Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Senin, 19 Januari 2026

TESIS : PENGARUH KEPEMIMPINAN SITUASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KOMPETENSI SOSIAL GURU DI SD NEGERI KECAMATAN ............................ KOTA ............................

 

PENGARUH KEPEMIMPINAN SITUASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KOMPETENSI SOSIAL GURU DI SD NEGERI KECAMATAN ............................ KOTA ............................

 

 

 TESIS

 

 

 

 

 

 

 


OLEH

 

……………………………………

NIM. ………………….

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI MAGISTER PRODI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS ............................

JAKARTA

2023

ABSTRAK

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................, mengetahui apakah terdapat pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................ dan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap lingkungan kerja di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................  dengan populasi penelitian adalah seluruh  guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................. Dari populasi tersebut, diambil sampel sebanyak 157 guru  yang diperoleh dengan menggunakan teknik pengambilan sampel acak proporsional. Penelitian ini menggunakan metode causal study. Data penelitian dijaring melalui instrumen penelitian berupa kuesioner dengan skala Likert, kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik analisis jalur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Hasil uji pertama menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Sosial Guru  dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,021> 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima  jadi semakin tinggi kepemimpinan situasional kepala sekolah maka akan semakin tinggi pula kompetensi sosial guru. (2)Hasil uji kedua menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,000> 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima  jadi semakin baik lingkungan kerja maka akan semakin baik pula kompetensi sosial guru.(3) Hasil uji ketiga menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Lingkungan Kerja  dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,049 > 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima jadi semakin meningkat kepemimpinan situasional kepala sekolah maka akan semakin baik pula lingkungan kerja yang diciptakan.

Kata Kunci : kompetensi sosial, kepemimpinan situasional, lingkungan kerja

 

 

 

 

ABSTRACT

 

The purpose of this research is to find out whether there is an influence of the principal's situational leadership on the social competence of teachers at the ............................ District Public Elementary School, ............................ City, to find out whether there is an influence of the work environment on the social competence of teachers at the ............................ District Public Elementary School, ............................ City and to find out whether there is The influence of the principal's situational leadership on the work environment at the ............................ District Public Elementary School, ............................ City. The research was conducted at the State Elementary School, ............................ District, ............................ City, with the research population being all teachers at the State Elementary School, ............................ District, ............................ City. From this population, a sample of 157 teachers was taken using proportional random sampling techniques. This research uses the causal study method. Research data was collected through a research instrument in the form of a questionnaire with a Likert scale, then processed and analyzed using path analysis techniques. The results of this research show that: (1) The results of the first test state that there is a positive and significant influence between the Principal's Situational Leadership on Teacher Social Competence with a significant regression value of 0.021> 0.05, so Ho is rejected and H1 is accepted, so the higher the principal's situational leadership. school, the higher the teacher's social competence will be. (2) The results of the second test state that there is a positive and significant influence between the Work Environment on Teacher Social Competence with a significant regression value of 0.000> 0.05, so Ho is rejected and H1 is accepted so the better the work environment, the better the teacher's social competence. (3) The results of the third test state that there is a positive and significant influence between the Principal's Situational Leadership on the Work Environment with a significant regression value of 0.049 > 0.05, so Ho is rejected and H1 is accepted so the more the principal's situational leadership increases, the better the environment will be. work created.

Keywords: social competence, situational leadership, work environment

 

 

 

 

LEMBAR PERSETUJUAN


LEMBAR PENGESAHAN

 

 

PENGARUH KEPEMIMPINAN SITUASIONAL KEPALA SEKOLAH DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KOMPETENSI SOSIAL GURU DI SD NEGERI KECAMATAN ............................ KOTA ............................

 

 

OLEH

……………………………………

NIM. ………………….

 

 

Dipertahankan di Depan Penguji Tesis Sekolah Pascasarjana
Universitas ............................
Tanggal ………………….

 


Penguji Tesis                                      Tanda tangan                       Tanggal

 

……………………..                         ………………                     ……………….

 

……………………..                         ………………                     ……………….

 

……………………..                         ………………                     ……………….

 

……………………..                         ………………                     ……………….

 

……………………..                         ………………                     ……………….

 

 

Jakarta, ……………………..
Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas ............................

 

 

 

 

 

……………………………………………………………….

 

 

KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah wa syukurilah, Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah mencurahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan  Tesis yang berjudul Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru di SD Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................”.  Tesis ini diajukan sebagai bagian dari tugas akhir menulis Tesis, dalam rangka menyelesaikan studi di Program Magister Administrasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas .............................

Penulis tidak akan dapat menyelesaikan  Tesis ini tepat waktu tanpa adanya kontribusi, dukungan, dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini izinkan penulis untuk mengucapkan terima kasih yang paling dalam kepada:

1.        ………………………., Rektor Sekolah Pascasarjana Universitas ............................

2.        ………………………..., Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas ............................

3.        ……………………..  sebagai Dosen Pembimbing I dalam penulisan  Tesis ini yang telah banyak membimbing dan membantu penulis dalam memerikan ide, saran dan kritikannya sehingga penulis dapat menyelesaikan  Tesis ini dengan baik.

4.        …………………….. sebagai Dosen pembimbing I dalam penulisan   Tesis ini, yang telah banyak membimbing dan membantu penulis dalam memberikan ide, saran dan kritiknya sehingga penulis dapat menyelesaikan  Tesis ini dengan baik.

5.        Bapak/ibu Dosen Program Studi Administrasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana ............................ yang telah mendidik dan memberikan banyak ilmu pengetahuan yang berharga kepada penulis.

6.        ……………., Koordinator Wilayah/Pengawas di Kecamatan ............................ yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di wilayah kecamatan .............................

7.        ……………. selaku pengawas . yang turut membantu , memotivasi  penulis dalam penelitian ini.

8.        Kepala Sekolah SD Negeri Kecamatan ............................ yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolahnya.

9.        Kelapa Sekolah SD Negeri ………….. tempat saya mengajar yang telah memberikan motivasi dan dukungan kepada penulis untuk  melanjutkan S2.

10.    Ayahanda . dan Ibunda tercinta .yang selalu menjadi motivasi dan inspirasi penulis dalam setiap usaha, serta cinta dan doa yang selalu menyertai sehingga ananda dapat terus melangkah dengan kesabaran, keberanian dan kepercayaan kuat untuk menyelesaikan pendidikan S2.

11.    Suami tercinta ………. dan buah hati yang tercinta ……………, terima kasih selalu memberikan keceriaan, senyuman, dan kasih sayang luar biasa.

12.    Dewan Guru dan Tenaga Kependidikan Sekolah Dasar Negeri …………, yang selalu memberikan perhatian dan motivasi kepada penulis untuk menyelesaikan  Tesis ini.

13.    Serta Rekan-rekan mahasiswa Program Magister Administrasi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas ............................ angkatan ….. yang selalu memberikan senyum, dukungan, doa, dan bantuan terbaik.

14.    Semua pihak yang terlibat dalam menyelesaikan  Tesis ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa  tesis ini masih jauh dari kata sempurna.
Keterbatasan kemampuan membuat penulis mengharap masukan dan koreksi agar
di kemudian hari menjadi lebih baik.

Akhir kata, besar harapan penulis agar  Tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang sangat peduli dengan kemajuan pendidikan.

 

                                                                                    Penulis

 

……………………

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL..........................................................................................      i

ABSTRAK..........................................................................................................     ii

ABSTRACT........................................................................................................    iii

LEMBAR PERSETUJUAN  .............................................................................    iv

LEMBAR PENGESAHAN ...............................................................................     v

KATA PENGANTAR........................................................................................    vi

DAFTAR ISI.......................................................................................................    ix

DAFTAR TABEL...............................................................................................    xi

DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xiv

 

 

BAB   I     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah...............................................................     1

B.  Identifikasi Masalah Penelitian....................................................     6

C.  Pembatasan Masalah Penelitian...................................................     6

D.  Perumusan Masalah Penelitian.....................................................     6

E.   Tujuan Penelitian..........................................................................     7

F.   Kegunaan Hasil Penelitian...........................................................     7

BAB    II   KERANGKA TEORITIK

A.  Deskripsi Teori.............................................................................     9

1.   Kompetensi Sosial Guru..........................................................     9

2.   Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah............................   20

3.   Lingkungan Kerja....................................................................   30

B.  Penelitian yang Relevan...............................................................   35

C.  Kerangka Berpikir........................................................................   38

1.   Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Sosial Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................                  38

2.   Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ........................................   40

3.   Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah terhadap Lingkungan Kerja Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................                  42

D.  Hipotesis Penelitian......................................................................   43

BAB    III METODOLOGI  PENELITIAN                                                            

A.  Tempat dan Waktu Penelitian......................................................   46

B.  Metode Penelitian........................................................................   46

C.  Populasi dan Sampel Penelitian...................................................   47

D.  Instrumen Pengumpulan Data......................................................   51

E.   Teknik Analisis Data....................................................................   65

F.   Hipotesis Statistik........................................................................   68

BAB    IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Data.............................................................................    70

B.  Uji Prasyarat Analisis..................................................................    80

C.  Pengujian Hipotesis.....................................................................    84

D.  Pembahasan.................................................................................    99

BAB    V   KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan ................................................................................. 104

B.  Implikasi ...................................................................................... 105

C.  Saran ........................................................................................... 106

DAFTAR PUSTAKA

 


DAFTAR TABEL

Tabel                                                                                                           Halaman

Tabel      3.1     Waktu Kegiatan Penelitian.......................................................      45

Tabel      3.2     Data Tenaga Pendidik di SD Negeri Kecamatan ............................              47

Tabel      3.3     Jumlah Sampel Penelitian .........................................................      49

Tabel      3.4     Instrumen Variabel Kompetensi Sosial Guru (Y).....................      54

Tabel      3.5     Instrumen Variabel Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah (X1)                       58

Tabel      3.6     Instrumen Variabel Lingkungan Kerja (X2).............................      62

Tabel      3.7     Hasil Uji Validitas Instrumen...................................................      64

Tabel      3.8     Hasil Uji Reliabilitas Instrumen................................................      65

Tabel      4.1     Distrubusi Statistik Variabel Kompetensi Sosial......................      70

Tabel      4.2     Distrubusi Frekuensi Variabel Kompetensi Sosial....................      71

Tabel      4.3     Distrubusi Statistik Variabel Kepemimpinan Situasional.........      74

Tabel      4.4     Distrubusi Frekuensi Variabel Kepemimpinan Situasional.......      74

Tabel      4.5     Distrubusi Statistik Variabel Lingkungan Kerja.......................      77

Tabel      4.6     Distrubusi Frekuensi Variabel Lingkungan Kerja.....................      77

Tabel      4.7     Hasil Uji Normalitas .................................................................      80

Tabel      4.8     Hasil Uji Linearitas X1 Terhadap Y.........................................      82                       

Tabel      4.9     Hasil Uji Linearitas X2 Terhadap Y.........................................      83

Tabel      4.10   Hasil Uji Multikolonieritas........................................................      84

Tabel      4.11   Hasil Korelasi Variabel X1, X2 dan Y....................................      85

Tabel      4.12   Koefisien Determinasi Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) terhadap Kompetensi Sosial Guru  (Y)....................................................      87

Tabel      4.13   Uji ANOVA.............................................................................      87

Tabel      4.14   Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) terhadap variabel Kompetensi Sosial (Y)..............................................................      88

Tabel      4.15 Koefisien Determinasi Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)   .................................................................................................. 89

Tabel      4.16   Uji ANOVA.............................................................................      90

Tabel      4.16 Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)               94

Tabel      4.17 Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Kompetensi Sosial (Y)                92

Tabel      4.18   Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)              94

Tabel      4.19   Rangkuman Hasil Koefisien Jalur.............................................      95

Tabel      4.20   Koefisien Determinasi...............................................................      98

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Gambar                                                                                                      Halaman

Gambar    2.1 Model Kepemimpinan Situasonal Hersey-Blancard.................      24

Gambar    2.2 Tingkat Kematangan Bawahan.................................................      26

Gambar    3.1 Konstelasi Pengaruh antar Variabel..........................................      46

Gambar    3.2 Hubungan Substruktur X1, X2 dan X3....................................      68

Gambar    4.1 Histogram Data Kompetensi Sosial..........................................      73

Gambar    4.3 Histogram Data Lingkungan Kerja...........................................      76

Gambar    4.4  Grafik Normal Plot Hasil Uji Normalitas.................................      79

Gambar    4.5 Koefisien Pengaruh Jalur X1, X2, dan Y.................................      81

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran                                                                                                   Halaman

Lampiran    1   Kuesioner..................................................................................    111

Lampiran    2   Hasil Uji Coba Angket..............................................................    131

Lampiran    3   Data Hasil Penelitian.................................................................    203

Lampiran    4   Hasil SPSS................................................................................    224

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Kompetensi dikatakan semakna dengan kemampuan. Kemampuan itu sendiri merupakan hasil dari perpaduan antara pendidikan, pelatihan, dan pengalaman yang diperoleh seseorang. Kemampuan atau kompetensi akan menjadi atribut atau merk yang melekat dalam diri seseorang. Kompetensi merupakan komponen terpenting yang tidak terpisahkan dari eksistensi guru dalam melaksanakan profesinya. Kompetensi bagi guru meliputi, kompetensi pendagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru adalah kompetensi sosial.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah (Wibowo, 2012)

Arikunto juga memberikan argumennya mengenai kompetensi sosial. Menurut beliau, kompetensi sosial haruslah dimiliki seorang guru, yang mana guru harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, kepala sekolah, dan masyarakat sekitarnya. Seorang guru harus berusaha mengembangkan komunikasi dengan orang tua peserta didik sehingga terjalin komunikasi dua arah yang berkelanjutan (Arikunto, 2021).

Kompetensi sosial guru memiliki dampak global yang signifikan karena guru berperan sebagai agen perubahan dalam membentuk generasi mendatang. Guru perlu memiliki keterampilan sosial yang baik untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung pertumbuhan siswa. Isu ini sering kali mencakup pembahasan tentang pelatihan dan pengembangan guru untuk meningkatkan keterampilan ini. Seiring dengan pandemi COVID-19, banyak guru harus beradaptasi dengan pengajaran jarak jauh. Ini menempatkan tekanan tambahan pada kompetensi sosial guru untuk menjaga keterlibatan siswa dan membangun hubungan secara virtual. Guru perlu mampu memahami kebutuhan sosial dan emosional siswa mereka. Isu ini melibatkan upaya untuk memberikan dukungan yang tepat bagi siswa yang mungkin menghadapi tantangan sosial atau emosional.

Perkembangan teknologi membawa tantangan baru dan peluang dalam pendidikan. Guru perlu dapat mengintegrasikan teknologi dengan baik sambil tetap membangun hubungan sosial yang kuat dengan siswa. Teknologi dan literasi digital salah satu aspek yang harus dipahami seorang guru, karena  guru perlu memiliki keterampilan teknologi untuk mengintegrasikan alat-alat digital ke dalam pembelajaran. Literasi digital juga diperlukan agar guru dapat membimbing siswa dalam menggunakan teknologi secara etis dan efektif. Kemampuan dalam kolaborasi dan kemitraan, dimana seorang guru harus dapat bekerja sama dengan rekan sejawat, orang tua, dan pihak lain untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Kolaborasi ini tidak hanya lokal tetapi juga global, memanfaatkan teknologi untuk terhubung dengan guru di seluruh dunia. Seorang guru diharapkan pula mampu meningkatkan keterampilan kritis dan kreativitasnya, yaitu mampu mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas untuk menghadapi kompleksitas tantangan global. Peningkatan kompetensi sosial guru dalam konteks isu-isu global ini dapat memberikan kontribusi besar terhadap pembentukan generasi yang lebih baik dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Keberadaan kepala sekolah dalam lembaga pendidikan sangat penting, yaitu untuk mencapai tujuan organisasi tersebut. Oleh karena itu, setiap kepala sekolah memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda di masing-masing sekolah. Seorang kepala sekolah yang selalu mendukung para guru dalam melaksanakan tugasnya, kemudian disertai juga dengan kondisi lingkungan kerja yang sesuai dengan harapan guru. Hal tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap guru tersebut. Guru akan merasa dihargai dan didukung untuk mengembangkan kemampuannya agar menjadi guru yang berkompeten, namun guru harus memiliki kemampuan dan keahlian. Hal tersebut akan membuat guru termotivasi untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya agar menjadi guru yang berkompeten.

Kepemimpinan yang dikombinasikan dengan situasi akan mampu menentukan keberhasilan pelaksanaan kerja maka dalam menghadapi situasi yang berbeda diperlukan perilaku atau gaya kepemimpinan yang berbeda-beda. Kepala sekolah sebagai pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya harus dapat beradaptasi dengan lingkungan atau situasi sekolah sehingga semua sumber daya yang ada dapat diberdayakan dengan baik dalam mencapai tujuan sekolah. Kepala sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam sekolah, terutama mengenai kesejahteraan para guru. Selain itu, lingkungan kerja yang mendukung juga memiliki peran yang sangat penting bagi guru. Kepala sekolah yang kepemimpinannya disukai guru dan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, maka akan membuat guru merasa betah untuk bekerja di sekolah tersebut. Hal tersebut akan mempengaruhi perasaan yang dirasakan oleh guru, sehingga guru akan merasa puas bekerja di sekolah tersebut.

Berdasarkan beberapa penelitian disimpulkan bahwa ada pengaruh positif kompetensi sosial guru yang dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru (Rusdiana, 2018) dan terdapat pengaruh secara langsung lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru (Apriliana, 2022).

Guru mungkin mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, baik dengan siswa, rekan sejawat, maupun orang tua. Ini dapat mempengaruhi pemahaman siswa terhadap materi pelajaran serta hubungan antara guru, siswa, dan lingkungan sekolah. Guru yang kurang memiliki kompetensi sosial mungkin kesulitan memahami perbedaan individual dan kebutuhan siswa mereka. Ini bisa memengaruhi cara mereka menyampaikan materi pelajaran agar sesuai dengan kebutuhan dan tingkat pemahaman siswa. Kompetensi sosial juga melibatkan kemampuan untuk menangani konflik antara siswa, memberikan dukungan, dan memfasilitasi solusi.

Guru yang kurang terampil dalam hal ini dapat kesulitan menjaga ketertiban di kelas dan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Kemampuan untuk bekerja sama dengan rekan sejawat dan pihak lain di sekolah juga sangatlah penting. Guru yang kurang memiliki kompetensi sosial mungkin kesulitan dalam bekerja sama untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih baik, membagi sumber daya, atau menghadapi masalah bersama. Kompetensi sosial juga melibatkan hubungan dengan orang tua siswa, jika kurang terampil secara sosial mungkin kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang tua, yang dapat mempengaruhi dukungan dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak-anak mereka.

