EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA PADA
MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS
DI KABUPATEN .......................
TESIS
Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan
mendapatkan gelar Magister Pendidikan
Program Studi Pendidikan Jasmani
.......................
NIM . .......................
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI .......................
2025
.......................: Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten ........................ Tesis. .......................: Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri ......................., 2025
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Sekolah Penggerak jenjang SMA di Kabupaten ........................ Evaluasi dilakukan dengan menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) guna memberikan gambaran menyeluruh mengenai keberhasilan dan tantangan dalam pelaksanaan kurikulum tersebut.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan campuran (mixed methods), yang menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui angket, observasi, dan wawancara terhadap guru PJOK, kepala sekolah, dan pihak terkait lainnya untuk memperoleh data yang komprehensif dan mendalam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek Context, implementasi kurikulum telah sesuai dengan kebutuhan siswa dan didukung oleh kebijakan sekolah serta lingkungan yang kondusif. Pada aspek Input, sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta dukungan dari kepala sekolah dan orang tua dinilai sangat memadai. Aspek Process mengindikasikan bahwa pelaksanaan pembelajaran telah mengalami transformasi menuju pendekatan yang lebih partisipatif dan berpusat pada siswa, meskipun masih terdapat tantangan pada sekolah tertentu. Sementara itu, aspek Product menunjukkan capaian yang tinggi, baik dalam hal keterampilan, pengetahuan, maupun sikap siswa, serta penguatan karakter melalui nilai-nilai Pancasila.
Secara keseluruhan, implementasi Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ....................... dinilai berhasil dan memberikan dampak positif terhadap proses dan hasil belajar siswa. Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan berharga bagi para pemangku kepentingan dalam mengembangkan dan menyempurnakan program serupa di masa mendatang.
Kata kunci: Evaluasi, Kurikulum Merdeka, PJOK, Sekolah Penggerak, Model CIPP
ABSTRACT
.......................: Evaluation of the Implementation of the Independent Curriculum in Physical Education Subjects at Senior High School Mover Schools in ....................... Regency. Thesis. .......................: Physical Education Study Program, ....................... State University, 2025
This research aims to evaluate the implementation of the Merdeka Curriculum in Physical Education, Sports, and Health (PJOK) subjects at SMA-level Penggerak Schools in ....................... Regency. The evaluation was conducted using the CIPP evaluation model (Context, Input, Process, Product) to provide a comprehensive overview of the successes and challenges in the implementation of the curriculum.
The approach used in this research is a mixed methods approach, which combines qualitative and quantitative methods. Data collection techniques were carried out through questionnaires, observations, and interviews with PJOK teachers, school principals, and other relevant parties to obtain comprehensive and in-depth data.
The research results show that in the Context aspect, the curriculum implementation has been aligned with students' needs and supported by school policies and a conducive environment. In the Input aspect, human resources, facilities, and infrastructure as well as support from the principal and parents are considered very adequate. The Process aspect indicates that the implementation of learning has undergone a transformation towards a more participatory and student-centred approach, although there are still challenges in certain schools. Meanwhile, the Product aspect shows high achievements, both in terms of students' skills, knowledge, and attitudes, as well as character strengthening through Pancasila values.
Overall, the implementation of the Merdeka Curriculum in PJOK subjects at SMA Penggerak Schools in ....................... Regency is considered successful and has a positive impact on the learning Process and outcomes of students. These findings are expected to provide valuable Input for stakeholders in developing and refining similar programmes in the future.
Keywords: CIPP Model, Evaluation, Independent Curriculum, Physical Education, Pioneer School,
Tesis ini saya persembahkan untuk :
1. Allah SWT yang telah memberikan Hidayah, inayah dan kekuatan kepada saya sehingga dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini dengan baik
2. Rektor, Dekan, Kaprodi, Dosen Penguji , Dosen Pembimbing, Dosen Pengajar beserta seluruh staff Universitas Negeri ....................... yang telah memberikan bekal ilmu dan pembimbingan kepada saya.
3. Bapak, Ibu orang tua saya yang telah mengisi kehidupan saya tanpa mengenal lelah dan tanpa pamrih membimbing dengan ikhlas serta penuh kesabaran dalam menanamkan sikap baik sebagai seorang anak yang sholeh.
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim.
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT. Atas ridhaNya penulis dapat menyelesaikan penyusunan tesis ini. Adapun judul tesis yang penulis ajukan adalah “ Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Mata Pelajaran PJOK Pada Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ....................... .” Tesis ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir program magister. Tidak dapat disangkal bahwa butuh usaha yang keras dalam penyelesaian pengerjaan tesis ini. Namun, karya ini tidak akan selesai tanpa bantuan orang - orang tercinta di sekeliling penulis yang mendukung dan membantu. Terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. …………………………………. Rektor Universitas Negeri ....................... yang telah memberikan bekal pengetahuan.
2. …………………………………. Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan yang telah memberikan bekal pengetahuan.
3. …………………………………. Kaprodi S2 Pendidikan Jasmani yang telah memberikan bekal pengetahuan.
4. …………………………………., Dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan penyusunan tesis.
5. …………………………………., selaku Penguji I yang telah memberikan saran
dan masukan.
6. …………………………………., selaku Sekretaris Penguji yang telah
memberikan saran dan masukan.
7. Kepada Bapak/ Ibu guru PJOK yang bersedia menjadi sampel penelitian, yang telah bersedia bekerja sama dan memberikan izin, sehingga penelitian ini bisa terlaksana dengan baik.
8. Teman-teman S2 Pendidikan jasmani kelas B Intake Angkatan 2022 Universitas Negeri ........................
Semoga segala kebaikan dan pertolongan semuanya mendapat berkah dari
Allah SWT dan akhirnya penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kata
sempurna, karena keterbatasan ilmu yang penulis miliki. Dengan kerendahan hati
mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak demi
membangun laporan penelitian ini.
......................., April 2025
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
ABSTRAK.......................................................................................................... ii
ABSTRACT ......................................................................................................... iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KARYA................................................ iv
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................... v
LEMBAR PENGESAHAN................................................................................ vi
PERSEMBAHAN............................................................................................... vii
KATA PENGANTAR......................................................................................... viii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... x
DAFTAR TABEL............................................................................................... xii
DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
B. Identifikasi Masalah.................................................................... 13
C. Batasan Masalah......................................................................... 13
D. Rumusan Masalah........................................................................ 14
E. Tujuan Penelitian.......................................................................... 14
F. Manfaat Penelitian....................................................................... 15
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori.................................................................................. 16
1. Evaluasi dalam Penelitian..................................................... 16
2. Kurikulum Merdeka............................................................... 23
3. Evaluasi Model CIPP............................................................ 28
4. Pembelajaran PJOK Kurikulum Merdeka.............................. 38
5. Sekolah Penggerak ................................................................ 38
B. Kajian Penelitian yang Relevan................................................... 42
C. Alur/Kerangka Pikir..................................................................... 51
D. Pertanyaan Penelitian................................................................... 53
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ............................................................................ 55
B. Model Evaluasi............................................................................ 59
C. Lokasi/ Tempat dan Waktu Penelitian........................................ 60
D. Populasi dan Sampel Penelitian................................................... 60
E. Teknik dan Istrumen Pengumpulan Data .................................... 62
F. Validitas dan Reliabilitas............................................................. 67
G. Teknik Analisis Data ................................................................... 74
H. Kriteria Keberhasilan Evaluasi..................................................... 76
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian............................................................ 76
1. Deskripsi Hasil Angket.......................................................... 78
2. Deskripsi Hasil Observasi...................................................... 82
3. Deskripsi Hasil Wawancara................................................... 86
B. Pembahasan................................................................................. 111
1. Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ................................................................... 111
2. Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ............................................................................ 114
3. Evaluasi Process Pelaksanaan Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak di Kabupaten ...................................................... 117
4. Evaluasi Product Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ................................................................... 120
C. Keterbatasan Penelitian............................................................... 124
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan..................................................................................... 126
B. Saran........................................................................................... 127
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 128
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Komponen Evaluasi CIPP Kurikulum Merdeka ............................. 31
Tabel 3.1 Daftar Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten .............................. 59
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen, Sumber Data, dan Metode Pengambilan Data 64
Tabel 3.3 Revisi Uji Validasi Ahli ................................................................... 67
Tabel 3.4 Revisi Uji Validasi Dosen Ahli ........................................................ 67
Tabel 3.4 Hasil Uji validasi Instrumen............................................................. 70
Tabel 3.6 Kriteria Keberhasilan Evaluasi......................................................... 75
Tabel 4.1 Hasil Rekapitulasi Angket Model CIPP.......................................... 78
Tabel 4.2 Hasil Observasi Model CIPP........................................................... 82
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagan Manajemen Berbasis Sekolah Perencanaan...................... 41
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berfikir............................................................ 53
Gambar 3.1 Desain Penelitian Konvergen...................................................... 56
Gambar 4.1 Rata-Rata Skor Evaluasi Per Aspek............................................ 80
Gambar 4.2 Hasil Observasi Evaluasi CIPP per Sekolah................................ 84
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Surat Ijin Penelitian...................................................................
Lampiran 2 Kisi-Kisi Instrumen Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka
Lampiran 3 Hasil Uji Validasi Instrumen.....................................................
Lampiran 4 Hasil Angket Penelitian ............................................................
Lampiran 5 Hasil Observasi Penelitian.........................................................
Lampiran 6 Transkip Wawancara.................................................................
Lampiran 7 Surat Keterangan Validasi Ahli ................................................
Lampiran 8 Dokumentasi Kegiatan Penelitian.............................................
BAB I
A. Latar Belakang Masalah
Pada saat ini kemajuan dunia pendidikan terus mengalami perkembangan yang sangat pesat di berbagai negara seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan pendidikan nasional di setiap negara tentu tidak sama antara satu negara dengan negara lainnya, hal ini disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara. Di Indonesia, tujuan pendidikan yang akan dicapai di sesuaikan dengan kebutuhan bangsa Indonesia, yaitu sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi Tujuan Pendidikan di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini merupakan tujuan utama Pendidikan Nasional Indonesia. Tujuan Pendidikan tersebut menggambarkan cita-cita bangsa Indonesia untuk mendidik dan menyamaratakan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia agar tercapai kehidupan berbangsa dan bernegara yang aik sehingga membawa kemajuan bagi bangsa dan negara Indonesia.
Untuk mencapai Tujuan Pendidikan Nasional, maka pemerintah menyelenggarakan sistem pendidikan nasional sebagai pedoman pelaksanaan atau penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Pendidikan pada hakekatnya adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan menurut UU No.20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 2, menyatakan bahwa “Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.” . Kemudian dalam pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 dijelaskan tentang fungsi Pendidikan nasional bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu, dalam rangka mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional , salah satu upaya pemerintah adalah mendirikan berbagai lembaga penyelenggara Pendidikan atau sekolah-sekolah di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, pemerintah juga mengangkat guru menjadi PNS atau PPPK sebagai tenaga pendidik dan pengajar di satuan pendidikan yang telah dibangun dan disiapkan pemerintah sebagai tempat dilaksanakannya proses pendidikan. Selain itu pemerintah juga menetapkan pedoman pelaksanaan pendidikan di satuan pendidikan dalam bentuk kurikulum Pendidikan.
Menurut Syarqawi (2019:58) kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses berlajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggungjawab satuan pendidikan atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Sementara itu, menurut Undang - Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 19 disebutkan bahwa kurikulum adalah merupakan seperangkat pengaturan dan rencana mengenai tujuan, isi, dan materi pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran guna mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah. Dalam proses tersebut ada dua subjek yang terlibat yakni guru dan siswa. Siswa merupakan subjek yang dibina dan guru adalah subyek yang membina.
Bagi guru atau tenaga pendidik, kurikulum memiliki fungsi atau kegunaan sebagai acuan dalam menerapkan kegiatan belajar mengajar. Dengan kata lain, kurikulum di sini dijadikan sebagai pedoman kerja bagi guru dalam mengajar siswa dan mencapai tujuan pembelajaran. Tentu pendidik atau guru merasa terbantu dengan adanya kurikulum, di mana guru atau pendidik hanya mengikuti struktur yang sudah dibuat untuk menyampaikan materi pelajaran maupun melakukan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran dan pencapaian peserta didik. Tanpa adanya kurikulum, guru akan kesulitan dalam menentukan materi yang akan disampaikan serta pencapaian yang harus dicapai siswa. Hal ini juga membuat hasil atau tujuan pembelajarannya berbeda-beda. Namun dengan adanya kurikulum, guru bisa tahu batasan keberhasilan siswa, sehingga evaluasi terhadap perkembangan peserta didik dalam menyerap ilmu bisa terlaksana dengan baik. Bagi siswa fungsi kurikulum untuk memudahkan dalam memetakan jadwal dengan baik dan tepat agar setiap tugas atau pekerjaan yang harus mereka kerjakan bisa terlaksana dengan baik. Melalui jadwal ini, siswa bisa membagi waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas sesuai tuntunan guru. Selain itu bagi siswa kurikulum memiliki fungsi sebagai sarana dalam mengukur kemampuan diri dalam proses pembelajaran karena kurikulum juga berkaitan dengan target materi yang harus dipahami siswa serta proses pelaksanaan pembelajaran setiap hari agar berjalan efektif.
Pada tahun 2022, Pemerintah Indonesia meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai inisiatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia (Direktorat Sekolah Dasar, 2022). Kurikulum Merdeka merupakan sebuah rencana pembelajaran yang memberikan keleluasaan bagi sekolah dan guru dalam mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Adanya Kurikulum Merdeka diharapkan proses belajar mengajar di sekolah dapat lebih berpusat kepada siswa, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang kreatif, inovatif, dan memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman (R. Rahayu et al., 2022)
Kurikulum Merdeka ini juga merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk menciptakan suasana sekolah yang baik bagi siswa maupun guru, karena bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang baik tanpa memberikan beban yang berat kepada siswa, berdasarkan prinsip prinsip yang ada didalam Kurikulum. Tujuan utama dibentuknya Kurikulum Merdeka adalah agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuan dan potensi sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya (Mukti, 2023). Pembelajaran yang sesuai dengan bakat dan minat dapat menjamin terlaksananya pendidikan yang berkelanjutan sepanjang hayat (Sakdiah & Syahrani, 2022).
Menurut Kemendikbudristek Republik Indonesia, Kurikulum merdeka mempunyai pengertian yaitu suatu kurikulum yang memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas, sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik serta pengembangan soft skills dan karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka juga mempunyai pengertian yaitu kurikulum yang bertujuan untuk mengasah minat dan bakat peserta didik sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik yang dimiliki (Rachmawati et al., 2022).
Menurut Kemendikburistek Republik Indonesia Karakteristik utama dari kurikulum merdeka yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah: (1) Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil Pelajar Pancasila, (2) Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, dan (3) Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan ,bakat , dan minat peserta didik dan melakukan penyesuaian dan adaptasi dengan konteks pembelajaran dalam proses belajar mengajar di satuan pendidikan (S. Rahayu et al., 2021).
