Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Senin, 19 Januari 2026

TESIS : EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN ADAPTIF DI SLB NEGERI 1 ..................

 

EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN ADAPTIF DI SLB NEGERI 1 ..................

 

 

 

TESIS

 

 

                                                                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar

Magister Pendidikan Jasmani

Program Studi Pendidikan Jasmani

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

..................

..................

 

 

 

 

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI ..................

2025


ABSTRAK

 

.................. : Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif di SLB Negeri 1 ................... 2025.

 

Pendidikan Jasmani di SLB memiliki peran yang penting membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kebugaran fisik, psikomotorik, dan sosial-emosional siswa berkebutuhan khusus. Untuk perlu adanya evaluasi pembelajaran secara berkala untuk mengetahui efektivitas program pendidikan Jasmani di SLB. Evaluasi pembelajaran pendidikan Jasmani di SLB dilakukan hati-hati dan memperhatikan karakteristik siswa serta memodifikasi program pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan siswa. Tujuan penelitian untuk mengetahui hasil evaluasi Context, Input, Process, Product pelaksanaan pembelajaran PJOK di SLB Negeri 1 ...................

Jenis penelitian adalah penelitian evaluasi dengan metode mixed method (metode campuran) berupa penggabungan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian menggunakan rancangan penelitian evaluasi dengan Model CIPP. Teknik pengumpulan data angket, wawancara, observasi dan dokumentasi, Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif.  Peneliti mengumpulkan data kuantitatif dari hasil angket dan observasi pada aspek-aspek komponen CIPP yang dianalisis menggunakan aplikasi SPSS. Teknik analisis data kualitatif untuk menganalisis data penelitian adalah analisis kualitatif model interaktif.

Hasil penelitian pada Evaluasi Context menunjukkan perencanaan pembelajaran sudah baik dengan dukungan kebijakan sekolah dan kesesuaian kurikulum peserta didik berkebutuhan khusus. Hasil observasi menunjukkan implementasi perencanaan cukup baik walaupun terdapat kendala pada adaptasi bahan ajar dan metode evaluasi. Evaluasi Input menunjukkan profil guru dinilai baik, tetapi hasil wawancara dan observasi menunjukkan terdapat tantangan penyesuaian metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik. Hambatan utama adalah kurangnya pelatihan guru, keterbatasan sarana dan prasarana, dan kurangnya sumber ajar yang sesuai dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Evaluasi Process menunjukkan pelaksanaan pembelajaran PJOK Adaptif belum berjalan optimal. Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran masih rendah, metode pembelajaran belum cukup fleksibel, dan umpan balik guru masih kurang efektif. Kurangnya inovasi dalam strategi pengajaran serta minimnya keterlibatan teknologi pembelajaran menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini. Evaluasi Product menunjukkan hasil pembelajaran PJOK Adaptif belum sepenuhnya mencapai kompetensi sesuai ketetapan kurikulum sekolah. Evaluasi dilakukan bersifat subjektif dan kurang sistematis sehingga sulit mengukur perkembangan peserta didik secara akurat. Kurangnya kepercayaan diri peserta didik serta minimnya dukungan lingkungan dalam mendorong kebiasaan aktivitas fisik menjadi kendala utama dalam pencapaian hasil pembelajaran.

 

Kata kunci : evaluasi,  pembelajaran, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif


ABSTRACT

 

..................: Evaluation of Adaptive Physical Education and Health Learning at SLB Negeri 1 .................., 2025. Thesis.


Physical education in special schools plays an important role in helping to improve the quality of health and physical, psychomotor, and socio-emotional fitness of students with special needs. There is a need for periodic learning evaluations to determine the effectiveness of the physical education programme at SLB. The evaluation of physical education learning at SLB is conducted carefully, taking into account the characteristics of the students and modifying the learning programme to suit the students' abilities. The purpose of the research is to determine the results of the Context, Input, Process, and Product evaluation of the implementation of PJOK learning at SLB Negeri 1 ...................

The type of research is evaluation research using a mixed-method approach, which combines qualitative and quantitative approaches. The research uses an evaluation research design with the CIPP model. Data collection techniques include questionnaires, interviews, observations, and documentation. Data analysis uses quantitative descriptive analysis and qualitative descriptive analysis. The researcher collected quantitative data from questionnaires and observations on the aspects of the CIPP component, which were analysed using the SPSS application. The qualitative data analysis technique for analysing research data is interactive model qualitative analysis.

The results of the research on the context evaluation show that the lesson planning is good with support from school policies and the suitability of the curriculum for students with special needs. The results of the observation indicate that the implementation of the planning is quite good, although there are challenges in adapting teaching materials and evaluation methods. Input evaluation shows that the teacher profiles are rated well, but the results of interviews and observations indicate challenges in adjusting teaching methods to the characteristics of the students. The main obstacles are the lack of teacher training, limited facilities and infrastructure, and the lack of teaching materials suitable for students with special needs. Process evaluation shows that the implementation of adaptive PJOK learning has not been optimal. Student participation in learning is still low, the teaching methods are not flexible enough, and teacher feedback is still less effective. The lack of innovation in teaching strategies and the minimal involvement of learning technology are factors that worsen this condition. Product evaluation shows that the results of Adaptive PJOK learning have not fully achieved the competencies according to the school's curriculum standards. The evaluation was subjective and less systematic, making it difficult to accurately measure students' progress. The lack of self-confidence among students and the minimal environmental support in encouraging physical activity habits are the main obstacles to achieving learning outcomes.

Keywords: evaluation, learning, adaptive physical education, and health sports


SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

 

Yang bertanda tangan di bawah ini:

            Nama Mahasiswa        : ..................

            Nomor Mahasiswa      : ..................

Program Studi             : S2 Pendidikan Jasmani

Fakultas                       : Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan

Dengan ini menyatakan bahwa tesis ini merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah dipergunakan sebagai tugas akhir  untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya dalam tesis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan mengikuti tata penulisan karya ilmiah yang lazim dan disebutkan dalam daftar pustaka.

 

.................., 07 Maret 2025

 

 

 

                                                                                   

                                                                                    ..................

                                                                                    NIM. ..................


LEMBAR PERSETUJUAN

 

 

EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN ADAPTIF DI SLB NEGERI 1 ..................

 

 

TESIS

 

 

..................

..................

 

 

Telah disetujui untuk dipertahankan di depan  Tim Penguji Tesis

Fakultas Ilmu Keolahragaan/Sekolah Pasca Sarjana Universitas Negeri ..................

Tanggal:   Maret 2024

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


LEMBAR PENGESAHAN


EVALUASI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN ADAPTIF DI SLB NEGERI 1 ..................

 

 

TESIS

 

 

..................

..................

 

 

Telah Dipertahankan di depan Dewan Penguji  Proposal Tesis

Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri ..................

Tanggal: 14 Agustus 2024

 

DEWAN PENGUJI

 

Nama/Jabatan                                                  Tangan tangan             Tanggal


…………………….                                       …………………        …………….

(Ketua/Penguji)


…………………….                                      …………………        ……………. (Sekretaris/Penguji)


…………………….                                       …………………        …………….

(Penguji I)

…………………….                           …………………        …………….

(Penguji Ii)

 

 

.................., …………….

Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan

Universitas Negeri ..................

Dekan/Direktur,

 

 

 

…………………………………..

NIP. …………………….


PERSEMBAHAN

 

Pertama penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT, penulis mampu menyelesaikan tesis ini. Karya ini penulis persembahkan untuk Ibunda tercinta yang selalu mendoakan keberhasilan dan kebaikan dalam kehidupan penulis. Untuk istri yang selalu mendukung dan mendampingi semua kegiatan dalam menyelesaikan masa studi.

Terakhir penulis persembahkan karya ini buat anak tercinta yang selalu menjadi penyemangat dalam hidup dan membawa suasana baru dalam keluarga. Jadilah anak yang sholehah yang menjadi kebanggaan keluarga.

 


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini. Tesis dengan judul Evaluasi pembelajaran Pendidikan Jasmani olahraga dan Kesehatan Adaptif di SLB Negeri 1 .................. ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir program magister. Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik dan lancar. Oleh karena itu, peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada.

1.        ……………………………., Rektor Universitas Negeri ...................

2.        …………………………….., Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan.

3.        …………………………….Korprodi S2 Pendidikan Jasmani.

4.        …………………………….., sebagai dosen pembimbing dalam penyusunan tesis.

5.         Kepala SLB Negeri 1 .................. yang telah memberikan izin penelitian, guru, dan tenaga kependidikan serta peserta didik yang bersedia bekerja sama dan membantu sehingga penelitian ini bisa terlaksana dengan baik.

6.        Teman-teman S2 Pendidikan jasmani kelas B Intake Angkatan 2022 Universitas Negeri ...................

7.        Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Utara yang telah memfasilitasi kerja sama dengan pihak kampus untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Negeri ...................

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu saran beserta kritikan yang membangun sangat diharapkan. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi civitas akademika pada umumnya.

.................., 07 Maret 2025

Penulis

 


DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i

ABSTRAK.............................................................................................................. ii

ABSTRACT ............................................................................................................ iii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA................................................... iv

LEMBAR PERSETUJUAN................................................................................... v

LEMBAR PENGESAHAN................................................................................... vi

PERSEMBAHAN................................................................................................. vii

KATA PENGANTAR.......................................................................................... viii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... x

DAFTAR TABEL................................................................................................ xiii

DAFTAR GAMBAR........................................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xv

BAB    I     PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah.................................................................. 1

B.     Identifikasi Masalah........................................................................ 7

C.     Batasan Masalah.............................................................................. 8

D.    Rumusan Masalah............................................................................ 8

E.     Tujuan Penelitian............................................................................. 9

F.      Manfaat Penelitian........................................................................... 9

BAB    II   KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori.................................................................................... 11

1.       Pengertian dan Jenis-jenis sekolah SLB................................... 11

2.       Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif.............................. 15

3.       Tujuan Pendidikan Jasmani Adaptif........................................ 17

4.       Program Pendidikan Jasmani Adaptif..................................... 19

5.       Evaluasi Pembelajaran.............................................................. 19

6.       Tujuan Evaluasi Pembelajaran.................................................. 23

7.       Model Evalusi Pembelajaran Pendidikan Jasmani melalui Model CIPP              25

B. Penelitian yang Relevan................................................................. 34

C. Kerangka Berpikir.......................................................................... 40

D. Pertanyaan Penelitian..................................................................... 43

BAB    III METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian............................................................................... 45

B.   Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product)............. 45

C.   Tempat dan Waktu Penelitian........................................................ 48

D.  Populasi dan Sampel Penelitian..................................................... 48

E.   Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ................................... 49

F.    Analisis Data Penelitian................................................................. 64

BAB    IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian.............................................................................. 69

1.   Hasil Angket Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif                                                                                               ..... 70

2.   Hasil Wawancara Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif...................................................................................... 80

3.   Hasil Observasi Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif                                                                                               ... 106

B.   Pembahasan Hasil Penelitian....................................................... 116

1.   Hasil Evaluasi Context Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................                                                                                                         116

2.   Hasil Evaluasi Input Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................              118

3.   Hasil Evaluasi Process Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................                                                                                                        120

4.   Hasil Evaluasi Product Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................                                                                                                        123

C.   Keterbatasan Penelitian................................................................ 125

 

BAB    V   SIMPULAN DAN SARAN

A.  Simpulan ..................................................................................... 127

B.   Saran............................................................................................ 130

DAFTAR PUSTAKA …..…………………………………………………...                     132

 


DAFTAR TABEL

 

Tabel   1     Kisi-kisi Instrumen CIPP............................................................... .... 64

Tabel   2     Kriteria Keberhasilan ......................................................................... 65

Tabel   3     Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB Negeri 1 ............................................................................................................ 66

Tabel   4     Keterlaksanaan Pembelajaran............................................................. 66

Tabel   5     Hasil Rata-Rata Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................................. 71

Tabel   6     Hasil Rata-Rata Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................................. 73

Tabel   7     Hasil Rata-Rata Evaluasi Process Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................................. 75

Tabel   8     Hasil Rata-Rata Evaluasi Product Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................................. 77

Tabel   9     Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................................. 78

Tabel   10   Hasil Observasi Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif ....................................................................................................... 107

                       


DAFTAR GAMBAR

 

Gambar    1   Kerangka Berpikir............................................................................ 43                                   

Gambar    2   Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ................................................................ 72                       

Gambar    3   Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................. 74

Gambar    4   Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Process Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ................................................................ 76

Gambar    5   Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Product  Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ................................................................ 78

Gambar    6   Diagram Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ............................................................................. 79

                          


DAFTAR LAMPIRAN

 

Lampiran    1   Instrumen Penelitian.................................................................... 137

Lampiran    2   Hasil Penelitian............................................................................ 157

Lampiran    3   Hasil Program Aplikasi SPSS....................................................... 173

Lampiran    4  Surat Izin Penelitian...................................................................... 175

Lampiran    5   Surat Balasan Permohonan Izin Penelitian.................................. 176

Lampiran    6   Surat Permohonan Validasi ......................................................... 177

Lampiran    7   Dokumentasi Kegiatan Penelitian ............................................... 178

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

 

Pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) merupakan media untuk membantu pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritual-sosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis  yang seimbang bagi peserta didik. Pembelajaran PJOK di sekolah yang dilaksanan berusaha memenuhi kebutuhan tumbuh kembang peserta didik. Pembelajaran PJOK di sekolah saat ini masih banyak mengalami kendala dalam memenuhi standar pendidikan yang layak baik dari sarana, fasilitas dan guru tersebut.

Pendidikan adalah proses awal menciptakan lingkungan belajar di mana siswa secara aktif mengembangkan potensi mereka: kekuatan spiritual, pengendalian diri, kecerdasan, karakter, sifat mulia, dan keterampilan yang diperlukan untuk masyarakat dan diri mereka sendiri. Pembelajaran olahraga, pendidikan jasmani, dan kesehatan harus disesuaikan dengan kemampuan setiap anak dan disesuaikan dengan karakteristik dan keterbatasan setiap anak. Untuk mencapai tujuan pembelajaran PJOK yang tepat, pengembangan pendidikan jasmani harus dilakukan secara efektif dan efisien untuk mengembangkan siswa yang konsisten dengan keterbatasan dan keterbatasan mereka. Manajemen praktis, yang terdiri dari pembelajaran dan pelatihan, diperlukan untuk memenuhi tujuan tersebut (Citra et al., 2024:14).

Proses pembelajaran PJOK berkaitan dengan pengalaman belajar yang akan didapatkan siswa yang diorganisir sedemikian rupa sehingga mereka belajar. Salah satu elemen dalam proses pembelajaran ini adalah penggunaan strategi atau metode pembelajaran serta media dan sumber belajar untuk mendukung pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Berbagai strategi, model, metode, dan media pembelajaran saat ini sedang berkembang yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran yang dapat mendukung pembentukan kompetensi yang dibutuhkan di abad ini (Abdullah et al., 2018:103).

Pada pelaksanaan pembelajaran PJOK khususnya di Sekolah luar Biasa (SLB) mempunyai masalah yang lebih kompleks lagi dikarenakan siswanya berkebutuhan khusus dan gurunya juga dituntut untuk menguasai keterampilan khusus untuk berinteraksi dengan siswanya selain keterampilan pendidikan olahraga. SLB Negeri 1 .................. mempunyai permasalahan yang dihadapi sekarang adalah guru yang bukan berlatar belakang pendidikan jasmani dan bukan juga pendidikan khusus untuk SLB. Banyak kendala yang dihadapi guru pendidikan jasmani di SLB tersebut sehingga kurang terpenuhinya pembelajaran PJOK di sekolah ini. Pembelajaran PJOK di SLB Negeri 1 .................. lebih menitikberatkan pembelajaran kepada kebutuhan siswa. Tidak semua siswa di sekolah ini bisa mengkuti pembelajaran olahraga dikarenakan kebutuhan khusus yang mereka sandang yang menghambat mereka seperti penyandang tuna daksa dikarenakan mempunyai kekurangan dalam kondisi fisik yang tidak lengkap membuat mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran dikarenakan tidak mempunyai alat bantu seperti kursi roda atau alat bantu lainnya. Pembelajaran PJOK di SLB Negeri 1 .................. lebih sering diikuti oleh penyandang tuna grahita dan tuna rungu dikarenakan fasilitas yang ada dan kemampuan guru yang dimiliki.

Pembelajaran PJOK merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib di sekolah, termasuk di sekolah luar biasa (SLB) yang diperuntukkan bagi anak dengan kebutuhan khusus. Pembelajaran PJOK di SLB memiliki peran yang penting dalam membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kebugaran fisik, psikomotorik, dan sosial-emosional siswa dengan kebutuhan khusus. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi pembelajaran secara berkala untuk mengetahui efektivitas program pembelajaran PJOK di SLB.

Pembelajaran PJOK atau yang biasa disebut Pendidikan jasmani di SLB Negeri 1 .................. lebih menitikberatkan kepada siswanya untuk mempunyai keterampilan yang nantinya bisa membantunya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pembelajaran PJOK juga dituntut harus bisa mengajarkan siswanya untuk mempunyai ketrampilan yang dapat membantunya dalam kehidupan sehari-hari, melalui PJOK di SLB diharapkan siswa tersebut diharapkan mempunyai keterampilan olahraga yang bisa dilakukan untuk menjaga kebugaran jasmaninya dan melalui keterampilan olahraga yang dimilikinya diharapkan juga siswa tersebut bisa berprestasi.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan penulis sebelumnya bahwa SLB Negeri 1 .................. mempunyai peserta didik 93 orang mulai dari SDLB sampai dengan SMALB diantaranya: SDLB A (Tunanetra) 2 peserta didik, SDLB B (Tunarungu) 7 peserta didik, SDLB C (Tunagrahita) 28 peserta didik, SDLB H (HIV dan AIDS) 5 peserta didik, SDLB M (Autis) 12 peserta didik, SMPLB B (Tunarungu) 3 peserta didik, SMPLB C (Tunagrahita) 18 peserta didik, SMPLB D (Tunadaksa) 3 peserta didik, SMPLB H (HIV dan AIDS) 1 peserta didik, SMPLB M (Autis) 2 peserta didik, SMALB B (Tunarungu) 3 peserta didik, SMALB C (Tunagrahita) 6 peserta didik, SMALB D (Tunadaksa) 1 peserta didik, SMALB M (Autis) 2 peserta didik. 

Dalam proses pembelajaran didapati bahwa tenaga pengajar di SLB Negeri 1 .................. bukan berlatar belakang sarjana pendidikan jasmani yang seharusnya mengampu mata pelajaran tersebut tetapi hanya lulusan sekolah menengah atas (SMA) dan pada saat pembelajaran PJOK dilakukan tidak didampingi oleh guru yang memahami kebutuhan peserta didik tersebut. Selain dari tenaga pengajar penulis juga mendapati fasilitas yang ada di sekolah tersebut sangat minim sehingga guru tersebut hanya mengajarkan sedikit materi pembelajaran dan lebih sering mengajarkan materi bola kecil yaitu bulutangkis dikarenakan hanya itu lapangan tertutup yang mudah diawasi oleh guru tersebut.

PJOK merupakan bagian integral dari pendidikan yang komprehensif yang mendukung perkembangan siswa melalui aktivitas fisik atau gerakan manusia (Corbin et al., 2020:8). PJOK harus memenuhi berbagai kebutuhan anak-anak. Ini karena setiap anak memiliki karakteristik fisik, mental, dan sosial yang berbeda. Kata pendidikan dalam PJOK menunjukkan proses seumur hidup. Konsep ini merujuk pada tujuan pendidikan selama bertahun-tahun dan juga merupakan keterampilan paling penting dari pembelajaran sepanjang hayat di abad ke-21. Keterampilan yang dipelajari adalah kemampuan untuk mengendalikan anggota tubuh sesuai dengan informasi lingkungan. PJOK bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran, perkembangan neuro-muskular, perkembangan mental-emosional, perkembangan sosial, dan perkembangan intelektual (Thomas et al., 2020:992).

Merencanakan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pendidikan PJOK untuk anak berkebutuhan khusus merupakan salah satu tanggung jawab seorang pendidik atau guru yang berpengalaman dalam keilmuannya, namun ada beberapa faktor yang menyebabkan kurang terlaksananya tujuan pendidikan PJOK. Kurikulum yang sesuai dilakukan dengan realitas yang ada di sekolah. Salah satu penyebabnya adalah kemampuan guru yang kurang mumpuni di bidangnya sehingga membuat pembelajaran PJOK di sekolah tersebut membosankan atau pembelajaran tidak sesuai dengan perangkat ajar yang dibuat. 

Strategi manajemen pembelajaran sangat penting dalam pembelajaran secara keseluruhan. Efektivitas pembelajaran tidak akan maksimal jika strategi manajemen kelas tidak dipertimbangkan, meskipun perencanaan pengorganisasian dan penyampaian pembelajaran telah dilakukan sebaik mungkin. Pembelajaran pendidikan jasmani juga tidak akan berjalan dengan baik jika strategi manajemen kelas tidak dipertimbangkan (Guyadeen & Seasons, 2018:107). Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik fisik, mental, maupun emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai satu kesatuan utuh, sebagai makhluk nyata, daripada hanya mempertimbangkan mereka sebagai seseorang dengan kualitas fisik dan mental yang berbeda (Neville & Makopoulou, 2021:213).

Dalam melakukan evaluasi pembelajaran, perlu dilakukan penyesuaian program pembelajaran Jasmani agar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi siswa SLB. Pendampingan oleh guru atau asisten pendidikan yang berkualitas dan berpengalaman sangat penting dalam pembelajaran Jasmani bagi siswa SLB. Selain itu, modifikasi program pembelajaran seperti pengurangan tingkat kesulitan dan penyesuaian durasi waktu pembelajaran juga dapat membantu meningkatkan partisipasi siswa SLB dalam pembelajaran Jasmani. Secara keseluruhan, evaluasi pembelajaran pendidikan Jasmani di SLB perlu dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan karakteristik siswa SLB serta memodifikasi program pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini bertujuan untuk memberikan manfaat yang optimal bagi siswa SLB dan membantu meningkatkan kualitas kesehatan dan kebugaran fisik, psikomotorik, dan sosial-emosional mereka.

Pelaksanaan evaluasi pembelajaran sangat erat kaitannya dengan proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Pengertian evaluasi adalah cara yang berguna untuk mendorong pengembangan pembelajaran dan mencari tahu sejauhmana tujuan pembelajaran dirumuskan memenuhi sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) 2013. Ternyata evaluasi itu melibatkan upaya pengumpulan dan pengolahan meningkatkan efektivitas implementasi di tingkat nasional, regional dan sekolah. Ada banyak model penilaian bentuk dan sistematikanya, meskipun terkadang muncul dalam beberapa model sama dengan model penilaian lainnya, Salah satunya adalah model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product). Model ulasan ini dikembangkan oleh Stufflebeam, yang berorientasi pada sesuatu keputusan (Birgili et al., 2021:377).

Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana diuraikan sebelumnya maka penulis ingin meneliti tentang evaluasi pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah dalam melaksanakan pembelajaran PJOK di sekolah tersebut:

1.    Guru yang mengajar di SLB Negeri 1 .................. bukan Sarjana Pendidikan Jasmani

2.    Fasilitas pembelajaran pendidikan jasmani di SLB Negeri 1 .................. masih kurang memadai

3.    Pembelajaran pendidikan jasmani di SLB Negeri 1 .................. tidak didampingi oleh guru yang mengerti kebutuhan peserta didik.

4.    Tidak semua siswa di sekolah ini bisa mengkuti pembelajaran olahraga dikarekanan kebutuhan khusus yang mereka sandang.

5.    Kemampuan guru yang kurang mumpuni di bidangnya sehingga membuat pembelajaran PJOK di sekolah tersebut membosankan atau pembelajaran tidak sesuai dengan perangkat ajar yang dibuat

C.    Batasan Masalah

Agar permsalahan dalam penelitian ini tidak menjadi luas dan keterbatasan waktu oleh penulis maka penulis merasa perlu membuat batasan masalah agar penelitian ini mempunyai permalahan yang jelas untuk diteliti. Penelitian ini hanya mengevaluasi pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

D.    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1.    Bagaimana hasil evaluasi Context pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PJOK  adaptif di SLB Negeri 1 ...................

2.    Bagaimana hasil evaluasi Input pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

3.    Bagaimana hasil evaluasi Process pelaksanaan pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

4.    Bagaimana  hasil evaluasi Product pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

E.     Tujuan Penelitian

Berdasarkan batasan dan rumusan masalah tersebut di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui hasil evaluasi Context, Input, Process, Product pelaksanaan pembelajaran PJOK di SLB Negeri 1 ................... Selanjutnya secara khusus tujuan evaluasi dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui:

1.      Mengetahui hasil dari evaluasi secara Context pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

2.      Mengetahui hasil dari evaluasi secara Input pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

3.      Mengetahui hasil dari evaluasi secara Process pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

4.      Mengetahui hasil dari evaluasi secara Product pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

F.     Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun praktis, sebagai berikut.

1.         Manfaat Teoritis

a.       Penelitian ini dapat memberikan informasi pada guru pendidikan jasmani tentang pentingnya pembelajaran penjas adaptif bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

b.      Penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang evaluasi perencanaan dan proses pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 ...................

c.       Penelitian ini berkontribusi dalam pengambilan kebijakan pembelajaran Pendidikan jasmani adaptif pelaksanaan dilapangan maupun bagi calon tenaga pengajar pendidikan jasmani adaptif.

