Menerima Pembuatan TESIS-SKRIPSI-PKP UT, Silahkan Baca Cara Pemesanan di bawah ini

Lencana Facebook

banner image

Rabu, 12 Februari 2025

KARIL JURUSAN ADMINISTRASI PEMERINTAHAN UIVERSITAS TERBUKA

 

PEMERINTAHAN TERBUKA (OPEN GOVERNMENT) MELALUI PENERAPAN E-GOVERNMENT

 

...................1), .....................2)

1)Mahasiswa Jurusan  ................. Fakultas ......................... Universitas Terbuka

2) Dosen Jurusuan .................. Fakultas .......................... Universitas Terbuka

 

ABSTRAK

 

Tujuan penelitian untuk menjelaskan penerapan dan mengidentifikasi tantangane-Government   sebagai sarana peningkatan layanan umum. Penelitian didasarkan data sekunder yang diperoleh dari studi literatur. Data sekunder bersumber dari data kepustakaan dan pemikiran ahli terkait permasalahan. Data dianalisis secara kualitatif.  Hasil penelitian adalah gerakan open government pemerintah berkomitmen melalui penerapan E-Government  dalam peningkatan layanan umum diantaranya : digitalisasi layanan umum, transparansi dan akuntabilitas, kemudahan akses, pengambilan keputusan berbasis data dan efisiensi operasional. E-Government  adalah sistem informasi yang mencermati aspek sosial dan teknologi (sosio-teknologi) untuk menghindari kegagalan. Kendala dan tantangan penerapan e-Government  di Indonesia terkait masalah kesenjangan digital, kapasitas SDM yang terbatas, keamanan data dan privasi, anggaran dan infrastruktur, resistensi terhadap perubahan dan kurangnya integrasi sistem. Beberapa solusi rekomendasi untuk menghadapi tantangan tersebut adalah: (1)Meningkatkan investasi dalam infrastruktur digital, khususnya di wilayah terpencil, (2)Menyelenggarakan pelatihan SDM secara berkala untuk meningkatkan kompetensi pegawai, (3)Memperkuat regulasi tentang keamanan data dan mengadopsi teknologi cybersecurity modern, (4)Mengembangkan integrasi sistem lintas instansi agar layanan umum menjadi lebih efisien dan terpadu dan (5) Melibatkan masyarakat dalam proses digitalisasi melalui edukasi dan sosialisasi manfaat E-Government .

 

Kata Kunci : pemerintahan terbuka (open government),  penerapan, e-Government

 

 

PENDAHULUAN

Konsep good governance, warga negara merupakan elemen yang memiliki ikatan kuat dan berhubungan dengan pemerintah dan kalangan swasta. Permasalahan yang berhubungan dengan implementasi good governance adalah penurunan rasa kepercayaan masyarakat terkait dengan dependensi dan disparitas pemerintah  terhadap pengelolaan manajemen, sehingga melahirkan penyalahgunaan otoritas oleh pejabat pemerintah.(Muliawaty & Hendryawan, 2020). Pada pengertian sederhana, governance mengacu kegiatan yang dilaksanakan oleh kelembagaan publik sebagai penyelesaian masalah-masalah publik, pengelolaan terhadap sumber daya publik, penjamin terrealisasinya penegakan hak asasi manusia.  Esensi penting dari tata pemerintahan yang baik dan terbebas dari segala bentuk penyimpangan kekuasaan dan tindak korupsi serta menjamin legalisasi hak-hak berdasarkan supremasi hukum. Dari sisi pelayanan publik, penelitian ini berupaya mengedepankan sentimen terkait urgensi peran e-Government  dalam mengurangi ketidakberhasilan pemerintah terhadap layanan publik sebagaimana disebutkan dalam konsep ideal di atas.

E-Government  merupakan strategi penting untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas pemerintah dengan membuat layanan publik dapat diakses secara digital (Santoso, 2020). Berkat keterbukaan pemerintah melalui e-Government , masyarakat kini bisa lebih berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan (Wahyudi, 2021). Tujuan penerapan e-Government  di Indonesia adalah untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, transparansi dan akuntabilitas pelayanan publik.(Santoso, 2020). Melalui tujuan tersebut, e-Government  mempunyai peran berperan bermakna sebagai upaya peningkatan keterbukaan pelayanan, yang pada akhirnya membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Peningkatan transparansi melalui e-Government  berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah (Hasanah, 2018).

Melalui tujuannya, e-Government  memainkan peran penting dalam meningkatkan transparansi, yang pada akhirnya membantu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Peningkatan transparansi melalui e-Government  berpotensi meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. (Nurdin, 2018). E-Government  mengacu pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi paling inovatif oleh pemerintah, khususnya aplikasi Internet berbasis web, untuk memberikan akses yang lebih mudah kepada masyarakat dan dunia usaha terhadap informasi dan layanan pemerintah, meningkatkan kualitas layanan, dan memberikan peluang lebih besar untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi (Nurdin, 2018). Sedangkan Zainuddin (2021) mendeskripsikan E-Government  sebagai pemanfaatan teknologi informasi, seperti internet, World Wide Web, dan mobile computing, oleh lembaga pemerintah dapat mengubah interaksi mereka dengan masyarakat, sektor bisnis, berbagai bidang administrasi pemerintahan, dan entitas lainnya.

Gagasan pemerintahan terbuka telah menjadi pendekatan strategis bagi pemerintah di penjuru dunia sebagai cara peningkatan keterbukaan, akuntabilitas, dan partisipasi orang banyak. Menurut kebijaksanaan Integritas Global, konsep pemerintahan terbuka mencakup tiga pilar mulia: transparansi informasi yang cemerlang, partisipasi masyarakat yang antusias, dan akuntabilitas yang agung. Dengan jelas, rakyat memahami modus operandi pemerintah. Melalui keterlibatan publik, warga negara dapat mempengaruhi berfungsinya pemerintahan mereka dengan berpartisipasi aktif dalam pembuatan kebijakan dan agenda pelayanan. Responsibilitas berarti warga negara berhak mengajukan permintaan kepada pemerintah membenarkan kapasitas prosedural dan layanannya. Tiga komponen-komponen ini menggambarkan bahwa upaya, kebijakan, dan intervensi pemerintah sering disebut sebagai pemerintahan terbuka. Maksudnya disini adalah tidak ada satupun tindakan atau intervensi pemerintah yang bisa berdiri sendiri. Ketika Anda menggabungkan ketiga hal tersebut, potensi sebenarnya dari pemerintahan terbuka dalam bentuknya yang paling kuat dan holistik akan menjadi nyata (Souza, et.all., 2022)

Silalahi et al (2015) Pemerintahan Terbuka ibarat pelangi yang berkilauan di langit politik yang mengubah pemerintahan menjadi surga yang transparan, terbuka, dan partisipatif, dimulai dari pengambilan keputusan, implementasi, dan hingga evaluasi, di mana warga negara menjadi sorotan utama pemerintahan. Dalam hal akuntabilitas, pemerintah wajib mempertanggungjawabkan hal tersebut kepada rakyat, sebaliknya rakyat berhak menuntut pertanggungjawaban tersebut kepada pemerintah. Tanggung jawab mencakup seluruh tahapan, mulai dari pengembangan rencana aksi, pendanaan, implementasi, evaluasi hingga hasil dan dampak. Untuk mendukung pemerintahan yang terbuka, pemerintah mengandalkan sistem elektronik (e-Government ) yang didukung oleh penyedia layanan atau pihak lain yang ditunjuk untuk mencapai tujuan pembangunan.

