secara luas dengan mempertimbangkan bidang ilmu-ilmu yang lain sehingga mendapatkan kesimpulan bahwa IPS adalah suatu konsep ilmu yang tersusun secara runtut dan diperuntukan agar dapat menganalisis suatu permasalahan.
3) Berfokus pada keterlibatan siswa secara aktif melalui proses pembelajaran ikuiri yang dapat meningkatkan kemampuan kritis siswa dalam berpikir secara rasional dan analitik. Rancangan pembelajaran dirangkai melalui berbagai bahan yang didapat dari ragam disiplin keilmuan, kenyataan hidup di lingkungan, dan difokuskan pada proyeksi tentang kehidupan di masa mendatang yang lebih baik.
4) Pembelajaran IPS bersifat dinamis yang berpegang pada landasan kehidupan sosial yang ada di masyarakat, sehingga fokus pembelajaran ada pada kegiatan internal dan aktif yang ada pada diri siswa dengan tujuan mewujudkan agar siswa mempunyai kebiasaan dan keahlian untuk mencerna hal-hal nyata yang terjadi di masyarakat.
5) Pembelajaran IPS lebih berfokus pada keadaan dan pendalaman terhadap hubungan dalam masyarakat yang lebih menonjolkan sifat manusiawi.
6) Mata pelajaran IPS bukan saja mengkhususkan pada aspek pengetahuan siswa secara detail tetapi juga terhadap nilai-nilai dan keterampilan yang dimiliki siswa.
7) Mata pelajaran IPS bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang maksimal kepada siswa terutama terhadap masalah-masalah yang terjadi di dekat kehidupan siswa itu sendiri.
Prinsip, karakteristik, dan pendekatan yang menjadi inti pembelajaran IPS harus dilaksanakan secara konsisten ketika program pendidikan IPS dikembangkan sesuai dengan ciri khas yang melekat pada pembelajaran IPS tersebut.
g. Indikator Hasil Belajar
Prestasi akademik atau lebih dikenal dengan hasil belajar siswa adalah kumpulan keterampilan yang mereka bawa ke kelas setelah diuji dalam kegiatan pendidikan, seperti yang didefinisikan oleh Sudjana (2016:22). Taksonomi Bloom (dikutip dalam Sudjana 2016:22–23) digunakan untuk mengklasifikasikan prestasi akademik siswa dalam sistem pendidikan nasional. Taksonomi ini secara garis besar membagi kemampuan siswa menjadi tiga kategori: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam konteks pendidikan, beban kognitif mengacu pada jumlah pengetahuan siswa, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi di berbagai topik. Dua dari dimensi awal dianggap sebagai pemrosesan kognitif tingkat rendah, sedangkan empat lainnya dikategorikan sebagai pemrosesan tingkat tinggi.
Ada lima komponen cara berpikir yang matang secara emosional: kapasitas untuk menerima dan memproses informasi, kemampuan untuk mengevaluasi dan memprioritaskan tugas, kapasitas untuk mengatur dan memproses emosi diri sendiri secara introspektif, dan kapasitas untuk secara tepat menanggapi kebutuhan orang lain. yang lain. Pemeringkatan kemampuan psikomotorik dalam kaitannya dengan kinerja akademik dalam hal perolehan keterampilan dan pengembangan potensi seseorang untuk bertindak. Ada 6 komponen yang membentuk kompetensi psikomotor: (a) gerak reflektif, (b) kemampuan gerak dasar, (c) keterampilan persepsi, (d) harmoni atau presisi, (e) kompetensi gerak kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif.
Pengkategorian hasil belajar menurutt Gagne (dalam Sudjana, 2016:22) digolongkan menjadi 5 kategori dengan penjelasan sebnagai berikut :
1) Kemampuan untuk menyampaikan informasi secara verbal dikenal sebagai "informasi verbal," dan itu mencakup bentuk komunikasi lisan dan tertulis. kemampuan khusus untuk bereaksi terhadap rangsangan yang sempit. Kemampuan ini tidak memerlukan manipulasi simbol, pemecahan masalah, atau perubahan aturan.
2) Kemampuan intelektual adalah kemampuan untuk menyampaikan ide dan konsep secara jelas. Kemampuan intelektual meliputi kemampuan kategorisasi, kemampuan analisis dan sintesis, serta kemampuan mengembangkan prinsip-prinsip ilmiah. Akal adalah kemampuan untuk terlibat dalam tugas-tugas kognitif khusus. Pengetahuan diskriminasi, pengetahuan filsafat, dan pengetahuan hukum semuanya berkontribusi pada persenjataan intelektual seseorang.
a) Berlatih diskriminasi, yaitu disparitas pada bermacam bentuk dengan perspektif yang berbeda. Seperti membandingkan dan membedakan berbagai bentuk wajah, periode waktu, ukuran pohon, dan ukuran tumbuh-tumbuhan.
b) Berlatih kerangka konseptual. Sebuah konsep adalah simbol mental. Ini adalah hasil dari membuat interpretasi fakta.
c) Berlatih peraturan. Hukum, pengetahuan, atau legenda urban? (aturan). Arti dari setiap dalil dan rumus yang Anda pelajari harus dipahami agar dapat memperoleh manfaat sepenuhnya.
3) Sebuah desain kognitif adalah kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan proses mental sendiri.Keterampilan ini mencakup penggunaan konsep dan teknik untuk memecahkan masalah
4) Keahlian pada bidang motorik adalah kemampuan untuk mengurutkan akselerasi dan deselerasi jasmani dalam masalah koordinasi, sehingga menghasilkan fenomena yang dikenal sebagai jasmani-otomatism.
5) Kemampuan untuk menerima atau menolak suatu objek menjadi dasar penilaian seseorang terhadap objek tersebut. Keterampilan mencakup kemampuan untuk mengevaluasi makna secara internal dan eksternal. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menetapkan nilai-nilai sebagai pedoman tindakan.
Mempertimbangkan hal di atas, kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan linguistik, kecakapan intelektual, strategi kognitif, keterampilan fisik, dan disposisi adalah indikator keberhasilan belajar yang paling dapat diandalkan dalam penelitian ini.
2. Hakikat Model Pembelajaran
a. Definisi Model Pembelajaran
Sebagai penggerak penting dalam roda pendidikan, guru harus percaya bahwa mereka hanya perlu memiliki kemampuan untuk membuat sedikit penyesuaian pada model pengajaran untuk meningkatkan lingkungan belajar bagi siswa mereka dan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Sekarang, pendidik tidak harus terpaku pada satu metode pengajaran; sebaliknya, mereka mungkin bereksperimen dengan beberapa pendekatan untuk menciptakan lingkungan kelas yang tidak membosankan atau mengecilkan hati siswa mereka. Di dunia yang berteknologi maju saat ini, hal ini berdampak pada pengembangan metode pengajaran baru yang bertujuan untuk membuat pengalaman pendidikan lebih menarik bagi siswa dengan menggunakan berbagai teknik dan pendekatan yang berbeda. Tujuan dari model instruksional ini jelas: untuk memastikan bahwa siswa belajar apa yang mereka butuhkan dengan segala cara yang mungkin. Untuk tujuan itu, para pendidik semakin bereksperimen dengan metode pengajaran yang berbeda dengan harapan menciptakan lingkungan kelas yang lebih menarik bagi siswa muda dan, pada gilirannya, menginspirasi keinginan mereka untuk belajar. Hasil belajar yang diinginkan adalah hasil yang diinginkan,
bukan saja pada bidang pengetahuan tetapi juga aspek keterampilan motorik dan pola sikap dan tingkah laku yang diharapkan dapat tidak hanya dalam tataran kognitif saja, melainkan psikomotorik dan afektifnya turut membangun dan bertambah maju yang berujung pada peningkatan kemampuan siswa. Pendidik harus mempertimbangkan dengan cermat materi pelajaran yang ingin mereka bahas sebelum memulai kegiatan pengajaran dan memilih metode metode pengajaran yang cocok untuk itu.
Mengingat kesulitan guru dalam melaksanakan tanggung jawab pedagogis mereka dan kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar, model pendidikan dapat dilihat sebagai upaya untuk memecahkan masalah ini. Menurut Hanafiah dan Suhana (2012:41), model pedagogis adalah salah satu cara terbaik untuk membantu siswa beradaptasi dan mengambil manfaat dari pengetahuan generasi baru. Model pembelajaran memiliki ikatan yang kuat dengan gaya belajar dan mengajar siswa dan guru masing-masing, yang disingkat menjadi SOLAT (Style of Learning and Teaching).
Menurut Rusman (2011:41), Model pembelajaran adalah layout atau gambaran imajiner yang memformalkan kegiatan yang teratur untuk memberikan pengalaman dalam belajar dalam melayani pencapaian tujuan tertentu dan bermanfaat sebagai alat pemandu bagi administrator pendidikan dan guru dalam merencanakan strategi instruksional. Sagala (2009:175) menguraikan definisi model, menjelaskan bahwa itu adalah desain sederhana dari sistem kerja, deskripsi sistem yang berpotensi layak atau tidak masuk akal, dan demonstrasi langsung dalam bentuk instruksi adalah contoh dari jenis penyederhanaan ini.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2008:247), Instruksi, atau "mengajar," adalah tindakan yang direncanakan guru dimaksudkan untuk memimpin siswa mereka untuk secara aktif terlibat dengan materi pembelajaran. Untuk mendukung proses pembelajaran bagi siswa, harus ada interaksi antara pembelajar dan sumber belajar yang memiliki kesamaan unsur tujuan, isi, metodologi, dan penilaian.
Seperti yang telah dijelaskan, model pendidikan dimaksud dimaksudkan untuk membantu guru mengatasi hambatan yang mereka hadapi dalam mendidik siswanya, khususnya dengan memungkinkan mereka untuk lebih mudah beradaptasi dengan keadaan siswanya untuk membawa perubahan yang diinginkan pada siswanya. ' sedang belajar. Sebagai kerangka atau desain konseptual (diinformasikan oleh pembelajaran dan teori pendidikan), dimaksudkan untuk membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih aktif dengan menekankan pentingnya akses ke materi pembelajaran dalam penataan pengalaman pendidikan mereka sehingga mereka lebih mungkin untuk mencapai hasil belajar tertentu. .
Buchori (2008:101) mengidentifikasi empat konsep berikut sebagai contoh model pendidikan yang berbeda. Model yang berbeda mengajarkan perkembangan melalui kondisi yang berbeda termasuk komponen yang berbeda seperti fokus, sikap, jaringan sosial, dan struktur pendukung.
Lebih lanjut Sagala (2009) memberikan pendapatnya tentang ciri dari model-model pembelajaran yaitu :
1) Memiliki prosedur metodis. Model pedagogis lebih dari sekadar kumpulan fakta yang tidak terhubung; itu adalah prosedur metodis untuk mengubah perilaku siswa berdasarkan premis-premis yang diandaikan.
2) Tujuan individual untuk hasil belajar. Setiap model mengajar dengan menguraikan hasil belajar spesifik yang diharapkan dari siswa, ditunjukkan dalam sampel pekerjaan yang dapat diukur. Apa yang diharapkan siswa tunjukkan setelah jadwal kursus dipetakan dengan cermat dan khusus.
3) Konsentrat pemeliharaan lingkungan. Menyiapkan lingkungan belajar yang sangat disesuaikan.
4) Tingkat keberhasilan, model harus memberikan kriteria tingkat pekerjaan yang diharapkan siswa. Guru harus senantiasa mengilustrasikan dan menjelaskan hasil belajar siswa dalam bentuk tindakan yang harus mereka tunjukkan setelah menyelesaikan rencana pembelajaran.
5) Interaksi dengan lingkungan, paradigma pengajaran yang menetapkan pedoman interaksi dan reaksi antara siswa dengan alam sekitarnya.
Model pendidikan memiliki arti yang lebih luas daripada strategi, metode, atau prosedur, menurut Trianto (2009:23). Model pembelajaran yang sukses akan memiliki empat karakteristik unik yang tidak dapat ditandingi oleh satu strategi, metodologi, atau prosedur. Elemen kuncinya adalah:
1) Skema keacakan dan logis yang sudah diuraikan secara jelas oleh pembuat atau developernya
2) Landasan konsep mengenai sesuatu dan dengan cara apa siswa belajar (target dari proses belajar yang hendak dipenuhi)
3) Metode instruksional yang telah dibuang untuk kepentingan keberhasilan implementasi pola yang telah ditentukan
4) Kondisi domain belajar yang dibutuhkan untuk pencapaian target dari pembelajaran agar dapat tercapai
Penjelasan di atas merujuk terhadap ditariknya sebuah simpulan mengenai pengertian model pembelajaran adalah rancangan kegiatan yang bersifat dinamis yang digunakan untuk meningkatkan lingkungan belajar, karena pengajaran paling efektif ketika melibatkan kolaborasi erat antara guru dan siswa dari waktu ke waktu. Setiap model lingkungan belajar harus mendasarkan kegiatannya pada tahap tertentu dari kurikulum komprehensif yang meningkatkan lingkungan belajar. Bergantung pada tujuan pembelajaran, strategi ini bisa sangat membantu guru untuk membawa siswa mereka ke tempat yang mereka inginkan. Siswa harus diarahkan pada tujuan pembelajaran dengan menggunakan model pedagogis yang telah ditentukan, diharapkan.
Dengan demikian, pemilihan model harus dilakukan sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, dan teori pedagogis sebelum benar-benar menerapkannya. Oleh karena itu, dalam hal penyampaian konten, model pedagogis adalah alat atau pendekatan yang digunakan oleh guru untuk membimbing pelajaran mereka menuju tujuan pembelajaran tertentu, seperti menanamkan pengetahuan materi pelajaran kepada siswa mereka.
b. Keistimewaan dari Model Pembelajaran
Kekhasan dari suatu model pembelajaran adalah pembeda yang menjadi ciri khusus yang membedakan dengan model atau teknik pembelajaran lainnya. Widdiharto (2004:3) menjelaskan tentang 4 kekhasan dari model pembelajaran, yaitu :
1) Memiliki sifat yang logis dari sudut pandang toeri yang dibuat oleh penyusunnya
2) Mempunyai misi khusus tentang pencapaian tujuan dari model pembelajaran tersebut
3) Perlunya tindak mengajar agar pada pelaksanaannya model pembelajaran tersebut dapat berhasil
4) Adanya lingkungan belajar yang mendukung pencapaian tujuan dari pembelajaran yang dilakukan
Selanjutnya menurut pendapat dari Tobing yang dikutip oleh Indrawati dan Setiawan (2009:27) mendeskripsikan 5 sifat khusus dari model pembelajaran yang dinyatakan baik, yaitu :
1) Memiliki Proses ilmiah
Setiap model pembelajaran wajib mempunyai proses ilmiah yang terstruktur dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjadi acuan bagi perubahan perilaku siswa dalam belajar. Sintaks atau urutan tindakan adalah strategi dari model pembelajaran tersebut yang dijadikan pedoman baik oleh guru atau siswa dalam pelaksanannya.
2) Detail hasil belajar yang telah disusunnya
Pada sebuah model pembelajaran wajib mencantumkan kriteria dari hasil belajar yang dihasilkan secara jelas yang berhubungan dengan kemampuan siswa.
3) Detail dan Kondisi lingkungan tempat belajar
Pada satu jenis model pembelajaran sudah menjelaskan secara gamblang tentang keadaan lingkungan siswa dalam belajar
4) Standar Kinerja
Sebuah model pembelajaran ditentukan oleh tingkat kinerja siswa yang diharapkan. Asumsi tentang kemampuan siswa dimasukkan ke dalam model pembelajaran, dan kinerja siswa yang sebenarnya ditunjukkan setelah ......................kaian langkah pengajaran yang telah ditentukan.
5) Teknis Pelaksanaan
Pada keseluruhan model pembelajaran semuanya menunjuk pada mekanisme dasar yang mengungkapkan tanggapan dan interaksi siswa dengan lingkungan mereka.
Seorang guru yang efektif harus mampu mengkonseptualisasikan bagaimana instruksi akan disampaikan. Model pedagogis adalah rencana bagaimana instruksi akan dilakukan di kelas. Melihat karakteristik dan kriteria unik model tersebut di atas, jelaslah bahwa guru harus memilih metode pengajaran sebelum memulai pelajaran. Kerangka desain instruksional yang dipikirkan dengan matang memungkinkan guru untuk menyesuaikan pelajaran mereka dengan siswa berdasarkan kebutuhan individu mereka dan konteks di mana mereka disampaikan. Akibatnya, proses pendidikan akan berjalan lancar dan tepat sesuai dengan lingkungan belajar.
c. Jenis Model Pembelajaran
Keberhasilan dari penerapan model pembelajaran oleh seorang guru dapat dipengaruhi apakah mereka menggunakan model pengajaran yang efektif atau tidak. Hal ini memungkinkan guru untuk memilih metode pengajaran terbaik untuk memastikan siswa mereka belajar apa yang mereka butuhkan. Ada banyak jenis model pembelajaran yang dapat digunakan di kelas, seperti yang dijelaskan oleh Komalasari (2010:58-88) diantaranya :
1) Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)
Barrow (dalam Barret, 2005: 14) mendefinisikan pembelajaran berbasis isu sebagai “pembelajaran yang terjadi dari tindakan bekerja menuju pengetahuan tentang pemecahan masalah”. Pembelajaran berbasis masalah, atau PBL, adalah jenis pembelajaran yang muncul dari proses bekerja menuju pemahaman tentang bagaimana memecahkan masalah. Pertama kali siswa menghadapi masalah dalam proses pembelajaran seringkali merupakan hal yang paling berkesan. Sedangkan Daniel Tillman (2013:3) berpandangan bahwa: Problem Based Learning adalah proses Inkuiri yang menjawab pertanyaan, memuaskan rasa ingin tahu, dan menghilangkan keraguan dan ketidakpastian tentang peristiwa kehidupan yang paling rumit. Pada dasarnya, sebuah isu adalah segala bentuk pertanyaan, tantangan, atau ambiguitas yang meminta, atau membutuhkan, jawaban. Pembelajaran berbasis masalah dapat dianggap sebagai prosedur investigasi untuk menjawab pertanyaan dan menjernihkan ketidakpastian dan keraguan tentang fenomena kompleks dalam kehidupan nyata. Masalah adalah ancaman, kesulitan, atau kurangnya kepercayaan diri yang mengalihkan perhatian dari atau memerlukan banyak jenis penyelesaian atau perbaikan.
2) Cooperative Learning
Model pembelajaran ini menggunakan pendekatan instruksional yang mengutamakan bentuk kegiatan siswa untuk bisa bekerja secara berkelompok agar bisa memenuhi sasaran yang telah ditentukan bersama. Siswa dalam pembelajaran kooperatif terlibat dalam studi dan pekerjaan proyek dalam kelompok kecil dengan siswa lain; kelompok-kelompok ini berkisar dari empat hingga enam orang dan memiliki komposisi yang bervariasi berdasarkan materi pelajaran dan faktor lainnya.
Menurut Sugiyanto (2009:40), pembelajaran kooperatif adalah proses yang dilakukan dengan secara sadar dan sengaja mengelaborasikan hubungan yang cerdas secara emosional (memuncukan sifat kebersamaan dan saling menghargai) untuk menghindari kebingungan dan terjadinya perselisihan pendapat yang mungkin mengarah pada konflik. Hasil belajar yang diperoleh melalui pembelajaran kooperatif tidak terbatas pada nilai akademik; melainkan, mereka juga mencakup nilai-nilai moral dan spiritual seperti perasaan tanggung jawab pribadi, saling menghormati, kasih sayang, dan penghargaan atas kehadiran satu sama lain dalam hidup kita.
Pembelajaran kooperatif dan kerja kelompok berjalan beriringan, setidaknya dalam teori. Banyak guru yang bersikeras bahwa pendidikan kooperatif tanpa cacat karena mereka secara rutin menggunakannya dalam bentuk belajar kelompok, meskipun tidak setiap belajar kelompok disebut sebagai pembelajaran kooperatif. Istilah "pembelajaran kooperatif" digunakan oleh Lie (2018:12) untuk menggambarkan metode pengajaran di mana siswa bekerja sama dalam tugas terstruktur.
3) Project Based Learning
Menurut Goodman dan Stivers (2010), model PBL adalah kerangka program pengajaran yang disusun di atas aktivitas pembelajaran dan tanggung jawab dunia nyata yang memberi siswa tantangan yang biasa terjadi pada lingkungan sehari-hari mereka dan dimaksudkan untuk ditangani dalam kelompok kecil. Menurut Afriana (2015), metode PBL adalah metode pengajaran yang berpusat pada siswa yang memberikan siswa pengalaman kelas yang bermakna.
Tindak tanduk belajar siswa dalam domain akademik dan konseptual dibangun di sekitar hasil pembelajaran berbasis proyek. Menurut Grant (2002), PBL adalah metode pengajaran yang mendorong siswa untuk melakukan penelitian mendalam tentang topik tertentu. Peserta didik terlibat dalam peer review konstruktif dengan mengambil pendekatan data-informasi untuk masalah dan pertanyaan yang konkret, otentik, dan kontekstual di alam. Wena (dalam Lestari, 2015: 14) berpendapat bahwa paradigma pembelajaran berbasis proyek (PBL) memberikan kesempatan kepada guru untuk mengelola pengajaran di kelas dengan memasukkan pekerjaan proyek siswa. Bekerja pada sebuah proyek adalah jenis pekerjaan unik yang memberi siswa tanggung jawab kompleks berdasarkan pertanyaan dan masalah yang menarik, sementara juga mendorong mereka untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara mandiri. Pendekatan PBL membuat suasana belajar menjadi lebih konstruktivis di mana siswa menyusun wawasan mereka sendiri dan guru bertindak sebagai fasilitator. Dalam sebuah studi 2010 (Goodman & Stivers),
4) Service Lerning (Pembelajaran Pelayanan)
Service-Learning sebagai metode pengajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa. "Pembelajaran Layanan" mengacu pada jenis pembelajaran konstruktif yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa melalui kontak langsung dengan lingkungan alam mereka. Strategi KKN meliputi (1) membentuk kelompok siswa yang beragam, (2) meminta mereka mencari masalah melalui observasi lapangan langsung, (3) meminta mereka mengadakan diskusi kelompok untuk memutuskan topik masalah, (4) meminta mereka merancang solusi untuk masalah tersebut. , (5) dan meminta mereka mengimplementasikan solusi tersebut dalam pengaturan dunia nyata.
Siswa mendapat manfaat dari pendekatan Service-Learning karena memungkinkan mereka untuk belajar sambil bekerja, meningkatkan kepercayaan diri mereka, dan membantu mereka mencapai potensi penuh mereka. Akibatnya, siswa dapat memiliki interaksi langsung dengan lingkungan terdekat mereka dan mendapatkan pengalaman dunia nyata melalui penggunaan pembelajaran layanan. Di antara manfaat Service-Learning yang Morgan dan Streb (2001:166) sorot adalah bahwa "siswa memiliki tanggung jawab nyata, tugas yang menantang, membantu merencanakan proyek, dan membuat keputusan penting, keterlibatan dalam proyek Service-Learning memiliki dampak yang signifikan dan substantif pada peningkatan konsep diri siswa, keterlibatan politik, dan sikap terhadap kelompok luar."
Siswa dapat terinspirasi untuk bekerja lebih banyak dan belajar lebih cepat melalui partisipasi dalam pembelajaran berbasis layanan, yang mengarah pada peningkatan hasil akademik. Hal ini didukung oleh ide-ide Eyler dan Giles (1996:4), yang menyatakan bahwa kelebihan model ini antara lain: (1) siswa akan belajar lebih banyak dan lebih termotivasi untuk bekerja dan belajar dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. pengaturan kelas; (2) mereka juga akan memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang materi pelajaran dan kompleksitas masalah sosial; (3) mereka akan dapat fokus pada materi pelajaran untuk jangka waktu yang lebih lama.
5) Work-Based Learning (Pembelajaran Berbasis Kerja)
WBL juga dikenal sebagai Pembelajaran Berbasis Kerja, telah memainkan peran penting dalam peningkatan program pendidikan di seluruh dunia. Pembelajaran berbasis kerja (WBL) adalah metode pengajaran yang memungkinkan siswa untuk menerapkan apa yang mereka pelajari di kelas ke situasi dunia nyata, memungkinkan mereka untuk lebih memahami bagaimana pengetahuan kelas mereka dapat diterapkan di tempat kerja. WBL juga melibatkan pengintegrasian berbagai kegiatan dan kerja dengan materi pelajaran untuk memenuhi kebutuhan spesifik setiap siswa. Pembelajaran berbasis kerja, atau PBL, telah menjadi tren pendidikan populer karena meningkatkan kepuasan siswa dan memberi guru peran yang lebih menonjol di kelas (Woltering, Herrler, Spitzer, & Spreckelsen, 2009:1131). Pembelajaran terkait pekerjaan yang merupakan bagian dari modul atau program studi yang disediakan atau diakui oleh institusi dan mitranya dapat memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit akademik. Bern dan Erikson (2001:8) berpendapat bahwa siswa membutuhkan instruksi kelas dan pembelajaran berbasis kerja yang terintegrasi bersama untuk sepenuhnya memahami dunia kerja. Menurut Raelin (2008:2), Work-Based Learning, atau Pembelajaran Berbasis Kerja, menggabungkan teori dengan praktik, pengetahuan dan keterampilan, secara eksplisit. Pembelajaran berbasis kerja (juga dikenal sebagai PBL) mengakui bahwa tempat kerja memberikan kesempatan belajar sebanyak ruang kelas. Salah satu bentuk Work-Based Learning (WBL) adalah pendekatan “sistem magang/PKL”. Dengan metode ini, siswa mengamati dengan cermat dan meniru tindakan seorang ahli atau guru untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperlukan untuk berhasil di bidangnya sendiri.
6) Concept Attainment Model (Pembelajaran Konsep)
Concept Acquisition Model (CAM) adalah metode untuk mengenali dan mendefinisikan suatu konsep melalui penemuan karakteristik esensial yang sesuai dengan definisi konsep yang diajarkan (Ibrahim, 2013:72). Model konseptual yang disajikan di sini adalah pendekatan pembelajaran induktif yang dirancang untuk membantu siswa dari segala usia dalam memperluas pemahaman mereka tentang konseptualisasi dan pengujian hipotesis.