Pendidikan sepanjang hayat ditempuh melalui pembelajaran seumur hidup agar memberikan dampak yang sangat penting untuk pertumbuhan pribadi peserta didik (Djuhartono et al., 2022). Proses pendidikan penting dilalui untuk mewujudkan potensi penuh mereka sebagai peserta didik melalui proses pembelajaran pengetahuan dan keterampilan (Fitri, 2021). Satu dari banyak mata pelajaran di sekolah yang dilaksanakan sepanjang hayat adalah mata pelajaran PJOK. Keberadaan mata pelajaran PJOK di sekolah memiliki peran penting dengan memberikan kesempatan langsung pada siswa untuk terlibat dalam berbagai pengalaman belajar, beberapa diantaranya melibatkan fisik, olahraga, dan kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan (Tauhidman & Ramadan, 2018). Tujuan PJOK meliputi: pengembangan kesehatan, kebugaran jasmani, ketrampilan berfikir kritis, kestabilan emosi, ketrampilan bersosial, dan tindakan moral melalui pembelajaran atau aktivitas jasmani dan olahraga (Manalu, 2017).
Mata pelajaran PJOK sesuai dengan mandat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional wajib diajarkan di sekolah dasar dan menengah. Pelaksanaan PJOK di sekolah dasar penting diperhatikan karena benar-benar menjadi pondasi gerak dan gaya hidup sehat melalui aktivitas fisik (Priadana et al., 2021). Pelaksanaan mata pelajaran jelas harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku yaitu kurikulum merdeka. Pada jenjang ini, peserta didik mendapatkan dasar-dasar ilmu pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang akan menjadi pondasi bagi perkembangan peserta didik pada jenjang berikutnya. Oleh karena itu evaluasi terhadap pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar menjadi penting dilakukan (Sudrajat et al., 2023). Evaluasi ini penting dilakukan karena bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kurikulum merdeka telah diimplementasikan di sekolah serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan kendala yang dihadapi selama pelaksanaanya. Hasil evaluasi diharapkan dapat memberikan masukan dan rekomendasi bagi kepala sekolah selaku pemangku kebijakan, dan yang memiliki kepentingan, serta pihak-pihak terkait untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas implementasi Kurikulum merdeka yang sudah berjalan di sekolah khususnya pada sekolah penggerak.
Dalam kebijakan pendidikan merdeka, program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mengubah satuan pendidikan guna meningkatkan hasil belajar peserta didik secara keseluruhan. Selain itu, tujuan pendidikan untuk membentuk Profil Pelajar Pancasila dapat dicapai melalui perubahan yang menciptakan kondisi ekosistem pendidikan yang mendukung, mulai di satuan pendidikan itu sendiri, di daerah, dan nasional (Syafi’i, 2022). Fokus dari program sekolah penggerak di Indonesia adalah peningkatan kualitas pendidikan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yang mencakup keterampilan kognitif (literasi dan numerasi) dan nonkognitif (karakter), yang diawali dengan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, yaitu kepala sekolah dan guru. Guru dan kepala sekolah dari sekolah penggerak melakukan pengimbasan ke institusi pendidikan lain (Patilima, 2022).
Kurikulum Program Sekolah Penggerak merupakan ruang eklektik yang memungkinkan sekolah dan guru untuk menjadi kreatif dan menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan sekolah. Modul pembelajaran memiliki komponen tertentu untuk topik pembelajaran. Pendidik bertanggung jawab untuk membuat rencana pembelajaran. Upaya untuk mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik dikenal sebagai rencana pembelajaran. Praktik pembelajaran juga tidak lagi tematis. Sebaliknya, mereka dilakukan dengan cara yang sesuai dengan topik pembahasan mereka. Pembelajaran dimulai dengan penjelasan dan kegiatan siswa. Selain itu, prosedur berbeda dari yang ditunjukkan dalam buku pelajaran sebelumnya. Keadaan dan kondisi mengubah cara materi disampaikan (Saidah & Imron, 2022).
Program Sekolah Penggerak terfokus pada pengembangan SDM sekolah, mulai dari siswa, guru, sampai kepala sekolah. Kualitas siswa diukur melalui pencapaian hasil belajar di atas level yang diharapkan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan menyenangkan (Sulistyati 2021). Melalui pembelajaran yang berpusat pada murid, diharapkan dapat tercipta suatu perencanaan program dan anggaran yang berbasis pada refleksi diri, refleksi guru, sehingga terjadi perbaikan pada pembelajaran dan sekolah melakukan pengimbasan (Syafi’i, 2022). Guru Penggerak menjadi sebuah istilah baru yang langsung populer setelah diumumkannya Pendidikan dan Pelatihan Guru Penggerak oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Banyak guru yang berusaha untuk mengikuti seleksi guru penggerak di berbagai daerah. Beberapa sekolah dasar yang ada di Indonesia sudah mulai menerapkan program Sekolag Penggerak. Sekolah yang sudah menerapkan program ini sudah memenuhi kualifikasi dari sekolah penggerak tersebut. Program sekolah penggerak merupakan evolusi dari program pengembangan sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mempercepat sekolah negeri/swasta di seluruh sekolah untuk bergulir beberapa jenjang lebih tinggi (Rahayu et al., 2022).
Diterapkannya kurikulum Merdeka oleh Pemerintah, maka saat ini satuan pendidikan Sekolah menengah Atas di Kabupaten ....................... telah menggunakan kurikulum merdeka sebagai pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di satuan pendidikan sesuai peraturan pemerintah mulai Tahun Pelajaran 2023 - 2024. Dengan demikian semua mata pelajaran yang diajarkan di satuan pendidikan berpedoman pada kurikulum merdeka yang telah dijabarkan dan disusun oleh setiap satuan pendidikan menjadi Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Salah satu mata pelajaran yang dilaksanakan di satuan pendidikan yang menerapkan kurikulum merdeka adalah mata pelajaran PJOK.
Dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, evaluasi merupakan langkah krusial untuk menilai sejauh mana kurikulum tersebut berhasil diterapkan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu model evaluasi yang digunakan dalam menilai implementasi kurikulum ini adalah model CIPP, yang merupakan singkatan dari Context, Input, Process, dan Product. Keempat komponen ini menggambarkan tahapan penting dalam proses pendidikan yang saling terkait satu sama lain dan memberikan gambaran menyeluruh mengenai kualitas pelaksanaan kurikulum.
Aspek Context (konteks) dalam model CIPP mengkaji latar belakang, tujuan, dan kebutuhan yang melatarbelakangi diterapkannya Kurikulum Merdeka. Dalam hal ini, evaluasi berfokus pada apakah kurikulum telah dirancang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, lingkungan sosial budaya, serta visi pendidikan nasional. Pada tingkat sekolah, aspek konteks juga mencakup kebijakan sekolah dan kesiapan lingkungan dalam menerima perubahan kurikulum.
Aspek Input (masukan) mencakup segala bentuk sumber daya yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi kurikulum. Ini meliputi kesiapan guru, ketersediaan sarana dan prasarana pembelajaran, dukungan dari kepala sekolah dan orang tua, serta penyediaan modul ajar dan pelatihan profesional. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, Input menjadi penting karena kurikulum ini menuntut fleksibilitas dan kreativitas yang tinggi dari guru dalam menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik siswa.
Selanjutnya, aspek Process (proses) berfungsi mengevaluasi bagaimana kurikulum diimplementasikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Hal ini mencakup metode pengajaran yang digunakan guru, pelibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan seberapa efektif proses pembelajaran berlangsung sesuai prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran yang berdiferensiasi dan berpusat pada siswa.
Sementara itu, aspek Product (hasil) mengevaluasi keluaran dari implementasi kurikulum, baik dalam bentuk keterampilan, pengetahuan, sikap siswa, maupun pencapaian tujuan pendidikan yang lebih luas. Dalam Kurikulum Merdeka, hasil ini juga mencakup keberhasilan siswa dalam menginternalisasi nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila seperti gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan beriman serta bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Model CIPP digunakan karena mampu memberikan pendekatan evaluasi yang komprehensif, sistematis, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Berbeda dengan model evaluasi konvensional yang hanya menilai hasil akhir, CIPP memberikan gambaran menyeluruh mulai dari perencanaan hingga dampak akhir dari pelaksanaan kurikulum. Ini sangat relevan dengan filosofi Kurikulum Merdeka yang menekankan proses reflektif dan penyesuaian terus-menerus sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan pendekatan ini, hasil evaluasi bukan hanya menjadi alat ukur, tetapi juga sebagai dasar untuk menyusun strategi perbaikan dan pengembangan kurikulum di masa mendatang.
Untuk mengetahui seberapa jauh Tingkat keberhasilan pelaksanaan kurukulum Merdeka mata Pelajaran PJOK SMA di Kabupaten ....................... khususnya pada sekolah penggerak maka perlu dilakukan evaluasi dan penelitian secara detail. Salah satu model evaluasi yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan adalah evaluasi menggunakan model CIPP (Context-Input-Process-Product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam. Selanjutnya menurut Stufflebeam dalam Arikunto (2021:45) dijelaskan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang bermanfaat untuk pengambvil keputusan dalam menentukan keputusan alternatif. Penggunaan evaluasi Model CIPP melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi Konteks, dimensi Input, dimensi Proses dan dimensi Produk. Keunikan model CIPP ini adalah pada setiap tipe evaluasi , selalu terkait dengan perangkat pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program.
Evaluasi pembelajaran PJOK dalam kerangka Kurikulum Merdeka dapat dianalisis menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Pada aspek Context, kurikulum merdeka menekankan pentingnya profil pelajar Pancasila yang mendorong pembentukan karakter melalui aktivitas fisik, sehingga tujuan dan materi PJOK harus relevan dengan kebutuhan dan minat siswa. Pada tahap Input, keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kompetensi guru, kesiapan siswa, serta ketersediaan fasilitas olahraga yang mendukung prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek. Tahap Process menyoroti implementasi pembelajaran aktif, menyenangkan, dan kontekstual, sesuai prinsip Kurikulum Merdeka yang mengutamakan pengalaman belajar yang bermakna. Sementara itu, pada tahap Product, hasil belajar tidak hanya diukur dari aspek kognitif, tetapi juga keterampilan gerak, sikap sportif, dan kolaborasi, mencerminkan pencapaian kompetensi dan karakter yang holistik.
Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi. Evaluasi dengan model CIPP sangat efektif dalam lingkup fungsinya, karena model ini bersifat mendasar, menyeluruh, dan terpadu. Bersifat mendasar, karena mencakup obyek-obyek inti pembelajaran, yakni tujuan, materi, proses pembelajaran, dan evaluasi itu sendiri. Bersifat menyeluruh, karena evaluasi difokuskan pada seluruh pihak yang terkait dalam proses pembelajaran. Bersifat terpadu, karena proses evaluasi ini melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam proses pembelajaran di satuan pendidikan.
Berdasarkan hasil observasi, pengamatan dan wawancara awal oleh peneliti kepada beberapa guru mata pelajaran PJOK SMA pada Sekolah Penggerak di Kabupaten ....................... yang dilakukan beberapa bulan lalu ditemukan informasi bahwa, beberapa guru masih belum sepenuhnya memahami dan menerapkan kurikulum merdeka dengan baik. Masih terdapat beberapa kesulitan terhadap pemahaman unsur-unsur kurikukum Merdeka. Adapun hasil observasi dan wawancara awal dengan beberapa guru PJOK SMA pada Sekolah Penggerak di Kabupaten ....................... diperoleh data di lapangan sebagai berikut :
1. Hasil Pengamatan/ Observasi awal terkait Konteks
Beberapa guru PJOK menjawab bahwa belum sepenuhnya memahami Kurikulum Merdeka terkait materi pelajaran dan tujuan pembelajaran, khususnya tentang Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Capaian Pembelajaran (CP)
2. Hasil Pengamatan/ Observasi awal terkait Input
Dari hasil wawancara dengan beberapa guru PJOK , diperoleh informasi antara lain bahwa guru masih belum memahami sepenuhnya berbagai perbedaan karakteristik siswa dan cara menggunakan media pembelajaran yang efektif
3. Hasil Pengamatan/ Observasi awal terkait Proses
Dari hasil pengamatan dan wawancara kepada beberapa guru diperoleh informasi awal bahwa guru masih belum memahami bagaimana cara Menyusun perangkat pembelajaran atau modul pembelajaran yang baik. Selain itu beberapa guru masih belum dapat melaksanakan proses pembelajaran sesuai konsep kurikulum Merdeka, misalnya anak dengan beda kemampuan awalnya seharusnya proses pembelajaran dan materinya juga berbeda.
4. Hasil Pengamatan/ Observasi awal terkait Produk
Dari hasil pengamatan dan wawancara terhadap guru PJOK diperoleh informasi awal bahwa beberapa guru belum dapat Menyusun dengan baik konsep dalam assesmen penilaian , pembuatan rubrik penilaian, modul penilaian serta hasil evaluasi penilaian terhadap peserta didik yang belum sesuai dengan alur tujuan pembelajaran (ATP) dan Capaian Pembelajaran (CP) yang telah ditetapkan sebelumnya oleh satuan Pendidikan dalam modul pembelajaran
Berdasarkan temuan data awal di lapangan sebagaimana dijelaskan di atas, maka peneliti perlu melakukan evaluasi dalam bentuk penelitian, maka dari itu diperlukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK pada Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ........................ Dengan dilaksanakan evaluasi secara menyeluruh diharapkan akan dapat diketahui bagaimana implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK di SMAN Kabupaten ........................ Hal ini sejalan dengan pendapat Worthen dan Sanders(1991) menyatakan bahwa evaluasi adalah mencari sesuatu yang berharga (worth), Sesuatu yang berharga tersebut dapat berupa informasi mengenai suatu program, produksi serta alternatif prosedur tertentu. Lebih lanjut dijelaskan menurut Undang Undang RI No. 20 tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, Bab. XVI pasal 57, menyatakan bahwa evaluasi di lakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan terhadap pihak-pihak yang terkait.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran PJOK Pada Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten .......................“. Dengan dilakukan penelitian ini maka diharapkan diperoleh data informasi yang akurat dan lengkap sebagai dasar untuk menarik kesimpulan serta saran yang tepat agar pelaksanaan implementasi kurikulum merdeka menjadi lebih baik .
B. Deskripsi Program
Namun sebelum evaluasi ini dilaksanakan, telah teridentifikasi berbagai persoalan yang mencerminkan tantangan nyata di lapangan. Dari aspek konteks, ditemukan bahwa banyak guru PJOK belum memahami secara utuh esensi Kurikulum Merdeka. Konsep dasar seperti alur tujuan pembelajaran (ATP) dan capaian pembelajaran (CP) masih asing bagi sebagian guru, sehingga perumusan tujuan pembelajaran menjadi tidak terarah. Kondisi ini berdampak pada ketidaksesuaian antara pembelajaran yang dirancang dengan kebutuhan siswa serta tujuan pendidikan nasional.