Lingkungan kerja atau lingkungan organisasi tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan dan dapat mempengaruhi perilaku dalam organisasi. Lingkungan organisasi dapat menyenangkan tetapi dapat pula tidak menyenangkan, karena lingkungan organisasi dibangun melalui kegiatan dan mempunyai akibat atau dampak bagi organisasi. Karena kompetensi guru dapat dipengaruhi dari faktor kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja di sekolah, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti tentang ”Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................”.

 

 

 

B.   Identifikasi Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

1.    Kepemimpinan kepala sekolah dalam mempengaruhi kinerja pendidik perlu ditingkatkan.

2.    Kurangnya inisiatif kepala sekolah dan kesadaran guru dalam mengadakan pembinaan guna meningkatkan kompetensi sosial bagi guru.

3.    Komunikasi antar personal belum terjalin dengan baik.

4.    Kurangnya keterlibatan orang tua siswa.

5.    Guru kurang berpartisipatif dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar sekolah.

6.    Program diklat untuk pengembangan kompetensi pendidik frekuensinya masih kurang.

7.    Sarana prasarana yang tersedia di sekolah belum dimanfaatkan secara maksimal.

C.  Pembatasan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, pembatasan masalah dalam penelitian ini penulis membatasi masalah Kompetensi Sosial Guru (Y) sebagai variabel terikat, Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) sebagai variabel bebas.

D.  Perumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 

1.    Apakah terdapat pengaruh positif kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................?

2.    Apakah terdapat pengaruh positif lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................?

3.    Apakah terdapat pengaruh positif kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap lingkungan kerja di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................?

E.  Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1.    Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

2.    Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

3.    Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap lingkungan kerja di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

F.   Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian tersebut dapat memberikan manfaat dan kegunaan, sebagai berikut:

1.    Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menyumbangkan pengembangan keilmuan untuk peneliti selanjutnya, terutama yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi sosial guru di sekolah.

2.    Praktis

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi bagi para pendidik, praktisi pendidikan, dan pengambil kebijakan khususnya kebijakan yang berkenaan dengan upaya meningkatkan kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KERANGKA TEORETIK

A.  Deskripsi Teori

1.    Kompetensi Sosial Guru

a.    Pengertian Kompetensi Sosial Guru

Guru merupakan suatu profesi yang ada pada lembaga pendidikan. Maka sudah menjadi kewajiban seorang guru mempunyai kemampuan pada bidangnya yang disebut dengan kompetensi, meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Selain itu guru juga berperan penting dalam proses pendidikan serta memiliki kedudukan yang terhormat dikalangan masyarakat. Sehingga perkembangan peserta didik mulai dari kognitif, afektif, dan psikomotorik menjadi tanggung jawab guru demi terwujudnya tujuan pendidikan itu sendiri. Megingat akan pentingnya peran seorang guru, maka tidak lepas dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Demi terwujudnya sebuah tujuan, harapan dan cita-cita diperlukan adanya kerjasama yang baik. Mengingat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Maka kompetensi sosial guru sangat harus diperhatikan. Kompetensi sosial guru mempunyai definisi yang berbeda, maka perlu diartikan secara terpisah.

Pada dasarnya kompetensi diartikan sebagai kemampuan atau kecakapan. Selanjutnya kompetensi sebagai perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yng dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Pengertian kompetensi menurut beberapa ahli, yaitu sebagai berikut:

Spencer dalam Moeheriono (2014) mengemukakan bahwa:

“Kompetensi adalah karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja individu dalam pekerjannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki hubungan kausal atau sebagai sebab-akibat dengan kriteria yang dijadikan acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior ditempat kerja”.

Sedangkan McClelland dalam Rivai (2013) mendefinisikan bahwa:

“Kompetensi sebagai karakteristik yang mendasar yang dimiliki seseorang yang berpengaruh langsung terhadap atau dapat memprediksi kinerja yang sangat baik, dengan kata lain, kompetensi adalah apa yang para outstanding performers lakukan lebih sering pada lebih banyak situasi dengan hasil yang lebih baik dari pada apa yang dilakukan para average performers”.

Kemudian Marwansyah (2016)  mengemukakan bahwa :

“Kompetensi adalah perpaduan pengetahuan, keterampilan, sikap dan karakteristik pribadi lainnya yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan dalam sebuah pekerjaan, yang bisa diukur dengan menggunakan standar yang telah disepakati, dan yang dapat ditingkatkan melalui pelatihan dan pengembangan”. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat dikatakan bahwa kompetensi adalah sebuah karakteristik seseorang yang berkaitan secara langsung dengan motivasi kerja yang membuat orang tersebut mampu menjalankan tugasnya dalam organisasi.

Menurut Sudjana (2015)  memahami kompetensi sebagai suatu kemampuan yang disyaratkan untuk memangku profesi. Senada dengan Sudjana, Sardiman (2016) mengartikan kompetensi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang berkenaan dengan tugasnya. Kedua definisi tersebut menjelaskan bahwa kompetensi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seseorang, dalam hal ini oleh guru.

Kesimpulan yang dapat diambil dari beberapa pengertian tentang kompetensi di atas adalah kompetensi merupakan sesuatu kemampuan, kewenangan, kekuasaan, dan kecakapan yang dimiliki oleh seseorang dalam melaksanakan suatu kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya untuk menentukan suatu tujuan.

Menurut Jamaluddin, guru adalah pendidik, yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu berdiri sendiri dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah khalifah di muka bumi, sebagai makhluk sosial dan individu yang sanggup berdiri sendiri (Fahruddin, 2014). Kompetensi guru sangat diperlukan terutama menghadapi perkembangan pesat era digital saat ini. Guru memegang peran kunci dalam mencapai tujuan pendidikan.  Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi guru juga merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Dengan gambaran pengertian tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya(Fahruddin, 2014).

Kompetensi guru mengacu kepada kemampuan guru yang diwujudkan dalam pikiran maupun Tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh Masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas pendidikan setelah mengalami proses pembelajaran tertentu. Seorang guru dituntut memiliki kompetensi atau kemampuan dalam ilmu yang dimilikinya, kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksi sosial baik dengan peserta didik, sesama teman sejawat dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas.

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain; guru dan manajemen sekolah perlu mendorong agar siswa dapat terbuka menyampaikan permasalahan yang dihadapinya kepada guru baik masalah pribadi, belajar dan sosial lainnya. Sehingga kerjasama yang baik dapat terbangun dan penyelesaian masalah segera teratasi. Salah satu keterampilan yang perlu dimiliki untuk itu adalah keterampilan mendengarkan. Guru harus memiliki teknik mengajar yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dan ini dapat dilakukan dengan meningkatkan keterampilan sosial siswa (Rosni, 2021).

Kompetensi sosial menurut Muchith, adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan hubungan atau interkasi dengan orang lain. Artinya guru harus dituntut memiliki keterampilan berinteraksi dengan masyarakat khususnya dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan problem masyarakat (Sakti, 2017).

Kompetensi sosial guru adalah kemampuan, kecakapan, keterampilan dan kekuasaan seorang guru sebagai pendidik dalam melaksanakan tugas kependidikannya sehari-hari yang tercermin dalam pergaulan, interaksi, sosialisasi dan komunikasi dengan siswa, sesama pendidik, kepala sekolah, tenaga kependidikan, orangtua siswa, serta masyarakat sekitar (Vianora et al., 2022).

Menurut Mulyasa, kompetensi sosial guru ialah salah satu kemampuan yang dimiliki guru untuk mempersiapkan siswa menjadi bagian dari masyarakat yang mempunyai karakter, berwawasan luas, sikap sosial positif serta kemampuan untuk mendidik, membimbing siswa dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang (Puspitasari, 2023).

Berdasarkan penjelasan teori diatas, dapat disimpulkan kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

b.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Kompetensi Sosial Guru

Kompetensi guru dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dengan mengadopsi pendapat Sutermeister dikutip oleh Widoyoko (2016)  kompetensi guru dipengaruhi oleh faktor diri atau faktor internal dan faktor situasional atau faktor eksternal.

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri individu guru yang meliputi: latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar, penataran dan pelatihan, etos kerja, dan sebagainya, sedangkan faktor situasional (eksternal) yang dapat mempengaruhi kompetensi guru meliputi: lingkungan dan kebijaksanaan organisasi, lingkungan kerja, sarana dan prasarana, gaji, lingkungan sosial dan sebagainya.

Kompetensi sosial guru dipengaruhi oleh berbagai faktor yang kompleks. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kompetensi sosial guru antara lain sebagai berikut:

1)        Pendidikan dan Pelatihan: Tingkat pendidikan dan kualitas pelatihan guru dapat berpengaruh pada kemampuan mereka dalam mengembangkan kompetensi sosial. Pelatihan yang baik dapat membekali guru dengan keterampilan interpersonal dan kemampuan komunikasi yang efektif.

2)        Pengalaman Mengajar: Pengalaman mengajar dapat meningkatkan kompetensi sosial guru. Guru yang memiliki pengalaman mengajar yang beragam cenderung lebih mampu berinteraksi dengan siswa, orang tua, dan rekan kerja.

3)        Kemampuan Komunikasi: Kemampuan berkomunikasi dengan baik sangat penting. Guru yang dapat menyampaikan informasi dengan jelas, mendengarkan dengan baik, dan berkomunikasi dengan efektif dapat membangun hubungan yang positif dengan siswa, rekan kerja, dan orang tua.

4)        Empati: Kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan siswa, serta merespons dengan empati, merupakan aspek penting dari kompetensi sosial. Guru yang empatik dapat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan sosial dan emosional siswa.

5)        Kesadaran Diri: Guru yang memiliki kesadaran diri yang baik mampu memahami kekuatan dan kelemahan pribadi mereka. Hal ini dapat membantu mereka mengelola stres, merespon secara konstruktif terhadap tantangan, dan terus mengembangkan diri.

6)        Kerjasama Tim: Kemampuan untuk bekerja sama dalam tim sangat penting dalam lingkungan sekolah. Guru yang dapat berkolaborasi dengan rekan kerja, administrasi sekolah, dan orang tua cenderung lebih sukses dalam membangun hubungan sosial yang positif.

7)        Pemahaman Kebutuhan Siswa: Guru yang dapat memahami kebutuhan individual siswa dan merancang pembelajaran yang memperhatikan perbedaan tersebut dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dengan siswa dan mendukung perkembangan sosial mereka.

8)        Sikap Positif: Sikap guru dapat memengaruhi atmosfer kelas dan interaksi sosial. Guru yang memiliki sikap positif cenderung menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan sosial siswa.

9)        Pemahaman Kebudayaan dan Keragaman: Pemahaman terhadap beragam budaya dan latar belakang siswa dapat meningkatkan kemampuan guru untuk berinteraksi dengan kelompok siswa yang beragam.

10)    Pendekatan Pembelajaran yang Bersifat Sosial: Menggunakan pendekatan pembelajaran yang mendorong interaksi sosial dapat membantu guru dalam mengembangkan kompetensi sosial siswa dan membangun hubungan yang positif di kelas.

Penting untuk diingat bahwa faktor-faktor ini saling terkait dan kompleks, dan pengembangan kompetensi sosial guru melibatkan perpaduan berbagai faktor-faktor tersebut.

c.  Indikator Kompetensi Sosial Guru

Kemampuan sosial dirinci menjadi beberapa dimensi faktor, yaitu sebagai berikut : bersikap inklusif dan bertindak obyektif, beradaptasi dengan lingkungan tempat bertugas dan dengan lingkungan masyarakat, berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun kepada orang lain secara lisan maupun tulisan tulisan, serta berkomunikasi secara empirik dan santun kepada masyarakat (Janawi, 2019).

1)        Kemampuan guru dalam bersikap dan bertindak objektif saat memberikan atau menyampaikan materi.

Bersikap dan bertindak objektif yang dimaksud adalah kemampuan seorang guru untuk selalu berkomunikasi dan selalu bergaul dengan peserta didik dan dalam berkomunikasi terutama saat menyampaikan materi harus jelas dan mudah dipahami. Bagi siswa, seorang guru adalah seorang pembimbing, motivator, fasilitator, penolong, dan teman dalam proses pendidikan.Namun, guru tidak selamanya berada disamping peserta didik. Bertindak objektif disini berarti guru dituntut untuk berlaku bijaksana, arif, dan adil tehadap peserta didik. Kemudian guru juga dituntut untuk objektif dalam perkataan dan perbuatan, objektif dalam bersikap, serta objektif dalam menilai hasil belajar. Bersikap bertindak objektif terhadap peserta didik sesungguhnya bagian dari upaya transformasi agar suatu ketika anak didik mampu menghadapi berbagai persoalan yang dialaminya. Istansi Surviani menyatakan bahwa salah satu bentuk dari belajar yang perlu dikembangkan ialah belajar sikap. Tujuannya ialah mendapatkan kemampuan menerima, merespon, menghargai, menghayati dan menginterprestasikan objek-objek atau nilai nilai moral.

2)        Kemampuan guru beradaptasi dalam menjalin hubungan baik dalam proses belajar mengajar dan interaksi di kelas

Seorang guru harus melakukan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, baik lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Pada lingkungan sekolah, guru diharapkan dapat beradaptasi sesama tenaga pendidik dan menyesuiankan diri denagn peserta didik dalam prosesbelajar mengajar.

3)        Kemampuan guru dalam memotivasi belajar siswa dengan berkomunikasi secara Efektif

Kompetensi sosial jelas terlihat dalam berkomunikasi secara efektif. Guru sebagai inspirator dan motivator dalam proses pembelajaran memiliki peran yang sanagt penting dalam melakukan komunikasi yang efektif. Berkomunikasi akan di anggap efektif jika guru dapat memahami karakteristik sosial dan lingkungan yang umumnya berbeda-beda.

Menurut Mulyasa (2022) dimensi kompetensi sosial sebagai berikut:

1)        Berkomunikasi secara lisan tulisan dan isyarat.

2)        Menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional.

3)        Bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik.

4)        Bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

Menurut pendapat lain Jihad (2013) mengatakan kompetensi sosial memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut:

1)        Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, dengan indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik; guru bisa memahami keinginan dan harapan peserta didik.

2)        Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan, misalnya bisa berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapi peserta didik serta solusinya.

3)        Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua atau wali peserta didik dan masyarakat sekitar. Contohnya, guru bisa memberikan informasi tentang bakat, minat, dan kemampuan peserta didik kepada orang tua peserta didik

Kompetensi sosial seorang guru merupakan modal dasar bagi guru yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas keguruannya secara profesional. Berdasarkan dimensi pengukuran kompetensi sosial guru yang telah diuraikan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pengukuran kompetensi sosial guru dalam penelitian ini dengan dimensi:  (1) Kemampuan berkomunikasi dengan efektif, (2) Kemampuan membangun hubungan positif, (3)  Kemampuan mengelola konflik, (4) Pengetahuan tentang keragaman budaya, (5) Kemampuan memfasilitasi kerja sama, (6) Kemampuan manajemen kelas yang efektif, (7) Kemampuan memecahkan masalah sosial, (8) Kemampuan beradaptasi dengan beragam kebutuhan siswa

2.    Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah

a.    Pengertian Kepemimpinan Situasional

Kepemimpinan situasional merupakan teori kepemimpinan yang dikembangkan oleh Hersey dan Blanchard. Kepemimpinan situasional ini lebih menekankan pada kriteria–kriteria pemimpin dan situasi. Kepemimpinan situasional adalah dimana kepemimpinan tersebut berusaha menyatukan bersama pemikiran-pemikiran para tokoh utama untuk menjadikan perilaku yang berdasarkan pada situasi yang ada dan berfokus pada bawahannya atau anggota pegawai lainnya (Wahab & Umiarso, 2017).

Penerapan kepemimpinan situasional pada lembaga pendidikan merupakan kepemimpinan yang cenderung fleksibel dan efektif untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan, karena kepemimpinan tersebut bergantung pada situasi serta kondisi suatu institusi pendidikan. Kepemimpinan situasional ini mempertimbangkan pada suatu kecerdasan anggota organisasi. Dalam kepemimpinan situasional ini maka kepala sekolah harus mampu mengarahkan dan memberi dukungan kepada bawahannya, serta dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai perubahan pada persoalan–persoalan yang ada di lembaga pendidikan yang dibawah pimpinannya.

Ada beberapa pengertian kepemimpinan situasional menurut para ahli, antara lain sebagai berikut:

Menurut Robbins kepemimpinan situasional merupakan kepemimpinan yang bertitik fokuskan pada situasi, kondisi, kesiapan dan ketepatan anggota. Dimana ketepatan anggota yang dimaksud adalah menurut Budiwanto yaitu, kemampuan seseorang untuk mengarahkan suatu gerak terhadap sasaran yang sesuai dengan tujuan (Fauzia et al., 2018).

Kepemimpinan situasional menurut Gibson adalah kepemimpinan yang digunakan seorang pemimpin untuk mengetahui kebiasaan anggotanya dalam situasi kondisi yang ada dilingkungannya.  Wahjosumidjo (2013)menyatakan bahwa gaya kepemimpinan situasional mengandung pokok- pokok pikiran sebagai berikut:

1)   Pemimpin itu berada dalam melaksanakan tugasnya dipengaruhi faktor–faktor situasional yaitu jenis pekerjaan,lingkungan organisasi, karakteristik individu yang terlibat dalam organisasi.

2)   Perilaku kepemimpinan yang paling efektif itulah perilaku kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan bawahan.

3)   Pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang selalu membantu bawahan dalam pengembangan dirinya dari tidak siap menjadi siap.

4)   Perilaku kepemimpinan cenderung berbeda–beda dari situasi ke situasi lain. Oleh karena itu, dalam kepemimpinan situasional penting bagi setiap pemimpin untuk mengadakan penentuan dengan baik terhadap situasi.

5)   Pola pikir kepemimpinan berbeda–beda sesuai dengan situasi yang ada.

Berdasarkan pengertian kepemimpinan situasional diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan situasional ialah pola perilaku yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin pada saat ia memengaruhi aktifitas orang lain baik sebagai individu maupun dalam kelompok.

b.    Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah

Kepemimpinan situasional kepala sekolah dianggap menjadi salah satu gaya kepemimpinan yang efektif, karena gaya kepemimpinan ini menekankan fleksibilitas dan keterampilan dalam mengkombinasikan  gaya kepemimpinan seorang kepala sekolah bergantung pada situasi yang sedang dihadapi. Menurut Mawardi kepemimpinan situasional kepala sekolah didasarkan pada keterampilan dalam memberikan intensitas petunjuk, arahan, dan dukungan sosioemosional oleh kepala sekolah kepada bawahan atau guru dan tenaga kependidikan dengan memperhatikan tingkat kesiapan dan kematangan mereka (Wahyuningsih & Trihantoyo, 2021).