Penerapan prinsip Open Government bertujuan untuk membangun hubungan yang lebih erat antara pemerintah dan masyarakat melalui penyediaan layanan yang terbuka, inklusif, dan efisien. E-Government , sebagai bagian dari implementasi pemerintahan terbuka, menawarkan solusi inovatif untuk mengatasi berbagai tantangan dalam pelayanan publik(Mardiana, 2019). Melalui digitalisasi layanan, pemerintah dapat meningkatkan aksesibilitas, mengurangi birokrasi, dan mempercepat proses administrasi. Di Indonesia, e-Government  telah diintegrasikan ke dalam berbagai sektor layanan publik, seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi kependudukan.

Konsep  open government (pemerintahan terbuka) di Indonesia, yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik, dapat dijalankan melalui penerapan e-Government  (pemerintahan berbasis elektronik). Dalam praktiknya, e-Government  berfungsi sebagai alat yang mempermudah dan mempercepat proses komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Penerapan e-Government   di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, meminimalisir korupsi, dan memberi masyarakat akses lebih luas terhadap informasi dan layanan publik.

Beberapa elemen penting dari konsep  open government yang diterapkan melalui e-Government  di Indonesia antara lain : pertama, transparansi, dengan e-Government , informasi publik dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat. Banyak lembaga pemerintah di Indonesia telah menyediakan informasi terkait kebijakan, anggaran, dan peraturan melalui platform digital. Misalnya, portal e-Government  pemerintah pusat dan daerah yang memungkinkan masyarakat untuk mengakses data anggaran, laporan tahunan, serta status pelaksanaan program-program pemerintah. Hal ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk memonitor penggunaan anggaran publik dan memastikan tidak ada penyalahgunaan

Kedua, akuntabilitas, e-Government  meningkatkan akuntabilitas dengan memungkinkan masyarakat memberikan feedback terhadap pelayanan publik yang mereka terima. Aplikasi atau sistem yang terintegrasi memungkinkan masyarakat melaporkan masalah atau ketidaksesuaian dalam pelayanan secara langsung dan transparan. Sebagai contoh, sistem pengaduan masyarakat online seperti lapor memfasilitasi laporan dari masyarakat yang dapat dipantau secara langsung oleh pemerintah.

Ketiga partisipasi masyarakat,  dalam kerangka open government, partisipasi masyarakat menjadi hal yang krusial. Penerapan e-Government  memungkinkan masyarakat berperan aktif dalam proses pembuatan kebijakan melalui konsultasi online, forum diskusi publik, dan survei digital yang sering dilakukan oleh pemerintah untuk mendapatkan masukan dari publik.

Namun, meskipun e-Government  dapat mendukung penerapan prinsip open government, pelaksanaannya di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Sebagai contoh, ketimpangan infrastruktur teknologi antara daerah yang satu dengan yang lain masih menjadi hambatan signifikan. Banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki infrastruktur digital yang memadai untuk mendukung layanan e-Government , terutama di daerah terpencil. Selain itu, tantangan lain termasuk rendahnya literasi digital dikalangan masyarakat dan aparat pemerintah yang masih terbatas dalam pemanfaatan teknologi informasi untuk meningkatkan pelayanan(Rahmawati & Suryadi, 2019). Penggunaan aplikasi dan sistem yang ada sering kali terkendala oleh masalah teknis, seperti kegagalan sistem dan masalah keamanan data. Secara keseluruhan, meskipun penerapan e-Government  di Indonesia telah membantu mewujudkan prinsip-prinsip open government, kesuksesannya sangat bergantung pada upaya peningkatan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta keberlanjutan kebijakan yang mendukung pemerintahan yang terbuka dan suportif memberikan pemenuhan segala hal yang dibutuhkan oleh masyarakat. (Prasetyo, 2020). Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk menjawab pertanyaan bagaimana penerapan E-Government  dalam meningkatkan layanan publik dan tantangan pelaksanaan yang dihadapi pemerintah dengan tujuan penelitian untuk memberikan penjelasan secara rinci tentang penerapan pelaksanaan E-Government  dalam meningkatkan layanan publik dan tantangan pelaksanaan yang dihadapi pemerintah.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan metode studi pustaka. Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber, seperti literatur, buku, jurnal, catatan, dokumentasi, dan hal-hal lain yang terkait dengan topik penelitian ini (Maulani, 2024). Menurut Sugiyono (2019), metode penelitian studi pustaka menggunakan referensi literatur ilmiah dan studi teoritis. Tujuan dari metode analisis isi dalam penelitian ini adalah untuk menjaga integritas proses pengkajiam dan menghindari kesalahan informasi dengan melakukan pengecakan literatur yang akan digunakan (Putri, 2019). Data kepustakaan dikumpulkan melalui proses pemilihan dan kemudian disajikan dan dianalisis melalui studi pustaka (Muhadjir, 2015). Data yang disajikan dalam bentuk kata akan diolah lebih ringkas dan sistematis (Muhadjir, 2015). Penelitian ini mengumpulkan data dari berbagai sumber, termasuk laporan, laporan, dan jurnal tentang pelayanan publik dan penerapan e-Government .

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Untuk mewujudkan komitmen keterbukaan di Indonesia, inisiatif Open Government Indonesia (OGI) diterapkan pada tiga pilar yaitu transparansi, partisipasi dan inovasi. Inti dari OGI dijalankan oleh tim inti OGI, yang terdiri dari perwakilan kementerian/lembaga dan organisasi masyarakat sipil (CSO), yang didukung oleh Sekretariat OGI. Sejak awal, tim utama OGI sudah mengikutsertakan masyarakat dalam menyusun rencana dan prioritas transparansi pemerintah untuk mengatasi permasalahan masyarakat dalam berbagai cara, termasuk diskusi kelompok sasaran (FGD), lokakarya, dan penggunaan kebijakan  komunikasi umum dan aplikasi berplatform media sosial internet (Ardina & Saharuddin, 2021) .

Antusiasme terhadap transparansi menjadi mesin pendorong yang kuat bagi pemerintah Indonesia dalam keikutsertaan Open Government Partnership (OGP) global sebagai salah satu pionir pada bulan September 2011. Dalam waktu kurang dari setahun, OGP telah memberikan perwakilan terhadap pendudukan dunia lebih dari 2 milyard dan telah menerima sokongan sejumlah 58 negara. Negara yang bermitra dengan OGP bekerja sama melintasi batas-batas politik untuk memperkuat hubungan antara warga negara dan pemerintah serta menciptakan pemerintahan yang lebih efisien (Dommett & Power, 2023).

Sebagai bentuk tindak lanjut sebagai negara pendukung Open Government, Indonesia bertekad  melaksanakan agenda dan  konsep tindakan yang memperkuat tiga tonggak keterbukaan : kejelasan, keikutsertaan masyarakat umum, dan langkah-langkah pembaharuan. OGI memiliki 38 agenda dan  konsep tindakan yang fokus pada tiga dari lima isu utama OGP, yaitu eskalasi pelayanan publik, penguatan  kredibilitas perangkat negara, dan pengelolaan potensi-potensi publik yang transparan dan efektif. Perencanaan dan pemantauan implementasi agenda-agenda OGI dilakukan dengan mengedepankan kerjasama yang kuat dari elemen-elemen penting pendukung, yaitu pemerintah dan masyarakat yang dengan kemauan sendiri ikut berperan serta aktif dalam tim pokok OGI. Keberadaan tim tersebut mempunyai tugas penting dalam perencanaan, pengumpulan laporan-laporan masyarakat, melaksanakan sosialisasi, pemantauan dan penilaian terhadap tingkat keberhasilan agenda penting OGI (Afandi, et.all., 2022).