Pada aspek input, hambatan muncul dari keterbatasan pemahaman guru dalam mengenali karakteristik siswa dan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, yang merupakan ciri khas utama dari Kurikulum Merdeka. Selain itu, kemampuan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran serta minimnya sarana dan prasarana penunjang di sekolah-sekolah penggerak juga menjadi kendala dalam mendukung pelaksanaan kurikulum secara optimal.
Dalam aspek proses, pelaksanaan kurikulum di dalam kelas masih menghadapi berbagai tantangan teknis. Banyak guru mengaku kesulitan menyusun perangkat ajar seperti modul dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka. Penerapan metode yang berpusat pada siswa pun belum sepenuhnya berjalan, karena beberapa guru masih menggunakan pendekatan tradisional yang tidak memfasilitasi partisipasi aktif siswa. Hal ini membuat proses pembelajaran cenderung monoton dan kurang memotivasi siswa.
Sementara dari sisi produk, hasil pembelajaran siswa belum dapat diukur secara akurat. Proses asesmen belum sepenuhnya dipahami oleh guru, baik dari segi penyusunan instrumen, penggunaan rubrik, hingga pemaknaan terhadap capaian belajar. Akibatnya, pengukuran terhadap kompetensi dan karakter siswa, sebagaimana yang ditargetkan dalam Profil Pelajar Pancasila, belum bisa dilakukan secara optimal.
Sebelum dilakukan evaluasi dengan model CIPP, pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di SMA Sekolah Penggerak Kabupaten ....................... menghadapi berbagai permasalahan yang mencakup aspek konteks, input, proses, dan produk. Secara umum, guru belum sepenuhnya memahami konsep dasar kurikulum, seperti ATP dan CP, sehingga perencanaan pembelajaran menjadi tidak terarah. Dari sisi input, kesiapan sumber daya manusia dan sarana penunjang pembelajaran masih terbatas. Proses pembelajaran belum sepenuhnya mencerminkan pendekatan yang berpusat pada siswa, dan asesmen terhadap capaian belajar peserta didik belum dilaksanakan secara optimal. Permasalahan-permasalahan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan kurikulum dan implementasinya di tingkat sekolah, sehingga diperlukan evaluasi yang sistematis dan komprehensif melalui model CIPP untuk merumuskan langkah-langkah perbaikan yang konkret dan berkelanjutan..
C. Pembatasan Masalah dan Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas , maka agar pembahasan masalah dalam penelitian ini tidak terlalu luas dan karena adanya keterbatasan waktu maka peneliti perlu merumuskan batasan masalah. Adapun Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah bahwa penelitian hanya akan melakukan evaluasi implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK menggunakan model evaluasi CIPP (Contex, Input, Proses, Product ) di Sekolah Penggerak Sekolah SMA Kabupaten ....................... .
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimana hasil evaluasi Context, implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ....................... ?
2. Bagaimana hasil evaluasi Input , implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ....................... ?
3. Bagaimana hasil evaluasi Process, implementasi kurikulum Merdeka mata pelajaran PJOK Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ....................... ?
4. Bagaimana hasil evaluasi Product , implementasi kurikulum Merdeka mata pelajaran PJOK Sekolah Penggerak di Kabupaten ....................... ?
D. Tujuan Evaluasi dan Tujuan Program
Adapun tujuan dalam evaluasi ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui hasil evaluasi Context, implementasi kurikulum Merdeka mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
2. Mengetahui hasil evaluasi Input, implementasi kurikulum Merdeka mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
3. Mengetahui hasil evaluasi Process, implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
4. Mengetahui hasil evaluasi Product, implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
E. Manfaat Evaluasi
1. Manfaat Teoritis
Manfaat evaluasi ini diharapkan dapat memberikan masukkan bagi penulis dan memperkaya hasil penelitian dalam bidang manajemen pendidikan, khususnya bagi studi evaluasi implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan jenjang SMA. Selain itu hasil penelitian ini bisa menjadi masukan dan alternatif dalam pelaksanaan implementasi kurikulum merdeka di SMA agar lebih baik.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis manfaat evaluasi ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada berbagai pihak sebagai berikut :
a. Bagi Guru PJOK
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan saran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam rangka pelaksanaan implementasi kurikulum Merdeka di satuan pendidikannya.
b. Bagi Sekolah
Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi dan informasi dalam menyusun Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP)
c. Bagi Penulis
Hasil Penelitian diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang pelaksanaan implementasi kurikulum Merdeka mata Pelajaran PJOK Sekolah Menegah Atas
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
1. Evaluasi dalam Penelitian
a. Pengertian Evaluasi
Evaluasi dapat diartikan juga penilaian. Evaluasi atau penilaian adalah penentuan pencapaian tujuan suatu program (Rifani, 2016). Aryanti, et al (2018) mendefinisikan evaluasi sebagai sebagai salah satu alat dalam membantu sebuah perencanaan, perbaikan dan pengembangan serta penyempurnaan suatu kegiatan atau program. Selanjutnya Utami, et al (2019) menjelaskan evaluasi sebagai suatu cara dalam menilai sesuatu, yang dimana prosesnya dilakukan untuk menilai sesuatu berdasarkan kriteria atau standar objektif yang telah ditetapkan sebagai dasar dalam menetapkan sebuah keputusan terhadap objek yang dievaluasi. Evaluasi merupakan suatu proses sistematis dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pelaksanaan pendidikan inklusi dengan kriteria tertentu yang telah ditetapkan untuk pengambilan suatu keputusan.
Secara umum evaluasi merupakan sebuah kegiatan yang diawali dengan mengukur dan menilai (Arikunto, 2021). Evaluasi merupakan alat untuk menganalisis, menilai fenomena dan aplikasi ilmu pengetahuan serta juga dapat dimanfaatkan untuk mengambil sebuah keputusan secara menyeluruh. Sedangkan Sukardi (2021) menjelaskan tentang evaluasi sebagai proses mendapatkan informasi dan memahami serta mengkomunikasikan hasil informasi tersebut kepada pemangku keputusan.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu pemeriksaan terhadap pelaksanaan suatu program yang telah dilakukan yang akan digunakan untuk mengendalikan pelaksanaan program agar jauh lebih baik. Dengan demikian evaluasi lebih bersifat melihat kedepan,dan mengarahkan pada upaya peningkatan kesempatan demi keberhasilan program. Evaluasi merupakan suatu usaha untuk mengukur dan memberi nilai secara objektif pencapaian hasil yang telah direncanakan sebelumnya dimana hasil evaluasi tersebut akan menjadi umpan balik untuk perencanaan.
b. Tujuan Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan untuk mencapai berbagai tujuan sesuai dengan objek evaluasinya. Menurut Wirawan (2016:30) tujuan dalam melaksanakan evaluasi antara lain: mengukur pengaruh program terhadap masyarakat, menilai apakah program telah dilaksanakan sesuai dengan rencana, mengukur apakah pelaksanaan program sesuai dengan standar, evaluasi program dapat mengidentifikasi dan menemukan mana dimensi program yang jalan dan mana program yang tidak jalan, pengembangan staf program dimana evaluasi dapat dipergunakan mengembangkan kemampuan staf serta memberikan masukan kepada pimpinan / manajer program mengenai kinerja staf dalam melayani masyarakat, jika terjadi staf kompetensinya rendah maka perlu dilakukan pengembangan dengan segera, tujuan evaluasi lainnya adalah untuk memenuhi ketentuan undang-undang, akreditasi program, mengambil keputusan mengenai program, memberikan balikan kepada pimpinan dan staf program.
Evaluasi merupakan proses yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan, menginterpretasikan, dan menyajikan informasi tentang suatu program untuk dapat digunakan sebagai dasar membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun menyusun program selanjutnya. Adapun tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi yang akurat dan objektif tentang suatu program. Informasi tersebut dapat berupa proses pelaksanaan program, dampak/hasil yang dicapai, efisiensi serta pemanfaatan hasil evaluasi yang difokuskan untuk program itu sendiri, yaitu untuk mengambil keputusan apakah dilanjutkan, diperbaiki atau dihentikan. Selain itu, juga dipergunakan untuk kepentingan penyusunan program berikutnya maupun penyusunan kebijakan yang terkait dengan program (Widoyoko & Qudsy, 2016). Menurut Sukiman (2021:12) tujuan umum dari evaluasi dalam pendidikan adalah untuk memperoleh data pembuktian, yang akan menjadi petunjuk sampai dimana tingkat kemampuan dan tingkat keberhasilan peserta didik dalam pencapaian kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum, setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Beberapa pendapat yang telah dikemukakan, tujuan evaluasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pencapaian tujuan pelaksanaan pendidikan inklusi yang telah dilaksanakan berdasarkan informasi dan data yang diperoleh, untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan kegiatan tindak lanjut atau untuk melakukan pengambilan keputusan berikutnya.
c. Fungsi Evaluasi
Evaluasi mempunyai beberapa fungsi yang diantaranya adalah untuk memperoleh informasi tentang hasil-hasil yang telah dicapai, dapat diketahui relevansi antara program yang telah dirumuskan dengan tujuan yang hendak dicapai, serta dapat dilakukan usaha perbaikan, penyesuaian dan penyempurnaan suatu program.
Menurut Sukardi (2021,p.79) evaluasi mempunyai fungsi yang bervariasi di dalam proses belajar mengajar, yaitu sebagai berikut;
1) Sebagai alat guna mengetahui apakah peserta didik telah menguasai pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan yang telah diberikan oleh seorang guru.
2) Untuk mengetahui aspek-aspek kelemahan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar.
3) Mengetahui tingkat ketercapaian siswa dalam kegiatan belajar.
4) Sebagai sarana umpan balik bagi seorang guru, yang bersumber dari siswa.
5) Sebagai alat untuk mengetahui perkembangan belajar siswa.
6) Sebagai materi utama laporan hasil belajar kepada para orang tua siswa.
Demikian bervariasinya fungsi evaluasi, maka sangat penting bagi para guru agar ketika merencanakan kegiatan evaluasi, sebaiknya perlu mempertimbangkan lebih dahulu fungsi evaluasi yang manakah, yang hendak dibuat untuk para siswa sehingga dalam melakukan tindak lanjut dapat dilakukan dengan cara yang tepat
d. Prinsip Evaluasi
Menurut Febriana (2021,p.60) ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam melakukan evaluasi. Baiknya prosedur evaluasi yang diikuti dan sempurnanya teknik evaluasi yang diterapkan, apabila tidak dipadukan dengan prinsip-prinsip penunjangnya, maka hasilnya akan kurang dari yang diharapkan. Setidaknya ada tujuh prinsip yang harus diperhatikan, yang pada intinya menjadi faktor pendukung/penunjang dalam melakukan evaluasi yang berhasil. Adapun ketujuh prinsip evaluasi tersebut adalah prinsip berkesinambungan (continuity), prinsip menyeluruh (comprehensif), prinsip objektivitas (objectivity), prinsip validitas (validity) dan realibilitas (reliability), prinsip penggunaan kriteria, dan prinsip kegunaan.
1) Berkesinambungan (Continuity)
Prinsip berkesinambungan merupakan kegiatan evaluasi hasil belajar dimana evaluasi dilaksanakan secara terus-menerus (kontinyu). Evaluasi tidak boleh dilakukan secara insidental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinyu. Artinya guru harus selalu memberikan evaluasi kepada siswa sehingga kesimpulan yang diambil akan lebih tepat.
2) Menyeluruh (Comprehensive)
Evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh, mencakup keseluruhan aspek tingkah laku siswa, baik aspek berpikir (cognitive domain), aspek nilai atau sikap (affective domain), maupun aspek keterampilan (psichomotor domain) yang ada pada masing-masing siswa. Dengan kata lain, dalam melakukan evaluasi terhadap suatu objek, guru harus mengambil seluruh objek itu sebagai bahan evaluasi.
3) Objektivitas (Objectivity)
Prinsip objektivitas ini terutama berhubungan dengan alat evaluasi yang digunakan. Maksudnya, alat evaluasi yang digunakan hendaknya mempunyai tingkat kebebasan dari subjektivitas atau bias pribadi guru yang bisa mengganggu. Evaluasi harus didasarkan atas kenyataan (data dan fakta) yang sebenarnya, bukan hasil manipulasi atau rekayasa sehingga hasil dari evaluasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
4) Validitas (Validity) dan Reliabilitas (Reliability)
Validitas atau kesahihan merupakan suatu konsep yang menyatakan bahwa alat evaluasi yang dipergunakan, benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan reliabilitas adalah suatu pengukuran sejauh mana pengukuran tersebut tanpa bias (bebas kesalahan error free) dan karena itu menjamin pengukuran yang lintas waktu dan lintas beragam item dalam instrument. Dengan kata lain, keandalan atau reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan tingkat keajegan atau konsistensi suatu tes.
5) Penggunaan Kriteria
Penggunaan kriteria yang diperlukan dalam evaluasi adalah pada saat memasuki tingkat pengukuran, baik pengukuran dengan menggunakan standar mutlak (penilaian acuan patokan) maupun pengukuran dengan standar relatif (penilaian acuan norma). Dalam penilaian acuan patokan, misalnya apabila siswa diberikan 100 soal dan setiap soal mempunyai bobot 1, maka kedudukan siswa ditentukan berdasarkan jumlah jawaban yang benar terhadap pertanyaan tersebut. Apabila angka 70 dianggap bahwa siswa telah menguasai meteri, maka siswa dinyatakan berhasil apabila mendapat angka 70 atau lebih. Sedangkan penilaian acuan norma dilakukan dengan membandingkan nilai yang diperoleh seorang siswa dengan nilai siswa-siswa lainya di kelas tersebut.
6) Kegunaan
Prinsip kegunaan ini menyatakan bahwa evaluasi yang dilakukan hendaklah merupakan suatu yang bermanfaat, baik bagi siswa maupun bagi pelaksana. Apabila pelaksanaan evaluasi ini hanya akan menyusahkan siswa, tanpa ada manfaat bagi dirinya sendiri secara pedagogis, maka sebaiknya evaluasi itu tidak dilakukan. Kemanfaatan ini diukur dari aspek waktu, biaya, dan fasilitas yang tersedia maupun jumlah siswa yang akan mengikutinya.
e. Jenis-jenis Evaluasi
1) Model Evaluasi Countenance Stake
Model Countenance dikembangkan oleh Robert Stake sebagai pendekatan dalam evaluasi program. Meskipun tidak secara eksplisit memberi nama yang mencolok pada modelnya, istilah "Countenance" digunakan mengacu pada judul artikel Stake sendiri, walaupun maknanya masih bisa ditafsirkan beragam. Dalam konteks ini, "Countenance" dapat diartikan sebagai representasi keseluruhan atau bisa juga dimaknai sebagai sesuatu yang dipandang secara positif. Stake merancang model ini sebagai pendekatan evaluasi formal, yang umumnya dilakukan oleh pihak luar yang bersifat objektif dan tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan program. Model ini disusun dengan prinsip bahwa evaluasi seharusnya memberikan gambaran menyeluruh dan pemahaman mendalam terhadap program yang dievaluasi (Hasan, 2008).