Model ini menggunakan contoh positif dan negatif; itu mengacu pada penelitian ke dalam proses kognitif untuk menunjukkan bahwa belajar adalah proses aktif di mana informasi baru dikumpulkan, diproses, diurutkan, dan dibentuk dengan cara yang khas bagi individu. Dalam paradigma ini, guru memberikan tugas, tetapi tugas tersebut berpotensi berkembang menjadi percakapan terbuka. Guru melarang dialog siswa-siswa di kelas. Diharapkan dengan meminta siswa berperan aktif dalam merencanakan kegiatan kelas, siswa akan mengembangkan apresiasi yang lebih besar atas inisiatif mereka sendiri dan menjadi lebih berinvestasi dalam pembelajaran melalui pembelajaran kolaboratif dan pengalaman (Joyce, 2009:97).
Model Pembelajaran Akuisisi Konsep adalah metode yang sangat efisien untuk menyediakan konten pendidikan yang terorganisir dengan baik di berbagai bidang studi. Keuntungan dari paradigma akuisisi konsep ini antara lain memfasilitasi pembelajaran yang lebih mudah dan efisien. Faktanya, telah ditunjukkan melalui penelitian akademis dan praktis yang ketat bahwa model akuisisi konsep dapat digunakan untuk melayani kebutuhan pendidikan siswa dari segala usia.
7) Value Learning (Pembelajaran Nilai)
Teori pembelajaran nilai telah berkembang di negara-negara Barat; contohnya termasuk model Isu Kontroversial Kohlberg yang terkenal, model Pertanyaan Penyelidikan Nilai Taba, dan Teknik Klarifikasi Nilai (VCT) Djahiri. Menurut Djahiri (Ariantha, 2011), Value Clarification Technique (VCT) adalah metode untuk menggambar dan menjelaskan nilai-nilai unik siswa. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sanjaya (dalam Taniredja, dkk., 2012: 87–88), yang menjelaskan bahwa pengajaran yang berpusat pada nilai (VCT) adalah metode pengajaran yang dirancang untuk membantu siswa dalam menemukan dan menentukan nilai yang baik untuk mengatasi suatu masalah dengan menganalisis nilai-nilai yang sudah ada dan mengakar dalam diri siswa. VCT, sebagaimana dijelaskan oleh Hall (Adisusilo, 2013: 144), adalah proses di mana guru membantu siswa menemukan nilai-nilai yang mendasari keyakinan, tindakan, dan keputusan mereka sendiri.
d. Pembelajaran Berbasis Proyek
1) Definisi Pembelajaran Berbasis Proyek
Pendekatan PBL untuk pendidikan memberi guru kebebasan untuk memasukkan pekerjaan proyek siswa ke dalam pengajaran di kelas. Pembelajaran berbasis proyek telah terbukti meningkatkan tingkat kreativitas dan motivasi siswa. Pekerjaan proyek dapat dianggap sebagai semacam pembelajaran berbasis aktivitas kontekstual terbuka, dan merupakan komponen dari proses pembelajaran yang memberikan fokus terkonsentrasi pada pemecahan masalah dalam bentuk upaya kolaboratif yang dilakukan selama proses pembelajaran selama yang telah ditentukan. kerangka waktu (Istarani, 2012:45).
Paradigma pedagogik PBL melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dan memberi mereka kesempatan untuk bekerja secara mandiri. Siswa terlibat dalam memecahkan masalah dan mengerjakan tugas dengan makna selain maknanya sendiri, mereka memiliki kesempatan untuk bekerja secara mandiri untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, dan mereka mampu memenuhi keinginannya sendiri untuk menciptakan produk nyata sebagai hasil dari pendidikannya (Wena, 2006:145). Siswa diharapkan dapat menganalisis masalah, menemukan solusi, mengambil keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara mandiri sebagai bagian dari model pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran berbasis proyek adalah metodologi yang menekankan ide-ide kunci dan konsep suatu disiplin, melibatkan siswa dalam memecahkan masalah dunia nyata dan tugas yang bermakna, mendorong pembelajaran mandiri dan penciptaan karya asli, dan penghargaan siswa atas usaha mereka.
Istilah "pembelajaran berbasis proyek" mengacu pada metode pengajaran yang bertujuan untuk menghubungkan instruksi kelas dengan keprihatinan dunia nyata siswa melalui penyelesaian usaha berbasis sekolah yang otentik. Pembelajaran berbasis proyek merupakan pendekatan pendidikan yang melibatkan siswa secara aktif dalam penelitian. Siswa melakukan penelitian mereka sendiri atau dalam kelompok kecil sehingga mereka dapat memperoleh dan mengasah keterampilan yang akan membantu mereka berhasil di sekolah. Siswa dalam lingkungan belajar berbasis proyek didorong untuk berpikir kritis tentang berbagai masalah, termasuk yang memiliki potensi untuk memotivasi mereka, dan untuk terlibat dalam konfrontasi langsung dengan konsep dan prinsip yang mendukung berbagai bidang pengetahuan. Siswa dapat mengatur waktu mereka sendiri untuk menyelesaikan proyek mereka dan mengenali masalah mereka sendiri sebagai tantangan atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban (Warsono, 2012:153)
2) Prosedur Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Implementasi dari satu model pembelajaran berbeda dengan model pembelajaran lainnya. Implementasi harus berdasarkan urutan tata kerja dari model pembelajaran tersebut, karena ketepatan dalam pelaksanaan akan memberikan hasil yang maksimal, salah satunya adalah penerapan model pembelajaran berbasis proyek atau biasa disebut dengan istilah project based learning.
Penjelasan mengenai urutan pelaksanaan model pembelajaran berbasis proyek ini adalah :
a) Penetapan proyek, kegiatan belajar mengajar diawali kegiatan apersepsi berupa tanya jawab sekitar materi yang dibahas. Hal ini bertujuan agar siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Materi yang akan disampaikan disesuaikan dengan kondisi riil yang ada di lingkungan sekitar siswa.
b) Merancang rencana proyek, kegiatan perencanaan ini dilaksanakan berkoordinasi antara guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pembelajara. Dalam perencanaan tersebut berisikan petunjuk pada saat pembuatan proyek, kegiatan yang akan dilaksanakan, peralatan serta bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
c) Membuat urutan kegiatan, dalam hal ini dilakukan bersama-sama antara guru dan siswa dalam penyusunan jadwal penyelesaian proyek dimaksud. Ketentuan waktu harus jelas, siswa diberikan pengarahan agar dapat mengatur waktu dengan baik, langkah selanjutnya siswa diberikan kesempatan untuk mencari hal-hal baru, dan guru bertugas memberikan arahan dan pengawasan agar kegiatan siswa sesuai dengan tujuan proyek dan tidak keluar dari alur tujuan proyek yang dilaksanakan.
d) Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek. Guru bertugas mengamati kegiatan siswa pada saat melaksanakan kegiatan proyek dengan cara memberikan fasilitas kepada siswa pada tiap tahapan proses yang dilakukan. Hal ini mengindikasikan bahwa guru bertugas sebagai pembimbing bagi kegiatan siswa.
e) Melakukan pengujian hasil, kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah guru dalam menilai capaian standar pembelajaran, bermanfaat dalam melakukan penilaian terhadap perkembangan siswa, menyampaian umpan balik mengenai daya serap materi yang telah dicapai siswa, serta dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk mempersiapkan teknik pembelajaran berikutnya. Untuk memberikan penilaian terhadap produk yang dihasilkan oleh tiap-tiap kelompok dilakukan dengan kegiatan presentasi di depan kelas di hadapan masing-masing kelompok secara berganti-ganti sampai semua kelompok mempresentasikan hasil prosuknya.
Melaksanakan kegiatan evalusi terhadap pengalaman siswa, dalam hal ini guru beserta siswa melakukan kegiatan refleksi yang dilaksanakan pada akhir kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan refleksi ini bisa dilakukan dengan teknik indvidual maupun berkelompok (Soetopo, 2005:144)
Strategi pembelajaran berbasis proyek pada tahap ini, guru memberikan proyek yang ditugaskan kepada siswa untuk dikerjakan. Menentukan berapa lama proyek akan berlangsung adalah fokus dari tahap ini. Pada tahap ini, guru akan menjelaskan langkah-langkah yang terlibat dalam membuat proyek yang berkaitan dengan materi pelajaran dan siswa akan mengembangkan rencana kegiatan yang akan diselesaikan. Rencanakan evaluasi, dengan tahap saat ini melihat daftar guru beberapa tujuan evaluasi dan pemilihan alat evaluasi mana yang akan digunakan. Tahap pelaksanaan proyek ini merupakan awal dari proses pembelajaran untuk materi pelajaran yang telah direncanakan di kelas. Tahap ini adalah hasil akhir dari suatu forum khusus, yaitu ditulis atau menulis hal-hal yang penting dalam proses pembelajaran.
Prosedur penerapan pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan dalam beberapa tahapan yaitu :
a) Tahapan orientasi yaitu tahapan memunculkan motivasi belajar dari diri siswa itu sendiri dan pemberian informasi dan pertanyaan penjelas.
b) Tahapan perancangan yaitu tahapan pada saat diberikan kesempatan untuk melakukan tindak lanjut dari informasi dan pertanyaan penjelas untuk melaksanakan kegiatan merancang proyek yang akan mereka susun. Pada tahapan ini dilaksanakan juga kegiatan menyusun agenda kegiatan yang dijadikan dasar untuk penyelesaian proyek yang telah dirancang.
c) Tahapan ketiga yaitu kegiatan inti model proyek, yaitu kegiatan pelaksanaan proyek yang telah dipersiapakan berdasarkan ketetapan waktu yang sudah disusun.
d) Tahapan penilaian adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan kegiatan proyek dan hasil kerja proyek itu sendiri. Tahapan penilaian ini bermanfaaat sebagai feed back bagi guru untuk merancang dan membuat konsep pembelajaran selanjutnya. Di samping itu kegiatan ini juga bermanfaat bagi guru untuk memberitahukan tingkat efektivitas rencana dan proses kegiatan proyek yang telah dilakukan dan sekaligus dijadikan dasar untuk mengukur kualitas dari produk yang dihasilkan (Sutirman, 2017:81).
Dari tahapan-tahapan di atas, ada beberapa perbedaan, tetapi tujuannya sama: diskusikan pemberian pertanyaan yang mungkin memotivasi siswa untuk belajar, kemudian minta siswa merencanakan sebuah proyek dengan bimbingan guru mereka. Tahapan selanjutnya adalah membuat jadwal proyek dengan guru. Kemudian, guru memantau prosesnya. Penilaian adalah tahapan selanjutnya, digunakan untuk menilai pengetahuan, kemampuan menerapkan, kemampuan meneliti, dan kemampuan menerapkan keterampilan untuk membuat suatu proyek atau pekerjaan.Tahapan selanjutnya adalah evaluasi, yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk merefleksikan pembelajaran mereka baik secara individu maupun kolektif. Jadi model ini menunjukkan bahwa penerapan paradigma pembelajaran berbasis proyek dapat membuat siswa menjadi bertambah aktif dan bertambah kreatif ketika merancang produk nyata.
3) Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Proyek
a) Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek
Penerapan model pembelajaran berbasis proyek ini mempunyai manfaat yang baik terhadap guru dan siswa karena pembelajaran berbasis proyek dapat menambah minat belajar siswa dan membuat siswa tidak hanya terfokus pada bahasan materinya saja tetapi juga mengharuskan siswa untuk dapat menyusunnya menjadi sebuah proyek. Beberapa kelebihan model pembelajaran berbasis proyek diantaranya :
(1) Dapat menambah tingkat motivasi bejar siswa. Siswa menjadi bersungguh-sungguh dan berupaya dengan sekuat tenaga untuk menyelesaikan proyek yang dilakukannya sehingga proses pembelajaran menjadi menyenangkan.
(2) Menambah keterampilan siswa dalam memecahkan masalah sehingga siswa dapat meningkatkan keaktifan belajarnya dan dapat menyelesaikan permasalahan yang lebih komplek dalam proyek yang dilakukannya.
(3) Meningkatkan kerjasama dan menanamkan pentingnya arti kerja secara berkelompok dalam kegiatan proyek sehingga siswa harus bisa mengembangkan dan menerapkan kemampuannya dalam berkomunikasi.
(4) Menguatkan kemampuan siswa dalam pengelolaan sumber daya yang ada, menetapkan alokasi waktu dan bahan-bahan pendukung lainnya misalnya peralatan yang digunakan dalam kegiatan proyek.
(5) Memacu siswa agar dapat mengupayakan perkembangan dan kemampuan praktik dalam berkomunikasi.
(6) Menyiapkan keahliannya dalam belajar dengan keterlibatan siswa secara menyeluruh dan merancang dagar dapat berkembang sesuai kenyataan yang ada
(7) Menambah peran siswa secara aktif dalam belajar terutama dalam pengambilan informasi dan aspek pengetahuan yang dipunyai oleh siswa untuk selanjutkan dapat diterapkan dalam proses pembelajaran
(8) Menciptkan kondisi belajar yang kondusif dan menyenangkan yang dapat membuat siswa maupun guru bisa merasakan situasi belajar yang menggembirakan. (Wena (2012:160).
Menurut Moursund (dalam Wena (2012:167), pembelajaran berbasis proyek meningkatkan motivasi belajar, sehingga siswa bekerja lebih keras untuk belajar lebih banyak dan menemukan jawaban untuk memecahkan suatu proyek. Lingkungan Berbasis Proyek membuat siswa lebih aktif dalam memecahkan masalah yang kompleks. Untuk meningkatkan keterampilan belajar, siswa harus dapat dengan cepat mendapatkan informasi dari banyak sumber Meningkatkan kerjasama untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan komunikasi Meningkatkan keterampilan pengelolaan sumber daya
b) Kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
Hanafi (2010) menguraikan kelemahan dari penggunaan model pembelajaran berbasis proyek diantaranya :
(1) Perlu banyak waktu untuk menyelesaikan masalah, bahkan jika sudah mengalokasikan banyak waktu masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk mendapatkan hasil terbaik.
(2) Biaya banyak untuk membuat sebuah proyek, tetapi berapa banyak bervariasi tergantung pada jenis proyek yang dibuat.
(3) Ada banyak peralatan yang dibutuhkan untuk memulai proyek.
(4) Siswa yang mengalami kesulitan dalam eksperimen dan pengumpulan data akan mengalami kesulitan di sekolah.
(5) Kondisi kelas sulit diatur, dan siswa yang mengganggu dapat membuat pelaksanaan proyek yang sedang dilaksanakan
Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran berbasis proyek, seorang guru harus dapat memfasilitasi pemecahan masalah siswa, membatasi waktu siswa yang dihabiskan untuk proyek, menyediakan alat-alat sederhana yang tersedia di lingkungan lokal, dan menumbuhkan lingkungan belajar yang menarik (Hanafiah, 2010). :160).
Dengan demikian, setiap pendekatan pendidikan memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri; tidak terkecuali model Project-Based Learning (PBL). PBL memiliki potensi untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa di kelas, serta menumbuhkan lingkungan belajar yang lebih menyenangkan. Namun, pendekatan ini memiliki kelemahan tertentu, termasuk sejumlah besar persediaan yang diperlukan, biaya tinggi, dan waktu yang lama untuk menyelesaikan masalah. Siswa mungkin memiliki pengalaman belajar yang lebih bermakna dengan mengadopsi paradigma ini.
e. Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek pada Pembelajaran IPS
Pembelajaran materi IPS masih sering dipandang membuat frustasi oleh siswa di dalam kelas. Ini karena siswa tidak menikmati waktu mereka di kelas, yang berkontribusi pada rendahnya rasio siswa-guru dan rendahnya nilai yang diberikan pada pendidikan siswa (Lestari, 2021). Ketika mengajar IPS di kelas di mana penekanan hanya ditempatkan pada penggunaan buku teks untuk mencapai tujuan kurikulum yang harus dicapai siswa, kemungkinan besar lingkungan belajar yang menarik dan menyenangkan bagi siswa tidak akan tercipta. Salah satu inovasi pendidikan yang telah menunjukkan keberhasilan dalam menjadikan siswa lebih kreatif, kompetitif, dan berorientasi pada tim (kooperatif) adalah penggunaan pembelajaran berbasis proyek. Dalam konteks ini, model pembelajaran berbasis proyek adalah yang terbaik untuk mendorong pertumbuhan dan perkembangan akademik siswa (Ahmad, 2014).
Menurut Djajadisastra (2012), model pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan tampilan baru pada kelas tradisional jika strategi yang tepat digunakan. Tujuan dari pendidikan ini adalah untuk membuat strategi pengajaran konvensional seperti kuliah dan lembar kerja kurang umum di kelas. Siswa dalam pembelajaran berbasis proyek melakukan penelitian (pengumpulan bukti) dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan menggunakan apa yang telah mereka pelajari untuk membuat produk akhir. Di luar itu, metode pengajaran ini terkenal membingungkan.
Model pembelajaran berbasis proyek termasuk instruksi yang berpusat pada siswa (student centered) yang menekankan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran, eksplorasi konten, dan konstruksi makna dari pokok bahasan yang dibahas sehingga proses pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas tetapi juga dapat dilaksanakan di luar kelas.
3. Kemampuan Berpikir Kreatif
a. Pengertian Kemampuan Berpikir Kreatif
Siswono (2008:15) menjelaskan pendapatnya secara rinci tentang berpikir kreatif adalah kegiatan yang berasal dari dalam diri sendiri dan digunakan dalam pengembangan gagasan atau rencana yang inovatif. Pendapat lain dikemukan oleh Isaksen et al. (dalam Grieshober, 2004:181) melihat berpikir kreatif sebagai proses mengkonstruksi sebuah ide dengan penekanan pada polesan, orisinalitas, kebaruan, dan orisinalitasnya. Proses kreatif melibatkan sintesis ide, pengembangan ide-ide tersebut, perencanaan implementasinya, dan penerapannya untuk menciptakan sesuatu yang baru. Kreativitas adalah kapabilitas seseorang untuk memikirkan sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang orang lain pikirkan sebelumnya. Kreativitas siswa dalam pemecahan masalah merupakan produk dari keterampilan berpikir siswa yang dikembangkan.
Kemampuan untuk berpikir kreatif dada intinya adalah kecakapan yang dipunyai oleh seseorang sebagai cara untuk mewujudkan tingkat kreativitasnya. ” Creativity begins with original thought, which invariably produces useful and potentially groundbreaking new concepts.” (Feng, 2014:1). Penjelasan mengenai definisi kreativitas banyak dikemukakan oleh para ahli dengan norma yang berbeda-beda. Shriki (2010:160) mendefinisikan Because of the multifaceted nature of creativity, existing definitions tend to be imprecise at best.” yang artinya kreativitas adalah sesyau yang kompleks sehingga tidak dapat difenisikan secara rinci dan jelas. Ahli lain menyebutkan bahwa kreativitas memiliki berbagai arti dan interpretasi, itulah sebabnya definisi kreativitas yang diterima secara umum tetap sulit dipahami oleh banyak orang. Meskipun demikian, dengan mempelajari definisi kreativitas yang ditawarkan oleh banyak ahli, kita dapat lebih dekat untuk memahami makna sebenarnya dari kreativitas (Sriraman, 2011)
Berpikir kreatif untuk menghasilkan jawaban yang lebih luas dan bervariasi. Kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengenali hubungan yang sebelumnya tidak disadari antara ide-ide dan menciptakan kombinasi baru dari dua atau lebih ide yang dikembangkan sebelumnya. Berpikir kreatif dapat disimpulkan sebagai kemampuan untuk menghubungkan ide-ide dengan cara-cara baru atau untuk melihat yang sesuatu melalui cara pandang yang baru. (Susanto, 2013: 109).
Setiap orang dilahirkan dengan kemampuan bawaan untuk menggunakan ......................kaian pengalaman dan perspektif unik mereka sendiri untuk menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Terkadang pemikiran kreatif dilihat sebagai upaya untuk menjalin hubungan antara hal-hal yang sebelumnya tidak berhubungan. (Rawlinson, 1989:11). Hal ini menanamkan gagasan bahwa individu yang kreatif dapat mempertahankan sikap serius terhadap masalah hidup yang paling mendesak (Munandar, 2009:33).
Seseorang dalam keadaan pikiran ini dapat melihat masalah dengan cara yang segar, orisinal, dan mungkin inovatif. Menurut Krulik dan Rudnik (dikutip dalam Saefudin, 2012:40), berpikir kreatif merupakan salah satu tingkat berpikir yang tertinggi. Tingkatan tersebut adalah sebagai berikut: mengingat kembali, berpikir dasar, berpikir kritis, dan berpikir kreatif (berpikir kreatif). Mengingat yang lebih tinggi dari dua hukuman (penalaran). Sedangkan berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, berpikir lebih mendasar, dan berpikir lebih tinggi (high order thinking).
Berpikir kreatif, sebagaimana dijelaskan oleh Guilford (sebagaimana dikutip dalam Azhari dan Somakim, 2013), adalah wujud dari
bentuk opini yang selama ini belum memperoleh atensi yang baik pada ranah bidang pendidikan. Kemampuan berpikir kreatif dicirikan empat ciri, menurut Munandar (sebagaimana dikutip dalam Azhari dan Somakim, 2013): harapan, rasa ingin tahu, kejernihan berpikir, dan ketepatan dalam mengembangkan suatu gagasan.
Dari perspektif yang berbeda ini, kita dapat menyimpulkan bahwa berpikir kreatif adalah kemampuan untuk menanggapi peluang yang muncul dan menghasilkan hasil baru, untuk pribadi secara personal ataupun bagi komunitas di luaran.
b. Indikator pada Kemampuan Berpikir Kreatif
Orang yang mempunyai cara pikir yang kreatif lebih condong mempunyai pola pikir yang lebih inovatif, bebas dan bercabang-cabang dengan berbagai pilihan dan alternatif respon dan reaksi pada permasalahan yang dihadapinya (Rawlinson, 1974:12).
Menurut Munandar (2012) berpikir kreatif memerlukan sejumlah karakteristik, antara lain kemampuan berpikir abstrak, terbuka terhadap ide-ide baru, mencari pengalaman baru, dan tahan terhadap klise (dalam Andrianto, 2013:116). Wawasan Johnson lainnya adalah bahwa berpikir kreatif memerlukan langkah-langkah berikut: memunculkan permasalahan, mempergunakan logika pikir dalam menerima suatu informasi yang bersifat baru, menjalin sebuah hubungan, mentautkan bermacam-macam permasalahan secara terbuka, mempergunakan visi yang jelas, dan mampu beradaptasi secara naluriah (Alwasilah, 2002). Selain itu, orang-orang kreatif memiliki keterampilan seperti keluwesan, keaslian, penjabaran, dan campuran.
Dalam penelitian ini, kami memodifikasi indikator terkait kreativitas tipe kepribadian Munandar, yaitu kekokohan, kemampuan beradaptasi, dan orisinalitas. Penjelasan mengenai indikator berpikir kreatif menurut pendapat Munandar (2012) diuraikan pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Indikator Kemampuan Berpikir Kreatif
Dengan mempelajari proses berpikir kreatif dan banyak pengaruh di dalamnya, seseorang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif mereka melalui latihan. Keterampilan pemecahan masalah yang kreatif dapat membantu siswa di kelas meningkatkan nilai, hasil belajar, dan nilai akademis mereka secara keseluruhan. Oleh karena itu, kebebasan intelektual sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas, di mana siswa merasa aman mengemukakan ide-ide baru di kelas. Dua sudut dapat digunakan untuk menguji kemampuan berpikir kreatif. Pendekatan pertama melibatkan memperhatikan tanggapan siswa saat mereka bekerja untuk memecahkan masalah matematika, sebuah proses yang sering dianggap termasuk pemikiran kreatif. Langkah kedua adalah menentukan kriteria pemecahan masalah yang berhasil yang mungkin dikaitkan dengan pemikiran kreatif. Setelah membaca uraian di atas, Anda harus dapat menarik kesimpulan bahwa berpikir kreatif adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dengan menggunakan kombinasi pemikiran yang jelas, unik, dan terperinci untuk menemukan solusi.
c. Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran IPS
Sebagian besar pembelajaran bisa digunakan sebagai alat peningkatan kreativitas siswa. Pertanyaannya adalah bagaimana sebaiknya guru mengatur pelajaran mereka untuk memberikan pendekatan baru untuk pendidikan. Pembelajaran IPS dapat digunakan sebagai sarana untuk menumbuhkan kreativitas. Pembelajaran menggunakan kerangka IPS sangat meningkatkan kapasitas siswa untuk berpikir logis, kritis, berorientasi pada detail, sistematis, kreatif, dan orisinal.
Ruseffendi (1988) menegaskan ide ini, dengan alasan bahwa pemahaman manusia terdiri dari selusin kemampuan mental yang berbeda: kecepatan memproses informasi, ketepatan tata bahasa, memori semantik, kesadaran spasial, kelancaran verbal, dan kapasitas untuk memahami dan mengkomunikasikan ide-ide yang kompleks secara lisan. Empat dari kemampuan mental ini—kecepatan pemrosesan, kemampuan untuk menghukum, kesadaran spasial, dan keterampilan observasi—memiliki korelasi langsung dengan pengajaran IPS. Perkembangan imajinasi siswa sangat bergantung pada kemampuan kognitif tersebut. Mengingat bahwa keempat kemampuan kognitif ini sangat terkait dengan pengajaran IPS, maka IPS memiliki potensi untuk mendorong proses berpikir inovatif siswa. Penggunaan model pembelajaran dalam pendidikan IPS juga merupakan praktik yang umum, yang dimaksudkan untuk menginspirasi siswa untuk berpikir kreatif sambil menyerap materi pelajaran.