2.         Manfaat Praktis

a.       Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi sekolah dan pemerintah provinsi dalam hal ini dinas pendidikan untuk melengkapi fasilitas dan memberikan tenaga pengajar sesuai dengan keterampilannya yaitu guru pendidikan jasmani.

b.      Penelitian ini dapat bermafaat bagi pembaca sebagai sumber ilmu pengetahuan dalam meningkatkan pembelajaran jasmani adaptif.

c.       Agar guru pendidikan jasmani bisa lebih kreartif lagi dalam pembelajaran pendidikan jasmani adaptif.

 


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Kajian Teori

1.      Pengertian dan jenis-jenis sekolah SLB

Menurut Undang-undang RI No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sekolah Luar Biasa adalah lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan bagi anak tuna atau cacat. Negara kita telah memiliki Sekolah Luar Biasa untuk anak tunanetra, tunarungu dan tunawicara, tunadaksa, tunalaras, tunaganda dan anak terbelakang. Menurut Suparno (2007:1), Sekolah Luar Biasa adalah pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental sosial, tetapi memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Menurut Mangunsong (1998:66), Sekolah Luar Biasa adalah bagian terpadu dari sistem pendidikan nasional yang secara khusus diselenggarakan bagi peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan atau kelainan perilaku.

Sekolah Luar Biasa (SLB) mencakup fungsi sebagai bagian dari lembaga pendidikan yang dirancang untuk menampung dan menyelenggarakan pendidikan secara khusus bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Jenjang pendidikan di SLB harus mencakup pendidikan dasar, menengah, dan program khusus yang mendukung transisi ke kehidupan dewasa, dengan penekanan pada pengembangan keterampilan praktis dan sosial. Jenis pendidikan luar biasa yang diprogramkan di SLB terdiri dari berbagai tipe yang disesuaikan dengan jenis kebutuhan khusus peserta didiknya (Meijer & Watkins, 2019:711).

Jenis pendidikan luar biasa yang diprogramkan di SLB terdiri dari berbagai tipe yang disesuaikan dengan jenis kebutuhan khusus peserta didiknya. SLB -A ditujukan untuk peserta didik tunanetra, SLB-B untuk peserta didik tunarungu, SLB-C untuk peserta didik tunagrahita, dan lain sebagainya, sehingga setiap anak dengan kebutuhan khusus dapat menerima pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka, memungkinkan mereka untuk berkembang secara optimal (Messiou, 2019:775).

Peran SLB dalam menyediakan pendidikan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa. SLB juga harus menjadi pusat sumber daya dan pelatihan bagi guru dan staf sekolah lain dalam hal strategi inklusif dan pendidikan khusus (Ainscow & Messiou, 2018:10).

Sekolah Luar Biasa adalah sekolah yang diperuntukkan untuk anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus yang tidak dapat disandingkan dengan anak-anak lainnya. Menurut Pratiwi dan Murtiningsih (2018:51), terdapat beberapa jenis sekolah luar biasa berdasarkan kebutuhan khusus anak, yaitu sebagai berikut:

a.    Golongan A (Tunanetra)

 Tunanetra adalah individu yang memiliki kurang penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60. Pengertian tunanetra adalah tidak dapat melihat, namun pada umumnya orang mengira tunanetra identik dengan buta. Tunanetra dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori, yaitu; tunanetra sebelum dan sejak lahir, tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil, tunanetra pada usia sekolah atau masa remaja, tunanetra pada usia dewasa atau lanjut usia, dan tunanetra akibat bawaan.

b.    Golongan B (Tunarungu)

Tunarungu adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran dan percakapan dengan tingkat pendengaran yang bervariasi. seseorang dikatakan tuli (deaf) apabila kehilangan kemampuan mendengar pada tingkat 70 dB ISO atau lebih, sehingga ia tidak dapat mengerti atau menangkap dan memahami pembicaraan orang lain. Sedangkan seorang dikatakan kurang dengar (hard of hearing) bila kehilangan pendengaran pada 35 dB ISO sehingga ia mengalami kesulitan memahami pembicaraan orang lain melalui pendengarannya tanpa maupun dengan alat bantu dengar.

c.    Golongan C (Tunagrahita)

Tunagrahita adalah keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Retardasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan lemahnya kecerdasan (biasanya nilai IQ-nya di bawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari hari. Ciri utama retardasi mental adalah lemahnya fungsi intelektual. Selain intelegensi rendah anak retardasi mental juga sulit menyesuaikan diri dan berkembang. Sebelum muncul tes formal untuk menilai kecerdasan, orang retardasi mental di anggap sebagai orang yang tidak dapat menguasai keahlian yang sesuai dengan umurnya dan tidak merawat dirinya sendiri.

d.   Golongan D (Tunadaksa)

Anak tunadaksa adalah Anak yang mengalami cacat tubuh, anggota gerak tubuh tidak lengkap, bentuk anggota tubuh dan tulang belakang tidak normal, kemampuan gerak sendi terbatas, ada hambatan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari hari.

e.    Golongan E (Tunalaras)

Anak tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Anak dengan hambatan emosional atau kelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari 5 (lima) komponen berikut ini, yaitu; tidak mampu belajar bukan disebabkan karena faktor intelektual, sensori atau kesehatan, tidak bisa berhubungan baik dengan teman-teman dan guru, bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya. Secara umum mereka selalu dalam keadaan tidak gembira atau depresi dan bertendensi ke arah simtom fisik seperti merasa sakit atau ketakutan yang berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.

f.     Golongan F (Tunawicara)

Anak tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan berbicara dikarenakan tidak berfungsinya alat-alat organ tubuh seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita suara. Tunawicara juga sering disebut bisu, biasanya tunawicara diikuti dengan tunarungu dimana fungsi pendengarannya juga tidak dapat berfungsi.

 

g.    Golongan G (Tunaganda)

Anak Tunaganda adalah anak yang memiliki kombinasi kelainan (dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius, sehingga anak tunaganda tidak hanya dapat diatasi dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja. Departemen pendidikan Amerika Serikat pada tahun 1988 memberikan pengertian anak-anak yang tergolong tunaganda adalah anak-anak yang mempunyai masalah-masalah jasmani, mental atau emosional yang sangat berat atau kombinasi dari beberapa masalah tersebut.

h.    Golongan H (HIV & AIDS)

Anak yang menginap penyakit HIV & AIDS bukan dikarenakan pergaulan bebas saja, tapi bisa jadi dikarenakan orang tuanya yang mengidap penyakit ini terlebih dahulu.

i.      Golongan I (Gifted)

Anak yang tergolong berpotensi memiliki kepintaran di atas rata-rata anak pada umumnya, memiliki kecerdasan di atas (IQ lebih dari 125).

j.      Golongan J (Talented)

Anak yang berpotensi memiliki bakat istimewa, biasanya hanya memiliki satu bakat istimewa seperti multiple intelligences language, logicomathematic, visuo-spatial, bodilykinesthetic, musical, interpersonal, natural spiritual.

k.    Golongan K (Kesulitan Belajar)

Anak yang tergolong mengalami Hyperactive, ADD/ADHD, Dyslexia/Baca, Dysgraphia/Tulis, Dyscalculia/Hitung, Dysphasis/ bicara,  Dyspraxia/Motorik sehingga mengalami kesulitan di dalam pembelajaran di sekolah atau di lingkungan sosial.

l.      Golongan L (Lambat Belajar)

Anak yang tergolong memiliki IQ = 70 sampai 90 sehingga mengalami proses yang lambat dalam memahami atau menangkap pelajaran.

m.  Golongan M (Autis)

Anak autisme merupakan kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang dialami sejak lahir ataupun saat masa balita dengan gejala menutup diri sendiri secara total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar. Merupakan gangguan perkembangan yang kompleks mempengaruhi perilaku dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain.

n.    Golongan N (Korban Penyalahgunaan Narkoba)

Anak yang mengalami depresi, masalah pribadi atau karena faktor-faktor sekitar yang mendorong anak menggunakan narkoba, sehingga anak terpaksa direhab untuk memulihkan kondisi mental dan kesehatan.

 

o.    Golongan O (Indigo)

Anak indigo adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat spesial, tidak biasa dan bahkan supernatural.

 

2.      Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif

Pembelajaran PJOK adaptif adalah pembelajaran biasa yang dimodifikasi dan dirancang untuk dipelajari dan dilaksanakan, serta untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak berkebutuhan khusus (Hosni & Irham, 2016:53). Anak berkebutuhan khusus memiliki masalah dengan kesulitan sensorik, motorik, belajar dan perilaku. Semua ini mengarah pada gangguan perkembangan fisik anak. Hal ini disebabkan sebagian besar anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan dalam merespon rangsangan yang ada di lingkungannya, melakukan gerakan atau meniru gerakan, bahkan ada yang mengalami gangguan fisik sehingga anak tidak dapat melakukan gerakan yang terarah dan benar. Anak berkebutuhan khusus harus mampu mandiri, beradaptasi dan bersaing dengan anak pada umumnya. Di sisi lain, anak berkebutuhan khusus tidak dapat secara otomatis terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Ini mempengaruhi perkembangan dan peningkatan keterampilan fisik dan motorik. Pembelajaran PJOK adaptif membantu anak berkebutuhan khusus untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan fisik dan motoriknya (Sukriadi, 2021:68)

Pelaksanaan pendidikan jasmani adaptif di SLB tidak dapat dipisahkan dari proses standar pendidikan dasar. Standar mencakup proses perencanaan pelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus. Anak-anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh pendidikan jasmani adaptif di sekolah dan pendidikan inklusi. Pendidikan inklusif adalah proses yang berkelanjutan yang terbukti menawarkan pendidikan berkualitas kepada semua orang, serta menghormati keragaman dan kebutuhan serta kemampuan, karakteristik, dan harapan belajar yang berbeda dari siswa dan masyarakat (Cervantes & Clark, 2020:63).

Masalah inklusi pendidikan jasmani di SLB juga dipengaruhi oleh guru. Kokaridas et al. (2014:11)  menjelaskan bahwa sebagian besar guru yang mengajar pendidikan jasmani di sekolah umum ditugaskan untuk mengajar siswa dengan kebutuhan khusus di kelas inklusi tidak tahu harus mulai dari mana, padahal bermain dan berolahraga sangat penting untuk perkembangan psikomotor setiap anak dengan kebutuhan khusus dan anak normal (Tarjiah, 2017:59).

Pendidikan jasmani adaptif tidak terlepas dari masalah. Ada beberapa hambatan dalam pelaksanaan pendidikan jasmani adaptif di sekolah inklusif, termasuk kurangnya GPK yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus saat pelajaran pendidikan jasmani berlangsung. Sedangkan salah satu tugas guru pendidikan khusus (GPK) adalah membantu dan mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus ketika mengalami kesulitan dalam belajar (McNamara & Dillon, 2020:8).

Pendidikan jasmani adaptif adalah proses percepatan pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani melalui kegiatan usaha untuk mengembangkan segala macam keterampilan, keterampilan jasmani yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan anak, kecerdasan, kebugaran jasmani, aspek sosial, budaya, emosional dan untuk mengoptimalkan kemampuan untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu membentuk manusia yang seutuhnya. Dari berbagai definisi di atas, jelaslah bahwa pembelajaran PJOK adaptif merupakan program pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan psikomotorik anak, yang disesuaikan dengan keunikan anak (Taufan et al., 2018:22)

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani adaptif adalah suatu kegiatan pembelajaran Pendidikan melalui aktivitas jasmani yang berguna untuk memenuhi kebutuhan psikomotor anak yang dimodifikasi khusus untuk menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan anak tersebut.

3.      Tujuan Pendidikan jasmani adaptif

Tujuan pendidikan jasmani adaptif bagi anak yang berkebutuhan khusus bersifat holistik, seperti halnya tujuan pendidikan jasmani bagi anak normal. Ini mencakup tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan fisik, keterampilan motorik, dan keterampilan sosial dan intelektual. Selain itu, proses pembelajaran PJOK adaptif penting untuk mendorong nilai dan sikap positif terhadap penyandang disabilitas fisik dan mental, sehingga mereka dapat terhubung dengan lingkungan dan mengembangkan rasa percaya diri dan harga diri (Hastata, 2019:51). Alim et al., (2021:7) menjelaskan bahwa tujuan khusus pendidikan jasmani adaptif adalah: (1) Membantu siswa dalam mengoreksi kondisi yang dapat diperbaiki. (2) Membantu siswa menolong diri mereka sendiri dan potensi keadaan yang memberatkan melalui aktivitas fisik yang ditargetkan. (3) Memberikan kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dalam berbagai kegiatan olah raga, jasmani dan rohani. 

Haris et al., (2021:3886) bahwa tujuan pendidikan jasmani adaptif untuk anak berkebutuhan khusus bersifat menyeluruh seperti halnya tujuan pendidikan jasmani untuk anak normal. Mereka berhak atas pembelajaran pendidikan jasmani yang memenuhi keterbatasan dan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, pembelajaran pendidikan jasmani menjadi lebih sulit bagi guru pendidikan jasmani karena mereka berusaha memenuhi kebutuhan jasmani semua anak dan memaksimalkan potensi mereka. Kenyataannya tidak semua siswa berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan dalam pendidikan jasmani sesuai dengan kebutuhan atau kecacatannya, karena tidak semua guru pendidikan jasmani memahami dan mengetahui kesempatan apa saja yang harus diberikan kepada siswa berkebutuhan khusus. 

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat pendidikan jasmani adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus adalah sama dengan pendidikan jasmani yang dialami oleh siswa pada sekolah pada umumnya. 

 

 

4.      Program Pendidikan jasmani adaptif

Kurikulum pendidikan inklusi merupakan kurikulum fleksibel yang menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa. Pelatih harus merencanakan siapa yang akan diajar, perilaku dan variabel lingkungan apa yang akan diubah, dan bagaimana hal ini akan diubah. Tujuan dari lingkup afektif adalah untuk menekankan keyakinan, sikap, sikap terhadap kesehatan dan gaya hidup aktif. Tujuan psikomotor menekankan keterampilan dasar dan kebugaran fisik. Sementara itu, ranah kognitif sejalan dengan konstruk psikologi kognitif yang menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan bagian integral dari pembelajaran (Hakim, 2017:20). Program olahraga bagi anak berkebutuhan khusus dibagi menjadi tiga kategori yaitu gerak dasar, olahraga dan bermain, serta pengembangan kebugaran dan keterampilan gerak. Dengan kata lain, berbagai perubahan dapat dilakukan pada kegiatan pembelajaran yang termasuk dalam kurikulum. Tarigan (2016:82)  menunjukkan bahwa teknik pembelajaran yang berbeda dapat digunakan selama pendidikan jasmani untuk siswa berkebutuhan khusus, termasuk modifikasi pembelajaran dan modifikasi lingkungan belajar.  

5.      Evaluasi Pembelajaran

Ananda & Rafida (2017:54)  menjelaskan bahwa evaluasi berasal dari kata evaluation (bahasa Inggris), kata tersebut diadopsi ke dalam bahasa Indonesia kata dengan tujuan untuk mempertahankan kata aslinya dengan mengubah lafal bahasa Indonesia. Selain itu keduanya menjelaskan bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang mengumpulkan informasi tentang bagaimana sesuatu bekerja, yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengidentifikasi pilihan yang tepat dalam pengambilan keputusan. 

Evaluasi merupakan aktivitas yang dilakukan sang evaluator buat mengumpulkan, menganalisis dan mempresentasikan liputan yang lengkap dan seksama mengenai objek/program/layanan yang sedang dipelajari, sebagai akibatnya hasilnya bisa dipakai menjadi rekomendasi pada pengambilan keputusan (Divayana et al., 2017:22). Evaluasi merupakan aktivitas pengumpulan data, pengolahan data, analisis data, penyajian data sebagai liputan yang dipakai menjadi rekomendasi pada pengambilan hak keputusan. Evaluasi merupakan aktivitas mengumpulkan, menganalisis, & menyajikan liputan mengenai suatu objek yang akan dievaluasi, dimana output penilaian tadi dipakai buat untuk mempertimbangkan sebuah keputusan (Stavropoulou & Stroubouki, 2014:197).

Haryanto (2020:82) menyatakan bahwa evaluasi adalah ilmu menghasilkan informasi yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan. Lebih lanjut Ngatman (2017:43) menyatakan evaluasi menentukan bagaimana tujuan-tujuan telah dicapai. Informasi ini meliputi sifat kepemilikan, materi program, fasilitas, alat-alat, pemberian nilai, penelitian, waktu untuk program, partisipasi  dan administrasi. Karena itu evaluasi berkenaan dengan proses aktivitas-aktivitas Pendidikan. Jadi, penilaian meliputi pengukuran, evaluasi dan pengujian. Evaluasi juga merupakan proses yang mencakup empat hal berikut. Pertama mengumpulkan data, kedua; pemrosesan data, ketiga, membentuk refleksi; dan keempat membuat keputusan. 

Evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan objektif tentang sebuah program. Informasi ini dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak/hasil yang dicapai, efisiensi, dan pemanfaatan hasil evaluasi yang berfokus pada program itu sendiri, yaitu untuk membuat keputusan apakah akan melanjutkan, memperbaiki, atau menghentikan. Mengendalikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran, pemantauan, dan evaluasi bertujuan untuk menentukan umpan balik, termasuk tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, proses pembelajaran, dan evaluasi kurikulum pembelajaran serta proses pembelajaran (Brooks et al., 2019:23).

Pemantauan dan evaluasi pembelajaran dilakukan untuk menentukan apa yang sedang dilakukan dengan memantau hasil/ pencapaian yang dicapai. Jika ada penyimpangan dari standar yang telah ditentukan, maka segera dilakukan agar semua hasil/capaian yang dicapai dapat sesuai dengan rencana. Evaluasi dilakukan di akhir kegiatan untuk menentukan hasil akhir atau pencapaian dari kegiatan atau program tersebut. Hasil evaluasi berguna untuk merencanakan pelaksanaan program yang sama di waktu dan tempat lain (Azman, 2016:69).

Empat elemen yang saling mempengaruhi mempengaruhi efisiensi evaluasi pembelajaran: tujuan, materi, proses, dan evaluasi pembelajaran. Semua elemen ini akan memiliki efek instruksional, yaitu dalam bentuk hasil yang dapat diukur dari proses pembelajaran dengan mengharmoniskan kesesuaian masing-masing elemen dengan satu sama lain. Selain itu, jika keempat elemen ini berinteraksi satu sama lain. Dalam hal ini, ada efek perawatan dan instruksional, yaitu penerapan pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh dari bidang lain untuk membantu mereka berkembang secara emosional untuk mencapai kesempurnaan dan kemandirian (Wisniewski et al., 2020:9).

Dalam setiap kegiatan pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran PJOK, penilaian tidak dapat dipungkiri. Selain itu, hal ini erat kaitannya dengan bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran itu sendiri yang kemudian dapat menjadi tolak ukur kemajuan pendidikan. Bagaimana Anda bisa mengevaluasi keberhasilan proses tanpa evaluasi? Pengertian evaluasi dalam arti luas adalah proses merencanakan, mengumpulkan, dan menyediakan informasi yang diperlukan untuk membuat berbagai alternatif keputusan. Evaluasi pembelajaran adalah proses pengumpulan informasi yang berkesinambungan dan menafsirkannya dalam mengevaluasi pilihan-pilihan yang dibuat dalam rancangan sistem pembelajaran (Febriana, 2021:37)

Sesuai dengan pernyataan di atas, Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan menyebutkan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan yang mengontrol, menjamin dan menentukan mutu pendidikan pada berbagai bidang pendidikan dengan segala cara. tingkat dan bentuk pembelajaran sebagai respons yang bertanggung jawab terhadap pendidikan.

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan di mana informasi berharga yang berguna untuk mengevaluasi program pendidikan dan hasil yang diperoleh digunakan sebagai dasar untuk pengembangan pendidikan. 

6.      Tujuan Evaluasi Pembelajaran

Tujuan evaluasi adalah untuk meningkatkan kualitas proses dan untuk memutuskan program yang dievaluasi apakah program tersebut perlu diperbaiki, dilanjutkan atau bahkan dihentikan. Selain itu, penggunaan hasil penilaian ini menjadi acuan pengambilan keputusan atau kebijakan (Febriana, 2021:41) . Kirkpatrick (Bari et al., 2021:7), perlunya evaluasi dalam program adalah (1) menunjukkan adanya tujuan program yang akan dilaksanakan dan cara yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. (2) Memutuskan apakah melanjutkan atau menghentikan kegiatan. (3) Mengumpulkan informasi tentang pengembangan program di masa mendatang. 

Evaluasi pembelajaran dapat dilakukan menggunakan beberapa metode dan strategi yang berbeda dengan metode. Strategi mengacu pada rencana operasi untuk mencapai sesuatu; sementara metode adalah cara untuk mencapai sesuatu. Evaluasi pembelajaran meningkatkan kesadaran siswa terhadap pembelajaran dan meningkatkan produktivitas pembelajaran, memungkinkan pembelajaran mandiri, membantu siswa belajar dengan sukarela dan dengan cara yang menyenangkan, serta membentuk dasar bagi siswa untuk melanjutkan semua ini setelah sekolah (Saraçoğlu, 2020:79). Evaluasi pembelajaran dapat didefinisikan sebagai teknik yang mendukung pembelajaran siswa serta perilaku dan proses berpikir yang terkait (Tavsancıl et al., 2019:183). Evaluasi pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan oleh individu untuk mencapai tujuan terkait pembelajaran (Güven & Baltaoğlu, 2017:293).

Secara khusus, Worthern dkk menyatakan tujuan evaluasi program dalam pendidikan dikutip oleh Gullickson (2020:6)  yaitu: (1) Membuat kebijakan dan keputusan. (2) Mengevaluasi hasil yang dicapai siswa. (3) Penilaian kurikulum. (4) Memberikan kepercayaan kepada sekolah. (5) Memantau dana yang diberikan. (6) Meningkatkan materi program pembelajaran. Pendapat kedua Weiss (Widoyoko, 2016:238)  menyatakan bahwa tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengukur dampak program terhadap tujuan yang dinyatakan untuk mendukung pengambilan keputusan selanjutnya tentang program dan untuk memperbaiki program di masa depan. Desain menekankan pada empat hal, yaitu: (1) mengacu pada penggunaan metode penelitian, (2) menekankan hasil program, (3) menggunakan kriteria evaluasi, dan (4) mendorong pengambilan keputusan dan pengembangan program di masa yang akan datang. 

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan di atas, tujuan penilaian sangat bergantung pada jenis penilaian yang digunakan. Guru harus mengetahui dan memahami terlebih dahulu tujuan dan tugas penilaian sebelum melakukan evaluasi, Arifin (2018:88) menyatakan bahwa tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi pembelajaran, baik itu tujuan, materi, metode, media, sumber belajar, lingkungan maupun sistem penilaian. 

7.        Model Evalusi Pembelajaran Pendidikan Jasmani melalui model CIPP

a.    Model Evaluasi

Haryanto (2020:98)  menyatakan bahwa model evaluasi kuantitatif terdiri dari banyak model, seperti model Typenler, model teoretik Taylor dan Maquire, model pendekatan sistem Alkin, model countenance Stake, model CIPP, dan model ekonomi mikro, sedangkan model evaluasi kualitatif terdiri dari model studi kasus, model iluminatif, dan model responsif.

Ananda & Rafida (2017:68) menjelaskan bahwa model-model evaluasi pogram diantaranya: Goal-Free Evaluation Approach (Scriven), Formative and Summative model (Scriven), Five level ROI Model (Jack Phillips), Context, Input, Process, Product atau CIPP Model (Stufflebeam), Four levels evaluation model (Kirpatrick), Responsive evaluation model (Stake), Context, Input, Reacton, Outcome atau CIRO model, Congruance-Contigency model (Stake), Five Levels of Evaluation model (Kaufmann), Program Evaluation and Review Technique atau PERT model, Alkin model, CSE-UCLA Model, Provous Discrepancy model, Illuminative evaluation model dan lainnya.

Evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan di lapangan menjadi mudah bagi guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Dalam hal relevansi dengan kurikulum, tujuan pengajaran dan pembelajaran pendidikan jasmani, kesehatan, dan kesehatan bukanlah angka atau deskripsi kata-kata tetapi untuk menciptakan anak-anak yang, setelah menyelesaikan pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan, akan menjadi individu yang sehat, kuat, dan bugar (Lynch et al., 2020:11). Selain itu, mereka juga dilengkapi dengan karakter yang kuat sesuai dengan nilai-nilai olahraga. Namun, guru pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan membutuhkan bantuan dalam hal durasi pembelajaran yang minimal.Salah satu cara untuk memulihkan identitas dan karakter nasional adalah melalui revolusi mental. Dengan revolusi mental, sumber daya manusia menjadi kuat dan siap menghadapi tantangan dunia. Schmidt et.al.,(2019:51)  merumuskan karakter sebagai kombinasi dari sikap, tindakan, motivasi, dan keterampilan. Ini dapat dikelompokkan dalam hati, melalui pemikiran, latihan dan kinestetik, serta perasaan dan niat.

Issac dan Michael dalam Fitriyani & Robiasih (2021:9) mengklasifikasikan 6 (enam) model evaluasi program dengan pendekatan dan tujuan yang berbeda antara masing-masing model. Klasifikasi didasarkan atas 12  karakteristik perbedaan dan persamaan dari masing-masing model evaluasi yaitu: definisi, tujuan, penekanan, peran evaluator, keterkaitan dengan tujuan, keterkaitan dengan pembuatan rancangan, tipe evaluasi, konstruk, kriteria penilaian, implikasi terhadap rancangan, kontribusi dan keterbatasan. Klasifikasi 6 (enam) model tersebut adalah:

1)      Goal oriented evaluation model

Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan dan kontiniu yang bertujuan untuk menilai sejauhmana program telah tercapai.

2)      Decision oriented evaluation model

Evaluasi diorientasikan untuk memberikan masukan dan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

3)      Transactional evaluation model

Evaluasi ditujukan untuk menggambarkan proses program dan perspektif nilai dari tokoh-tokoh penting dalam masyarakat.

4)      Evaluation research model

Evaluasi dilakukan untuk menjelaskan pengaruh kependidikan dan pertimbangan strategi pembelajaran.

5)      Goal-free evaluation model

Evaluasi tidak mengacu pada tujuan program, namun fokus mengevaluasi pengaruh program baik yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan namun terjadi.

6)      Adversary evaluation model

Evaluasi yang bertujuan mengumpulkan kasus-kasus menonjol untuk diinterpretasi nilai program dari dua sisi dengan menggunakan informasi yang sama tentang program.

 

Kipli & Khairani (2020:141)  menjelaskan bahwa model evaluasi dapat diklasifikasikan dalam enam model, yaitu: (1) CIPP Model, (2) Stake Model, (3) Discrepancy Model, (4) Scriven Model, (5) CSE Model, dan (6) Adversary Model. Berdasarkan beberapa pendapat di atas, model-model evaluasi terdiri atas, model evaluasi kuantitatif dan model evaluasi kualitatif. Memperhatikan pendapat di atas, ada berbagai macam model evaluasi yang dapat digunakan untuk melaksanakan model evaluasi, namun demikian penelitian ini menggunakan model CIPP.

b.      Model Evaluasi CIPP

Model CIPP didasarkan pada definisi evaluasi secara umum dan operasional, penggunaan evaluasi dan standar profesional dalam mengontrol dan evaluasi. Stufflebeam dan Coryn (2014:117) mendefinisikan evaluasi secara umum yaitu. Kajian sistematis tentang nilai-nilai suatu mata pelajaran, dan secara fungsional, evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh, melaporkan, dan membuat keputusan tentang, pengetahuan dalam kriteria suatu objek. nilai muatan seperti yang didefinisikan oleh kriteria seperti kualitas, kegunaan, kejujuran, ekuitas, kelayakan, biaya, efektivitas, keamanan dan relevansi. Standar Profesi Penilai adalah prinsip-prinsip yang disepakati oleh para ahli atau pakar dalam melakukan penilaian untuk menentukan kegunaan, kepantasan, kebenaran, ketelitian dan akuntabilitas penilaian. Selain itu, Stufflebeam dan Coryn :124)  mengatakan bahwa model ini dikembangkan karena penilaian klasik dengan menggunakan pendekatan experimental design, evaluasi berdasarkan tujuan, penilaian para ahli dan tes kemampuan standar telah terbukti efektif. Meskipun model ini berguna, dan bahkan kontraduktif, untuk mengevaluasi program baru dalam konteks sosial yang dinamis dan di beberapa sekolah negeri, model ini telah dikembangkan, diadaptasi, dan diterapkan di Amerika Serikat dan banyak negara lain serta dalam berbagai disiplin ilmu. 

Oflaz, et al., (2022:161) dalam penelitiannya tentang evaluasi CIPP program kelas menulis terintegrasi teknologi menyatakan evaluasi masukan menentukan desain instruksi program dan alat-alat atau sumber daya yang dapat digunakan dalam membantu implementasi program. Model CIPP (Context, Input, Process, Product) merupakan salah satu model evaluasi yang memiliki empat bidang garapan berkerja layaknya sebuah program yang sistematis. Model ini dibandingkan dengan model-model evaluasi yang lain, model CIPP memiliki beberapa kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan (Input), proses, maupun hasil. Selain memiliki kelebihan, model CIPP juga memiliki keterbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran di kelas perlu disesuaikan atau modifikasi agar dapat terlaksana dengan baik. Sebab untuk mengukur konteks, masukan maupun hasil dalam arti yang luas banyak melibatkan pihak, membutuhkan dana yang banyak dan waktu yang lama (Zhang et al., 2011:77).

Menurut Stavropoulou dan Stroubouki (2014:197) model CIPP digunakan untuk tujuan akuntabilitas (pertanggungjawaban) karena merupakan alasan untuk membantu pendidik bertanggung jawab atas keputusan yang telah mereka buat untuk jalannya suatu program. Evaluasi model CIPP adalah kerangka kerja yang komprehensif untuk membimbing evaluasi program, proyek, personil, produk, lembaga, dan sistem (Stufflebeam, 2015:114).  Lebih lanjut Stufflebeam dalam Sugiyono (2020:47) ruang lingkup evaluasi program lengkap pada umumnya meliputi empat tingkatan yaitu evaluasi konteks, input, proses, dan produk.

1)     Evalusi Konteks

Evaluator menggunakan evaluasi kontekstual untuk menilai kebutuhan, masalah, aset, dan peluang di lingkungan tertentu (Stufflebeam & Coryn, 2014:124). Kebutuhan adalah hal-hal yang diperlukan atau berguna untuk mencapai suatu tujuan. Masalah adalah hambatan untuk memenuhi kebutuhan yang dimaksudkan. Aset termasuk keterampilan dan layanan yang dapat dicapai dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Tujuan evaluasi konteks adalah untuk menetapkan konteks yang relevan, mengidentifikasi kelompok sasaran dan menilai kebutuhan, mengidentifikasi cara untuk memenuhi kebutuhan, mendiagnosa masalah di balik kebutuhan, dan menilai apakah tujuan proyek dapat dipenuhi adalah untuk menilai apakah program sudah mampu memenuhi kebutuahn yang sudah ada (Zhang et al., 2011:79).

Peluang meliputi sumber pendanaan potensial untuk mendukung upaya memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah terkait. Evaluasi konteks dapat dimulai sebelum, selama atau bahkan setelah proyek, program atau intervensi lainnya. Metode evaluasi kontekstual mungkin melibatkan pengumpulan berbagai jenis informasi tentang anggota populasi sasaran dan daerah sekitarnya, dan melakukan berbagai jenis analisis. Pertama, minta para stakeholder dan orang yang berkepentingan lainnya untuk mendeskripsikan batasan penelitian. Evaluator kemudian dapat menggunakan berbagai teknik untuk membuat dan menguji hipotesis tentang persyaratan layanan atau perubahan layanan yang ada. Teknik-teknik ini dapat mencakup peninjauan dokumen, analisis demografis data, audiensi dan forum, kelompok guru, mengadakan sesi kelompok fokus dan mewawancarai penerima manfaat dan pemangku kepentingan lainnya. 

Dari evaluasi yang dilakukan, ditemukan informasi bahwa program pendidikan karakter telah diimplementasikan dengan baik dan menjadi program unggulan sekolah dengan pengintegrasian pendidikan karakter dengan semua pembelajaran dan kegiatan di sekolah. Mohebbi, et al., (2011:3288) dalam penelitiannya menghubungkan evaluasi konteks terkait dengan objektif mata pelajaran (course objectives). Evaluasi dilakukan dengan menilai tujuan pelatihan dan kebutuhan akan tenaga profesional yang dihasilkan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai evaluasi yang memadai dan menunjukkan konteks yang dapat diterima dari pengaplikasian mata pelajaran yang diberikan.

2)     Evaluasi Input

Orientasi utama evaluasi Input adalah membantu pendekatan sebuah program dalam membuat suatu perubahan yang diperlukan (Stufflebeam & Coryn, 2014:134). Untuk tujuan ini, evaluator mencari dan memeriksa secara teliti potensi pendekatan yang relevan, termasuk pendekatan yang sudah digunakan. Orientasi alternatif evaluasi masukan adalah memberi informasi pada pihak yang berkepentingan tentang pendekatan program terpilih, alternatif pendekatan, dan alasannya. Pada dasarnya, evaluasi input harus melibatkan identifikasi pendekatan yang sesuai dan membantu para pengambil keputusan dalam menyusun pendekatan yang dipilih untuk dilaksanakan.

Tujuan dari evaluasi input adalah memberikan informasi, menentukan sumber daya meliputi sumber daya waktu, sumber daya manusia, sumber daya fisik, infrastruktur, kurikulum dan konten untuk mengevaluasi mutu pendidikan di sekolah (Tiantong & Tongchin, 2013:159). Metode yang digunakan pada evaluasi input meliputi inventarisasi dan menganalisis kemampuan sumber daya manusia dan ketersedian material, kemampuan anggaran dan jadwal yang diusulkan, dan rekomendasi solusi untuk strategi dan desain prosedural. Kriteria evaluasi input meliputi kesesuaian rencana yang diusulkan, kelayakan, keunggulan dengan berbagai pendekatan, dan efektivitas biaya (Zhang et al., 2011:94).

3)     Evalusi Proses

Evaluasi proses mencakup pemeriksaan pelaksanaan rencana yang sedang berlangsung dan dokumentasi dari proses yang terkait (Stufflebeam & Coryn, 2014:117). Salah satu tujuannya adalah untuk memberikan masukan atau tanggapan pada guru dan kepala sekolah tentang sejauh mana mereka melaksanakan kegiatan yang direncanakan. Selain itu untuk membimbing guru untuk meningkatkan prosedural dan anggaran rencana yang tepat. Evaluator dalam evaluasi proses memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan dalam mengobservasi dan mendokumentasikan kegiatan. Evaluator bisa mengobservasi rencana dalam pengumpulan data lebih lanjut dan membuat laporan terhadap rencana tersebut.

Sedangkan menurut Patil & Kalekar (2014:2617)  menyatakan bahwa evaluasi proses berpusat pada berjalannya program dan pengajaran proses belajar. Teknik evaluasi proses dilakukan dengan observasi, wawancara peserta, skala rating, kuesioner, analisis catatan, catatan fotografi, studi kasus partisipasi, fokus kelompok, sesi refleksi diri dengan kelompok guru, dan pelacakan pengeluaran (Zhang et al., 2011:89).

4)     Evaluasi Produk

Tujuan dari evaluasi produk yaitu untuk mengukur, menjelaksan, dan menilai suatu hasil (Stufflebeam & Coryn, 2014:109). Dalam melakukan evaluasi produk, evaluator harus menilai hasil yang didapatkan baik diinginkan ataupun tidak diinginkan dan hasil positif dan negatif.

Evaluasi produk dapat manfaatkan dalam pembuatan keputusan lebih lanjut tentang hasil yang telah dicapai maupun apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah program berjalan. Tahapan dari evaluasi model CIPP merupakan evaluasi hasil (product evaluation), untuk melihat berhasil atau tidaknya peserta mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah untuk membantu dalam pengambilan keputusan, memodifikasi atau menghentikan program. Evalusi ini dilakukan oleh penilai di dalam mengukur keberhasilan pencapaian tujuan tersebut dikembangkan dan diadministrasikan. Data yang dihasilkan akan sangat berguna bagi pengambil keputusan dalam menentukan apakah program diteruskan, apakah akan dihentikan atau dimodifikasi. Selain itu, evaluasi hasil memerlukan perbandingan antara tujuan yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, data observasi dan diagram data, yang masing-masing dapat ditelusuri kaitannya dengan tujuan yang lebih rinci. Evaluasi hasil dapat juga didasarkan pada kategori hasil belajar dalam pembelajaran (Tuna & BaÅŸdal, 2021:5).

Evaluator harus mengumpulkan dan menganalisis penilaian stakeholders terhadap program. Berbagai teknik yang dilakukan dalam evaluasi produk, dan termasuk catatan harian dari hasil, wawancara pada pemangku kepentingan, studi kasus, mendengarkan pendapat, fokus kelompok, dokumentasi dan analisis records, analisis fotografi catatan, tes prestasi, skala penilaian, perbandingan cross-sectional, dan perbandingan biaya proyek dan hasil (Zhang et al., 2011:104).

B.     Penelitian yang Relevan

Kajian penelitian yang relevan adalah sebagai landasan peneliti agar penelitian yang dilakukan menjadi lebih jelas. Berikut beberapa penelitian yang relevan dengan peneltian yang sedang dilakukan adalah.

1.      Penelitian yang dilakukan oleh Teguh Priyono dengan judul “Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Jasmani Adaptif Anak Tunagrahita di SD Negeri Bagunrejo 2 Kota ..................” (2016)  penelitian ini untuk mengetahui proses pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif anak tunagrahita. Proses pelaksanaan pembelajaran penjas di kelas 5 SD Negeri Bangunrejo 2 Kota .................. pada tunagrahita belum dilakukan sesuai dengan karakteristik dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan anak berkebutuhan khusus. Perencanaan pembelajaran individual belum direncanakan dan pembelajaran yang dilaksanakan masih umum dan disamakan dengan siswa reguler lainnya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif anak tunagrahita di SD Negeri Bangunrejo 2 Kota ................... Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif jenis kualitatif. Subyek penelitian ini adalah empat anak tunagrahita dan guru pendidikan jasmani. Teknik pengumpulan datanya dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dengan menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan langkah data reduction, data display, dan conclusion drawing (verification). Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani adaptif anak tunagrahita berlangsung bersama dengan siswa regular dengan materi yang sama dalam pembelajaran, perlakuan guru penjas untuk anak tunagrahita disamakan sama seperti siswa regular namun ada modifikasi materi disederhanakan tersendiri bagi anak tunagrahita agar bisa mengikuti pembelajaran dengan materi yang sama seperti siswa regular.

2.      Penelitian yang dilakukan oleh Rendra Dwi Fitriawan dan Abdul Rachman Syam Tuasikal dalam jurnalnya yang berjudul “Studi Tentang Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa Tunagrahita dalam Mengikuti Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif (Studi pada Siswa Tunagrahita di SDLB Negeri Seduri, Mojosari Mojokerto) (2013), penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan penyesuaian diri siswa tunagrahita dalam mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di sekolah. Hasil penelitian dan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran penjas adaptif pada anak tunagrahita di SDLB menggunakan metode ceramah, demonstrasi, dan penugasan. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian ini adalah tempat pelaksanaan pada penelitian sebelumnya dilakukan di SDLB, sedangkan penelitian ini dilakukan di SDN inklusi dan penelitian ini untuk mengetahui keterlaksanaan program pendidikan jasmani adaptif bagi anak tunagrahita.

3.      Penelitian yang dilakukan oleh Septian & Yahaya (2020) dengan judul penelitian “Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko melalui Pendekatan Model Contex, Input, Proses & Produk (CIPP)” penelitian ini bertujuan untuk Salah satu cara untuk meningkatkan dan memperbaiki program pendidikan yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap program tersebut. Tujuan penelitianini adalah untuk mendapatkan data tentang kualitas program pendidikan jasmani dan olahraga, melalui evaluasi Context, Input, Process dan Product. Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri yang ada dalam wilayah Kabupaten Mukomuko. Data penelitian diperoleh melalui angket guru dan siswa, observasi, analisis dokumen, checklist, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil evaluasi program pembelajaran PJOK pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko, rata-rata penilaian menunjukan (1) komponen context berada pada kategori “kurang baik”, dimana tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dengan baik (44,50%); (2) komponen input pada kategori “cukup baik”, masih ada guru yang tidak memiliki perangkat pembelajaran dan sarana prasarana serta kurangnya peran kepala sekolah dalam pengawasan (59%); (3) komponen process dalam kategori “cukup baik”, yaitu waktu pelaksanaan pembelajaran yang tidak efektif dan proses pembelajaran masih berpusat pada guru sebagai sumber belajar utama serta kurangnya partisipasi siswa dalam aktifitas fisik (58,15%); (4) komponen product berada pada kategori “tidak baik”, yaitu rendahnya minat siswa terhadap pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (45,1%).

4.      Penelitian yang dilakukan oleh Septian Raibowo dan Yahya Eko Novianto (2020) dengan judul “Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko melalui Pendekatan Model Context, Input, Process & Product (CIPP)” Salah satu cara untuk meningkatkan dan memperbaiki program pendidikan yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap program tersebut. Tujuan penelitianini adalah untuk mendapatkan data tentang kualitas program pendidikan jasmani dan olahraga, melalui evaluasi Context, Input, Process dan Product. Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri yang ada dalam wilayah Kabupaten Mukomuko. Data penelitian diperoleh melalui sebaran angket guru dan siswa, observasi, analisis dokumen, checklist, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil evaluasi program pembelajaran PJOK pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko, penilaian menunjukan (1) komponen Context berada pada kategori “kurang baik”, dimana tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dengan baik (44,50%); (2) komponen Input pada kategori “cukup baik”, masih ada guru yang tidak memiliki perangkat pembelajaran dan sarana prasarana serta kurangnya peran kepala sekolah dalam pengawasan (59%); (3) komponen Process dalam kategori “cukup baik”, yaitu waktu pelaksanaan pembelajaran yang tidak efektif dan proses pembelajaran masih berpusat pada guru sebagai sumber belajar utama serta kurangnya partisipasi siswa dalam aktifitas fisik (58,15%); (4) komponen Product berada pada kategori “tidak baik”, yaitu rendahnya minat siswa terhadap pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (45,1%).

5.      Penelitian yang dilakukan oleh Teddy Giolanda Pratama: Evaluasi Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung. Tesis. ..................: Magister Pendidikan Jasmani, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri .................., (2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung sebesar 2,47 masuk kategori kurang. Berdasarkan masing-masing komponen evaluasi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut. (1) Context evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung, sebesar 2,70 masuk kategori baik. Indikator filsafat pembelajaran PJOK sebesar 2,67 pada kategori baik dan tujuan pembelajaran PJOK sebesar 2,73 pada kategori baik. (2) Input evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung, sebesar 2,41 masuk kategori kurang. Indikator profil guru sebesar 2,78 pada kategori baik, profil peserta didik sebesar 2,19 pada kategori baik, dan sarana dan prasarana pembelajaran sebesar 2,27 pada kurang. (3) Process evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung, sebesar 2,35 masuk kategori kurang. Indikator RPP sebesar 2,52 pada kategori baik dan program pembelajaran sebesar 2,17 pada kategori kurang. (4) Product evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung, sebesar 2,29 masuk kategori kurang. Indikator evaluasi proses pembelajaran sebesar 2,33 pada kategori kurang dan evaluasi hasil pembelajaran sebesar 2,25 pada kategori kurang. Dapat disimpulkan bahwa evaluasi program pembelajaran PJOK di SMA Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten Belitung pada kategori kurang.

6.      Penelitian yang dilakukan oleh Ramos Lores Napitupulu: Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani pada Siswa Tunagrahita di SLB Kota Bengkulu. Tesis. ..................: Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri .................., (2023). Hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di SLB Kota Bengkulu hasilnya pada kategori kurang. Penjelasan masing-masing aspek evaluasi yaitu. (1) Context evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di SLB Kota Bengkulu baik. Indikator bahan pembelajaran dan rumusan tujuan sebesar 3,14 pada kategori baik, mengorganisasi materi, media, dan sumber belajar lain sebesar 2,78 pada kategori baik, merancang kegiatan belajar mengajar sebesar 3,34 pada kategori sangat baik, pengelolaan kelas sebesar 3,33 pada kategori sangat baik, dan penilaian sebesar 3,35 pada kategori sangat baik. (2) Input evaluasi program pelaksanaan evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di SLB Kota Bengkulu sudah baik. Indikator kesesuaian materi pembelajaran dengan KI dan tujuan sebesar 3,29 pada kategori baik dan karakteristik peserta didik sebesar 2,41 pada kurang. (3) Process evaluasi program pelaksanaan evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di SLB Kota Bengkulu hasilnya pada kategori kurang. Indikator kegiatan pembelajaran sebesar 2,30 pada kategori kurang dan kegiatan peserta didik sebesar 1,86 pada kategori kurang. (4) Product evaluasi program pelaksanaan evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di SLB Kota Bengkulu hasilnya pada kategori kurang. Indikator hasil pelaksanaan pembelajaran penjas di SLB Kota Bengkulu sebesar 1,83 pada kategori kurang.

C.    Kerangka Berpikir

Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB merupakan salah satu mata pelajaran wajib yang dilaksanakan untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan gerak serta mengembangkan keterampilan diri dalam bidang pendidikan jasmani. Ini adalah program yang membantu siswa menjaga kesegaran jasmani dengan siswa. Pendidikan jasmani adaptif sendiri merupakan program terrencana yang sistematis dan menyeluruh yang bertujuan untuk mengembangkan kesegaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan sosial, berpikir kritis, tindakan moral, pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan yang aktif melalui pembelajaran Pendidikan jasmani adaptif. pembelajaran dirancang untuk mengidentifikasi, menemukan dan memecahkan masalah psikomotorik anak di lingkungan sekolah dengan mengevaluasi pelaksanaan dengan bantuan model konteks, Input, proses dan produk dan mengevaluasinya sesuai dengan materi pembelajaran dan desain dalam kaitannya dengan tujuan, pengorganisasian bahan, media dan sumber belajar lainnya, merencanakan kegiatan belajar mengajar, melakukan penilaian, kesesuaian bahan pelajaran dengan tujuan dan sasaran karakteristik siswa, aktivitas belajar, aktivitas siswa dan hasil belajar. 

Dalam dunia pendidikan, penilaian merupakan mekanisme yang sangat penting yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kemajuan pembelajaran yang telah diselesaikan. Penilaian ini merupakan bahan yang sangat penting untuk mengambil tindakan evaluasi di masa mendatang saat memulai kembali program. Dari skor tersebut, berbagai hal yang kurang kemudian dapat dinilai sehingga dapat dimaksimalkan lagi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Oleh karena itu, evaluasi pendidikan dan pembelajaran merupakan hal terpenting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran. 

Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka akan dilakukan penelitian untuk mengetahui evaluasi Context, Input, Process, Product pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 ................... Dengan kerangka berpikir sebagai berikut.

1.    Evalusi Konteks

Evaluasi yang mempelajari realitas di mana program dijalankan. Evaluasi konteks untuk menilai kebutuhan, masalah, aset, dan peluang dalam lingkungan yang ditetapkan. Kebutuhan termasuk hal-hal yang diperlukan atau berguna untuk memenuhi tujuan. Indikator yang diidentifikasi pada evaluasi context adalah identifikasi tujuan pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

2.    Evaluasi Input

Evaluasi memberikan informasi untuk menentukan bagaimana alternatif strategi pembelajaran akan mampu memberikan kontribusi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pada aspek Input akan mengidentifikasi komponen program pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Olahraga, yaitu : (a) Guru, (b) siswa, (c) tenaga pengajar, (d) sarana prasarana dan (e) pembiayaan.

3.    Evalusi Proses

Mengevaluasi pelaksanaan program pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan.

 

 

4.    Evalusi Produk

Mengevaluasi tingkat minat siswa terhadap pelayanan program pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang diselenggarakan sekolah.

Gambar 1 Kerangka Berpikir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D.    Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana hasil evaluasi Context, Input, Process, Product kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 ..................? Selanjutnya secara khusus pertanyaan dalam penelitian ini yaitu:

1.    Bagaimana hasil evaluasi Context kegiatan pemebelajaran adaptif di SLB Negeri 1 ..................?

2.    Bagaimana hasil evaluasi Input kegiatan pemebelajaran adaptif di SLB Negeri 1 ..................?

3.    Bagaimana hasil evaluasi Process kegiatan pemebelajaran adaptif di SLB Negeri 1 ..................?

4.    Bagaimana hasil evaluasi Product kegiatan pemebelajaran adaptif di SLB Negeri 1 ..................?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB III
METODE PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian evaluasi yang menggunakan metode mixed method (metode campuran) yang menggabungkan pendekatan antara kualitatif dan kuantitatif. Sukmadinata (2019:120)  menyatakan penelitian evaluasi adalah kegiatan penelitian yang sifatnya mengevaluasi suatu kegiatan atau program yang bertujuan untuk mengukur keberhasilan suatu kegiatan atau program dan menentukan keberhasilan suatu program dan apakah sudah sesusai dengan yang diharapkan. Penelitan ini juga diarahkan untuk menilai keberhasilan manfaat, kegunaan, sumbangan dan kelayakan suatu program kegiatan dari suatu unit atau lembaga tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pembelajaran pendidikan jasmani di SLB Negeri 1 ...................