Struktur model ini terdiri dari dua matriks utama: matriks deskriptif dan matriks pertimbangan. Masing-masing matriks memiliki dua kategori dan tiga bagian. Matriks deskriptif memuat kategori rencana (intent) dan observasi, sedangkan matriks pertimbangan terdiri dari kategori standar dan pertimbangan evaluatif. Dalam pendekatannya, Stake menekankan bahwa evaluasi formal perlu mencermati tiga aspek utama: kondisi sebelum program dimulai (anteseden), proses pelaksanaan (transaksi), dan hasil yang dicapai (outcome). Anteseden merujuk pada latar belakang atau kondisi awal, transaksi menggambarkan proses kegiatan, dan hasil mencerminkan kemampuan atau pencapaian peserta didik sebagai dampak dari program (Jaskarti, 2013).
a) Matriks Deskripsi
Dalam model Countenance Stake, kategori pertama dari matriks deskripsi merujuk pada unsur-unsur yang dirancang dalam tahap perencanaan pengembangan program. Dalam konteks program Ma’had Aly, elemen tersebut mencakup kurikulum yang dirancang, kelengkapan sarana dan prasarana, profesionalisme tenaga dosen, serta peran mudir sebagai inisiator program. Pada tahap ini, juga dirumuskan aktivitas yang akan dijalankan dan target capaian dari program.
Kategori kedua adalah observasi, yaitu bentuk implementasi nyata dari rencana yang telah ditetapkan. Pada bagian ini, evaluator mengidentifikasi sejauh mana pelaksanaan sesuai dengan perencanaan awal. Informasi yang dikumpulkan mencakup tiga aspek utama: antecedent (kondisi awal program), transaction (proses interaksi selama pelaksanaan, misalnya dalam kelas), dan outcome (hasil belajar atau capaian peserta didik). Evaluator bertugas mengumpulkan data empiris secara menyeluruh mengenai apa yang telah dirancang pada tahap intensi sebelumnya (Hasan, 2008).
Secara keseluruhan, model Countenance Stake dibangun dari dua matriks deskripsi dan pertimbangan yang keduanya memfokuskan perhatian pada tiga komponen utama: antecedent, transaction, dan outcome, masing-masing mencerminkan fase sebelum, selama, dan setelah program dilaksanakan.
b) Matriks Pertimbangan
Pada matriks pertimbangan, terdapat dua kategori utama, yaitu standar dan pertimbangan. Kategori standar merujuk pada tolok ukur atau kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu program untuk dapat dinilai secara objektif. Standar ini bisa berasal dari karakteristik internal program itu sendiri, atau dari sumber eksternal seperti prinsip-prinsip yang telah ditetapkan sebelumnya (pre-ordinate), pendekatan yang disesuaikan secara bersama (mutually adaptive), maupun berdasarkan pada proses yang terjadi di lapangan (Hasan, 2008).
Sementara itu, kategori pertimbangan menuntut evaluator untuk memberikan penilaian atau interpretasi atas data yang telah dikumpulkan dalam matriks deskripsi. Evaluator diharapkan tidak hanya mendeskripsikan pelaksanaan program, tetapi juga menilai sejauh mana program tersebut telah memenuhi standar yang ditetapkan. Dalam pandangan Stake, proses evaluasi harus disertai dengan refleksi dan pemikiran mendalam. Setiap keputusan dan tujuan dalam program pendidikan harus memiliki dasar yang jelas, meskipun tidak selalu dapat diungkapkan secara eksplisit. Intinya, evaluasi dalam model ini bukan hanya bersifat mekanis, melainkan juga melibatkan dimensi pertimbangan profesional yang mendalam.
Gambar 2.1. Desain Penelitian dengan model Countenance Stake
Bagan model Countenance Stake menggambarkan keseluruhan struktur konseptual evaluasi, yang terdiri dari 12 kotak: masing-masing empat kotak untuk kategori anteseden (rencana, observasi, standar, dan pertimbangan), empat untuk transaksi (pelaksanaan program), dan empat untuk hasil (outcome). Struktur ini mencerminkan kerangka kerja evaluasi yang menyeluruh, mulai dari kondisi awal sebelum program dimulai, proses implementasi, hingga capaian akhir program.
Dalam pelaksanaannya, model ini mengarahkan evaluator untuk mengumpulkan informasi penting mengenai setiap fase program baik dari segi perencanaan awal, proses interaksi pembelajaran, maupun hasil yang dicapai. Informasi ini dapat dikumpulkan melalui berbagai metode, seperti telaah dokumen, wawancara dengan pemangku kepentingan, maupun observasi langsung di lapangan. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap unsur dari anteseden, transaksi, dan hasil saling terhubung secara logis.
Evaluator kemudian melakukan analisis keterkaitan (congruence) dan kondisi penentu (contingency). Analisis ini bertujuan untuk menilai apakah antara tujuan yang direncanakan dan pelaksanaan di lapangan terdapat keselarasan, atau justru terjadi penyimpangan. Jika ditemukan ketidaksesuaian, maka perlu ditelusuri faktor-faktor penyebabnya, baik dari aspek sumber daya, strategi, maupun lingkungan pelaksanaan.
Langkah selanjutnya dalam evaluasi ini adalah memberikan penilaian (judgment) terhadap program. Untuk itu, diperlukan adanya standar evaluasi yang menjadi tolok ukur dalam menentukan keberhasilan program. Standar ini dapat berupa prinsip atau norma, yang terbagi menjadi dua: pedoman langsung, yaitu norma-norma yang secara eksplisit relevan dengan program; dan pedoman relatif, yaitu hasil perbandingan dengan program sejenis dalam konteks yang berbeda. Melalui standar inilah, evaluator dapat menyampaikan pertimbangan akhir tentang kelayakan atau efektivitas program secara objektif dan terukur.
2) Model CSE-UCLA
Evaluasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk mendukung pengambilan keputusan melalui pemilihan, pengumpulan, dan analisis informasi yang relevan. Tujuannya adalah menyusun ringkasan data yang bermanfaat bagi para pengambil kebijakan dalam menentukan pilihan terbaik di antara berbagai alternatif yang tersedia.
Model evaluasi CSE-UCLA mencakup lima jenis evaluasi utama, yaitu:
a) Penilaian sistem (System Assessment), memberikan gambaran mengenai kondisi atau keadaan sistem yang sedang berjalan.
b) Perencanaan program (Program Planning), membantu dalam memilih program yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan yang telah diidentifikasi.
c) Pelaksanaan program (Program Implementation), mengevaluasi sejauh mana program telah diperkenalkan dan dijalankan sesuai dengan perencanaan, serta apakah telah mencapai sasaran yang tepat.
d) Perbaikan program (Program Improvement), menyediakan informasi tentang kinerja dan proses program, termasuk efektivitasnya dalam mencapai tujuan serta munculnya tantangan yang tidak terduga.
e) Sertifikasi program (Program Certification), menilai nilai atau manfaat program secara keseluruhan, sebagai dasar dalam menentukan kelayakan dan keberlanjutannya (Munthe, 2015).
Model evaluasi CSE-UCLA terdiri dari lima dimensi utama yang dirancang untuk menilai berbagai aspek dari suatu program secara menyeluruh. Pertama, penilaian sistem berfungsi untuk mengidentifikasi dan menggambarkan kondisi serta posisi sistem yang sedang berjalan. Kedua, perencanaan program mendukung proses seleksi terhadap program yang paling tepat dan berpotensi memenuhi kebutuhan yang ada. Ketiga, implementasi program menitikberatkan pada sejauh mana program telah dijalankan sesuai dengan rencana, termasuk apakah telah menjangkau kelompok sasaran secara tepat. Keempat, peningkatan program bertujuan untuk menelaah cara kerja program di lapangan, apakah program berjalan dengan efektif dan mendekati tujuan yang telah ditetapkan. Kelima, sertifikasi program berfokus pada penilaian terhadap nilai, manfaat, atau efektivitas akhir dari program tersebut (Kurniawan, 2013).
Secara keseluruhan, model CSE-UCLA dinilai cukup handal untuk mengevaluasi berbagai jenis program, baik yang bersifat layanan maupun instruksional, karena cakupan dimensinya yang luas dan mendalam (Divayana, 2016).
Secara garis besar, model evaluasi CSE-UCLA dapat disimpulkan sebagai pendekatan evaluatif yang menitikberatkan pada lima unsur utama. Pertama, penilaian sistem, yang bertujuan menyediakan gambaran kondisi aktual dari program yang sedang dievaluasi. Kedua, perencanaan program, yang membantu dalam memilih program yang paling sesuai dan efektif untuk menjawab kebutuhan yang telah diidentifikasi. Ketiga, pelaksanaan program, yang memberikan informasi mengenai sejauh mana program telah diperkenalkan dan dijalankan sesuai rencana kepada kelompok sasaran. Keempat, peningkatan program, yang menilai kinerja program dan mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki. Dan kelima, sertifikasi program, yang berfungsi untuk menilai manfaat, efektivitas, serta signifikansi akhir dari program yang telah dijalankan.
3) Model Kirkpatric
Kirkpatrick membagi proses evaluasi ke dalam empat tahap utama. Tahap pertama adalah reaksi (reaction), yang mengevaluasi tanggapan atau kesan awal peserta terhadap program yang diikuti. Tahap kedua adalah pembelajaran (learning), yang mengukur sejauh mana pengetahuan, keterampilan, atau sikap peserta berubah setelah mengikuti program. Selanjutnya adalah tahap ketiga, yaitu perilaku (behavior), yang menilai apakah perubahan yang terjadi selama pembelajaran benar-benar diterapkan dalam praktik nyata. Tahap terakhir, yaitu hasil (result), berfokus pada dampak keseluruhan program terhadap kinerja organisasi atau hasil akhir yang diharapkan. Setiap tingkat saling memengaruhi, dan meskipun evaluasi menjadi semakin kompleks pada tiap tingkat berikutnya, hasilnya memberikan informasi yang semakin mendalam dan bernilai.
a) Komponen Reaksi (Reaction)
Evaluasi reaksi adalah hal yang sama seperti mengukur kepuasan pelanggan. Pelatihan akan berjalan secara optimal apabila peserta memberikan respons positif terhadap proses pelaksanaannya. Sebaliknya, bila respons mereka negatif, maka motivasi untuk mengikuti dan memahami materi cenderung menurun. Oleh karena itu, evaluasi pada aspek reaksi bertujuan untuk mengukur sejauh mana kepuasan peserta terhadap penyelenggaraan pelatihan. Menurut Kirkpatrick (2008,p.89), menilai reaksi peserta merupakan langkah penting karena beberapa alasan. Pertama, evaluasi ini memberikan masukan yang berguna untuk menilai keberhasilan program sekaligus memperoleh saran perbaikan di masa depan. Kedua, menunjukkan kepada peserta bahwa pelatih hadir untuk mendukung peningkatan kinerja mereka, serta pentingnya umpan balik untuk mengetahui efektivitas pelatih. Ketiga, hasil dari evaluasi reaksi ini dapat berupa data kuantitatif yang bermanfaat bagi pihak manajemen yang tertarik terhadap efektivitas program. Terakhir, data tersebut juga membantu pelatih dalam merancang standar kinerja yang dapat dijadikan acuan bagi pelatihan berikutnya.
b) Komponen Belajar (Learning)
Dalam suatu program pelatihan, terdapat tiga komponen utama yang bisa dikembangkan, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Evaluasi terhadap aspek pembelajaran menjadi sangat penting, karena tanpa adanya proses belajar yang efektif, perubahan perilaku tidak akan tercapai. Fokus utama dari pembelajaran adalah untuk memperkaya pengetahuan peserta. Dengan membandingkan kondisi peserta sebelum dan sesudah pelatihan, dapat diketahui sejauh mana perubahan atau peningkatan yang telah terjadi sebagai hasil dari pelatihan tersebut.
c) Komponen Perubahan Tingkah Laku (Behavior)
Perilaku merujuk pada sejauh mana peserta menunjukkan perubahan dalam tindakan mereka setelah mengikuti pelatihan. Evaluasi pada tahap ini menitikberatkan pada bagaimana peserta menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ketika mereka kembali ke lingkungan kerja. Perilaku yang dievaluasi adalah perilaku kerja yang relevan dengan isi pelatihan, bukan perilaku sosial atau hubungan pribadi dengan sesama rekan kerja.
d) Komponen Hasil (Result)
Evaluasi pada tahap hasil akhir dilakukan dengan membandingkan antara kelompok yang tidak mengikuti pelatihan (kelompok kontrol) dan kelompok yang mengikuti pembelajaran. Penilaian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat peningkatan kemampuan peserta dengan cara mengukur kemampuan mereka sebelum dan sesudah program pembelajaran (Kirkpatrick, 2008).
4) Evaluasi Model CIPP
Model CIPP berorientasi kepada suatu keputusan (a decision oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator (kepala sekolah dan guru) di dalam membuat keputusan. Evaluasi diartikan sebagai suatu proses mendeskripsikan, memperoleh dan menyediakan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Stufflebeam, 2015). Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, manajemen, perusahaan, dan sebagainya serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program, maupun institusi (Widoyoko & Qudsy, 2016). Dalam bidang pendidikan digolongkan atas empat dimensi yaitu konteks , Input, Process, dan produk, sehingga disebut evaluasi CIPP. Stufflebeam (2015) menjelaskan bahwa terdapat beberapa komponen dari masing-masing jenis evaluasi pada model evaluasi program CIPP yakni sebagai berikut
a) Konteks Evaluation
Untuk menentukan hasil pada sebuah program, evaluasi konteks menilai beberapa aspek yang berguna sebagai dasar dalam menentukan tujuan dan prioritas yakni menilai kebutuhan, masalah dan kesempatan. Utamanya evaluasi konteks bertujuan untuk menganalisis strength and weakness sebuah program. Seorang evaluator akan lebih leluasa dalam memberikan arahan untuk perbaikan yang diperlukan terhadap sebuah program jika terlebih dahulu telah mengetahui kedua hal tersebut. Evaluasi konteks dapat digunakan sebagai sebuah upaya untuk merepresentasikan dan merinci kebutuhan dan tujuan dari program yang belum terpenuhi.
b) Input Evaluation
Evaluasi masukan memberikan penilaian terhadap pendekatan-pendekatan lain yang dapat digunakan sebagai alat untuk merancang sebuah program dan sumbersumber daya yang dibutuhkan. Evaluasi masukan sangat membantu untuk mengatur keputusan, menentukan sumber-sumber yang ada, alternatif apa yang diambil, rencana dan strategi apa untuk mencapai tujuan, serta bagaimana prosedur kerjanya untuk mencapai tujuan yang mencakup beberapa komponen yaitu: Sumber daya manusia (SDM), sarana dan prasarana, anggaran/dana serta berbagai prosedur dan aturan yang berkaitan dengan program tersebut.
c) Proses Evaluation
Evaluasi proses memberikan penilaian terhadap kerangka kerja sebuah program pada saat implementasi yang nantinya dapat membantu memberikan penjelasan dari dampak program tersebut kepada pihak-pihak terkait. Evaluasi proses dapat digunakan untuk menyediakan informasi yang berguna sebagai rekaman/arsip dari prosedur yang telah terjadi dari proses mendeteksi atau memprediksi sebuah rancangan prosedur dan rancangan implementasi selama tahap penerapan/implementasi yang meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktek pelaksanaan program tersebut. Pada dasarnya evaluasi proses berfungsi untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki serta dapat memiliki kegunaan yang mengarah pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakan di dalam program, apakah sudah terlaksana sesuai dengan rencana atau belum.
d) Produk Evaluation
Seorang administrator, decision maker, atau pimpinan program bahkan seorang guru dalam menentukan atau membuat sebuah keputusan yang berkaitan dengan suatu upaya lanjutan, akhir, maupun modifikasi sebuah program dapat melalui evaluasi produk. Evaluasi produk berguna untuk membantu para decision maker membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun yang belum tercapai serta apa yang dilakukan setelah program itu terselenggara. Ketercapaian /keberhasilan sebuah program dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dapat dilihat dan dinilai melalui evaluasi produk.