Kepemimpinan situasional kepala sekolah sangat berperan penting dan aktif dalam setiap kegiatan sekolah. Kepala sekolah bertindak sebagai inisiator dan motivator bagi warga sekolah salah satunya dalam merumuskan program. Kepala sekolah juga selalu melibatkan bawahan dalam suatu kegiatan baik saat melakukan rencana kegiatan sampai dengan pelaksana program yang telah direncanakan. Kepala sekolah juga harus mempunyai kemampuan yang sangat bagus dalam memberikan kesempatan untuk mengemukakan pendapat terhadap bawahan, memberikan pelaksanaan tugas secara merata dan sesuai kemampuannya, menjadikan kepala sekolah tidak banyak ikut campur dalam pelaksanaan program. Kepala sekolah juga harus mampu memberikan arahan yang tegas dan jelas kepada bawahan, sehingga mempunyai tanggung jawab sendiri (Fitriatin, 2020).

Berdasarkan teori gaya kepemimpinan situasional diatas, maka bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa kepemimpinan situasional kepala sekolah ialah pola perilaku yang diperlihatkan oleh seorang kepala sekolah pada saat ia mempengaruhi aktivitas orang lain baik sebagai individu maupun dalam kelompok.

c.    Gaya Dasar Kepemimpinan Situasional.

Hersey dan Blanchard dalam Toha (2023) menyatakan bahwa terdapat empat gaya dasar kepemimpinan situasional, yakni bisa dilihat pada gambar berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Model Kepemimpinan Situasonal Hersey-Blancard

Berdasar gambar di atas dapat dipahami bahwa empat dasar gaya kepemimpinan merupakan sesuatu yang amat penting bagi seorang pemimpin dalam hubungannya dengan perilaku pemimpin itu sendiri dalam mempengaruhi bawahannya dalam hal perilaku mengarahkan dan perilaku mendukung yang nantinya akan melibatkan hubungan kerja yang berorientasi pada tugas.

1)   Perilaku mengarahkan adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan dalam komunikasi satu arah. Bentuk pengarahan dalam komunikasi satu arah ini antara lain, menetapkan peranan yang seharusnya dilakukan pengikut, memberitahukan pengikut tentang apa yang seharusnya biasa dikerjakan, dimana melakukan hal tersebut, bagaimana melakukannya, dan melakukan pengawasan secara ketat kepada pengikutnya.

2)   Perilaku mendukung adalah sejauh mana seorang pemimpin melibatkan diri dalam komunikasi dua arah, misalnya mendengar, menyediakan dukungan dan dorongan, memudahkan interaksi, dan melibatkan pengikut dalam pengambilan keputusan.

Dimensi pengukuran gaya kepemimpinan situasional menurut
Hersey dan Blanchard diidentifikasikan dalam 4 dimensi/bentuk yaitu:

1) G1 atau gaya Intruksi, yaitu jika seorang pemimpin banyak memberikan perintah, pengawasan dan arahan. Pemimpin menetapkan peranan bawahan, apa tugas mereka, bagaimana cara melaksanakan, kapan dan dimana dilaksanakan.keputusan diprakarsai oleh pemimpin dan pelaksanaan diawasi secara ketat dan komunikasi hanya satu arah.

2) G2 atau Gaya konsultasi/menjual, yaitu jika seorang pemimpin berprilaku “menjual”. pemimpin masih memberikan direksi yang intensif kepada bawahannya, karena ia dipandang belum mampu, tetapi mengarah kepada kadar suportif yang tinggi karena adanya kemauan yang tinggi dari bawahan.

3) G3 atau Gaya Partisipasi, yaitu jika seorang pemimpin dan yang dipimpin terdapat saling tukar menukar ide/gagasan pengambilan keputusan. Pada gaya ini, bawahan mempunyai kemampuan, tetapi tidak ada motivasi untuk berbuat sesuatu. Pemimpin harus melakukan komunikasi dua arah, secara aktif mendengar dan merespon kesukaran yang dihadapinya. Pemimpin berusaha  mendorong bawahan menggunakan kemampuan yang dimiliki secara optimal. Bawahan banyak dilibatkan dalam proses pembuatan keputusan. Pemimpin banyak mendengar sara-saran bawahan dan tukar pendapat dalam pengambilan keputusan, mengundang guru untuk rapat.

4) G4 atau Gaya Pendelegasian, yaitu jika seorang pemimpin tidak perlu banyak memberikan pengarahan dan support, tanggung jawab  diserahkan kepada bawahan. Mereka diberi kepercayaan untuk melaksanakan sendiri rencana, menetapkan prosedur dan teknis kegiatan. Bawahan diberi kebebasan melakukan tugas menurut cara mereka sendiri, karena mereka memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas tanggungjawab. Masing-masing gaya kepemimpinan yang ditunjukan dengan mempertimbangkan tingkat kematangan bawahan.

Kontinum kematangan bawahan menurut Hersey dan Blanchard dibagi atas empat kategori dan masing-masing tingkatan dilambangkan dengan huruf M (maturity) yaitu M1, M2, M3 dan M4 sebagaimana gambar dibawah ini:

Mampu dan
mau

Mampu tetapi
tidak mau

Tidak mampu
tetapi mau

Tidak mampu
dan tidak mau

M4

M3

M2

M1

 

Gambar 2.2 Tingkat Kematangan Bawahan

Menurut Gibson, kematangan (maturity) diartikan sebagai kemauan individu atau kelompok memikul tanggung jawab untuk mengarahkan perilaku mereka sendiri. Sedangkan Hersey & Blanchard menyatakan bahwa kematangan sebagai kemampuan dan kemauan orang untuk mengambil tanggung jawab untuk mengukur perilaku dirinya berkaitan dengan tugas-tugas spesifik yang harus dilaksanakan (Toha, 2023).

Berdasarkan penjelasan tersebut diatas memperlihatkan adanya
empat bentuk gaya dasar kepemimpinan situasional. Pada penelitian ini
aspek penilaian yang digunakan untuk mengetahui gaya kepemimpinan
kepala sekolah adalah berdasarkan pendapat Hersey dan Blanchard diatas
yakni gaya instruktif, gaya konsultatif, gaya partisipatif, dan gaya
delegatif
(Dewi, 2018).

d.   Ciri–Ciri Kepemimpinan Situasional

Seorang pemimpin jika ingin menjalin hubungan erat dengan bawahan serta mengembangkan potensinya, maka sebaiknya menggunakan gaya kepemimpinan situasional atau situational leadership. Kepemimpinan situasional memiliki ciri–ciri sebagai berikut:

1)        Pemimpin memiliki sifat yang ramah, luwes, dan supel, dimana seorang pemimpin mempunyai kepribadian yang mudah beradaptasi, mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan.

2)        Memiliki ilmu pengetahuan yang luas serta wawasan yang luas Seorang pemimpin harus memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas agar dapat memimpin dan mengarahkan bawahannya dengan baik dan benar. Jika seorang pemimpin tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup luas maka tujuan yang dicapai tidak akan berhasil dengan baik.

3)        Mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungan

4)        Dapat menggerakkan pengikutnya.

5)        Memiliki komunikasi yang baik dengan bawahan.

6)        Mempunyai prinsip dan tujuan yang konsisten terhadap suatu masalah (Ramayulis & Mulyadi, 2017).

Berdasarkan ciri–ciri kepemimpinan situasional diatas, maka seorang pemimpin harus bisa menerapkan ciri–ciri tersebut didalam diri mereka untuk menciptakan hubungan baik dengan bawahannya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

e.    Indikator Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah

Kedudukan kepala sekolah sebagai pemimpin di sekolah merupakan tanggung jawab besar bagi siapapun yang menjabatnya. Kepala sekolah merupakan pemimpin yang melakukan manajemen pendidikan di setiap sekolah agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Sejalan dengan hal itu, kepala sekolah hendaknya memiliki jiwa kepemimpinan yang mampu mengarahkan, memotivasi, dan membangkitkan semangat guru, karyawan, dan siswanya. Kepala sekolah sebagai leader harus memiliki karakter khusus yaitu kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan profesional, serta pengetahuan administrasi.

Berikut adalah rincian aspek dan indikator leader dalam konteks kepemimpinan kepala sekolah:

1)        Kepribadian: Jujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil, dan teladan.

2)        Pengetahuan: Memahami kondisi tenaga kepandidikan Memahami kondisi dan karakteristik peserta didik, menyususn program pengembangan tenaga kependidikan, menerima masukan, saran, dan kritikan dari berbagai pihak untuk meningkatkan kemampuannya.

3)        Pemahaman terhadap visi dan misi sekolah: Mengembangkan visi sekolah, mengembangkan misi sekolah, dan melaksanakan program untuk mewujudkan visi dan misi sekolah ke dalam tindakan.

4)        Kemampuan mengambil keputusan: Mengambil keputusan bersama tenaga kependidikan di sekolah, mengambil keputusan untuk kepentingan internal sekolah, dan mengambil keputusan untuk kepentingan eksternal sekolah.

5)        Kemampuan berkomunikasi: Berkomunikasi secara lisan dengan tenaga kependidikan di sekolah, menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan, berkomunikasi secara langsung dengan peserta didik,dan berkomunikasi secara lisan dengan orang tua dan masyarakat sekitar.

Indikator kepemimpinan kepala sekolah harus dikuasai kepala sekolah agar kualitas pendidikan dapat sesuai dengan tujuan.  Begitu pula dengan indikator-indikator yang ada pada setiap aspek, masing-masing indikator perlu dikuasai satu per satu. Apabila aspek dan indikator sudah dikuasai seorang kepala sekolah, maka akan berdampak baik bagi sekolah masing-masing pada khusunya dan pendidikan pada umumnya. Aspek atau indikator kepemimpinan kepala sekolah tidak hanya terbatas pada tugas memimpin, namun juga hal lain yang berkaitan dengan interaksi terhadap warga sekolah dan seisinya.

Berdasarkan penjelasan tentang pengukuran kepemimpinan situasional kepala sekolah dalam penelitian ini yang menjadi dimensi pengukurannya adalah (1) pengidentifikasian situasi, (2) komunikasi efektif, (3) penyesuaian staf, (4) pengambilan keputusan kolaboratif, (50 evaluasi hasil dan (6) delegasi yang tepat.

3.    Lingkungan Kerja

a.    Pengertian Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kompetensi seorang guru dalam suatu sekolah. Lingkungan kerja yang sesuai dengan kondisi keadaan seperti suasana yang nyaman saat melakukan pekerjaan akan dapat mempengaruhi guru dalam menjalankan tugas-tugas yang efektif dan efisien.

Pengertian mengenai lingkungan kerja diungkapkan oleh Zainul dan Taufiq (2012) yang menyatakan bahwa lingkungan kerja merupakan keadaan tempat kerja pegawai baik secara fisik maupun non fisik yang dapat mempengaruhi pegawai saat bekerja. Senada dengan pendapat diatas, menurut Nitisemito (2015), lingkungan kerja sebagai segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan naik fisik maupun non fisik.

Lingkungan kerja secara umum memiliki arti sebagai tempat dimana para karyawan mengerjakan kegiatan pekerjaannya. Di tempat kerja, setiap orang tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya. Optimalisasi kinerja seseorang juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan kerja. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada di sekitar pekerja dan berdampak pada pelaksanaan tugas yang diberikan (Ferawati, 2017). Semakin baik lingkungan kerja seseorang, maka kinerja pekerjaannya akan semakin baik.

Lingkungan kerja harus dibentuk sedemikian rupa supaya tercipta hubungan kerja yang mengikat pekerja dengan lingkungan. Lingkungan kerja dapat dikatakan baik apabila para karyawannya dapat melaksanakan kegiatan bekerja dengan optimal, aman, sehat dan nyaman. Lingkungan kerja yang buruk dapat memberikan dampak yang tidak baik pula bagi perusahaan karena membuat karyawan tidak dapat bekerja secara efisien.

Menurut Sidanti (2015), lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang berada di lingkungan personal dalam berhubungan dengan pekerjaanya, atau hubungan erat lingkungan personal dengan guru, termasuk didalamnya faktor fisik maupun non fisik. Lingkungan kerja jug sebagai keseluruhan sarana prasarana kerja yang ada disekitar guru yang sedang melaksanakan pekerjaan yang dapat mempengaruhi pekerjaan itu sendiri.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah kondisi kerja yang dirasakan guru pada saat bekerja, baik yang berbentuk lingkungan fisik maupun non fisik.

b.    Dimensi dan Indikator Lingkungan Kerja

Dari hasil kajian membaca buku teks dan jurnal, ternyata menurut para ahli dimensi lingkungan kerja terdiri dari dua dimensi, yaitu (1) lingkungan kerja fisik, dan (2) lingkungan kerja non fisik. Adapun dukungan para ahli yang berpendapat mengenai dimensi lingkungan kerja yaitu Sedarmayanti (2017), yang berpendapat lingkungan kerja di perusahaan terbagi ke dalam dua dimensi yaitu : (1) lingkungan kerja fisik, dan (2) lingkungan kerja non fisik.

Di sisi lain Siagian (2015), berpendapat bahwa lingkungan kerja terdiri dari dua macam yaitu: (1) lingkungan kerja fisik, dan (2) lingkungan kerja non fisik. Sedangkan Davis dan Newstrom (1996), menyatakan ada dua dimensi lingkungan kerja yaitu: (1) lingkungan kerja fisik, dan (2) kondisi pisikologis dari lingkungan kerja. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli mengenai dimensi lingkungan kerja di atas, maka dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja dapat diukur dari dua dimensi yaitu, (1) lingkungan kerja fisik, dan (2) lingkungan kerja non fisik. Dalam penelitian ini dimensi lingkungan kerja akan merujuk ke dua dimensi dari pendapat Sedarmayanti (2017).

Menurut Sedarmayanti (2017), menyatakan bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur lingkungan kerja meliputi: (1) lingkungan kerja fisik dengan indikator, (a) peralatan kerja, dan (b) suasana kerja. (2) Lingkungan kerja non fisik dengan indikator, (a) hubungan dengan atasan, (b) hubungan dengan rekan kerja, dan (3) hubungan dengan bawahan. Di sis lain Nitisemito  (2015), mengemukakan bahwa terdapat tiga indikator lingkungan kerja yiatu: (1) lingkungan kerja fisik dengan indikator (a) suasana kerja, (b) tersedianya fasilitas kerja. Lingkungan kerja non fisik dengan indikator (a) hubungan dengan rekan kerja. Sedangkan menurut Soetjipto (2009), indikator yang digunakan untuk mengukur lingkungan kerja yaitu (1) Lingkungan kerja fisik terdiri dari enam indikator (a) pencahayaan, (b) sirkulasi udara, (c) kebisingan, (d) warna, (e) kelembaban udara, dan (f) fasilitas. (2) Lingkungan kerja non fisik terdiri dari tiga indikator (a) hubungan yang harmonis, (b) kesempatan untuk maju, dan (c) keamanan dalam pekerjaan.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dilihat secara teoritik yang terdapat pada kajian membaca buku teks dan jurnal indikator lingkungan kerja fisik terdiri dari (a) peralatan kerja, dan (b) suasana kerja, tetapi kenyataan di lapangan ada teknologi yang harus diukur ketika kita melakukan penelitian. Oleh karena itu, penulis memasukan teknologi pada indikator lingkungan kerja fisik. Jadi indikator yang digunakan untuk mengukur lingkungan kerja terdiri dari dua dimensi (1) lingkungan kerja fisik dengan indikator; (a) peralatan kerja, (b) suasana kerja, dan (c) teknologi. (2) Lingkungan kerja non fisik dengan indikator; (a) hubungan dengan atasan, (b) hubungan dengan rekan kerja, dan (c) hubungan dengan bawahan. Penelitian ini dimensi lingkungan kerja akan merujuk ke dua dimensi dari pendapat Sedarmayanti (2017) yaitu (1) Lingkungan Fisik, (2) Lingkungan Budaya, (3) Lingkungan Sosial, (4) Lingkungan Psikologis.

c.    Manfaat Lingkungan Kerja

Manfaat lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat dielesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang ditentukan. Kompetensinya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi (Arep & Hendri, 2015).

Manfaat dari lingkungan kerja yang kondusif dan baik selain meningkatnya produktivitas diantaranya meningkatkan efisiensi perusahaan dan komitmen karyawan, menurunkan anggaran jaminan kesehatan karena meningktnya kualitas kesehatan karyawan dan dan penurunan tingkat kecelakaan kerja bagi karyawan, meningkatnya rasio seleksi tenaga kerja karena meningkatnya citra perusahaan, rasa ikut memiliki perusahaan sehingga karyawan lebih bersemangat dalam melakukan tugasnya serta ikut menjzga lingkungan kerjanya.

Manfaat lingkungan kerja menurut Afandi (2018) adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktifitas kerja meningkat.sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotifasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang ditentukan.kinerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan dan tidak akan membutuhkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi.

B.   Penelitian yang Relevan

Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan. Dengan adanya penelitian terdahulu agar penulis benar-benar dapat menyusun kerangka berfikir secara ilmiah (memadukan antara asumsi teoritis dengan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar, maka penulis melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan sehingga uraian yang dibuat tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan logika. Penelitian yang relevan antara lain:

1.      Penelitian yang dilakukan oleh  Rosni Rosni (2021), Sekolah Dasar Negeri 19 Mandau Duri Kabupaten Bengkalis, Jurnal Pendidikan Indonesia, dengan judul “Kompetensi Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Di Sekolah Dasar” dengan menggunakan metode penelitian analisis deskriptif kualitatif, menunjukkan bahwa Kompetensi sosial guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di SD Negeri 19 Mandau, ditunjukan dengan jalinan komunikasi guru dengan peserta didik melalui kegiatan belajar mengajar, serta kegiatan diluar kelas melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kegiatan lainnya. Jalinan komunikasi guru dengan orang tua melalui pertemuan setiap minggunya dan tiap semester (Rosni, 2021).

2.      Penelitian yang dilakukan oleh Uswatun Khasanah, Siti Yulaeha dan Siti Aisyiah (2022), Jurnal Kewarganegaraan, penelitiannya yang berjudul “ Pengaruh Pelibatan Orang Tua dan Kompetensi Sosial Guru Terhadap Prestasi Akademik Peserta Didik Sekolah Dasar Kecamatan Moyudan Sleman” menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pelibatan orang tua dan kompetensi sosial guru secara simultan terhadap prestasi akademik peserta didik di Gugus III Kecamatan Moyudan Sleman (p < 0,05).

3.      Penelitian yang dilakukan oleh Raden Devan Suryaningrat (2016), Universitas Negeri Yogyakarta, dengan jurnal penelitiannya yang berjudul “Peningkatan Peran Kompetensi Sosial Guru terhadap Lingkungan di Sekolah” dengan menggunakan Langkah pengembangan studi Pustaka menunjukkan bahwa peran kompetensi sosial guru terhadap lingkungan di sekolah sangat perlu diketahui, karena dapat meningkatkan kualitas seorang guru dengan penerapan dan pengembangan kompetensi sosial guru tersebut di lingkungan sekolah. Guru adalah mahluk sosial yang dalam berkehidupan tidak terlepas dari kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu guru dituntut untuk memiliki kompetensi sosial guru yang memadai, terutama yang berkaitan dengan pendidikan, yang tidak terbatas pada pembelajaran di sekolah tetapi juga pada pendidikan yang terjadi dan berlangsung di masyarakat.