Penelitian ini mengacu pada prosedur ilmiah sistematis yang dilakukan untuk mengukur hasil suatu program atau kegiatan sesuai dengan tujuan yang direncanakan atau tidak, dengan cara mengumpulkan, menganalisis dan mengkaji pelaksanaan program yang dilakukan secara objektif. Kemudian merumuskan dan menentukan kebijakan dengan mempertimbangkan nilai-nilai positif dan keuntungan suatu program.

B.     Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product)

Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan semua informasi tentang kualitas program pembelajaran PJOK pada SLB Negeri 1 .................. untuk membuat kebijakan atau keputusan terhadap program pembelajaran PJOK yang diselenggarakan oleh sekolah. Sesuai dengan tujuan penelitian, maka jenis penelitian menggunakan rancangan penelitian Evaluasi dengan Model CIPP karena model ini dipandang sebagai salah satu model evaluasi yang dapat memperoleh hasil yang lebih akurat dan objektif.

1.    Evaluasi Context

Evaluasi Context adalah penggambaran dan spesifikasi tentang lingkungan program, kebutuhan yang belum terpenuhi, karakteristik populasi dan sampel dari individu yang dilayani dan tujuan program itu sendiri. Evaluasi konteks terutama berkaitan dengan jenis masukan yang dilakukan di dalam program tertentu. Evaluasi konteks berupaya menghasilkan informasi tentang berbagai macam kebutuhan yang telah diatur prioritasnya agar tujuan dapat diformulasikan. Evaluasi konteks dalam penelitian ini terdiri atas indikator tujuan dan rancangan pembelajaran.

2.    Evaluasi Input

Evaluasi Input bertujuan untuk mengetahui semua yang harus ada dan disiapkan untuk kelangsungan proses. Evaluasi Input menyediakan informasi tentang masukan yang terpilih, butir-butir kekuatan dan kelemahan, strategi, dan desain untuk merealisasikan tujuan. Tujuannya adalah untuk membantu mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber alternatif apa yang akan diambil, apa rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, dan bagaimana prosedur kerja untuk mencapainya. Komponen evaluasi Input sendiri terdiri dari beberapa, yaitu sumber daya manusia, sarana dan peralatan pendukung, dana atau anggaran, dan berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.

3.    Evaluasi Process

Evaluasi Process berusaha menyediakan informasi untuk para evaluator melakukan prosedur pengawasan atau monitoring terpilih yang mungkin baru diimplementasikan, sehingga butir yang kuat dapat dimanfaatkan dan yang lemah dapat dihilangkan. Tujuannya adalah membantu melaksanakan keputusan, sehingga hal-hal yang layak untuk diperhatikan adalah sejauh mana suatu rencana sudah dilaksanakan, apakah rencana tersebut sesuai dengan prosedur kerja, dan hal apa yang harus diperbaiki. Evaluasi proses bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan program dalam kegiatan nyata di lapangan atau kegiatan pembelajaran sampai evaluasi terhadap hasil yang dicapai. Penelitian ini difokuskan pada kegiatan guru, kegiatan peserta didik, proses mengajar yang dilakukan oleh guru.

4.    Evaluasi Product

Evaluasi Product bertujuan untuk mengetahui produk pembelajaran PJOK adaptif berupa prestasi belajar. Evaluasi produk yaitu berupaya untuk mengidentifikasi dan mengakses keluaran dan manfaat, baik yang direncanakan untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Pada evaluasi ini berusaha untuk mencari jawaban apakah program yang dilakukan tersebut sukses atau tidak.

Setiap variabel yang dievaluasi dianggap layak dan baik jika memenuhi syarat serta mencakup kawasan indikator yang telah ditetapkan sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan. Kriteria evaluasi yang telah ditetapkan sebelum kegiatan evaluasi dilaksanakan. Kriteria evaluasi yang digunakan dan dikembangkan oleh peneliti dengan mengacu pada indikator keberhasilan penyelenggara program pembelajaran PJOK adaptif dan mempertimbangkan berbagai teori dan aspek karakteristik materi evaluasi.

C.    Tempat dan Waktu Penelitian

1.      Tempat

Pelaksanaan evaluasi dilakukan di SLB Negeri 1 .................. yang terletak di Jalan Sei Fatimah Desa Binusan Kabupaten .................., Provinsi Kalimantan Utara.

2.      Waktu

Penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun ajaran 2024-2025 pada tanggal 27 Januari sampai dengan 20 Februari di semester genap yang sedang berjalan.

D.    Populasi dan Sampel Penelitian

1.      Populasi

Populasi merupakan suatu wilayah yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai karakteristik tertentu dan berkualitas yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian hasilnya akan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2020:75). Adapun populasi dalam penelitian ini adalah semua orang yang terlibat dalam pembelajaran PJOK baik langsung ataupun tidak langsung. Populasinya dalam penelitian ini yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah bagian kurikulum, guru PJOK dan siswa-siswi di SLB Negeri 1 ...................

2.      Sampel

Memilih sampel sebagai objek penelitian, yaitu : (a) Guru dan Tenaga pendidik menggunakan teknik sampling insidental, yakni teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2020:124). Guru yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah guru yang mengajar pada mata pelajaran PJOK adaptif, (b) siswa dipilih menggunakan random sampling, yaitu dipilih secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi (Sugiyono, 2020:126). Kelas yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 1 kelas pada saat pembelajaran PJOK berlangsung.

E.     Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

1.      Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data digunakan untuk mengumpulkan informasi sesuai dengan metode penelitian untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Sugiyono (2020:118) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah penelitian yang paling strategis karena tujuan utama penelitian adalah mengumpulkan data. Secara sederhana, pengumpulan data adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh peneliti untuk menemukan atau merekam berbagai fenomena, informasi atau kondisi di lokasi penelitian, tergantung dari ruang lingkup penelitiannya.

Pendapat lain menurut Budiwanto (2017:73) menyatakan bahwa metode pengumpulan data adalah teknik atau cara pengumpulan data. Teknik pengumpulan data berarti suatu metode yang wujudnya ditunjukkan dalam penggunaannya dalam pengumpulan data dengan angket, wawancara, observasi, tes, dokumentasi, dan lain-lain. Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah alat untuk mengumpulkan data. Karena merupakan alat, dapat berupa lembar checklist, pedoman angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, kamera dan instrumen lainnya. 

2.      Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian menurut Auliya et al., (2020:238) adalah ukuran yang digunakan untuk memperoleh informasi kuantitatif yang objektif tentang variasi karakteristik variabel. Dalam hal ini, diperlukan teknik pengembangan skala atau instrumen pengukuran untuk mengukur variabel dalam pengumpulan data yang lebih sistematis. Instrumen menggarisbawahi pentingnya dan pemahamannya sebagai alat untuk mengumpulkan dan memperoleh informasi yang diperlukan (Budiwanto, 2017:79).  Alat-alat tersebut akan digunakan untuk memperoleh informasi guna mengevaluasi pelaksanaan pendidikan jasmani adaptif siswa SLB Negeri 1 ...................

 

a.    Observasi

Observasi merupakan upaya untuk pengumpulan data yang dilakukan ketika peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian (Creswell, 2018:44). Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Ngatman (2017:55)  observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar, misalnya: perilaku siswa pada waktu guru pendidikan jasmani menyampaikan pelajaran praktik permainan di lapangan, perilaku siswa pada saat istirahat diantara jam pelajaran, saat jam teori di dalam kelas, perilaku siswa pada saat terjadinya kekosongan pelajaran, perilaku siswa pada saat praktikum dans sebagainya.  Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara. Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan, biasa digunakan dalam observasi sitematis dimana si pelaku observasi bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat. Pedoman tersebut berisi daftar jenis kegiatan yang kemungkinan terjadi atau kegiatan yang akan diamati (Siyoto & Sodik, 2015:75).  Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan pembelajaran.

Pengambilan data menggunakan observasi, alurnya dibagi berdasarkan keempat komponen utama metode CIPP.

1)     Perencanaan Observasi

Sebelum melakukan observasi, perlu dilakukan persiapan agar data yang diperoleh akurat dan relevan. Tahapan yang dilakukan antara lain : menentukan tujuan observasi berdasarkan aspek CIPP yang akan dievaluasi, memilih lokasi dan objek observasi sesuai dengan fokus penelitian, menyusun instrumen observasi, seperti lembar observasi atau daftar indikator yang akan diamati, menentukan waktu dan durasi observasi agar bisa menangkap kejadian atau fenomena yang diperlukan, dan memastikan alat dokumentasi (misalnya, catatan lapangan, kamera, atau alat perekam) siap digunakan.

2)     Pelaksanaan Observasi Berdasarkan Aspek CIPP

a)    Context (Konteks)

Mengamati latar belakang dan kebutuhan program. Pada tahap ini, observasi dilakukan untuk memahami lingkungan dan kondisi yang melatarbelakangi keberadaan suatu program.

b)   Input (Masukan)

Mengamati sumber daya dan strategi yang digunakan. Pada tahap ini, observasi berfokus pada bagaimana program dirancang dan apa saja sumber daya yang tersedia.

 

c)    Process (Proses)

Mengamati pelaksanaan program secara langsung. Tahap ini bertujuan untuk memahami bagaimana program berjalan dalam situasi nyata.

d)   Product (Hasil/Produk)

Mengamati dampak atau hasil program. Pada tahap ini, observasi digunakan untuk menilai apakah program telah memberikan hasil yang diharapkan.

3)     Pencatatan dan Dokumentasi Hasil Observasi

Setelah melakukan observasi, data yang diperoleh harus dicatat dan didokumentasikan dengan baik, dengan tahapan mencatat data secara rinci dalam lembar observasi, menggunakan foto atau video sebagai bukti dokumentasi jika diperlukan, dan membandingkan hasil observasi dengan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.

4)     Analisis dan Pelaporan Hasil Observasi

Langkah terakhir adalah mengolah dan menyusun laporan hasil observasi berdasarkan aspek CIPP. Langkah-langkahnya antara lain : mengelompokkan temuan observasi berdasarkan kategori CIPP, menganalisis pola dan hubungan antara konteks, masukan, proses, dan hasil program, dan menyusun laporan yang berisi temuan utama dan rekomendasi untuk perbaikan program.

 

b.    Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang memungkinkan peneliti melakukan wawancara tatap muka dengan partisipan (Creswell, 2018:47). Selain itu, Sugiyono (2020:132) menyatakan wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur agar subjek penelitian lebih terbuka dalam memberikan data. Wawancara dilakukan kepada guru PJOK dan peserta didik. Herdiansyah (2013:148)  menyatakan bahwa wawancara adalah proses interaktif komunikatif yang dilakukan oleh minimal dua orang berdasarkan ketersediaan dan dalam lingkungan yang alami, dengan arah pembicaraan terkait dengan tujuan yang diprioritaskan berdasarkan kepercayaan. dasar dalam proses pemahaman. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan semua responden. Wawancara akan dilakukan dengan guru PJOK, kepala sekolah dan siswa. 

Alur proses pengambilan data wawancara bertujuan untuk mendapatkan data langsung dari narasumber yang terlibat dalam atau terdampak oleh program. Tahapan yang dilakukan dijelaskan sebagai berikut :

1)     Perencanaan Wawancara

Sebelum melakukan wawancara, langkah-langkah berikut harus dilakukan untuk memastikan data yang diperoleh relevan dan akurat dengan cara menentukan tujuan wawancara sesuai dengan aspek CIPP yang ingin dievaluasi, mengidentifikasi narasumber yang tepat, seperti peserta program, pengelola, atau pemangku kepentingan, menyusun pedoman wawancara, baik dalam bentuk daftar pertanyaan terbuka maupun semi-terstruktur, menentukan metode wawancara, apakah dilakukan secara tatap muka, melalui telepon, atau daring, menyiapkan alat perekam atau catatan untuk mendokumentasikan jawaban narasumber, dan mendapatkan izin dari narasumber, terutama jika wawancara direkam.

2)     Pelaksanaan Wawancara Berdasarkan Aspek CIPP

a)    Context (Konteks)

Menggali latar belakang dan kebutuhan program. Pada tahap ini, wawancara dilakukan untuk memahami alasan atau kebutuhan yang mendasari adanya program.

b)   Input (Masukan)

Mengevaluasi sumber daya dan strategi program. Wawancara pada tahap ini bertujuan untuk memahami bagaimana program dirancang dan apa saja sumber daya yang digunakan.

c)    Process (Proses)

Menilai pelaksanaan program. Tahap ini berfokus pada bagaimana program berjalan dalam praktiknya, termasuk kendala dan efektivitasnya.

d)   Product (Hasil/Produk)

Menilai dampak atau hasil program. Wawancara dalam tahap ini digunakan untuk menilai apakah program telah mencapai tujuan yang diharapkan.

3)     Dokumentasi dan Pengolahan Data Wawancara

Setelah wawancara selesai dilakukan, data yang diperoleh perlu diolah secara sistematis, seperti mentranskrip hasil wawancara jika menggunakan rekaman audio, mengorganisir data berdasarkan aspek CIPP (Context, Input, Process, Product), dan menganalisis pola, tema, atau tren dalam jawaban narasumber.

4)     Penyusunan Laporan dan Rekomendasi

Hasil wawancara digunakan untuk menyusun laporan evaluasi yang mencakup ringkasan temuan utama dari setiap aspek CIPP, kesimpulan mengenai efektivitas program berdasarkan wawancara, dan rekomendasi untuk peningkatan atau pengembangan program di masa depan.

c.    Dokumentasi

Instrumen dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check-list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas masalah yang diteliti. Pada pedoman dokumentasi, peneliti cukup menuliskan tanda centang dalam kolom gejala, sedangkan pada check-list, peneliti memberikan tally pada setiap pemunculan gejala (Siyoto & Sodik, 2015:72). Dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dengan wawancara dan observasi langsung maupun teknik pengumpulan data yang lain. Hal ini untuk melengkapi kekurangan data-data hasil pengamatan, wawancara dan angket. Dokumentasi yang dimaksud berkaitan dengan gambaran sekolah, daftar nilai siswa, daftar hadir siswa, rancangan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, serta hasil penilaian siswa. Pedoman dokumentasi dibuat dalam bentuk ceklist.

Dokumentasi dalam metode CIPP berperan sebagai sumber data sekunder yang dapat digunakan untuk melengkapi informasi dari observasi dan wawancara. Data dokumentasi ini biasanya berupa laporan tertulis, arsip, foto, video, kebijakan, atau dokumen resmi lainnya yang relevan dengan evaluasi program. Alur pengumpulan data menggunakan dokumentasi dijelaskan di bawah ini.

1)     Perencanaan Pengambilan Data Dokumentasi

Sebelum mengumpulkan dokumen yang diperlukan, langkah-langkah berikut dilakukan adalah menentukan tujuan dokumentasi berdasarkan aspek CIPP yang ingin dievaluasi, mengidentifikasi jenis dokumen yang dibutuhkan, seperti laporan program, kebijakan, surat keputusan, foto kegiatan, atau rekaman video, menentukan sumber dokumen, apakah berasal dari instansi resmi, organisasi, atau pihak terkait lainnya, menyiapkan alat bantu pencatatan, seperti daftar checklist dokumen yang diperlukan, dan memastikan validitas dan kredibilitas dokumen, dengan menilai keaslian dan keterkaitannya dengan program yang dievaluasi.

2)     Pengumpulan Data Dokumentasi Berdasarkan Aspek CIPP

a)    Context (Konteks)

Menggali latar belakang dan kebutuhan program. Dokumen yang dikumpulkan dalam tahap ini bertujuan untuk memahami alasan atau kebutuhan yang mendasari program, misalnya dokumen kebijakan atau regulasi yang mendukung program, proposal atau rencana awal program, dan data statistik terkait kondisi sebelum program dijalankan. Contohnya surat keputusan pemerintah tentang pelaksanaan program pendidikan, dan dokumen riset atau kajian yang mendasari program.

b)   Input (Masukan)

Mengevaluasi sumber daya dan strategi program. Dokumen dalam tahap ini digunakan untuk menilai sumber daya yang disiapkan untuk menjalankan program. Jenis dokumen yang dikumpulkan misalnya anggaran program atau laporan keuangan, data tentang sumber daya manusia yang terlibat, dokumen perencanaan teknis dan operasional program. Contohnya rincian anggaran program dari instansi terkait, dan data jumlah dan kualifikasi tenaga kerja yang terlibat dalam program.

c)    Process (Proses)

Menilai pelaksanaan program. Dokumen dalam tahap ini digunakan untuk melihat bagaimana program dijalankan serta kendala yang dihadapi. Jenis dokumen yang dikumpulkan diantaranya laporan pelaksanaan kegiatan, foto atau video dokumentasi selama program berlangsung, notulen rapat atau laporan monitoring. Contohnya laporan mingguan atau bulanan tentang progres program, dan rekaman video kegiatan pelatihan atau workshop dalam program.

d)   Product (Hasil/Produk)

Menilai dampak atau hasil program. Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi apakah program telah mencapai tujuan yang diharapkan. Jenis dokumen yang dikumpulkan misalnya laporan evaluasi atau survei kepuasan peserta, data hasil program (misalnya, tingkat kelulusan setelah program pendidikan), publikasi atau media yang meliput keberhasilan program. Contohnya laporan akhir program dengan analisis dampak, dan grafik hasil evaluasi kinerja program dari tahun ke tahun.

 

 

3)     Pengolahan dan Analisis Data Dokumentasi

Setelah dokumen dikumpulkan, langkah berikutnya adalah mengorganisir dokumen berdasarkan kategori CIPP, menganalisis isi dokumen dengan melihat kesesuaian data dengan tujuan evaluasi, memverifikasi keakuratan dan keterpercayaan informasi dalam dokumen, dan membandingkan data dokumentasi dengan hasil wawancara dan observasi untuk mendapatkan gambaran menyeluruh.

4)     Penyusunan Laporan dan Rekomendasi

Hasil analisis dokumentasi digunakan untuk menyusun laporan evaluasi program yang mencakup temuan utama dari aspek CIPP, kesimpulan mengenai efektivitas program berdasarkan bukti dokumentasi, dan rekomendasi untuk perbaikan dan pengembangan program di masa depan.

d.   Angket

Siyoto & Sodik (2015:74) angket atau kuesioner adalah metode pengumpulan data, instrumennya disebut sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ketahuinya. Sugiyono (2020:133) berpendapat bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Penggunaan angket dalam metode CIPP bertujuan untuk mengumpulkan data dari responden secara sistematis dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup, skala Likert, atau pertanyaan terbuka terkait evaluasi program. Alur pengumpulan data menggunakan angket dijelaskan di bawah ini.

1)     Perencanaan Penyusunan Angket

Sebelum menyebarkan angket, perlu dilakukan perencanaan agar data yang diperoleh akurat dan sesuai dengan tujuan evaluasi. Tahapan yang dilakukan adalah menentukan tujuan angket, yaitu aspek CIPP yang akan dievaluasi, mengidentifikasi responden yang tepat, seperti peserta program, pelaksana, atau pemangku kepentingan, menyusun instrumen angket, termasuk jenis pertanyaan (tertutup, terbuka, skala Likert), menguji validitas dan reliabilitas angket untuk memastikan pertanyaan jelas dan dapat diandalkan, dan menentukan metode distribusi angket, apakah secara daring (Google Forms, email) atau luring (kertas cetak).

2)     Penyebaran dan Pengisian Angket Berdasarkan Aspek CIPP

a)    Context (Konteks)

Menggali latar belakang dan kebutuhan program. Angket dalam tahap ini bertujuan untuk memahami alasan atau kebutuhan yang melatarbelakangi program. Responden yang dipilih antara lain pemangku kebijakan, penyelenggara program, atau siswa yang terkena dampak. Contoh pertanyaan : apa alasan utama diadakannya program ini?, apakah program ini sesuai dengan kebutuhan siswa?, dan seberapa besar permasalahan yang ingin diatasi oleh program ini?

b)   Input (Masukan)

Mengevaluasi sumber daya dan strategi program. Tahap ini mengukur kesiapan sumber daya sebelum program berjalan. Responden yang dipilih pengelola program, staf, dan peserta program. Contoh pertanyaan apakah sumber daya (tenaga kerja, dana, fasilitas) yang tersedia cukup untuk program ini?, apakah strategi yang digunakan dalam perencanaan program sudah efektif?, dan seberapa besar keterlibatan pihak terkait dalam penyusunan program?

c)    Process (Proses)

Menilai pelaksanaan program. Angket dalam tahap ini bertujuan untuk memahami bagaimana program dijalankan dan kendala yang dihadapi. Responden : Pelaksana program, peserta program, atau pengamat eksternal. Contoh pertanyaan apakah program berjalan sesuai rencana?, apa hambatan utama dalam pelaksanaan program ini?, dan seberapa efektif komunikasi dan koordinasi dalam program ini?

d)   Product (Hasil/Produk)

Menilai dampak atau hasil program. Tahap ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberhasilan dan dampak program terhadap peserta atau masyarakat. Responden : Peserta didik, pelaksana kegiatan, atau pemangku kepentingan. Contoh Pertanyaan yang dapat diberikan antara lain :  apakah program ini telah memberikan manfaat sesuai harapan?, seberapa besar perubahan atau peningkatan setelah mengikuti program ini?, dan apakah program ini memiliki keberlanjutan ke depannya?

3)     Pengolahan dan Analisis Data Angket

Setelah angket dikumpulkan, langkah berikutnya adalah mengolah dan menganalisis data dengan tahapan mengkategorikan data berdasarkan aspek CIPP, melakukan analisis kuantitatif (misalnya, menggunakan statistik deskriptif untuk data skala Likert),  melakukan analisis kualitatif untuk jawaban terbuka atau opini responden, dan menarik kesimpulan dari hasil angket dengan membandingkan data dari berbagai responden.

4)     Penyusunan Laporan dan Rekomendasi

Setelah data angket dianalisis, langkah terakhir adalah menyusun laporan hasil evaluasi yaitu merangkum temuan utama berdasarkan aspek CIPP, membandingkan hasil angket dengan data dari observasi, wawancara, atau dokumentasi, dan menyusun rekomendasi berdasarkan data angket untuk perbaikan atau pengembangan program ke depan.

 

 

 

Tabel 1 Kisi-kisi Instrumen CIPP

Variabel

Indikator

Responden

Teknik Pengumpulan Data

Context

Bahan, Rumusan dan Tujuan Pembelajaran

Kepala Sekolah

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

Merancang Kegiatan Pembelajaran

Kepala Sekolah

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

Penilaian dan Evaluasi

Kepala Sekolah

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

Input

Profil Guru

Kepala Sekolah

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

Karakteristik Peserta didik

Kepala Sekolah

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

 

Process

Kegiatan pembelajaran PJOK

Waka Kurikulum

Guru

Peserta Didik

Angket

Observasi

Dokumentasi

Kegiatan Peserta didik

Waka Kurikulum

Guru

Peserta Didik

Angket

Observasi

Dokumentasi

Product

Evaluasi Proses pemelajaran

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

Evaluasi Hasil Pembelajaran

Waka Kurikulum

Guru

Angket

Wawancara

 

F.     Analisis Data Penelitian

Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis kuantitatif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum (Sugiyono, 2020:135). Langkah-langkah analisis data yaitu mengelompokkan data yang berjenis kuantitatif dan kualitatif.

1.    Analisis Data Kuantitatif

Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kuantitatif pada pelaksanaan tahap pertama. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan proses analisis yang mengedepankan makna-makna dan di asosiasikan menganalisis permukaan data, karena fokusnya adalah untuk mendeskripsikan realitas. Peneliti mengumpulkan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil pengumpulan data dengan angket dan observasi pada aspek-aspek komponen CIPP dianalisis menggunakan statistik  menggunakan aplikasi SPSS.

Hasil data angket yang dihasilkan adalah nilai mean untuk masing-masing indikator yang dikelola dengan bantuan aplikasi SPSS. Untuk menentukan sebuah evaluasi berjalan dengan baik atau tidak diperlukan sebuah pengukuran atau kriteria keberhasilan. Berikut adalah kriteria yang dijadikan sebagai pedoman keberhasilan sebuah evaluasi.

Tabel 2   Kriteria Keberhasilan

 

No

Interval

Kriteria

1

3,26-4,00

Sangat baik

2

2,51-3,25

Baik

3

1,76-2,50

Kurang

4

1,00-1,75

Sangat kurang

Sugiyono(2020:136)

Tabel 3   Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB Negeri 1 ..................