Ada kemungkinan bahwa model pendidikan yang berbeda dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kreatif mereka, karena siswa yang menggunakan model ini akan dapat memanipulasi jalan mereka dari satu ide ke ide lainnya. Ada berbagai pendekatan pedagogis mutakhir yang dapat digunakan untuk mengajar IPS, seperti model PjBL, model PBL, model inkuiri, model kooperatif, dan model berpikir kritis dan kreatif. model pembelajaran pemecahan masalah. Dalam konteks ini, Ruseffendi (1988) menekankan perlunya menghindari jatuh kembali pada metode mencoba-dan-benar untuk mendidik siswa kreatif (tes baku misalnya). Karena tes semacam itu ideal bagi mereka yang suka berkompromi dengan kriteria penetapan pertanyaan, dan karena pertanyaan semacam itu cenderung memunculkan hal terburuk dalam diri kreatif seseorang. Dia kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa kita dapat melengkapi metode yang disebutkan di atas untuk memelihara individu kreatif dengan terlibat dalam kelas, diskusi, proyek, dan lokakarya pemecahan masalah.
Pemecahan masalah dengan cara yang dijelaskan oleh Ruseffendi harus dianggap sebagai alternatif metode pengajaran tradisional, khususnya dalam konteks pendidikan IPS. Menerapkan model pembelajaran pemecahan masalah untuk pengajaran IPS dapat memicu rasa ingin tahu dan motivasi siswa, menumbuhkan kapasitas mereka untuk pemikiran orisinal dan memberikan berbagai jawaban, dan memperluas wawasan mereka secara intelektual.
B. Penelitian Terdahulu
1. Puspita (2019). Para peneliti akan menggunakan pendekatan kuasi-eksperimental dengan kelompok kontrol yang tidak setara untuk melakukan studi mereka. Temuan penelitian adalah sebagai berikut: setelah tes awal diberikan untuk membandingkan kemampuan berpikir kreatif siswa dalam kelompok eksperimen dan kontrol, tes kedua diberikan untuk mengukur seberapa banyak siswa tersebut telah meningkat: tes ini, yang disebut tes "keuntungan". . Namun, sebagian besar peningkatan berasal dari penghitungan Uji Gain. Peneliti menemukan bahwa siswa di kelas eksperimen menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kreatifnya sekitar 0,5031, menempatkan peningkatan ini dalam kategori “sedang”.
2. Aulia (2020). Peneliti menggunakan teknik yang dikenal sebagai penelitian kuasi-eksperimental, yang melibatkan pelaksanaan eksperimen di mana penempatan subjek ke dalam kelompok pembanding bersifat arbitrer daripada acak. Temuan studi tentang kemampuan berpikir kreatif meliputi pemikiran "lancar", pemikiran "fleksibel", pemikiran "asli", dan pemikiran "intens" (elaborasi). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar menggunakan model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) mendapat skor 82,61 pada Skala Kreativitas, sedangkan mereka yang diajar menggunakan pendekatan pedagogis yang lebih tradisional mendapat skor 55,24. Artinya penggunaan paradigma Project Based Learning (PBL) berpengaruh signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
3. Muhammad (2022). Penelitian ini menggunakan desain pre-experimental dengan single-group pretest and posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa rata-rata bernilai 60,96 sebelum menggunakan model berbasis proyek dan 85,38 sebelum menggunakan model berbasis proyek. Penulis penelitian ini menarik kesimpulan bahwa metodologi pembelajaran berbasis proyek secara signifikan meningkatkan keterampilan berpikir kreatif siswa.
4. Febriyanti. 2020. Eksperimen semu adalah metode pilihan. Penelitian ini menggunakan Matching Only Pretest-Posttest Design untuk kelompok kontrolnya. Temuan penelitian menggunakan format tes tertulis meliputi kategori untuk "kelancaran berpikir", "fleksibilitas pemikiran", "orisinalitas pemikiran", "elaborasi pemikiran", dan "penilaian pemikiran" (evaluasi). Deskripsi proyek buku pop-up menggunakan daftar periksa tahapan dalam pengembangan dan penyelesaian proyek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pedagogik Project Based Learning (PBL) berpengaruh signifikan terhadap keterampilan berpikir kreatif siswa selama penerapan kurikulum IPA di kelas lima Kurikulum Dasar Nasional Indonesia. Kajian ini juga berhasil menghasilkan prototipe buku pop-up dua dimensi yang berpengaruh pada dimensi fluid intelligence, adaptability, dan inovatif thinking (originality).
5. Kusadi. 2020. Studi dilakukan dengan menggunakan desain eksperimen komprehensif dengan kelompok kontrol posttest-only. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh positif terhadap keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kreatif siswa, (2) model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh positif terhadap keterampilan sosial siswa, dan (3) model pembelajaran berbasis proyek berpengaruh positif terhadap siswa ' keterampilan sosial. Model pembelajaran berbasis berpengaruh positif terhadap keterampilan sosial siswa. Kemampuan siswa untuk berpikir kreatif dipengaruhi oleh paradigma pendidikan yang dihadapinya. Kurikulum pembelajaran berbasis proyek menggabungkan semua sumber daya intelektual dan sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah dunia nyata. Guru yang mahir dalam paradigma pendidikan ini akan menggunakannya untuk keuntungan mereka di kelas, membawa hasil belajar yang lebih baik bagi siswa mereka dan kepuasan kerja yang lebih besar untuk diri mereka sendiri.
6. Niswara. 2019. Tes dan Dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan dalam proses penelitian. Hasil analisis akhir dari uji normalitas menunjukkan bahwa sampel diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Saat menghitung skor akhir ujian, Anda mendapatkan harga $9,3303. Namun, harga akhir ujian adalah $2,059.5 karena fakta bahwa >, oleh karena itu hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi di semua bidang mata kuliahnya. Persatuan dan Kesatuan Negeriku siswa yang mendapat perlakuan dengan menggunakan model indah. Alat pemecahan teka-teki berbasis media yang lebih diuntungkan dari fondasi proyek daripada yang tidak
7. Erika. 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, dan berbentuk eksperimen semu dengan menggunakan jenis nonequivalent control group design. Hasil penelitian berdasarkan sampling statistik menunjukkan bahwa siswa di kelas eksperimen mendapat nilai rata-rata 76,7 pada penilaian pasca pelajaran. Hasil uji histeria adalah 3.563 (thitung > ttabel), dan hasilnya telah dilaporkan secara resmi. Perkiraan ukuran dampak menghasilkan nilai 1,14 (tinggi). Ini berarti bahwa siswa kelas lima di SDN 30 Pontianak di bagian selatan Indonesia sangat diuntungkan dengan menggunakan metodologi pembelajaran berbasis proyek.
8. Manurung (2020), Hipotesis berikut telah digunakan dalam penelitian ini: Kemampuan berpikir kreatif mempengaruhi kinerja siswa di kelas matematika (1), motivasi siswa mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif mereka (2), latar belakang pengetahuan siswa mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif mereka ( 3), pemahaman konsep dan argumen siswa (4), dan empati siswa mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif mereka (5). Temuan studi ini menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kreatif siswa mungkin memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai matematika mereka di kelas lima hingga kelas tujuh, dan hasil verifikasinya menunjukkan bahwa keterampilan ini merupakan prediktor yang sangat signifikan untuk keberhasilan akademik.
9. Santosa (2017). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan prosedur desain eksperimen yang dikenal dengan perlakuan level 2x2. Hasil tes sejarah diukur dengan menggunakan tes ganda soal pilihan ganda, sedangkan tes berpikir kreatif menggunakan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) siswa yang mengikuti metode pembelajaran pemecahan masalah mengungguli siswa yang belajar menggunakan metode tradisional, dan 2) terdapat korelasi antara metode pembelajaran pemecahan masalah dengan keterampilan berpikir kreatif siswa. Siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan metode pemecahan masalah memiliki hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang mengikuti pembelajaran sejarah dengan metode tradisional, meskipun kedua kelompok tersebut memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif yang tinggi. Hasil belajar sejarah pada siswa yang mengikuti strategi pembelajaran konvensional namun memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah lebih buruk dibandingkan dengan siswa yang mengikuti strategi pembelajaran konvensional namun memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah.
10. Kristania (2016). Menganalisis hipotesis penelitian menggunakan uji F dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan yang signifikan antara keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan berpikir positif dengan prestasi belajar matematika siswa; (2) ada hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif siswa dengan prestasi belajar matematika; dan (3) ada hubungan yang signifikan antara kemampuan berpikir kreatif siswa dengan prestasi belajar matematika. Penelitian membahas tentang pengaruh paradigma pembelajaran berbasis proyek terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa; sebaliknya, penelitian penulis sendiri hanya berfokus pada satu variabel.
11. Sahwari (2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa mempengaruhi kinerja akademik mereka, dengan peningkatan besar dalam kinerja dikaitkan dengan kemampuan berpikir kreatif yang lebih besar (diukur dengan analisis regresi sederhana) terhitung 14,49% dari varian kinerja akademik.
C. Kerangka Pikir
Proses berpikir diwakili secara konseptual oleh model berapa banyak faktor yang telah diidentifikasi sebagai isu sentral dan bagaimana faktor-faktor ini berhubungan dengan kerangka teori yang bersaing. Hasil belajar siswa ditentukan oleh faktor-faktor yang berasal dari itu sendiri dan eksternal yang dapat mencari guru atau pendekatan pedagogik yang digunakan. Keberhasilan akademik siswa sangat didorong oleh faktor ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh pedagogi Project-Based Learning (PBL) dan kemampuan berpikir kreatif siswa terhadap kinerja siswa pada tes kurikulum IPS di SDN Tigaraksa.
Langkah pertama dalam proses pendidikan akan memberikan Pretest untuk kedua kelompok pada hari yang sama dengan pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda untuk mengukur titik awal siswa dalam hal pengetahuan dan kemampuan sebelum memberikan pekerjaan rumah. Dimungkinkan untuk menemukan siswa dengan tingkat kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah baik dalam kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Setelah penyerahan hasil Pretest akan ditentukan kelompok eksperimen dan kontrol, dengan kelompok eksperimen diajar menggunakan metode Project Based Learning (PBL) dan kelompok kontrol diajar dengan cara yang lebih konvensional (seperti kuliah dan tugas rumah). Setelah pembagian tugas kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, akan diberikan Posttest kepada siswa di kedua kelompok untuk mengetahui apakah penggunaan kerangka pedagogis Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) dan kemampuan berpikir kreatif siswa atau tidak. mempengaruhi kinerja mereka pada Standar Kinerja Individu (IPS).
Penjelasan mengenai kerangka pikir yang menjadi pedoman dalam kegiatan penelitian ini dapat dijelaskan dengan beberapa pernyataan yaitu :
1. Adanya pembeda antara hasil belajar siswa dengan penggunaan model berbasis proyek dibandingkan dengan siswa menggunakan pembelajaran konvensional (ceramah dan penugasan) pada pembelajaran IPS.
2. Adanya temuan hasil penelitian tentang pengaruh kemampuan berfikir kreatif pada hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS.
3. Ditemukan adanya pengaruh interaksi antara model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif pada hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS.
Adapun bagan dari kerangka pikir pada kegiatan pembelajaran pada kelas yang diteliti (eksperimen dan kontrol) sebagaimana gambar di bawah ini :
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
D. Operasionalisasi Variabel
Penjelasan tentang variabel yang digunakan pada kegiatan penelitian adalah sebagai berikut :
1. Variabel Independen (X1) adalah model pembelajaran berbasis proyek
2. Variabel Moderat (X2) adalah kemampuan berpikir kreatif
3. Variabel Terikat (Y) adalah hasil belajar siswa
Sejauh mana seorang siswa telah belajar diukur dengan kualitas ujian akhir atau ujian yang diberikan pada akhir program studi atau semester. Hasil belajar yang dicapai seorang siswa bergantung pada proses belajar yang dijalaninya. Siswa yang berprestasi baik di sekolah adalah mereka yang memenuhi tujuan pembelajaran mereka dan tujuan tambahan apa pun yang ditetapkan guru mereka untuk mereka; dalam penelitian ini, "hasil belajar" mengacu pada setiap perubahan dalam kemampuan kognitif, afektif, atau psikomotorik siswa yang tercermin dalam nilai atau nilai ujian mereka.
Keberhasilan atau kegagalan akademik seseorang dapat dikaitkan dengan sejumlah penyebab yang berbeda, beberapa di antaranya ada di dalam diri siswa itu sendiri (faktor internal) dan yang lainnya terletak di luar mereka (faktor eksternal) (faktor eksternal). Faktor dalam diri siswa itu sendiri, seperti minat, semangat, pemahaman, dan motivasi, serta kemampuan kognitif seperti persepsi, memori, penalaran, dan pengetahuan dasar. Lingkungan siswa, yang meliputi fasilitas fisik sekolah, bahan ajar, outlet media, guru, dan konten kursus, serta metode pengajaran dan pendekatan pedagogis, semuanya dianggap sebagai faktor eksternal.
Karena kesulitan-kesulitan yang dialami guru dalam melaksanakan tanggung jawabnya dan siswa dalam belajar, maka model pendidikan sering diajukan sebagai sarana penyelesaian masalah tersebut. Keefektifan dari setiap model pembelajaran yang diberikan sangat bergantung pada hasil pembelajaran yang diinginkan; dengan demikian, yang satu ini akan membantu instruktur dalam mencapai tujuan yang dinyatakan untuk siswa mereka.
Pembelajaran berbasis proyek memungkinkan guru untuk mengatur instruksi kelas dengan menggunakan proyek siswa. Pekerjaan proyek adalah jenis pekerjaan khusus yang memerlukan beberapa tanggung jawab kompleks berdasarkan pertanyaan dan masalah yang menarik, dan yang memotivasi siswa akademik untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, membuat keputusan, melakukan penelitian, dan bekerja secara mandiri. Ada empat komponen kemampuan berpikir kreatif: orisinalitas, orisinalitas bentuk, orisinalitas pemikiran, dan kemampuan mengelaborasi atau tepat ketika mengembangkan sebuah ide.
E. Hipotesis
Berdasarkan penjelasan secara rinci pada kajian teori dan kerangka pikir penelitian sebagaimana di atas maka penulis mengemukakan hal yang berkaitan dengan hipotesis penelitian diantaranya :
Berdasakan uraian tersebut, maka dapat ditentukan hipotesis dari penelitian ini yaitu :
1. Ditemukan pengaruh model PBL terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata pelajaran IPS.
2. Ditemukan pengaruh kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata pelajaran IPS.
3. Ditemukan pengaruh interaksi model PBL dan kemampuan berfikir kreatif terhadap hasil belajar siswa kelas IV SDN ...................... pada mata pelajaran IPS.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Dalam kegiatan penelitian ini menggunakan studi kuantitatif dengan pendekatan quasi eksperimental design yang lebih dikenal dengan istilah pengujian imajiner. Quasi eksperimental design atau pengujian imajiner yang dilaksanakan dengan cara melakukan manipulasi pada objek yang diteliti dan menggunakan sistem kontrol (Sugiyono, 2018:107). Penyebab dipilihnya model quasi eksperimental design disebabkan penelitian yang dilakukan pada dunia pendidikan lebih difokuskan pada upaya memberikan besaran pengaruh tindakan tertentu terhadap perilaku tertentu atau dilakukan untuk mengetahui muncul dan tidaknya pengaruh dari perlakuan yang diberikan. Perlakuan yang dilakukan dalam eksperimen dikenal dengan sebutan treatment yang dikandung maksud adalah memberikan tindakan pada suatu kondisi untuk diberikan nilai terhadap pengaruhnya.
Pada kegiatan penelitian ini, peneliti memakai model desain sampel ganda, dengan satu kelompok sebagai subjek eksperimen dan yang lainnya sebagai kelompok kontrol. Pada kelompok eksperimen, pengajaran disampaikan dengan menggunakan kerangka model PBL sedangkan pada kelompok kontrol, pengajaran disampaikan melalui pendekatan berbasis ceramah dan diskusi yang lebih tradisional tanpa mempergunakan kerangka model PBL pada pembelajaran IPS. Metodologi penelitian yang digunakan adalah Pretest-Posttest control group design (Sugiyono, 2018:166. Siswa dalam dua kelompok mengambil ujian pendahuluan sebelum pengajaran yang sebenarnya mulai mengukur pengetahuan mereka tentang materi pelajaran. Penelitian diakhiri dengan ujian akhir (post-test) yang diberikan kepada kedua kelompok dengan menggunakan set item soal yang sama terhadap kedua kelompok baik eksperimen maupun kontrol.
Pada pra kegiatan post-test, di kelas eksperimen yang sudah dilakukan tindakan dengan menggunakan model belajar berbasis proyek. Sesudah memperoleh data dari kelas kelas eksperimen yang sudah dilakukan tindakan dengan menggunakan model belajar berbasis proyek, langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut agar dapat diketahui pengaruh model belajar Berbasis Proyek dan kemampuan berpikir kreatif siswa terhadap perolehan nilai hasil belajar IPS. Skenarionya dijelaskan pada tabel di bawah ini.
Penjelasan :
T1 : Hasil pre-test
XA : Tindakan pada kelas model PBL
T2 : Hasil post-test
Dapat dilihat pada penjelasan tabel 3.1 bahwa XA adalah tindakan (treatment) pada kelas yang menerapkan model belajar berbasis proyek, adapun pada kelas kontrol dilakukan dengan pembelajaran biasa dengan menerapkan metode diskusi dan tidak menerapkan model PBL. Penjelasan mengenai urutan kegiatan pelaksanaan penelitian yaitu.
1. Pada dua kelompok yang dijadikan subjek penelitian diupayakan mempunyai kesamaan, misalnya berada pada tingkatan kelas yang sejajar, perangkat pembelajaran, tingkat intelektual yang merata, dan kesamaan guru yang terjun langsung pada kegiatan penelitian.
2. Pelaksanaan dan cara kerja dalam penelitian tidak disampaian kepada siswa baik kelompok eksperimen maupun kontrol. Tujuannya adalah untuk meminimalisir aktivitas pada siswa yang tidak sesuai dan sewajarnya yang dapat mengakibatkan gangguan pada saat dilaksanakan kegiatan penelitian.
B. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi Penelitian
Mempelajari populasi berarti mempelajari segala sesuatu tentangnya. Menurut Sugiyono (2018:80) menjelaskan bahwa populasi adalah wilayah geografis yang dapat digeneralisasikan yang tersusun di sekitar pertanyaan penelitian. Peneliti menggunakan ukuran dan karakteristik tertentu pada objek itu sendiri untuk mempelajarinya dan menarik kesimpulan tentangnya.
Dalam kegiatan penelitian ini, banyaknya populasi ditentukan sebanyak 130 siswa yang berasal dari seluruh siswa kelas IV SD Negeri ...................... sebanyak 4 kelas.
Tabel 3.2
Besaran Populasi Penelitian
|
Nama Sekolah |
Kelas |
Jumlah |
|
SD Negeri ...................... |
4A |
32 |
|
4B |
32 |
|
|
4C |
32 |
|
|
4D |
34 |
|
|
Jumlah |
130 |
|
2. Sampel Penelitian
Sampel mewakili ukuran dan karakteristik populasi yang bersangkutan. Sampel adalah sebagian kecil dari populasi yang ada, oleh karena itu pengumpulan ukuran sampel harus mematuhi aturan-aturan tertentu berdasarkan data saat ini (Sugiyono, 2018:81).
3. Teknik Pengambilan Sampel
Purposive sampling digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data untuk temuannya. Teknik pengambilan sampel yang memiliki tujuan tertentu disebut pengambilan sampel bertujuan (Sugiyono, 2018:81). Karena peneliti memiliki keterbatasan waktu, tenaga, uang, dan jumlah orang yang tersedia untuk melakukan penelitian, penentuan ukuran sampel yang besar dilakukan. Oleh karena itu, peneliti perlu mengumpulkan sampel yang secara statistik valid dan reliabel (dapat mewakili). Untuk menentukan ukuran sampel, peneliti memilih dua kelas yang sama, 4A (dengan 32 siswa) dan 4B (juga dengan 32 siswa), masing-masing untuk dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan kontrol. Demikian pula, sebanyak 32 siswa dari kelas 4C digunakan dalam penelitian untuk ujian uji coba.
Hasil uji pendahuluan yang dilakukan menunjukkan bahwa grup kontrol dan eksperimen memiliki karakteristik yang hampir sama. Tujuan tes pengantar dalam konteks ini tidak terbatas pada belajar tentang kemampuan awal siswa; itu juga berfungsi untuk memastikan bahwa siswa dalam grup kontrol dan eksperimen memiliki keterampilan dasar yang sama. Pengaturan ini sangat membantu untuk memastikan bahwa siswa dalam kelompok kontrol dan eksperimen memiliki hasil belajar yang berbeda karena adanya perbedaan perilaku yang berbeda antara kedua kelompok.
Tabel 3.3
Besaran Sampel Penelitian
|
Nama Sekolah |
Kelas |
Jumlah |
Sampel |
|
SD Negeri ...................... |
4A |
32 |
32 |
|
4B |
32 |
32 |
|
|
Jumlah |
64 |
64 |
|
C. Instrumen Penelitian
Instrumen adalah perangkat untuk yang dijadikan sebuah pengukur untuk memperoleh penjelasan yang bersifat spesifik dari jenis dan karakter dari informasi penelitian yang absah dan valid.
1. Angket
Untuk menilai kemampuan berpikir kreatif siswa digunakan instrumen angket. Inventarisasi berpikir kreatif (creative thinking inventory, atau Angket) digunakan untuk mendapatkan wawasan tentang perspektif siswa sebelum dan sesudah instruksi, dengan hasil yang telah dikalibrasi untuk mencerminkan kemampuan penalaran kreatif bawaan mereka. Keterampilan berpikir kreatif siswa dievaluasi dalam skala 4 poin, dari 1 sampai 4. Kriteria pemberian nilai positif pada empat kemungkinan angket adalah sebagai berikut: 1 = sangat tidak setuju, 2 = agak tidak setuju, 3 = sangat setuju, dan 4 = sangat setuju. Untuk jawaban negatif, angka 1 berarti sangat setuju, angka 2 berarti setuju sedang, angka 3 berarti agak tidak setuju, dan angka 4 berarti sangat tidak setuju. Selanjutnya indikator kemampuan berpikir kreatif siswa dituangkan dalam tabel di bawah ini.
2. Observasi (Pengamatan)
Penilaian terhadap aktivitas guru bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang pekerjaan mengelola pembelajaran memakai paradigma model berbasis proyek. Lembar pemantauan dilakukan dengan membuat icon check-list yang sesuai dengan citra yang dianalisis. Setiap siswa diberikan koleksi alat belajar untuk membantu mereka melacak semua yang terjadi selama proses pembelajaran secara keseluruhan. Rubrik penilaian digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kemampuan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran berbasis proyek di kelas.
Tabel 3.5
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru dalam Mengelola Pembelajaran Berbasis Proyek
‘
Tabel 3.6
Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Guru dalam Mengelola Pembelajaran Konvensional
3. Tes
Untuk menilai penguasaan konsep ekonomi siswa melalui penggunaan kerangka pembelajaran berbasis proyek diperlukan penggunaan instrumen tes. Jenis tes yang digunakan dalam penyelidikan ini adalah tes pengetahuan objektif materi IPS yang dibakukan, berbentuk soal pilihan ganda dengan empat kemungkinan jawaban (a, b, c, dan d).
Alat ukur untuk mengetahui sejauh mana paradigma pembelajaran berbasis proyek di SD Negeri ...................... meningkatkan prestasi belajar siswa pada tes standar IPS. Informasi hasil belajar IPS sebelum dan sesudah intervensi diperlukan untuk penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dua kali dengan menggunakan alat ukur berbasis pilihan yang terdiri dari 27 pertanyaan dengan skor 1 untuk akurasi dan skor 0 untuk ketidaktepatan. Pengujian pra-eksekusi (atau pra-pengujian) dan pengujian pasca-eksekusi (atau pasca-pengujian) memiliki nama yang berbeda dalam bahasa Inggris (post-test). Koleksi instrumen penilaian hasil belajar diperlukan untuk pengumpulan data menggunakan instrumen penilaian. Semua pelajaran telah diperbarui untuk mencerminkan versi terbaru dari kurikulum 2013. Berikut adalah tabel yang merinci cara menyesuaikan instrumen tes untuk mengukur hasil belajar IPS berdasarkan hasil yang diinginkan.
Instrumen yang dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana gaya belajar berbasis proyek SD Negeri ...................... meningkatkan prestasi belajar siswa pada tes mata pelajaran IPS. Meneliti hasil belajar IPS sebelum dan sesudah implementasi membutuhkan data pra dan pasca implementasi. Teknik pengumpulan data dilaksanakan dua periode dengan menggunakan instrumen alat ukur berbentuk soal multi choice sebanyak 27 butir menggunakan teknik skor apabila jawaban benar mendapat skor =1, dan sebaliknya jika jawaban salah mendapatkan skor = 0.
Kegiatan evaluasi yang dilakukan sebelum adanya perlakuan diberikan istilah tes awal (pretest) dan evaluasi yang dilakukan setelah adanya perlakuan diberikan istilah tes akhir (posttest)
Untuk pengumpulan data dengan menggunakan instrumen tes diperlukan instrumen hasil belajar dengan beberapa dimensi. Diadaptasi dari kerangka kurikulum 2013, LKS ini sangat cocok untuk materi pelajaran. Berikut adalah tabel yang merinci cara menyesuaikan instrumen tes untuk mengukur hasil belajar IPS berdasarkan hasil yang diinginkan.
Tabel 3.7
Kisi-Kisi Indikator Tes Hasil Belajar Siswa
Pada kegiatan awal sebelum pelaksanaan penelitian, peneliti mengajukan persetujuan dan bimbingan dati tim pakar (pakar media dan pakar materi) untuk meneliti kelayakan instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Setelah mendapatkan persetujuan kemudian instrumen diujicobakan. Pelaksanaan pengujian instrumen dilakukan di kelas 4C sebanyak 32 siswa dan dilaksanakan sebelum pengambilan data penelitian. Data yang terkumpul dari hasil uji coba instrumen tersebut kemudian dihitung menggunakan pengujian instrumen yaitu pengujian validitas, pengujian reabilitas, pengujian tingkat kesukaran dan pengujian daya pembeda
1. Uji Validitas
Ukuran validitas menunjukkan sejauh mana instrumen tertentu dapat diandalkan untuk menghasilkan hasil yang dapat diandalkan (Arikunto, 2013:211). Penting untuk menguji keandalan alat penelitian untuk memastikan bahwa alat tersebut secara akurat menilai konsep yang dievaluasi dan memberikan hasil yang akurat. Menghitung reliabilitas suatu butir tes atau soal dalam penilaian kemampuan berpikir kreatif dengan menggunakan program SPSS versi 23.