Penelitian ini menggunakan model evaluasi CIPP yang digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan kurikulum merdeka pada mata pelajaran PJOK di sekolah penggerak SMA di kabupaten ....................... karena pada setiap komponen dari CIPP terkait dengan pengambilan sebuah keputusan yang menyangkut pada perencanaan dan operasional sebuah program serta model CIPP memiliki keunggulan yaitu memberikan sebuah format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan komponen evaluasi tersebut. Model evaluasi CIPP memiliki tujuan yaitu bukan untuk membuktikan (to prove), akan tetapi untuk meningkatkan (to improve). Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan model evaluasi CIPP bertujuan untuk mendukung pengembangan sebuah program, membantu pemimpin dan para staf sebuah organisasi dalam mendapatkan serta menggunakan saran/masukan secara sistematis agar kebutuhan kebutuhan penting dapat terpenuhi atau setidaknya dapat bekerja dengan memanfaatkan sumber daya yang ada secara optimal
Tabel 2.1 Komponen Evaluasi CIPP Kurikulum Merdeka
|
Komponen Evaluasi |
Indikator |
No. |
Unsur-Unsur Indikator |
|
|
Context |
Materi Pembelajaran |
1 |
Memahami materi pemelajaran secara utuh |
|
|
2 |
Materi pembelajaran mampu membentuk karakter peserta didik |
|
||
|
3 |
Materi pembelajaran mengutamakan peserta didik terlibat aktif |
|
||
|
4 |
Materi pembelajaran dapat memfasilitasi semua karakter peserta didik |
|
||
|
Tujuan Pembelajaran |
1 |
Merancang tujuan pemelajaran sesuai dengan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan Capaian Pembelajaran (CP) |
||
|
2 |
Merancang tujuan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik sesuai dengan kemampuan awal peserta didik |
|||
|
3 |
Merancang tujuan pembelajaran sesuai dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan terukur dengan baik |
|||
|
4 |
Merancang tujuan pemelajaran aspek pengetahuan sampai ke level HOTS (Analisis, Pengembangan dan Evaluasi) |
|||
|
5 |
Merancang tujuan pembelajaran aspek keterampilan sampai pada level bertanya/mempertanyakan, mencoba/eksperiman dan megasosiasikan serta mengkomunikasikan |
|||
|
Input |
Profesisonalisme Guru |
1 |
Latar belakang pendidikan sarjana pedidikan olahraga |
|
|
2 |
Menguasai kurikulum merdeka |
|||
|
3 |
Menguasai teknologi terkait pembelajaran |
|||
|
4 |
Memberikan materi dengan berbagai metode dan variasi |
|||
|
5 |
Mengajar menggunakan media pembelajaran yang susai |
|||
|
6 |
Memahami perkembangan peserta didik |
|||
|
Karakterisik peserta didik |
1 |
Peserta didik antusias dalam mengikuti pembelajaran |
||
|
2 |
Peserta didik aktif dalam bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan |
|||
|
3 |
Peserta didik mampu membangun kemonikasi dengan guru dan temannya |
|||
|
4 |
Peserta didik mampu menciptakan lingkuan belajar yang kondusif |
|||
|
Sarana dan Prasarana |
1 |
Sekolah mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap untuk melaksanakan pembelajaran |
||
|
2 |
Sarana dan prasarana dalam keadaan kondisi yang baik |
|||
|
3 |
Sekolah mempunyai media pembelajaran yang lengkap |
|||
|
4 |
Media pembelejaran dalam kondisi baik |
|||
|
5 |
Kebutuhan alat sesuai dengan jumlah siswa |
|||
|
Process |
Perangkat pembelajaran |
1 |
Menganalisis capain pembelajaran untuk menyusun tujuan pembelajaran |
|
|
2 |
Mengembangkan modul ajar |
|||
|
3 |
Mengaitkan dengan materi projek profil pancasil |
|||
|
4 |
Menentukan metode pembelajaran yang digunakan |
|||
|
5 |
Melakukan evaluasi dan penilaian pembelajaran |
|||
|
Pelaksanaan pembelajaran |
1 |
Guru mengkondisikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik |
||
|
2 |
Guru melakukan apersepsi dan penguatan projek profil pancasila dan manfaatnya serta mengaitkan dengan kehidupan sehari-hari |
|||
|
3 |
Guru menyampaikan materi yang akan dicapai dan teknik penilaiannya |
|||
|
4 |
Guru melaksanakan pembelajaran yang dapat menumbuhkan karakter profil pelajar pancasila |
|||
|
5 |
Guru melaksanakan pembelajaran menggunakan komunikasi yang efektif untuk mempermudah penyampaian materi kepada peserta didik |
|||
|
6 |
Guru memberikan materi sesuai dengan karakter peserta didik |
|||
|
7 |
Guru melaksanakan pembelajaran menggunakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik |
|||
|
8 |
Pelaksanaan pembelajaran berfokus pada peserta didik |
|||
|
Product |
Evaluasi Proses pembelajaran |
1 |
Guru membuat perencanaan penilaian untuk mengetahui kemampuan awal dan akhir peserta didik |
|
|
2 |
Memberikan tugas sesuai dengan ATP/ CP saat pembelajaran |
|||
|
3 |
Merancang evaluasi proses pembelajaran untuk mengetahui kualitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan |
|||
|
4 |
Merancang penilaian untuk mengukur capaian hasil belajar peserta didik |
|||
|
Evaluasi Hasil Belajar |
1 |
Melaksanakan penilaian setiap ATP/CP
|
||
|
2 |
Melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik |
|||
|
3 |
Melaksanakan evaluasi proses pembelajaran yang telah berlangsung |
|||
|
4 |
Peserta didik mendapatkan nilai akhir sesuai kemampuannya
|
Alasan penggunaan model CIPP untuk menganalisis kurikulum disebabkan karena model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) merupakan pendekatan yang sangat relevan digunakan dalam menganalisis implementasi kurikulum PJOK dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Model ini menekankan evaluasi yang bersifat menyeluruh dan berorientasi pada pengambilan keputusan, sehingga sangat mendukung tujuan utama Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek utama pembelajaran.
Melalui evaluasi konteks, model ini membantu mengidentifikasi kebutuhan peserta didik, karakteristik lingkungan belajar, dan tujuan pembelajaran PJOK yang kontekstual. Pada aspek input, CIPP memungkinkan analisis terhadap kesiapan sumber daya seperti guru, fasilitas olahraga, dan media pembelajaran. Evaluasi proses memberikan gambaran pelaksanaan kegiatan pembelajaran PJOK yang berbasis aktivitas fisik, kolaboratif, dan menyenangkan, sesuai dengan karakteristik pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka. Terakhir, pada evaluasi produk, model ini mampu menilai ketercapaian hasil belajar peserta didik, baik dari sisi keterampilan motorik, pemahaman konsep kesehatan, maupun penguatan sikap positif seperti sportivitas dan tanggung jawab.
Dengan kerangka ini, model CIPP mampu menyelaraskan antara perencanaan kurikulum, pelaksanaan, dan hasil yang diharapkan, serta menyediakan informasi penting bagi pendidik dan pengambil kebijakan untuk melakukan perbaikan berkelanjutan. Oleh karena itu, CIPP menjadi alat evaluasi yang kuat dan tepat dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam penguatan dan pengembangan pembelajaran PJOK yang bermakna, relevan, dan berpihak pada peserta didik.
2. Kurikulum Merdeka
Kemendikbudristek Republik Indonesia (2022a) dijelaskan bahwa , pengertian kurikulum merdeka adalah kurikulum yang memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas, sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik serta Pengembangan soft skills dan karakter melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dalam kurikulum merdeka juga bertujuan untuk mengasah minat dan bakat peserta didik sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik.
Konsep kurikulum merdeka adalah merdeka Belajar. Merdeka belajar adalah kebijakan terobosan yang diluncurkan Mendikbusristek, yang bertujuan untuk mengembalikan otoritas pengelolaan pendidikan kepada sekolah dan pemerintah daerah. Otoritas pengelolaan Pendidikan ini diwujudkan dengan memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan pemerintah daerah dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program-program pendidikan yang dilaksanakan di sekolah. Tentunya hal-hal tersebut dengan mengacu pada prinsip-prinsip kurikulum Merdeka yang ditetapkan pemerintah pusat dalam usaha mencapai tujuan nasional pendidikan.
Wijiatun dan Indrajit (2022) merdeka belajar merupakan dimana siswa dapat membentuk karakter individu yang berani, mandiri, pandai bergaul, beradab, santun, cakap, bukan hanya mengandalkan sistem rangking. Menurut Anggraini, et.all., (2022, p.11) kurikulum merdeka belajar ialah kurikulum yang didalamnya terdapat banyak pembelajaran intrakurikuler, yang isinya lebih diperkuat, memberi siswa waktu yang cukup untuk memahami konsep pembelajaran dan mengembangkan kompetensinya sendiri. Saleh (2020, p.8) menegaskan bahwa merdeka belajar adalah program yang menumbuhkan suasana belajar yang bahagia dan suasana yang menyenangkan. Sedangkan menurut Ansumanti (2022.p.11) menyatakan bahwa merdeka belajar adalah kebijakan yang mengedepankan untuk kebebasan berpikir. Dimana kebebasan berpikir ini sangat penting terutama harus dimiliki oleh guru. Tentu saja, jika belum disadari oleh guru, tidak akan diterapkan pada peserta didik.
Kurikulum merdeka adalah kurikulum adalah struktur pembelajarannya dibagi menjadi dua kegiatan utama yaitu pembelajaran intrakurikuler yang mengacu pada capaian pembelajaran yang harus dicapai oleh peserta didik pada setiap mata pelajaran, dan projek penguatan profil pelajar pancasila yang mengacu pada standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki peserta didik (Manalu et al., 2022). Kurikulum Merdeka menjadi program yang diharapkan dapat melakukan pemulihan dalam pembelajaran, dimana menawarkan 3 karakteristik diantaranya pembelajaran berbasis projek pengembangan soft skill dan karater sesuai dengan profil pelajar pancasila, pembelajaran pada materi esensial dan stuktur kurikulum yang lebih fleksibel. Disamping itu juga kurikulum merdeka ingin melakukan terobosan yang menjadi jurang penghalang diantara bidang-bidang keilmuan. Faiz et al., (2022,p.371) menjelaskan bahwa implementasi kurikulum merdeka dibeberapa sekolah pengerak dilaksanakan di tahun pertama dengan cukup baik, kemudian dikembangkan di banyak sekolah tahun sekarang sehingga dalam implementasinya kurikulum merdeka setelah dianalisis lebih baik dan sesuai dengan kultur Indonesia daripada kurikulum 2013. Mengingat kehidupan dewasa ini yang semakin kompleks menekankan pada aspek pengetahuan yang lebih luas dan komprehensif dari sebelumnya, maka penyempurnaannya beragam baik dalam ilmu interdisipliner maupun multidisipliner. Sebagaimana dijelaskan (Assiddiqi, 2021), dalam hasil penelitiannya bahwa kualitas hasil belajar mahasiswa tetap terjaga dan terhindar dari learning loss dalam pembelajaran online dengan mempersiapkan model merdeka belajar dan melakukan assessment serta evaluasi hasil belajar. Tentu saja, pendidik juga menjadi pendorong penting untuk beradaptasi dengan paradigma baru yang ditawarkan.
Dilansir dari laman kurikulum.kemdikbud.go.id, Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Karakteristik utama dari kurikulum ini yang mendukung pemulihan pembelajaran adalah :
a. Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil Pelajar Pancasila.
b. Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.
c. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal.
Salah satu tujuan diterapkannya kurikulum Merdeka adalah membentuk Profil Pelajar Pancasila dalam diri peseta didik. Profil Pelajar Pancasila merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan enam ciri utama yaitu : beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020 - 2024 , maka unsur-unsur Profil Pelajar Pancasila adalah sebagai berikut :
1. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Pelajar Indonesia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Ada lima elemen kunci beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia: (a) akhlak beragama; (b) akhlak pribadi; (c) akhlak kepada manusia; (d) akhlak kepada alam; dan (e) akhlak bernegara.
2. Berkebinekaan global. Pelajar Indonesia mempertahankan budaya luhur, lokalitas dan identitasnya, dan tetap berpikiran terbuka dalam berinteraksi dengan budaya lain, sehingga menumbuhkan rasa saling menghargai dan kemungkinan terbentuknya dengan budaya luhur yang positif dan tidak bertentangan dengan budaya luhur bangsa. Elemen dan kunci kebinekaan global meliputi mengenal dan menghargai budaya, kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama, dan refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan.
3. Bergotong royong. Pelajar Indonesia memiliki kemampuan bergotong-royong, yaitu kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dengan suka rela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar, mudah dan ringan. Elemen-elemen dari bergotong royong adalah kolaborasi, kepedulian, dan berbagi.
4. Mandiri. Pelajar Indonesia merupakan pelajar mandiri, yaitu pelajar yang bertanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Elemen kunci dari mandiri terdiri dari kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta regulasi diri.
5. Bernalar kritis. Pelajar yang bernalar kritis mampu secara objektif memproses informasi baik kualitatif maupun kuantitatif, membangun keterkaitan antara berbagai informasi, menganalisis informasi, mengevaluasi dan menyimpulkannya. Elemen-elemen dari bernalar kritis adalah memperoleh dan memproses informasi dan gagasan, menganalisis dan mengevaluasi penalaran, merefleksi pemikiran dan proses berpikir, dan mengambil Keputusan.