 

No

Aspek Evaluai

Skor Maksimal

1

Context

4

2

Input

4

3

Process

4

4

Product

4

Sugiyono(2020:136)

Untuk mengetahui pelaksanaan  pembelajaran dapat dilihat dari hasil observasi yang dilakukan melalui lembar observasi yang sudah disiapkan oleh peneliti dengan cara memberi tanda ceklist (√) yaitu apakah kegiatan pembelajaran sudah dilakukan atau tidak sesuai dengan keterlaksanaan. Menghitung perolehan skor observasi keterlaksanaan pembelajaran kemudian dilanjutkan dengan menghitung persantase keterlaksanaan pembelajaran dengan rumus.

Mengkonversi persentase ke dalam data kualitatif dengan skala 5. Tabel berikut adalah kualifikasi keterlaksanaan pembelajaran.

Tabel  4   Keterlaksanaan Pembelajaran

 

No

Rentangan Presentase (%)

Kategori

1

85 - 100 %

Sangat Baik

2

70 – 84%

Baik

3

55 – 69%

Cukup

4

40 – 54%

Kurang

5

0 – 39%

Sangat Kurang

 

2.    Analisis Data Kualitatif

Untuk analisis data kualitatif, maka teknik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif model interaktif sebagaimana diajukan Sugiyono (2020:129) yaitu:

a.    Pengumpulan data

Informasi yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan terdiri dari dua bagian yaitu deskripsi dan refleksi. Rekaman deskriptif adalah data alamiah yang berisi apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan dan dialami peneliti tanpa pendapat atau interpretasi peneliti terhadap fenomena yang dihadapi. Catatan reflektif adalah catatan yang berisi kesan peneliti, komentar dan interpretasi hasil, dan merupakan bahan untuk rencana pengumpulan data tahap berikutnya. Untuk mendapatkan catatan tersebut, peneliti mewawancarai beberapa informan. 

b.    Reduksi data

Reduksi data adalah proses pemilihan, penargetan, penyederhanaan, dan abstraksi. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi, membuat catatan penting atau deskripsi singkat, mengelompokkannya menjadi pola dengan membuat salinan penelitian untuk menggambarkan, mempersingkat elaborasi, menghilangkan bagian yang tidak penting dan menarik kesimpulan. 

c.    Penyajian data

Penyajian data yaitu pengumpulan informasi terstruktur untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan. Agar penyajian data tidak keluar dari pokok permasalahan maka penyajian data dalam bentuk matriks, grafik, jaringan atau diagram dapat diimplementasikan sebagai pedoman informasi tentang apa yang disajikan. Informasi disajikan sesuai dengan subjek pertanyaan. 

d.   Penarikan kesimpulan

Penarikan kesimpulan adalah upaya untuk menemukan atau memahami makna, saling keterkaitan dalam pola penjelasan, alur kausal atau proposisi. Kesimpulan yang dibuat kemudian diverifikasi dengan pertanyaan, sedangkan catatan lapangan ditinjau untuk pemahaman yang lebih rinci dan bisa dilakukan melalui diskusi. Ini dilakukan sehingga informasi yang diperoleh dan interpretasinya valid dan kesimpulan yang dibuat menjadi kuat.

 


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian

SLB Negeri .................. merupakan salah satu sekolah jenjang SLB berstatus Negeri yang berada di wilayah Kecamatan .................., Kabupaten .................., Kalimantan Utara. Alamat SLB Negeri .................. terletak di Jalan Aji Muda Rt. 01, Binusan, Kecamatan .................., Kabupaten .................., Provinsi Kalimantan Utara. SLB Negeri .................. didirikan pada tanggal 1 Januari 2006 dengan Nomor SK Pendirian 497 Tahun 2006 yang berada dalam naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kegiatan pembelajaran, sekolah yang memiliki data rekap per tanggal 7 Februari 2025 laki-laki = 61, permpuan = 31 jumlah total 92, dibimbing oleh 11 guru yang profesional di bidangnya. Keberadaan SLB Negeri .................., diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mencerdaskan anak bangsa di wilayah Kecamatan .................., Kabupaten ................... Sekolah ini telah terakreditasi B dengan Nomor SK Akreditasi 1179/BAN-SM/SK/2021 pada tanggal 16 November 2021. Pada saat artikel ini ditulis, SLB Negeri .................. memiliki total 75 peserta didik yang terdiri dari 48 peserta didik laki-laki dan 27 peserta didik perempuan, di mana jumlah peserta didik laki-laki lebih banyak dari peserta didik perempuan.

Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah angket, wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen angket diberikan kepada subyek yang terlibat langsung maupun berhubungan secara tidak langsung dalam pelaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian untuk masing-masing instrumen dapat diuraikan sebagai berikut.

1.    Hasil Angket Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif

Pemberian angket untuk mengetahui tentang bagaimana evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif di SLB Negeri 1 .................. digunakan instrumen angket. Pemberian angket didasarkan pada empat dimensi yaitu Context, Input, Process, Product. Berikut hasil penjabaran hasil penelitian untuk masing-masing dimensi.

a.    Evaluasi Context

Pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif di SLB memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menyesuaikan materi dan metode pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan, karakteristik, dan kebutuhan individual peserta didik. Oleh karena itu, analisis terhadap bahan ajar yang digunakan menjadi penting untuk memastikan bahwa materi yang disampaikan dapat diakses dan dipahami oleh peserta didik dengan berbagai jenis kebutuhan khusus. Selain itu, perumusan tujuan pembelajaran perlu mempertimbangkan aspek perkembangan fisik, sosial, dan psikologis peserta didik agar tujuan yang ditetapkan realistis dan dapat dicapai secara optimal.

Perancangan kegiatan pembelajaran juga menjadi bagian krusial dalam evaluasi ini, di mana pendekatan yang digunakan harus inklusif dan berbasis diferensiasi untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik. Begitu pula dengan sistem penilaian dan evaluasi, yang harus disesuaikan dengan kemampuan serta perkembangan individu, sehingga tidak hanya mengukur aspek kognitif, tetapi juga keterampilan motorik, partisipasi aktif, dan perkembangan sosial-emosional peserta didik.

Evaluasi pada dimensi ini mencakup beberapa indikator utama, yaitu bahan pembelajaran, perumusan tujuan pembelajaran, perancangan kegiatan pembelajaran, serta sistem penilaian dan evaluasi. Responden terdiri dari 3 orang, yaitu KS (kepala sekolah), WK (wakil kurikulum), dan Gr (guru pendidikan jasmani). Hasil penelitian tiap indikator pada komponen konteks dijelaskan pada tabel  sebagai berikut.

Tabel  5   Hasil Rata-Rata Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

Indikator

KS

WK

Gr

Total

Mean

Kategori

Bahan, Rumusan dan Tujuan Pembelajaran

3,000

3,00

3,85

9,85

3,28

Sangat baik

Merancang Kegiatan Pembelajaran

2,375

3,00

3,75

9,125

3,042

Baik

Penilaian dan Evaluasi

2,80

2,80

3,60

9,20

3,06

Baik

Komponen Context

3,13

Baik

 

Hasil perolehan nilai rata-rata untuk dimensi Context jika disajikan dalam bentuk diagram dapat dilihat sebagai berikut.

 

 

 

Gambar 2    Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan gambar  di atas menunjukan bahwa pada indikator bahan, rumusan dan tujuan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB  Negeri 1 .................. sebesar 3,28 dengan kategori sangat baik. indikator merancang kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif diperoleh hasil nilai mean sebesar 3,042 dengan kategori baik. sedangkan indikator penilaian dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif diperoleh hasil 3,06 dengan kategori baik. Berdasarkan hasil tersebut secara keseluruhan bahwa pada dimensi evaluasi Context pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 3,13 termasuk dalam kategori Baik.

b.    Evaluasi Input

Evaluasi Input dalam model CIPP bertujuan untuk menilai sumber daya, strategi, serta perencanaan yang digunakan dalam pelaksanaan suatu program. Evaluasi  Input berfokus pada kesiapan dan kelayakan komponen-komponen pendukung yang diperlukan dalam pembelajaran pendidikan jasmani adaptif bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Hal tersebut mencakup tentang profile guru dan karakteristik peserta didik. Dalam pembelajaran adaptif, guru memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Oleh karena itu, evaluasi Input bertujuan untuk menilai kualifikasi akademik dan pengalaman profesional guru dalam mengajar pendidikan jasmani untuk peserta didik berkebutuhan khusus, menganalisis sejauh mana guru telah mendapatkan pelatihan atau sertifikasi dalam mengajar pendidikan jasmani adaptif serta mengevaluasi kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang inklusif dan sesuai dengan kondisi peserta didik. Responden terdiri dari 3 orang, yaitu KS (kepala sekolah), WK (wakil kurikulum), dan Gr (guru pendidikan jasmani). Hasil penelitian tiap indikator pada komponen Input dijelaskan pada tabel  sebagai berikut.

Tabel  6   Hasil Rata-Rata Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

Indikator

KS

WK

Gr

Total

Mean

Kategori

Profil guru

2,42

3,14

3,28

8,84

2,95

Baik

Karakteristik peserta didik

3,00

3,57

3,57

10,14

3,38

Sangat Baik

Komponen Input

3,20

Baik

 

Berdasarkan hasil angket pada tabel di atas menunjukan bahwa kualitas guru berdasarkan pendidikan terakhir, latar belakang pendidikan sekolah khusus, mengikuti pelatihan pendidikan jasmani, penggunaan metode pembelajaran yang bervariasi, pemahaman tentang teknologi dalam pembelajaran, penerapan teknologi dalam pembelajaran, pengalaman pelatihan pendidikan khusus adalah relevan, ditandai dengan perolehan hasil nilai mean sebesar 2,95 yang termasuk dalam kategori Baik.

Sebagian siswa juga antusias dalam mengikuti pembelajaran, peserta didik juga dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan ketunaannya, keadaan tersebut dapat dilihat dari hasil nilai mean yang diperoleh sebesar 3,38 dengan kategori sangat baik. Hasil nilai rata-rata untuk dimensi Input jika digambarkan dalam bentuk diagram sebagai berikut.

Gambar 3   Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan hasil rata-rata nilai mean pada tabel dan diagram di atas secara umum untuk dimensi Input sebesar 3,20 termasuk dalam kategori Baik. 

c.    Evaluasi Process

Evaluasi Process bertujuan untuk menilai bagaimana pelaksanaan program berlangsung, apakah sesuai dengan perencanaan, serta apakah ada kendala yang muncul dalam implementasi. Evaluasi proses difokuskan pada dua indikator utama, yaitu kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani dan kegiatan peserta didik. Responden terdiri dari 3 orang, yaitu KS (kepala sekolah), WK (wakil kurikulum), dan Gr (guru pendidikan jasmani). Hasil penelitian tiap indikator pada komponen Process dijelaskan pada tabel  sebagai berikut.

Tabel  7   Hasil Rata-Rata Evaluasi Process Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

Indikator

KS

WK

Gr

Total

Mean

Kategori

Kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani

2,33

2,22

2,22

6,77

2,26

Kurang

Kegiatan peserta didik

2,40

2,30

2,30

7,00

2,33

 Kurang

Komponen Process

2,30

Kurang

 

 

Berdasarkan perolehan hasil angket di atas, menunjukkan bahwa indikator kegiatan pembelajaran sebesar 2,26 pada kategori kurang dan kegiatan peserta didik sebesar 2,33  pada kategori kurang. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan bahwa proses evaluasi pelaksanaan pembelajaran Pendidikan jasmani adaptif belum berjalan dengan baik atau kurang. Apabila disajikan dalam bentuk diagram, Process evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif  di SLB Negeri 1 .................. dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Gambar 4     Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Process Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan gambar  di atas, menunjukkan bahwa Process evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 2,30 pada kategori kurang. Hal tersebut  menunjukkan bahwa terdapat berbagai kendala dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga belum optimal dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Kendala-kendala tersebut antara lain sebagian besar guru belum memiliki modul ajar yang terstruktur secara khusus untuk pembelajaran adaptif. Kurangnya pemahaman guru tentang penyusunan strategi pembelajaran adaptif menyebabkan materi yang diberikan kurang sesuai dengan kemampuan fisik dan kognitif siswa. Selain itu aktivitas olahraga yang diberikan masih terlalu umum dan kurang memperhatikan modifikasi gerakan, alat bantu, dan strategi pembelajaran berbasis kebutuhan individu siswa. Fasilitas olahraga yang tersedia masih kurang mendukung pembelajaran adaptif, seperti tidak adanya alat bantu olahraga yang dirancang khusus untuk siswa dengan hambatan fisik.

Sedangkan kendala dari siswa yaitu sebagian siswa terlihat pasif dan kurang terlibat secara aktif, terutama dalam kegiatan yang membutuhkan koordinasi gerakan kompleks dan sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam memahami instruksi guru, terutama siswa dengan hambatan intelektual atau komunikasi.

d.   Evaluasi Product

Evaluasi produk dalam model CIPP bertujuan untuk menilai dampak akhir dari pembelajaran, baik dari segi efektivitas proses pembelajaran maupun hasil yang dicapai oleh peserta didik. Responden terdiri dari 3 orang, yaitu KS (kepala sekolah), WK (wakil kurikulum), dan Gr (guru pendidikan jasmani). Evaluasi produk terdiri dari indikator evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran,  berikut hasil rata-rata nilai mean untuk dimensi evaluasi Product.

Tabel  8   Hasil Rata-Rata Evaluasi Product Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

Indikator

KS

WK

Gr

Total

Mean

Kategori

Evaluasi  proses pembelajaran

2,00

2,43

1,57

6,00

2,00

Kurang

Evaluasi  hasil pembelajaran

2,33

2,50

1,67

6,50

2,16

 Kurang

Komponen Product

2,08

Kurang

 

 

Berdasarkan hasil evaluasi produk dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB Negeri 1 .................., diperoleh kategori kurang, yang menunjukkan bahwa pembelajaran belum mencapai hasil yang optimal.  Apabila disajikan dalam bentuk diagram, Product  evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif  di SLB Negeri 1 .................. dapat dilihat pada gambar sebagai berikut.

Gambar 5      Diagram Hasil Rata-Rata Evaluasi Product  Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

 

 

 

 

 

 

Hasil evaluasi dimensi Product secara keseluruhan menunjukkan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 ..................  masih belum optimal dan berada dalam kategori kurang.

Perolehan pada masing-masing dimensi yang telah dijabarkan di atas selanjutnya dapat ditentukan kriteria keberhasilan evaluasi program pelaksaan evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. seperti pada tabel sebagai berikut.

Tabel 9   Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

No

Aspek Evaluasi

Skor

Kriteria

1

Context

3,13

Baik

2

Input

3,20

Baik

3

Process

2,30

Kurang

4

Product

2,08

Kurang

Evaluasi CIPP

2,67

Baik

 

Apabila disajikan dalam bentuk diagram garis, evaluasi Context, Input, Process, Product (CIPP) evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 ..................  dapat dilihat pada gambar  sebagai berikut.

Gambar 6 Diagram Kriteria Keberhasilan Evaluasi Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif di SLB  Negeri 1 ..................

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan gambar  di atas, menunjukkan bahwa evaluasi program pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 2,67 masuk kategori Baik. Evaluasi berdasarkan masing-masing komponen dapat dijelaskan sebagai berikut.

a.    Context evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 3,13 masuk kategori baik.

b.    Input evaluasi program  pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar, sebesar 3,20termasuk kategori baik.

c.    Process evaluasi program pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................., sebesar 2,30 masuk kategori kurang.

d.   Product evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 2,08  masuk kategori kurang.

2.    Hasil Wawancara Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif

Instrumen wawancara dalam penelitian evaluasi digunakan untuk lebih memahami dan mendalami hasil dari perolehan dan sebagai data pendukung dalam pengambilan kesimpulan. Wawancara dilakukan terhadap subyek dari penelitian yaitu, kepala sekolah, wakil kurikulum, dan guru PJOK di SLB Negeri 1 ................... Wawancara bertujuan untuk mengetahui dan mencari bukti pendukung dari hasil perolehan angket yang telah diketahui. Wawancara yang dilakukan terdiri dari empat dimensi yaitu Context, Input, Process dan Product. Agar lebih jelas dan diperoleh data sesungguhnya akan diuraikan hasil wawancara sebagai berikut.

a.    Context

Pada evaluasi Context indikator yang digunakan adalah tentang relevansi dan kondisi umum pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif di SLB Negeri 1 ...................  Wawancara dengan kepala sekolah aspek context :

Bagaimana pendapat Bapak tentang guru mata pelajaran pendidikan jasmani di sekolah bapak?

Guru mata pelajaran pendidikan jasmani memiliki kompetensi yang cukup baik dalam mengajar, namun masih terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan. Misalnya, meskipun mereka memiliki pengalaman mengajar, namun masih diperlukan pelatihan tambahan dalam metode pengajaran adaptif untuk peserta didik  dengan hambatan berat. Selain itu, penggunaan fasilitas olahraga masih terbatas, sehingga terkadang guru mengalami kesulitan dalam memberikan materi praktik secara optimal. Meskipun begitu, guru tetap berusaha memberikan pembelajaran yang menarik dan menyesuaikan materi dengan kemampuan peserta didik .

 

Sejauh mana usaha yang ada di sekolah untuk merekrut guru pendidikan jasmani?

“Dalam proses rekrutmen guru pendidikan jasmani, sekolah umumnya mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh dinas pendidikan dan instansi terkait. Saat ini, sekolah berusaha mencari guru yang memiliki latar belakang pendidikan jasmani serta pemahaman terhadap pembelajaran adaptif bagi peserta didik  berkebutuhan khusus”

 

Menurut Bapak, apakah guru pendidikan jasmani yang sekarang bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik?

“Guru pendidikan jasmani di sekolah telah berusaha untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Dalam beberapa aspek, mereka telah mampu mengadaptasi metode pengajaran dan memberikan pendampingan sesuai dengan kondisi peserta didik . Guru juga berupaya menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan agar peserta didik  lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam aktivitas fisik”.

 

Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah sebagaimana dijelaskan di atas diperoleh pernyataan bahwa dalam hal kompetensi guru PJOK sudah memiliki kompetensi yang cukup baik dalam mengajar.  Sekolah telah berusaha merekrut tenaga pengajar yang memiliki latar belakang pendidikan jasmani. Namun, proses perekrutan masih menghadapi keterbatasan dalam mendapatkan guru yang memiliki spesialisasi dalam pendidikan jasmani adaptif. Oleh karena itu, sekolah perlu mempertimbangkan pelatihan lanjutan untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar siswa dengan berbagai hambatan. Dari segi pelaksanaan pembelajaran, guru telah berupaya menyesuaikan metode dan pendekatan pembelajaran agar lebih inklusif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Namun, masih ditemukan kendala seperti keterbatasan dalam variasi metode pembelajaran, keterlibatan siswa yang belum optimal, serta kurangnya fasilitas pendukung seperti alat bantu olahraga adaptif.

Hasil wawancara dengan wakil kurikulum tentang relevansi dan kondisi umum pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif :

Bagaimana pendapat Ibu tentang relevansi Kurikulum di sekolah dengan pembelajaran pendidikan jasmani?

“Kurikulum yang diterapkan di sekolah sudah dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, termasuk dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Secara umum, kurikulum memberikan fleksibilitas bagi guru dalam menyesuaikan metode dan materi ajar sesuai dengan kondisi peserta didik . Hal ini memungkinkan guru PJOK untuk mengadaptasi pembelajaran agar lebih inklusif dan sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik”.

 

Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga Adaptif?

Kebijakan yang ada di sekolah telah memberikan perhatian terhadap pentingnya pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga adaptif. Salah satu kebijakan utama yang diterapkan adalah memberikan fleksibilitas dalam metode pembelajaran untuk mengakomodasi peserta didik  dengan berbagai kebutuhan khusus. Kebijakan ini memungkinkan guru untuk mengadaptasi strategi pembelajaran yang lebih inklusif dan sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik .

 

Menurut Ibu, apakah Kurikulum dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan kebutuhan peserta didik?

Kurikulum yang diterapkan dalam mata pelajaran PJOK di sekolah secara umum sudah mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Kurikulum memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi ajar dengan kondisi dan kemampuan peserta didik , sehingga pembelajaran bisa lebih inklusif dan terjangkau oleh semua peserta didik. Selain itu, guru juga diberikan kebebasan untuk memilih pendekatan yang sesuai, baik itu metode pengajaran, materi, maupun kegiatan yang relevan dengan karakteristik peserta didik .

 

Hasil wawancara dengan wakil kurikulum tentang relevansi dan kondisi umum pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif yaitu,  sekolah sudah berusaha untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik, termasuk yang berkebutuhan khusus, dalam pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif. Kurikulum PJOK yang diterapkan di sekolah memberikan fleksibilitas bagi guru dalam menyesuaikan metode dan materi ajar dengan kondisi peserta didik. Namun, meskipun ada usaha untuk membuat kurikulum yang inklusif, masih terdapat beberapa kekurangan dalam implementasi yang perlu diperbaiki. Salah satunya adalah kurangnya panduan teknis yang lebih rinci mengenai pembelajaran adaptif untuk siswa berkebutuhan khusus, serta keterbatasan dalam penyediaan sarana dan prasarana yang sesuai.

Kebijakan yang ada saat ini sudah memberikan dukungan bagi pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif, namun pengalokasian anggaran untuk sarana olahraga yang lebih mendukung dan pelatihan guru yang lebih spesifik untuk pendidikan jasmani adaptif masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Secara keseluruhan, meskipun kebijakan dan kurikulum yang ada sudah mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, perlu adanya perbaikan lebih lanjut dalam aspek panduan teknis, fasilitas, dan peningkatan kompetensi guru agar pembelajaran PJOK adaptif dapat berjalan lebih optimal dan efektif.

Hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani dan olahraga  sebagaimana dijelaskan di bawah ini.

Bagaimana pendapat Bapak tentang relevansi Kurikulum dengan pembelajaran yang bapak lakukan?

“Secara umum, kurikulum yang diterapkan di sekolah cukup relevan dengan pembelajaran yang dia lakukan. Kurikulum memberikan kebebasan bagi guru untuk menyesuaikan materi ajar dan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik, termasuk peserta didik  berkebutuhan khusus. Dengan adanya fleksibilitas ini, guru dapat mengadaptasi pembelajaran sesuai dengan kemampuan peserta didik , sehingga mereka tetap bisa mengikuti kegiatan pendidikan jasmani meskipun memiliki tantangan fisik atau motorik”.

 

Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani?

“Di sekolah sudah cukup mendukung pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani. Sekolah memberikan kebebasan kepada guru untuk mengadaptasi materi dan metode ajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik , termasuk bagi mereka yang berkebutuhan khusus. Selain itu, kebijakan yang ada juga mendukung terciptanya suasana pembelajaran yang inklusif, di mana semua peserta didik , termasuk yang memiliki keterbatasan fisik, dapat mengikuti kegiatan dengan nyaman”.

 

Menurut Bapak, apakah Kurikulum dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan kebutuhan peserta didik?

Kurikulum dalam mata pelajaran PJOK sudah berusaha untuk mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus. Kurikulum memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan metode dan materi ajar sesuai dengan kemampuan peserta didik , sehingga peserta didik  dengan berbagai tantangan fisik tetap bisa mengikuti pembelajaran. Selain itu, adanya ruang untuk inovasi dalam kegiatan pembelajaran juga memungkinkan guru untuk lebih kreatif dalam mendesain aktivitas yang dapat diakses oleh semua peserta didik

 

Hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani dan olahraga dapat disimpulkan bahwa meskipun kurikulum PJOK sudah mencoba untuk mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, masih terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya. Kurikulum yang diterapkan memberikan fleksibilitas bagi guru dalam menyesuaikan metode pengajaran dan materi ajar dengan kemampuan siswa, sehingga siswa dengan berbagai kebutuhan, termasuk yang memiliki keterbatasan fisik, dapat mengikuti pembelajaran. Namun, meskipun fleksibilitas tersebut sudah ada, guru mengungkapkan bahwa kurangnya panduan teknis yang lebih spesifik dan keterbatasan sarana dan prasarana masih menjadi kendala dalam pelaksanaan kurikulum ini. Selain itu, meskipun kebijakan sekolah memberikan dukungan dalam hal penyesuaian pembelajaran, pelatihan yang lebih mendalam untuk guru dalam mengajar pendidikan jasmani adaptif dan penyediaan fasilitas yang lebih memadai diperlukan agar implementasi kurikulum lebih optimal dan sesuai dengan kebutuhan setiap siswa.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kurikulum, dan guru PJOK, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di sekolah sudah berusaha untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, dengan memberi fleksibilitas dalam kurikulum dan metode pembelajaran. Secara umum, kurikulum sudah cukup relevan dengan kondisi siswa dan memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi ajar sesuai dengan kemampuan peserta didik.

b.    Input

Evaluasi Input dengan indikator evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung Pembelajaran PJOK Adaptif. Berdasarkan subyek dari kepala sekolah diperoleh deskripsi hasil sebagai berikut.