4.      Penelitian yang dilakukan oleh Arizqi Ihsan Pratama dan Zainab Mahfudhoh, (2021), Jurnal Pendidikan Islam Ta’dibuna, dalam penelitiannya yang berjudul “Hubungan antara lingkungan kerja dengan kompetensi sosial guru madrasah”, disimpulkan bahwa selain adanya lingkungan yang dapat menumbuhkembangkan proses pembelajaran diperlukan kompetensi dalam bersosialisasi dari seorang guru kepada siswanya. Sebab, penerapan kinerja guru yang optimal salah satunya dapat tercermin dari sejauh mana siswa mampu mengimplementasikan umpan balik yang diterima saat kegiatan pembelajaran berupa prestasi belajar yang lebih baik.

5.      Penelitian yang dilakukan oleh Reza Aditama Shelly Andari, Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, (2022), dalam jurnalnya yang berjudul “Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Pembelajaran Guru Di Era Revolusi Industri 4.0”. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau studi kepustakaan yang mana sumber data diperoleh berbagai sumber artikel dan buku-buku literatur yang relevan dengan topik pembahasan artikel. Adapun hasil dari penulisan artikel, guru diharapkan untuk memiliki kemampuan atau kompetensi pembelajaran yang efektif di era Revolusi Indusrti 4.0. kepala sekolah dapat melakukan bebrapa strategi dalam meningkatkan kompetensi pembelajaran guru diantaranya adalah dengan melakukan program pembinaan guru melalui pendidikan dan pelatihan, penguatan kemampuan guru dalam penggunaan media pembelajara berbasis virtual reality melalui kegiatan focus group discussion (FDG), pengembangan modul pembelajaran berbasis elektronik (E-Modul), pengembangan kompetensi pembelajaran dengan mengasah kemampuan literasi digital para guru.

Berdasarkan beberapa penelitian yang relevan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan dalam penelitian yang akan diteliti bahwa ada pengaruh secara langsung antara kepemimpinan situasional kepala sekolah dan lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru.

C.  Kerangka Berpikir

1.    Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Sosial Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah sangat penting dalam mendukung kompetensi seorang guru, perilaku seorang atasan (kepala sekolah) merupakan faktor utama dari kepuasan kerja. dijelaskan oleh beberapa studi yang pernah dilakukan menyimpulkan bahwa kepuasan tenaga kerja (guru) dapat ditingkatkan apabila pimpinan bersikap ramah, mendengarkan keluhan guru dan memperhatikan pendapat guru.

Kepala sekolah dapat memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan guru dalam situasi tertentu, membantu mereka mengatasi tantangan sosial yang mungkin muncul di antara rekan kerja atau siswa, memberikan bimbingan yang spesifik terkait interaksi sosial, memberikan arahan yang sesuai dengan situasi untuk memperkuat keterampilan komunikasi interpersonal guru. Dengan memahami tuntutan situasional, kepala sekolah dapat mengkomunikasikan harapan terkait kompetensi sosial guru yang relevan dengan situasi khusus, seperti pertemuan dengan orangtua atau kolaborasi antar guru.

Kepemimpinan situasional dapat menciptakan atmosfer kerja yang mendukung kolaborasi, memungkinkan guru untuk berbagi pengalaman, ide, dan mendukung satu sama lain dalam pengembangan kompetensi sosial. Kepala sekolah yang mampu mengadaptasi gaya kepemimpinan sesuai dengan dinamika situasional dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan kompetensi sosial guru, terutama dalam menghadapi tantangan atau perubahan mendadak. Kepala sekolah dapat memberikan ruang otonomi kepada guru untuk mengambil inisiatif dalam interaksi sosial, mendorong mereka untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam berinteraksi dengan rekan-rekan kerja dan siswa.

Berdasarkan uraian diatas, patut diduga ada pengaruh antara kepemimpinan situasional kepala sekolah dengan kompetensi sosial guru, melalui integrasi berbagai elemen ini, kepemimpinan situasional dapat membentuk lingkungan yang mendukung pengembangan kompetensi sosial guru, menciptakan kondisi yang optimal untuk interaksi sosial yang efektif di dalam dan di luar kelas. Dengan demikian terdapat pengaruh signifikan antara kepemimpinan situasional kepala sekolah dengan kompetensi sosial guru.

2.    Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

Lingkungan kerja berhubungan atau berpengaruh terhadap kompetensi guru karena lingkungan kerja yang menyenangkan bagi para guru melalui peningkatkan hubungan yang harmonis dengan atasan, rekan kerja, maupun bawahan, serta didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai di tempat kerja akan memberi dampat positif bagi guru, sehingga kompetensi guru dapat meningkat. Hal ini juga didukung oleh teori yang diungkapkan Rahmawati,dkk (2022), yang menyatakan lingkungan kerja yang nyaman, aman dan menyenangkan merupakan salah satu cara untuk dapat meningkatkan kompetensi para guru. Hal ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Nuryasin,dkk (2016) yang menyatakan bahwa variabel lingkungan kerja berpengaruh signifikan terhadap kompetensi guru.  Pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru, dapat terlihat dalam beberapa aspek yang membentuk pengalaman dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Lingkungan kerja yang mendorong kolaborasi antar guru melalui tim pengajar atau proyek kolaboratif dapat membantu guru mengembangkan keterampilan sosial, menciptakan kesempatan untuk berbagi ide, pengalaman, dan strategi pembelajaran.

Program pelatihan yang terstruktur dapat meningkatkan keterampilan sosial guru. Lingkungan kerja yang menyediakan akses ke pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi. Kepemimpinan yang mendukung, memberikan arahan yang jelas, dan memberikan dukungan emosional dapat menciptakan lingkungan di mana guru merasa dihargai dan termotivasi untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. Penataan ruang kerja yang mendukung interaksi sosial antar guru dapat meningkatkan peluang untuk berkomunikasi dan berkolaborasi. Akses yang memadai terhadap teknologi dan alat pembelajaran dapat membantu guru mengintegrasikan metode pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, memperkaya interaksi sosial di dalam kelas.

Lingkungan kerja yang menekankan nilai-nilai kebersamaan, keadilan, dan kerja tim dapat memotivasi guru untuk meningkatkan keterampilan sosial mereka. Kebijakan dan prosedur yang jelas dalam penanganan konflik dapat membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung, sehingga guru dapat fokus pada interaksi positif dengan sesama guru dan siswa. Penting untuk diingat bahwa pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru bersifat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berhubungan. Oleh karena itu, pendekatan holistik yang memperhatikan berbagai aspek lingkungan kerja dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan ini.

Dari hasil kajian pustaka membaca teori dan penelitian orang lain, maka diduga ada pengaruh secara langsung lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru karena lingkungan kerja yang menyenangkan dan memberikan kepuasan serta rasa aman memiliki kecenderungan mempengaruhi peningkatan kompetensi. Sedangkan jika lingkungan kerja tidak memadai dapat mengganggu konsentrasi guru dalam melaksanaakan pekerjaan dan menimbulkan kesalahan dalam bekerja dan mengakibatkan kompetensi menurun.

3.    Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah terhadap Lingkungan Kerja Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

Kepemimpinan situasional merupakan pendekatan kepemimpinan yang menekankan pada respons yang sesuai terhadap situasi-situasi tertentu. Kepemimpinan situasional memungkinkan kepala sekolah untuk beradaptasi dengan berbagai situasi di sekolah. Kepala sekolah dapat menyesuaikan gaya kepemimpinnya berdasarkan tantangan, kebutuhan, dan karakteristik khusus yang dihadapi oleh sekolah pada suatu waktu tertentu, adanya adaptabilitas dapat menciptakan lingkungan kerja yang responsif dan tanggap terhadap perubahan.

Kepemimpinan situasional mendorong kepala sekolah untuk fokus pada pengembangan individu dalam timnya. Melalui pemberian dukungan dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan individu, kepala sekolah dapat meningkatkan keterampilan dan kinerja anggota tim. Peningkatan keterampilan individu dapat menciptakan lingkungan kerja yang didukung oleh pertumbuhan dan pembelajaran bersama.

Kepala sekolah dalam kepemimpinan situasional memberikan kepercayaan dan tanggung jawab kepada anggota timnya. Dengan memberdayakan guru dan staf, kepala sekolah menciptakan lingkungan kerja yang memberikan ruang untuk kreativitas, inovasi, dan pengambilan keputusan kolektif. Pemberdayaan dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan anggota tim dalam mencapai tujuan sekolah.

Oleh karena itu, kepemimpinan situasional kepala sekolah diduga  secara positif mempengaruhi lingkungan kerja di sekolah, menciptakan atmosfer yang dinamis, responsif, dan mendukung pertumbuhan, maka dapat diduga terdapat pengaruh positif secara langsung antara kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi guru dalam meningkatkan kompetensi sosial guru.

D.  Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka berfikir tersebut, maka hipotesis sementara sebagai berikut:

1.    H0: Tidak terdapat pengaruh antara kepemimpinan situasional kepala
       sekolah terhadap kompetensi sosial guru di SD Negeri Kecamatan
       ............................ Kota .............................

H1:  Terdapat pengaruh langsung positif kepemimpinan situasional kepala
       sekolah terhadap kompetensi sosial guru di SD Negeri Kecamatan  
      
............................ Kota .............................

2.    H0: Tidak terdapat pengaruh antara lingkungan kerja terhadap kompetensi
      
sosial guru di SD Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

H1: Terdapat pengaruh langsung positif lingkungan kerja terhadap
       kompetensi sosial guru di SD Negeri Kecamatan ............................ Kota
       .............................

3.    H0: Tidak terdapat pengaruh antara kepemimpinan situasional kepala
       sekolah terhadap lingkungan kerja di SD Negeri Kecamatan ............................
       Kota .............................

H1: Terdapat pengaruh langsung positif kepemimpinan situasional kepala
       sekolah terhadap lingkungan kerja di SD Negeri Kecamatan ............................
       Kota .............................

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A.  Tempat dan Waktu Penelitian

1.    Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan ............................ Kota .............................

2.    Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan setelah proposal diseminarkan dan sudah mendapatkan surat izin untuk meneliti. Penelitian ini dilaksanakan ± dua bulan untuk memperoleh informasi, dan pengumpulan data disesuaikan dengan kebutuhan peneliti. Adapun waktu penelitian digambarkan sebagai berikut:

Tabel 3.1

Waktu Kegiatan Penelitian

 

No

Kegiatan

 Waktu Pelaksanaan

2023

2024

Sep'

Oktober

November

Desember

Januari

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Penelitian Pendahuluan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Bimbingan Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Seminar Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Revisi Seminar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Penyusunan Instrumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

Kegiatan

Waktu Pelaksanaan

Tahun 2024

Januari

Februari

Maret

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

6

Uji Coba Instrumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Pengolahan dan Analisis Data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Menyusun Tesis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Sidang Tesis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

B.  Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuntitatif dengan jenis penelitian causal study. Causal Study merupakan riset yang memiliki tujuan untuk melihat hubungan variabel terhadap objek yang diteliti lebih bersifat sebab akibat   (Kausal),  sehingga dalam penelitiannya ada variabel independen dan dependen(Sugiyono, 2020). Penelitian ini akan mencari pembuktian pengaruh antar variabel yaitu kepemimpinan situasional kepala sekolah dan lingkungan kerja terhadap kompetensi guru.  Setelah hasilnya diperoleh, kemudian akan dipaparkan secara deskriptif.

 

 

 

 

 

Gambar 3.1

Konstelasi Pengaruh antar Variabel

 

 

Keterangan :

X1 : Kepemimpinan situasional kepala sekolah

X2 : Lingkungan kerja

Y  : Kompetensi sosial guru      

C.  Populasi dan Sampel Penelitian

1.    Populasi Penelitian

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek dan subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2020). Populasi dalam penelitian ini adalah tenaga pendidik (guru) Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan ............................ Kota ............................ propinsi Banten, sebanyak 19 SD Negeri di Kecamatan ............................ dengan jumlah tenaga pendidik seluruhnya 258 orang tenaga pendidik (guru).

Tabel 3.2

Data Tenaga Pendidik di SD Negeri Kecamatan ............................

 

No.

Sekolah Dasar Negeri

Jumlah Tendik

1.     

SDN Karanganyar 1

11

2.     

SDN Karanganyar 2

11

3.     

SDN Karanganyar 3

10

4.     

SDN Karangsari 1

10

5.     

SDN Karangasari 2

11

6.     

SDN Taman Sukarya

21

7.     

SDN ............................ 1

35

8.     

SDN ............................ 2

20

9.     

SDN Sewan Kebon 1

8

10.               

SDN Kedaung Wetan 1

13

11.               

SDN Kedaung Wetan 2

7

12.               

SDN Kedaung Wetan 3

11

13.               

SDN Kedaung Wetan 5

14

14.               

SDN Kedaung Wetan 6

9

15.               

SDN Kedaung Wetan 7

10

16.               

SDN Kedaung Wetan 8

15

17.               

SDN Kedaung Wetan Baru 1

14

18.               

SDN Kedaung Wetan Baru 2

8

19.               

SDN Selapajang Jaya 1

20

 

Jumlah

258

Sumber: Data Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................, 2023

 

 

 

2.    Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi karena keterbatasan tenaga, waktu dan biaya maka peneliti dapat mengambil sampel dari populasi itu. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). Jadi sampel merupakan sebagian populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili sebuah populasi.

Sampel menurut Sugiyono(2020) adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang  dimiliki  oleh  populasi  tersebut,  sampel  yang  digunakan   harus  benar-benar mewakili  atau  representatif.  Dalam  penelitian  ini  teknik  sampling  yang  digunakan peneliti adalah probability sampling dengan teknik proporsional  random sampling atau sampel acak proporsional. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah tenaga pendidik (guru) Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan ............................ Kota .............................

Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak dari 19 SD Negeri yang ada di Kecamatan ............................ dengan jumlah tenaga pendidik (guru) sebanyak 258 guru. Berdasarkan pengertian tersebut pemilihan sampel dilakukan dengan menentukan sebagian dari anggota populasi. Sementara dalam menentukan sampel, peneliti menggunakan teknik Slovin dengan taraf kesalahan 5%. Rumus Slovin untuk menentukan ukuran sampel adalah sebagai berikut:

Keterangan:

N = jumlah populasi

n = jumlah sampel

e2 = error level 5% (tingkat kesalahan 5%)

 

Berdasarkan rumus Slovin di atas, maka perhitungan sampel dapat dihitung sebagai berikut :

Penelitian ini menentukan jumlah sampel sebanyak 157 orang tenaga pendidik (guru) di SD Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................. Sampel uji coba untuk uji instrumen penelitian digunakan 30 orang guru. Hal ini dilakukan untuk  mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen penelitian.

Tabel 3.3

Jumlah Sampel Penelitian

 

No.

Sekolah Dasar Negeri

Populasi

Sampel

Uji coba

1

SDN Karanganyar 1

11

 7

 1

2

SDN Karanganyar 2

11

 7

 1

3

SDN Karanganyar 3

10

 6

 1

4

SDN Karangsari 1

10

 6

 1

5

SDN Karangasari 2

11

 7

 1

6

SDN Taman Sukarya

21

 13

 2

7

SDN ............................ 1

35

 21

 4

8

SDN ............................ 2

20

 12

 2

9

SDN Sewan Kebon 1

8

 5

 1

10

SDN Kedaung Wetan 1

13

 8

 2

11

SDN Kedaung Wetan 2

7

 4

 1

12

SDN Kedaung Wetan 3

11

 7

 1

13

SDN Kedaung Wetan 5

14

 8

 2

14

SDN Kedaung Wetan 6

9

 5

 1

15

SDN Kedaung Wetan 7

10

 6

 1

16

SDN Kedaung Wetan 8

15

 9

 2

17

SDN Kedaung Wetan Baru 1

14

 8

 2

18

SDN Kedaung Wetan Baru 2

8

 5

 1

19

SDN Selapajang Jaya 1

20

 12

 2

 

Jumlah

258

157

30

Sumber: Hasil Olahan data Primer, Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................, 2023

 

D.  Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Peneliti menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data yang akan digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Kuesioner dimaksudkan untuk menjaring data tentang kepemimpinan situasional, lingkungan kerja, dan kompetensi sosial guru. Penyusunan instrumen digunakan dari model Rensis Likert yakni dengan option Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Kurang Setuju (KS), Tidak Setuju (TS), Sangat Tidak Setuju (STS). Masing-masing option diberikan bobot mulai dari 5 untuk sangat setuju hingga bobot 1 untuk option sangat tidak setuju.

E.  Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati secara spesifik semua fenomena ini disebut variabel penelitian.

Berikut pengembangan variabel yang disajikan dalam bentuk definisi konseptual, definisi oprasional, kisi-kisi instrumen, dan kalibrasi instrumen. Data yang dikumpulkan sebagai berikut :

1.    Variabel Terikat Kompetensi Sosial Guru (Y)

a.    Definisi Konseptual

Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi sosial guru merujuk pada kumpulan keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang memungkinkan seorang guru untuk berinteraksi secara efektif dengan murid, rekan kerja, orang tua, dan pihak terkait lainnya dalam konteks pendidikan. Ini mencakup kemampuan guru dalam memahami, mendukung, dan berkomunikasi dengan beragam individu, mengelola konflik, memfasilitasi kerja sama, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung.

b.    Definisi Operasional

Definisi operasional adalah skor yang diperoleh dari hasil jawaban responden dengan menggunakan instrumen variabel  kompetensi sosial guru yang diukur melalui dimensi:

1)   Kemampuan berkomunikasi dengan efektif: Guru mampu menyampaikan informasi dengan jelas, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan merespons dengan baik terhadap pertanyaan dan kebutuhan murid.

2)   Kemampuan membangun hubungan positif: Guru dapat menciptakan ikatan yang baik dengan murid, rekan kerja, dan orang tua, memperlihatkan empati, dan menjaga lingkungan yang ramah dan inklusif.

3)   Kemampuan mengelola konflik: Guru dapat mengidentifikasi konflik, mengatasi perbedaan pendapat dengan baik, dan mencari solusi yang memadai untuk masalah sosial di dalam dan di luar kelas.

4)   Pengetahuan tentang keragaman budaya: Guru memiliki pemahaman yang baik tentang latar belakang budaya, etnis, dan sosial murid, serta dapat mengintegrasikan perspektif keberagaman ini ke dalam pengajaran mereka.

5)   Kemampuan memfasilitasi kerja sama: Guru mampu mengorganisir aktivitas kelompok, kolaborasi, atau proyek yang mendorong kerja sama dan pembelajaran sosial di antara murid.