Dengan kriteria pengujian jika hasil rhitung≥rtabel sehingga dapat dijelaskan bahwa instrumen dinyatakan valid. Untuk pernyataan tidak valid dihilangkan dan tidak pergunakan. Rumus korelasi product moment yang dipakai adalah.
Penjelasan :
rxy : Konstanta validitas
X : Poin tiap butir soal yang didapat masing-masing siswa
Y : Poin total yang didapat masing-masing siswa dari total siswa
N : Total siswa
Hasil analisis menggunakan rumus diatas dinyatakan valid apabila rhitung≥rtabel atau jika nilai sig tailed> 0,05 sehingga instrumen dinyakana valid.
2. Uji Reabilitas
Masalah kepercayaan terkait dengan keandalan informasi. Dengan kata lain, jika suatu tes secara konsisten menghasilkan reliabilitas, maka dapat dikatakan tes tersebut memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi (Sugiyono, 2018 : 121). Hasil yang konsisten seperti ini disebut sebagai dapat dipercaya. Jika suatu alat ukur dapat menghasilkan hasil yang konsisten ketika digunakan oleh satu orang atau sekelompok besar orang (pada level yang sama), di lokasi yang berbeda dan pada waktu yang berbeda, maka dapat dikatakan reliabel. Mirip dengan konsistensi atau kepercayaan.
Sebuah perangkat penelitian dinyatakan memiliki taraf reliabilitas yang tinggi apabila tes yang dibuat oleh instrumen tersebut secara konsisten memberikan hasil yang menunjukkan kemampuannya untuk mengukur. Penjelasan mengenai tingkatan nilai konstanta reliabilitas sesuai pendapat yang dikemukan oleh Guilford adalah.
Tabel 3.8
Klasifikasi Koefisiensi Reliabilitas
Untuk melakukan analisis terhadap hitung-hitungan pengujian reabilitas dalam penelitian perlukan aplikasi pembantu yaitu software SPSS versi 23.
3. Tingkat Kesukaran
Metode pengumpulan informasi tentang prestasi akademik siswa dalam bentuk hasil belajar biasanya dalam bentuk soal-soal ujian. Selain validitas dan reliabilitas, tingkat kesulitan dalam menjawab soal merupakan indikator yang baik dari kualitas jawaban yang diberikan. Tingkat kesukaran dikuantifikasi dengan menghitung Indeks Kesulitan Soal untuk mengetahui Tingkat Kesulitan Soal. Aturan yang digunakan adalah:
Penjelasan :
P : besaran indeks kesukaran item soal
B : Jumlah siswa jawaban benar
Js : jumlah total siswa mengikuti tes
Paramater yang dijadikan tolak ukur ialah apabila pencapain indeks semakin mengecil maka tingkat kesulitan soal akan semakin tinggi dan sebaliknya apabila pencapain indeks semakin membesar maka tingkat kesulitan soal akan semakin rendah. Penjelasan tentang indeks kesukaran soal yaitu.
Tabel 3.9
Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal
Dari penjelasan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa kriteria indeks kesukaran soal dengan penjelasan apabila indeks kesukaran berada pada rentang 00-0,30 = soal sukar, 0,30-0,70 = sedang dan 0,70-1,00 = mudah
4. Daya Pembeda
kemampuan untuk membedakan antara siswa yang berkemampuan tinggi dan rendah dikenal dengan istilah daya pembeda. Daya pembeda itu sebanding dengan perbedaan kemampuan butir soal siswa. Pembedaan antara siswa yang sudah menguasai materi dan yang belum menguasai berdasarkan kriteria objektif diukur dengan menggunakan metrik yang disebut daya pembeda soal. Penggunaan daya pembeda dibenarkan ketika ada kesenjangan yang signifikan dalam tingkat kemampuan antara siswa, yang diukur dengan nilai perbedaan hari antara siswa yang pintar dan yang tidak dimanfaatkan penggunaan rumus.
Adapun pengkategorian unsur daya pembeda pada penelitian ini dijelaskan tabel berikut.
Tabel 3.10
Klasifikasi Indeks Kesukaran Soal
Penjelasan di atas adalah pengkategorian unsur daya pembeda, jadi apabila rentang nilai daya pembeda sebesar 0,00-0,20 = soal jelek, apabila rentang nilai daya pembeda 0,20-0,40 = soal cukup. apabila rentang nilai daya pembeda 0,40-0,70 = soal baik, dan apabila rentang nilai daya pembeda 0,70- 1,00 =soal sangat baik dan aapabila rentang nilai daya pembeda mempunyai nilai negatif maka dinyatakan bahwa soal tidak baik.
D. Prosedur Pengumpulan Data
Pada perencanaan pelaksanaan penelitian ada beberapa langkah-langkah yang perlu dilakukan agar dapat memberikan informasi yang tepat tentang persoalan yang terdapat pada subjek penelitian. Di bawah ini dijelaskan urutan dan langkah-langkah kegiatan penelitian yang telah disusun peneliti dengan 3 langkah pokok, yaitu :
1. Kegiatan Awal
Pada tahapan awal penelitian ini disusun dalam 5 langkah tindakan yaitu.
a. Melaksanakan survey pada sekolah yang menjadi subjek penelitian.
b. Melakukan analisis terhadap permasalahan pembelajaran yang ada
c. Membuat instrumen penelitian
d. Membuat perlengkapan yang akan digunakan pada proses pembelajaran
e. Melaksanakan kegiatan uji coba instrumen dan perlengkapan yang akan digunakan pada proses pembelajaran
2. Pelaksanaan
a. Melakukan Pretest yang dilaksanakan sebelum pelajaran IPS dimulai, dan mengukur kemampuan berfikir kreatif menggunakan angket.
b. Melakukan tindakan dengan melakukan tindakan pada kelompok eksperimen menggunakan model PBL, kelompok kontrol dengan model pembelajaran sederhana (ceramah dan penugasan). Sedangkan untuk sebaran kemampuan siswa dalam berpikir kreatif tinggi dan rendah secara merata pada kedua kelompok tersebut.
c. Penjelasan mengenai jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian menyesuaikan dengan jadwal pelajaran khususnya pembelajaran IPS yang telah dibuat oleh sekolah.
d. Melakukan tindakan dengan melaksanakan posttest masing-masing kelompok (eksperimen dengan model PBL dan kontrol model tradisional) untuk mendapatkan nilai tentang hasil siswa dalam belajar pembelajaran IPS
3. Kegiatan Akhir
Aktivitas peneliti pada tahapan ini adalah menganalisis hasil penelitian dan diakhiri dengan pembuatan kesimpulan hasil penelitian berdasarkan fakta dan temuan yang didapat pada pelaksanaan penelitian.
E. Analisa Data
Semua data yang didapatkan dari proses kegiatan penelitian dikumpulkan untuk dilakukan analisis data secara kuantitatif. Teknik analisa ini terhadap data kuantitatif menggunakan teknik statistik deskriptif dan statistik inferensial agar bisa dapat menyampaikan tanggapan yang dijelaskan pada rumusan masalah yang telah disebutkan dengan hierarki sebagai berikut.
1. Teknik Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif merupakan langkah perhitungan dapatdimanfaatkan pada kegiatan melakukan analisis data dengan cara menjabarkan atau memaparkan informasi hasil penelitian yang secara kolektif sudah dalam kondisi aslinya dengan tidak bertujuan dapat digunakan menentukan simpulan secara global atau penyamarataan (Sugiyono, 2018:126). Tabulasi distribusi data menggunakan tahapan-tahapan berikut ini
x̄ = Mean
n = Besaran populasi
a. Membuat tabel kategori
Pengklasifikasian terhadap data penelitian berdasarkan pada klasifikasi tingkatan pada tingkat penggolongan subjek ke dalam 5 kriteria sesuai pendapat dari Saifuddin (2012) dengan penjelasan berikut
Tabel 3.11
Klasifikasi Presentase Hasil Observasi
2. Analisis Aktivitas Guru
Perolehan data hasil penelitian yang berasal dari aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dihitung menggunakan rumus sebagai berikut :
Penjelasan.
S = Besaran persentase
R = Perolehan skor
N = Jumlah total skor
Tabel 3.12
Kriteria Aktivitas Guru
3. Analisis Statistik Inferensial
Statistik inferensial adalah cabang ilmu yang digunakan dalam mengekstrapolasi informasi yang berkaitan dengan komunitas yang lebih besar dari spesimen yang lebih kecil dan kebutuhan dalam melakukan pengujian hipotesis. berikut ini penjelasan tentang yang telah digunakan untuk pengujian validitas hipotesis yang diuji di sini.
a. Pengujian Normalitas
Untuk menentukan kekhasan dari kumpulan data penelitian tertentu, analisis pendahuluan dilakukan; pengujian normalitas dilaksanakan terhadap keadaan sampel kapabilitas awal (pre-test) dan data kapabilitas akhir (post test). Dalam kegiatan pengujian terhadapa hipotesis, uji-u digunakan jika data mengikuti distribusi normal. Namun, kriteria menyatakan bahwa H0 dinyatakan diterima apabila angka perolehan pada probabilitas > 0,05 yang menunjukkan bahwa sampel berpangkal dari sebaran data yang dikategorikan normal. H0 ditolak apabila angka perolehan pada probabilitasnya ≤0,05 yang menunjukkan bahwa sampel berpangkal dari sebaran data yang dikategorikan tidak normal. PEngujian normalitas dilakukan berdasarkan aturan Kolmogorov-Smirnov dijalankan di SPSS versi 23 untuk memeriksa distribusi data.
b. Pengujian Homogenitas
Data dari kedua sampel diasumsikan berdistribusi normal dengan melakukan uji Kolmogorov-Smirnov pada SPSS versi 23. Kegiatan berikutnya adalah melakukan pengujian taraf homogenitas. Pengujian ini dilakukan untuk menentukan apakah dua varian memiliki ukuran populasi yang setara atau tidak. Taraf homogenitas diuji dengan One-Way Anova pada SPSS versi 23.
c. Pengujian Hipotesis
Setelah peneliti melakukan pengujian terhadap komunitas sampel melalui pengujian normalitas dan pengujian homogenitas, maka sampel dari populasi dengan distribusi normal dan sampel dari populasi homogen diberikan perlakuan dengan pengujian signifikansi pada tingkatan signifikansi 0,05. Pengujian hipotesis dilakukan agar diperoleh data pada kelompok eksperimen mengenai memiliki mean quotient dalam kapabiltasnya berpikir kreatif pada tingkatan yang berbeda bila dikomparasikan pada siswa yang berada sebagai kontrol karena pada kelas eksperimen menggunakan model yang berbeda dengan kelompok kontrol.
Model berbasis proyek dan metode tradisional yang diajarkan di kelompok kontrol. Dalam penelitian ini, kami menggunakan SPSS versi 23 dalam melaksanakan kegiatan pengujian hipotesis secara menyeluruh.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi dan Data Penelitian
1. Deskripsi Lokasi Penelitian
SDN ...................... berlokasi di Jalan Aria Jaya Sentika, Kp. Tegal Baju Rt.02 Rw.04, Tigaraksa, ...................... Provinsi ....................... SDN ...................... memiliki visi yang cukup kompetitif, yaitu Mewujudkan terbentuknya siswa yang memiliki iman dan takwa yang kuat, memiliki prestasi, menjunjung tinggi budaya dan mempunyai wawasan lingkungan yang baik. Sedangkan Misi SDN ...................... adalah :
a. Memupuk dan memperkuat rasa iman dan taqwa bagi seluruh warga sekolah
b. Menyelenggarakan proses belajar yang kreatif, inovatif dan dan melibatkan seluruh komponen sekolah
c. Menumbuhkan peningkatan kinerja bidang akademik, non akademik dan keagamaan.
d. Menumbuhkan mutu dan kualitas sumber daya manusia warga sekolah.
e. Mengimplementasikan tata kelola administrasi sekolah yang melibatkan seluruh komponen sekolah agar terbentuk sebuah tim yang tangguh
f. Mengimplementasikan tata kelola bidang kesiswaan yang melibatkan seluruh komponen sekolah agar terbentuk sebuah tim yang tangguh
g. Meningkatkan kecakapan mental, spiritual, dan emosional.
h. Menerapkan cara hidup yang budaya tertib, disiplin, santun dalam ucapan, sopan dalam prilaku berlandaskan imam dan takwa
i. Menjaga lingkungan sekolah dan rumah yang bersih, nyaman, dan sehat
Terletak di daerah yang tenang dan menyenangkan, SD Negeri ...................... menyediakan tempat yang ideal untuk usaha pendidikan. Lokasi sekolah agak nyaman; dengan kondisi geografis yang mendukung karena terletak dekat dengan jalan raya utama dan dapat dengan mudah dicapai transportasi umum. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen memakai dua kelompok sebagai sampel: 4A sebagai kelompok eksperimen dengan 32 siswa dan 4B sebagai kelompok kontrol dengan 32 siswa dengan jumlah sampel 64. Sementara itu, kelompok uji sampel diperlukan untuk menentukan apakah atau tidak Instrumen penelitian layak digunakan dalam proses penelitian jika menggunakan ukuran kelas 32 siswa, seperti halnya kelompok uji sampel untuk penelitian yang menggunakan kelas 4C.
2. Deskripsi Data Penelitian
a. Data Ujicoba Penelitian
Setiap alat penelitian harus memenuhi dua persyaratan mendasar: validitas dan kepercayaan. Idealnya, perangkat penelitian yang digunakan untuk mengevaluasi validitas dan reliabilitas eksperimen harus dirancang untuk membidik indikator individual. Setelah mendiskusikan hasilnya dengan para ahli dan melakukan penyesuaian yang diperlukan pada peralatan pengujian, melakukan pengetesan instrumen yang sebenarnya. Tahap pengetesan dilalui pada kelas yang terlebih besar di luar sampel penelitian, yaitu kelas 4C dengan jumlah 32 siswa, yang masih ada dalam populasi. Dari hasil pelaksanakan kegiatan uji coba didapatkan hasil antara lain.
1) Pengujian Validitas Instrumen
Pengujian validitas dilaksanakan sebagai upaya menentukan apakah kredensial tertentu sah atau tidak. Keabsahan suatu kuesioner ditentukan oleh dapat atau tidaknya kuesioner tersebut diminta untuk mengungkapkan informasi yang akan digunakan dalam penilaian kuesioner tersebut. Signifikansi diuji dengan membandingkan nilai yang dihitung dengan yang ditemukan dalam tabel. Dalam hal ini, ukuran sampel (n) adalah 32, dan dengan alfa 0,05, nilai r yang dihitung adalah 0,349. Suatu pertanyaan atau indikator dianggap sah jika rhitungnya lebih besar dari rtabelnya.
Hasil pemeriksaan validitas menunjukkan bahwa instrumen dianggap valid ketika nilai terukurnya melebihi yang ada di tabel, dan dinyatakan tidak valid jika sebaliknya. Dari total 17 tuts pada tabel di atas, 15 adalah tuts instrumen yang sah, sedangkan 2 lainnya tidak. Dari kemungkinan 27 pilihan jawaban pada tes standarisasi hasil belajar siswa, hanya 25 yang dianggap benar. Bagian instrumen yang dinyatakan tidak valid dipisahkan dan tidak dipergunakan.
Penyebaran item butir soal yang disusun berdasarkan penggolongan pada tingkat validitas butir soal dan angket dijelaskan tabel berikut.
Tabel 4.1. Distribusi Butir Angket Berdasarkan Validitas
Berikut ini adalah diagram analisis validitas butir angket kemampuan berpikir kreatif siswa kelas 4C SD Negeri .......................
Gambar 4.1 Diagram Validitas Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Tabel 4.2. Distribusi Butir Tes Soal Berdasarkan Validitas
Berikut ini adalah diagram analisis validitas butir tes hasil belajar siswa kelas 4C SD Negeri .......................
Gambar 4.2 Diagram Validitas Tes Hasil Belajar Siswa
2) Pengujian Reliabilitas Instrumen
Tujuan dari uji reliabilitas adalah untuk menunjukkan seberapa konsisten instrumen pengukuran yang diberikan menghasilkan hasil yang sama ketika digunakan kembali. Teori Cronbach Alpha digunakan sebagai tongkat pengukur. Ketika sebuah variabel mengembalikan nilai cronbach alpha 0,70 atau lebih, kita mengatakan bahwa variabel tersebut dapat dipercaya. Hasil pengujian dengan menggunakan software SPSS adalah sebagai berikut:
Tabel di atas menunjukkan bahwa nilai Cronbach's Alpha untuk semua variabel penelitian lebih dari 0,70, menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dapat diandalkan dan harus digunakan.
3) Tingkat Kesukaran Soal
Analisis yang dilakukan pada 27 pertanyaan pilihan ganda mengungkapkan bahwa 12 berada di kategori "mudah", 9 berada di kategori "sedang", dan 2 berada di kategori "sulit". Lihat tabel di bawah untuk perincian pertanyaan berdasarkan tingkat kesulitan soal.
Tabel 4.4. Distribusi Butir Tes Soal Berdasarkan Tingkat Kesukaran
Berikut ini adalah diagram analisis tingkat kesukaran tes untuk mengetahui taraf hasil belajar kelas 4C SD Negeri .......................
Gambar 4.3 Diagram Tingkat Kesukaran Tes Hasil Belajar Siswa
4) Daya Beda
Analisis dari 27 pertanyaan pilihan ganda ini mengungkapkan bahwa 4 diklasifikasikan cukup, 14 memuaskan, 7 sangat baik, dan 2 buruk. Tabel berikut menunjukkan distribusi soal berdasarkan klasifikasinya berdasarkan tingkat kesulitan pembedaannya.
Berikut ini adalah diagram analisis daya pembeda butir tes hasil belajar siswa kelas 4C SD Negeri .......................
b. Data Penelitian
1) Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
Perangkat pengumpul data dipakai mencari nilai hasil kemampuan berpikir kreatif siswa menggunakan angket dengan 15 pernyataan dengan 4 pilihan jawaban pada masing-masing item pernyataan dengan rentang penilaian 1-4.
Secara jelas hasil dari jawaban angket oleh responden dijelaskan pada tabel berikut.
Tabel 4.7 Hasil Skor Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Posttest
2) Tes Hasil Belajar IPS Siswa
Perangkat pengumpulan data yang digunakan untuk menilai penguasaan materi IPS siswa terdiri dari 25 butir soal pilihan ganda; setiap pertanyaan memiliki empat kemungkinan jawaban dengan rentang skor 0-1. Selengkapnya untuk hasil jawaban tes hasil belajar IPS yang diberikan oleh responden dijelaskan pada tabel berikut.
Tabel 4.8 Hasil Skor Tes Hasil Belajar Siswa Prestest
|
26 |
18 |
26 |
17 |
||
|
27 |
17 |
27 |
16 |
||
|
28 |
16 |
28 |
16 |
||
|
29 |
15 |
29 |
14 |
||
|
30 |
19 |
30 |
18 |
||
|
31 |
18 |
31 |
17 |
||
|
32 |
12 |
32 |
10 |
Tabel 4.9 Hasil Skor Tes Hasil Belajar Siswa Postest
|
29 |
17 |
29 |
15 |
||
|
30 |
20 |
30 |
22 |
||
|
31 |
21 |
31 |
19 |
||
|
32 |
13 |
32 |
12 |
B. Analisis Data Penelitian
1. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif di sini digunakan sebagai landasan untuk memperkirakan distribusi jawaban di semua variabel, termasuk kemampuan berpikir kreatif dan prestasi akademik siswa. Saat mempresentasikan hasil survei, sudah menjadi kebiasaan untuk memberikan pertanyaan survei yang menyertai survei dan pilihan jawaban langsung kepada responden melalui email. Tiga puluh dua siswa kelas 4A dan 4B di SDN ...................... diberikan angket dan tes.
a. Sebaran Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest
Data dikumpulkan dari tanggapan yang diajukan oleh 32 siswa dan mewakili penilaian keseluruhan keterampilan berpikir kreatif mereka yang diukur dengan Pretest. Berdasarkan analisis deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan SPSS 23.0 for Windows, rata-rata, median, dan modus untuk variabel kemampuan berpikir kreatif pada kelas Pretest diperoleh semua sebesar 51, sedangkan standar deviasinya sebesar 3,88. Skor tertinggi yang diperoleh adalah 57, sedangkan terendah adalah 34. Oleh karena itu, rentang skor maksimum yang mungkin adalah 57–34, yaitu sama dengan 23. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas. 3 log n (k adalah banyaknya kelas interval dan n adalah banyaknya observasi), maka k sama dengan 1 ditambah 3. Dibulatkan menjadi 6, maka 3 log 32 = 5,96 dibulatkan ke bawah menjadi 5. Jadi jumlah seluruh kelas adalah 6. Pada langkah selanjutnya, panjang interval kelas yang semula R/k = 23:6 = 3,88, diperluas menjadi 4. Oleh karena itu, kelas interval dapat dikategorikan sebagai berikut:
Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest
|
Kelas Interval |
Frekuensi |
|
34-37 |
1 |
|
38-41 |
0 |
|
42-45 |
0 |
|
46-49 |
7 |
|
50-53 |
17 |
|
54-57 |
7 |
|
Jumlah |
32 |
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen pada kegiatan pretest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini.
Gambar 4.5 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula.
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Tabel 4.11 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.11 di atas, total 1 siswa (3,12%) mencapai nilai “sangat tinggi” pada Tes Kreativitas Angket Siswa SMA pada Pretest, 6 siswa (18,75%) mencapai nilai “tinggi” skor, 17 siswa (53,1%) mencapai nilai "baik", dan 7 siswa (21,87%) mencapai nilai "kurang". Tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa pada Pretest Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen dinilai memadai, dengan skor antara 53,1 dan 53,1 persen dan berada pada kisaran modus median 49 hingga 53,1.
.
b. Deskripsi Data Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest
Hasil dari 32 peserta pretest mengukur kemampuan berpikir kreatif siswa. Berdasarkan analisis deskriptif yang dilakukan dengan bantuan SPSS 23.0 for Windows, diperoleh bahwa rata-rata skor Pretest untuk kemampuan berpikir kreatif siswa adalah 48,87, dibulatkan menjadi 49; skor median adalah 50; skor modus adalah 48; dan simpangan bakunya adalah 4,83, dibulatkan menjadi 5.
Skor tertinggi adalah 55, sedangkan skor terendah adalah 26. Hasilnya, skor tertinggi yang mungkin diperoleh adalah antara 55 dan 26, yaitu 29. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas. 3 log n (k adalah jumlah kelas interval dan n adalah jumlah pengamatan), maka k sama dengan 1 ditambah 3. Dibulatkan menjadi 6, sehingga 3 log 32 = 5,96 dibulatkan ke bawah menjadi 5. Sehingga jumlah kelas seluruhnya adalah 6. Langkah terakhir adalah memperpanjang panjang k-interval yang semula R/k = 29 : 6 = 4,86 menjadi nilai 5. Dengan demikian, kelas-kelas interval dapat dipecah bawah sebagai berikut.
Tabel 4.12 Distribusi Frekuensi Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest
|
Kelas Interval |
Frekuensi |
|
26-30 |
1 |
|
31-35 |
0 |
|
36-40 |
0 |
|
41-45 |
1 |
|
46-50 |
20 |
|
51-55 |
10 |
|
Jumlah |
32 |
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas kontrol pada kegiatan pretest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini.
Gambar 4.6 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula.
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Tabel 4.13 Kriteria Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.13 di atas, 6,25% siswa yang mengambil Pretes Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol memenuhi kriteria sangat tinggi, 25% memenuhi kriteria sedang, 65,6% memenuhi kriteria rendah, dan 1% tidak memenuhi kriteria keduanya. kriteria. Kreativitas Siswa dalam Pemecahan Masalah pada Pretes Kontrol Kelas Dinilai Cukup, dengan Nilai Rata-Rata di Kisaran 47 hingga 51
c. Deskripsi Data Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest
Sebanyak 32 siswa mengikuti Posttest eksperimen tersebut, yang menghasilkan data kemampuan berpikir kreatif siswa. Statistik deskriptif yang diperoleh dengan menggunakan SPSS 23.0 for Windows mengungkapkan hal berikut tentang keterampilan berpikir kreatif kelas eksperimen: rata-rata 52, median 53, modus 55, dan standar deviasi 4.024 (semua angka dibulatkan ke bawah) menjadi 4.
Skor tertinggi = 58, sedangkan skor terendah adalah 36. Oleh karena itu, rentang skor maksimum yang mungkin adalah 58–36, yang sama dengan 22. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas. 3 log n (k adalah jumlah kelas interval dan n adalah jumlah pengamatan), maka k sama dengan 1 ditambah 3. Dibulatkan menjadi 6, sehingga 3 log 32 = 5,96 dibulatkan ke bawah menjadi 5. Sehingga jumlah kelas seluruhnya adalah 6. Setelah itu, panjang interval kelas R/k = 23 : 6 = 3,67 diperluas menjadi 4. Dengan demikian, kelas interval dapat dikategorikan sebagai berikut:
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen pada kegiatan posttest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.7 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.15 di atas, 0% responden memenuhi standar sangat tinggi, 46% memenuhi standar sedang, 50% memenuhi standar tinggi, dan 17% memenuhi standar rendah pada Posttest Kreativitas Angket Siswa di Kelas Eksperimen.Keterampilan berpikir kreatif siswa pada posttest eksperimen dianggap cukup jika memperoleh skor minimal 50% dan memiliki skor rata-rata pada kisaran 50-54%.
d. Deskripsi Data Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest
Terdapat 32 responden yang datanya digunakan untuk menghasilkan estimasi kemampuan berpikir kreatif siswa pada Posttest kelompok kontrol. Berdasarkan analisis deskriptif yang dilakukan dengan bantuan SPSS 23.0 for windows diketahui bahwa mean (Me) untuk variabel kemampuan berpikir kreatif pada kelas eksperimen Posttest adalah 52, median (Me) adalah 52, modus (Mo ) adalah 54, dan standar deviasi (Std. Dev.) adalah 5. Skor tertinggi yang mungkin adalah 56, sedangkan skor terendah yang mungkin adalah 26. Oleh karena itu, rentang skor maksimum yang mungkin adalah 56–26, yang sama dengan 30. Nilai k = 1 + 3 aturan untuk menentukan interval kelas. 3 log n (k adalah jumlah kelas interval dan n adalah jumlah pengamatan), maka k sama dengan 1 ditambah 3. Dibulatkan menjadi 6, sehingga 3 log 32 = 5,96 dibulatkan ke bawah menjadi 5. Sehingga jumlah kelas seluruhnya adalah 6. Setelah itu panjang periode kelas menjadi R/k = 30 : 6 = 5. Dengan demikian, kelas interval dapat dipecah menjadi sebagai berikut.