6. Kreatif. Pelajar yang kreatif mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak. Elemen kunci dari kreatif terdiri dari menghasilkan gagasan yang orisinal serta menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal.
3. Pembelajaran PJOK Kurikulum Merdeka
PJOK yaitu salah satu mata pelajaran yang ada di setiap sekolah mulai dari tingkat dasar sampai menengah, dimana proses pembelajarannya melibatkan aktivitas fisik. Hal ini menandakan bahwa mata pelajaran ini memang penting untuk diberikan, dan merupakan mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik (Hasanah et al., 2021). Hakikat pembelajaran PJOK yang syarat dengan gerakan fisik, pembelajarannya dilakukan di ruang terbuka atau di lapangan (Herlina & Suherman, 2020). Pendidikan jasmani mencakup semua unsur kebugaran, keterampilan gerak fisik, kesehatan, permainan, olahraga, tari dan rekreasi (Hidayatullah & Kristiyanto, 2015).
PJOK adalah merupakan suatu mata pelajaran dengan aktivitas jasmani sebagai alat dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Pendidikan jasmani merupakan salah satu kegiatan untuk menciptakan lingkungan yang berpotensi mengembangkan peserta didik ke arah tingkah laku yang positifmelalui aktivitas jasmani (Nurrohim, 2020). Inilah kiranya yang menjadi salah satu tantangan bagi guru PJOK untuk mampu memberikan pengalaman belajar yang sesuai dengan tujuan kurikulum merdeka, sehingga peserta didik mampu memiliki bekal yang lebih kompleks dan sesuai dengan tantangan perkembangan zaman.
Pembelajaran mata pelajaran PJOK ditekankan bahwa pengembangan individu secara menyeluruh, dalam arti pengembangan yang mencakup perkembangan fisik mental intelektual dan perkembangan sosial (Husdarta & Saputra, 2018). Hal ini dapat terlihat bahwa tujuan dari mata pelajaran PJOK itu sendiri diantaranya adalah untuk menumbuhkembangkan berbagai potensi segala aspek yang ada pada diri peserta didik, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotornya.
PJOK adalah suatu mata pelajaran yang mengacu pada pengembangan keterampilan dalam berpikir kritis, kebugaran fisik, keterampilan sosial, keterampilan motorik, penalaran, perilaku emosional, moral, dan stabilitas (Jayul & Irwanto, 2020). Menurut Priyambudi et al., (2023) bahwa pendidikan jasmani merupakan proses belajar gerak melalui aktivitas fisik yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku untuk mendorong hidup sehat dan aktif, atletis dan kecerdasan emosional. Dalam pendidikan pembelajaran PJOK tentu tidak terlepas dari capaian kompetensi yang tertuang dalam perangkat pembelajaran (Romdani, 2023). Perangkat pembelajaran adalah kompetensi yang mengarah pada tindakan yang rasional dan memenuhi spesifikasi khusus dalam proses pembelajaran (Fariha & Indahwati, 2020).
Kurikulum merdeka belajar yang mengacu pada bakat dan minat siswa.. Merdeka belajar dalam PJOK memberikan kebebasan peserta peserta didik, sehingga diperlukan kemampuan guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan kaidah program pendidikan merdeka belaja r(Parwata, 2021). Badan Standar Nasional Pendidikan berpendapat bahwa Kurikulum Merdeka Belajar adalah kurikulum pembelajaran dengan pendekatan bakat dan minat sebagai acuannya. Pada kurikulum merdeka, untuk memaksimalkan proses kegiatan pembelajaran guru dituntut untuk dapat membuat kegiatan belajar tidak monoton dan hanya sekedar menjelaskan saja. Melainkan seorang pendidik harus dapat memperhatikan ketentuan-ketentuan apa saja yang mempengaruhi proses kegiatan pembelajaran terasa monoton. Upaya guru untuk mencapai suatu tujuan dalam pembelajaran membutuhkan tenaga, kerja keras, kretifitas dan guru berperan aktif serta inovasi.
Proses pembelajaran PJOK dan kurikulum merdeka dijalankan dengan disiplin, maka secara tidak langsung akan mengurangi tingkat kemalasan pada siswa. Penerapan kurikulum merdeka belajar pada mata pelajaran PJOK tidak mudah untuk menyesuaikan di setiap pelaksanaan dalam proses mengajar, terlebih tidak semua sekolahan dapat menjalankan kurikulum tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa mata pelajaran PJOK dengan menggunakan kurikulum merdeka belajar mampu memberikan kebebasan peserta didik untuk beraktivitas tanpa dibatasi dengan aturan serta menambah kesenangan pada siswa. Peningkatan kualitas, sikap pengetahuan, dan keterampilan gerak dapat dilaksankan sesuai dengan kurikulum merdeka belajar (Wibisana et al., 2022).
4. Sekolah Penggerak
Pasca pelantikan Nadiem Makarim pada 23 Oktober 2019 sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Indonesia, Nadiem Makarim telah membuat beberapa kebijakan serta berbagai program program unggul yang berhubungan dengan pendidikan di Indonesia. Salah satu di antara unggulannya adalah Sekolah Penggerak. Program Sekolah Penggerak telah diluncurkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 1 Februari 2021. Program Sekolah Penggerak dimulai pada tahun ajaran 2021/2222 di 2.500 sekolah yang tersebar di 34 provinsi dan 111 kabupaten/kota.
Program Sekolah Penggerak masih secara bertahap dilaksanakan dan masih memerlukan pendampingan yang terstruktur kepada Sekolah yang dinyatakan lulus menjadi sekolah penggerak. Namun, program ini telah menjadi perbincangan di kalangan peneliti dan pengamat pendidikan. Sementara Kemendikbud memunculkan program ini sebagai salah satu bentuk reformasi pendidikan yang berfokus pada transformasi budaya, sebab menurut (Patilima, 2022), budaya sekolah tidak seharusnya hanya berfokus pada pendekatan administratif saja, juga harus mampu berorientasi pada inovasi dan pembelajaran yang berfokus kepada anak, dengan harapan lulusan yang dihasilkan sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Program Sekolah Penggerak inilah yang nantinya akan menjadi gerbang menuju kurikulum yang berorientasi kepada kebutuhan murid dengan kesesuaian karakter murid serta karateristik lingkungan sekolah di Indonesia. Menurut Alexander dikutip oleh Angga et al., (2022) mengatakan, kurikulum berfungsi sebagai penyesuaian, pengintegrasi, pembeda, persiapan, pemilihan dan diagnostik. Hal ini menjadikan kurikulum sebagai salah satu komponen yang utama dan amat penting dalam proses pendidikan.
Sekolah penggerak adalah sekolah yang berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistic dengan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang mencakup kompetensi kognitif (literasi dan numerasi) serta nonkognitif (karakter) yang diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Program Sekolah Penggerak terdiri dari lima intervensi yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan yaitu :
a. Pendampingan konsultatif dan asimetris
Program kemitraan antara Kemendikbud dan pemerintah daerah dimana Kemendikbud memberikan pendampingan implementasi Sekolah Penggerak. Kemdikbud melalui UPT di masing masing provinsi akan memberikan pendampingan bagi pemda provinsi dan kab/kota dalam perencanaan Program Sekolah Penggerak. UPT Kemdikbud di masing masing provinsi akan memberikan pendampingan Pemda selama implementasi Sekolah Penggerak seperti fasilitasi Pemda dalam sosialisasi terhadap pihak pihak yang dibutuhkan hingga mencarikan solusi terhadap kendala lapangan pada waktu implementasi.
b. Penguatan SDM Sekolah.
Penguatan Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Penilik, dan Guru melalui program pelatihan dan pendampingan intensif (coaching) one to one dengan pelatih ahli. Pelatihan untuk KS, Pengawas Sekolah, Penilik, dan Guru terdiri dari; 1) Pelatihan implementasi pembelajaran dengan paradigma baru bagi kepala sekolah, pengawas, penilik, dan guru. 2) Pelatihan kepemimpinan pembelajaran bagi kepala sekolah, pengawas, penilik. Sementara guru lain dilatih oleh in-house training. Pendampingan untuk Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Penilik, dan Guru terdiri dari; 1) In-house training, 2) Lokakarya tingkat Kabupaten/Kota, 3) Komunitas Belajar / Praktisi (Kelompok Mapel), 4) Program Coaching. Dilakukan secara berkala 2-4 minggu sekali selama program. Kemudian Implementasi Teknologi terdiri dari; 1) Literasi Teknologi, 2) Platform Guru : Profil dan Pengembangan Kompetensi, 3) Platform Guru : Pembelajaran, 4) Platform Sumber Daya Sekolah, 5) Platform Rapor Pendidikan.
c. Pembelajaran dengan paradigma baru
Pembelajaran dengan paradigma baru dirancang berdasarkan prinsip pembelajaran yang terdiferensiasi sehingga setiap siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. Beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan Global, Mandiri, Bergotong Royong, Bernalar Kritis dan Kreatif, ini merupakan profil belajar Pancasila yang dipelajari melalui program kulikuler dan program kokurikuler.
d. Perencanaan berbasis program
Manajemen berbasis sekolah perencanaan berdasarkan refleksi diri Sekolah, dapat dilihat pada gambar berikut
Gambar 2.2 Bagan Manajemen Berbasis Sekolah Perencanaan
(Sumber: Kemendikbud, (2022b)
e. Digitalisasi Sekolah
Penggunaan berbagai platform digital bertujuan mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan pendekatan yang customized (Rahayuningsih & Rijanto, 2022).
Program Sekolah Penggerak adalah program untuk meningkatkan kualitas belajar siswa yang terdiri dari 5 jenis intervensi untuk mengakselarasi sekolah bergerak 1-2 tahap lebih maju dalam kurun waktu 3 tahun ajaran. Secara umum, gambaran akhir Program Sekolah Penggerak, akan menciptakan hasil belajar di atas level dari yang diharapkan dengan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif dan menyenangkan. Melalui pembelajaran yang berpusat pada murid, kita akan ciptakan perencanaan program dan anggaran yang berbasis pada refleksi diri refleksi guru, sehingga terjadi perbaikan pada pembelajaran dan sekolah melakukan pengimbasan (Sibagariang et al., 2021).
B. Kajian Penelitian yang Relevan
Adapun beberapa hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Jurnal Penelitian yang dilakukan oleh Septian & Yahaya (2020). Jurnal ini berjudul penelitian “Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko melalui Pendekatan Model Contex, Input, Proses & Produk (CIPP) ”. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki program pendidikan yaitu dengan melakukan evaluasi terhadap program tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data tentang kualitas program pendidikan jasmani dan olahraga, melalui evaluasi Context, Input, Process dan Product. Sesuai dengan tujuan penelitian, jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian evaluasi dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Subjek penelitian ini adalah SMP Negeri yang ada dalam wilayah Kabupaten Mukomuko. Data penelitian diperoleh melalui sebaran angket guru dan siswa, observasi, analisis dokumen, checklist, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif. Hasil evaluasi program pembelajaran PJOK pada SMA Negeri Se-Kabupaten Mukomuko, rata-rata penilaian menunjukan (1) komponen Context berada pada kategori “kurang baik”, dimana tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dengan baik (44,50%); (2) komponen Input pada kategori “cukup baik”, masih ada guru yang tidak memiliki perangkat pembelajaran dan sarana prasarana serta kurangnya peran kepala sekolah dalam pengawasan (59%); (3) komponen Process dalam kategori “cukup baik”, yaitu waktu pelaksanaan pembelajaran yang tidak efektif dan proses pembelajaran masih berpusat pada guru sebagai sumber belajar utama serta kurangnya partisipasi siswa dalam aktifitas fisik (58,15%); (4) komponen Product berada pada kategori “tidak baik”, yaitu rendahnya minat siswa terhadap pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (45,1%).
2. Jurnal Muara Pendidikan 8 Edisi Juni 2023, Penulis : Rurisman (2023). Jurnal ini berjudul “Evaluas Pelaksanaan Sekolah Penggerak di SMA Dengan Model Evaluasi CIPP”. Hasil Penelitian ini menyatakan bahwa Evaluasi pembelajaran penting untuk menentukan keberhasilan, pertumbuhan, dan kemajuan peserta didik setelah menyelesaikan proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Evaluasi kurikulum juga sama pentingnya dengan evaluasi pembelajaran yaitu kurikulum sekolah pengerak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana paradigma evaluasi Context, Input, Process, and Product (CIPP) digunakan untuk mengevaluasi kurikulum sekolah penggerak. Penelitian ini dalam pengumplulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan studi dokumen. Pengawas sekolah, perwakilan kurikulum, dan kepala sekolah berperan sebagai peserta penelitian. Pemilihan peserta studi dilakukan dengan purposive sampling. Statistik deskriptif digunakan dalam analisis data dan pengumpulan data menggunakan lembar observasi.Temuan penelitian dengan menggunakan Context, Input, Process and Product (CIPP) dilihat dari aspek Context, Input, Process dan Product bahwa penerapan kurikulum sekolah penggerak telah sesuai dengan tujuan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran, kualitas kompetensi kepala sekolah, kualitas guru, percepatan digitalisasi sekolah dan perwujudan profil pelajar pancasila.
3. Ineu Sumarsih (2022), "Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak SDN Guruminda 244 Kota Bandung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang melihat dan mendengar lebih dekat dan terperinci penjelasan dan pemahaman individual tentang pengalaman-pengalamannya. Pendekatan fenomenologi tersebut didasari dari adanya ketertarikan peneliti untuk mengkaji lebih mendalam mengenai fenomena yang dialami oleh informan kunci. Penelitian dilaksanakan di SDN Guruminda 244 Kota Bandung. Informan dalam penelitian ini adalah guru, kepala sekolah, pengawas. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu; (a) observasi; (b) wawancara; dan (c) studi dokumentasi. Untuk menjamin keabsahan data dilakukan dengan beberapa upaya sebagai berikut: (a) memperpanjang masa pengumpulan data, (b) melakukan observasi secara terus-menerus dan sungguh-sungguh, (c) melakukan triangulasi, dan (d) melibatkan teman sejawat untuk berdiskusi. Dari hasil penelaahan dalam penelitian ini ditemukan adanya kurikulum merdeka yang menjadi acuan di sekolah penggerak, yang menghasilkan siswa yang berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong, rasa kebhinekaan. Kepala sekolah penggerak mendorong berbagai macam program partisipatif, unik, dan banyak inovasi. Memupuk kerja sama dengan guru-guru yang mendukung pemimpinnya berpartisipasi dalam mewujudkan sekolah penggerak.