6)   Kemampuan manajemen kelas yang efektif: Guru dapat menciptakan dan menjaga disiplin kelas, memfasilitasi partisipasi aktif, dan menjaga lingkungan belajar yang kondusif.

7)   Kemampuan memecahkan masalah sosial: Guru dapat membantu murid mengatasi masalah sosial atau perilaku, memberikan bimbingan, dan mencari solusi yang sesuai.

8)   Kemampuan beradaptasi dengan beragam kebutuhan murid: Guru dapat mengenali kebutuhan khusus atau tantangan yang dihadapi oleh murid dan menyesuaikan pendekatan pengajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Definisi operasional ini membantu dalam mengukur sejauh mana seorang guru memiliki kompetensi sosial dengan cara yang konkret dan terukur, biasanya melalui pengamatan, evaluasi, atau penilaian yang relevan. Penskoran diukur menggunakan skala model Likert yang diwujudkan dalam lima opsi, pemberian skor untuk penilaian pernyataan positif, yaitu skor 5 untuk jawaban selalu (SL), 4 untuk jawaban sering (SR), 3 untuk jawaban kadang-kadang (KD), 2 untuk jawaban Pernah (P), dan 1 untuk jawaban tidak pernah (TP), dan sebaliknya untuk pernyataan negatif diberi skor 1 untuk jawaban selalu (SL), 2 untuk jawaban sering (SR), 3 untuk jawaban kadang-kadang (KD), 4 untuk jawaban Pernah (P), 5 untuk jawaban  tidak pernah (TP).

c.    Kisi-kisi Instrumen Kompetensi Sosial Guru

Untuk membantu peneliti dalam membuat pertanyaan tentang kompetensi sosial guru, maka perlu dibuat kisi-kisi instrumen penelitian seperti dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.4

Instrumen Variabel Kompetensi Sosial Guru (Y)

 

Variabel

Dimensi

Indikator

Nomor Butir (+)

Nomor Butir

(-)

Æ©

Butir

Kompetensi Sosial Guru (Y)

 

Kemampuan berkomunikasi dengan efektif

·   Menyampaikan informasi dengan jelas

·   Mendengarkan dengan penuh perhatian

·   Merespon dengan baik terhadap pertanyaan dan kebutuhan guru dan peserta didik

1, 2, 3, 4,

5, 6

6

Kemampuan membangun hubungan positif

·   Menciptakan ikatan yang baik dengan murid, rekan kerja, dan orang tua

·   Memperlihatkan empati

·   Menjaga lingkungan yang ramah dan inklusif

7, 8

9,10

4

Kemampuan mengelola konflik

·   mengidentifikasi konflik

·   mengatasi perbedaan pendapat dengan baik

·   mencari solusi yang memadai untuk masalah sosial di dalam dan di luar kelas

11, 12

13, 14

4

Pengetahuan tentang keragaman budaya

·   memiliki pemahaman yang baik tentang latar belakang budaya, etnis, dan sosial murid

·   mengintegrasikan perspektif keberagaman ini ke dalam pengajaran mereka.

15, 16,

17, 18

4

Kemampuan memfasilitasi kerja sama

·   mengorganisir aktivitas kelompok,

kolaborasi, atau proyek yang mendorong kerja sama dan pembelajaran sosial di antara murid

19, 20

21

3

Kemampuan manajemen kelas yang efektif

·   menciptakan dan menjaga disiplin kelas,

·   memfasilitasi partisipasi aktif,

·   menjaga lingkungan belajar yang kondusif.

22, 23, 24

25, 26

5

Kemampuan memecahkan masalah sosial

·   membantu murid mengatasi masalah sosial atau perilaku,

·   memberikan bimbingan, dan mencari solusi yang sesuai

27, 28

29, 30

4

Kemampuan beradaptasi dengan beragam kebutuhan siswa

·   mengenali kebutuhan khusus atau tantangan yang dihadapi oleh murid

·   menyesuaikan pendekatan pengajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik

31, 32, 33

34, 35

5

 

2.    Variabel Bebas Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah (X1)

a.    Definisi Konseptual

Kepemimpinan situasional ialah pola perilaku yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin pada saat ia mempengaruhi aktivitas orang lain baik sebagai individu maupun dalam kelompok. Kepemimpinan situasional merupakan pendekatan dalam manajemen kepemimpinan yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard. Konsep ini dapat diterapkan pada kepala sekolah atau pemimpin pendidikan. Prinsip utama dari kepemimpinan situasional adalah bahwa seorang pemimpin harus dapat menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka dengan situasi yang ada, dan dengan demikian, tidak ada satu gaya kepemimpinan tunggal yang cocok untuk semua situasi.

 

b.    Definisi Operasional

Definisi operasional adalah skor yang diperoleh dari hasil jawaban responden dengan menggunakan instrumen variabel  kepemimpinan situasional kepala sekolah yang diukur melalui dimensi:

1)   Pengidentifikasian Situasi: Kepala sekolah dapat mengidentifikasi berbagai situasi dalam sekolah yang memerlukan pendekatan kepemimpinan yang berbeda, seperti situasi di mana staf membutuhkan arahan yang jelas, situasi di mana partisipasi dalam pengambilan keputusan diperlukan, atau situasi di mana delegasi tugas adalah yang terbaik.

2)   Komunikasi Efektif: Kepala sekolah dapat berkomunikasi dengan baik dengan berbagai pihak dalam lingkungan sekolah, termasuk guru, staf, siswa, dan orang tua. Mereka mampu menjelaskan tujuan, harapan, dan arahan dengan jelas.

3)   Penyesuaian Staf: Kepala sekolah dapat mengevaluasi tingkat kesiapan dan kompetensi staf sekolah dan kemudian menyesuaikan gaya kepemimpinan mereka sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kesiapan individu atau kelompok.

4)   Pengambilan Keputusan Kolaboratif: Dalam situasi di mana kepala sekolah menggunakan pendekatan berpartisipasi, mereka dapat melibatkan staf dalam pengambilan keputusan, mendengarkan masukan mereka, dan bersedia menggabungkan saran-saran yang relevan.

5)   Delegasi yang Tepat: Dalam situasi delegasi, kepala sekolah dapat memberikan tanggung jawab kepada staf dengan kepercayaan, dan mengawasi progres mereka sesuai dengan kebijakan sekolah.

6)   Evaluasi Hasil: Kepala sekolah dapat mengukur dan mengevaluasi dampak dari pendekatan kepemimpinan yang mereka gunakan dalam berbagai situasi, dan mereka siap untuk menyesuaikan tindakan mereka jika diperlukan.

Definisi operasional ini memungkinkan untuk mengukur bagaimana kepala sekolah secara konkret menerapkan kepemimpinan situasional dalam konteks sekolah mereka. Ini membantu dalam menilai sejauh mana kepala sekolah berhasil mengadaptasi pendekatan kepemimpinan mereka sesuai dengan situasi yang ada dan mencapai hasil pendidikan yang diinginkan.

c.    Kisi-kisi Instrumen Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah

Tabel 3.5

Instrumen Variabel Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah (X1)

 

Variabel

Dimensi

Indikator

Nomor Butir (+)

Nomor Butir

(-)

Æ©

Butir

Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah (X1)

Identifikasi situasi

 

 

 

 

 

·       Pengenalan kebutuhan rinci sekolah

·       Pemahaman tentang lingkungan sekolah

1, 2

3, 4

4

·      Pengenalan kondisi siswa

·      Pemahaman tentang tenaga pendidik

5, 6

7, 8

4

·         Pengenalan sumber daya dan kendala

·         Pemahaman tentang kebijakan sekolah

9, 10, 11

12

4

Komunikasi efektif

·       Komunikasi dengan tenaga pendidik dan staf

·       Komunikasi dengan siswa dan orang tua

13, 14, 15

16

4

Pengambilan keputusan kolaboratif

·       Kolaborasi dengan tenaga pendidik dan staf

·       Kolaborasi dengan siswa dan orang tua

·       Kolaborasi dengan pihak eksternal dan komunitas

·       Pengambilan keputusan dalam situasi krisis atau kontroversial

17, 18, 19, 20, 21, 22, 23

24, 25, 26

10

 

Delegasi yang tepat

·       Pemberian tanggungjawab pada tendik dan staf

·       Delegasi dalam proses keputusan

·       Delegasi dalam situasi krisis atau kontroversial

27, 28, 29, 30, 31

32, 33, 34

8

 

Evaluasi hasil

·       Penyesuaian strategi dan Tindakan

·       Respon terhadap perkembangan hasil

·       Memonitor progress dan revisi tujuan

35, 36, 37

 38, 39, 40

6

 

3.    Variabel Bebas: Lingkungan Kerja (X2)

a.    Definisi Konseptual

Lingkungan kerja adalah kondisi kerja yang dirasakan guru pada saat bekerja, baik yang berbentuk lingkungan fisik maupun non fisik. Lingkungan kerja merupakan istilah yang merujuk pada setting fisik di mana seseorang bekerja, serta elemen-elemen budaya, sosial, dan psikologis yang ada di tempat kerja. Lingkungan kerja yang sehat dan produktif adalah lingkungan dimana karyawan merasa aman, dihormati, didukung, dan memiliki peluang untuk tumbuh dan berkembang. Ini akan mendukung produktivitas, kepuasan kerja, dan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.

b.    Definisi Operasional

Definisi operasional adalah skor yang diperoleh dari hasil jawaban responden dengan menggunakan instrumen variabel  lingkungan kerja yang diukur melalui dimensi:

1)   Lingkungan Fisik: Kualitas pencahayaan diukur dengan intensitas cahaya dalam lumen per meter persegi (lux) di berbagai area kerja. Contoh pengukuran: Pencahayaan di kantor terukur sebesar 500 lux.

2)   Lingkungan Budaya: Budaya kerja yang inovatif diukur dengan sejauh mana organisasi mendukung gagasan baru dan kemajuan dalam produk atau layanan. Contoh pengukuran: Organisasi mendorong karyawan untuk memberikan saran inovatif dan meluncurkan produk baru setiap tahun.

3)   Lingkungan Sosial: Kolaborasi tim diukur dengan frekuensi pertemuan tim dan komunikasi antaranggota tim. Contoh pengukuran: Tim proyek bertemu secara berkala setiap minggu dan menggunakan alat komunikasi yang efektif untuk berbagi informasi.

4)   Lingkungan Psikologis: Kepuasan kerja individu diukur dengan menggunakan survei kepuasan kerja yang mencakup pertanyaan tentang kepuasan terhadap pekerjaan, pengakuan, dan keseimbangan kehidupan kerja-pribadi. Contoh pengukuran: 85% karyawan menyatakan puas dengan pekerjaan mereka menurut hasil survei kepuasan kerja.

Dalam mengukur dan mengelola elemen-elemen lingkungan kerja dengan cara yang obyektif dan terukur, memungkinkan organisasi untuk memantau perubahan, mengidentifikasi area perbaikan, dan membuat keputusan yang berbasis data untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja.

 

 

 

c.    Kisi-kisi Instrumen Lingkungan Kerja

Tabel 3.6

Instrumen Variabel Lingkungan Kerja (X2)

 

Variabel

Dimensi

Indikator

Nomor Butir

(+)

Nomor Butir

(-)

Æ©

Butir

Lingkungan Kerja (X2)

Lingkungan fisik

 

 

 

 

Lingkungan budaya

 

 

·        Ruang kelas

·        Perawatan dan pemeliharaan

·        fasilitas teknologi

·        ruang terbuka

1, 2, 3, 4, 5

6, 7, 8

8

·         Nilai dan norma-norma sekolah

·         Keberagaman dan inklusi

·         Partisipasi dan keterlibatan

·         Tradisi dan perayaan

·         Komunikasi dan kolaborasi

9, 10, 11, 12, 13, 14

15, 16, 17, 18

10

Lingkungan sosial

·      Kualitas hubungan sosial

·      Keterlibatan orang tua

·      Budaya kepemimpinan

·      Budaya penghargaan dan pengakuan

·      Budaya inklusi

19, 20, 21, 22, 23

24, 25, 26, 27

9

Lingkungan psikologis

·         Dukungan emosional

·         Pengembangan keterampilan sosial dan emosional

·         Dukungan untuk kesejahteraan tendik dan staf

28, 29, 30, 31, 32

33, 34, 35

8

 

 

 

4.    Uji Validitas dan Reliabilitas

  Menurut Arikunto (2016) Validitas adalah suatu ukuran yang menujukan tingkat-tingkat validitas atau kesahihan sesuatu intrumen. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran variabel yang dimaksud. Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Pengujian validitas instrumen ini menggunakan rumus korelasi Product Moment yaitu:

Keterangan:

rxy       = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

N         = Jumlah responden

∑X      = Jumlah skor butir soal

∑Y      = Jumlah skor total

∑XY   = Jumlah perkalian skor butir soal

∑X2   = Jumlah kuadrat skor butir soal

∑Y2   = Jumlah kuadrat skor total

Hasil rxy hit dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 5%. Jika didapatkan harga rxy hit > r tabel, maka butir instrument dikatakan valid, akan tetapi sebaliknya jika harga rxy hit < r tabel, maka dikatakan bahwa butir instrumen tersebut tidak valid. Setelah dilakukan uji validitas, selanjutnya uji reliabilitas instrumen. Reliabilitas menunjukan sejauh mana suatu instrumen dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data. Reliabilitas menunjukan bahwa tingkat keterandalan suatu butir instrumen. Instrumen yang sudah dapat dipercaya (reliable) akan menghasilkan data yang dapat dipercaya juga dapat diandalkan. Adapun hasil uji validitas kuesioner ketiga variabel yang diteliti disajikan pada tabel berikut:

Tabel 3.7

Hasil Uji Validitas Instrumen

 

No

Variabel

Jumlah Angket

Item Valid

Item Tidak Valid

1

Kompetensi Sosial (Y)

35

35

0

2

Kepemimpinan situasional (X1)

40

36

4

3

Lingkungan Kerja (X2)

35

35

0

Sumber : Hasil pengeolahan data 2024

 

Berdasarkan pada hasil rangkuman uji validitas pada tabel di atas diperoleh jumlah item angket valid untuk kompetensi sosial adalah 35, variabel kepemimpinan situasional 36 dan variabel lingkungan kerja 35. Setelah butir angket dinyatakan valid kemudian untuk menguji apakah instrumen tersebut reliabel maka dilakukan uji reliabilitas.

Pengujian reliabilitas instrumen ini digunakan dengan menggunakan rumus Cranbach’s Alpha yaitu:

Keterangan:

r11      = Reliabilitas Instrumen

k        = Banyaknya butir soal

Σα12   = Jumlah varian butir

σ12     = Varian total

 

 

Selanjutnya hasil uji reliabilitas angket penelitian dikonsultasikan dengan harga r product moment pada taraf signifikansi 5%. Jika harga r11 > rtabel, maka instrumen dikatakan reliabel, dan sebaliknya jika harga r11 < rtabel maka dikatakan instrumen tersebut tidak reliabel. Adapun hasil uji statistik yang digunakan untuk menguji reliabilitas adalah uji statistik Alpha Cronbach (Α) yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.8

Hasil Uji Reliabilitas Instrumen

 

Variabel

Reliabilitas

R Kritis

Titik kritis

Keterangan

Kompetensi Sosial

0,890

0,70

Reliabel

Kepemimpinan Situasional

0,890

0,70

Reliabel

Lingkungan Kerja

0,907

0,70

Reliabel

Sumber : Hasil pengeolahan data 2024

 

Berdasarkan tabel nilai reliabilitas butir pernyataan pada kuesioner masing-masing variabel yang sedang diteliti lebih besar dari 0,60 hasil ini menunjukkan bahwa butir kuesioner pada masing-masing variabel andal untuk mengukur variabelnya masing-masing.

F.   Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini melalui beberapa tahap:

1.    Statistik Deskriptif

Sebelum melakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji statistik umum yang berupa statistik deskriptif. Statistik deskriptif meliputi mean, minimum, maximum serta standar deviasi yang bertujuan mengetahui distribusi data yang menjadi sampel di dalam penelitian.

2.    Uji Asumsi Klasik

a.    Uji Normalitas

Uji normalitas data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah sampel yang diambil telah memenuhi kriteria sebaran atau distribusi normal  (Ghozali, 2020). Pengujian normalitas data dilakukan dengan menggunakan uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov. Sebuah variabel dikatakan terdistribusi dengan normal apabila hasil pengujian menunjukan nilai signifikansi diatas 5%. Apabila data tidak terdistribusi dengan normal, maka data dapat dinormalkan dengan cara melakukan transformasi data.

b.    Uji Linieritas

Uji linieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variabel mempunyai hubungan yang linier atau tidak secara signifikan. Uji ini biasanya digunakan sebagai prasyarat dalam analisis korelasi atau regresi linier. Pengujian pada SPSS dengan menggunakan Test for Linearity dengan taraf signifikansi 0,05. Dua variabel dikatakan mempunyai hubungan yang linier bila signifikansi (linieritas) kurang dari 0,05

c.    Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah situasi adanya korelasi antara variabel independen yang satu dengan variabel indepeden yang lainnya. Dalam pengujian ini peneliti menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen dalam matrik interkorelasi dengan koefisien determinan dan regresi antara semua variabel independent dengan variabel dependen. Model regresi yang baik adalah apabila model tersebut tidak terjadi korelasi antar variabel independennya. Menganalisa ada tidaknya problem multikolinearitas digunakan Variance Inflation Factor (VIF), toleran dan besaran korelasi antara variabel independen. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah nilai toleran 0,10 atau sama dengan nilai VIF yang tinggi (karena VIF:1 atau toleran) dan menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghilangkan gejala tersebut dengan cara sebagai berikut ini:

1)        Transformasi variabel, yaitu salah satu cara mengurangi hubungan linear diantara variabel bebas, dapat dilakukan dalam bentuk logaritma natural dan bentuk first difference atau delta.

2)        Dengan mengeluarkan satu atau lebih variabel independen yang mempunyai korelasi yang tinggi dari model regresi dan identifikasi variabel independen lainnya untuk membantu prediksi.

3)        Gunakan model dengan variabel bebas yang mempunyai korelasi tinggi hanya semata-mata untuk memprediksi.

4)        Gunakan korelasi sederhana antara setiap variabel bebas dan variabel terikatnya untuk memahami hubungan variabel bebas dan variabel terikat.