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas kontrol pada kegiatan posttest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.8 Histogram Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula.
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest dapat memperoleh 0 tanggapan atau 0,00% memenuhi kriteria terketat, 13 tanggapan atau 40,63% memenuhi kriteria terketat, kemudian 10 tanggapan atau 31,25% memenuhi kriteria cukup, 8 tanggapan atau 25,00% memenuhi kriteria kurang, dan 1 tanggapan atau 3,13% memenuhi kriteria paling ketat. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas kontrol Posttest terdiri dari kategori timggi dengan perolehan 40,63% dan dengan rata-rata yang terletak pada interval 54-58
e. Deskripsi Data Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest
Data Pretest Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen dikumpulkan dari sekitar 32 responden. Menurut analisis deskriptif yang dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SPSS 23.0 for Windows, nilai rata-rata (mean) 18,21 diubah menjadi 18, nilai median 18, nilai modus 17, dan nilai standar deviasi 2 ,35 dikonversi menjadi 2, untuk variabel Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest. Skor maksimum dan minimum masing-masing adalah 23 dan 12. Oleh karena itu, jumlah titik (range) maksimum yang mungkin dicapai adalah 23-12 = 11. Kelas interval menggunakan rumus k = 1 + 3. 3 log n, dimana k adalah jumlah interval yang besar dan n adalah jumlah yang besar data, menghasilkan k = 1 + 3. 3 log 32 = 5,96 diubah menjadi 6. Lalu untuk menentukan panjang interval kelas adalah R/k=11:6=1,83 yang dibulatkan = 2, sehingga dapat digolongankan kelas intervalnya yaitu.
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas eksperimen pada kegiatan pretest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.9 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula.
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.19 diketahui bahwa untuk Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Pretest, 0% responden memenuhi kriteria sangat tinggi, 32% memenuhi kriteria sedang, 78,13% memenuhi kriteria rendah, dan 0% memenuhi kriteria yang sangat rendah. Prestasi belajar siswa pada Tes Hasil Belajar IPS untuk Eksperimental Pretest cukup dengan skor 78,13% dan berada pada rentang rata-rata (16-20).
f. Deskripsi Data Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest
Tiga puluh dua skor tes responden disusun untuk Pretest Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol. Analisis deskriptif yang dilakukan dengan bantuan SPSS 23.0 for Windows mengungkapkan variabel Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest sebagai berikut: mean = 17, median = 17, modus = 16, dan standar deviasi = 2,00. Skor tertinggi yang mungkin adalah 21, sedangkan skor terendah yang mungkin adalah 10. Jadi skor tertinggi yang mungkin adalah 21, dan terendah adalah 10, sehingga total rentang skor yang mungkin adalah 11. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas . Karena jumlah kelas interval (k) sebanding dengan jumlah pengamatan (n), maka diperoleh k = 1 + 3. Nilai 3 log 32 = 5,96 dikalikan menjadi 6. Jadi, jumlah kelas seluruhnya adalah 6 Kemudian, panjang interval kelas R/k = 11 : 6 = 1,833 diperluas menjadi 2. Dengan demikian, kelas interval dapat dipecah sebagai berikut:
Tabel 4.20 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas kontrol Pretest
|
Kelas Interval |
Frekuensi |
|
10-11 |
1 |
|
12-13 |
0 |
|
14-15 |
3 |
|
16-17 |
16 |
|
18-19 |
10 |
|
20-21 |
2 |
|
Jumlah |
32 |
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari angket tentang kemampuan berpikir kreatif siswa pada kelas kontrol pada kegiatan pretest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.10 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula..
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Tabel 4.21 Kriteria Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Pretest
Sesuai dengan informasi yang disajikan pada tabel 4.21 di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk Pretest Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol, 0% responden memenuhi kriteria sangat tinggi, 21,88% memenuhi kriteria sedang, 87,50% memenuhi kriteria cukup , 3,13% memenuhi kriteria rendah, dan 1% tidak memenuhi kriteria keduanya. Hasil Tes Hasil Belajar siswa IPS berada dalam kisaran "memadai", rata-rata mencapai 87,5 persen dengan perolehan nilai rata-rata pada tentang 15-19.
g. Deskripsi Data Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest
Hasil tes standar siswa IPS versi post-experiment dari 32 orang peserta didik terhadap hasil belajarnya dipresentasikan. Berdasarkan analisis deskriptif yang dilakukan dengan bantuan SPSS 23.0 for Windows, maka dapat ditentukan variabel Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen berikut ini: mean = 20, median = 20, modus = 20, dan simpangan baku = 2, 06, dibulatkan menjadi 2. Skor minimal yang diperoleh adalah 13 dan maksimal 25. Untuk itu, rentang skor tertinggi yang mungkin adalah 25-13, yang sama dengan 12. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas. Karena banyaknya kelas interval (k) sebanding dengan banyaknya observasi (n), diperoleh k = 1 + 3. Nilai 3 log 32 = 5,96 diekspansi menjadi 6. Jadi, jumlah kelas adalah 6 Selanjutnya, panjang periode kelas adalah R/k = 12: 6 = 2. Oleh karena itu, kelas interval dapat dirinci sebagai berikut.
Tabel 4.22 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest
|
Kelas Interval |
Frekuensi |
|
13-14 |
1 |
|
15-16 |
0 |
|
17-18 |
4 |
|
19-20 |
16 |
|
21-22 |
8 |
|
23-25 |
3 |
|
Jumlah |
32 |
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari tes hasil belajar IPS Siswa kelas eksperimen posttest pada kegiatan posttest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.11 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula..
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Berdasarkan hasil pada Tabel 4.23, diketahui bahwa untuk Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen Posttest, 0% responden memenuhi kriteria sangat tinggi, 3,13% memenuhi kriteria sangat tinggi, 93,75% memenuhi kriteria sangat tertinggi, dan 30 responden memenuhi kriteria sangat tinggi. Hasil belajar IPS Siswa kelas Eksperimen Posttest berada pada kriteria cukup dalam rentang 16-24.
h. Deskripsi Data Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest
Informasi dikumpulkan dari 32 responden untuk Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol. Berdasarkan analisis deskriptif yang dilakukan dengan bantuan SPSS 23.0 for Windows, dapat disimpulkan variabel Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest sebagai berikut: mean = 17,81, dibulatkan menjadi 18; median = 18; modus = 17; dan standar deviasi = 2.10, dibulatkan menjadi 2. Skor tertinggi yang mungkin adalah 22, sedangkan skor terendah yang mungkin adalah 12. Oleh karena itu, rentang skor maksimum yang mungkin adalah 22-12, yang sama dengan 10. Aturan k = 1 + 3 untuk menentukan interval kelas. Karena banyaknya kelas interval (k) sebanding dengan banyaknya observasi (n), diperoleh k = 1 + 3. Nilai 3 log 32 = 5,96 diekspansi menjadi 6. Jadi, jumlah kelas adalah 6 Kemudian, panjang interval kelas R/k = 10:6 = 1,67 dibulatkan menjadi 2, dan bida digolongan kedalam kelas interval di bawah ini.
Tabel 4.24 Distribusi Frekuensi Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest
|
Kelas Interval |
Frekuensi |
|
12-13 |
1 |
|
14-15 |
4 |
|
16-17 |
9 |
|
18-19 |
11 |
|
20-21 |
6 |
|
21-22 |
1 |
|
Jumlah |
32 |
Penjelasan tabel di atas mengenai sebaran nilai yang didapatkan dari tes hasil belajar IPS Siswa kelas kontrol posttest pada kegiatan posttest dapat dijelaskan dalam bentuk histogram di bawah ini
Gambar 4.12 Histogram Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Kontrol Posttest
Besaran mean dan besaran penyimpangan akan dijadikan dasar mengkonversi nilai kasar menjadi skala 5 menggunakan formula..
Dari hasil penggunaan rumus di atas maka didapatkan data rentang dan data tingkaan sebagaimana tabel.
Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 4.25 di bawah ini, dapat disimpulkan bahwa untuk Posttest Tes Hasil Belajar IPS Siswa Kelas Eksperimen, 0% responden memenuhi standar sangat tinggi, 21,88% memenuhi standar, 62,50% memenuhi standar, 20 responden memenuhi standar, 12,50% memenuhi standar, dan 1% memenuhi standar sangat rendah. Hasil Tes Posttest IPS untuk Siswa di Kelompok Kontrol berada dalam kriteria cukup pada rentang 16-20.
2. Analisis Observasi Aktivitas Guru
a. Kelas Kontrol
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengajaran konvensional memberikan skor rata-rata 65, menempatkannya dalam kategori "tepat". Data di atas juga menjelaskan bahwa masih ada beberapa keterampilan pedagogik yang kurang dan perlu diperkuat. Ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada, ketidakmampuan guru untuk memberikan pemahaman holistik tentang proses pembelajaran kepada siswa. Akibatnya, keduanya tidak mampu membuat siswa terlibat dalam diskusi yang bermakna.
b. Kelas Eksperimen
Hasil skala penilaian menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan dengan paradigma pembelajaran berbasis proyek memperoleh nilai rata-rata 77,89 dengan kategori baik. Itu menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mendapatkan hasil yang lebih baik daripada kelompok kontrol.
3. Analisis Statistik Inferensial
a. Pengujian Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah data yang diperoleh dari penelitian mengikuti distribusi normal. Pengujian normalitas dilakukan pada data kinerja baseline (pre-test) dan end-point (post-test) (post test). Uji Kolmogorov-Smirnov digunakan untuk menentukan normalitas distribusi. Jika tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05, data dikatakan berdistribusi normal; jika tidak, dikatakan memiliki distribusi abnormal. Hasil uji normalitas ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.26 Hasil Uji Normalitas
|
Variabel |
Sign |
Keterangan |
|
Angket Eksperimen Pretest |
0,402 |
Normal |
|
Angket Kontrol Pretest |
0,412 |
Normal |
|
Angket Eksperimen Posttest |
0,86 |
Normal |
|
Angket Kontrol Postest |
0,150 |
Normal |
|
Tes Eksperimen Pretest |
0,200 |
Normal |
|
Tes Kontrol Pretest |
0,008 |
Normal |
|
Tes Eksperimen Postest |
0,372 |
Normal |
|
Tes Kontrol Postest |
0,124 |
Normal |
Berdasarkan hasil pengujian normalitas pengujian terhadap variabel penelitian diketahui bahwa semua variabel penelitian memiliki tingkat signifikansi lebih besar dari 0,05 (p>0,05). Bahwa semua variabel penelitian mengikuti distribusi normal ditunjukkan.
b. Pengujian Homogenitas
Pengujian homogenitas digunakan untuk membandingkan varians data sebelum dan sesudah eksperimen dengan data kelompok kontrol. Homogenitas varians diuji dengan menggunakan uji statistik uji-F, yang membandingkan nilai varians terbesar dan terkecil. Jika nilai F dan F yang ditabulasi berbeda dan p lebih dari 0,05, maka diperlukan homogenitas. Hasil uji homogenitas ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.27 Hasil Pengujian Homogenitas
|
Variabel |
Fhitung |
Ftabel |
Sign |
Keterangan |
|
Angket Pretest |
4,226 |
4,15 |
0,077 |
Homogen |
|
Angket Postetst |
5,36 |
4,15 |
0,467 |
Homogen |
|
Tes Belajar Pretest |
4,687 |
4,15 |
0,029 |
Homogen |
|
Tes Belajar Posttest |
16,68 |
4,15 |
0,008 |
Homogen |
Semua variabel menunjukkan Fhitung > Ftabel dan nilai signifikansi > 0,005 pada p > 0,05 yang ditentukan dari hasil uji homogenitas. Hal ini berarti bahwa semua data yang digunakan dalam penelitian ini konsisten satu sama lain.
c. Pengujian Hipotesis
Dalam penelitian ini, kami menggunakan analisis pengujian hipotesis berbasis uji (uji-t). Tabel berikut menampilkan hasil pengujian dari penelitian ini.
Jika nilai signifikan > a (0,05), maka Ho diterima dan Ha ditolak (thitung)>(ttabel), dan sebaliknya jika p-value lebih kecil dari 0,05. Pengujian hipotesis secara parsial dengan menggunakan uji-t, seperti terlihat di bawah ini.
1) Pengujian hipotesis pertama Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ....................... Diketahui nilai
Diketahui nilai Sig hubungan pembelajaran berbasis proyek dengan kinerja siswa terhadap hasil belajar IPS adalah 0,000<0,05, dan nilai thitung 4,083 < ttabel 2,738, sehingga dapat disimpulkan bahwa Ha1 diterima, artinya ada hubungan yang signifikan antara pembelajaran berbasis proyek dan kinerja siswa terhadap hasil belajar IPS.
2) Pengujian hipotesis kedua Pengaruh Kemampuan Berfikir Kreatif dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN .......................
Diketahui nilai Sig untuk hubungan antara kemampuan berpikir kreatif siswa dengan prestasi belajar IPS adalah 0,000 <0,05, dan nilai thitungnya adalah 43.186 < ttabel 2,738; Hal ini memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan bahwa siswa yang menerima perlakuan Ha2 diterima yang berarti terdapat pengaruh kemampuan berfikir kreatif dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS kelas IV SDN .......................
3) Pengujian hipotesis ketiga Terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV SDN ......................
Untuk menguji hipotesis ketiga dengan menggunakan uji F, sebagai berikut.
Berdasarkan output di atas diketahui nilai signifikan untuk pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif secara simultan terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS adalah sebesar 0,000< 0,05 dan nilai F hitung 1865,006>4,150, sehingga dapat disimpulkan bahwa hipotesis diterima yang berarti terdapat Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Kemampuan Berfikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas.
C. Pembahasan
Hasil dapat diinterpretasikan berdasarkan penelitian dan analisis statistik yang dilakukan dengan menggunakan paket perangkat lunak statistik SPSS for Windows.
1. Uji hipotesis parsial (uji t) dilakukan untuk memahami kepentingan relatif dari variabel-variabel yang menyusun model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menentukan hasil akhir belajar IPS.
a. Model pembelajaran ini telah terbukti meningkatkan kinerja siswa pada tugas-tugas penilaian kurikulum IPS. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung yang lebih besar dibandingkan dengan nilai ttabel (masing-masing 4,083 > 2,738), dan nilai signifikansi yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai ambang batas 5% (0,000,05). Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik yang menunjukkan bahwa paradigma pembelajaran berbasis proyek berpengaruh terhadap kinerja siswa pada penilaian IPS. Hipotesis awal (Ho): Tidak terdapat hubungan antara model pembelajaran berbasis proyek dan prestasi belajar siswa terhadap hasil belajar IPS. Hipotesis alternatif (Ha) mengklaim bahwa model pembelajaran berbasis proyek memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja siswa pada penilaian IPS. Hasil belajar siswa mata pelajaran IPS terpengaruh oleh model pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi siswa, meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari pustaka, dan meningkatkan kemampuan siswa.hal ini sesuai dengan pendapat Wena(2012:160).
b. Keterampilan berpikir kreatif berdampak pada prestasi akademik siswa IPS. Hal ini dibuktikan dengan nilai thitung lebih besar dari nilai ttabel (thitung 43,186 > ttabel 2,738), dan nilai signifikansi 0,000 lebih kecil dari nilai ambang batas 0,05. Hasil yang berbeda nyata ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa berpengaruh terhadap hasil belajar mereka pada penilaian IPS. Hipotesis nol (Ho) menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara tingkat berpikir kreatif siswa dengan kinerjanya pada tes standar IPS Kelas IV SDN ....................... Hipotesis alternatif (Ha) menyatakan bahwa tingkat kemampuan berpikir kreatif siswa berkorelasi dengan prestasi belajarnya pada Tes Prestasi Belajar Kelas IV IPS SDN Tigaraksa Kelas IV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ha diterima sedangkan Ho ditolak, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kreatif siswa berpengaruh terhadap kinerjanya pada tes standar IPS Kelas IV SDN ....................... Siswa yang mampu berpikir kreatif lebih mungkin berhasil di kelas IPS karena mereka lebih mampu mengganti satu cara berpikir dengan cara berpikir yang lain, menghasilkan jawaban yang lebih komprehensif dan lebih menarik bagi pendengar, dan sesuai dengan pendapat dari Munandar (2012 : 89).
2. Untuk lebih memahami pengaruh masing-masing variabel model pembelajaran berbasis proyek dan kemampuan berpikir kreatif dan kritis siswa di bawah tekanan waktu, disajikan uji hipotesis (uji F) secara simultan. Hasil uji Form F menunjukkan bahwa tingkat signifikan kemampuan berpikir kreatif dengan paradigma pembelajaran berbasis proyek adalah 0,000.
3. Hasil ini dihitung dengan menggunakan SPSS versi 23. Fhitung>Ftabel, artinya 16.668>4.150. Selain tingkat signifikansi 0,000<0,05 menunjukkan penerimaan hipotesis, sehingga dapat disimpulkan bahwa dua variabel independen memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen hasil belajar. Karena faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu faktor eksternal dan faktor internal maka model pembelajaran berbasis proyek sangat efektif untuk meningkatkan nilai IPS siswa. Salah satu faktor eksternal adalah desain instruksional yang digunakan selama pembelajaran, sedangkan salah satu faktor internal adalah kemampuan berpikir kreatif siswa. , hal tersebut sesuai dengan pendapat dari Slameto (2013).
D. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari bahwa masih terdapat beberapa keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti, sehingga penelitian menjadi kurang optimal. Penting untuk mengetahui berbagai kendala yang mungkin timbul selama proses penelitian, beberapa di antaranya tercantum di bawah ini.
1. Pemahaman membaca siswa masih rendah karena rendahnya minat siswa membaca buku atau literatur bahan bacaan
2. Pembuatan proyek terkait pembelajaran membutuhkan banyak waktu, sehingga harus dilakukan di luar kelas.
3. Beberapa siswa senang mendiskusikan pembuatan proyek selama kegiatan pembelajaran dengan guru (KBM), yang dapat membuat lingkungan kelas menjadi kurang ideal.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan setelah diuraikan hasil analisis data pada bab sebelumnya maka kesimpulannya adalah.
1. Model pembelajaran berpengaruh pada taraf hasil belajar IPS yang diraih oleh siswa. Penggunaan model pembelajaran PBL terbukti mampu meningkatan meningkatkan cara berpikir kreatif, keterampilan dalam memecahkan masalah, serta dapat kemampuan siswa meningkat dalam kolaborasi tim kerja kelompok.
2. Kapabilitas siswa dalam berpikir secara kreatif mempengaruhi hasil belajar IPS, karena dengan memiliki kapabilitas dalam berpikir secara kreatif akan dapat mengembangkan teknik berpikir yang beragam sehingga akan mampu memberikan jawaban yang luas dan bervariasi.
3. Model PBL dan berpikir kreatif berpengaruh terhadap perolehan hasil belajar siswa khususnya IPS. Elemen-elemen yang mampu untuk berpengaruh terhadap taraf dan tingkatan hasil belajar diklasifikan menjadi 2 elemen, yaitu elemen yang berasal dari dalam diri siswa dan elemen yang berasal dari luar siswa, dengan penjelasan elemen dari dalam diri siswa adalah kapabilitas atau kemampuan dalam berpikir kreatif dan elemen yang berasal dari dalam diri siswa yaitu model pembelajaran.
B. Saran
Fakta-fakta temuan yang didapatkan oleh peneliti dijadikan pertimbangan dan saran untuk waktu yang akan mendatang bagi.
1. Pendidik agar mampu meningkatkan kemampuan mengimplementasikan beragam metode dan model pembelajaran yang diharapkan dapat mempertinggi perolehan taraf hasil belajar khususnya dalam mengimplementasikan model PBL.
2. Siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar mampu berperan secara aktif serta bisa menunjukan ketrampilan dalam kerja proyek pada kelompok.
3. Lembaga sekolah supaya lebih memahami dan memperhatikan kondisi sekolah, pendidik dan peserta didik supaya tujuan sekolah tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, S.R. (2014). Pembelajaran saintifik untuk kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara
Adisusilo, S (2013). Pembelajaran Nilai Karakter. Jakarta: Raja Grafindo. Persada
Ahmad, S. (2014). Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar,. Prenadamedia Group. Jakarta
Alwasilah, A.C. (2002). Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan. Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya.
Andrianto, T. (2013). Cara Cerdas Melejitkan IQ Kreatif Anak. Yogyakarta: Kata Hati.
Anita, L. (2010). Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-RuangKelas. Jakarta: Grasindo.
Arikunto, S. (2013), Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta
Ariyana, Y. (2018). Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi Pada keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Jakarta : Direktor Jenderal Guru dan Tenaga kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Barret, T. (2005). Understanding Problem Based Learning. Handbook of Enquiry and Problem-based Learning: Irish Case Studies and International Perspectives. AISHE READINGS.
Barrows, H.S, and Tamblyn, R.M., (1980).Problem Based Learning, An Approach to Medical Education, New York : Springer Publishing Company.
Bloom, S. (2014) Taxonomy of Educational Objective. New York:Longman
Bruce, J. dkk.( 2009). Models of Teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Buchori, A. (2008). Guru Profesional Menguasai Metode dan Terampil Mengajar, Bandung: Alfabeta
Depdiknas. 2007. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Dirjen Dikti Depdiknas
Dimyati dan Mudjiono, (2008). Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta
Djahiri, K. (1989). Strategi Pengajaran Afektif Nilai-Moral VCT dan Games dalam VCT. Bandung : Penerbit Granesia.
Djajadisastra, J. (2012). Metode Metode Mengajar 2. Bandung : Angkasa.
Gagne. (2014). Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik. Jakarta : PT Asdi Mahasatya
Gay, L.R. dan Diehl, P.L. (1992), Research Methods for Business and. Management, , New York : MacMillan Publishing Company.
Grant, M.M. (2002). Getting A Grip On Project-Based Learning: Theory, Cases. And Recommendations. North Carolina: Meridian A Middle School. Computer Technologies.
Grieshober, W. E. (2004). Continuing a Dictionary of Creativity Terms & Definition. New York: International Center for Studies in Creativity State University of New York College at Buffalo.
Hamalik, O. (2014). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hanafiah, N dan Suhana, C. (2010). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung:Refika Aditama.
Hanafiah. (2010). Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama
Hasan, C. (1994), Dimensi-Dimensi Psikologi Pendidikan, Surabaya: Al Ikhlas.
Hasan, S.M. (1996). Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Dirjendikti, Depdikbud RI.
Ibrahim. (2013). “Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Jamak”. Jakarta: Prenadamedia Group
Indrawati dan Setiawan. W. (2009). Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan untuk Guru SD. Jakarta: PPPPTK IPA.
Ismail,Fajri.(2018).Statistika untuk Penelitian Pendidikan dan Ilmu-ilmu Sosial,Jakarta : Prenadamedia Group
Istarani, (2012). Model Pembelajaran Inovatif, Medan: Media Persada
Jihad dan Haris. (2012). Evaluasi Pembelajaran . Yogyakarta : Multi Pressindo
Kemendikbud. (2013). Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses.Jakarta : Kemendibud
Kemendikbud. (2018). Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Kemendikbud.2019. Hasil PISA Indonesia 2018: Akses Makin Meluas, Saatnya TingkatkanKualitas.https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/hasil-pisa-indonesia-2018-akses makin-meluas-saatnya-tingkatkan-kualitas
Kementerian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemendiknas.
Komalasari, K. (2010). Pembelajaran Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. Bandung: Rafika Aditama.
Made, W. (2012). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer: Suatu. Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta: Bumi Aksara.
Majid, A dan Rochman, C. (2014). Pendekatan Ilmiah dalam. Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Morgan, and Streb. (2001). Using Service-Learning & Civic Enggament to Educate Student about Stakeholder Analysis. Online http://www.uc.edu/cdc/publications/research_ papers/Using_Servicelearning_Civic_Engagement_honadle_kennealy.pdf
Munandar, U. (2009). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta : Rineka Cipta.
Munandar, U. (2012). Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat Cet. 2. Jakarta:Rineka. Cipta
Purwanto. (2014). Evaluasi Hasil belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Rawlinson, J. G. (1974). Berpikir Kreatif dan Brainstrorming. Jakarta: Erlangga.
Rawlinson, J. G. (1989). Berpikir Kreatif dan Sumbang Saran.. Jakarta: Binapura Aksara.
Ruseffendi, E.T. (1988). Penelitian Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Khususnya dalam Pengajaran Matematika. Bandung: Tarsito.
Rusman, (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta:Grafindo Persada
Sabri, M.A. (2010) Psikologi Pendidikan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, cet. 5
Sagala, S. (2009). Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta
Sani. (2014). Pembelajaran saintifik untuk implementasi kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Sapriya. (2009). Pendidikan IPS. Bandung: Rosda Karya.
Slameto, (2013) Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta
Soetopo, H. (2005). Pendidikan dan Pembelajaran, Malang: Universitas Muhammadiyah
Sudjana, N dan Rivai, A. (2001) Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru
Sudjana, N. (2009). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Sudjana. (2016). Metode Statistika. Bandung: Taristo
Sugiyanto. (2009). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru PSG Rayon 13.
Sugiyono, (2018) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Alfabeta
Sulaeman, M. (2016). Aplikasi Project Based Learning (PBL) untuk Membangun Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif Siswa . Jawa Barat: Bioma.
Susanto, A. (2013). Teori Belajar Dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Susanto, A. (2015) Teori Belajar Dan Pembelajaran Disekolah Dasar. Jakarta: Prenada Media.