4. Dinata et al., (2023), Program Studi Pendidikan Jasmani, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Hamzanwadi, Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Capaian Kompetensi Pembelajaran PJOK melalui Model CIPP (literature review). Tujuan penelitian untuk menganalisi pelaksanan kurikulum merdeka dalam capaian kompetensi pembelajaran PJOK. Jenis penelitian deskriptif kualitatif melalui pendekatan studi literatur (literatur review). Teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan bermacam sumber jurnal, artikel dan buku melalui aplikasi publish or perish dan goggle scoler. Dari data terkumpul lalu dianalisi, dikaji untuk di tafsirkan dan paparkan secara rinci, kemudian deskrifsikan dalam cakupan pembahasan. Hasil analisis bahwa implementasi kurikulum merdeka dalam capaian pembelajaran PJOK melalui evaluasi model CIPP dari aspek konteks meliputi penentuan kebijakan, kebutuhan dan tujuan peningkatan pengetahuan dan keterampilan PJOK menjadi mendasar pencapaian kompetensi, aspek Input meliputi penyusunan strategi, prosedur, pendekatan dalam proses pembelajaran utama dalam mengetahui capaian kompetensi pembelajaran PJOK, aspek proses meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, aspek produk mengacu pada hasil capaian pembelajaran sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal. Disimpulkan pembentukan bakat dan minat olahraga prestasi sebagai evaluasi sebuah system meliputi evaluasi konteks, evaluasi Input, evaluasi proses dan evaluasi produk.
5. Hidayat, Muhammad Firdaus, Yuwono, Cahyo & Raharjo (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Di Sekolah Penggerak SMP se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Penggerak SMP se Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulandata melalui observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian dianalisa melalui beberapa tahap yaitu reduction, display, dan conclusion drawing/verification. Pengecekan keabsahan data dengan triangulasi, yaitu triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian ini bahwa dalam perencanaan pembelajaran, dengan awalan melakukan penilaian diagnostik terkait kesiapan, minat dan profil siswa untuk melakukan pemetaan, menentukan materi yang esensial, penyusuan rencana pelaksanaan pembelajaran yang sistematis. perangkat ajar yang digunakan guru sesuai dan mengacu pada perangkat ajar yang disediakan oleh Kemendikbudristek; pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru berusaha mengacu pada prinsip pembelajaran dalam kurikulum merdeka dan berada pada tahap berkembang dengan pertimbangan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan berpusat pada peserta didik dan ketepatan metode pembelajaran berdiferensiasi yaitu diferensiasi konten, proses, produk dan lingkungan; Evaluasi dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip evaluasi yang diluncurkan Kemendikbud seperti memotivasi, memberikan arahan dan pengayaan. Simpulan, implementasi kurikulum merdeka di sekolah penggerak SMP se-kabupaten Hulu Sungai Tengah sudah baik dibuktikan dengan pemilihan materi yang esensial sesuai dengan pedoman kemendikbud, Pelaksanaan pembelajaran yang sudah sesuai tahapan yang telah direncanakan oleh guru dalam modul ajar, evaluasi pembelajaran yang sudah baik dengan pelaksanaannya yang bertahap diantaranya evaluasi tentang sikap, pengetahuan dengan tes, penilaian keterampilan dengan praktik.
6. Muhammad Yusuf Mappeasse, & Riana Tangkin Mangesa (2024). Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Menggunakan Model CIPP di SMK Laniang Makassar. Penelitian ini adalah penelitian evaluasi dengan menggunakan pendekatan mixed method (kuantiatif dan kualiatif). Penelitian ini menggunakan model evaluasi CIPP yang bertujuan untuk mengevaluasi implementasi Kurikulum Merdeka di SMK Laniang Makassar dengan mempertimbangkan empat aspek yaitu Context, Input, Process, Product. Subjek penelitian ini sebanyak 47 orang yang terdiri dari pengawas sekolah, kepala sekolah, wakasekbid. Kurikulum, guru, dan peserta didik yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan instrumen wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantilatif. Data kuantitatif dianalisis menggunakan teknik persentase, sementara data kualitatif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Evaluasi Context mencakup dua indikator mendapat persentase 97% dengan kriteria sangat baik. (2) Evaluasi Input mencakup empat indikator mendapat persentase 89% dengan kriteria sangat baik. (3) Evaluasi Process mencakup tiga indikator mendapat persentase 93% dengan kriteria sangat baik. (4) Evaluasi Product mencakup tiga indikator mendapat persentase 97% dengan kriteria sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka di SMK Laniang Makassar dinyatakan sangat baik
7. Sultan, Hakmal P. (2022). Evaluasi Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan melalui Model CIPP pada SMP IT Raudha Agam Sumatra Barat. Masalah dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar peserta didik terbukti dari hasil ujian semester genap tahun ajaran 2020/2021, diduga permasalahan ini dipengaruhi oleh sarana dan prasarana di sekolah, dan waktu mengajar peserta didik tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program pembelajaran pendidikan jasmani di SMP IT Raudhah 2021/2022, yang meliputi: (1) Konteks: relevansi materi pembelajaran pendidikan jasmani dengan Kurikulum 2013 dan Kurikulum merdeka; (2) Input: penilaian kepala sekolah, latar belakang guru pendidikan jasmani, sarana dan prasarana pendidikan jasmani; (3) Proses: pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani; dan (4) Produk: Prestasi belajar peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian evaluative dengan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Subjek penelitian meliputi 1 guru pendidikan jasmani dan 50 peserta didik. Penelitian ini dilakukan di SMP IT Raudhah Agam pada bulan Juli-Agustu 2022. Pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi, observasi, wawancara, dan angket. Data kualitatif dianalisis dengan teknik deskriptif, sedangkan data kuantitatif dengan metode expert judgment. Hasil penelitian menunjukkan: (1) berdasarkan hasil evaluasi konteks, materi pembelajaran yang digunakan telah relevan dengan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka, namun ada beberapa kebijakan dari guru terkait keterbatasan sekolah; (2) hasil evaluasi Input menunjukkan penilaian kepala sekolah, dan latar belakang pendidikan guru pengampu adalah Sarjana Pendidikan (S1) jurusan Pendidikan Olahraga dengan pengalaman mengajar 1 tahun, sedangkan kesesuaian sarana dan prasarana pendidikan jasmani menunjukkan tingkat kesesuaian sebesar 100% termasuk kategori sangat baik; (3) hasil evaluasi proses yang meliputi pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani dalam kategori baik; (4) evaluasi produk yaitu komponen produk hasil pembelajaran pendidikan jasmani dalam kategori baik.
8. Ketut Iwan Swadesi, & I Nyoman Kanca (2022). Evaluasi Implementasi Pembelajaran Daring Pendidikan Jasmani Olahraga Dan Kesehatan SMP Se-Bali. Dalam proses pembelajaran daring; baik sebelum saat dan setelahnya, perlu dilakukan evaluasi, sebagai acuan dan dasar penentuan tingkat keberhasilan proses yang dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis evaluasi implementasi pembelajaran daring pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan SMP Se-Bali. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Pengumpulan datanya menggunakan kuesioner dalam bentuk Google form. Evaluasi program pembelajaran menggunakan Model CIPP (Context, Input, Process, Product). Evaluasi dilakukan pada masa pandemi Covid-19. Berdasarkan data dari 8 Kabupaten dan 1 Ibu Kota Provinsi dengan jumlah respoden 900 orang (Peserta Didik, Guru PJOK dan Pimpinan Sekolah) didapat hasil sebagai berikut: Dari aspek Context termasuk dalam kategori baik, berarti peserta didik, guru pjok dan kepala sekolah memahami arah dan kebijakan sekolah baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dari aspek Input termasuk dalam kategori baik, berarti penerimaan/Input (sumber daya manusia) baik itu dari peserta didik ataupun rekrutmen guru PJOK sudah dilakukan dengan baik dan sesuai dengan kompetensinya masing-masing. secara Proses termasuk dalam kategori baik, berarti evaluasi Process menjelaskan gambaran kondisi yang diharapkan atau kondisi aktual yang terjadi dalam lingkungan tersebut. secara Product termasuk dalam kategori baik, berarti pembelajaran daring yang telah dilakukan tepat dan efektif dilihat dari hasil belajar yang diperoleh peserta didik.
C. Kerangka Pikir
Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan fleksibilitas kepada guru dan sekolah dalam mengelola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam konteks mata pelajaran PJOK, pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan kompetensi fisik, mental, dan sosial peserta didik melalui aktivitas jasmani yang menyenangkan, relevan, dan kontekstual. Sekolah Penggerak, sebagai garda terdepan dalam implementasi Kurikulum Merdeka, diharapkan mampu memfasilitasi transformasi pendidikan dengan memanfaatkan sumber daya dan sarana prasarana yang ada. Namun, keberhasilan implementasi sangat bergantung pada kesiapan berbagai elemen, seperti kesiapan guru dalam memahami dan melaksanakan kurikulum, kesiapan peserta didik dalam berpartisipasi aktif, serta dukungan fasilitas yang memadai.
Evaluasi implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak menjadi penting dilaksanakan untuk memahami bagaimana kebijakan pendidikan ini diterapkan di tingkat sekolah. Evaluasi implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak menggunakan model CIPP bertujuan untuk menilai keberhasilan program berdasarkan empat dimensi: Konteks, Input, Proses, dan Produk. Pendekatan ini memberikan gambaran holistik tentang pelaksanaan kurikulum, mulai dari kesiapan hingga hasil yang dicapai. Konteks berfokus pada relevansi kurikulum merdeka dengan visi sekolah penggerak yang mencakup dukungan kurikulum merdeka dalam pencapaian visi sekolah penggerak, sekolah memiliki budaya yang mendukung implementasi kurikulum merdeka. Input berfokus pada kesiapan sumber daya, dukungan, dan fasilitas yang tersedia yang mencakup Pelatihan guru PJOK, efektivitas pelatihan, ketersediaan sarana olahraga, kondisi prasarana, ketersediaan modul pembelajaran, pendampingan implementasi, dukungan kepala sekolah, dukungan orang tua siswa. Proses berfokus pada pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum merdeka meliputi metode pembelajaran inovatif, variasi metode, kolaborasi siswa, kreativitas siswa, umpan balik guru, diferensiasi pembelajaran, partisipasi siswa, penggunaan media dan teknologi, evaluasi pembelajaran, pengelolaan waktu. Produk berfokus pada hasil implementasi pembelajaran berbasis kurikulum merdeka yang mencakup peningkatan keterampilan siswa, nilai profil pelajar Pancasila, kesehatan fisik dan mental siswa, peningkatan nilai akademik, kepercayaan diri siswa, pencapaian kompetensi.
Model evaluasi ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang komprehensif terkait pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak, sehingga menjadi dasar untuk pengembangan lebih lanjut.
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berfikir
Pertanyaan penelitian mempunyai peranan yang sangat penting dalam setiap penelitian. Peneliti menguraikan subjek dan masalah yang sedang dibahas, membentuk proses penelitian yang sistematis. Pada dasarnya, tujuan suatu penelitian adalah untuk menjawab pertanyaan penelitian spesifik yang diajukannya. Pertanyaan penelitian tidak hanya memandu penelitian tetapi juga mempengaruhi komponen penting lainnya seperti metodologi dan hipotesis. Dengan merumuskan pertanyaan penelitian yang jelas, peneliti dapat menentukan pendekatan dan metode yang tepat untuk mengumpulkan dan menganalisis data.
Pertanyaan pokok penelitian yang diajukan oleh peneliti adalah bagaimana evaluasi implementasi kurikulum merdeka pada mata pelajaran PJOK di sekolah penggerak sekolah menengah atas di Kabipaten .......................?. Berdasarkan pertanyaan pokok tersebut selanjutnya dapat dirinci menjadi beberapa item sesuai dengan model evaluasi yang digunakan yaitu CIPP.
1. Bagaimana hasil evaluasi Context implementasi
kurikulum merdeka
terhadap pembelajaran PJOK di sekolah penggerak Sekolah Menengah Atas di
Kabupaten .......................?
2. Bagaimana hasil evaluasi Input implementasi
kurikulum merdeka terhadap
pembelajaran PJOK di sekolah penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten .......................?
3. Bagaimana hasil evaluasi Process implementasi
kurikulum merdeka
terhadap pembelajaran PJOK di sekolah penggerak Sekolah Menengah Atas di
Kabupaten .......................?
4. Bagaimana hasil evaluasi Product implementasi
kurikulum merdeka
terhadap pembelajaran PJOK di sekolah penggerak Sekolah Menengah Atas di
Kabupaten .......................?
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian evaluatif menggunakan pendekatan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam. Pendekatan ini dirancang untuk mengevaluasi program secara komprehensif, mulai dari konteks (kebutuhan), Input (sumber daya), proses (pelaksanaan), hingga produk (hasil). Sukmadinata (2019) menyatakan bahwa penelitian evaluatif bertujuan untuk mengukur tingkat keberhasilan sebuah program dengan cara menganalisis seluruh komponen program, baik dari segi perencanaan, pelaksanaan, maupun hasil akhirnya. Model CIPP sangat relevan digunakan dalam penelitian ini karena mampu memberikan informasi terperinci untuk mendukung pengambilan keputusan.
Penelitian evaluasi harus berorientasi pada pengukuran efektivitas program, yaitu sejauh mana sebuah program mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Konteks penelitian ini, evaluasi dilakukan untuk menilai implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak, dengan fokus pada kesesuaian antara tujuan kurikulum, pelaksanaan di lapangan, dan hasil yang dicapai oleh peserta didik.
Model evaluasi CIPP (Context,
Input, Process, Product) yang diperkenalkan oleh Stufflebeam (2015). Model ini dirancang sebagai kerangka
kerja untuk mengevaluasi program secara sistematis dengan mempertimbangkan
berbagai aspek dari perencanaan hingga hasil yang dicapai. Pendekatan penelitian
yang diggunakan adalah metode campuran atau mixed method. Mixed
method research merupakan metode penelitian yang diaplikasikan apabila
peneliti memiliki pertanyaan yang perlu diuji dari
segi outcomes dan prosesnya, serta menyangkut kombinasi antara metode
kuantitatif dan kualitatif dalam satu penelitian (Azhari
et al., 2023).
Penggunaan
metode campuran pada penelitian ini bertujuan untuk
menguji hasil penelitian dengan pendekatan yang berbeda. Desain metode
penelitian campuran konveregen merupakan pengumpulan data kuantitatif dan
kualitatif secara bersamaan, menganalisis hasil kedua data tersebut secara
terpisah, dan kemudian membandingkan hasilnya untuk melihat apakah temuan
penelitian tersebut saling mendukung atau tidak. Dengan pendekatan desain konvergen
dalam metode campuran (mixed methods),
data kualitatif dan kuantitatif diintegrasikan untuk memberikan analisis
mendalam mengenai implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di
Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ........................ Berikut ini gambar
penelitian Convergent Design:
Gambar 3.1 Desain Penelitian Konvergen
Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan model CIPP (Context, Input, Process, Product) yang dikembangkan oleh Stufflebeam (2015). Model ini dipilih karena merupakan model evaluasi yang sangat tepat untuk mengevaluasi pelaksanaan sebuah program, termasuk evaluasi implementasi kurikulum merdeka pada sekolah penggerak. Model CIPP ini, terdiri dari empat komponen, yakni:
1. Konteks : relevansi kurikulum merdeka dengan visi sekolah penggerak yang mencakup dukungan kurikulum merdeka dalam pencapaian visi sekolah penggerak, sekolah memiliki budaya yang mendukung implementasi kurikulum merdeka.