Apakah guru pendidikan jasmani telah mengikuti pelatihan terkait pembelajaran pendidikan jasmani? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?

“Guru pendidikan jasmani di sekolah memang sudah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran pendidikan jasmani, meskipun jumlah pelatihan tersebut masih terbatas. Pelatihan yang telah diikuti sebagian besar berfokus pada pembelajaran umum dalam bidang pendidikan jasmani, namun tidak sepenuhnya berfokus pada pendidikan jasmani adaptif atau cara mengajar peserta didik  berkebutuhan khusus”.

Apakah guru pendidikan jasmani telah mengikuti pelatihan terkait pendampingan anak berkebutuhan khusus? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan  pemahaman mereka?

Sejauh ini guru pendidikan jasmani belum mengikuti pelatihan khusus yang berfokus pada pendampingan anak berkebutuhan khusus dalam konteks pendidikan jasmani adaptif. Pelatihan yang ada sebelumnya lebih umum, seperti pelatihan tentang pendidikan jasmani secara umum, namun tidak secara spesifik menargetkan strategi atau teknik untuk mengajarkan peserta didik  dengan kebutuhan khusus.

 

Sejauhmana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran pendidikan jasmani?

Sarana dan prasarana olahraga di sekolah cukup mendukung pembelajaran pendidikan jasmani secara umum, namun ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, khususnya dalam hal mendukung pembelajaran pendidikan jasmani adaptif. Fasilitas yang ada, seperti lapangan olahraga, peralatan olahraga umum, dan ruang kelas untuk teori, sudah cukup memadai untuk pembelajaran bagi peserta didik  pada umumnya.

 

Apakah ada fasilitas terkait ketunaan yang disediakan sekolah untuk mendukung kebutuhan anak dalam pembelajaran pendidikan jasmani

Sekolah sudah berusaha menyediakan beberapa fasilitas yang mendukung kebutuhan anak berkebutuhan khusus dalam pembelajaran pendidikan jasmani, meskipun fasilitas tersebut masih sangat terbatas. Beberapa fasilitas yang ada antara lain adalah akses untuk peserta didik  yang menggunakan kursi roda menuju area lapangan olahraga dan beberapa peralatan dasar yang dapat digunakan oleh peserta didik  dengan keterbatasan fisik. Namun, fasilitas yang disediakan masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran yang lebih inklusif. Peralatan olahraga adaptif, seperti alat bantu untuk latihan fisik yang lebih spesifik bagi anak berkebutuhan khusus, belum sepenuhnya tersedia. Kepala sekolah juga mengungkapkan bahwa lapangan olahraga yang ada belum sepenuhnya ramah bagi peserta didik  dengan keterbatasan mobilitas, sehingga mereka sering kesulitan dalam mengikuti aktivitas olahraga yang memerlukan pergerakan yang lebih bebas.

 

Bagaimana dukungan dari Bapak selaku kepala sekolah dalam pembelajaran pendidikan jasmani?

Selalu berusaha memberikan fasilitas yang memadai, akses kepada pelatihan untuk guru, dan memastikan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani berjalan sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Namun, saya juga menyadari bahwa keterbatasan anggaran dan sumber daya yang ada seringkali menjadi kendala dalam memaksimalkan dukungan terhadap pembelajaran pendidikan jasmani, terutama dalam hal penyediaan peralatan yang lebih khusus untuk peserta didik  berkebutuhan khusus.

 

Sejauhmana keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran pendidikan jasmani adaptif?

Keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di sekolah cukup bervariasi. Beberapa orang tua sangat aktif dalam mengikuti perkembangan pendidikan anak mereka, termasuk dalam hal pendidikan jasmani. Mereka mendukung dengan menyediakan peralatan khusus di rumah, serta mendampingi anak mereka saat mengikuti kegiatan olahraga yang membutuhkan perhatian ekstra. Namun, masih ada orang tua yang kurang terlibat, terutama karena kurangnya pemahaman mengenai pentingnya pendidikan jasmani adaptif. Beberapa orang tua tidak sepenuhnya menyadari bahwa pendidikan jasmani untuk anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan yang berbeda dan lebih banyak dukungan dari rumah. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa komunikasi yang lebih intensif antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan agar orang tua dapat lebih aktif dalam mendukung anak-anak mereka, baik dalam hal menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai maupun dalam memberikan motivasi dan dukungan moral di rumah.

 

Hasil  wawancara dengan kepala sekolah, dapat disimpulkan bahwa sekolah telah berupaya memberikan dukungan terhadap pembelajaran pendidikan jasmani adaptif, meskipun ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Dukungan yang diberikan kepala sekolah meliputi penyediaan fasilitas dasar, akses untuk pelatihan bagi guru, serta upaya peningkatan kualitas pembelajaran, meskipun terbatas oleh keterbatasan anggaran dan sumber daya.

Namun, fasilitas yang tersedia untuk siswa berkebutuhan khusus masih sangat terbatas, dan kepala sekolah menyadari pentingnya penyediaan fasilitas yang lebih inklusif dan peralatan olahraga adaptif untuk mendukung pembelajaran yang lebih efektif bagi anak berkebutuhan khusus. Selain itu, kepala sekolah juga menekankan bahwa keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran pendidikan jasmani adaptif masih bervariasi. Beberapa orang tua sangat mendukung, namun banyak yang belum sepenuhnya memahami pentingnya peran mereka dalam mendukung anak-anak mereka dalam konteks pendidikan jasmani adaptif.

Kepala sekolah berharap agar ada dukungan lebih besar dari pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi keterbatasan anggaran dan meningkatkan fasilitas yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Komunikasi yang lebih intensif antara sekolah dan orang tua juga diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam mendukung pembelajaran yang lebih inklusif.

Hasil wawancara dengan wakil kurikulum tentang evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung Pembelajaran PJOK Adaptif adalah sebagai berikut.

Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani?

Sekolah sudah menyediakan beberapa modul dan materi pembelajaran untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, tetapi modul yang ada lebih fokus pada pendidikan jasmani secara umum dan belum secara spesifik difokuskan pada pendidikan jasmani adaptif untuk peserta didik  berkebutuhan khusus. modul-modul yang ada sudah digunakan oleh guru pendidikan jasmani sebagai panduan dasar dalam kegiatan pembelajaran, namun, modul tersebut masih bersifat umum dan belum mencakup strategi atau materi yang lebih inklusif untuk memenuhi kebutuhan peserta didik  dengan kondisi tertentu.

 

Bagaimana dukungan dari bidang kurikulum dalam pembelajaran pendidikan jasmani adaptif?

Bidang kurikulum memberikan dukungan penuh terhadap pembelajaran pendidikan jasmani adaptif dengan cara menyediakan bimbingan kepada guru-guru pendidikan jasmani dalam merancang pembelajaran yang inklusif. Salah satu bentuk dukungan adalah penyusunan materi pelatihan yang mengedepankan pemahaman tentang cara-cara mengadaptasi kegiatan olahraga untuk peserta didik  berkebutuhan khusus. guru-guru pendidikan jasmani sering diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan atau workshop yang berfokus pada pendidikan jasmani adaptif, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengelola pembelajaran untuk semua jenis peserta didik.

 

Apakah ada guru pendamping yang membantu bapak pada saat melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani?

Sekolah tidak secara rutin menyediakan guru pendamping dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani, kecuali dalam situasi tertentu, seperti ketika ada peserta didik  dengan kebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian ekstra selama kegiatan pembelajaran. Namun, hal ini tidak selalu konsisten, karena keterbatasan jumlah tenaga pengajar dan anggaran sekolah menjadi faktor pembatas. guru pendidikan jasmani diharapkan dapat mengelola kelas secara mandiri, tetapi jika ada peserta didik  yang membutuhkan pendampingan khusus, seperti anak dengan keterbatasan fisik atau sensorik, biasanya guru pendidikan jasmani berkoordinasi dengan guru lain atau tenaga pendamping yang memiliki latar belakang khusus, seperti guru spesialistik atau asisten pendamping

 

Wakil kurikulum menjelaskan bahwa sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran pendidikan jasmani adaptif, terutama dengan penyusunan materi pelatihan dan bimbingan bagi guru. Namun, masih terdapat keterbatasan dalam penyediaan materi yang lebih spesifik dan peralatan yang mendukung untuk siswa berkebutuhan khusus. Modul dan materi yang tersedia saat ini lebih berfokus pada pendidikan jasmani umum, dan belum sepenuhnya mengakomodasi pendidikan jasmani adaptif. Wakil kurikulum menyadari bahwa perlu ada pengembangan modul khusus yang mengedepankan pendekatan inklusif untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, terutama yang memiliki kebutuhan khusus.

Wakil kurikulum menyatakan bahwa guru pendidikan jasmani diharapkan dapat mengelola pembelajaran secara mandiri, meskipun dalam beberapa kasus yang melibatkan siswa berkebutuhan khusus, pendampingan dari guru lain atau tenaga pendamping dapat diberikan. Namun, pendampingan yang lebih terstruktur dan konsisten diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Wakil kurikulum juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti ahli pendidikan jasmani adaptif dan guru spesialistik, untuk memperkaya materi dan strategi pembelajaran agar lebih inklusif dan efektif bagi semua siswa.

Hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani dan olah raga diuraikan di bawah ini.

Apakah Bapak sebagai guru pendidikan jasmani telah mengikuti pelatihan terkait pemeblajaran pendidikan jasmani? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman bapak?

Saya telah mengikuti beberapa pelatihan yang berkaitan dengan pembelajaran PJOK Adaptif. Pelatihan ini umumnya diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, lembaga pelatihan guru, atau universitas yang memiliki program pengembangan kompetensi bagi pendidik di sekolah inklusi dan SLB. Dari pelatihan tersebut, saya memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang metode pengajaran yang sesuai untuk peserta didik berkebutuhan khusus. Materi yang disampaikan mencakup strategi pembelajaran berbasis kebutuhan individu, modifikasi aktivitas olahraga, serta penggunaan alat bantu dalam pembelajaran PJOK Adaptif. Selain itu, pelatihan juga memberikan wawasan tentang pendekatan psikologis dan motivasi dalam mengajarkan olahraga kepada peserta didik dengan berbagai hambatan fisik, intelektual, maupun sensorik.

 

Apakah bapak pernah mengikuti pelatihan terkait pendampingan anak berkebutuhan khusus? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman bapak?

Saya pernah mengikuti pelatihan terkait pendampingan anak berkebutuhan khusus (ABK), baik yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, lembaga pelatihan guru, maupun komunitas pendidikan inklusif. Pelatihan tersebut berfokus pada berbagai aspek, seperti pemahaman karakteristik anak berkebutuhan khusus, strategi komunikasi yang efektif, teknik modifikasi pembelajaran, serta pendekatan psikososial dalam mendukung perkembangan peserta didik. Dari pelatihan tersebut, saya memperoleh wawasan yang lebih mendalam mengenai kebutuhan dan tantangan yang dihadapi peserta didik dengan disabilitas, baik dari segi motorik, kognitif, sosial, maupun emosional. Pelatihan ini juga memberikan panduan praktis dalam menyesuaikan metode pengajaran PJOK agar lebih inklusif dan sesuai dengan kemampuan serta kondisi masing-masing peserta didik. Selain itu, juga belajar mengenai teknik pendampingan yang dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik dalam berpartisipasi dalam aktivitas fisik.

 

Sejauhmana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK?

Menurut saya, sarana dan prasarana olahraga di sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung pembelajaran PJOK, terutama bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Namun, dalam praktiknya, kondisi sarana dan prasarana di SLB masih menghadapi berbagai kendala. Secara umum, sekolah telah menyediakan beberapa fasilitas dasar seperti lapangan olahraga, bola, dan peralatan senam sederhana. Namun, kelengkapan dan kualitas sarana tersebut belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan peserta didik dengan berbagai jenis disabilitas

 

Apakah ada alat yang dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik?

Dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB, beberapa alat telah dimodifikasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Modifikasi ini dilakukan agar setiap peserta didik  dapat berpartisipasi dalam aktivitas olahraga dengan lebih aman, nyaman, dan sesuai dengan kemampuan mereka.

 

Bagaimana dukungan dari sekolah dalam pembelajaran PJOK?

Sebetulnya dukungan dari pihak sekolah dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB cukup beragam, namun masih terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya.

 

Apakah ada guru pendamping yang membantu bapak pada saat melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani?

Pelaksanaan pembelajaran PJOK di SLB, keberadaan guru pendamping sangat penting untuk membantu dalam mengelola kelas yang terdiri dari peserta didik dengan berbagai kebutuhan khusus. Namun, ketersediaan guru pendamping masih sedikit.

 

Hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani dan olah raga tentang evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung Pembelajaran PJOK Adaptif adalah sebagai berikut. Guru di SLB Negeri 1 .................. umumnya telah mengikuti pelatihan terkait pembelajaran PJOK Adaptif dan pendampingan anak berkebutuhan khusus. Pelatihan tersebut membantu guru memahami metode pengajaran yang sesuai, teknik modifikasi olahraga, serta strategi komunikasi dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Namun, masih terdapat keterbatasan dalam akses pelatihan yang lebih spesifik dan berkelanjutan.

Sarana dan prasarana olahraga di SLB masih terbatas, terutama dalam hal fasilitas yang ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Beberapa alat olahraga dimodifikasi oleh guru untuk menyesuaikan dengan kebutuhan siswa, seperti penggunaan bola berbunyi untuk siswa tunanetra atau penyesuaian pegangan raket untuk siswa dengan gangguan motorik. Meskipun modifikasi dilakukan, ketersediaan alat olahraga adaptif yang lebih lengkap masih menjadi kebutuhan utama.

Sekolah telah memberikan dukungan dalam bentuk penyediaan fasilitas dasar, pelatihan bagi guru, serta kebebasan dalam menyesuaikan kurikulum PJOK Adaptif. Namun, masih terdapat tantangan dalam pengadaan alat olahraga yang lebih spesifik serta pelatihan yang lebih berkelanjutan bagi guru.

Tidak semua sekolah memiliki guru pendamping dalam pembelajaran PJOK, sehingga dalam beberapa kasus, guru PJOK harus menangani kelas sendiri dengan berbagai kebutuhan khusus siswa. Di sekolah yang memiliki guru pendamping, pembelajaran lebih terbantu dalam memberikan dukungan individual bagi peserta didik. Kebutuhan akan tenaga pendamping yang lebih banyak dan pelatihan khusus bagi mereka masih menjadi harapan guru PJOK agar pembelajaran dapat lebih efektif dan inklusif.

c.    Process

Dimensi  proses bertujuan untuk menilai bagaimana pelaksanaan atau implementasi pembelajaran PJOK Adaptif di SLB berlangsung secara nyata. Hasil wawancara kepala sekolah dengan indikator Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran adaptif yang diterapkan, sebagai berikut.

Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru pendidikan jasmani dalam pembelajaran?

Pembelajaran PJOK Adaptif di SLB, guru menggunakan berbagai pendekatan dan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik. Pendekatan ini dirancang agar setiap peserta didik  dapat berpartisipasi secara aktif dan memperoleh manfaat dari pembelajaran PJOK.

 

Sejauh mana guru melibatkan peserta didik dalam kolaborasi selama pembelajaran pendidikan jasmani?

Berdasarkan pengamatan saya keterlibatan peserta didik dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK Adaptif masih menghadapi beberapa tantangan. Meskipun guru telah berusaha melibatkan peserta didik dalam berbagai aktivitas kelompok, ada beberapa faktor yang membuat kolaborasi belum optimal. Beberapa peserta didik  berkebutuhan khusus, terutama dengan hambatan intelektual atau autisme, masih mengalami kesulitan dalam bekerja sama dengan teman sebaya. Kurangnya keterampilan komunikasi dan interaksi sosial menyebabkan beberapa peserta didik  lebih nyaman melakukan aktivitas secara individu dibandingkan dalam kelompok.

 

Apakah peserta didik aktif berpartisipasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?

Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran PJOK Adaptif masih tergolong kurang optimal. Meskipun beberapa siswa menunjukkan minat dalam aktivitas fisik, ada sejumlah tantangan yang menyebabkan keterlibatan mereka belum maksimal. Sebagian siswa tampak antusias dalam mengikuti aktivitas olahraga ringan atau permainan sederhana. Namun, ada juga siswa yang kurang bersemangat, pasif, atau bahkan enggan berpartisipasi dalam kegiatan PJOK. Guru sering menghadapi kesulitan dalam membangkitkan motivasi siswa untuk bergerak atau mengikuti instruksi. Banyak siswa memiliki keterbatasan fisik, seperti gangguan motorik atau kondisi kesehatan tertentu, yang membuat mereka kesulitan dalam melakukan gerakan olahraga. Beberapa siswa mudah lelah atau memiliki keterbatasan mobilitas, sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan yang terlalu intens.

 

Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?

Penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB masih terbatas dan belum sepenuhnya digunakan secara efektif untuk mendukung pembelajaran. Meskipun ada beberapa upaya dalam pemanfaatan teknologi, implementasinya masih menghadapi kendala tertentu.

 

Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian peserta didik dalam pelajaran pendidikan jasmani? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?

Kepala sekolah menjelaskan bahwa proses evaluasi dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel dan disesuaikan dengan kemampuan peserta didik. Namun, masih terdapat beberapa tantangan dalam memastikan bahwa evaluasi benar-benar adil dan objektif bagi semua siswa.

 

Berdasarkan hasil wawancara bahwa kepala sekolah  penggunaan metode pembelajaran  telah disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, seperti demonstrasi langsung, aktivitas bermain, dan latihan individual. Namun, metode kolaboratif masih belum optimal, karena keterbatasan interaksi sosial dan perbedaan kemampuan di antara siswa. Partisipasi siswa dalam pembelajaran PJOK masih beragam dan cenderung kurang aktif, terutama karena faktor keterbatasan fisik, gangguan konsentrasi, kurangnya motivasi, serta keterbatasan sarana dan pendampingan dalam kelas. Meskipun guru sudah berupaya meningkatkan keterlibatan siswa, hasilnya belum sepenuhnya maksimal. Teknologi dalam pembelajaran PJOK masih terbatas, dengan penggunaan utama pada video tutorial, alat bantu visual, serta musik untuk mendukung pembelajaran. Namun, kurangnya fasilitas dan pelatihan bagi guru menjadi kendala dalam pemanfaatan teknologi secara efektif. Evaluasi dilakukan dengan pendekatan yang fleksibel dan berbasis perkembangan individu, menggunakan metode observasi, penilaian kinerja, serta dokumentasi portofolio. Namun, terdapat tantangan dalam memastikan objektivitas evaluasi, mengingat perbedaan kondisi fisik dan kognitif peserta didik.

Hasil wawancara dengan wakil kurikulum dalam dimensi proses sebagai berikut.

Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani?

Pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani masih memiliki keterbatasan dan belum sepenuhnya optimal. Kurangnya variasi metode: Pembelajaran masih cenderung berfokus pada demonstrasi dan praktik langsung, sementara pendekatan inovatif seperti pembelajaran berbasis proyek atau teknologi masih minim diterapkan.

 

Sejauh mana guru melibatkan peserta didik dalam kolaborasi selama pembelajaran pendidikan jasmani?

Yang saya nilai bahwa keterlibatan peserta didik dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK masih terbatas dan belum optimal. Meskipun ada upaya dari guru untuk mendorong kerja sama antar siswa, implementasinya masih menghadapi beberapa kendala.

 

Apakah pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah bisa memfasilitasi kebutuhan peserta didik?

Pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah sudah berusaha memfasilitasi kebutuhan peserta didik, tetapi masih terdapat keterbatasan dalam pelaksanaannya.

 

Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada peserta didik dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani?

Guru PJOK telah memberikan umpan balik kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, tetapi pelaksanaannya masih memiliki keterbatasan dalam beberapa aspek.

 

Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani?

Guru PJOK telah berupaya menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual peserta didik, tetapi masih terdapat beberapa kendala dalam implementasinya.

 

Apakah peserta didik aktif berpartisipasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?

Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani bervariasi, dengan tingkat keterlibatan yang masih belum optimal bagi sebagian siswa.

 

Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?

Penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani masih terbatas, meskipun ada beberapa upaya untuk mengintegrasikannya.

 

Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian peserta didik dalam pelajaran pendidikan jasmani? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?

Proses evaluasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah telah dilakukan, tetapi masih menghadapi beberapa tantangan dalam penerapannya.

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, implementasi proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Adaptif di SLB Negeri masih menghadapi beberapa tantangan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran PJOK masih cenderung konvensional dengan beberapa modifikasi untuk peserta didik berkebutuhan khusus. Guru berusaha menggunakan demonstrasi langsung, pembelajaran berbasis permainan, serta pendekatan individual. Namun, keterbatasan dalam inovasi metode pembelajaran menjadi tantangan utama. Tingkat keterlibatan peserta didik dalam kolaborasi belum optimal, terutama bagi siswa dengan keterbatasan komunikasi atau mobilitas. Guru masih menghadapi tantangan dalam mendorong interaksi dan kerja sama antar peserta didik dalam kegiatan olahraga.

Pembelajaran PJOK telah berusaha menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, tetapi masih terdapat keterbatasan dalam sarana dan prasarana yang menunjang pembelajaran adaptif. Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik, tetapi masih secara subjektif dan kurang terdokumentasi secara sistematis. Partisipasi peserta didik dalam pembelajaran PJOK bervariasi, dengan beberapa siswa aktif dan lainnya mengalami hambatan dalam mengikuti kegiatan.

Hasil wawancara pada dimensi Process dengan subjek guru pendidikan jasmani dan olahraga sebagai berikut.

Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani?

Guru menyesuaikan aktivitas fisik dengan kondisi fisik, motorik, dan kognitif masing-masing peserta didik, sehingga setiap siswa dapat berpartisipasi sesuai kemampuannya.

 

Sejauh mana guru melibatkan peserta didik dalam kolaborasi selama pembelajaran pendidikan jasmani?

Kolaborasi antar peserta didik dalam pembelajaran PJOK Adaptif masih belum optimal, meskipun ada beberapa upaya yang dilakukan untuk mendorong interaksi dan kerja sama dalam aktivitas olahraga.

 

Apakah pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah bisa memfasilitasi kebutuhan peserta didik?

Pembelajaran PJOK di sekolah sudah berusaha memfasilitasi kebutuhan peserta didik, tetapi belum sepenuhnya optimal. Terdapat beberapa upaya yang dilakukan oleh guru, namun masih ada keterbatasan yang menghambat proses pembelajaran.

 

Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada peserta didik dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani?

Pemberian umpan balik kepada peserta didik dilakukan secara langsung selama proses pembelajaran berlangsung. Namun, metode pemberian umpan balik ini masih menghadapi beberapa tantangan dalam implementasinya.

 

Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Berikan contohnya?

Penyesuaian pembelajaran dilakukan berdasarkan kemampuan dan kebutuhan individu peserta didik, terutama dalam aspek fisik, sensorik, motorik, dan kognitif. Meskipun ada upaya penyesuaian, masih terdapat beberapa kendala dalam penerapannya.

 

Apakah peserta didik aktif berpartisipasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?

Tingkat partisipasi peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani belum sepenuhnya optimal. Meskipun beberapa siswa menunjukkan antusiasme, banyak yang masih mengalami kendala dalam mengikuti aktivitas secara aktif.

 

Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?

Penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani masih terbatas dan belum sepenuhnya efektif dalam mendukung proses pembelajaran.

Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian peserta didik dalam pelajaran pendidikan jasmani? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?

Proses evaluasi dalam pembelajaran pendidikan jasmani masih menghadapi beberapa tantangan, terutama dalam hal keadilan dan objektivitas.

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru PJOK terkait dimensi proses dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif (PJOK) di SLB Negari 1 .................., dapat disimpulkan bahwa meskipun terdapat upaya dalam menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperbaiki.

Guru menggunakan berbagai metode pembelajaran seperti demonstrasi, praktik langsung, serta modifikasi gerakan untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Penggunaan metode permainan dan aktivitas berbasis pengalaman untuk meningkatkan partisipasi siswa. Guru mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam kelompok kecil saat melakukan aktivitas fisik dan ada upaya membangun interaksi sosial antar peserta didik dengan menyesuaikan tugas sesuai kemampuan mereka.

d.   Product

Dimensi  Product berfokus pada evaluasi hasil atau dampak dari proses pembelajaran. Tujuan utama dari dimensi ini adalah untuk menilai sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai dan bagaimana dampaknya terhadap peserta didik serta lingkungan sekolah. Berikut deskripsi hasil wawancara dengan kepala sekolah.

Bagaimana perkembangan aktivitas jasmani peserta didik setelah mengikuti  pembelajaran pendidikan jasmani?