Salah satu inovasi dalam transparansi pemerintahan adalah peluncuran Layanan Satu Pintu  dengan ketersediaan lebih dari 100 bahan penjelasan pelayanan masyarakat umum, salah satunya dengan agenda-agenda seperti pengurusan dokumen keimigrasian sampai pada layanan  biaya instalasi listrik. Dari sudut pandang sebuah lembaga, OGI juga mendorong pembentukan Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di seluruh komponen kabinet pemerintahan/lembaga/badan setingkat menteri. OGI menekankan terhadap penjelasan kepada masyarakat umum bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan OGI bukan saja sebagai implementasi agenda pemerintah saja, tetapi juga sebagai bentuk implementasi keputusan bersama. Pendekatan ini mengubah paradigma yang tadinya menganggap OGI sebagai milik pemerintah, kini menjadi milik masyarakat. Pemerintah telah beralih dari pendekatan konservatif menuju penyelesaian masalah ke pendekatan yang lebih inovatif, sementara masyarakat telah mengalami perubahan persepsi yang diawal terkesan ragu-ragu berubah menjadi ketertarikan yang mendalam. Selain itu, dukungan dari donasi dari luar negeri, sektor-sektor swasta baik kalangan pengusaha maupun non pengusaha, dan komunitas akademis mempercepat implementasi OGI di Indonesia (Indrayani, 2020).

Melalui gerakan pemerintahan terbuka, pemerintah berkomitmen melaksanakan program dan rencana aksi yang memperkuat tiga pilar transparansi pemerintahan, yaitu transparansi, partisipasi publik, dan inovasi. Khairudin, et. All. (2022)  menjelaskan gerakan tersebut didukung dengan penerapan e-Government  untuk meningkatkan pelayanan publik di Indonesia antara lain :

1.    Digitalisasi Layanan Publik

E-Government  memungkinkan masyarakat mengakses layanan pemerintah secara daring, seperti pembuatan dokumen kependudukan (e-KTP), pembayaran pajak online, dan perizinan usaha. Hal ini mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan dibandingkan dengan layanan tatap muka.

2.    Transparansi dan Akuntabilitas

Dengan digitalisasi, informasi pemerintah dapat diakses secara luas oleh publik melalui portal resmi, sehingga memperkecil peluang korupsi dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

3.    Kemudahan Akses

Platform seperti aplikasi seluler, situs web, dan portal layanan terpadu memberikan kemudahan bagi masyarakat di daerah terpencil untuk mendapatkan layanan pemerintah.

4.    Pengambilan Keputusan Berbasis Data

E-Government  memungkinkan pengumpulan dan analisis data secara real-time, yang membantu pemerintah dalam membuat keputusan yang lebih akurat dan tepat sasaran.

5.    Efisiensi Operasional

Pemanfaatan sistem elektronik mengurangi penggunaan kertas, mempercepat proses administrasi, dan meminimalkan kesalahan manusia.

E-Government  dapat dinyatakan sebagai salah satu bentuk perombakan dalam sistem administrasi umum yang terjadi di Indonesia khususnya dikaitkan dengan pengimplementasian pemerintahan terbuka (open government) secara berkesinambungan. Nurlaila (2024) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya e-Government  memiliki beberapa tantangan yang harus dihadapi yaitu;

1.    Kesenjangan Digital

Tidak meratanya akses internet, terutama di daerah terpencil, menjadi hambatan utama dalam memastikan seluruh masyarakat dapat menikmati manfaat E-Government .

2.    Kapasitas SDM yang Terbatas

Masih banyak pegawai pemerintah yang kurang terampil dalam mengoperasikan teknologi, sehingga membutuhkan pelatihan intensif dan berkelanjutan.

3.    Keamanan Data dan Privasi

Ancaman keamanan siber, seperti peretasan dan kebocoran data, menjadi risiko besar. Pemerintah harus memastikan keamanan sistem dan perlindungan data pribadi warga negara.

4.    Anggaran dan Infrastruktur

Pembangunan infrastruktur TIK dan pengembangan sistem digital membutuhkan biaya besar. Bagi negara berkembang, ini sering menjadi tantangan besar dalam pelaksanaan E-Government .

5.    Resistensi terhadap Perubahan

Beberapa pegawai pemerintah dan masyarakat mungkin merasa sulit beradaptasi dengan sistem baru, terutama jika tidak disertai edukasi dan sosialisasi yang memadai.

6.    Kurangnya Integrasi Sistem

Banyak sistem yang berjalan secara terpisah di berbagai instansi pemerintah, yang menghambat koordinasi antar lembaga dan mengurangi efisiensi layanan.

Untuk menghadapi tantangan Nurlaila (2024) memberikan beberapa rekomendasi yang dapat dijadikan solusi adalah.

1.        Meningkatkan investasi dalam infrastruktur digital, khususnya di wilayah terpencil.

2.        Menyelenggarakan pelatihan SDM secara berkala untuk meningkatkan kompetensi pegawai.

3.        Memperkuat regulasi tentang keamanan data dan mengadopsi teknologi cybersecurity modern.

4.        Mengembangkan integrasi sistem lintas instansi agar layanan publik menjadi lebih efisien dan terpadu.

5.        Melibatkan masyarakat dalam proses digitalisasi melalui edukasi dan sosialisasi manfaat E-Government .

Dengan pengelolaan yang baik, E-Government  berpotensi besar dalam menciptakan pelayanan publik yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Administrasi yang tidak efektif adalah penyebab hampir semua kegagalan pemerintah. Pemerintah berfungsi sebagai pelayan masyarakat, yang merupakan premis dasar yang harus melekat pada roda pemerintahan. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan meningkat karena buruknya manajemen pelayanan publik. Karena pemerintah tidak memiliki integrasi atau percampuran yang kuat dengan masyarakat, masalah ini pasti menjauhkan negara dari gagasan tata pemerintahan yang baik. Jika negara ingin menciptakan pemerintahan yang lebih efisien dan efektif, e-Government  harus ada. Untuk meningkatkan pelayanan publik dan menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif, penggunaan e-Government  menjadi penting saat ini.

Gerakan open government pemerintah berkomitmen melalui penerapan E-Government  dalam peningkatan layanan publik diantaranya : digitalisasi layanan publik, transparansi dan akuntabilitas, kemudahan akses, pengambilan keputusan berbasis data dan efisiensi operasional. E-Government  merupakan sistem informasi dimana aspek sosial dan teknologi (sosio-teknologi) harus dikelola dengan baik agar terhindar dari kegagalan.

 

Saran

Hambatan dan tantangan penerapan e-Government  di Indonesia adalah terkait kesenjangan digital, kapasitas SDM yang terbatas, keamanan data dan privasi, anggaran dan infrastruktur, resistensi terhadap perubahan dan kurangnya integrasi sistem. Beberapa saran untuk menghadapi tantangan tersebut adalah: (1)Meningkatkan investasi dalam infrastruktur digital, khususnya di wilayah terpencil, (2)Menyelenggarakan pelatihan SDM secara berkala untuk meningkatkan kompetensi pegawai, (3)Memperkuat regulasi tentang keamanan data dan mengadopsi teknologi cybersecurity modern, (4)Mengembangkan integrasi sistem lintas instansi agar layanan publik menjadi lebih efisien dan terpadu dan (5) Melibatkan masyarakat dalam proses digitalisasi melalui edukasi dan sosialisasi manfaat E-Government .

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Afandi, S. A., Afandi, M., & Erdayani, R. (2022). Pengantar Teori Pembangunan. Bintang Semesta Media.

Ardina, M., & Saharuddin, E., (2021). Implementasi Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten Bantul. Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 5(1), 49–61. https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/ interaksi/article/download/5667/5026

Dommett, K., & Power, S. (2023). Monitoring Digital Election Campaigns: Assessing the Transparency Ecosystem in the United Kingdom. Politics. https://doi.org/10.1177/02633957231156084

Hasanah, M. (2018). Transparansi dalam Penerapan E-Government  di Indonesia. Jurnal Administrasi Publik, 10(2), 25–35.