Sutirman, (2017). Project Bassed Learning, Scientic Method, Jakarta: Bumi Aksara
Syah, M. (2011), Psikologi Belajar, Jakarta: Bumi Aksara
Taniredja,T. (2012). Model-model Pembelajaran Inovatif. Bandung: Alfabeta
Tasrif. (2008). Pengantar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Yogyakarta: Genta Press.
Trianto, (2009). Model-Model Pembelajaran Inovatif BerorientasiKonstruktivistik , Jakarta: Penerbit Prestasi Pustaka
Warsono, dkk. (2012). Pembelajaran Aktif, Bandung: Remaja Rosda Karya
Wena, M. (2006). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta: Bumi Aksara
Widdiharto, R. (2004). Model-model Pembelajaran Matematika SMP: Makalah Diklat Instruktur/Pengembangan Matematika SMP Jenjang Dasar. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Matematika Yogyakarta.
Wena,Made (2013). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: PT Bumi.
Yani, A. (2012). Model Pembelajaran IPS, Jakarta Kementrian Agama
Jurnal
Afriana, J. (2015). Project Based Learning, Makalah Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pembelajaran IPA Terpadu. Bandung: Pendidikan IPA Sekolah Pascasarjana UPI Bandung.
Ahmadi & Aulia. (2020). Dampak COVID-19 pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah, Keterampilan, serta Proses Pembelajaran. Jurnal Sosial & Budaya Syar'i, 7(5), 395-402.
Azhari & Somakim. (2013). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematik Siswa Melalui Pendekatan Konstruktivisme di Kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Banyuasin III. Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2).
Eyler, J., & Giles Jr, D. E. (1996). Where’s the Learning in Service-Learning? Jossey-Bass Higher and Adult Education Series. San Francisco, Journal ERIC. Pages: 315, Jossey-Bass, Inc., 350 Sansome St.
Febriyanti, A. (2020). Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Pembelajaran Tematik Muatan Pelajaran IPA Peserta Didik Kelas V SD Negeri. JP3D (Jurnal Pembelajaran Dan Pengajaran Pendidikan Dasar), Bengkulu : Program Magister Pendidikan Dasar Universitas Bengkulu.
Feng, X. Z & H. R. Yu. (2014). A Novel Optimization Algorithm Inspired by The Creative Thinking Process. Soft Comput. 19(10), 2955–2972 (2015), Shanghai Municipal Education Commission, and the Fundamental Research Funds for the Central Universities.
Goodman, B., & Stivers, J. (2010). Project-based learning. Educational psychology, 2010, 1-8. Diunduh dari http://www.fsmilitary.org/pdf/Project_Based_Learning.pdf.
Kristania (2016) Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif dan Positif Terhadap Prestasi Belajar Matematika, Jurnal Kajian Pendidikan Matematika, vol 1.no1. 57-68
Kusadi (2020) Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap Keterampilan Sosial Dan Berpikir Kreatif. Jurnal : TSCJ, Vol 3 No 1, Tahun 2020 p-ISSN : 2615-4692 e-ISSN : 2615-6105
Lestari (2021) Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Proyek pada Mata Pelajaran IPS di MTs. Negeri 1 Jember Tahun Pelajaran 2019/2020. Journal of Social Studies | Vol 2, No 1, Juni 2021
Lestari, T. (2015). Peningkatan Hasil Belajar Kompetensi Dasar menyajikan Contoh Contoh Ilustrasi Dengan Model Pembelajaran Berbasis Proyek dan Metode Pembelajaran Demonstrasi Bagi Siswa Kelas XI Multimedia SMK Muhammadiyah Wonosari. Skripsi. Program Studi Pendidikan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta. Yogyakarta.
Manurung (2020), Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, vol 4, no 4, 1291-1301
Muhammad (2022) Pengaruh Model Project-Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa SD. Bandung : Journal of Elementary Education Volume 05 Number 03, May 2022,E P--ISSN ISSN: : 2614 2614--4 40085 93
Niswara, R., Muhajir, & Untari, M.F.A. (2019). Pengaruh Model Project Based Learning Terhadap High Order Thinking Skill. Denpasar : Mimbar PGSD Undiksha, 7(1992), 85–90
Nurrita, T. 2018. Pengembangan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Palembang : Jurnal Misykat. Vol.3 No.1
Puspita. (2019) Penerapan Model Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif Peserta Didik, Bandung : Jurnal JP2EA, Vol. 5 No. 2, Des. 2019, 119- 131
Raelin, J.A.(2008).Work-Based Learning: Bridging knowledge and action in the worksplace. San Francisco: Jossey-Bass.
Saefudin, A.A. (2012). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa dalam Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Al-Bidayah. 4(1): 37-48.
Santosa (2017), Pengaruh Metode Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Sejarah Siswa di SMA Negeri 5 Depok Kelas 11 IPS. Jurnal Pendidikan Sejarah, vol 6 no 2, 1056-1082
Sari, E.M. (2015). Pengaruh Model Project Based Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran IPS di Kelas V SD N 30 Pontianak Selatan. Tersedia di Http://ejournal.unesa.ac.id
Shriki, A. (2010). Working Like Real Mathematicians: Developing Prospective Teachers’ Awareness of Mathematical Creativity Through Generating New Concepts. Educ Stud Math, 73(2): 159-179.
Siswono, T.Y.E. (2008), Model pembelajaran matematika berbasis pengajuan dan pemecahan masalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif, Penerbit Unesa University Press
Sjukur, S.B. 2012. Pengaruh Blended Learning Terhadap Motivasi Belajar dan Hasil Belajar Siswa Tingkat SMK. Surakarta : Jurnal Pendidikan Vokasi. Vol. 2. Nomor 3, 368-378, November 2012.
Tillman, D. (2013). Implications of Problem Based Learning (PBL) in Elementary Schools Upon the K-12 Engineering Education Pipeline. 120th ASEE Annual Conference & Exposition, The University of Texas at Paso (UTEP), 23-26 Juni.
Wahyuni, (2018) Hubungan Kemampuan Berpikir Kreatif Terhadap Hasil Belajar Mahasiswa, Jurnal Teori dan Terapan Matematika, Vol 17, no 2, 1412-1456
Woltering, V., Herrler, A., Spitzer, K., & Spreckelsen, C. (2009). Blended learning positively affects students’ satisfaction and the role of the tutor in problem based learning process : results of a mixed method evaluation. Journal : Adv in Health Sci Educ, 725-738.
Lampiran 1
LEMBAR VALIDASI AHLI MATERI
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
A. Petunjuk Pengisian
1. Jawaban yang diberikan berupa skor dengan bobot penilaian.
Sangat Baik : skor 4
Baik : skor 3
Kurang Baik : skor 2
Tidak Baik : skor 1
2. Pemberian jawaban pada instrumen penilaian dengan memberikan tanda centang (✔) pada tempat yang telah disediakan.
3. Komentar atau saran dituliskan pada tempat yang sudah disediakan.
4. Kesimpulan akhir berupa komentar kelayakan media pembelajaran, diisi dengan memberikan tanda (✔) pada tempat yang telah di sediakan.
B. Instrumen Penilaian Ahli Materi
|
No |
Indikator |
Skor |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
A. Kualitas Materi Pembelajaran |
|||||
|
1 |
Rumusan dan tujuan pembelajaran jelas |
|
|
✔ |
|
|
2 |
Pemilihan bahasa tepat atau sesuai |
|
|
✔ |
|
|
3 |
Penggunaan kata dan dan kalimat dalam menguraikan materi jelas |
|
|
|
✔ |
|
4 |
Penggunaan ejaan tepat |
|
|
|
✔ |
|
5 |
Materi yang disampaikan menarik |
|
|
✔ |
|
|
6 |
Dapat dijadikan untuk media pembelajaran mandiri |
|
|
|
✔ |
|
7 |
Penyajian materi dapat mendorong kemampuan visualisasi mahasiswa tentang pembelajaran |
|
|
✔ |
|
|
B. Isi |
|||||
|
8 |
Konsep atau isi materi yang dipilih tepat |
|
|
✔ |
|
|
9 |
Materi diuraikan secara rinci |
|
|
|
✔ |
|
10 |
Uraian materi cukup atau tidak berlebihan |
|
|
✔ |
|
|
11 |
Pembagian materi dalam sub materi tepat atau jelas. |
|
|
|
✔ |
|
12 |
Struktur penyajian materi logis atau runtut |
|
|
|
✔ |
|
13 |
Materi yang diuraikan sudah relevan |
|
|
✔ |
|
|
14 |
Materi sesuai dengan kebutuhan siswa |
|
|
✔ |
|
C. Komentar untuk memperbaiki materi
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
D. Kesimpulan
( ) Layak digunakan tanpa revisi
( ) Layak digunakan dengan revisi.
( ) Tidak Layak digunakan
....................... Agustus 2022
Validator
......................
Lampiran 2
LEMBAR VALIDASI AHLI MEDIA
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
A. Petunjuk Pengisian
1. Jawaban yang diberikan berupa skor dengan bobot penilaian.
Sangat Baik : skor 4
Baik : skor 3
Kurang Baik : skor 2
Tidak Baik : skor 1
2.
Pemberian jawaban pada instrumen penilaian dengan
memberikan
tanda centang (✔) pada tempat yang telah
disediakan.
3. Komentar atau saran dituliskan pada tempat yang sudah disediakan.
4. Kesimpulan akhir berupa komentar kelayakan media pembelajaran, diisi dengan memberikan tanda (✔) pada tempat yang telah di sediakan.
B. Instrumen Penilaian Ahli Materi
|
No |
Indikator |
Skor |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
A. Font |
|||||
|
1 |
Perbandingan ukuran huruf antar judul, sub-judul dan isi naskah proporsional. |
|
|
✔ |
|
|
2 |
Ukuran huruf dalam modul memudahkan pengguna dalam membaca modul. |
|
|
✔ |
|
|
3 |
Ukuran huruf judul modul lebih dominan dan proporsional dibandingkan ukuran modul dan nama pengarang. |
|
|
✔ |
|
|
4 |
Bentuk huruf dalam modul memudahkan pengguna dalam membaca modul. |
|
|
|
✔ |
|
5 |
Kombinasi jenis huruf konsisten |
|
|
|
✔ |
|
B. Layout |
|||||
|
6 |
Menggunakan format kertas potrait |
|
|
|
✔ |
|
7 |
Batas tepi (margin) luas menjadikan perhatian pengguna
lebih fokus ke |
|
|
✔ |
|
|
8 |
Jarak spasi konsisten |
|
|
✔ |
|
|
9 |
Penempatan judul kegiatan belajar, sub judul kegiatan belajar, dan angka halaman membantu pemahaman |
|
|
|
✔ |
|
10 |
Penempatan ilustrasi dan keterangan gambar (caption) membantu pemahaman. |
|
|
|
✔ |
|
C. Warna |
|||||
|
11 |
Warna pada isi modul tidak mengganggu konsentrasi pengguna |
|
|
✔ |
|
|
D. Gambar |
|||||
|
12 |
Gambar yang tersaji mampu menjelaskan materi |
|
|
✔ |
|
|
E. Penyajian Materi |
|||||
|
13 |
Pengelompokkan isi materi pembelajaran sesuai dengan urutan dan tersusun sistematis |
|
|
|
✔ |
|
14 |
Pengelompokkan antar bab sesuai dengan susunan dan alur |
|
|
✔ |
|
|
15 |
Pengelompokkan antar paragraf sesuai dengan susunan dan alur |
|
|
✔ |
|
|
16 |
Penyajian keseluruhan ilustrasi serasi dan kreatif |
|
|
✔ |
|
|
17 |
Soal tes dikemas sesuai dengan materi |
|
|
|
✔ |
F. Komentar untuk memperbaiki materi
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………….
G. Kesimpulan
( ) Layak digunakan tanpa revisi
( ) Layak digunakan dengan revisi.
( ) Tidak Layak digunakan
......................, Agustus 2022
Validator
………………………..
Lampiran 3
LEMBAR VALIDASI
INSTRUMEN PENILAIAN SOAL
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DAN KEMAMPUAN BERFIKIR KREATIF TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS KELAS IV
SDN ......................
C. Petunjuk Pengisian
5. Bapak/Ibu dimohon untuk memberikan penilaian (memvalidasi) berdasarkan beberapa aspek yang terdapat dalam lembar tes instrumentpenilaian.
6. Dimohon memberikan penilaian dengan memberikan tanda centang (✔) pada tempat yang telah disediakan. Dengan jawaban yang diberikan berupa skor dengan bobot penilaian, yaitu :
1 = tidak baik 4 = baik
2 = kurang baik 5 = sangat baik
3 = cukup baik
7. Bapak/Ibu dimohon untuk memberikan komentar dan saran untuk perbaikan Instrumen Penilaian, dengan menuliskan pada tempat yang tersedia atau langsung pada draf.
8. Kesimpulan akhir berupa komentar kelayakan instrument soal, di isi dengan memberikan tanda (✔) pada tempat yang telah di sediakan.
D. Instrumen Penilaian Instrumen Soal
|
No |
Aspek yang di nilai |
Skor Penilaian |
|||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|||
|
I |
Kesesuaian Isi |
|
|
|
|
|
|
|
1. |
Kesesuaian indikator soal dengan indikator pembelajaran |
|
|
|
✔ |
|
|
|
2. |
Kesesuaian isi soal dengan indikator soal |
|
|
|
|
✔ |
|
|
3. |
Kesesuaian kunci jawaban dengan isi soal. |
|
|
|
✔ |
|
|
|
4. |
Kesesuaian ranah kognitif dengan isi soal |
|
|
|
|
✔ |
|
|
5. |
Memiliki tingkat kesulitan yang proporsional antara sulit, sedang dan mudah. |
|
|
|
|
✔ |
|
|
6. |
Soal mewakili seluruh materi yang disampaikan. |
|
|
|
✔ |
|
|
|
II |
Kontruksi Soal |
|
|
|
|
|
|
|
1. |
Rumusan soal menggunakan kalimat Tanya atau perinah yang jelas |
|
|
|
✔ |
|
|
|
III |
Bahasa yang digunakan |
|
|
|
|
|
|
|
1. |
Penggunaan bahasa sesuai EYD |
|
|
|
|
✔ |
|
|
2. |
Menggunakan bahasa yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa |
|
|
|
✔ |
|
|
- Komentar dan Saran
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
- Kesimpulan
Dengan ini menyatakan bahwa instrumen tersebut (✔)
Layak digunakan untuk mengambil data tanpa revisi
Layak digunakan untuk mengambil data dengan revisi sesuai saran
Tidak layak digunakan untuk mengambil data
......................, Oktober 2022
Validator
…………………….
NIP: ………………………
KISI-KISI ANGKET UJI COBA
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA
|
Variabel |
Indikator |
Butir Pernyataan |
Nomor |
Jumlah |
|
Kemampuan Berpikir Kreatif |
Kelancaran |
Mengajukan banyak pertanyaan, atau memberikan banyak jawaban mengenai suatu permasalahan |
1, 2, |
6 |
|
Fleksibilitas |
Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi. |
3, 4, 6, |
4 |
|
|
Orisinilitas |
Memberikan jawaban yang lain (baru) yang jarang diberikan kebanyakan orang. |
8, 9, |
4 |
|
|
Elaborasi |
Dapat memperinci suatu gagasan suatu lebih jelas. |
5,7,10 |
3 |
|
|
Jumlah |
17 |
|||
Sumber Modifikasi Munandar (2012)
Lampiran 4
ANGKET UJICOBA
Nama :
Kelas :
Petunjuk pengisian
1.
Nyatakan jawaban yang sesuai denga kenyataanmu
dengan memberikan tanda
centang (√) pada kolom yang tersedia
SS = Sangat setuju
S = Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
2. Angket Pernyataan
|
No |
Pernyataan |
Jawaban |
|||
|
SS |
S |
TS |
STS |
||
|
1 |
Saya biasanya mengajukan banyak pertanyaan karena saya merasa penasaran dengan materi yang disampaikan oleh guru |
|
|
|
|
|
2 |
Saya biasanya memberikan sejumlah jawaban dari sebuah pertanyaan karena saya merasa jawaban-jawaban itu sama benarnya. |
|
|
|
|
|
3 |
Saya biasanya memberikan banyak pendapat untuk menyelesaikan suatu masalah. |
|
|
|
|
|
4 |
Saya biasanya mengajukan banyak cara untuk menyelesaikan suatu masalah. |
|
|
|
|
|
5 |
Saya biasanya berusaha mengembangkan gagasan–gagasan orang lain dengan bahasa saya sendiri karena saya akan lebih mudah memahaminya. |
|
|
|
|
|
6 |
Saya biasanya mengutarakan pendapat yang berbeda dari yang lainya. |
|
|
|
|
|
7 |
Saya biasanya memikirkan banyak cara untuk menyelesaikan masalah. |
|
|
|
|
|
8 |
Saya biasanya menyelesaikan masalah dengan cara saya sendiri |
|
|
|
|
|
9 |
Saya biasanya memikirkan cara baru untuk menyelesaikan suatu permasalahan |
|
|
|
|
|
10 |
Saya biasanya mengemukakan pendapat beserta alasanya. |
|
|
|
|
|
11 |
Saya malas untuk memikirkan cara – cara baru dalam menyelesaikan suatu masalah karena menurut saya memakai cara lama sudah cukup. |
|
|
|
|
|
12 |
Saya biasanya hanya menggunakan satu cara untuk menyelesaikan sebuah permasalahan karena cara lain hasilnya sama saja. |
|
|
|
|
|
13 |
Saya malas mengajukan pertanyaan di kelas karena teman-teman juga tidak ada yang bertanya |
|
|
|
|
|
14 |
Saya biasanya hanya mengemukakan satu jawaban dari sebuah pertanyaan karena saya merasa jawaba lain sama saja. |
|
|
|
|
|
15 |
Saya malas memberikan pendapat untuk menyelesaikan permasalahan karena teman-teman di kelas sering tidak memperhatikan. |
|
|
|
|
|
16 |
Saya malas memberikan pendapat apabila sudah ada teman yang mengutarakan pendapatnya. |
|
|
|
|
|
17 |
Saya lebih senang memakai cara lama dari pada memikirkan cara baru untuk menyelesaikan masalah karena hasilnya pasti sama saja. |
|
|
|
|
Lampiran 5
KISI-KISI TES UJICOBA
HASIL BELAJAR IPS SISWA
|
Variabel |
Materi |
Indikator |
Nomor |
Jml |
|
Hasil Belajar IPS |
Kegiatan Ekonomi |
Menyebutkan jenis pekerjaan sesuai tempat hidup penduduk |
5,12,17,18, 19 |
5 |
|
Mendeskripsikan dan menghubungakan jenis-jenis pekerjaan |
1,2,3,7,10, 14,20,25 |
8 |
||
|
Mengemukakan ide atau gagasan mengenai permasalahan pada jenis-jenis pekerjaan |
4,6,8,9,11, 21,22,23,24, 26 |
10 |
||
|
Menyebutkan perbedaan jenis-jenis pekerjaan |
13,15,16.26 |
4 |
||
|
Jumlah |
27 |
|||
Lampiran 6
TES UJICOBA
HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS
Nama :
Kelas :
A. Petunjuk :
Berilah tanda silang pada huruf a, b, c atau d pada jawaban yang dianggap benar!
B. Soal
1. Suatu aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya merupakan pengertian dari .....
a. Pekerjaan
b. Perbuatan
c. Perekonomian
d. Pertanian
2. Dari beberapa jenis pekerjaan sesuai tempat tinggal masyarakat, kecuali.......
a. Masyarakat perkotaan bekerja sebagai karyawan kantor.
b. Masyarakat pedesaan bekerja sebagai pedagang
c. Masyarakat pesisir pantai bekerja sebagai nelayan
d. Masyarakat di dataran tinggi bekerja sebagai tukang kebun.
3. Masyarakat di daerah dataran rendah biasanya bekerja sebagai.....
a. Penjaga toko
b. Karyawan kantor
c. Pemilik toko
d. Petani
- Jenis pekerjaan berikut ini yang menghasilkan jasa adalah ….
a. petani
b. nelayan
c. dokter gigi
d. peternak
5. Tono selalu makan ikan segar tangkapan ayahnya, beliau juga memiliki kapal dan jaring untuk menangkap ikan, setiap hari Tono mendengar suara ombak. Jenis pekerjaan yang sesuai dengan pernyataan tersebut adalah.....
a. Nelayan
b. Petani
c. Dokter
d. Polisi
6. (1) karyawan kantor
(2) penjaga toko
(3) satpam
(4) perternak
Pekerjaan yang banyak di lakukan masyarakat di lingkungan perkotaan adalah....
a. (4), (3) dam (2)
b. (1), (3) dan (4)
c. (1), (2) dan (3)
d. (1), (2), (3) dan (4)
7. Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan juta penduduk. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena sebagian penduduknya bermatapencaharian sebagai ….
a. Nelayan
b. Guru
c. Petani
d. Karyawan
8. Pekerjaan yang cocok sesuai dengan daerah pegunungan antara lain adalah ….
a. Menanam bakau
b. Petani garam
c. Mencari ikan
d. Petani the
9. Berikut ini merupakan faktor yang menyebabkan beragamnya jenis pekerjaan yang ada di sekitar kita, kecuali ….
a. Kondisi tanah
b. Kondisi musim
c. Keahlian
d. Kondisi jiwa
10. Lingkungan alam sebagai tempat bekerja harus kita jaga karena ….
a. Tidak bisa ditanami di musim kemarau
b. Kelestarian alam yang menjamin kehidupan manusia
c. Milik pemerintah Indonesia
d. Alam akan marah pada semua manusia
- Pekerjaan membuat garam banyak dijumpai pada masyarakat yang tinggal dekat dengan ....
a. perkotaan
b. pedesaan
c. padang rumput
d. pesisir pantai
- Menanam sayur-sayuran, seperti kol, wortel, dan buncis biasanya dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah sekitar ....
a. dataran tinggi
b. dataran rendah
c. daerah pantai
d. perairan laut
13. Pak Bayu merupakan pengrajin kayu, ia selalu memilih kayu-kayu pembeliannya dengan baik. Ia juga tidak pernah membeli kayu-kayu ilegal dari penebangan liar. Sikap Pak Bayu tersebut turut mendukung dalam ….
a. Mencegah kerusakan hutan
b. Menyebabkan gundulnya hutan
c. Meningkatkan produksi kayu
d. Mengurangi jumlah pengangguran
14. Berikut ini pekerjaan yang tidak terkait erat dengan tanaman padi adalah ….
a. Petani padi
b. Buruh tani
c. Pedagang beras
d. Pembeli beras
15. Pasangan pekerjaan di bawah ini yang sering berhubungan secara langsung
dalam kegiatannya adalah ….
a. Petani jagung dan penjual pulsa
b. Petani padi dan pedagang sayur
c. Nelayan dan penjual ikan
d. Petani teh dan petani tebu
16. Menjaga kelestarian alam adalah kewajiban kita semua. Contoh menjaga kelestarian alam adalah melindungi tanaman bakau di kawasan pesisir pantai, karena tanaman bakau dapat bermanfaat salah satunya untuk ….
a. Mencegah tsunami datang
b. Melindungi pantai dari abrasi
c. Membuat air laut jadi tawar
d. Memperbesar gelombang ombak ke daratan
17. Kegiatan ekonomi di tempat berikut ini yang memiliki pasangan pekerjaan
yang sesuai adalah ….
a. Kegiatan ekonomi di pasar seperti pedagang beras, pedagang sayur dan pedagang baju
b. Kegiatan ekonomi di warung makan sepeti koki, pelayan dan pendesain gambar
c. Kegiatan ekonomi di supermarket seperti kasir, penjaga toko dan direktur
d. Kegiatan ekonomi di sawah seperti petani, buruh tani dan sopir angkutan
18. Pasangan kegiatan ekonomi dan pekerjaan yang terkait yang benar adalah....
a. Rumah sakit dan dokter.
b. Restoran dan nelayan.
c. Sekolah dan petani.
d. Perkantoran dan peternak.
19. Bekerja sebagai petani banyak kita jumpai di lingkungan......
a. Perkotaan
b. Perkantoran
c. Pedesaan
d. Perkebunan
20. Contoh pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat daerah dataran tinggi adalah......
a. Peternak dan nelayan.
b. Pekebun tanaman perkebunan dan pedagang.
c. Peternak dan petani.
d. Petani dan nelayan.
21. Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan juta penduduk. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena sebagian penduduknya bermatapencaharian sebagai ....
a. Nelayan
b. Guru
c. Petani
d. Karyawan
22. Pekerjaan yang cocok sesuai dengan daerah pegunungan antara lain adalah ....
a. Menanam bakau
b. Petani garam
c. Mencari ikan
d. Petani the
23. Berikut ini merupakan faktor yang menyebabkan beragamnya jenis pekerjaan yang ada di sekitar kita, kecuali ....
a. Kondisi tanah
b. Kondisi musim
c. Keahlian
d. Kondisi jiwa
24. Lingkungan alam sebagai tempat bekerja harus kita jaga karena ....
a. Tidak bisa ditanami di musim kemarau
b. Kelestarian alam yang menjamin kehidupan manusia
c. Milik pemerintah Indonesia
d. Alam akan marah pada semua manusia
25. Para petani sebaiknya tidak menggunakan pestisida secara berlebihan karena dapat ....
a. Memusnahkan hewan-hewan kecil
b. Membunuh semua hewan pemangsa
c. Membuat tanaman menjadi punah
d. Menyebabkan tanaman terlalu besar
26. Berikut ini pekerjaan yang tidak terkait erat dengan tanaman padi adalah ....
a. Petani padi
b. Buruh tani
c. Pedagang beras
d. Pembeli beras
27. Pasangan pekerjaan di bawah ini yang sering berhubungan secara langsung dalam kegiatan nya adalah ....
a. Petani jagung dan penjual pulsa
b. Petani padi dan pedagang sayur
c. Nelayan dan penjual ikan
d. Petani teh dan petani tebu
Lampiran 7
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Satuan Pendidikan : SDN ......................