Saya melihat perkembangan aktivitas jasmani peserta didik setelah mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) belum menunjukkan hasil yang optimal. Meskipun terdapat peningkatan dalam partisipasi beberapa peserta didik, secara keseluruhan masih ada kendala yang menghambat perkembangan aktivitas fisik mereka.

 

Bagaimana perkembangan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah peserta didik menunjukkan kemajuan dalam hal ini?

Perkembangan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran PJOK masih beragam dan belum sepenuhnya optimal. Meskipun ada beberapa peserta didik yang menunjukkan peningkatan dalam keberanian dan keterlibatan, sebagian besar masih mengalami kesulitan dalam menumbuhkan rasa percaya diri mereka dalam aktivitas jasmani.

 

Apakah peserta didik berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan kurikulum sekolah?

Pencapaian kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran PJOK masih belum optimal dan bervariasi tergantung pada kondisi individu peserta didik. Kurikulum sekolah telah menetapkan standar kompetensi tertentu, namun realisasi pencapaiannya masih menghadapi beberapa kendala.

 

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa guru PJOK telah menerapkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel dan adaptif untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Namun, pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya optimal dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik masih memiliki keterbatasan dalam berkolaborasi secara aktif selama pembelajaran. Interaksi antar peserta didik dan antara peserta didik dengan guru masih perlu ditingkatkan agar lebih efektif dalam membangun keterampilan sosial dan kepercayaan diri. Pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran PJOK masih minim dan belum efektif dan proses evaluasi masih perlu disesuaikan dengan kondisi peserta didik agar lebih adil dan objektif.

Hasil wawancara dengan wakil kurikulum dalam dimensi Product sebagai berikut.

Bagaimana perkembangan aktivitas jasmani peserta didik setelah penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran pendidikan jasmani?

Penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran PJOK telah memberikan beberapa perubahan, tetapi perkembangannya masih belum merata di semua peserta didik

 

Bagaimana perkembangan rasa percaya diri peserta didik dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah peserta didik menunjukkan kemajuan dalam hal ini?

Perkembangan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran PJOK masih beragam dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan secara keseluruhan.

 

Apakah peserta didik berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan kurikulum sekolah?

Pencapaian kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran PJOK masih bervariasi dan belum sepenuhnya sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah.

 

Berdasarkan hasil wawancara, wakil kurikulum menyampaikan bahwa penerapan kurikulum merdeka dalam pembelajaran PJOK telah memberikan beberapa perubahan, tetapi perkembangannya masih belum merata di semua peserta didik. Secara keseluruhan wakil kurikulum menyebutkan bahwa pencapaian kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran PJOK masih belum optimal dan terdapat kesenjangan antara standar kurikulum dengan realitas di lapangan. Faktor utama yang mempengaruhi hal ini adalah kurangnya modifikasi dalam pembelajaran, keterbatasan fasilitas, serta pendekatan evaluasi yang masih kurang adaptif terhadap peserta didik berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang lebih fleksibel, penyesuaian standar kompetensi yang lebih inklusif, serta peningkatan sarana dan prasarana agar peserta didik dapat mencapai kompetensi yang diharapkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani.

Hasil wawancara dengan guru pendidikan jasmani dan olahraga sebagai berikut.

Bagaimana perkembangan aktivitas jasmani peserta didik setelah mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani?

Perkembangan aktivitas jasmani peserta didik setelah mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani adaptif masih bervariasi dan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan secara keseluruhan

 

Bagaimana perkembangan rasa percaya diri peserta didik  dalam kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani? Apakah peserta didik menunjukkan kemajuan dalam hal ini?

Perkembangan rasa percaya diri peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani masih bervariasi dan belum merata di seluruh peserta didik.

 

Apakah peserta didik berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran pendidikan jasmani sesuai dengan Kurikulum Sekolah?

Pencapaian kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran pendidikan jasmani masih bervariasi dan belum sepenuhnya sesuai dengan standar kurikulum yang ditetapkan.

 

Bahwa hasil pembelajaran menunjukkan bahwa perkembangan peserta didik dalam pendidikan jasmani masih bervariasi dan belum sepenuhnya memenuhi kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Ada beberapa  peserta didik masih merasa kurang percaya diri dalam berpartisipasi aktif. Tidak semua peserta didik berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan, terutama dalam aspek psikomotorik. Kurangnya variasi metode pembelajaran menyebabkan sebagian peserta didik tidak mendapatkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

3.    Hasil Observasi Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif

Observasi dilaksanakan untuk mengetahui tentang evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif yang telah dilakukan oleh guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan di SLB Negeri 1 ................... Penilaian  dilaksanakan dengan mengisi lembar observasi yang telah disediakan. Skala penilaian yang digunakan adalah skala likert, dengan nilai 1 sampai 5. Berikut ini peneliti sajikan hasil lembar observasi tentang evaluasi pembelajaran pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan adaptif.

Tabel 10   Hasil Observasi Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Adaptif

 

A.      Context (Konteks)

 

No

Indikator

1

2

3

4

5

Jumlah Skor

1

Perangkat pembelajaran.

 

 

 

 

2

2

Pembelajaran PJOK relevan dengan kebutuhan siswa.

 

 

 

 

3

3

Kegiatan senam Bersama.

 

 

 

 

3

4

Kebijakan sekolah mendukung pembelajaran PJOK.

 

 

 

 

3

Jumlah Skor

11

Prosentase

55%

Kriteria

Cukup

 

Tabel di atas berisi beberapa aspek penting dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang telah dievaluasi. Berikut adalah deskripsi masing-masing poin dalam tabel di atas.

1.    Perangkat Pembelajaran. Perangkat pembelajaran telah tersedia dan digunakan dalam proses pembelajaran PJOK. Perangkat ini mencakup silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta alat bantu yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Poin ini diberi nilai atau kategori "2".

2.    Pembelajaran PJOK Relevan dengan Kebutuhan Siswa. Pembelajaran PJOK disusun agar sesuai dengan kebutuhan siswa, baik dari segi materi, metode, maupun aktivitas yang diberikan. Hal ini memastikan bahwa siswa mendapatkan manfaat optimal dari pembelajaran PJOK. Aspek ini diberi kategori "3".

3.    Kegiatan Senam Bersama. Sekolah telah mengadakan kegiatan senam bersama sebagai bagian dari pembelajaran PJOK. Kegiatan ini mendukung aktivitas fisik siswa dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya olahraga dalam kehidupan sehari-hari. Poin ini juga termasuk dalam kategori "3".

4.    Kebijakan Sekolah Mendukung Pembelajaran PJOK. Sekolah memiliki kebijakan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran PJOK, seperti penyediaan fasilitas olahraga, pengaturan waktu yang cukup dalam jadwal pelajaran, dan dukungan terhadap program kesehatan jasmani. Poin ini juga termasuk dalam kategori "3".

Total skor yang diperoleh adalah 11. Jika dikonversikan dalam bentuk persentase, nilai ini mencapai 55%, yang masuk dalam kategori Cukup.

B.       Input (Masukan)

 

No

Indikator

1

2

3

4

5

Jumlah Skor

7

Guru telah mengikuti pelatihan terkait pengembangan pembelajaran PJOK.

 

 

 

 

3

8

Guru telah mengikuti pelatihan penanganan anak berkebutuhan khusus.

 

 

 

 

2

9

Sarana olahraga mendukung pembelajaran PJOK.

 

 

 

 

2

10

Prasarana tersedia dan dalam kondisi baik.

 

 

 

 

2

11

Modul/buku pembelajaran PJOK tersedia.

 

 

 

 

3

Jumlah skor

12

Prosentase

48%

Kriteria

kurang

 

Tabel di atas berisi evaluasi terhadap beberapa aspek yang mendukung pembelajaran PJOK. Setiap aspek dievaluasi berdasarkan keterpenuhan dengan tanda centang () dan diberi skor yang menunjukkan tingkat kepentingan atau kontribusinya terhadap pembelajaran PJOK. Berikut deskripsi dari masing-masing poin :

1.    Guru telah mengikuti pelatihan terkait pengembangan pembelajaran PJOK. Guru telah mendapatkan pelatihan yang relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK, dengan skor 3.

2.    Guru telah mengikuti pelatihan penanganan anak berkebutuhan khusus. Guru juga telah mengikuti pelatihan dalam menangani siswa dengan kebutuhan khusus, dengan skor 2.

3.    Sarana olahraga mendukung pembelajaran PJOK. Sarana olahraga yang tersedia mendukung pelaksanaan pembelajaran PJOK, dengan skor 2.

4.    Prasarana tersedia dan dalam kondisi baik. Prasarana yang ada dalam kondisi baik dan dapat digunakan dengan optimal untuk pembelajaran PJOK, dengan skor 2.

5.    Modul/buku pembelajaran PJOK tersedia. Bahan ajar berupa modul atau buku telah tersedia untuk menunjang proses pembelajaran PJOK, dengan skor 3.

Total skor yang diperoleh adalah 12, yang menghasilkan persentase 48% dari total nilai yang mungkin dicapai. Berdasarkan hasil evaluasi ini, kriteria yang diperoleh adalah "kurang", yang menunjukkan bahwa masih ada aspek yang perlu ditingkatkan agar pembelajaran PJOK dapat berjalan lebih optimal.

C.       Process (Proses)

 

No

Indikator

1

2

3

4

5

Jumlah Skor

14

Guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutahan peserta didik.

 

 

 

 

1

15

Peserta didik diberi kesempatan untuk berkolaborasi.

 

 

 

 

4

17

Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik.

 

 

 

 

2

18

Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual peserta didik.

 

 

 

 

1

19

Peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran.

 

 

 

 

2

20

Guru menggunakan media dan teknologi dalam pembelajaran.

 

 

 

 

2

21

Evaluasi dilakukan secara adil dan objektif.

 

 

 

 

2

22

Guru memodifikasi alat sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

 

 

 

 

1

Jumlah Skor

15

Prosentase

37,5%

Kriteria

Sangat kurang

 

Tabel di atas berisi evaluasi terhadap berbagai aspek dalam proses pembelajaran, khususnya terkait dengan metode pengajaran, keterlibatan peserta didik, serta penggunaan media dan evaluasi dalam pembelajaran. Setiap aspek diberi tanda centang () untuk menunjukkan pemenuhannya, dan angka pada kolom terakhir mencerminkan kategori atau tingkat kepentingannya. Berikut adalah deskripsi dari masing-masing poin dalam tabel:

1.    Guru menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Skor: 1). Guru telah menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar proses belajar lebih efektif.

2.    Peserta didik diberi kesempatan untuk berkolaborasi (Skor: 4). Pembelajaran telah memberikan ruang bagi peserta didik untuk bekerja sama dalam aktivitas belajar.

3.    Guru memberikan umpan balik kepada peserta didik (Skor: 2). Guru aktif memberikan masukan kepada siswa untuk membantu mereka memahami materi dan meningkatkan pembelajaran mereka.

4.    Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual peserta didik (Skor: 1). Proses pembelajaran telah mempertimbangkan perbedaan kebutuhan setiap siswa.

5.    Peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran (Skor: 2). Siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, menunjukkan partisipasi yang baik dalam kegiatan yang diberikan.

6.    Guru menggunakan media dan teknologi dalam pembelajaran (Skor: 2). Teknologi dan media pembelajaran telah dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar.

7.    Evaluasi dilakukan secara adil dan objektif (Skor: 2). Penilaian terhadap siswa dilakukan secara transparan, adil, dan tidak memihak.

8.    Guru memodifikasi alat sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Skor: 1). Guru melakukan penyesuaian terhadap alat pembelajaran agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan siswa.

Total skor yang diperoleh adalah 15, dengan persentase pencapaian sebesar 37,5%. Berdasarkan kriteria yang diterapkan, hasil evaluasi ini masuk dalam kategori "Sangat Kurang".

D.      Product (Hasil)

 

No

Indikator

1

2

3

4

5

Jumlah Skor

23

Peserta didik menunjukkan peningkatan aktivitas jasmani.

 

 

 

 

2

24

Peserta didik menerapkan nilai kerja sama dalam pembelajaran.

 

 

 

 

3

25

Pembelajaran membantu peserta didik meningkatkan aktivitas jasmani.

 

 

 

 

3

26

Siswa lebih percaya diri dalam kegiatan aktivitas jasmani.

 

 

 

 

1

27

Nilai akademik peserta didik pada mata Pelajaran PJOK tuntas.

 

 

 

 

3

Jumlah Skor

12

Prosentase

48%

Kriteria

Kurang

 

Tabel di atas berisi evaluasi terhadap berbagai aspek dalam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) dengan fokus pada aktivitas jasmani, kerja sama, kepercayaan diri, dan pencapaian akademik peserta didik. Setiap aspek dinilai dengan tanda centang () sebagai indikator pencapaian, serta diberikan bobot angka yang mencerminkan tingkat kepentingan atau penilaian dari masing-masing aspek. Berikut adalah deskripsi dari masing-masing poin dalam tabel:

1.    Peserta didik menunjukkan peningkatan aktivitas jasmani (Skor: 2). Peserta didik mengalami peningkatan dalam keterlibatan mereka dalam aktivitas jasmani selama pembelajaran PJOK.

2.    Peserta didik menerapkan nilai kerja sama dalam pembelajaran (Skor: 3). Dalam pembelajaran PJOK, peserta didik mampu bekerja sama dengan baik, menunjukkan sikap saling mendukung dalam berbagai aktivitas.

3.    Pembelajaran membantu peserta didik meningkatkan aktivitas jasmani (Skor: 3). Pembelajaran yang diberikan efektif dalam meningkatkan partisipasi dan aktivitas jasmani siswa.

4.    Siswa lebih percaya diri dalam kegiatan aktivitas jasmani (Skor: 1). Pembelajaran PJOK membantu siswa meningkatkan rasa percaya diri dalam berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik.

5.    Nilai akademik peserta didik pada mata pelajaran PJOK tuntas (Skor: 3). Peserta didik berhasil mencapai nilai yang memenuhi standar ketuntasan dalam mata pelajaran PJOK.

Dari seluruh aspek yang dinilai, total skor yang diperoleh adalah 12, dengan prosentase pencapaian sebesar 48%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, hasil ini masuk dalam kategori "Kurang", yang menunjukkan bahwa masih diperlukan peningkatan dalam pembelajaran PJOK agar lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan hasil observasi, evaluasi terhadap pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (PJOK) adaptif di SLB Negeri 1 .................. menunjukkan bahwa setiap dimensi memiliki tingkat pencapaian yang berbeda-beda. Berikut uraian untuk masing-masing tahapan.

a.    Context

Hasil skor untuk dimensi Context sebesar 55% dengan kategori cukup. Pada dimensi konteks, pembelajaran PJOK Adaptif telah memiliki dasar yang cukup kuat, baik dari segi kebijakan sekolah maupun kesesuaian dengan kebutuhan peserta didik. Keadaan tersebut didukung dengan adanya kurikulum yang digunakan sudah mengacu pada standar yang ditetapkan dan cukup relevan dengan kondisi peserta didik. Sekolah juga mendukung pelaksanaan PJOK Adaptif melalui kebijakan dan alokasi waktu yang sesuai dan guru sudah memahami pentingnya pendidikan jasmani bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

b.    Input

Hasil skor untuk dimensi Input sebesar 48% termasuk dalam kategori kurang. Input pembelajaran PJOK  adaptif masih kurang mendukung pelaksanaan yang optimal, terutama dalam hal fasilitas, pelatihan guru, dan ketersediaan sumber belajar yang lebih terstruktur. Guru belum mendapatkan pelatihan yang memadai dalam menerapkan metode pembelajaran adaptif sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Materi pembelajaran dan sumber ajar belum lengkap, sehingga pembelajaran cenderung dilakukan secara improvisasi tanpa panduan yang jelas.

c.    Process

Hasil skor untuk Process sebesar 37,5% termasuk dalam kategori sangat kurang.  Dalam dimensi proses, pembelajaran PJOK Adaptif masih menghadapi banyak tantangan, terutama dalam implementasi di kelas dan keterlibatan peserta didik.Guru sudah mencoba menerapkan metode yang menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, meskipun belum optimal. Keterlibatan peserta didik dalam aktivitas fisik masih sangat rendah, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan sosial.  Kurangnya strategi pembelajaran yang menarik dan inovatif, sehingga peserta didik kurang termotivasi untuk berpartisipasi aktif.

Pemberian umpan balik oleh guru masih minim, sehingga peserta didik kurang mendapatkan arahan yang jelas untuk meningkatkan keterampilan mereka. Evaluasi selama proses pembelajaran kurang terstruktur, sehingga sulit untuk mengukur perkembangan peserta didik secara sistematis.

 

 

d.   Product

Hasil skor untuk Product sebesar 48% termasuk dalam kategori kurang.  Pembelajaran PJOK Adaptif belum memberikan dampak yang signifikan terhadap perkembangan peserta didik.Beberapa peserta didik menunjukkan peningkatan kecil dalam keterampilan motorik dasar. Sebagian peserta didik mulai menunjukkan minat dalam aktivitas jasmani yang lebih sederhana. Sebagian besar peserta didik belum mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah. Rasa percaya diri peserta didik masih rendah, terutama dalam berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang lebih kompleks. Tidak ada perubahan signifikan dalam kebugaran jasmani peserta didik, yang menunjukkan bahwa aktivitas yang diberikan belum cukup efektif. Kurangnya kebiasaan melakukan aktivitas fisik di luar sekolah, sehingga manfaat pembelajaran PJOK belum terasa secara berkelanjutan.

B.  Pembahasan Hasil Penelitian

1.    Hasil Evaluasi Context Pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 ..................

Berdasarkan hasil penelitian, evaluasi tahap Context pada pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 .................. menunjukkan bahwa aspek bahan ajar, rumusan dan tujuan pembelajaran, perancangan kegiatan pembelajaran, serta penilaian dan evaluasi telah dikembangkan dengan baik. Hasil angket dan wawancara menunjukkan kategori baik, sedangkan hasil observasi berada pada kategori cukup. Hal ini mencerminkan bahwa secara konseptual, perencanaan pembelajaran sudah cukup memadai, namun dalam implementasinya di lapangan masih terdapat beberapa tantangan.

Menurut Mohebbi, et al., (2011), dimensi konteks dalam evaluasi pembelajaran mencakup sejauh mana tujuan pembelajaran telah dirancang secara sistematis dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perumusan tujuan pembelajaran dalam PJOK Adaptif di SLB sudah cukup jelas dan selaras dengan kurikulum yang berlaku, terutama dalam memberikan fleksibilitas bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Namun, hasil observasi yang hanya masuk kategori cukup menunjukkan bahwa implementasi bahan ajar dan strategi pembelajaran masih perlu ditingkatkan agar lebih sesuai dengan kondisi nyata di kelas.

Selain itu, Stufflebeam dan Coryn  (2014) dalam model evaluasi CIPP menyatakan bahwa konteks pembelajaran yang ideal tidak hanya dinilai dari dokumen perencanaan yang baik, tetapi juga dari kesesuaian antara desain dan pelaksanaannya. Dalam hal ini, meskipun perancangan kegiatan pembelajaran dan evaluasi sudah dilakukan dengan baik, hasil observasi menunjukkan bahwa dalam praktiknya masih ada beberapa keterbatasan, seperti kurangnya adaptasi dalam penggunaan bahan ajar serta variasi dalam metode evaluasi yang lebih ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus. Hasil evaluasi Context dalam penelitian sesuai dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Teguh Priyono (2016) yang menjelaskan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani adaptif dapat berlangsung bersama dengan siswa regular dengan materi yang sama dalam pembelajaran, perlakuan guru penjas untuk anak berkebutuhan khusus disamakan sama seperti siswa regular namun ada modifikasi materi disederhanakan tersendiri bagi anak berkebutuhan khusus agar bisa mengikuti pembelajaran dengan materi yang sama seperti siswa regular dan Septian & Yahaya (2020) yang menjelaskan bahwa bahwa evaluasi Context yang dihasilkan berada pada kategori baik apabila terdapat kesesuaian pemilihan tujuan pembelajaran pada program pembelajaran PJOK adaptif.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa temuan ini menunjukkan evaluasi Context dalam pembelajaran PJOK Adaptif telah memiliki perencanaan yang baik, tetapi masih membutuhkan peningkatan dalam implementasi di kelas. Untuk meningkatkan efektivitasnya, diperlukan penyesuaian yang lebih fleksibel dalam strategi pembelajaran, penggunaan bahan ajar yang lebih variatif, serta penguatan sistem evaluasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik berkebutuhan khusus. Dengan demikian, pembelajaran PJOK adaptif dapat memberikan manfaat yang lebih optimal bagi peserta didik di SLB Negeri 1 ...................

2.    Hasil Evaluasi Input Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................

Berdasarkan hasil penelitian, evaluasi Input dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................., yang mencakup profil guru dan karakteristik peserta didik, menunjukkan hasil yang bervariasi. Hasil angket menunjukkan kategori baik, yang berarti secara umum guru merasa telah memenuhi kualifikasi dan memahami karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus. Namun, hasil wawancara yang tidak terlalu baik dan hasil observasi yang masuk dalam kategori kurang mengindikasikan bahwa dalam praktiknya, masih terdapat kesenjangan antara pemahaman teori dengan implementasi di lapangan.

Menurut Kokaridas et al.(2014)  dalam teorinya tentang kondisi belajar, kualitas guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan peserta didik, terutama dalam pembelajaran adaptif. Guru yang memiliki pemahaman mendalam mengenai karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus dapat menyusun strategi pembelajaran yang lebih efektif. Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa masih ada tantangan dalam penyesuaian metode pembelajaran, yang dapat disebabkan oleh kurangnya pelatihan khusus bagi guru PJOK dalam menangani peserta didik dengan kebutuhan yang sangat beragam. Hal ini sejalan dengan penelitian McNamara dan Dillon (2020)  yang menyatakan bahwa kompetensi guru dalam pendidikan inklusif masih menjadi tantangan utama dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran di SLB.

Selain itu, dalam model evaluasi CIPP oleh Stufflebeam dan Coryn  (2014), evaluasi  Input tidak hanya mencakup kesiapan guru, tetapi juga bagaimana sekolah mendukung guru dalam mengembangkan keterampilannya. Hasil observasi yang menunjukkan kategori kurang menunjukkan bahwa meskipun guru telah memiliki pemahaman dasar, masih terdapat hambatan dalam menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, seperti kesulitan dalam memodifikasi aktivitas PJOK agar lebih inklusif. Hal ini sejalan dengan penelitian Teguh Priyono (2016) yang menemukan bahwa tantangan terbesar dalam PJOK Adaptif adalah menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan motorik dan sensorik peserta didik secara individual. Dengan demikian, meskipun profil guru dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................. sudah cukup baik berdasarkan hasil angket, namun hasil wawancara dan observasi menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan dalam implementasi di kelas.

Secara keseluruhan dapat diambil kesimpulan bahwa untuk evaluasi Input sudah berjalan baik namun masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan yang lebih spesifik, serta strategi pembelajaran yang lebih adaptif agar sesuai dengan karakteristik peserta didik. Selain itu, sekolah perlu memberikan dukungan lebih dalam hal sarana dan pendampingan, agar guru dapat menerapkan metode yang lebih efektif dalam pembelajaran PJOK Adaptif.

3.    Hasil Evaluasi Process Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................

Berdasarkan hasil penelitian, evaluasi pada dimensi Process dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................., yang mencakup kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani dan keterlibatan peserta didik, menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Hasil angket menunjukkan kategori kurang, yang mengindikasikan bahwa baik guru maupun peserta didik merasa bahwa kegiatan pembelajaran belum berjalan dengan optimal. Hasil wawancara yang tidak terlalu baik menunjukkan bahwa meskipun terdapat upaya dalam melaksanakan pembelajaran PJOK Adaptif, masih terdapat hambatan yang signifikan dalam pelaksanaannya. Sementara itu, hasil observasi yang berada pada kategori sangat kurang memperkuat temuan bahwa pembelajaran di lapangan belum sepenuhnya efektif dan peserta didik masih pasif dalam mengikuti kegiatan.

Mustafa dan Dwiyogo (2020) menerangkan tentang model pembelajaran pendidikan jasmani bahwa kegiatan pembelajaran yang baik harus melibatkan metode yang sesuai dengan kemampuan peserta didik, keterlibatan aktif siswa, serta modifikasi aktivitas yang memungkinkan semua siswa dapat berpartisipasi. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran belum cukup mendorong partisipasi aktif peserta didik, yang dapat disebabkan oleh kurangnya variasi metode pengajaran dan minimnya adaptasi dalam bentuk aktivitas fisik. Hal ini sejalan dengan penelitian Sukriadi (2021)  yang menyatakan bahwa pembelajaran PJOK di sekolah inklusif sering kali menghadapi kendala dalam keterlibatan peserta didik akibat metode pembelajaran yang kurang fleksibel.