Indrayani, Etin. (2020). e-Government : Konsep, Implementasi dan Perkembangannya di Indonesia. Solok : LPP Balai Insan Cendekia.

Khairudin, Soewito, Aminah, Haninun, Nurdiawansyah. (2022). Membangun Kepercayaan Publik di Indonesia: Peran Good governance dan E-Government . Purwokerto : CV. Amerta Media.

Mardiana, R. (2019). Peran E-Government  dalam Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas Pelayanan Publik di Indonesia. Jurnal Ilmu Administrasi, 7(3), 15–30.

Muliawaty, L., & Hendryawan, S. (2020). Peranan e-Government  dalam pelayanan publik (studi kasus: Mal pelayanan publik Kabupaten Sumedang). Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi, 11(2), 45–57.

Mulyaningsih, & Safitri, W. (2022). How Do People Respond to Local Governments in Communicating Government Programs Through social media? Jurnal Manajemen Indonesia, 22(1), 76–87. https://doi.org/10.25124/jmi.v22i1.4079

Nurdin, A. H. M. (2018). Menuju pemerintahan terbuka (open government) melalui penerapan e-Government . Jurnal MP (Manajemen Pemerintahan), 5(1), 1–17.

Nurlaila. (2024). Transformasi Digital Pelayanan Publik: Tantangan dan Prospek dalam Implementasi E-Government  di Kabupaten Bima. Public Service And Governance Journal. Vol.5, No.2. Hal 21-37. https://jurnal2.untagsmg.ac.id/index.php/psgj/article/download/1468/1282

Prasetyo, A. (2020). Tantangan dan Peluang Implementasi E-Government  di Daerah Terpencil. Jurnal Teknologi dan Kebijakan Publik, 5(1), 20–65.

Rahmawati, L., & Suryadi, B. (2019). Tantangan Implementasi E-Government : Studi Kasus di Indonesia. Jurnal Teknologi Informasi, 15(1), 20–30.

Santoso, R. (2020). Efisiensi dan Efektivitas Pelayanan Publik melalui EGovernment. Jurnal Pemerintahan dan Kebijakan Publik, 12(3), 30–45.

Silalahi, M., Napitupulu, D., & Patria, G. (2015). Kajian Konsep dan Kondisi E-Government  di Indonesia. JUPITER: Jurnal Penerapan Ilmu-ilmu Komputer, 1(1).

Souza, A. A. C. de, d’Angelo, M. J., & Lima Filho, R. N. (2022). Effects of Predictors of Citizens’ Attitudes and Intention to Use Open Government Data and Government 2.0. Government Information Quarterly, 39(2). https://doi.org/10.1016/j.giq.2021.101663 

Wahyudi, D. (2021). Keterbukaan Pemerintah melalui E-Government  dan Partisipasi Masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 18(2), 40–50.

Zainuddin, M. (2021). Meningkatkan Efisiensi Pelayanan Publik Melalui EGovernment. Jurnal Administrasi Publik, 9(2), 10–20.

 

 

Untuk tindak lanjtu silahkan : klik DOWNLOAD atau hub. (WA) 081327121707 - (WA) 081327789201 terima kasih 
 

KARIL UT JURUSAN KOMUNIKASI UNIVERSITAS TERBUKA

 

PERUBAHAN MEDIA KOMUNIKASI DI ERA DIGITAL DALAM POLA KOMUNIKASI KELUARGA

 

...................1), .....................2)

1)Mahasiswa Jurusan  ................. Fakultas ......................... Universitas Terbuka

2) Dosen Jurusuan .................. Fakultas .......................... Universitas Terbuka

 

ABSTRAK

 

Jalian hubungan anggota keluarga mengalami penguatan apabila komunikasi keluarga berjalan dengan baik. Komunikasi keluarga telah mengalami perubahan drastis dari pola komunikasi konvensional menjadi komunikasi digital sebagai dampak  perkembangan teknologi komunikasi.  Keadaan ini menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam perilaku antar manusia dalam berhubungan dan berkoneksi. Penelitian membahas bagaimana perubahan media komunikasi di era digital dalam komunikasi keluarga dan bagaimana proses komunikasi keluarga yang terjadi di era digital. Metode penelitian deskriptif kualitatif. Data primer adalah data primer dari sumber literatur penelitian seperti buku, jurnal ilmiah dan berita yang selaras pembahasan masalah. Hasil penelitian memberikan petunjuk bahwa komunikasi keluarga di era digital komunikasi anggota keluarga menjadi mudah dan dilakukan setiap saat dan melalui media komunikasi telepon baik telepon portabel, tablet, atau gadget pintar sehingga komunikasi intens dilakukan dan lebih adaptif. Adapun cara komunikasi keluarga di era digital terjadi perubahan signifikan pada pola komunikasi interpersonal akibat munculnya blog, milis dan berbagai komunitas virtual seperti facebook, instagram, whatsapp, telegram, dan sejenisnya. Alat-alat teknologi baru ini telah mengubah cara anggota keluarga berinteraksi, berbagi informasi dan memelihara koneksi, sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan baru namun juga menimbulkan tantangan baru dalam hal komunikasi dan hubungan antarpribadi

 

Kata Kunci : perubahan media, pola komunikas, keluarga, era digital

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Keluarga dianggap sebagai entitas terkecil dalam struktur sosial suatu komunitas yang memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengembangkan serta menumbuhkan aturan, etika, dan tindakan yang dilakukan setiap pribadi yang tergabung di dalamnya. Pola interaksi komunikasi yang terjalin di dalam lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang sangat penting terhadap kualitas hubungan antar individu yang tergabung dalam keluarga serta proses perkembangan psikososial yang dialami oleh setiap anggota keluarga. Tetapi, terdapat perubahan yang cukup signifikan dalam patron komunikasi keluarga sehaluan terhadap kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, terutama di zaman digital yang sedang diterjemahkan pada masa kini (Setiawati, 2019).

Perubahan besar dalam tata dan kehidupan masyarakat dalam interaksi dan komunikasi satu sama lain sangat terpengaruh oleh perkembangan era digital. Perkembangan teknologi, seperti menjamurnya smartphone/gadget, popularitas media sosial, meluasnya penggunaan aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Instagram, serta ketersediaan platform dan aplikasi digital yang dapat membagikan konten-konten digital, telah memberikan dampak signifikan terhadap pola komunikasi atar anggota keluarga  (Agustina, 2023).

Penetrasi internet yang terus meningkat di Indonesia. Dengan perkiraan jumlah pengguna internet pada tahun 2024 sebanyak 221.563.479 pengguna, dibandingkan dengan total penduduk  Indonesia pada tahun 2023 278.696.200 jiwa maka prosentase pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 79,5%. Angka ini mencerminkan bagaimana internet bahwa keseharian kehidupan warganegara Indonesia menjadi sesuatu yang sangat dominan baik untuk kebutuhan komunikasi, pendidikan, hiburan, hingga ekonomi digital. Tren peningkatan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: Peningkatan pembangunan jaringan internet, terutama di daerah-daerah terpencil, penyebaran smartphone yang semakin meluas, semakin banyaknya layanan pemerintah dan bisnis yang berbasis digital, dan populasi muda yang adaptif terhadap teknologi (Wardana & Setiawan, 2024).