Kelas / Semester : IV (Empat) / 1
Tema 4 : Berbagi Pekerjaan
Sub Tema 1 : Jenis-jenis Pekerjaan
Pembelajaran : 1
Muatan Materi : IPS
Alokasi Waktu : 1 x Pertemuan (6 x 35 menit)
A. KOMPETENSI INTI (KI)
KI 1 : Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.
KI 2 : Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru dan tetangga.
KI 3 : Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah.
KI 4 : Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak beriman dan berakhlak mulia.
B. KOMPETENSI DASAR (KD) & INDIKATOR
IPS
Kompetensi Dasar:
3.3 Mengidentifikasi kegiatan ekonomi dalam meningkatkan kehidupan masyarakat dibidang pekerjaan, sosial dan budaya di lingkungan sekitar sampai provinsi.
4.3 Menyajikan hasil identifikasi kegiatan ekonomi dalam meningkatkan kehidupan masyarakat dibidang pekerjaan, sosial dan budaya di lingkungan sekitar sampai provinsi.
Indikator:
3.3.1 Menyebutkan jenis pekerjaan sesuai tempat hidup penduduk.
3.3.2 Mengidentifikasi jenis pekerjaan sesuai tempat hidup penduduk
3.3.3 Membandingkan jenis pekerjaan sesuai tempat hidup penduduk.
4.3.1 Membuat laporan jenis pekerjaan berdasarkan tempat tinggal penduduk dalam bentuk tulisan, peta konsep atau media lainnya.
C. MATERI PEMBELAJARAN
Jenis-jenis Pekerjaan
D. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Setelah mengamati video, siswa mampu menyebutkan jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitar mereka dengan benar.
2. Setelah berdiskusi, siswa
3. mampu mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitar mereka dengan tepat.
4. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa mampu membandingkan jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitar mereka
5. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa mampu mengembangkan laporan tentang jenis pekerjaan dalam bentuk tulisan, peta konsep atau media lainnya dengan lengkap.
E. KARAKTER SISWA YANG DIHARAPKAN
Religius , Jujur, Disiplin, Kerja Keras Kreatif, Mandiri, Menghargai Prestasi
F. METODE DAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN.
1. Model : Pembelajaran Berbasis Proyek ( Mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menguji hasil, mengevaluasi hasil, dan mengkomunikasikan)
2. Metode : Ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, diskusi.
3. Pendekatan : Saintifik, Penguatan Pendidikan Karakter
|
Kegiatan |
Deskripsi Kegiatan |
Model |
|
Pendahuluan |
1. Guru membuka pelajaran dengan menyapa siswa dan menanyakan kabar mereka. 2. Guru meminta
salah seorang siswa untuk memimpin doa ((Religius). Doa
dipimpin oleh Peserta 3. Siswa mendengarkan penjelasan dari gurukegiatan yang akan dilakukan dan apa tujuan yang akan dicapai dari kegiatan tersebut dengan bahasa yang sederhana dan dapat dipahami. 4. Siswa menyimak apersepsi dari guru tentang pelajaran sebelumnya dan mengaitkan dengan pengalamannya sebagai bekal pelajaran berikutnya. (Communication 4C). 5. Siswa bertanya
jawab dengan guru berkaitan dengan materi sebelumnya (4C-Collaboration 6. Siswa menyimak apersepsi dengan mengingat kembali tentang ”Berbagai Pekerjaan”. 7. Siswa menyimak penjelasan guru tentang semua kegiatan yang akan dilakukan dan tujuan pembelajaran diantaranya: melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa mampu mengembangkan laporan tentang jenis pekerjaan dalam bentuk tulisan, peta konsep atau media lainnya dengan lengkap 8. Serta guru memberi motivasi (4C-Comunication) |
|
|
Inti |
Tahap 1 : Mengamati Orientasi siswa pada masalah 1. Siswa secara berkelompok mengamati media benda konkret yang ditunjukkan guru (Tah, kopi, susu dan lain-lain) 2. Mengamati video tentang dengan jenis-jenis pekerjaan melalui Channal Youtube. 3. Siswa mengajukan pertanyaan mendasar tentang langkah-langkah yang harus dilakukan terhadap pemecahan masalah (menanya- saintifik).
Tahap 2: Menanya 1. Siswa diberikan permasalahan berupa pertanyaan terkait video tayangan dan gambar yang disajikan. 2. Guru dapat mengajukan pertanyaan berikut (dan mengembangkannya apabila perlu). Gambar apa yang kalian lihat? (Perkebunan teh, pemetik teh, Siswa bisa menjawab kemungkinan lainnya) (Apa tugas masing-masing pekerja tersebut?) 3. Siswa membuat pertanyaan dari media yang ada. a. Apa manfaat teh? b. Kira-kira, di mana teh tumbuh? c. Pekerjaan apa saja yang terlibat sehingga teh dapat sampai ke konsumen? 4. Siswa menjawab pertanyaan yang diutarakan guru (Saintifik-Menanya) dan (4C Comunication). Tahap 3: Mengumpulkan data 1. Siswa kemudian diajak untuk membuka buku pelajaran dan membaca teks ‘Tempat Hidup Tanaman Teh’.Literasi 2. Secara klasikal, guru kemudian membahas Jawaban-jawaban siswa dan menyimpulkannya bersama. 3. Siswa secara berkelompok diajak untuk menyimpulkan nilai nilai yang perlu dimiliki sehubungan dengan dengan jenis-jenis pekerjaan. Integritas
Tahap 4 Membimbing penyelidikan siswa secara mandiri maupun kelompok 1. Siswa secara berkelompok diajak untuk menyimpulkan yang berhubungan dengan jenis-jenis pekerjaan. Integritas 2. Siswa secara berkelompok diminta untuk mengisi peta pikiran yang ada di dalam buku. Sebelumnya Siswa diberi kesempatan untuk bertanya tentang pengisiannya. Guru dapat memberikan satu contoh jawaban untuk memberi gambaran yang jelas.( Critical Thinking and Problem Solving)
Mengorganisasi siswa dalam belajar 1. Siswa membentuk 6 kelompok, dengan masing-masing kelompok 5 orang. 2. Siswa bersama kelompok berdiskusi mendesain tahapan perencanaan proyek meliputi pembagian tugas, persiapan alat, bahan, media, dan sumber yang dibutuhkan. (mencoba-saintifik)
Menyusun Jadwal Pembuatan 1. Siswa berdiskusi menyusun jadwal dan menentukan sendiri pembuatan proyek pemecahan masalah dengan memerhatikan batas waktu yang telah ditentukan bersama (gotong royong-PPK). 2. Proyek mengacu pada tujuan pembelajaran siswa mampu mengembangkan laporan tentang jenis pekerjaan dalam bentuk tulisan, peta konsep atau media lainnya dengan lengkap. 3. Siswa dapat bertanya kepada guru jika terdapat hal-hal yang belum dipahami dalam buku dan lembar kerja proyek yang harus diselesaikan. (mengkomunikasikan- saintifik)
Jadwal Proyek: Hari 1 Penjelasan tentang proyek yang dilakukan, diskusi, tanya jawab terkait permasalahan dan solusi yang akan dilakukan dalam proyek, kesepakatan penugasan, penetapan jadwal pelaksanaan tugas, pengecekan alat dan bahan yang sudah dibawa oleh masing-masing kelompok.
Hari ke 2-5 i. Siswa mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka dan melakukan eksplorasi pada jemis pekerjaan yang dipilih berdasarkan lingkungan alam, keahlian, dan kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut melalui observasi dan wawancara dan pengamatan melalui media. ii. Siswa membandingkan jenis-jenis pekerjaan yang mereka temui di lingkungan tempat tinggalnya. iii. Siswa mengembangkan laporan tentang jenis pekerjaan dalam bentuk tulisan, peta konsep atau media lainnya dengan lengkap.
Monitoring 1. Siswa berkordinasi dengan guru tentang perkembangan proyek (mengkomunikasikan- saintifik). 2. Siswa bersama kelompok melakukan pembuatan proyek sesuai jadwal, mencatat setiap tahapan, dan mendiskusikan masalah yang muncul selama penyelesaian proyek dengan guru (mengkomunikasikan saintifik, gotong royong-PPK).
Hari ke 5 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya (Mengkomunikasikan) 1. Setiap kelompok menyampaikan hasil karya berupa laporan proyek yang dikerjakan dengan materi jenis-jenis pekerjaan yang ada di lengkungan tempat tinggalnya. 2. Guru dapat memberi kesempatan kepada kelompok lain untuk bertanya lebih lanjut mengenai materi yang sedang dibahas. (Critical Thinking and Problem Solving) 3. Siswa dengan bimbingan guru membahas kelayakan proyek yang telah dibuat (mengkomunikasikan-saintifik). 4. Siswa secara berkelompok menyusun simpulan secara tulis dalam bentuk teks laporan hasil pengamatan karya
|
(Sintak Model Project Based Learning) Fase 1 Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question)
Fase 2 Mendesain Perencanaan Proyek
Fase 3 Menyusun Jadwal Proyek
Fase 4 Memonitoring Keaktifan dan Perkembangan Proyek
Fase 6 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah 1. Siswa mengerjakan evaluasi untuk diambil penilaian 2. Siswa menyerahkan evaluasi yang telah dikerjakan 3. Guru memberikan penghargaan dalam berbagai bentuk untuk kelompok belajar yang paling baik
|
|
Penutup |
1. Siswa mendengarkan ulasan kembali materi yang telah disampaikan oleh guru dan menjawab kuis yang diberikan guru 2. Siswa mengerjakan evaluasi untuk diambil penilaian 3. Siswa menyerahkan evaluasi yang telah dikerjakan 4. Guru memberikan penghargaan dalam berbagai bentuk untuk kelompok belajar yang paling baik 5. Sebelum pelajaran ditutup guru meminta Siswa melakukan refleksi kesimpulan kegiatan hari ini. 6. Kegiatan refleksi berikut ini: a. Apa yang telah kamu pelajari hari ini? b. Apa yang paling kalian sukai dari pembelajaran hari ini? c. Apa yang belum kaian pahami pada pembelajaran hari ini? (Mengkomunikasikan) 7. Siswa melakukan analisis kelebihan dan kekurangan kegiatan pembelajaran (Critical Thinking and Communication-4C) Refleksi 8. Siswa diajak untuk selalu mensyukuri nikmat yang diberikan dan mengajak Siswa untuk selalu berhemat energi (religiusitas) 9. Bersama-sama Siswa membuat kesimpulan / rangkuman hasil belajar selama sehari Integritas 10. Bertanya jawab tentang materi yang telah dipelajari (untuk mengetahui hasil ketercapaian materi) 11. Guru memberi kesempatan kepada Siswa untuk menyampaikan pendapatnya tentang pembelajaran yang telah diikuti. 12. Melakukan penilaian hasil belajar 13. Mengajak semua Siswa berdo’a menurut agama dan keyakinan masing-masing (untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran) Religius |
|
G. SUMBER DAN MEDIA PEMBELAJARAN
1. Buku Pedoman Guru Tema : Berbagai Pekerjaan Kelas 4 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Rev.2017, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013 Rev.2017).
2. Buku Siswa Tema : Berbagai Pekerjaan Kelas 4 (Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 Rev.2017, Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2013 Rev.2017).
3. Video pembelajaran yang diadopsi dari channal Youtube
https://www.youtube.com/watch?v=EDXQcYm8aaY
4. Benda konkret teh
H. PENILAIAN, PEMBELAJARAN REMIDIAL DAN PENGAYAAN
1. Jenis / teknik penilaian:
a. Penilaian sikap : observasi
b. Penilaian pengetahuan : tes tertulis
c. Penilaian keterampilan : unjuk kerja
2. Bentuk penilaian
a. Penilaian pengetahuan : pilihan ganda
b. Penilaian keterampilan : (Proyek) skala penilaian
3. Instrumen penilaian (terlampir)
4. Pedoman penskoran (terlampir)
Lampiran 1
KISI-KISI PENILAIAN SIKAP SPIRITUAL
|
Nama Sekolah |
: |
SDN ...................... |
|
Kelas/ Semester |
: |
IV/I |
|
Tema |
: |
4 (Berbagai Pekerjaan) |
|
Muatan Pelajaran |
: |
IPS |
|
Kompetensi Inti |
Sikap |
Indikator |
Bentuk |
Jumlah |
|
KI-1 |
Ketaatan |
Berdoa sebelum dan |
Pernyataan dengan |
|
|
Menerima, |
beribadah |
sesudah melakukan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
menjalankan, dan |
|
kegiatan |
“Tidak” |
|
|
menghargai ajaran agama yang |
|
Tertib ketika berdoa |
Pernyataan dengan pilihan “Ya” atau |
1 |
|
dianutnya. |
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Melaksanakan ibadah |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
sesuai agama masing- |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
masing |
“Tidak” |
|
|
|
Toleransi |
Menghormati teman |
Pernyataan dengan |
|
|
|
dalam |
yang berbeda agama |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
beribadah |
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Tidak mengganggu |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
teman pada saat |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
berdoa |
“Tidak” |
|
|
|
|
Tidak menjelekkan |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
agama lain |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
Berperilaku |
Tidak suka mengeluh |
Pernyataan dengan |
|
|
|
syukur |
|
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Selalu berterima kasih |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
bila menerima |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
pertolongan |
“Tidak” |
|
|
|
|
Menerima penugasan |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
dengan sikap terbuka |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
Jumlah |
9 |
|||
KISI-KISI PENILAIAN SIKAP SOSIAL
|
Nama Sekolah |
: |
SDN ...................... |
|
Kelas/ Semester |
: |
IV/I |
|
Tema |
: |
4 (Berbagai Pekerjaan) |
|
Muatan Pelajaran |
: |
IPS |
|
Kompetensi Inti |
Sikap |
Indikator |
Bentuk |
Jumlah |
|
KI-2 |
Disiplin |
Mengikuti kegiatan |
Pernyataan dengan |
|
|
Menunjukkan |
|
pembelajaran daring tepat |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
perilaku jujur, |
|
waktu |
Tidak” |
|
|
disiplin, tanggung |
|
Tidak bermain atau |
Pernyataan dengan |
|
|
jawab, santun, |
|
bercanda ketika kegiatan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
peduli, dan |
|
berlangsung |
“Tidak” |
|
|
percaya diri |
|
Mengerjakan tugas dengan |
Pernyataan dengan |
|
|
dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan tetangganya serta cinta tanah air. |
|
baik |
pilihan “Ya” atau “Tidak” |
1 |
|
Mengumpulkan tugas tepat waktu |
Pernyataan dengan pilihan “Ya” atau “Tidak” |
1 |
||
|
Tanggung |
Menyelesaikan tugas yang |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
Jawab |
diberikan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Membuat laporan setelah |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
selesai melakukan kegiatan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Mengakui kesalahan, tidak |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
melemparkan kesalahan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
kepada teman |
“Tidak” |
|
|
|
Percaya |
Berani mengemukakan |
Pernyataan dengan |
|
|
|
Diri |
pendapat ataupun bertanya |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Mengungkapkan kritikan |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
membangun terhadap karya |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
orang lain |
“Tidak” |
|
|
|
|
Memberikan argumen yang |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
kuat untuk mempertahankan |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
pendapat |
“Tidak” |
|
|
|
|
Berani tampil untuk |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
mempresentasikan hasil |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
kerjanya |
“Tidak” |
|
|
|
Santun |
Berbicara atau bertutur kata |
Pernyataan dengan |
|
|
|
|
halus |
pilihan “Ya” atau |
1 |
|
|
|
|
“Tidak” |
|
|
|
|
Berpakaian rapi dan pantas |
Pernyataan dengan |
|
|
|
pilihan “Ya” atau |
1 |
||
|
|
“Tidak” |
|
||
|
Menunjukkan wajah ramah, |
Pernyataan dengan |
|
||
|
bersahabat, dan tidak |
pilihan “Ya” atau |
1 |
||
|
cemberut |
“Tidak” |
|
||
|
Jumlah |
14 |
|||
INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP SPIRITUAL (RUBRIK)
|
Nama Sekolah |
: |
SDN ...................... |
|
Kelas/ Semester |
: |
IV/I |
|
Tema |
: |
4 (Berbagai Pekerjaan) |
|
Muatan Pelajaran |
: |
IPS |
|
No. |
Sikap |
Indikator Pernyataan |
Kriteria |
|
|
1. |
Ketaatan Beribadah |
· Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan · Tertib ketika berdoa · Melaksanakan ibadah sesuai agama masing-masing |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
|
2. |
Toleransi dalam beribadah |
· Menghormati teman yang berbeda agama · Tidak mengganggu teman pada saat berdoa · Tidak menjelekkan agama lain |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
|
3. |
Berperilaku syukur |
· Tidak suka mengeluh · Selalu berterima kasih bila menerima pertolongan · Menerima penugasan dengan sikap terbuka |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
Keterangan :
SB : Sangat Baik
B : Baik
PB : Perlu Bimbingan
PENILAIAN SIKAP SPIRITUAL OLEH GURU (DAFTAR CHECK LIST)
Nama : ..........................................
Kelas : ...........................................
No. Absen : ...........................................
Petunjuk:
Berilah tanda centang (√) pada kolom “Ya” atau “Tidak” sesuai dengan keadaan yang sebenarnya!
|
No. |
Sikap |
Pernyataan |
Ya |
Tidak |
|
1. |
Ketaatan beribadah |
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan |
|
|
|
Tertib ketika berdoa |
|
|
||
|
Melaksanakan ibadahsesuai agama masing-masing |
|
|
||
|
2. |
Toleransi dalam beribadah |
Menghormati teman yang berbeda agama |
|
|
|
Tidak mengganggu teman pada saat berdoa |
|
|
||
|
Tidak menjelekkan agama lain |
|
|
||
|
3. |
Berperilaku syukur |
Tidak suka mengeluh |
|
|
|
Selalu berterima kasihbila menerima pertolongan |
|
|
||
|
Menerima penugasan dengan sikap terbuka |
|
|
INSTRUMEN PENILAIAN SIKAP SOSIAL (RUBRIK)
Nama Sekolah : SDN ......................Kelas/ Semester : VI / I
Tema : 4 Berbagai Pekerjaan
Muatan Pelajaran : IPS
Pembelajaran : 3 (ketiga)
|
No. |
Sikap |
Indikator Pernyataan |
Kriteria |
|
|
1. |
Disiplin |
· Mengikuti kegiatan pembelajaran daring tepat waktu · Tidak bermain atau bercanda ketika kegiatan berlangsung · Mengerjakan tugas dengan baik |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
|
2. |
Tanggung Jawab |
· Menyelesaikan tugas yang diberikan · Membuat laporan setelah selesai melakukan kegiatan · Mengakui kesalahan, tidak melemparkan kesalahan kepada teman |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
|
3. |
Percaya Diri |
· Berani mengemukakan pendapat ataupun bertanya · Mengungkapkan kritikan membangun terhadap karya orang lain · Memberikan argumen yang kuat untuk mempertahankan pendapat · Berani tampil untuk mempresentasikan hasil kerjanya |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
|
4. |
Santun |
· Berbicara atau bertutur kata halus · Berpakaian rapi dan pantas · Menunjukkan wajah ramah, bersahabat, dan tidak cemberut |
SB |
Jika 3 hal dilakukan |
|
B |
Jika 2 hal dilakukan |
|||
|
PB |
Jika ≤ 1 hal dilakukan |
|||
Keterangan :
SB : Sangat Baik
B : Baik
PB : Perlu Bimbingan
PENILAIAN SIKAP SOSIAL OLEH GURU (DAFTAR CHECK LIST)
Nama : ..........................................
Kelas : ...........................................
No. Absen : ...........................................
Petunjuk:
Berilah tanda centang (√) pada kolom “Ya” atau “Tidak” sesuai dengan keadaan yang sebenarnya!
|
No. |
Sikap |
Pernyataan |
Ya |
Tidak |
|
1. |
Disiplin |
Mengikuti kegiatan pembelajaran daring tepat waktu |
|
|
|
Tidak bermain atau bercanda ketika kegiatan berlangsung |
|
|
||
|
Mengerjakan tugas dengan baik |
|
|
||
|
Mengumpulkan tugas tepat waktu |
|
|
||
|
2. |
Tanggung Jawab |
Menyelesaikan tugas yang diberikan |
|
|
|
Membuat laporan setelah selesai melakukan kegiatan |
|
|
||
|
Mengakui kesalahan, tidak melemparkan kesalahan kepada teman |
|
|
||
|
3. |
Percaya Diri |
Berani mengemukakan pendapat ataupun bertanya |
|
|
|
Mengungkapkan kritikan membangun terhadap karya orang lain |
|
|
||
|
Memberikan argumen yang kuat untuk mempertahankan pendapat |
|
|
||
|
Berani tampil untuk mempresentasikan hasil kerjanya |
|
|
||
|
4. |
Santun |
Berbicara atau bertutur kata halus |
|
|
|
Berpakaian rapi dan pantas |
|
|
||
|
Menunjukkan wajah ramah, bersahabat, dan tidak cemberut |
|
|
Lampiran 8
HASIL UJICOBA INSTRUMEN
1. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
2. Tes Hasil Belajar IPS Siswa
Lampiran 9
HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN
1. Uji Validitas Instrumen Uji Coba
a. Instrumen Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
b. Tes Hasil Belajar IPS Siswa
Hasil Ujicoba Validitas Instrumen
|
No Item |
Variabel |
rtabel |
rhitung |
Keterangan |
|
1 |
Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa |
0,349 |
0,967 |
Valid |
|
2 |
0,349 |
0,721 |
Valid |
|
|
3 |
0,349 |
0,688 |
Valid |
|
|
4 |
0,349 |
0,404 |
Valid |
|
|
5 |
0,349 |
0,871 |
Valid |
|
|
6 |
0,349 |
0,806 |
Valid |
|
|
7 |
0,349 |
0,628 |
Valid |
|
|
8 |
0,349 |
0,528 |
Valid |
|
|
9 |
0,349 |
0,453 |
Valid |
|
|
10 |
0,349 |
0,409 |
Valid |
|
|
11 |
0,349 |
0,005 |
Tidak Valid |
|
|
12 |
0,349 |
0,836 |
Valid |
|
|
13 |
0,349 |
0,426 |
Valid |
|
|
14 |
0,349 |
0,582 |
Valid |
|
|
15 |
0,349 |
0,423 |
Valid |
|
|
16 |
0,349 |
0,010 |
Tidak Valid |
|
|
17 |
0,349 |
0,424 |
Valid |
|
|
Jumlah Angket Valid |
15 Angket |
|||
|
1 |
Tes Hasil Belajar IPS Siswa |
0,349 |
0,001 |
Tidak Valid |
|
2 |
0,349 |
0,356 |
Valid |
|
|
3 |
0,349 |
0,919 |
Valid |
|
|
4 |
0,349 |
0,432 |
Valid |
|
|
5 |
0,349 |
0,676 |
Valid |
|
|
6 |
0,349 |
0,574 |
Valid |
|
|
7 |
0,349 |
0,377 |
Valid |
|
|
8 |
0,349 |
0,461 |
Valid |
|
|
9 |
0,349 |
0,431 |
Valid |
|
|
10 |
0,349 |
0,160 |
Tidak Valid |
|
|
11 |
0,349 |
0,381 |
Valid |
|
|
12 |
0,349 |
0,870 |
Valid |
|
|
13 |
0,349 |
0,546 |
Valid |
|
|
14 |
0,349 |
0,806 |
Valid |
|
|
15 |
0,349 |
0,610 |
Valid |
|
|
16 |
0,349 |
0,688 |
Valid |
|
|
17 |
0,349 |
0,586 |
Valid |
|
|
18 |
0,349 |
0,441 |
Valid |
|
|
19 |
0,349 |
0,895 |
Valid |
|
|
20 |
0,349 |
0,475 |
Valid |
|
|
21 |
0,349 |
0,803 |
Valid |
|
|
22 |
0,349 |
0,870 |
Valid |
|
|
23 |
0,349 |
0,870 |
Valid |
|
|
24 |
0,349 |
0,432 |
Valid |
|
|
25 |
0,349 |
0,476 |
Valid |
|
|
26 |
0,349 |
0,574 |
Valid |
|
|
27 |
0,349 |
0,664 |
Valid |
|
|
Jumlah Tes Soal Valid |
25 Soal |
|||
2. Uji Reliabilitas Instrumen Ujicoba
a. Instrumen Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
|
0,746 |
17 |
b. Tes Hasil Belajar IPS Siswa
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alphaa |
N of Items |
|
0,804 |
27 |
3. Uji Tingkat Kesukaran Soal
|
No Soal |
Tingkat Kesukaran |
Klasifikasi |
|
1 |
0,163 |
Sukar |
|
2 |
0,813 |
Mudah |
|
3 |
0,813 |
Mudah |
|
4 |
0,844 |
Mudah |
|
5 |
0,813 |
Mudah |
|
6 |
0,563 |
Sedang |
|
7 |
0,655 |
Sedang |
|
8 |
0,750 |
Mudah |
|
9 |
0,719 |
Mudah |
|
10 |
0,280 |
Sukar |
|
11 |
0,625 |
Sedang |
|
12 |
0,844 |
Mudah |
|
13 |
0,844 |
Mudah |
|
14 |
0,844 |
Mudah |
|
15 |
0,813 |
Mudah |
|
16 |
0,563 |
Sedang |
|
17 |
0,656 |
Sedang |
|
18 |
0,781 |
Mudah |
|
19 |
0,719 |
Mudah |
|
20 |
0,656 |
Sedang |
|
21 |
0,625 |
Sedang |
|
22 |
0,844 |
Mudah |
|
23 |
0,844 |
Mudah |
|
24 |
0,844 |
Mudah |
|
25 |
0,813 |
Mudah |
|
26 |
0,563 |
Sedang |
|
27 |
0,688 |
Sedang |
4. Uji Daya Pembeda Soal
|
No Soal |
Daya Pembeda |
Klasifikasi |
|
1 |
0,001 |
Jelek |
|
2 |
0,356 |
Cukup |
|
3 |
0,919 |
Sangat Baik |
|
4 |
0,432 |
Baik |
|
5 |
0,676 |
Baik |
|
6 |
0,574 |
Baik |
|
7 |
0,377 |
Cukup |
|
8 |
0,461 |
Baik |
|
9 |
0,431 |
Baik |
|
10 |
0,160 |
Jelek |
|
11 |
0,381 |
Cukup |
|
12 |
0,870 |
Sangat Baik |
|
13 |
0,546 |
Cukup |
|
14 |
0,806 |
Sangat Baik |
|
15 |
0,610 |
Baik |
|
16 |
0,688 |
Baik |
|
17 |
0,586 |
Baik |
|
18 |
0,441 |
Baik |
|
19 |
0,895 |
Sangat Baik |
|
20 |
0,475 |
Baik |
|
21 |
0,803 |
Sangat Baik |
|
22 |
0,870 |
Sangat Baik |
|
23 |
0,870 |
Sangat Baik |
|
24 |
0,432 |
Baik |
|
25 |
0,476 |
Baik |
|
26 |
0,574 |
Baik |
|
27 |
0,664 |
Baik |
Lampiran 10
SOAL TES HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPS
Nama :
Kelas :
A. Petunjuk :
Berilah tanda silang pada huruf a, b, c atau d pada jawaban yang dianggap benar!