3.    Analisis Jalur (Path Analysis)

Berdasarkan kajian teori dan menjawab hipotesis yang diajukan, peneliti menggunakan Analisis jalur (path analysis). Analisis jalur (path analysis) merupakan perluasan dari analisis regresi berganda dalam berbagai model regresi atau persamaan yang dapat diestimasi secara bersamaan, tetapi memberikan cara yang lebih efektif untuk mengetahui model pengaruh langsung maupun tidak langsung. Hubungan variabel kepemimpinan situasional (X1), lingkungan kerja (X2) dan kompetensi sosial guru (Y) digambarkan dalam path analysis sebagai berikut:

 

Lingkungan Kerja

 (X2)

Kompetensi Sosial Guru

(Y)

 

Kepemimpinan Situasional  (X1)

rx2x1

 

 

 

 

 

 

 

 


Gambar 3.2

Hubungan Substruktur X1, X2 dan X3

 

G. Hipotesis Statistik

Menurut Sugiyono (2020) hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah penelitian sedangkan hipotesis statistika adalah pernyataan  mengenai  keadaan  suatu populasi  yang  akan  diuji  kebenarannya  berdasarkan  data-data  yang  diperoleh  dari sampel penelitian dan dapat diartikan juga sebuah taksiran  keadaan populasi melalui data statistik.

Berdasarkan kerangka berpikir tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian tentang Pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah, dan lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan ............................ Kota ............................ sebagai berikut :

1.    Hipotesis pertama :

H0 : r x3x1 = 0 : Tidak Terdapat pengaruh secara langsung kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru.

H1 : r x3x1 > 0   :  Terdapat pengaruh secara langsung kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru.

2.    Hipotesis kedua :

H0 : r x3x2 = 0 : Tidak Terdapat pengaruh secara langsung lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru.

H1 : r x3x2 > 0   :  Terdapat pengaruh secara langsung lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru.

3.    Hipotesis ketiga :

H0 : r x2x1 =  0 :  Tidak terdapat pengaruh secara langsung kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap lingkungan kerja

H1 : rx2x1 > 0   : Terdapat pengaruh secara langsung kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap lingkungan kerja

Keterangan:

H0        =   Hipotesis Nol

H1        =   Hipotesis Alternatif

rYX1     =   Koefesien jalur kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru

rYX2     =   Koefesien jalur lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru

r X2X1   =   Koefesien jalur kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap
 lingkungan kerja

 

 

BAB IV

TEMUAN DAN PEMBAHASAN

A.  Deskripsi Data

1.    Deskripsi Hasil Angket Kompetensi Sosial Guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................

Data kompetensi sosial guru diperoleh melalui angket yang terdiri dari 35 item pernyataan dengan lima alternatif jawaban dan skor 5,4,3,2 dan 1. Angket dibagikan kepada 157 guru yang ada di sekolah dasar negeri kecamatan ............................. Berikut adalah hasil tabel distribusi statistik dan frekuensi mengenai tanggapan responden terhadap kompetensi sosial guru.

Tabel 4.1

Distrubusi Statistik Variabel Kompetensi Sosial

 

 

Kompetensi Sosial

N

Valid

157

Missing

0

Mean

124,0955

Median

124,0000

Std. Deviation

16,41676

Variance

269,510

Range

109,00

Minimum

65,00

Maximum

174,00

Sum

19483,00

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Hasil distribusi frekuensi responden mengenai tanggapan responden terhadap kompetensi sosial pada tabel di bawah ini.

 

 

 

Tabel 4.2

Distrubusi Frekuensi Variabel Kompetensi Sosial

 

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

65,00

1

,6

,6

,6

83,00

1

,6

,6

1,3

90,00

1

,6

,6

1,9

91,00

1

,6

,6

2,5

98,00

1

,6

,6

3,2

101,00

2

1,3

1,3

4,5

102,00

4

2,5

2,5

7,0

103,00

1

,6

,6

7,6

104,00

4

2,5

2,5

10,2

105,00

5

3,2

3,2

13,4

106,00

1

,6

,6

14,0

107,00

3

1,9

1,9

15,9

108,00

3

1,9

1,9

17,8

109,00

3

1,9

1,9

19,7

110,00

3

1,9

1,9

21,7

111,00

3

1,9

1,9

23,6

112,00

2

1,3

1,3

24,8

113,00

3

1,9

1,9

26,8

114,00

1

,6

,6

27,4

115,00

3

1,9

1,9

29,3

116,00

2

1,3

1,3

30,6

117,00

3

1,9

1,9

32,5

118,00

6

3,8

3,8

36,3

119,00

2

1,3

1,3

37,6

120,00

4

2,5

2,5

40,1

121,00

6

3,8

3,8

43,9

122,00

2

1,3

1,3

45,2

123,00

4

2,5

2,5

47,8

124,00

5

3,2

3,2

51,0

125,00

3

1,9

1,9

52,9

126,00

3

1,9

1,9

54,8

127,00

7

4,5

4,5

59,2

128,00

4

2,5

2,5

61,8

129,00

2

1,3

1,3

63,1

130,00

4

2,5

2,5

65,6

131,00

3

1,9

1,9

67,5

132,00

4

2,5

2,5

70,1

133,00

8

5,1

5,1

75,2

134,00

6

3,8

3,8

79,0

135,00

1

,6

,6

79,6

136,00

1

,6

,6

80,3

137,00

3

1,9

1,9

82,2

138,00

5

3,2

3,2

85,4

139,00

3

1,9

1,9

87,3

141,00

3

1,9

1,9

89,2

145,00

1

,6

,6

89,8

147,00

6

3,8

3,8

93,6

148,00

1

,6

,6

94,3

149,00

1

,6

,6

94,9

150,00

1

,6

,6

95,5

151,00

1

,6

,6

96,2

158,00

1

,6

,6

96,8

163,00

1

,6

,6

97,5

164,00

2

1,3

1,3

98,7

167,00

1

,6

,6

99,4

174,00

1

,6

,6

100,0

Total

157

100,0

100,0

 

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan data pada tabel di atas diketahui bahwa nilai skor tertinggi adalah 174, skor nilai terendah adalah 65 dan nilai yang sering muncul adalah 133 dengan jumlah keseluruhan nilai sebesar 19483. Nilai mean yang diperoleh sebesar 124,0955 dan nilai median sebesar 124. Nilai standar deviasi diperoleh sebesar 16,41676, nilai variance sebesar 269,510 dan nilai range sebesar 109.

Pada tabel distribusi frekuensi untuk melihat apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, maka disajikan grafik histogram dari distribusi frekuensi variabel kompetensi sosial sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.1 Histogram Data Kompetensi Sosial

Berdasarkan grafik histogram dapat dilihat bahwa data kompetensi sosial guru  memiliki distribusi frekuensi yang normal.

2.    Deskripsi Hasil Angket Kepemimpinan Situasional  di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................

Data kepemimpinan situasional diperoleh melalui angket yang terdiri dari 36 item pernyataan dengan lima alternatif jawaban dan skor 5,4,3,2 dan 1. Angket dibagikan kepada 157 guru yang ada di sekolah dasar negeri kecamatan ............................. Berikut adalah hasil tabel distribusi statistik dan frekuensi mengenai tanggapan responden terhadap kepemimpinan situasional.

Tabel 4.3

Distrubusi Statistik Variabel Kepemimpinan Situasional

 

Kepemimpinan Situasional

N

Valid

157

Missing

0

Mean

119,8217

Median

117,0000

Std. Deviation

17,40450

Variance

302,917

Range

96,00

Minimum

68,00

Maximum

164,00

Sum

18812,00

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berikut hasil distribusi frekuensi responden mengenai tanggapan responden terhadap kepemimpinan situasional  pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.4

Distrubusi Frekuensi Variabel Kepemimpinan Situasional

 

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

68,00

1

,6

,6

,6

71,00

1

,6

,6

1,3

82,00

1

,6

,6

1,9

88,00

1

,6

,6

2,5

94,00

1

,6

,6

3,2

95,00

1

,6

,6

3,8

96,00

1

,6

,6

4,5

100,00

7

4,5

4,5

8,9

101,00

5

3,2

3,2

12,1

102,00

3

1,9

1,9

14,0

103,00

3

1,9

1,9

15,9

104,00

2

1,3

1,3

17,2

105,00

2

1,3

1,3

18,5

106,00

2

1,3

1,3

19,7

107,00

4

2,5

2,5

22,3

108,00

3

1,9

1,9

24,2

109,00

7

4,5

4,5

28,7

110,00

7

4,5

4,5

33,1

111,00

3

1,9

1,9

35,0

112,00

5

3,2

3,2

38,2

113,00

4

2,5

2,5

40,8

114,00

2

1,3

1,3

42,0

115,00

5

3,2

3,2

45,2

116,00

2

1,3

1,3

46,5

117,00

6

3,8

3,8

50,3

118,00

3

1,9

1,9

52,2

119,00

2

1,3

1,3

53,5

120,00

8

5,1

5,1

58,6

121,00

3

1,9

1,9

60,5

122,00

3

1,9

1,9

62,4

123,00

4

2,5

2,5

65,0

124,00

3

1,9

1,9

66,9

125,00

5

3,2

3,2

70,1

126,00

2

1,3

1,3

71,3

127,00

2

1,3

1,3

72,6

128,00

2

1,3

1,3

73,9

129,00

5

3,2

3,2

77,1

130,00

2

1,3

1,3

78,3

133,00

2

1,3

1,3

79,6

135,00

2

1,3

1,3

80,9

138,00

2

1,3

1,3

82,2

139,00

1

,6

,6

82,8

140,00

2

1,3

1,3

84,1

141,00

4

2,5

2,5

86,6

143,00

1

,6

,6

87,3

144,00

2

1,3

1,3

88,5

145,00

1

,6

,6

89,2

146,00

3

1,9

1,9

91,1

147,00

2

1,3

1,3

92,4

149,00

1

,6

,6

93,0

150,00

1

,6

,6

93,6

151,00

1

,6

,6

94,3

152,00

2

1,3

1,3

95,5

153,00

1

,6

,6

96,2

155,00

1

,6

,6

96,8

156,00

1

,6

,6

97,5

158,00

1

,6

,6

98,1

160,00

1

,6

,6

98,7

161,00

1

,6

,6

99,4

164,00

1

,6

,6

100,0

Total

157

100,0

100,0

 

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Hasil pada tabel di atas diketahui bahwa nilai skor tertinggi untuk variabel kepemimpinan situasional adalah 164, skor nilai terendah adalah 68 dan nilai yang sering muncul adalah 120 dengan jumlah keseluruhan nilai sebesar 18812. Nilai mean yang diperoleh sebesar 119,8217dan nilai median sebesar 117. Nilai standar deviasi diperoleh sebesar 17,40450, nilai variance sebesar 302,917dan nilai range sebesar 96.

Pada tabel distribusi frekuensi untuk melihat apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, maka disajikan grafik histogram dari distribusi frekuensi variabel kepemimpinan situasional  sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Histogram Data Kepemimpinan Situasional

 

Berdasarkan grafik histogram pada gambar di atas dapat dilihat bahwa data kepemimpinan situasional  memiliki distribusi frekuensi yang normal.

3.    Deskripsi Hasil Angket Lingkungan Kerja di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................

Hasil variabel lingkungan kerja diperoleh melalui angket yang terdiri dari 35 item pernyataan dengan lima alternatif jawaban dan skor 5,4,3,2 dan 1. Angket tersebut dibagikan kepada 157 guru yang ada di sekolah dasar negeri kecamatan ............................. Berikut hasil tabel distribusi statistik dan frekuensi mengenai tanggapan responden terhadap lingkungan kerja.

Tabel 4.5

Distrubusi Statistik Variabel Lingkungan Kerja

 

 

Lingkungan Kerja

N

Valid

157

Missing

0

Mean

118,9745

Median

121,0000

Std. Deviation

16,45933

Variance

270,910

Range

104,00

Minimum

60,00

Maximum

164,00

Sum

18679,00

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berikut hasil distribusi frekuensi responden mengenai tanggapan responden terhadap variabel lingkungan kerja  pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.6

Distrubusi Frekuensi Variabel Lingkungan Kerja

 

 

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

Valid

60,00

1

,6

,6

,6

73,00

1

,6

,6

1,3

77,00

1

,6

,6

1,9

80,00

1

,6

,6

2,5

82,00

1

,6

,6

3,2

88,00

1

,6

,6

3,8

89,00

2

1,3

1,3

5,1

91,00

1

,6

,6

5,7

94,00

2

1,3

1,3

7,0

98,00

2

1,3

1,3

8,3

99,00

1

,6

,6

8,9

101,00

2

1,3

1,3

10,2

102,00

9

5,7

5,7

15,9

103,00

4

2,5

2,5

18,5

104,00

4

2,5

2,5

21,0

105,00

5

3,2

3,2

24,2

106,00

2

1,3

1,3

25,5

107,00

2

1,3

1,3

26,8

109,00

1

,6

,6

27,4

110,00

2

1,3

1,3

28,7

111,00

5

3,2

3,2

31,8

112,00

2

1,3

1,3

33,1

113,00

3

1,9

1,9

35,0

114,00

2

1,3

1,3

36,3

115,00

1

,6

,6

36,9

116,00

3

1,9

1,9

38,9

117,00

3

1,9

1,9

40,8

118,00

2

1,3

1,3

42,0

119,00

4

2,5

2,5

44,6

120,00

5

3,2

3,2

47,8

121,00

5

3,2

3,2

51,0

122,00

4

2,5

2,5

53,5

123,00

9

5,7

5,7

59,2

124,00

3

1,9

1,9

61,1

125,00

2

1,3

1,3

62,4

126,00

6

3,8

3,8

66,2

127,00

6

3,8

3,8

70,1

128,00

3

1,9

1,9

72,0

129,00

1

,6

,6

72,6

131,00

6

3,8

3,8

76,4

132,00

2

1,3

1,3

77,7

133,00

8

5,1

5,1

82,8

134,00

5

3,2

3,2

86,0

135,00

1

,6

,6

86,6

136,00

1

,6

,6

87,3

137,00

2

1,3

1,3

88,5

138,00

5

3,2

3,2

91,7

139,00

2

1,3

1,3

93,0

141,00

4

2,5

2,5

95,5

143,00

1

,6

,6

96,2

147,00

4

2,5

2,5

98,7

158,00

1

,6

,6

99,4

164,00

1

,6

,6

100,0

Total

157

100,0

100,0

 

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Perolehan hasil pada tabel di atas diketahui untuk nilai skor tertinggi untuk variabel lingkungan kerja  adalah 164, skor nilai terendah adalah 60 dan nilai yang sering muncul adalah 102 dengan jumlah keseluruhan nilai sebesar 18679. Nilai mean yang diperoleh sebesar 118,9745 dan nilai median sebesar 121. Nilai standar deviasi diperoleh sebesar 16,45933 nilai variance sebesar 270,910 dan nilai range sebesar 104.  Keadaan data pada tabel distribusi frekuensi dapat dilihat normal atau tidak melalui grafik histogram. Melalui grafik histogram akan terlihat bagaimana sebaran data terlihat normal dan tidak, berikut merupakan gambar histogram dari variabel lingkungan kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.3 Histogram Data Lingkungan Kerja

Berdasarkan grafik histogram pada gambar di atas dapat dilihat bahwa data lingkungan kerja  memiliki distribusi frekuensi yang normal.

B.  Uji Prasyarat Analisis

Analisis regresi berganda pada uji hiportesis sebelum dilakukan maka memerlukan beberapa asumsi, diantaranya sampel diambil secara acak dari populasi yang diteliti, sampel diambil dari yang berdistribusi normal dan hubungan antar variabel dinyatakan linear.

1.    Uji Normalitas

Data dari variabel penelitian diuji normalitas sebenarnya dengan menggunakan program SPSS 23.0 for windows yaitu menggunakan Analitis Statistik. Pada penelitian ini menggunakan uji statistik kolmogorof-smirnov untuk melihat apakah residual berdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati normal. Berdasarkan pengolahan pada SPSS terkait uji normalitas, hasil yang diperoleh dari perhitungan Kolmogorof-smirnov akan ditunjukan pada tabel  sebagai berikut.

Tabel 4.7

Hasil Uji Normalitas

 

 

Unstandardized Residual

N

157

Normal Parametersa,b

Mean

,0000000

Std. Deviation

15,27994383

Most Extreme Differences

Absolute

,067

Positive

,067

Negative

-,038

Test Statistic

,067

Asymp. Sig. (2-tailed)

,083c

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel  di atas, diketahui nilai K-S sebesar dan  nilai Asymp.Sig (2-tailed) sebesar 0.083 signifikan lebih daro 0,05. Oleh karena nilai signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov lebih dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa model persamaan regresi tersebut berdistribusi normal. Adapun uji normalitas dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.4  Grafik Normal Plot Hasil Uji Normalitas

Berdasarkan output gambar di atas, terlihat bahwa titik-titik ploting yang terdapat pada gambar selalu mengikuti dan mendekati garis diagonal. Oleh karena itu sebagaimana dasar pedoman pengambilan keputusan dalam uji normalitas teknik probability plot dapat disimpulkan bahwa nilai residual berdistribusi normal, dengan demikian maka asumsi normalitas untuk nilai residual berdistribusi normal.

 

 

2.    Uji Linieritas

Uji linieritas digunakan untuk melihat apakah model yang digunakan sudah benar atau tidak dan apakah fungsi yang digunakan dalam studi empiris sebaliknya berbentuk linier, kuadrat atau kubik. Kriteria dari uji linieritas adalah bahwa hubungan yang terjadi berbentuk linier jika nilai Fhitung < Ftabel atau nilai signifikansi < 0,05. Adapun ringkasan hasil uji linieritas yang dilakukan menggunakan alat bantu program SPSS versi 23.0 adalah sebagai berikut.

a.    Kepemimpinan Situasional terhadap Kompetensi Sosial

Tabel 4.8

Hasil Uji Linearitas X1 Terhadap Y

 

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

Kompetensi Sosial * Kepemimpinan Situasional

Between Groups

(Combined)

19408,83

59

328,963

1,410

,067

Linearity

2048,034

1

2048,034

8,777

,004

Deviation from Linearity

17360,79

58

299,324

1,283

,139

Within Groups

22634,73

97

233,348

 

 

Total

42043,56

156

 

 

 

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

 

Berdasarkan output di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar 8,777 dengan taraf signifikansi 0,004 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kepemimpinan situasional dengan kompetensi sosial guru adalah linear.

 

 

 

b.    Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial

Tabel 4.9

Hasil Uji Linearitas X2 Terhadap Y

 

 

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

Kompetensi Sosial * Lingkungan Kerja

Between Groups

(Combined)

19901,286

52

382,717

1,798

,006

Linearity

4340,155

1

4340,155

20,385

,000

Deviation from Linearity

15561,131

51

305,120

1,433

,062

Within Groups

22142,281

104

212,907

 

 

Total

42043,567

156

 

 

 

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan output di atas diperoleh nilai Fhitung sebesar 20,385 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan antara lingkungan kerja dengan kompetensi sosial guru adalah linear.