Penting untuk mengetahui apakah perubahan teknologi mempunyai dampak menguntungkan atau sebaliknya terhadap intensitas, pola dan mutu korelasi diantara komponen keluarga. Target tertinggi korelasi keluarga adalah keakraban dan konsistensi kekerabatan. (Agustina, 2023). Pemakaian alat komunikasi berbasis teknologi  menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya transformasi komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Pola komunikasi yang pada awalnya dilakukan dengan pertemuan dan percakapan, di era teknologi komunikasi yang berkembang saat ini menjadikan perubahan signifikan. Penggunaan ponsel pintar dengan aplikasinya memjadikan bentuk komunikasi berubah, baik cara, waktu maupun jenisnya sehingga komunikasi yang terjadi tidak lagi dilakukan dengan tatap muka tetapi melalui pesan instan yang dilakukan dimana saja dan bisa dilakukan tanpa ada di tempat yang sama secara fisik. Short message service, phone call, dan video call merupakan sarana komunikasi umum yang sering dijadikan alat dan sarana dalam interaksi serta cara berkomunikasi di dalam sebuah keluarga (Thoha, 2023).

Manajemen komunikasi melibatkan penggunaan sumber daya komunikasi secara terintegrasi selama tahap perencanaan, pengorganisasian, implementasi dan pengendalian berbagai komponen untuk mencapai tujuan tertentu (Ambarwati & Ratnasari, 2024). Menurut Wardana & Setiawan (2024), manajemen komunikasi melibatkan pengorganisasian sumber daya linguistik guna peningkatan kapasitas dan keefektifan perpindahan pesan yang disampaikan. Jenis komunikasi mencakup berbagai tingkatan, mulai dari hubungan pribadi dan interpersonal melalui struktur organisasi, hingga norma-norma nasional, sosial atau internasional.

Komunikasi merupakan sarana yang melaluinya seseorang menyampaikan pesan/informasi kepada pihak-pihak lain yang membutuhkan. Kodrat alamiah manusia adalah menjadi mahluk sosial memerlukan komunikasi untuk menjalin hubungan dengan dirinya sendiri, dengan Tuhannya dan dengan individu lain. Interaksi dengan orang lain dapat berupa individu, kelompok dan organisasi, baik itu dengan anggota keluarga seperti orang tua dan anak atau anggota keluarga lainnya (Yuna Amanda & Mulyana, 2022).

Komunikasi dalam keluarga merupakan aspek mendasar dalam kehidupan keluarga, komunikasi memegang peranan penting dalam membentuk hubungan, membangun kepercayaan dan menciptakan lingkungan yang harmonis. Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga merupakan tempat pertama seseorang belajar berkomunikasi, berinteraksi dan membina hubungan dengan individu lain. Stephen W. Littlejohn dan Karen A. Foss (2014:288) dalam buku Theories of Human Communication,  dikutip Fitzpatrick dan koleganya membahas tentang teori komunikasi hubungan interpersonal, terutama terkait dengan pengelolaan hubungan dalam keluarga dan pasangan. Fitzpatrick dikenal atas teorinya mengenai komunikasi marital, yang mencakup tipologi pasangan berdasarkan pola komunikasi dan orientasi hubungan. Buku Fitzpatrick ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana pola komunikasi memengaruhi dinamika hubungan interpersonal, terutama dalam konteks hubungan pasangan dan keluarga.

Komunikasi digital terjadi dengan menggunakan piranti elektronik dalam bentuk gadget, notebook, netbook, dan PC tablet untuk berhubungan dan berkomunikasi. Fitur utamanya adalah penggunaan teknologi digital untuk mengubah cara orang berkomunikasi melalui beragam digital teknologi, seperti internet, telepon, faxsimile, email dan aplikasi jejaring sosial.

Perubahan yang terjadi pada keluarga-keluarga telah berkembang secara signifikan dalam jumlah besar, berkat kemajuan teknologi khususnya di bidang komunikasi. Menjadi catatan penting bahwa transformasi yang terjadi memiliki konsekuensi positif dan negatifnya. Selain itu, akan ada keluarga tambahan yang mengaktifkan pemanfaatan digital teknologi  dalam menjaga koneksitas yang wajar dan profitabel. Di sisi lain, perubahan keluarga hanya sebatas kontak pribadi atau panggilan telepon. Pola komunikasi konvensional yang dilakukan personel keluarga mengalami perubahan,  sebagai pengganti penggunaan gadget, gawai, PC tablet, atau laptop  akan membuat cara berkomunikasi menjadi lebih sering dan bervariasi (Boestam, 2022).

Pentingnya menjalin komunikasi yang efektif dalam keluarga agar setiap anggota keluarga dapat saling memahami dan memahami serta berhasil mencapai tujuan keluarga. Komunikasi keluarga yang efektif berfungsi memperkuat ikatan emosional, membangun saling pengertian, dan memperdalam keintiman antar anggota keluarga. Ketika komunikasi berjalan dengan baik, anggota keluarga merasa didengarkan, dipahami, diakui dan diterima. Hal ini membantu menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga orang-orang dapat dengan bebas mengekspresikan pikiran dan perasaannya (Qorib et al., 2022).

Dalam penelitian sebelumnya bertajuk “Perubahan Komunikasi Orang Tua-Anak di Era Digital” (2023) yang dilakukan oleh Perdian Muhamad Thoha, Rizki Puja Kurniawan, dan Andhita Risko Faristiana, ditemukan media sosial mempengaruhi sifat komunikasi antara orang tua dan anak. Studi ini mengkaji dampak ketika orang tua membagikan momen penting dalam kehidupan anak-anak mereka di platform jejaring seperti Meta dengan aplikasi facebook dan instagram, dan aplikasi terbaru yaitu threads. Kemajuan teknologi membuat anak semakin banyak terpapar konten digital yang tidak selalu mencerminkan nilai-nilai yang diharapkan orang tua sehingga menimbulkan tantangan baru bagi orang tua dalam mengkomunikasikan nilai dan norma keluarga kepada anaknya.

Penelitian lainnya dilakukan oleh Agustina, A. P. (2023) dengan judul “Mengubah Pola Komunikasi Keluarga di Era Digital”. Telah terungkap bahwa teknologi digital dapat meningkatkan komunikasi dalam keluarga dengan memfasilitasi korelasi jarak jauh, memberikan kemungkinan pertukaran lintas informasi cepat dan mempermudah pemantauan kepada seluruh anggota keluarga. Pertukaran  dalam keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap korelasi anggotanya dan pertumbuhan aspek psikologis dan sosial mereka. Berkat kemajuan teknologi di bidang telekomunikasi digital yang berimbas pada proses pertukaran informasi di keluarga  bertransformasi besar-besaran. Munculnya era digital telah mengubah interaksi dan cara komunikasi antar individu secara mendalam. Dalam sudut pandang sempit transformasi yang terjadi dalam komunikasi digital adalah terdampaknya pola kekerabatan di keluarga khususnya pada aspek sosial.

Dengan penjelasan di atas, pembahasan difokuskan tentang perubahan media komunikasi di era digital dalam pola komunikasi keluarga dan proses komunikasi keluarga di era digital. Tujuan menentukan faktor yang berpengaruh terhadap perubahan media komunikasi di era digital dan proses komunikasi keluarga di era digital. Diharapkan hasil dalam penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting dalam pemahaman terhadap perubahan media komunikasi di era digital dan pola komunikasi keluarga di era digital.