B. Soal
1. Dari beberapa jenis pekerjaan sesuai tempat tinggal masyarakat, kecuali.......
e. Masyarakat perkotaan bekerja sebagai karyawan kantor.
f. Masyarakat pedesaan bekerja sebagai pedagang
g. Masyarakat pesisir pantai bekerja sebagai nelayan
h. Masyarakat di dataran tinggi bekerja sebagai tukang kebun.
2. Masyarakat di daerah dataran rendah biasanya bekerja sebagai.....
e. Penjaga toko
f. Karyawan kantor
g. Pemilik toko
h. Petani
- Jenis pekerjaan berikut ini yang menghasilkan jasa adalah ….
a. petani
b. nelayan
c. dokter gigi
d. peternak
4. Tono selalu makan ikan segar tangkapan ayahnya, beliau juga memiliki kapal dan jaring untuk menangkap ikan, setiap hari Tono mendengar suara ombak. Jenis pekerjaan yang sesuai dengan pernyataan tersebut adalah.....
e. Nelayan
f. Petani
g. Dokter
h. Polisi
5. (1) karyawan kantor
(2) penjaga toko
(3) satpam
(4) perternak
Pekerjaan yang banyak di lakukan masyarakat di lingkungan perkotaan adalah....
e. (4), (3) dam (2)
f. (1), (3) dan (4)
g. (1), (2) dan (3)
h. (1), (2), (3) dan (4)
6. Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan juta penduduk. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena sebagian penduduknya bermatapencaharian sebagai ….
a. Nelayan
b. Guru
c. Petani
d. Karyawan
7. Pekerjaan yang cocok sesuai dengan daerah pegunungan antara lain adalah ….
a. Menanam bakau
b. Petani garam
c. Mencari ikan
d. Petani the
8. Berikut ini merupakan faktor yang menyebabkan beragamnya jenis pekerjaan yang ada di sekitar kita, kecuali ….
a. Kondisi tanah
b. Kondisi musim
c. Keahlian
d. Kondisi jiwa
- Pekerjaan membuat garam banyak dijumpai pada masyarakat yang tinggal dekat dengan ....
e. perkotaan
f. pedesaan
g. padang rumput
h. pesisir pantai
- Menanam sayur-sayuran, seperti kol, wortel, dan buncis biasanya dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah sekitar ....
a. dataran tinggi
b. dataran rendah
c. daerah pantai
d. perairan laut
11. Pak Bayu merupakan pengrajin kayu, ia selalu memilih kayu-kayu pembeliannya dengan baik. Ia juga tidak pernah membeli kayu-kayu ilegal dari penebangan liar. Sikap Pak Bayu tersebut turut mendukung dalam ….
a. Mencegah kerusakan hutan
b. Menyebabkan gundulnya hutan
c. Meningkatkan produksi kayu
d. Mengurangi jumlah pengangguran
12. Berikut ini pekerjaan yang tidak terkait erat dengan tanaman padi adalah ….
a. Petani padi
b. Buruh tani
c. Pedagang beras
d. Pembeli beras
13. Pasangan pekerjaan di bawah ini yang sering berhubungan secara langsung
dalam kegiatannya adalah ….
a. Petani jagung dan penjual pulsa
b. Petani padi dan pedagang sayur
c. Nelayan dan penjual ikan
d. Petani teh dan petani tebu
14. Menjaga kelestarian alam adalah kewajiban kita semua. Contoh menjaga kelestarian alam adalah melindungi tanaman bakau di kawasan pesisir pantai, karena tanaman bakau dapat bermanfaat salah satunya untuk ….
a. Mencegah tsunami datang
b. Melindungi pantai dari abrasi
c. Membuat air laut jadi tawar
d. Memperbesar gelombang ombak ke daratan
15. Kegiatan ekonomi di tempat berikut ini yang memiliki pasangan pekerjaan
yang sesuai adalah ….
e. Kegiatan ekonomi di pasar seperti pedagang beras, pedagang sayur dan pedagang baju
f. Kegiatan ekonomi di warung makan sepeti koki, pelayan dan pendesain gambar
g. Kegiatan ekonomi di supermarket seperti kasir, penjaga toko dan direktur
h. Kegiatan ekonomi di sawah seperti petani, buruh tani dan sopir angkutan
16. Pasangan kegiatan ekonomi dan pekerjaan yang terkait yang benar adalah....
a. Rumah sakit dan dokter.
b. Restoran dan nelayan.
c. Sekolah dan petani.
d. Perkantoran dan peternak.
17. Bekerja sebagai petani banyak kita jumpai di lingkungan......
a. Perkotaan
b. Perkantoran
c. Pedesaan
d. Perkebunan
18. Contoh pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat daerah dataran tinggi adalah......
a. Peternak dan nelayan.
b. Pekebun tanaman perkebunan dan pedagang.
c. Peternak dan petani.
d. Petani dan nelayan.
19. Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan juta penduduk. Indonesia dijuluki sebagai negara agraris karena sebagian penduduknya bermatapencaharian sebagai ....
e. Nelayan
f. Guru
g. Petani
h. Karyawan
20. Pekerjaan yang cocok sesuai dengan daerah pegunungan antara lain adalah ....
e. Menanam bakau
f. Petani garam
g. Mencari ikan
h. Petani the
21. Berikut ini merupakan faktor yang menyebabkan beragamnya jenis pekerjaan yang ada di sekitar kita, kecuali ....
e. Kondisi tanah
f. Kondisi musim
g. Keahlian
h. Kondisi jiwa
22. Lingkungan alam sebagai tempat bekerja harus kita jaga karena ....
e. Tidak bisa ditanami di musim kemarau
f. Kelestarian alam yang menjamin kehidupan manusia
g. Milik pemerintah Indonesia
h. Alam akan marah pada semua manusia
23. Para petani sebaiknya tidak menggunakan pestisida secara berlebihan karena dapat ....
e. Memusnahkan hewan-hewan kecil
f. Membunuh semua hewan pemangsa
g. Membuat tanaman menjadi punah
h. Menyebabkan tanaman terlalu besar
24. Berikut ini pekerjaan yang tidak terkait erat dengan tanaman padi adalah ....
e. Petani padi
f. Buruh tani
g. Pedagang beras
h. Pembeli beras
25. Pasangan pekerjaan di bawah ini yang sering berhubungan secara langsung dalam kegiatan nya adalah ....
e. Petani jagung dan penjual pulsa
f. Petani padi dan pedagang sayur
g. Nelayan dan penjual ikan
h. Petani teh dan petani tebu
Lampiran 11
DATA HASIL PENELITIAN
1. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Pretest
2. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Pretest
3. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Eksperimen Posttest
4. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Kelas Kontrol Posttest
5. Tes Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen Pretest
6. Tes Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol Pretest
7. Tes Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen Posttest
8. Tes Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol Posttest
Lampiran 11
HASIL UJI STATISTIK DESKRIPTIF
1. Angket Eksperimen Pretest
|
Statistics |
||
|
AngketEksperimenPretest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
50,8438 |
|
|
Median |
51,0000 |
|
|
Mode |
51,00 |
|
|
Std. Deviation |
3,88636 |
|
|
Variance |
15,104 |
|
|
Range |
23,00 |
|
|
Minimum |
34,00 |
|
|
Maximum |
57,00 |
|
|
Sum |
1627,00 |
|
|
AngketEksperimenPretest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
34,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
48,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
12,5 |
|
|
49,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
25,0 |
|
|
50,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
40,6 |
|
|
51,00 |
8 |
25,0 |
25,0 |
65,6 |
|
|
52,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
75,0 |
|
|
53,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
78,1 |
|
|
54,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
81,3 |
|
|
55,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
96,9 |
|
|
57,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
2. Angket Kontrol Pretest
|
Statistics |
||
|
AngketkontrolPretest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
48,8750 |
|
|
Median |
49,5000 |
|
|
Mode |
48,00 |
|
|
Std. Deviation |
4,83102 |
|
|
Variance |
23,339 |
|
|
Range |
29,00 |
|
|
Minimum |
26,00 |
|
|
Maximum |
55,00 |
|
|
Sum |
1564,00 |
|
|
AngketkontrolPretest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
26,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
45,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
6,3 |
|
|
46,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
12,5 |
|
|
47,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
18,8 |
|
|
48,00 |
7 |
21,9 |
21,9 |
40,6 |
|
|
49,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
50,0 |
|
|
50,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
68,8 |
|
|
51,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
81,3 |
|
|
52,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
90,6 |
|
|
54,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
93,8 |
|
|
55,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
3. Angket Eksperimen Posttest
|
Statistics |
||
|
AngketeksperimenPosttest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
52,4688 |
|
|
Median |
53,0000 |
|
|
Mode |
55,00 |
|
|
Std. Deviation |
4,02400 |
|
|
Variance |
16,193 |
|
|
Range |
22,00 |
|
|
Minimum |
36,00 |
|
|
Maximum |
58,00 |
|
|
Sum |
1679,00 |
|
|
AngketeksperimenPosttest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
36,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
47,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
6,3 |
|
|
48,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
9,4 |
|
|
49,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
12,5 |
|
|
50,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
21,9 |
|
|
51,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
34,4 |
|
|
52,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
43,8 |
|
|
53,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
53,1 |
|
|
54,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
62,5 |
|
|
55,00 |
7 |
21,9 |
21,9 |
84,4 |
|
|
56,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
93,8 |
|
|
57,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
96,9 |
|
|
58,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
4. Angket kontrol Posttest
|
Statistics |
||
|
angketkontrolPosttest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
51,6250 |
|
|
Median |
52,0000 |
|
|
Mode |
54,00 |
|
|
Std. Deviation |
5,12898 |
|
|
Variance |
26,306 |
|
|
Range |
30,00 |
|
|
Minimum |
26,00 |
|
|
Maximum |
56,00 |
|
|
Sum |
1652,00 |
|
|
angketkontrolPosttest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
26,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
49,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
9,4 |
|
|
50,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
28,1 |
|
|
51,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
40,6 |
|
|
52,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
53,1 |
|
|
53,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
59,4 |
|
|
54,00 |
7 |
21,9 |
21,9 |
81,3 |
|
|
55,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
93,8 |
|
|
56,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
5. Tes Eksperimen Pretest
|
Statistics |
||
|
TesEksperimenPretest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
18,2188 |
|
|
Median |
18,0000 |
|
|
Mode |
17,00a |
|
|
Std. Deviation |
2,35186 |
|
|
Variance |
5,531 |
|
|
Range |
11,00 |
|
|
Minimum |
12,00 |
|
|
Maximum |
23,00 |
|
|
Sum |
583,00 |
|
|
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown
|
||
|
TesEksperimenPretest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
12,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
14,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
6,3 |
|
|
15,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
9,4 |
|
|
16,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
18,8 |
|
|
17,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
37,5 |
|
|
18,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
56,3 |
|
|
19,00 |
4 |
12,5 |
12,5 |
68,8 |
|
|
20,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
87,5 |
|
|
21,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
90,6 |
|
|
22,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
96,9 |
|
|
23,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
6. Tes Kontrol Pretest
|
Statistics |
||
|
TesKontrolPosttest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
17,0000 |
|
|
Median |
17,0000 |
|
|
Mode |
16,00a |
|
|
Std. Deviation |
2,00000 |
|
|
Variance |
4,000 |
|
|
Range |
11,00 |
|
|
Minimum |
10,00 |
|
|
Maximum |
21,00 |
|
|
Sum |
544,00 |
|
|
a. Multiple modes exist. The smallest value is shown |
||
|
TesKontrolPosttest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
10,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
14,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
6,3 |
|
|
15,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
12,5 |
|
|
16,00 |
8 |
25,0 |
25,0 |
37,5 |
|
|
17,00 |
8 |
25,0 |
25,0 |
62,5 |
|
|
18,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
78,1 |
|
|
19,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
93,8 |
|
|
20,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
96,9 |
|
|
21,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
7. Tes Eksperimen Posttest
|
Statistics |
||
|
TeseksperimenPosttest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
19,9375 |
|
|
Median |
20,0000 |
|
|
Mode |
20,00 |
|
|
Std. Deviation |
2,06253 |
|
|
Variance |
4,254 |
|
|
Range |
12,00 |
|
|
Minimum |
13,00 |
|
|
Maximum |
25,00 |
|
|
Sum |
638,00 |
|
|
TeseksperimenPosttest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
13,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
17,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
9,4 |
|
|
18,00 |
2 |
6,3 |
6,3 |
15,6 |
|
|
19,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
31,3 |
|
|
20,00 |
11 |
34,4 |
34,4 |
65,6 |
|
|
21,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
84,4 |
|
|
22,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
93,8 |
|
|
23,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
96,9 |
|
|
25,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
8. Tes Kontrol Posttest
|
Statistics |
||
|
TesKontrolPosttest |
||
|
N |
Valid |
32 |
|
Missing |
0 |
|
|
Mean |
17,8125 |
|
|
Median |
18,0000 |
|
|
Mode |
17,00 |
|
|
Std. Deviation |
2,10127 |
|
|
Variance |
4,415 |
|
|
Range |
10,00 |
|
|
Minimum |
12,00 |
|
|
Maximum |
22,00 |
|
|
Sum |
570,00 |
|
|
TesKontrolPosttest |
|||||
|
|
Frequency |
Percent |
Valid Percent |
Cumulative Percent |
|
|
Valid |
12,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
3,1 |
|
14,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
6,3 |
|
|
15,00 |
3 |
9,4 |
9,4 |
15,6 |
|
|
17,00 |
9 |
28,1 |
28,1 |
43,8 |
|
|
18,00 |
6 |
18,8 |
18,8 |
62,5 |
|
|
19,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
78,1 |
|
|
20,00 |
5 |
15,6 |
15,6 |
93,8 |
|
|
21,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
96,9 |
|
|
22,00 |
1 |
3,1 |
3,1 |
100,0 |
|
|
Total |
32 |
100,0 |
100,0 |
|
|
Lampiran 12
HASIL UJI PRASYARAT PENELITIAN
1. Uji Normalitas
a. Angket Eksperimen Pretest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
angketeksperimenPretest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
50,8438 |
|
Std. Deviation |
3,88636 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,201 |
|
Positive |
,140 |
|
|
Negative |
-,201 |
|
|
Test Statistic |
,201 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,402 |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
b. Angket Kontrol Pretest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
angketkontrolPretest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
48,8750 |
|
Std. Deviation |
4,83102 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,241 |
|
Positive |
,165 |
|
|
Negative |
-,241 |
|
|
Test Statistic |
,241 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,412 |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
c. Angket Eksperimen Posttest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
angketeksperimenposttes |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
52,4688 |
|
Std. Deviation |
4,02400 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,145 |
|
Positive |
,128 |
|
|
Negative |
-,145 |
|
|
Test Statistic |
,145 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,086c |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
d. Angket Kontrol Posttest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
angketkontrolPosttest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
51,6250 |
|
Std. Deviation |
5,12898 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,282 |
|
Positive |
,197 |
|
|
Negative |
-,282 |
|
|
Test Statistic |
,282 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,150c |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
e. Tes eksperimen Pretest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
teseksperimenPretest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
18,2188 |
|
Std. Deviation |
2,35186 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,115 |
|
Positive |
,100 |
|
|
Negative |
-,115 |
|
|
Test Statistic |
,115 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,200c,d |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
|
d. This is a lower bound of the true significance. |
||
f. Tes kontrol Pretest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
teskontrolPretest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
17,0000 |
|
Std. Deviation |
2,00000 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,184 |
|
Positive |
,125 |
|
|
Negative |
-,184 |
|
|
Test Statistic |
,184 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,008c |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
g. Tes Eksperimen Posttest
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
teseksperimenPosttest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
19,9375 |
|
Std. Deviation |
2,06253 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,200 |
|
Positive |
,147 |
|
|
Negative |
-,200 |
|
|
Test Statistic |
,200 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,372c |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
h. Tes Kontrol Postetst
|
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test |
||
|
|
teskontrolpostest |
|
|
N |
32 |
|
|
Normal Parametersa,b |
Mean |
17,8125 |
|
Std. Deviation |
2,10127 |
|
|
Most Extreme Differences |
Absolute |
,193 |
|
Positive |
,089 |
|
|
Negative |
-,193 |
|
|
Test Statistic |
,193 |
|
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
,124c |
|
|
a. Test distribution is Normal. |
||
|
b. Calculated from data. |
||
|
c. Lilliefors Significance Correction. |
||
2. Uji Homogenitas
a. Angket Pretest
|
Test of Homogeneity of Variances |
|||
|
HasilangketPretest |
|||
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
,142 |
1 |
62 |
,707 |
|
ANOVA |
|||||
|
HasilangketPretest |
|||||
|
|
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Between Groups |
62,016 |
1 |
62,016 |
4,226 |
,077 |
|
Within Groups |
1191,719 |
62 |
19,221 |
|
|
|
Total |
1253,734 |
63 |
|
|
|
b. Angket Posttest
|
Test of Homogeneity of Variances |
|||
|
angketpostest |
|||
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
,010 |
1 |
62 |
,922 |
|
ANOVA |
|||||
|
angketpostest |
|||||
|
|
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Between Groups |
11,391 |
1 |
11,391 |
,536 |
,467 |
|
Within Groups |
1317,469 |
62 |
21,249 |
|
|
|
Total |
1328,859 |
63 |
|
|
|
c. Tes Pretest
|
Test of Homogeneity of Variances |
|||
|
tesPretest |
|||
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
1,431 |
1 |
62 |
,236 |
|
ANOVA |
|||||
|
tesPretest |
|||||
|
|
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Between Groups |
23,766 |
1 |
23,766 |
4,987 |
,029 |
|
Within Groups |
295,469 |
62 |
4,766 |
|
|
|
Total |
319,234 |
63 |
|
|
|
d. Tes Postest
|
Test of Homogeneity of Variances |
|||
|
tespostes |
|||
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
,473 |
1 |
62 |
,494 |
|
ANOVA |
|||||
|
tespostes |
|||||
|
|
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Between Groups |
72,250 |
1 |
72,250 |
16,668 |
,008 |
|
Within Groups |
268,750 |
62 |
4,335 |
|
|
|
Total |
341,000 |
63 |
|
|
|
3. Hasil Analisis Observasi Guru
Lembar Observasi Aktivitas Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berbasis Proyek
|
No |
Sintak Berbasis Proyek |
Aspek yang diamati |
Rentang Nilai |
||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|||
|
1 |
Pendahuluan |
Kemampuan guru membuka |
|
|
á´ |
||
|
Kemampuan guru mengkondisikan fisik siswa dengan bertanya jawab tentang diri siswa. |
|
|
á´ |
||||
|
Melakukan komunikasi tentang kehadiran siswa (absen) |
|
|
á´ |
||||
|
Kemampuan guru menanyakan kepada siswa tentang pembelajaran yang telah lalu dan menanyakan |
|
|
á´ |
||||
|
Kemampuan guru menyapaikan tujuan pembalajaran yang akan dipejari. |
|
|
á´ |
||||
|
2 |
Penentuan Proyek |
Kegiatan Inti Guru menunjukkan gambar dan menjelaskan tentang macam-macam sumber energi. |
|
|
á´ |
||
|
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||||
|
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||||
|
3 |
Menyusun Perencanaan Proyek |
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||
|
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||||
|
4 |
Menyusun Jadwal |
Kemampuan guru menuliskan jadwal aktivitas yang mengacu pada waktu maksimal yang telah disepakati untuk menyelesaikan projek. |
|
|
á´ |
||
|
5 |
Memonitor Pembuatan Proyek |
Kemampuan guru dalam melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek yang akan dibuat. |
|
|
á´ |
||
|
6 |
Ujicoba Hasil Proyek |
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||
|
7 |
Evaluasi |
Penutup Guru memberikan evaluasi tentang macam-macam sumber energi alternatif. |
|
|
á´ |
||
|
Kemampuan guru dalam |
|
|
á´ |
||||
|
Kemampuan guru memberikan reward kepada siswa. |
|
|
á´ |
||||
|
Kemampuan guru menutup |
|
|
á´ |
||||
|
Penerapan model berbasis proyek dalam proses pembelajaran |
|
|
á´ |
||||
|
Jumlah |
74 |
||||||
|
rata-rata |
77,89 |
||||||
|
Kategori |
Baik |
||||||
Lembar Observasi Aktivitas Guru dalam Mengelola
Pembelajaran Konvensional
|
No |
Aspek yang Dinilai |
Nilai |
||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
||
|
1 |
Membuka pelajaran |
|
|
á´ |
|
|
|
2 |
Menyampaikan apersepsi |
|
|
|
á´ |
|
|
3 |
Memberikan motivasi |
|
|
á´ |
|
|
|
4 |
Menyampaikan materi pembelajaran |
|
|
á´ |
|
|
|
5 |
Mendiskusikan materi yang diperoleh apabila terdapat hal yang belum dipahami |
|
|
á´ |
|
|
|
6 |
Memberikan LKS pada masing-masing kelompok untuk berdiskusi dengan anggota kelompoknya |
|
|
á´ |
|
|
|
7 |
Membahas LKS dan bersama-sama siswa menyimpulkannya |
|
|
á´ |
|
|
|
8 |
Menutup pelajaran |
|
|
|
á´ |
|
|
Jumlah |
26 |
|||||
|
Rata-rata |
65 |
|||||
|
Kategori |
Cukup |
|||||
Lampiran 13
HASIL UJI HIPOTESIS
1. Uji T
a. Angket Kemampuan Berpikir Kreatif
|
Group Statistics |
|||||
|
|
Kelas |
N |
Mean |
Std. Deviation |
Std. Error Mean |
|
angket |
1,00 |
32 |
52,4688 |
4,02400 |
,71135 |
|
2,00 |
32 |
51,6250 |
5,12898 |
,90668 |
|
|
Independent Samples Test |
||||||||||
|
|
Levene's Test for Equality of Variances |
t-test for Equality of Means |
||||||||
|
F |
Sig. |
t |
df |
Sig. (2-tailed) |
Mean Difference |
Std. Error Difference |
95% Confidence Interval of the Difference |
|||
|
Lower |
Upper |
|||||||||
|
angket |
Equal variances assume |
,010 |
,922 |
3,732 |
62 |
,000 |
,84375 |
1,15243 |
-1,45992 |
3,14742 |
|
Equal variances not assume |
|
|
3,732 |
58,677 |
,000 |
,84375 |
1,15243 |
-1,46252 |
3,15002 |
|
b. Tes Hasil Belajar IPS Siswa
|
Group Statistics |
|||||
|
|
Kelas |
N |
Mean |
Std. Deviation |
Std. Error Mean |
|
TesBelajar |
1,00 |
32 |
19,9375 |
2,06253 |
,36461 |
|
2,00 |
32 |
17,8125 |
2,10127 |
,37146 |
|
|
Independent Samples Test |
||||||||||
|
|
Levene's Test for Equality of Variances |
t-test for Equality of Means |
||||||||
|
F |
Sig. |
t |
df |
Sig. (2-tailed) |
Mean Difference |
Std. Error Difference |
95% Confidence Interval of the Difference |
|||
|
Lower |
Upper |
|||||||||
|
TesBelajar |
Equal variancesassumed |
,473 |
,494 |
4,083 |
62 |
,000 |
2,1250 |
,52050 |
1,0845 |
3,1654 |
|
Equal variances not assume |
|
|
4,083 |
61,979 |
,000 |
2,1250 |
,52050 |
1,0845 |
3,1654 |
|
c. Kemampuan Berpikir Kreatif dan Tes Hasil Belajar
|
Group Statistics |
|||||
|
|
Kelas |
N |
Mean |
Std. Deviation |
Std. Error Mean |
|
Hasil |
1,00 |
32 |
52,4688 |
4,02400 |
,71135 |
|
2,00 |
32 |
17,8125 |
2,10127 |
,37146 |
|
|
Independent Samples Test |
||||||||||
|
|
Levene's Test for Equality of Variances |
t-test for Equality of Means |
||||||||
|
F |
Sig. |
t |
df |
Sig. (2-tailed) |
Mean Difference |
Std. Error Difference |
95% Confidence Interval of the Difference |
|||
|
Lower |
Upper |
|||||||||
|
Hasil |
Equal variances assume |
4,600 |
,036 |
43,186 |
62 |
,000 |
34,6562 |
,80249 |
33,0520 |
36,2604 |
|
Equal variances not assume |
|
|
43,186 |
46,736 |
,000 |
34,6562 |
,80249 |
33,0416 |
36,2709 |
|
2. Uji Anova
|
Test of Homogeneity of Variances |
|||
|
Hasil |
|||
|
Levene Statistic |
df1 |
df2 |
Sig. |
|
4,600 |
1 |
62 |
,036 |
|
ANOVA |
|||||
|
Hasil |
|||||
|
|
Sum of Squares |
df |
Mean Square |
F |
Sig. |
|
Between Groups |
19216,891 |
1 |
19216,891 |
1865,006 |
,000 |
|
Within Groups |
638,844 |
62 |
10,304 |
|
|
|
Total |
19855,734 |
63 |
|
|
|
Untuk tindak lanjut silahkan : klik DOWNLOAD atau hub. (WA) 081327121707-(WA) 081327789201 terima kasih
.







0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar, hindari unsur SARA.
Terima kasih