3.    Uji Multikolinearitas

Uji asumsi yang ketiga adalah Multikolinearitas. Uji multikolonieritas ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Model regresi yang bebas dari multikolonieritas dapat diketahui dengan melihat nilai VIF < 10.00 atau nilai tolerence > 0,10. Berikut hasil uji Multikolinearitas dengan menggunakan bantuan program SPSS versi 23.

 

 

Tabel 4.10

Hasil Uji Multikolonieritas

 

Model

Unstandardized Coefficients

StandardizedCoefficien

t

Sig.

Collinearity Statistics

B

Std. Error

Beta

Toleranc

VIF

1

(Constan

69,153

11,529

 

5,998

,000

 

 

Kepemimpinan Situasional

,167

,072

,177

2,327

,021

,978

1,023

Lingkungan Kerja

,294

,076

,295

3,887

,000

,978

1,023

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan hasil output tersebut dapat dilihat bahwa nilai VIF masingmasing variabel < 10.00 yaitu Variabel kepemimpinan situasional (X1) sebesar 1,023 < 10,00 dengan nilai tolerence 0,978 > 0,10, variabel lingkungan kerja  (X2) sebesar 1,023 < 10,00 dengan nilai tolerence 0,978 > 0,10, sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi multikolonieritas antar variabel.

C.  Pengujian Hipotesis

Analisis jalur (path analysis) merupakan model analisis yang digunakan untuk mengetahui pola hubungan antar variabel dengan tujuan mengetahui pengaruh langsung maupun pengaruh tidak langsung antara variabel independen terhadap variabel dependen. Pada analisis jalur yang digunakan tahapan yang dilakukan setelah membuat struktural seperti yang telah dijelaskan pada bab  sebelumnya adalah menghitung koefisien jalur berdasarkan koefisien korelasi. Koefisien korelasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan dasar Korelasi Pearson, yakni korelasi product moment. Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antar variabel X1 (kepemimpinan situasional), X2 (lingkungan kerja) dan Y (kompetensi sosial guru).

Tabel 4.11

Hasil Korelasi Variabel X1, X2 dan Y

 

 

Kompetensi Sosial (Y)

Kepemimpinan (X1)

Hasil

Pearson
Correlation

Kepemimpinan (X1)

0,521

 

X1 ke Y = 0,521 bernilai positif

Lingkungan Kerja (X2)

0,421

0,350

X2 ke Y = 0,421 bernilai positif

dan

X2 ke X1= 0,350 bernilai positif

Signifikansi

Kepemimpinan (X1)

0,005

 

0,005<0,05 = signifikan

 

Lingkungan Kerja (X2)

0,000

0,001

0,000<0,05= signifikan

dan

0,001<0,05 = signifikan

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas pada kolom Pearson Correlation untuk variabel kepemimpinan (X1) terhadap kompetensi sosial (Y) menunjukan arah hubungan positif. Artinya adalah semakin kuat  kepemimpinan situasional (X1)  maka semakin tinggi pengaruhnya terhadap kompetensi sosial (Y). Dari hasil korelasi didapatkan angka sebesar 0,521 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,005 (0,0005< 0,05). Karena sig < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut berarti terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel kepemimpinan situasional (X1)  terhadap kompetensi sosial (Y).

Nilai Pearson Correlation yang didapatkan dari lingkungan kerja (X2) terhadap kompetensi sosial (Y) adalah bernilai positif, hal tersebut mengartikan bahwa semakin tinggi lingkungan kerja (X2) maka akan semakin kuat pengaruhnya terhadap kompetensi sosial (Y). Dari hasil korelasi didapatkan angka sebesar 0,421 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,000 (0,000 < 0,05). Karena sig < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut mengartikan bahwa terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara variabel lingkungan kerja (X2) terhadap kompetensi sosial (Y).

Nilai Pearson Correlation yang didapatkan dari kepemimpinan situasional (X1) terhadap lingkungan kerja (X2) adalah bernilai positif, hal tersebut mengartikan bahwa semakin kuat kepemimpinan situasional (X1) maka akan berpengaruh semakin tinggi terhadap lingkungan kerja (X2). Dari hasil korelasi didapatkan angka sebesar 0,350 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,001 (0,001 < 0,05). Karena sig < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal tersebut mengartikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara variabel kepemimpinan situasional (X1) terhadap lingkungan kerja (X2).

1.    Menentukan Koefisien Jalur Berdasarkan Persamaan per-Struktur

Struktural 1: Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) terhadap Kompetensi Sosial Guru  (Y)

 

 

Tabel 4.12

Koefisien Determinasi Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) terhadap Kompetensi Sosial Guru  (Y)

 

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

,366a

,134

,122

15,37884

a. Predictors: (Constant), Lingkungan Kerja, Kepemimpinan Situasional

b. Dependent Variable: Kompetensi Sosial

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel 4.12 pada Model Summary pengolahan SPSS v.23.0 tampak bahwa output dari koefisien determinasi (R2). Adapun nilai koefisien determinasi adalah diantarakan 0 dan 1. Nilai koefisien determinasi yang besar mengartikan bahwa kemampuan variabel X1 dan X2 dalam menjelaskan variabel Y memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan. Adapun nilai R2 atau R2yx2x1 adalah sebesar 0,134. Hal ini berarti 13,4% variabel kompetensi sosial guru (Y) dapat dijelaskan oleh variabel kepemimpinan situasional (X1) dan lingkungan kerja (X2). Sehingga sisanya (error) dipengaruhi oleh variabel lain yang merupakan faktor-faktor yang tidak ada dalam penelitian ini, dengan demikian error (€) =  =  = 0,8662  = 0,749 atau sebesar 74,9%.

Tabel 4.13

Uji ANOVA

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

5621,204

2

2810,602

11,884

,000b

Residual

36422,363

154

236,509

 

 

Total

42043,567

156

 

 

 

a. Dependent Variable: Kompetensi Sosial

b. Predictors: (Constant), Lingkungan Kerja, Kepemimpinan Situasional

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa tabel tersebut digunakan untuk melihat hasil dari pengujian secara keseluruhan tentang ada tidaknya hubungan linear dari variabel eksogen terhadap variabel endogen. Ho ditolak apabila p-value < 0,05. Dari tabel tersebut diperoleh Fo =11,884; df1= 2; df2= 154, p-value = 0,000 < 0,05 atau Ho ditolak. Berdasarkan hasil analisis pada tabel diatas dengan demikian, variabel Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) berpengaruh terhadap variabel Kompetensi Sosial (Y). Selanjutnya dicari nilai koefisien jalur dengan hasil output sebagai berikut:

Tabel 4.14

Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) dan Lingkungan Kerja (X2) terhadap variabel Kompetensi Sosial (Y)

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

69,153

11,529

 

5,998

,000

Kepemimpinan Situasional

,167

,072

,177

2,327

,021

Lingkungan Kerja

,294

,076

,295

3,887

,000

a. Dependent Variable: Kompetensi Sosial

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Pada tabel Coefficients di atas, dapat dilihat nilai-nilai koefisien jalur dalam kolom standardized coefficients (Beta). Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut: Y = 0,177 X1 + 0,295X2 + pyε2. Interpretasi dari persamaan tersebut adalah nilai koefisien untuk variabel X1 sebesar 0,177. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan kepemimpinan situasional  satu satuan maka variabel kompetensi sosial akan naik sebesar 0,177 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model di atas adalah tetap.

Sama halnya dengan nilai koefisien lingkungan kerja untuk variabel X2 sebesar 0,295. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan lingkungan kerja satu satuan maka variabel kompetensi sosial akan naik sebesar 0,2945 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model di atas adalah tetap.

Struktural 2 : Kepemimpinan Situasional (X1) terhadap Lingkungan Kerja (X2)

Tabel 4.15

Koefisien Determinasi Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)

 

Model Summary

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

,158a

,025

,019

16,61737

a. Predictors: (Constant), Kepemimpinan Situasional

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas pada Model Summary pengolahan SPSS v.23.0 tampak bahwa output dari koefisien determinasi (R2). Adapun nilai koefisien determinasi adalah diantarakan 0 dan 1. Nilai koefisien determinasi yang besar mengartikan bahwa kemampuan variabel X1 dalam menjelaskan variabel X2 memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkkan. Adapun nilai R2 atau R2x2x1 adalah sebesar 0,025. Hal ini berarti 2,5% kepemimpinan situasional memberikan kontribusi terhadap lingkungan kerja sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain.

Variabel lingkungan kerja (X2) dapat dijelaskan oleh variabel kepemimpinan situasional (X1). Sehingga sisanya (error) dipengaruhi oleh variabel lain yang merupakan faktor-faktor yang tidak ada dalam penelitian ini, dengan demikian error (€) =  =  = 0,9752  = 0,9506 atau sebesar 95,06%.

Tabel 4.16

Uji ANOVA

 

ANOVAa

Model

Sum of Squares

df

Mean Square

F

Sig.

1

Regression

1090,201

1

1090,201

3,948

,049b

Residual

42801,251

155

276,137

 

 

Total

43891,452

156

 

 

 

a. Dependent Variable: Lingkungan Kerja

b. Predictors: (Constant), Kepemimpinan Situasional

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan bahwa tabel tersebut digunakan untuk melihat hasil dari pengujian secara keseluruhan tentang ada tidaknya hubungan linear dari variabel eksogen terhadap variabel endogen. Ho ditolak apabila p-value < 0,05. Dari tabel tersebut diperoleh Fo = 3,948; df1= 1; df2 = 155, p-value = 0,049 < 0,05 atau Ho ditolak. Berdasarkan hasil analisis pada tabel diatas dengan demikian, variabel kepemimpinan situasional (X1) berpengaruh terhadap variabel lingkungan kerja (X2). Selanjutnya dicari nilai koefisien jalur dengan hasil output sebagai berikut:

 

 

 

Tabel 4.16

Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)

 

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

100,928

9,255

 

10,905

,000

Kepemimpinan Situasional

,152

,076

,158

1,987

,049

a. Dependent Variable: Lingkungan Kerja

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Pada tabel Coefficients di atas, dapat dilihat nilai-nilai koefisien jalur dalam kolom standardized coefficients (Beta). Sehingga diperoleh persamaan sebagai berikut: X2= 0,158 X1+ px2ε1. Interpretasi dari persamaan tersebut adalah nilai koefisien untuk variabel X1 sebesar 0,158. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kenaikan kepemimpinan situasional  satu satuan maka variabel lingkungan kerja akan naik sebesar 0,158 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain dari model di atas adalah tetap.

Kesimpulan dalam persamaan struktur untuk diagram analisis jalur adalah persamaan ke satu menjumlahkan nilai koefisien jalur dari kompetensi sosial (Y) sebagai variabel endogen yaitu Y = 0,177 + 0,295 + 0,749 = 1,221. Persamaan kedua menjumlahkan nilai koefisien jalur dari Lingkungan kerja  (X2) sebagai variabel endogen yaitu X2 = 0,158 + 0,9506 = 1,1086.

 

 

 

2.    Menghitung Pengaruh Langsung (Direct Effect)

Pengaruh Langsung Variabel (X1) Terhadap (Y)

Tabel 4.17

Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Kompetensi Sosial (Y)

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

69,153

11,529

 

5,998

,000

Kepemimpinan Situasional

,167

,072

,177

2,327

,021

Lingkungan Kerja

,294

,076

,295

3,887

,000

a. Dependent Variable: Kompetensi Sosial

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel yang menunjukkan hasil analisis SPSS menu analisis regresi, koefisien path ditunjukkan oleh output yang dinamakan Coefficient yang dinyatakan sebagai Standardized Coefficient atau dikenal dengan istilah Beta. Pada hasil output SPSS didapat hasil Beta variabel kepemimpinan situasional  adalah 0,177. Hal ini berarti terdapat pengaruh langsung X1 terhadap Y sebesar 0,177. Selanjutnya dari tabel Coefficient diperoleh thitung sebesar 2,327 dan p-value sebesar 0,021. P-value merupakan probabilitas yang mengasumsikan bahwa Ho adalah benar. Hasilnya adalah p-value < 0,05. Hal ini berarti nilai probabilitas Sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian variabel kepemimpinan situasional  (X1) berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap kompetensi sosial (Y) sebesar 0,177.

Uji t dapat dilihat dalam tabel di atas bahwa hasil output diperoleh thitung Kepemimpinan situasional  sebesar 2,327. Untuk ttabel dapat dicari pada tabel signifikansi 0,05 dengan df = n-k-1 = 157-1-1 = 155 (n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen) maka didapat ttabel sebesar 1,654. Oleh karena itu, maka diketahui bahwa thitung > ttabel, yakni 2,327> 1,654, artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Hal tersebut berarti bahwa kepemimpinan situasional  berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi sosial.

Pengaruh Langsung Variabel Lingkungan Kerja (X2) Terhadap Kompetensi Sosial Guru (Y)

Berdasarkan tabel 4.17 menunjukkan hasil analisis SPSS menu analisis regresi, koefisien path ditunjukkan oleh output yang dinamakan Coefficient yang dinyatakan sebagai Standardized Coefficient atau dikenal dengan istilah Beta. Pada hasil output SPSS didapat hasil Beta variabel lingkungan kerja adalah 0,295. Hal ini berarti terdapat pengaruh langsung X2 terhadap Y sebesar 0,295. Selanjutnya dari tabel Coefficient diperoleh thitung sebesar 3,887 dan p-value 0,000. P-value merupakan probabilitas yang mengasumsikan bahwa Ho adalah benar. Hasilnya adalah p-value < 0,05. Hal ini berarti nilai probabilitas Sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian variabel lingkungan kerja (X2) berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap kompetensi sosial (Y) sebesar 0,295.

Uji t dapat dilihat dalam tabel 4.17 bahwa hasil output diperoleh thitung lingkungan kerja  sebesar 3,887. Untuk ttabel dapat dicari pada tabel signifikansi 0,05 dengan df = n-k-1 = 157-1-1 = 155 (n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen) maka didapat ttabel sebesar 1,654. Oleh karena itu, maka diketahui bahwa t
hitung> ttabel, yakni 3,887 > 1,654, artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Hal tersebut berarti bahwa lingkungan kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi sosial.

Pengaruh Langsung Variabel Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)

Tabel 4.18

Koefisien Jalur Kepemimpinan Situasional (X1) Terhadap Lingkungan Kerja (X2)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t

Sig.

B

Std. Error

Beta

1

(Constant)

100,928

9,255

 

10,905

,000

Kepemimpinan Situasional

,152

,076

,158

1,987

,049

a. Dependent Variable: Lingkungan Kerja

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel 4.18 menunjukkan hasil analisis SPSS menu analisis regresi, koefisien path ditunjukkan oleh output yang dinamakan Coefficient yang dinyatakan sebagai Standardized Coefficient atau dikenal dengan istilah Beta. Pada hasil output SPSS didapat hasil Beta adalah 0,158. Hal ini berarti terdapat pengaruh langsung X1 terhadap X2 sebesar 0,158. Selanjutnya dari tabel Coefficient diperoleh thitung sebesar 1,987 dan p-value sebesar 0,049. P-value merupakan probabilitas yang mengasumsikan bahwa Ho adalah benar. Hasilnya adalah p-value < 0,05. Hal ini berarti nilai probabilitas Sig lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 artinya Ho ditolak dan Ha diterima, dengan demikian variabel kepemimpinan situasional (X1) berpengaruh langsung positif dan signifikan terhadap lingkungan kerja (X2) sebesar 0,158.

Uji t dapat dilihat dalam tabel di atas bahwa hasil output diperoleh thitung sebesar 1,987. Untuk ttabel dapat dicari pada tabel signifikansi 0,05 dengan df = n-k-1 = 157-1-1 = 155 (n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen) maka didapat ttabel sebesar 1,654. Oleh karena itu, maka diketahui bahwa thitung > ttabel, yakni 1,987 > 1,654, artinya Ha diterima dan Ho ditolak. Hal tersebut berarti bahwa kepemimpinan situasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap lingkungan kerja.

Berdasarkan hasil output yang dihasilkan oleh SPSS v.23.0, maka hasil pengaruh langsung dari masing-masing variabel dari X1 ke Y, X2 ke Y, serta X1 ke X2 disajikan dalam bentuk tabel rangkuman dibawah ini:

Tabel 4.19

Rangkuman Hasil Koefisien Jalur

 

Pengaruh Antar Variabel

Koefisien Jalur Beta

Hasil Pengujian

Koefisien Determinasi

R2

Koefisien Variabel Lain (Sisa)

Dependent = Kompetensi Sosial Guru

Independent = Kepemimpinan Situasional dan Lingkungan Kerja

R2yx2x1

Pyx1x2

X1 Y

0,177

Ho ditolak

0,134

0,8662  = 0,749

X2 Y

0,295

Ho ditolak

Dependent : Lingkungan Kerja

Independent : Kepemimpinan situasional

R2x2x1

Px1x2

X1 X2

0,158

Ho ditolak

0,025

0,9752=

0,9506

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas  dapat dilihat bahwa koefisien jalur (Beta) X1 terhadap Y adalah 0,177. Nilai R2 = 0,134dengan nilai probabilitas (sig) = 0,021 dan koefisien jalur (Beta) X2 terhadap Y adalah 0,295. Nilai R2 0,134 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,000, karena nilai sig < 0,05, maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Sedangkan koefisien jalur (Beta) X1 terhadap X2 adalah 0,158 dengan nilai R2 = 0,025 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,049 karena nilai sig < 0,05 maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian berdasarkan hasil pengujian hipotesis dengan SPSS v.23.0, model kausal empiris pengaruh langsung X1, X2 dan Y divisualkan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 5

Koefisien Pengaruh Jalur X1, X2, dan Y

 

Berdasarkan gambar diatas dapat ditentukan koefisien pengaruh langsung variabel kepemimpinan situasional terhadap kompetensi sosial sebesar 0,177. Pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial sebesar 0,295. Pengaruh kepemimpinan sosial terhadap lingkungan kerja sebesar 0,158

3.    Pengaruh Tidak Langsung (Indirect Effect)

Pengaruh tidak langsung dapat dihitung apabila variabel X1 (kepemimpinan situasional), X2 (lingkungan kerja) berpengaruh terhadap Y (kompetensi sosial). Berikut adalah pengaruh tidak langsung variabel eksogen terhadap variabel endogen yang meliputi pengaruh tidak langsung X1 (kepemimpinan situasional) terhadap Y (kompetensi sosial) melalui X2 (lingkungan kerja). Melalui anak panah satu arah pengaruh tidak langsung dari variabel tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk (X1  X2 Y).

Besarnya pengaruh tidak langsung X1 terhadap Y melalui X2 diperoleh dengan mengalikan koefisien jalur. Secara matematis yang dapat diselesaikan dalam bentuk persamaan sebagai berikut: Pengaruh tidak langsung = (pengaruh langsung kepemimpinan situasional  terhadap lingkungan kerja) x (pengaruh langsung lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial). Pengaruh  tidak  langsung  = (0,159) × (0,295) = 0,0469.  Berdasarkan hasil perhitungan diatas dapat diperoleh hasil pengaruh tidak langsung kepemimpinan situasional terhadap kompetensi sosialmelalui lingkungan kerja adalah sebesar 0,0469 .