 

METODE PENELITIAN

Pendekatan penelitian menggunakan pendekatan interpretatif. Pendekatan ini fokus terhadap realitas sosial yang sedang berkembang berkembang dan mempunyai makna subjektif. Realitas sosial dipandang sebagai produk konstruksi sosial. Dalam kerangka paradigma interpretif, manusia dipandang sebagai makhluk sadar yang bertindak dengan maksud tertentu (manusia yang disengaja). Metode penelitian  adalah deskriptif kualitatif. Penjelasan penelitian kualitatif adalah suatu proses pendalaman dengan tujuan  menginterpretasikan, peristiwa-peristiwa yang terjadi  melalui representasi komprehensif dan kompleks ke bentuk kalimat dan  menyajikan wawasan yang detail dari akar informasi dan didapatkan dengan proses alamiah (Fadli, 2021). Hal ini digunakan berdasarkan pertanyaan dan tujuan penelitian yang dimaksudkan untuk mewakili perubahan perspektivisme media komunikasi di era digital dalam proses komunikasi keluarga dan mekanisme komunikasi keluarga di era digital. Metode kualitatif menitikberatkan pada penyajian naratif atas fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. Data yang digunakan adalah data primer bersumber literatur penelitian seperti buku karangan ahli, penulisan jurnal ilmiah dan berita relevan terkait pertanyaan penelitian.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.    Perubahan Media Komunikasi dalam Komunikasi Keluarga di Era Digital

 Kemajuan teknologi telah mengubah cara orang berkomunikasi dengan mengubah cara komunikasi tradisional menjadi bentuk digital seperti email, media sosial, e-commerce, dan obrolan online. Penting untuk memiliki pemahaman yang jelas dan tujuan spesifik untuk berkomunikasi secara efektif di media digital. Penggunaan platform digital menyebabkan perubahan yang terjadi pada banyak tatanan kehidupan, seperti education styles, ketatanegaraan, moneter, dan healthy life. Komunikasi secara digital sangat penting bagi masyarakat, platform digital memberikan fasilitas perpindahan informasi dan komunikasi secara cepat dan efiesien. Akses informasi menjadi kebutuhan utama dalam tata kehidupan bermasyarakat. Akurasi, keselarasan dan keakuratan arus informasi yang beredar menjadi faktor penentu dan penjamin kesuksesan dan efektivitas informasi yang didapatkan (Hasian et al. 2020).

Berkomunikasi secara digital menggunakan perangkat elektronik yang sesuai misalnya komputer jinjing, gadget, gawai dan perangkat lain yang mendukung bertukar infoemasi dan dialog dengan pihak lain yang saling memiliki kepentingan. Karakter utamanya adalah pemakaian teknologi komunikasi secara digital, akselerasi, keefisienan, kecepatan akses dan luasnya jangkauan target komunikasi telah bertransformasi menjadi role mode digital komunikasi. Kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan dengan perangkat yang mendukung misalnya penggunaan internet, phone call, facsimile, email dan jejaring sosial. Komunikasi keluarga telah berubah secara signifikan di era digital karena evolusi teknologi informasi dan komunikasi..

Hal pokok yang menjadi landasan bahwa transformasi yang terjadi dalam komunikasi era digital adalah konsekuensi yang harus diterima baik yang bersifat positif maupun sebalaiknya  yang mengharuskan keluarga selalu melakukan update dalam mensikapi perubahan-perubahan yang terjadi di era teknologi digital agar selalu dapat menjadi kelangsungan komunikasi yang sehat dan produktif di dunia yang terkoneksi dengan baik.  Hal ini penting karena komunikasi di dalam keluarga dan komunikasi pribadi atau komunikasi telepon. Di era digital yang dapat diakses oleh semua orang dapat memanfaatkan perangkat digital semisal komputer jinjing, gadget atau gawai untuk berkomunikasi sehingga proses komunikasi ini sangat mudah dan fleksibel (Boestam, 2022).

Komunikasi yang terjalin dalam keluarga  di era digital mungkin tidak selalu sinkron. Pesan yang disampaikan tidak harus langsung dibalas saat itu juga sehingga anggota keluarga yang terlibat dalam proses komunikasi satu sama lain tidak ada keharusan harus berada dalam tempat yang sama  secara fisik. Digitalisasi mendorong komunikasi antar generasi dalam keluarga. Seringkali generasi dalam keluarga berbeda ketertarikan dan persepsi terhadap penggunaan teknolgi, namun mereka bisa secara bersama-sama belajar dan saling mendukung untuk menggunakannya.

Aplikasi teknologi komunikasi terkini yang memungkinkan orang tua mengawasi dan mengendalikan  pemakaian teknologi digital yang digunakan anak mereka. Hal ini termasuk pemanfaatan fasilitas internet filtering, pembatasan waktu pemakaian piranti, pemantauan kegiatan daring anak. Tujuannya adalah memberikan perlindungan terhadap anak terhadap kemungkinan bahaya kejahatan online. Pesatnya perkembangan teknologi di berbagai bidang memaksa masyarakat mengubah model dan manajemen berkomunikasi salah satunya adalah dalam berinteraksi sosial di jejaring sosial yang banyak beredar (Boestam, 2022).

Kegiatan berkomunikasi menciptakan jalinan korelasi efektif dan saling pengertian. Untuk memastikan keberhasilan dan efektivitas, sangat penting untuk memastikan keakuratan, kelengkapan, kebenaran, relevansi dan penyampaian komunikasi informasi tepat waktu. (Mustafa et al. 2020). Proses komunikasi dapat berjalan dengan baik pada saat media komunikasi yang digunakan memberikan kepastian  bahwa pesannya singkat, jelas, dan tepat sepanjang proses komunikasi. Dalam industri komunikasi, komunikator dikenal sebagai sumber penyampai pesan kepada lawan bicaranya, baik melalui media maupun secara langsung. Begitu pula pertukaran pesan dari komunikator ke komunikator dalam konteks komunikasi keluarga. Terlepas dari peran sebagai komunikator pada proses komunikasi keluarga, penerima komunikasi yang berperan dan menguasai arus informasi dan komunikasi yang terjadi dalam keluarga (Prasanti Ditha, 2018).

Komunikasi keluarga menjadi kunci modifikasi dari hubungan antarpribadi dari anggota keluarga berubah menjadi pola berorientasi kelompok dengan titik pokok pada hubungan antar anggota keluarga. Kehadiran keluarga didasarkan pada pola komunikasi dan korelasi yang terjadi antara orang tua dan anak. Melalui pertukaran verbal, mereka berhasil mengomunikasikan emosi, impian, tanggung jawab, dan aturan dalam keluarga. Hal ini mencakup pendekatan mereka dalam membangun dan menjaga hubungan serta modalitas komunikasi mereka, dengan keluarga juga dianggap sebagai unit komunikasi utama (Prabandari Ayu Isti, 2019).

Dari ilustrasi di atas dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi dan digitalisasi memberikan banyak perubahan besar pada elemen dasar kehidupan, termasuk komunikasi keluarga. Digitalisasi mengubah komunikasi keluarga secara mendasar, memengaruhi interaksi, berbagi informasi, dan hubungan antar anggota keluarga. Dampak besar dari teknologi digital adalah kemudahan komunikasi antar anggota keluarga, bahkan dari jarak jauh.

Penggunaan teknologi perpesanan instan, video call, dan jejaring sosial memberikan kemungkinan komunikasi keluarga terus tersambung tanpa ada kontak secara fisik meskipun secara jarak terpisah jauh. Mereka kini dapat membagikan kejadian, peristiwa, pengalaman dan anekdot penting dari kehidupan mereka di jejaring sosial seperti whatsapps, telegram, istagram, facebook dan lainnya. Berbagi kegiatan visual dalam bentuk foto dan video serta pengalaman dengan cepat akan membantu anggota keluarga jauh sehingga terasa lebih dekat dari sisi kehidupan masing-masing.

2.    Proses Komunikasi Keluarga di Era Digital

Keluarga merupakan bagian terpenting dari sisi kehidupan individu. Individu dalam keluarga mempunyai cara unik dalam berkomunikasi khususnya terkait komunikasi di era digital. Perkembangan teknologi informasi akan memberikan dampak yang kuat bagi keluarga di kota dan akan mengoptimalkan penggunaan media untuk komunikasi mereka. Dalam sebuah keluarga sejati, komunikasi sangat penting untuk mempererat ikatan dan ketergantungan antar anggotanya. Keluarga adalah kelompok primer  yang menjadi unsur penting pembentuk komunitas yang disebut masyarakat, terdiri dari persatuan antara laki-laki dan perempuan, memerlukan waktu paling singkat untuk reproduksi dan pendidikan anak. Keluarga adalah kesatuan  komunitas sosial kecil yang terdiri  ayah, ibu dan anak.