Selain itu, dalam model evaluasi CIPP oleh Stufflebeam dan Coryn  (2014), evaluasi  Process menilai sejauhmana pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah dirancang dalam tahap Input dan untuk melihat kualitas proses pelaksanaan program pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang di dalamnya yakni kegiatan guru dan siswa selama pembelajaran. Hasil observasi yang menunjukkan kategori sangat kurang mengindikasikan bahwa rencana pembelajaran yang sudah ada belum diimplementasikan dengan baik, baik dari segi strategi pengajaran maupun keterlibatan peserta didik. Hambatan seperti kurangnya pemanfaatan media pembelajaran, minimnya modifikasi aktivitas, dan terbatasnya pendampingan menyebabkan banyak peserta didik tidak dapat mengikuti kegiatan dengan optimal. Penelitian Teguh Priyono (2016)  dan Septian & Yahaya(2020) juga menemukan bahwa tantangan utama dalam PJOK Adaptif adalah kurangnya inovasi dalam metode pengajaran yang dapat menyesuaikan dengan kebutuhan beragam peserta didik.

Kesimpulan hasil penelitian evaluasi Process  menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran PJOK Adaptif di SLB masih belum berjalan secara efektif, baik dari sisi metode pembelajaran maupun keterlibatan peserta didik. Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran, diperlukan penggunaan metode yang lebih inovatif dan interaktif, pemanfaatan teknologi sebagai alat bantu, serta pendekatan yang lebih personal dalam membimbing peserta didik. Selain itu, sekolah perlu menyediakan pelatihan tambahan bagi guru untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam mengadaptasi pembelajaran, agar semua peserta didik dapat terlibat aktif dalam aktivitas jasmani sesuai dengan kemampuan mereka.

4.    Hasil Evaluasi Product Pembelajaran PJOK  Adaptif di SLB Negeri 1 ..................

Berdasarkan hasil penelitian, evaluasi Product dalam pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................. yang mencakup evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran, menunjukkan hasil yang masih kurang optimal. Hasil angket menunjukkan kategori kurang, yang berarti bahwa baik guru maupun peserta didik merasa bahwa hasil pembelajaran belum sepenuhnya memenuhi harapan. Hasil wawancara yang tidak terlalu baik menunjukkan bahwa terdapat kendala dalam pelaksanaan evaluasi yang objektif dan adaptif. Sementara itu, hasil observasi yang juga berada dalam kategori kurang mengindikasikan bahwa proses dan hasil pembelajaran PJOK belum dapat terukur dengan baik, serta belum menunjukkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan peserta didik.

Menurut Stufflebeam dan Coryn  (2014) dalam model evaluasi CIPP, Product bertujuan untuk menilai sejauh mana hasil pembelajaran telah mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum serta dampaknya terhadap peserta didik. Hasil evaluasi produk menandakan kualitas layanan yang diberikan oleh guru atau sekolah pada program pembelajaran PJOK adaptif yang dilaksanakan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi yang dilakukan selama pembelajaran masih bersifat subjektif dan kurang terstruktur, sehingga perkembangan peserta didik sulit untuk diukur secara akurat. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa belum ada instrumen evaluasi yang benar-benar sesuai untuk menilai kemampuan peserta didik berkebutuhan khusus secara adil dan objektif. Hal ini sejalan dengan penelitian Teguh Priyono (2016) yang menemukan bahwa kurangnya instrumen penilaian yang adaptif dalam PJOK Adaptif menyebabkan kesulitan dalam mengukur perkembangan peserta didik secara komprehensif.

Selain itu, evaluasi hasil pembelajaran tidak hanya mencakup pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga perkembangan fisik, sosial, dan emosional peserta didik. Hasil observasi menunjukkan bahwa banyak peserta didik yang belum mengalami perkembangan signifikan dalam keterampilan motorik dan kebugaran jasmani, yang menandakan bahwa metode evaluasi yang digunakan belum efektif dalam mengidentifikasi aspek yang perlu ditingkatkan.  Ananda & Rafida (2017) mengungkapkan bahwa evaluasi yang baik harus bersifat autentik, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan individu, namun dalam konteks PJOK Adaptif, banyak peserta didik yang merasa kurang mendapatkan umpan balik yang jelas terkait perkembangan mereka. Penelitian Septian & Yahaya (2020) juga menunjukkan bahwa evaluasi dalam pendidikan inklusif sering kali masih berorientasi pada standar umum, sehingga kurang mempertimbangkan keberagaman kemampuan peserta didik.

Kesimpulan hasil evaluasi Product menunjukkan bahwa hasil pembelajaran PJOK Adaptif masih perlu diperbaiki, terutama dalam hal kejelasan instrumen penilaian, keadilan dalam evaluasi, serta efektivitas metode penilaian yang digunakan. Untuk meningkatkan efektivitas evaluasi, diperlukan pengembangan sistem penilaian yang lebih komprehensif dan fleksibel, seperti penggunaan portofolio pembelajaran, asesmen berbasis keterampilan, serta peningkatan peran refleksi diri dalam evaluasi. Selain itu, sekolah perlu memberikan pelatihan kepada guru dalam menyusun evaluasi yang lebih adaptif, agar hasil pembelajaran dapat lebih terukur dan benar-benar mencerminkan perkembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan mereka.

C.  Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

1. Keterbatasan dalam jumlah subjek penelitian bahwa penelitian ini hanya dilakukan di satu SLB, sehingga hasil yang diperoleh belum dapat digeneralisasikan untuk seluruh sekolah luar biasa lainnya. Variasi karakteristik peserta didik yang beragam juga menyebabkan hasil penelitian dapat berbeda jika dilakukan pada kelompok peserta didik dengan kebutuhan khusus yang berbeda.

2.  Keterbatasan dalam instrumen evaluasi, penelitian ini masih mengandalkan angket, wawancara, dan observasi, sehingga ada kemungkinan subjektivitas dalam pengumpulan data. Instrumen evaluasi pembelajaran masih dapat dikembangkan lebih lanjut agar lebih mengukur aspek keterampilan motorik, kognitif, dan sosial peserta didik secara lebih komprehensif.

3.  Faktor waktu dan kondisi pembelajaran, penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu yang terbatas, sehingga tidak dapat sepenuhnya mengamati perkembangan peserta didik dalam jangka panjang. Kondisi pembelajaran di sekolah yang dipengaruhi oleh keterbatasan sarana dan keterlibatan peserta didik juga dapat mempengaruhi hasil penelitian.

 

 

 


BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A.  Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian Evaluasi Pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................. menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product), dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.    Evaluasi Context menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran sudah baik, dengan dukungan kebijakan sekolah dan kesesuaian kurikulum terhadap kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.  Hasil angkat pada dimensi evaluasi Context pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 3,13 termasuk dalam kategori Baik. Hasil observasi menunjukkan bahwa implementasi perencanaan sudah cukup baik walaupun masih memiliki kendala, terutama dalam hal adaptasi bahan ajar dan metode evaluasi. Total skor yang diperoleh adalah 11. Jika dikonversikan dalam bentuk persentase, nilai ini mencapai 55%, yang masuk dalam kategori Cukup.  Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, wakil kurikulum, dan guru PJOK, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di sekolah sudah berusaha untuk mengakomodasi kebutuhan peserta didik, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus, dengan memberi fleksibilitas dalam kurikulum dan metode pembelajaran. Secara umum, kurikulum sudah cukup relevan dengan kondisi siswa dan memberikan ruang bagi guru untuk menyesuaikan materi ajar sesuai dengan kemampuan peserta didik.

2.    Evaluasi Input menunjukkan bahwa profil guru dinilai baik sebesar 3,20. tetapi hasil observasi menunjukkan bahwa dalam praktiknya masih terdapat tantangan dalam penyesuaian metode pembelajaran dengan karakteristik peserta didik.  Total skor yang diperoleh adalah 12, yang menghasilkan persentase 48% dari total nilai yang mungkin dicapai. Berdasarkan hasil evaluasi ini, kriteria yang diperoleh adalah "kurang", yang menunjukkan bahwa masih ada aspek yang perlu ditingkatkan agar pembelajaran PJOK dapat berjalan lebih optimal Berdasarkan hasil wawancara diketahui sekolah telah memberikan dukungan dalam bentuk penyediaan fasilitas dasar, pelatihan bagi guru, serta kebebasan dalam menyesuaikan kurikulum PJOK Adaptif. Namun, masih terdapat tantangan dalam pengadaan alat olahraga yang lebih spesifik serta pelatihan yang lebih berkelanjutan bagi guru. Hambatan utama meliputi kurangnya pelatihan guru, keterbatasan sarana dan prasarana, serta kurangnya sumber ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

3.    Evaluasi Process menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di SLB Negeri 1 .................. sebesar 2,30 pada kategori kurang. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat berbagai kendala dalam pelaksanaan pembelajaran sehingga belum optimal dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Berdasarkan hasil observasi dijelaskan  bahwa partisipasi peserta didik dalam kegiatan masih rendah, metode pembelajaran belum cukup fleksibel, dan umpan balik dari guru masih kurang efektif. Total skor yang diperoleh adalah 15, dengan persentase pencapaian sebesar 37,5%. Berdasarkan kriteria yang diterapkan, hasil evaluasi ini masuk dalam kategori "Sangat Kurang". Berdasarkan hasil wawancara didapatkan data bahwa implementasi proses pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) Adaptif di SLB Negeri masih menghadapi beberapa tantangan, meskipun telah dilakukan berbagai upaya untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus. Kurangnya inovasi dalam strategi pengajaran serta minimnya keterlibatan teknologi dalam pembelajaran menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini..

4.    Evaluasi Product menunjukkan bahwa hasil pembelajaran PJOK Adaptif belum sepenuhnya mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah karena hanya memperoleh nilai 2,08 dalam kriteria kurang. Berdasarkan hasil obervasi didapatkan penjelasan bahwa evaluasi yang dilakukan masih bersifat subjektif dan kurang sistematis, sehingga sulit untuk mengukur perkembangan peserta didik secara akurat. Kurangnya kepercayaan diri peserta didik serta minimnya dukungan lingkungan dalam mendorong kebiasaan aktivitas fisik juga menjadi kendala utama dalam pencapaian hasil pembelajaran. Dari seluruh aspek yang dinilai, total skor yang diperoleh adalah 12, dengan prosentase pencapaian sebesar 48%. Berdasarkan kriteria yang ditetapkan, hasil ini masuk dalam kategori "Kurang", yang menunjukkan bahwa masih diperlukan peningkatan dalam pembelajaran PJOK agar lebih efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa guru PJOK telah menerapkan kurikulum merdeka dalam pembelajaran PJOK yang lebih fleksibel dan adaptif untuk menyesuaikan dengan kondisi peserta didik. Namun, pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya optimal dalam meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran. Peserta didik masih memiliki keterbatasan dalam berkolaborasi secara aktif selama pembelajaran. Interaksi antar peserta didik dan antara peserta didik dengan guru masih perlu ditingkatkan agar lebih efektif dalam membangun keterampilan sosial dan kepercayaan diri.

B.  Saran

Berdasarkan temuan penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran PJOK Adaptif di SLB Negeri 1 .................. adalah.

1.    Meningkatkan Kualitas Pelatihan Guru

a.    Sekolah perlu menyediakan pelatihan khusus bagi guru PJOK dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus, terutama dalam metode pembelajaran yang lebih adaptif dan inklusif.

b.    Guru perlu mendapatkan pendampingan dalam merancang strategi evaluasi yang lebih objektif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.

2.    Penyediaan Sarana dan Prasarana yang Lebih Mendukung

a.    Fasilitas olahraga perlu ditingkatkan agar lebih ramah bagi peserta didik berkebutuhan khusus, seperti alat olahraga yang dimodifikasi sesuai kebutuhan siswa.

b.    Sekolah dapat mempertimbangkan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran PJOK, seperti video tutorial, aplikasi kebugaran sederhana, atau alat bantu interaktif untuk meningkatkan keterlibatan siswa.

3.    Meningkatkan Keterlibatan Peserta Didik dalam Pembelajaran

a.         Guru perlu menerapkan metode pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif, seperti permainan berbasis kerja sama, simulasi olahraga sederhana, atau pendekatan berbasis proyek.

b.        Peningkatan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik harus menjadi fokus utama dalam pembelajaran PJOK Adaptif, misalnya dengan menggunakan sistem penghargaan dan apresiasi terhadap usaha siswa.

4.    Pengembangan Sistem Evaluasi yang Lebih Objektif dan Inklusif

a.         Evaluasi perlu dilakukan secara lebih sistematis dengan pendekatan portofolio pembelajaran, asesmen berbasis keterampilan, serta pengukuran perkembangan individu secara berkala.

b.        Melibatkan orang tua atau wali dalam proses evaluasi dapat membantu memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai perkembangan peserta didik di luar lingkungan sekolah.

 

                                          


DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, M. Y., Hussin, S., & Shakir, M. (2018). The effect of peers’ and teacher’s e-feedback on writing anxiety level through CMC applications. International Journal of Emerging Technologies in Learning (Online), 13(11), 96–107.

Ainscow, M., & Messiou, K. (2018). Engaging with the views of students to promote inclusion in education. Journal of educational change, 19, 1–17.

Alim, N., Hakim, A. R., & Dwijayanti, K. (2021). Survei proses pembelajaran pendidikan jasmani adaptif di SDLB C Kabupaten Sragen tahun 2019/2020. JURNAL ILMIAH PENJAS (Penelitian, Pendidikan Dan Pengajaran), 7(1), 1–11.

Ananda, R., Rafida, T., & Wijaya, C. (2017). Pengantar evaluasi program pendidikan. Perdana, Medan

Arifin, Z. (2018). Evaluasi Pembelajaran. Remaja Rosdakarya.

Auliya, N. H., Andriani, H., Fardani, R. A., Ustiawaty, J., Utami, E. F., Sukmana, D. J., & Istiqomah, R. R. (2020). Metode penelitian kualitatif & kuantitatif. CV. Pustaka Ilmu.

Azman, H. (2016). Implementation and Challenges of English Language Education Reform in Malaysian Primary Schools. 3L: Southeast Asian Journal of English Language Studies, 22(3). 65-78

Bari, S., Incorvia, J., Iverson, K. R., Bekele, A., Garringer, K., Ahearn, O., Drown, L., Emiru, A. A., Burssa, D., & Workineh, S. (2021). Surgical data strengthening in Ethiopia: results of a Kirkpatrick framework evaluation of a data quality intervention. Global Health Action, 14(1), 1855808. 1-11

Birgili, B., Seggie, F. N., & OÄŸuz, E. (2021). The trends and outcomes of flipped learning research between 2012 and 2018: A descriptive content analysis. Journal of Computers in Education, 8(3), 365–394.

Brooks, C., Carroll, A., Gillies, R. M., & Hattie, J. (2019). A matrix of feedback for learning. Australian Journal of Teacher Education (Online), 44(4), 14–32.

Budiwanto, S. (2017). Metode statistika. Universitas Negeri Malang.

Cervantes, C. M., & Clark, L. (2020). Cultural humility in physical education teacher education: A missing piece in developing a new generation of socially just physical education teachers. Quest, 72(1), 57–71.

Citra, Y., Nopembri, S., & Susanto, S. P. Y. (2024). Evaluation Study of Physical Education Learning in Sports and Health in Special Schools in ................... International Journal of Multidisciplinary Research and Analysis, 7(1), 411–416.

Corbin, C. B., Kulinna, P. H., & Yu, H. (2020). Conceptual physical education: A secondary innovation. Quest, 72(1), 33–56.

Creswell, J. W. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed. Methods Approaches. SAGE Publications.

Divayana, D. G. H., Sappaile, B. I., Pujawan, I., Dibia, I. K., Artaningsih, L., Sundayana, I., & Sugiharni, G. A. D. (2017). An Evaluation of Instructional Process of Expert System Course Program by Using Mobile Technology-based CSE-UCLA Model. International Journal of Interactive Mobile Technologies, 11(6). 18-31

Febriana, R. (2021). Evaluasi pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.

Fitriawan, R. D., & Tuasikal, A. R. S. (2013). Studi Tentang Kemampuan Penyesuaian Diri Siswa Tunagrahita Dalam Mengikuti Proses Pembelajaran Pendidikan Jasmani Adaptif (Studi Pada Siswa Tunagrahita di SDLB Negeri Seduri, Mojosari-Mojokerto). 1(1), 77–81.

Fitriyani, F., & Robiasih, R. H. (2021). An evaluation of Muhadatsah Program at Pondok Modern Daarul Abror using CIPP Model. Journal of Applied Linguistics, Translation, and Literature, 1(1), 7–16.

Gullickson, A. M. (2020). The whole elephant: Defining evaluation. Evaluation and program planning, 79, 101787. 1-9

Güven, M., & BaltaoÄŸlu, M. G. (2017). Self-efficacy, learning strategies and learning styles of teacher candidates: Anadolu University example. Anadolu Journal of Educational Sciences International, 7(2), 288–337.

Guyadeen, D., & Seasons, M. (2018). Evaluation theory and practice: Comparing program evaluation and evaluation in planning. Journal of Planning Education and Research, 38(1), 98–110.

Hakim, A. R. (2017). Memuliakan Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Pendidikan Jasmani Adaptif. Jurnal Ilmiah Penjas (Penelitian, Pendidikan Dan Pengajaran), 3(1).17-27

Haris, F., Taufan, J., & Nelson, S. (2021). Peran guru olahraga bagi perkembangan pendidikan jasmani adaptif di sekolah luar biasa. Jurnal Basicedu, 5(5), 3883–3891.

Haryanto, M. P. (2020). Evaluasi Pembelajaran (Konsep Dan Manajemen). .................. : UNY Press.

Hastata, L. T. (2019). Pengelolaan Pendidikan Jasmani Adaptif Anak Berkebutuhan Khusus di SMP Penyelenggara Pendidikan Inklusif (Studi Kasus Pengelolaan Pendidikan Jasmani Adaptif pada SMP Penyelenggara Pendidikan Inklusif di Kabupaten Boyolali). UNS (Sebelas Maret University).

Herdiansyah, H. (2013). Wawancara, observasi, dan focus groups: Sebagai instrumen penggalian data kualitatif. Jakarta : Rajawali Pers

Hosni, & Irham. (2016). Pembelajaran Adaptif. Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pendidikan Luar Biasa.

Haris, F., Taufan, J., & Nelson, S. (2021). Peran Guru Olahraga bagi Perkembangan Pendidikan Jasmani Adaptif di Sekolah Luar Biasa. Jurnal Basicedu, 5(5), 3883–3891

Kipli, M., & Khairani, A. Z. (2020). Assessing TVET programmes in fulfilling industry requirements. Asian Journal of Research in Education and Social Sciences, 2(3), 135–146.

Kokaridas, D., Paslamouska, M., Patsiaouras, A., Natsis, P., Karagiannidis, I., Maggouritsa, G., & Efthimiou, P. (2014). Dynamic Evaluation Approach in Adapted Physical Education: Assessing Individualized Education Procedures for Inclusion Purposes. Electronic Journal for Inclusive Education, 3(2), 7-14.

Lynch, S., Sutherland, S., & Walton-Fisette, J. (2020). The A–Z of social justice physical education: Part 1. Journal of Physical Education, Recreation & Dance, 91(4), 8–13.

McNamara, S., & Dillon, S. (2020). Finding a home for adapted physical education in individualized education program software. European Journal of Adapted Physical Activity, 13, 4, 1-12.

Meijer, C. J. W., & Watkins, A. (2019). Financing special needs and inclusive education–from Salamanca to the present. International Journal of Inclusive Education, 23(7–8), 705–721.

Messiou, K. (2019). The missing voices: Students as a catalyst for promoting inclusive education. International Journal of Inclusive Education, 23(7–8), 768–781.

Mohebbi, N., Akhlaghi, F., Yarmohammadian, M. H., & Khoshgam, M. (2011). Application of CIPP model for evaluating the medical records education course at master of science level at Iranian medical sciences universities. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 15, 3286–3290.

Napitupulu, R. . (2023). Evaluasi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif pada siswa tunagrahita di slb se-kota bengkulu. Universitas Negeri ...................

Neville, R. D., & Makopoulou, K. (2021). Effect of a six-week dance-based physical education intervention on primary school children’s creativity: A pilot study. European Physical Education Review, 27(1), 203–220.

Ngatman, M. P. (2017). Evaluasi pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Penerbit CV. Sarnu Untung.

Oflaz, M., Diker Coskun, Y., & Bolat, Ö. (2022). The Effects of the Technology-Integrated Writing Lessons: CIPP Model of Evaluation. Turkish Online Journal of Educational Technology-TOJET, 21(1), 157–179.

Patil, Y., & Kalekar, S. (2014). CIPP Model for school evaluation. Scholarly Research Journal for Humanity Science & English Language, 2(10), 2615–2619.

Pratama, T. . (2023). Evaluasi Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan (Pjok) Di Sma Negeri 1 Tanjungpandan Kabupaten BelitunG. Universitas Negeri ...................

Pratiwi, & Murtiningsih. (2018). Kiat Sukses Mengasuh Anak Berkebutuhan Khusus. Ar-Ruzz Media.

Priyono, T. (2016). Pelaksanaan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif anak tunagrahita di sd negeri bangunrejo 2 kota ................... PGSD Penjaskes, 4.

Raibowo, S., & Nopiyanto, Y. E. (2020). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko melalui Pendekatan Model Context, Input, Process & Product (CIPP). Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 6(2), 146–165.

SaraçoÄŸlu, G. (2020). Relationship between high school student’s motivation levels and learning strategies. International Journal of Progressive Education, 16(3). 67-83

Schmidt, M., Benzing, V., Wallman-Jones, A., Mavilidi, M.-F., Lubans, D. R., & Paas, F. (2019). Embodied learning in the classroom: Effects on primary school children’s attention and foreign language vocabulary learning. Psychology of sport and exercise, 43, 45–54.

Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar metodologi penelitian. .................. : Literasi Media Publishing.

Stavropoulou, A., & Stroubouki, T. (2014). Evaluation of educational programmes-the contribution of history to modern evaluation thinking. Health Science Journal, 8(2), 193–204.

Stufflebeam, D. L. (2015). CIPP evaluation model checklist: A tool for applying the CIPP model to assess projects and programs. Western Michigan University Evaluation Center. Search in.

Stufflebeam, D. L., & Coryn, C. L. S. (2014). Evaluation theory, models, and applications (Vol. 50). John Wiley & Sons.

Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

Sukmadinata, N. S. (2019). Metode penelitian pendidikan. PT Remaja Rosdakarya.

Sukriadi, S. (2021). Model belajar lempar tangkap bola untuk anak disabilitas grahita ringan. Jurnal Ilmiah Sport Coaching and Education, 5(2), 63–73.

Suparno, H. P., & Purwanto, E. (2007). Pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dirjen Dikti. Depdiknas.

Tarigan. (2016). Pendidikan jasmani adaptif. UPI.

Tarjiah, I. (2017). The Planning of Learning Model for Students with Hearing Impairments in the Elementary School Inclusion. 9th International Conference for Science Educators and Teachers (ICSET 2017), 56–60.

Taufan, J., Ardisal, A., Damri, D., & Arise, A. (2018). Pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani adaptif bagi anak dengan hambatan fisik motorik. Jurnal Pendidikan Kebutuhan Khusus, 2(2), 19–24.

Tavsancıl, E., Yıldırım, O., & Demır, S. B. (2019). Direct and indirect effects of learning strategies and reading enjoyment on PISA 2009 reading performance. Eurasian Journal of Educational Research, 19(82), 169–190.

Thomas, A., Lubarsky, S., Varpio, L., Durning, S. J., & Young, M. E. (2020). Scoping reviews in health professions education: challenges, considerations and lessons learned about epistemology and methodology. Advances in health sciences education, 25, 989–1002.

Tiantong, M., & Tongchin, P. (2013). A multiple intelligences supported web-based collaborative learning model using Stufflebeam’s CIPP evaluation model. International Journal of Humanities and Social Science, 3(7), 157–165.

Tuna, H., & BaÅŸdal, M. (2021). Curriculum evaluation of tourism undergraduate programs in Turkey: A CIPP model-based framework. Journal of Hospitality, Leisure, Sport & Tourism Education, 29, 100324. 1-11

Widoyoko, E. P. (2016). Evaluasi program pembelajaran. ..................: Pustaka Pelajar

Wisniewski, B., Zierer, K., & Hattie, J. (2020). The power of feedback revisited: A meta-analysis of educational feedback research. Frontiers in psychology, 10, 487662. 1-14

Zhang, G., Zeller, N., Griffith, R., Metcalf, D., Williams, J., Shea, C., & Misulis, K. (2011). Using the Context, Input, Process, and Product evaluation model (CIPP) as a comprehensive framework to guide the planning, implementation, and assessment of service-learning programs. Journal of Higher Education Outreach and Engagement, 15(4), 57–84.

 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, hindari unsur SARA.
Terima kasih