4.    Pengaruh Total (Total Effect)

Perhitungan pengaruh total dari variabel X1 (kepemimpinan situasional) dan X2(lingkugnan kerja) terhadap Y (kompetensi sosial guru) diperoleh dengan melakukan penjumlahan antara pengaruh langsung dengan pengaruh tidak langsung. Besarnya pengaruh total variabel secara matematis sebagai berikut:

Total Effect = (0,177) + (0,0469) = 0,224. Berdasarkan hasil perhitungan sederhana tersebut maka dapat diperoleh pengaruh total dari kepemimpinan situasional dan lingkungan kerja  terhadap kompetensi sosial guru adalah sebesar 0,224.

5.    Koefisien Determinasi

Analisis koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase sumbangan atau pengaruh variabel independen (kepemimpinan situasional dan lingkungan kerja ) terhadap variabel dependen (kompetensi sosial guru). Koefisien determinasi dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.20

Koefisien Determinasi

 

Model Summaryb

Model

R

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1

,366a

,134

,122

15,37884

Sumber : data primer diolah SPSS, 2024

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai R2 atau Rsquare adalah 0,134. Angka ini diubah ke bentuk persen, artinya persentase sumbangan pengaruh kepemimpinan situasional dan lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial adalah sebesar 13,4% atau variasi kepemimpinan situasional dan lingkungan kerja mampu menjelaskan sebesar 13,4% variasi variabel kompetensi sosial, sedangkan sisanya sebesar 86,6% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Untuk mengukur derajat hubungan antar variabel kepemimpinan siuasional (X1), lingkungan kerja (X2) dan kompetensi sosial guru (Y) dapat dilihat dari nilai R yang ada pada tabel 4.20 yaitu sebesar 0,366 berarti nilai R termasuk kategori lemah maka hubungan kepemimpinan situasional, lingkungan kerja dan kompetensi sosial tergolong lemah.

D.  Pembahasan

1.      Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Sosial Guru

Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur (Path analysis) dengan SPSS diperoleh persamaan analisis jalur untuk variabel kepemimpinan situasional dan kompetensi sosial guru yaitu diperoleh nilai koefisien untuk variabel X1 sebesar 0,177. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kepemimpinan situasional satu satuan maka variabel kompetensi sosial guru akan naik sebesar 0,177 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain adalah tetap. Serta diperoleh dari nilai Error ( sebesar 0,749. Nilai p-value yang didapatkan adalah sebesar 0,021 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dengan demikian variabel kepemimpinan situasional kepala sekolah berpengaruh terhadap variabel kompetensi sosial guru. Berdasarkan hasil output pengujian t dengan SPSS untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah secara parsial terhadap kompetensi sosial guru diperoleh thitung sebesar 2,327 lebih besar dari ttabel sebesar 1,654 maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan situasional kepala sekolah secara parsial berpengaruh terhadap kompetensi sosial guru.

Temuan ini memperkuat teori-teori sebelumnya yang menyatakan terdapat pengaruh kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kompetensi sosial guru,  berdasarkan teori dari Hersey dan Blanchard bahwa kepemimpinan situasional terdiri dari empat gaya dasar yaitu : gaya intruksi, gaya konsultasi/menjual, gaya partisipasi dan gaya pendelegasian. Empat gaya dasar tersebut mempunyai fungsi masing-masing. Gaya intruksi lebih banyak memberikan perintah, pengawasan dan arahan. Pemimpin menetapkan peranan bawahan, apa tugas mereka, bagaimana cara melaksanakan, kapan dan dimana dilaksanakan.keputusan diprakarsai oleh pemimpin dan pelaksanaan diawasi secara ketat dan komunikasi hanya satu arah.

Gaya konsultasi dengan berprilaku “menjual”. pemimpin masih memberikan direksi yang intensif kepada bawahannya, karena ia dipandang belum mampu, tetapi mengarah kepada kadar suportif yang tinggi karena adanya kemauan yang tinggi dari bawahan. Gaya partisipasi dengan saling tukar menukar ide/gagasan pengambilan keputusan. Pada gaya ini, bawahan mempunyai kemampuan, tetapi tidak ada motivasi untuk berbuat sesuatu. Pemimpin harus melakukan komunikasi dua arah, secara aktif mendengar dan merespon kesukaran yang dihadapinya. Gaya pendelegasian tidak perlu banyak memberikan pengarahan dan support, tanggung jawab  diserahkan kepada bawahan. Mereka diberi kepercayaan untuk melaksanakan sendiri rencana, menetapkan prosedur dan teknis kegiatan. Bawahan diberi kebebasan melakukan tugas menurut cara mereka sendiri, karena mereka memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas tanggungjawab.

Berdasarkan tipe gaya kepemimpinan situasional hendaknya kepala sekolah sebagai pimpinan lebih peka untuk dapat menempatkan tipe gaya mereka sesuai dengan karakteristik bawahannya. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Reza Aditama Shelly Andari yang menunjukan bahwa kepemimpinan situasional kepala sekolah berpengaruh aktif terhadap kompetensi yang dimiliki oleh guru sebagai pendidik.

2.    Pengaruh Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru

Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur (Path analysis) dengan SPSS diperoleh persamaan analisis jalur untuk variabel lingkungan kerja dan kompetensi sosial guru yaitu diperoleh nilai koefisien untuk variabel X2 sebesar 0,295. Hal ini mengandung arti bahwa setiap lingkungan kerja satu satuan maka variabel kompetensi sosial guru akan naik sebesar 0,295 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain adalah tetap. Serta diperoleh dari nilai Error ( sebesar 0,749. Nilai p-value yang didapatkan adalah sebesar 0,000 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dengan demikian variabel lingkungan kerja berpengaruh terhadap variabel kompetensi sosial guru. Berdasarkan hasil output pengujian t dengan SPSS untuk mengetahui pengaruh lingkungan kerja secara parsial terhadap kompetensi sosial guru diperoleh thitung sebesar 3,887 lebih besar dari ttabel sebesar 1,654 maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja secara parsial berpengaruh terhadap kompetensi sosial guru.

Temuan ini memperkuat teori-teori sebelumnya yang menyatakan terdapat pengaruh lingkungan kerja terhadap kompetensi sosial guru. Teori dari Sedarmayanti mengungkapkan bahwa dengan lingkungan kerja yang baik dapat tercipta hubungan yang harmonis antara bawahan dengan atasan, dan dengan sesama rekan kerja. Teori dari Nitisemito mengungkapkan bahwa dengan lingkungan kerja yang kodusif akan mampu menciptakan hubungan yang baik dengan rekan kerja.

Hasil penelitian di atas sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Arizqi Ihsan Pratama dan Zainab Mahfudhoh, bahwa lingkungan kerja dapat menumbuhkembangkan kompetensi dalam bersosialisasi dari seorang guru kepada siswanya. Sebab, penerapan kinerja guru yang optimal salah satunya dapat tercermin dari sejauh mana siswa mampu mengimplementasikan umpan balik yang diterima saat kegiatan pembelajaran berupa prestasi belajar yang lebih baik.

3.    Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Lingkungan Kerja

Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur (Path analysis) dengan SPSS diperoleh persamaan analisis jalur untuk variabel kepemimpinan situasional lingkungan kerja dan lingkungan kerja  yaitu diperoleh nilai koefisien untuk variabel X1 sebesar 0,158. Hal ini mengandung arti bahwa setiap kepemimpinan situasional  satu satuan maka variabel lingkungan kerja  akan naik sebesar 0,158 dengan asumsi bahwa variabel bebas yang lain adalah tetap.

Serta diperoleh dari nilai Error ( sebesar 0,9506. Nilai p-value yang didapatkan adalah sebesar 0,049 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 dengan demikian variabel kepemimpinan situasional berpengaruh terhadap variabel lingkungan kerja. Berdasarkan hasil output pengujian t dengan SPSS untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan situasional secara parsial terhadap lingkungan kerja diperoleh thitung sebesar 1,987 lebih besar dari ttabel sebesar 1,654 maka Ho ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan situasional secara parsial berpengaruh terhadap lingkungan kerja.

Temuan ini semakin memperkuat teori-teori sebelumnya yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara kepemimpinan situasional  terhadap lingkungan kerja. Berdasarkan teori dari Gibson bahwa kepemimpinan situasional merupakan bentuk kepemimpinan yang digunakan seorang pemimpin untuk mengetahui kebiasaan anggotanya dalam situasi kondisi yang ada dilingkungannya.  Sehingga lingkungan kerja berperan dan dapat dipengaruhi oleh bentuk kepemimpinan atasan.

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A.  Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan mengenai pengaruh Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah dan Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................, dengan menggunakan regresi sederhana dan analisa jalur/ path analysis maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1.      Hasil uji pertama menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Kompetensi Sosial Guru  dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,021> 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima  jadi semakin tinggi kepemimpinan situasional kepala sekolah maka akan semakin tinggi pula kompetensi sosial guru.

2.    Hasil uji kedua menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Lingkungan Kerja Terhadap Kompetensi Sosial Guru dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,000> 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima  jadi semakin baik lingkungan kerja maka akan semakin baik pula kompetensi sosial guru.

3.    Hasil uji ketiga menyatakan bahwa ada pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Terhadap Lingkungan Kerja  dengan nilai signifikan regresi bernilai 0,049 > 0,05 maka Ho ditolak dan H1 diterima jadi semakin meningkat kepemimpinan situasional kepala sekolah maka akan semakin baik pula lingkungan kerja yang diciptakan.

B.  Implikasi

Hasil penelitian ini membawa implikasi dalam beberapa hal sebagai berikut:

Kesimpulan hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas mempunyai sejumlah implikasi penting terhadap meningkatkan kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................. Perumusan implikasi penelitian ini menekankan pada  peningkatan kepemimpinan situasional kepala sekolah dan lingkungan kerja yang baik untuk dapat terciptanya kompetensi sosial guru meningkat. Terciptanya kepemimpinan  yang baik merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas guru. Sebab itu Kepala Sekolahd an guru merupakan sumber daya manusia yang diharapkan mampu mengembangkan, mengarahkan, dan mendayagunakan unsurunsur pendidikan dan pengajaran, sehingga tercipta kegiatan dalam proses belajar mengajar yang baik dan berkualitas.

Kepemimpinan kepala sekolah dan lingkungan kerja yang kondusif akan mampu mendukung terciptanya kemampuan atau kompetensi guru meningkat. Implikasi  ini penting dalam analisis gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam membina kompetensi sosial guru. Semakin tinggi intensitas komunikasi dan interaksi kepala sekolah kepada warga sekolah, maka semakin baik dalam membina kompetensi sosial di lingkungan tersebut. Oleh karena itu gaya kepemimpinan situasional terlihat lebih menonjol dalam pembinaan kompetensi sosial guru. Kompetensi sosial guru tidak hanya melalui komunikasi dan interaksi antar warga sekolah namun bersama masyarakat sekitar sekolah. Dengan komunikasi yang intens dapat membuat interaksi yang dijalankan sangat baik, seperti dalam mengadakan kegiatan rutin baik dari pihak sekolah maupun masyarakat..

C.  Saran

Berdasarkan beberapa kesimpulan yang terpapar di atas, beberapa point saran yang peneliti sampaikan adalah sebagai berikut:

1.    Kepada kepala sekolah sebagai penanggung jawab agar dapat mempertahankan pengoptimalan dalam menjalin komunikasi yang baik dengan, guru, seluruh warga sekolah  dan  masyarakat sekitar. Upaya untuk membina kompetensi sosial guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota ............................  melalui pelatihan dan pembinaan lebih banyak lagi bagi guru untuk meningkatkan kualitas kompetensi sosial yang dimiliki oleh guru di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan ............................ Kota .............................

2.    Kepada guru sebagai bagian dari satuan pendidikan dapat mempertahankan komunikasi dan pergaulan yang efektif dengan sesama rekan kerja maupun dengan masyarakat. Hal itu dikarenakan secara tidak langsung dapat meningkatkan pengalaman dalam segi kompetensi sosial guru. Peneliti berharap dengan adanya penelitian ini dapat membantu pihak sekolah dan kepala sekolah agar lebih mensosialisasikan secara optimal tentang pentingnya kompetensi sosial bagi guru agar dapat mepertahankan komunikasi dan interaksi yang sudah berjalan optimal, berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan agar bisa menjadi agen perubahan sosial di tengah masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, R., & Andari, S. (2022). Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kompetensi Pembelajaran Guru Di Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, Vol 10 No, 470–481.

 

Afandi, F. (2018). Pengaruh Motivasi Kerja-Disiplin Kerja-Lingkungan Kerja dan Kemampuan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Honorer Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman. Universitas Jenderal Soedirman.

 

Apriliana, L. (2022). Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik, Karakteristik Individu Dan Kompetensi Sosial Terhadap Kepuasan Kerja Guru. Universitas Putra Bangsa.

 

Arep, & Hendri, T. (2015). Manajemen Motivasi. Grasindo.

 

Arikunto, S. (2016). Dasar-dasar Evaluasi Supervisi. Jakarta: Rineka Cipta.

 

Arikunto, S. (2021). Dasar-dasar evaluasi pendidikan edisi 3. Bumi Aksara.

 

Dewi, V. P. (2018). Pengaruh Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Dan Disiplin Kerja Terhadap Etos Kerja Guru Di Smpn Kecamatan Cibatu Kabupaten Purwakarta. Jurnal Administrasi Pendidikan UPI, 12(2).

 

Fahruddin, A. (2014). Kompetensi Guru dalam Membentuk Karakter Siswa. Digilib.Uinsby, 11–54.

 

Fauzia, H. H., Rubini, B., & Sunaryo, W. (2018). Kepemimpinan Situasional Dan Komunikasi Interpersonal Dalam Meningkatkan Komitmen Guru. Jurnal Manajemen Pendidikan, 6(2), 607–616.

 

Ferawati, A. (2017). Pengaruh lingkungan kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja karyawan. Agora, 5(1).

 

Fitriatin, Y. (2020). Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesional Guru. Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 3(2), 111–116.

 

Ghozali, I. (2020). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21. Badan Penerbit Undip.

 

Hidayat, Z., & Taufiq, M. (2012). Pengaruh Lingkungan Kerja dan Disiplin Kerja serta Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Lumajang. Wiga: Jurnal Penelitian Ilmu Ekonomi, 2(1), 79–98.

Janawi, J. (2019). Kompetensi guru: Citra guru profesional. Alfabeta.

 

Jihad, A. (2013). Menjadi guru profesional: Strategi meningkatkan kualifikasi dan kualitas guru di era global. Penerbit Erlangga.

 

Khasanah, U., Yulaeha, S., & Aisyiah, S. (2022). Pengaruh Pelibatan Orang Tua dan Kompetensi Sosial Guru terhadap Prestasi Akademik Peserta Didik Sekolah Dasar Kecamatan Moyudan Sleman. Jurnal Kewarganegaraan, 6(3), 5662–5672.

 

Marwansyah, M. S. D. M. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia (Dua). Alfa Beta.

 

Moeheriono, M. (2014). Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi (Revisi). In Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

 

Mulyasa, H. E. (2022). Manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah. Bumi Aksara.

 

Nitisemito. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia.

 

Nuryasin, I., Musadieq, M., & Ruhana, I. (2016). Pengaruh Lingkungan Kerja Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada Karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang). Brawijaya University.

 

Pratama, A. I., & Mahfudhoh, Z. (2021). Hubungan antara lingkungan kerja dengan kompetensi sosial guru madrasah. Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 227–237.

 

Puspitasari, D. J. (2023). Pengaruh Kompetensi Sosial Guru Terhadap Sikap Sosial Siswa Di Kelas IV SD Muhammadiyah Program Studi Guru Madrasah Ibtidaiyah 1445 H / 2023 M.

 

Rachmawati, A., & Rismawati, R. (2022). Pengaruh Beban Kerja, Stres Kerja Dan Lingkungan Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Di Dinas Sosial Kota Surabaya. Jurnal Ilmu Dan Riset Manajemen (JIRM), 11(4).

 

Ramayulis, R., & Mulyadi, M. (2017). Manajemen dan kepemimpinan pendidikan islam (Cet. 1). Kalam Mulia.

 

Rivai, V. (2013). Kepemimpinan dan perilaku organisasi. Rajawali pers.

 

Rosni, R. (2021). Kompetensi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah dasar. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia, 7(2), 113. https://doi.org/10.29210/1202121176

Rusdiana, E. (2018). Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah sebagai Educator dalam Meningkatkan Kompetensi Guru. Indonesian Journal of Education Management & Administration Review, 2(1), 231–236.

 

Sakti, B. A. (2017). Peran Kompetensi Sosial Dan Kompetensi Kepribadian Guru Dalam Mencapai Keberhasilan Pembelajaran. Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9).

 

Sardiman, W. (2016). Pembelajaran Dalam Inplementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kencana.

 

Sedarmayanti. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia. Refika Aditama.

 

Siagian. (2015). Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara.

 

Sidanti, H. (2015). Pengaruh lingkungan kerja, disiplin kerja dan motivasi kerja terhadap kinerja pegawai negeri sipil di sekretariat dprd kabupaten madiun. Jurnal Jibeka, 9(1), 44–53.

 

Sudjana, N. (2015). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algensindo.

 

Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.

 

Suryaningrat, R. D. (2016). Peningkatan Peran Kompetensi Sosial Guru Terhadap Lingkungan Di Sekolah. June, 1–7.

 

Toha, M. (2023). PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MELALUI SUPERVISI KEPALA MADRASAH DI MA HIDAYATUL MUBTADIIN. UNISAN JURNAL, 2(5), 581–589.

 

Vianora, W., Studi, P., Pendidikan, M., & Sarjana, P. P. (2022). Meningkatkan Kompetensi Sosial Guru ( Studi Kasus di MTsN 6 Tanah Datar ).

 

Wahab, & Umiarso. (2017). Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual. ArRuzz Media.

 

Wahjosumijo. (2013). Kepemimpinan Kepala Sekolah: Tinjauan dan Permasalahannya. Raja Grafindo Persada.

 

Wahyuningsih, N., & Trihantoyo, S. (2021). Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah Ken Blanchard-Paul Hersey. Jurnal Inspirasi Manajemen Pendidikan, 9(3), 727–738.

 

Wibowo, A. (2012). Menjadi Guru Berkarakter. Pustaka Pelajar.

 

Widoyoko, E. P., & Qudsy, S. Z. (2016). Evaluasi program pembelajaran: panduan praktis bagi pendidik dan calon penididik.

 

 

klik DOWNLOAD atau hub. (WA) 081327121707-(WA) 081327789201 terima kasih  

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar, hindari unsur SARA.
Terima kasih