Jelaslah bahwa komunikasi dalam keluarga, di mana peristiwa-peristiwa setiap individu didiskusikan dan komunikasi dijaga, dapat menawarkan sesuatu kepada setiap anggota keluarga. Dengan berkomunikasi, permasalahan keluarga dapat teratasi hingga dicari solusi terbaiknya. Dalam sebuah keluarga, orang tua memegang peranan penting sebagai pendidik dan pembimbing untuk penanaman norma-norma kehidupan kepada anak. Orang tua dituntut mengembangkan sikap dan perilaku anaknya. Orang tua mengontrol dan menyaring informasi yang masuk, memberikan penjelasan yang jelas dan tepat. Ketika orang tua dan anak-anak menggunakan teknologi untuk berkomunikasi sebagai sebuah keluarga, bagaimana pengaruhnya terhadap proses komunikasi.

Komunikasi keluarga melalui teknologi di era digital telah melahirkan gaya hidup yang bersifat individualisme dan hemat, yang pada akhirnya berujung pada isolasi di tengah keramaian. Jika kita cermati, kita melihat semakin banyak orang tua yang meninggalkan anaknya di dunia digital. Orang tua merasa tidak perlu lagi mengkhawatirkan kebutuhan dan kekhawatiran anaknya. Anak-anak bersenang-senang dengan game online, berbagi pemikiran mereka di jejaring sosial seperti facebook/path, melakukan pembelian online, dan menunjukkan eksistensi dan popularitas mereka di Instagram. Kekeringan relasional menciptakan ketegangan berkepanjangan pada generasi berikutnya dan menjadi gaya hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi..

Keluarga telah kehilangan dimensi fisiknya, digantikan oleh kehadiran virtualnya. Komunikasi yang terjado pada keluarga digital proses interaksi tatap muka semakin banyak digantikan oleh komunikasi berbasis teknologi dan berkembang menjadi budaya maya. Interaksi keluarga tidak lagi tradisional dan bersifat pribadi. Anggota keluarga menggunakan ruang tertentu pada waktu tertentu untuk berinteraksi dengan cara yang berbeda, seperti ruang makan, ruang tamu, dan area relaksasi, tempat terjadinya pertukaran alami dan cara kerja komunikasi keluarga digital.

Ketika keluarga mengoptimalkan penggunaan media untuk berkomunikasi, anak-anak menjadi penduduk asli digital dan orang dewasa menjadi imigran digital. Mereka memiliki ruang khusus untuk tetap terhubung dengan informasi digital, yang biasanya menyita waktu saat pertemuan tatap muka dan komunikasi langsung dengan keluarga. Saat ini, ruang keluarga dan ruang keluarga tradisional digantikan oleh ruang elektronik atau virtual. Kedekatan menjadi jarak, secara sosial, sedangkan jarak menjadi kedekatan, secara sosial, karena mereka dibimbing menuju bentuk virtualnya: secara spasial berjauhan, namun sebenarnya dekat satu sama lain.

Evolusi teknologi digital dan dunia maya telah mentransformasikan citra keluarga yang beradaptasi dengan baik di era digital. Keluarga harmonis, akar munculnya informasi dan tindakan sosial, telah bertransformasi menjadi keluarga digital. Teknologi informasi dan komunikasi membawa dampak terhadap keluarga. Menurut Effendy, at.all (2024) Dengan menjelaskan bahwa interaksi tatap muka kini digantikan hubungan interaktif yang dimediasi jejaring sosial berkat evolusi teknologi informasi dan komunikasi. Kenangan keluarga kini ditangkap dan disimpan oleh piranti elektronik seperti komputer, ponsel pintar, dan tablet. Ingatan alami pikiran, termasuk sensasi dan emosi, serta fitur alami lainnya, kini digantikan oleh ingatan buatan seperti komputer, pengingat elektronik, atau buku harian digital.

Munawarah (2024) percaya bahwa budaya masyarakat kita sangat dipengaruhi oleh berbagai bentuk komunikasi yang kita gunakan sehari-hari. Perlu ditekankan bahwa ada beberapa tahapan yang memerlukan perhatian khusus. Pertama-tama, penting untuk ditekankan bahwa kemajuan teknologi di bidang komunikasi telah memberikan dampak yang signifikan terhadap evolusi budaya di seluruh dunia. Kemajuan-kemajuan ini tidak hanya memfasilitasi pertukaran dan interaksi antar individu, namun juga mengubah gaya hidup, tradisi, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Situasi ini mengacu pada penelitian yang menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dalam keluarga digital menyebabkan perubahan kultur dalam keluarga. Kedua, penting untuk ditekankan bahwa perkembangan cara komunikasi secara bertahap telah membentuk kehidupan umat manusia. Dalam konteks ini, peneliti mengamati secara cermat transformasi yang mempengaruhi kehidupan keluarga akibat perkembangan di bidang teknologi komunikasi.

 Perubahan-perubahan tersebut memunculkan model hidup yang berlandaskan prinsip individualisme dan ekonomis, sehingga melahirkan model hidup menyendiri di tengah keramaian. Ketiga, hal ini menunjukkan bahwa kita sedang mengembangkan alat komunikasi yang, dalam jangka panjang, berdampak pada kehidupan kita dan berkontribusi terhadap pembentukannya. Hal ini terlihat jelas melalui evolusi teknologi komunikasi era digital dalam keluarga yang terhubung. Pada akhirnya keluarga digital juga berhasil menciptakan cara hidupnya sendiri, sesuai dengan era digital yang kita jalani saat ini.

Teknologi komunikasi memainkan kewajiban fundamental terkait pengaruhnya terhadap pola kehidupan kesehariannya dengan memberikan kemungkinan pengiriman pesan secara instan, cepat dan efisien. Selain itu, hal-hal tersebut mempunyai dampak yang signifikan terhadap cara kita berinteraksi dengan orang lain dan cara kita berperilaku, sehingga membantu membentuk identitas dan kebiasaan kita. Lebih tepatnya, evolusi teknologi informasi telah menyebabkan perubahan dalam interaksi sosial individu, khususnya dalam keluarga yang terhubung, dengan mengubah cara mereka terus melakukan komunikasi satu sama lain.

Bahkan dalam bidang hubungan keluarga, terjadi perubahan signifikan pada pola komunikasi interpersonal dan ekspresi diri akibat munculnya blog, milis dan berbagai komunitas virtual seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, Telegram, dan sejenisnya. platform. Alat-alat teknologi baru ini telah mengubah cara anggota keluarga berinteraksi, berbagi informasi dan memelihara koneksi, sehingga membuka kemungkinan-kemungkinan baru namun juga menimbulkan tantangan baru dalam hal komunikasi dan hubungan antarpribadi.  Konvergensi media, yang ditandai dengan penggabungan berbagai jenis media seperti televisi, radio, media cetak, dan Internet, telah menembus jauh ke dalam persepsi manusia dan memberikan pengaruh yang signifikan dalam kehidupan yang dijalankan dalam hidup kesehariannya. Keterhubungan media  telah menyebabkan perubahan besar dalam cara kita mengonsumsi informasi, berinteraksi dengan orang lain, dan memandang dunia di sekitar kita. Dalam situasi ini, penulis melakukan analisis mendalam terhadap fenomena evolusi teknologi informasi dengan menyoroti penggunaan media komunikasi digital dalam keluarga. Sebuah keluarga yang memanfaatkan sepenuhnya peran teknologi informasi tentu ingin terus memanfaatkannya secara berkelanjutan.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pentingnya komunikasi dalam keluarga tidak bisa dianggap remeh. Kurangnya komunikasi yang efektif dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kesalahpahaman, konflik yang tidak terselesaikan, dan jarak emosional antar anggota keluarga. Sebaliknya, melalui komunikasi yang terbuka dan jujur, keluarga dapat mempererat hubungan, meningkatkan saling pengertian, dan mendukung kesehatan emosional dan psikologis seluruh anggota keluarga.

Kemajuan teknologi internet telah banyak mengubah cara anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain. Revolusi teknologi ini telah membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam berkomunikasi, memungkinkan anggota keluarga untuk tetap berhubungan dengan lebih mudah dan sering, baik melalui panggilan video, pesan instan, media sosial, atau email. Dengan demikian, jarak geografis tidak lagi menjadi hambatan utama dalam menjaga ikatan yang kuat dan teratur dalam sebuah keluarga, meskipun anggotanya berjauhan. Meskipun penggunaan teknologi memudahkan komunikasi jarak jauh, hal ini juga dapat menyebabkan berkurangnya komunikasi tatap muka, terutama antara orang tua dan anak. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya waktu yang dihabiskan bersama, percakapan tatap muka, dan interaksi emosional langsung, yang dapat berdampak pada kualitas hubungan keluarga. Kebiasaan  anggota keluarga melalukan komunikasi satu sama lain memainkan peran penting dalam pergerakan dinamis keluarga, hubungan antar pribadi dalam keluarga, serta pertumbuhan pribadi sebagai individu mandiri sebagai bagian dari unit keluarga. Menerapkan perilaku sehat dan positif dapat membantu memperkuat saling pengertian, dukungan, dan kolaborasi antar individu. Di sisi lain, perilaku tidak sehat  menimbulkan konflik dan permasalahan dalam berkomunikasi.

Dalam keluarga yang terhubung, komunikasi yang biasanya didasarkan pada interaksi tatap muka telah mengalami transformasi radikal karena berkembangnya media komunikasi, dan kini terutama dilakukan melalui platform online. Teknologi digital, seperti ponsel pintar, aplikasi perpesanan, dan media sosial, dapat memberikan dampak positif terhadap komunikasi dalam keluarga. Memang benar, alat-alat ini memfasilitasi interaksi jarak jauh dengan memungkinkan pertukaran cepat dan menawarkan kemungkinan pemantauan anak-anak, sehingga membantu memperkuat ikatan keluarga meskipun ada jarak fisik. Namun, meskipun alat komunikasi digital yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja dalam seluruh aspek kehidupan sehari-hari, anggota menyadari pentingnya interaksi bertatap muka dalam melestarikan keharmonisan hubungan antar anggota keluarga dan menjaga kesetimbangan komunikasi digital dan tatap muka. Penting untuk menjaga komunikasi yang transparan, kredibel ​​dan harmonis dalam keluarga untuk memfasilitasi ekspresi perasaan, pendapat dan masalah pribadi oleh anggota.

Saran

Dari temuan penelitian yang telah disebutkan sebelumnya, dapat ditegaskan bahwa evolusi media komunikasi di era digital telah membawa perubahan besar pada seluruh aspek kehidupan. Disarankan untuk memperhatikan pentingnya komunikasi yang harmonis dalam keluarga, memperhatikan dimensi fisik yang terdiri dari interaksi dan komunikasi personal antar anggota keluarga, memanfaatkan ruang dan momen konkrit untuk berbagai bentuk interaksi dalam ruang keluarga, seperti ruang makan, ruang tamu, atau bahkan area relaksasi dimana komunikasi dapat berlangsung secara alami..

 

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, A. P. (2023). Perubahan Pola Komunikasi Keluarga di Era Digital. Global Komunika, 6(2), 73–80. https://doi.org/https://doi.org/ 10.33822/gk.v6i2.6498

Ambarwati, Retno & Ratnasari, Nita Yunianti. 2024. Peningkatan Pengetahuan Ibu tentang Membangun Komunikasi Interaktif dalam Keluarga di Era Digital, Jurnal : Budimas, Vol. 06, No. 02. Hal. 1-8. https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/JAIM/article/view/14305

Boestam, Ambia. A. D. D. (2022). Komunikasi Digital Dan Perubahan Sosial. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan), Vol 6, No 4. Hal. 2829-2834. http://dx.doi.org/10.58258/jisip.v6i4.4032

Effendy, Erwan Akbar, Andy, Madani, Arizah Laila, Zahra, Luthfyah Az,  2024. Analisis Unsur-unsur Komunikasi, Media Komunikasi, Metode Komunikasi, Efek Komunikasi, Dawatuna: Journal of Communication and Islamic Broadcasting Volume 4 Nomor 3 (2024) hal. 1293-1300. https://journal laaroiba.com/ojs/index.php/dawatuna/ article/view/1021/510

Fadli, M. R. (2021). Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif. Jurnal : Humanika, Kajian Ilmiah Mata Kuliah Umum, Vol. 21. No. 1. pp. 33-54,  https://journal.uny.ac.id/index.php/humanika/article/view/38075/0

Hasian W, A Kinseng R, P Lubis D. 2020. Technological Development and The Dynamics of Juwana’s Fisherman Social Structure. Sodality Jurnal :  Sosiol Pedesaan. 8(2):36-52. doi:10.22500/8202030889.

Littlejohn, Stephen W. dan Foss, Karen A. (2014). Teori Komunikasi Theories of Human Communication. Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika

Munawarah, Zikrina. 2024.Analisis Teori Determinasi Teknologi Pada Aplikasi “Teman Bumil” sebagai Sumber Informasi. Jurnal Representamen Vol 10 No. 01 April 2024, Hal. 127-140, DOI: https://doi.org/10.30996/ representamen.v10i01.10468

Mustafa SZ, Kar AK, Janssen MFWHA. 2020. Understanding the impact of digital service failure on users: Integrating Tan’s failure and DeLone and McLean’s success model. Int J Inf Manage. https://ideas.repec.org /a/eee/ininma/v53y2020ics0268401219305298.html .

Nadira Dwi Yuna Amanda, & Mulyana, D. (2022). Pola Komunikasi Keluarga Anggota TNI-AD. Jurnal Riset Public Relations, 1(2), 142–147. https://doi.org/10.29313/jrpr.v1i2.499

Prabandari Ayu Isti, R. L. R. (201 9). Komunikasi Keluarga Dan Penggunaan Smartphone Oleh Anak. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/04/1 , diakses 19 November 2024

Prasanti, D. (2016). Perubahan Media Komunikasi Dalam Pola Komunikasi Keluarga di Era Digital. 1(1). Hal. 69-81. https://ejournal.upbatam.ac.id/index.php/commed/article/download/115/47/250

Qorib, F., Utami Rezkiawaty Kamil, S., Jumrana, & La Tarifu. (2022). Reshaping Today’s Education with Social Media. Jurnal Riset Public Relations, 105–110. https://doi.org/10.29313/jrpr.vi.1355

Setiawati, S. R. (2019). Proses Komunikasi Keluarga di Era Digital (Doctoral dissertation, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Thoha, Perdian Muhamad, Kurniawan, Rizki Puja & Faristiana, Andhita Risko. (2023). Perubahan Komunikasi Orang Tua Terhadap Anak Di Era Digital. Student Scientific Creativity Journal, 1(4), 415–431. https://doi.org/10.55606/sscj-amik.v1i4.1682

Wardana, J. Y. R., & Setiawan, R. (2024). Manajemen Komunikasi Keluarga di Era Digital. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(2), 21034–21043. Retrieved from http://jptam.org/index.php/jptam/article/view/15555

 

Untuk tindak lanjtu silahkan : klik DOWNLOAD atau hub. (WA) 081327121707 - (WA) 081327789201 terima kasih