2. Input : kesiapan sumber daya, dukungan, dan fasilitas yang tersedia yang mencakup Pelatihan guru PJOK, efektivitas pelatihan, ketersediaan sarana olahraga, kondisi prasarana, ketersediaan modul pembelajaran, pendampingan implementasi, dukungan kepala sekolah, dukungan orang tua siswa.
3. Proses : pelaksanaan pembelajaran berbasis kurikulum merdeka meliputi metode pembelajaran inovatif, variasi metode, kolaborasi siswa, kreativitas siswa, umpan balik guru, diferensiasi pembelajaran, partisipasi siswa, penggunaan media dan teknologi, evaluasi pembelajaran, pengelolaan waktu.
4. Produk : hasil implementasi pembelajaran berbasis kurikulum merdeka yang mencakup peningkatan keterampilan siswa, nilai profil pelajar Pancasila, kesehatan fisik dan mental siswa, peningkatan nilai akademik, kepercayaan diri siswa, pencapaian kompetensi.
C. Lokasi/ Tempat dan Waktu Penelitian
1. Lokasi/ Tempat Penelitian
Tempat penelitian dalam penelitian ini adalah satuan Pendidikan Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten ....................... yang telah menerapkan implementasi kurikulum Merdeka yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMAN Ibnusina ......................., SMA Katolik Santo Gabriel.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2024.
D. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi dalam penelitian merupakan faktor yang sangat penting untuk dipahami dan ditetapkan oleh peneliti Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2021). Sedangkan populasi juga merupakan wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono, 2020). Populasi dalam penelitian adalah satuan pendidikan sekolah penggerak SMA di wilayah Kabupaten ....................... yang telah mengimplementasikan kurikulum merdeka mata pelajaran Pendidikan Olahraga dan Kesehatan. Adapun jumlah seluruh populasi dalam penelitian ini berjumlah 4 Satuan Pendidikan. Daftar seluruh sekolah SMA Penggerak di Kabupaten ....................... disajikan pada tabel berikut.
Tabel 3.1 Daftar Sekolah Penggerak SMA di Kabupaten .......................
|
No |
Nama Sekolah |
Kecamatan |
|
1 |
SMA Negeri 1 ....................... |
....................... |
|
2 |
SMA Negeri 1 Sebatik |
Sebatik |
|
3 |
SMA Ibnusina ....................... |
....................... Selatan |
|
4 |
SMA Katolik Santo Gabriel |
....................... |
2. Sampel
Pengertian sampel penelitian menurut Sugiyono (2020), dijelaskan bahwa sampel adalah suatu bagian dari keseluruhan serta karakteristik yang dimiliki oleh sebuah populasi. Apabila populasi tersebut besar, sehingga para peneliti tentunya tidak memungkinkan untuk mempelajari keseluruhan yang ada pada populasi tersebut beberapa kendala yang akan dihadapi di antaranya seperti dana yang terbatas, tenaga dan waktu maka dalam hal ini perlunya menggunakan sampel yang di ambil dari populasi itu. Selanjutnya, apa yang dipelajari dari sampel tersebut maka akan mendapatkan kesimpulan yang nantinya di berlakukan untuk populasi.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling. Menurut Sugiyono (2020) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan total sampling adalah metode pengambilan sampel ketika jumlah sampel tersebut sama dengan populasinya, dengan catatan data wajib memenuhi kriteria yang ditetapkan. Dalam peneilitian ini sampel yang diterapkan adalah satuan pendidikan sekolah penggerak SMA yang telah mengimplementasikan kurikulum Merdeka dalam penyelenggaraan Pendidikan di Satuan Pendidikannya. Adapun sekolah penggerak yang ada di Kabupaten ....................... ada sejumlah 4 satuan Pendidikan yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMAN Ibnusina ......................., SMA Katolik Santo Gabriel.
Sampel penelitian adalah kepala sekolah dan guru di sejumlah 4 satuan Pendidikan yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMAN Ibnusina ......................., SMA Katolik Santo Gabriel sebanyak 8 orang, dengan penjelasan 4 orang kepala sekolah and 4 orang guru PJOK.
E. Teknik dan Istrumen Pengumpulan Data
1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan upaya untuk mengumpulkan informasi sesuai dengan metode penelitian untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Menurut Sugiyono (2020) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah penelitian yang paling strategis karena tujuan utama penelitian adalah mengumpulkan data. Secara sederhana, pengumpulan data adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh peneliti untuk menemukan atau merekam berbagai fenomena, informasi atau kondisi di lokasi penelitian, tergantung dari ruang lingkup penelitiannya. Pendapat lain menurut Budiwanto (2017) menyatakan bahwa metode pengumpulan data adalah teknik atau cara pengumpulan data. Teknik pengumpulan data berarti suatu metode yang wujudnya ditunjukkan dalam penggunaannya dalam pengumpulan data dengan angket, wawancara, observasi, tes, dokumentasi, dan lain-lain. Sedangkan instrumen pengumpulan data adalah alat untuk mengumpulkan data. Karena merupakan alat, dapat berupa lembar checklist, pedoman angket, pedoman wawancara, pedoman observasi, kamera dan instrumen lainnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Metode tersebut digunakan untuk memperoleh data tentang komponen dalam penelitian evaluasi.
a. Observasi
Menurut Creswell (2018), observasi merupakan upaya untuk pengumpulan data yang dilakukan ketika peneliti langsung turun ke lapangan untuk mengamati perilaku dan aktivitas individu-individu di lokasi penelitian. Observasi dalam sebuah penelitian diartikan sebagai pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan melibatkan seluruh indera untuk mendapatkan data. Jadi observasi merupakan pengamatan langsung dengan menggunakan penglihatan, penciuman, pendengaran, perabaan, atau kalau perlu dengan pengecapan. Instrumen yang digunakan dalam observasi dapat berupa pedoman pengamatan, tes, kuesioner, rekaman gambar, dan rekaman suara.
Instrumen observasi yang berupa pedoman pengamatan, biasa digunakan dalam observasi sitematis dimana si pelaku observasi bekerja sesuai dengan pedoman yang telah dibuat. Pedoman tersebut berisi daftar jenis kegiatan yang kemungkinan terjadi atau kegiatan yang akan diamati sebagaimana Siyoto & Sodik (2015). Observasi dilakukan oleh peneliti dengan cara pengamatan dan pencatatan mengenai pelaksanaan pembelajaran.
b. Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang memungkinkan peneliti melakukan wawancara tatap muka dengan partisipan (Creswell, 2018). Selain itu, Sugiyono (2020) mendefinisikan wawancara sebagai pertemuan antara dua orang di mana informasi dan ide dipertukarkan melalui tanya jawab sehingga makna dapat dibuat tentang topik tertentu. Herdiansyah (2013) menyatakan bahwa wawancara adalah proses interaktif komunikatif yang dilakukan oleh minimal dua orang berdasarkan ketersediaan dan dalam lingkungan yang alami, dengan arah pembicaraan terkait dengan tujuan yang diprioritaskan berdasarkan kepercayaan. dasar dalam proses pemahaman. Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan dengan semua responden. Wawancara akan dilakukan dengan guru PJOK dan kepala sekolah.
c. Dokumentasi
Instrumen dokumentasi terdiri atas dua macam yaitu pedoman dokumentasi yang memuat garis-garis besar atau kategori yang akan dicari datanya, dan check-list yang memuat daftar variabel yang akan dikumpulkan datanya. Perbedaan antara kedua bentuk instrumen ini terletak pada intensitas masalah yang diteliti. Pada pedoman dokumentasi, peneliti cukup menuliskan tanda centang dalam kolom gejala, sedangkan pada check-list, peneliti memberikan tally pada setiap pemunculan gejala. Menurut Siyoto & Sodik (2015), dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dengan wawancara dan observasi langsung maupun teknik pengumpulan data yang lain. Hal ini untuk melengkapi kekurangan data-data hasil pengamatan, wawancara dan angket. Dokumentasi yang dimaksud berkaitan dengan gambaran sekolah, daftar nilai siswa, daftar hadir siswa, Rancangan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, serta hasil penilaian siswa. Pedoman dokumentasi dibuat dalam bentuk cek list.
d. Angket
Siyoto&Sodik (2015) angket atau kuesioner adalah metode pengumpulan data, instrumennya disebut sesuai dengan nama metodenya. Bentuk lembaran angket dapat berupa sejumlah pertanyaan tertulis, tujuannya untuk memperoleh informasi dari responden tentang apa yang ia alami dan ketahuinya. Sugiyono (2020) berpendapat bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
2. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian menurut Hardani dkk. (2022) adalah “ukuran yang digunakan untuk memperoleh informasi kuantitatif yang objektif tentang variasi karakteristik variabel. Dalam hal ini, diperlukan teknik pengembangan skala atau instrumen pengukuran untuk mengukur variabel dalam pengumpulan data yang lebih sistematis.” Instrumen menggaris bawahi pentingnya dan pemahamannya sebagai alat untuk mengumpulkan dan memperoleh informasi yang diperlukan sesuai pendapat Budiwanto (2017), Alat-alat tersebut akan digunakan untuk memperoleh informasi guna mengevaluasi implementasi kurikulum merdeka mata pelajaran PJOK di SMA Kaupaten ........................
Instrumen pengumpulan data dalam penelitian evaluasi
implementasi
kurikulum merdeka terhadap pembelajaran PJOK SMA penggerak di Kabupaten .......................
dengan menggunakan metode penelitian evaluasi meliputi kuesioner, pedoman
wawancara, dan dokumentasi. Peneliti menentukan kriteria pada masing-masing
komponen lalu instrument diuji oleh para ahli untuk mendapatkan hasil validasi
instrument sehingga dapat diberikan pada responden.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen, Sumber Data, dan Metode Pengambilan Data
|
No |
Kriteria Evaluasi |
Indikator |
Sumber Data |
Teknik Pengumpulan Data |
|
1 |
Context |
Relevansi Kurikulum Merdeka di sekolah penggerak |
Kepala sekolah, Guru PJOK |
Wawancara, Angket, dokumentasi |
|
2 |
Input |
Kesiapan Guru PJOK |
Guru PJOK |
Wawancara, Angket |
|
Fasilitas olahraga |
Guru PJOK |
Wawancara, angket, dokumentasi |
||
|
3 |
Process |
Strategi pembelajaran PJOK |
Guru PJOK, Siswa |
Wawancara, observasi, angket |
|
Keterlibatan siswa |
Guru PJOK, Siswa |
Wawancara, observasi, angket |
||
|
4 |
Product |
Peningkatan kompetensi siswa |
Guru PJOK, Siswa |
Wawancara, angket, dokumentasi |
|
Profil Pelajar Pancasila |
Guru PJOK, Siswa |
Wawancara, angket, |
F. Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas Data Kualitatif
Data kualitatif yang diperoleh melalui wawancara diuji keabsahannya menggunakan triangulasi data. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan informasi dari narasumber atau informan yang satu dengan lainnya, sehingga diperoleh kebenarannya. Untuk itu, peneliti melakukan wawancara terhadap 4 kepala sekolah dan 6 guru olahraga. Kemudian membandingkan setiap jawaban yang diberikan ketiga informan. Setelah itu, dilakukan member check untuk memeriksa kembali data hasil wawancara, sehingga data yang akan dianalisis sesuai dengan maksud narasumber.
2. Validitas Data Kuantitatif
Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini dijadikan sebagai alat pengumpulan data harus memiliki kelayakan untuk digunakan dalam penelitian ini melalui uji validitas instrumen. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah instrument yang dibuat dapat mengukur apa yang akan diukur dalam sebuah penelitian. Peneliti menggunakan dua jenis uji validitas dalam melaksanakan penelitian kali ini, yaitu validitas isi dan validitas kontruk.
a. Validasi Isi
Validitas isi merupakan salah satu dari uji validitas, yang tujuannya apakan instrumen bisa digunakan dan dapat mengukur serta menjelaskan seluruh aspek yang diukur dalam penelitian. Pengujian validitas dilakukan dengan bantuan ahli yang memiliki kemampuan dalam variabel yang diteliti melalui proses expert judgement. Pada penelitian kali ini peneliti meminta bantuan ahli yang memiliki kemampuan dalam bidang evaluasi untuk menentukan instrument dan memberikan pertimbangan perihal aspek yang diteliti serta kisi-kisi dan juga instrumen yang digunakan dalam penelitian, dan ditinjau apakah sudah sesuai dengan objek yang akan diteliti yaitu Bapak Prof. Dr. Ngatman, M.Pd dan Ibu Dr. Tri Ani Hastuti, M.Pd.
Instrumen penelitian berupa angket dan lembar observasi telah divalidasi oleh dosen pembimbing dan ahli materi. Proses validasi dilakukan dengan tujuan untuk memastikan bahwa setiap indikator yang diukur sesuai dengan konsep dan karakteristik Kurikulum Merdeka, serta relevan dengan tujuan penelitian. Berdasarkan hasil validasi, beberapa indikator angket dan lembar observasi mengalami revisi untuk memastikan bahwa istilah yang digunakan sudah tepat dan indikator tersebut mengukur domain yang relevan dengan kompetensi yang diharapkan. Berikut hasil uji validasi dari ahli.
Tabel 3.3 Revisi Uji Validasi Ahli
|
No |
Ahli |
Pendapat Ahli |
Ket |
|
1 |
Prof. Dr. Ngatman, M.Pd |
Siap digunakan tanpa adanya saran |
|
|
2 |
Dr. Tri Ani Hastuti, M.Pd |
Siap digunakan dengan saran: a. Pada indikator aspek strategi pembelajaran dapat ditambahkan ciri dari kurikulum merdeka, yaitu materi esensisal dan asesmen diagnostik dan sumatif. b. Pada indikator produk sebaiknya dilengkapi dengan domain kognitif dan afektif atau sikap sosial c. Pada lembar observasi aspek Conteks diperjelas apa program yang dimaksudkan |
|
Setelah dilakukan perbaikan untuk instrumen penelitian berikut hasil revisi uji validasi oleh dosen ahli.
Tabel 3.4 Revisi Uji Validasi Dosen Ahli
|
Pendapat Ahli |
Sebelum Revisi |
Hasil Revisi |
|
a. Pada indikator aspek strategi pembelajaran dapat ditambahkan ciri dari kurikulum merdeka, yaitu materi esensisal dan asesmen diagnostik dan sumatif. |
1. Guru PJOK menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) sesuai Kurikulum Merdeka 2. Guru memberikan variasi metode pembelajaran, seperti diskusi kelompok dan praktik langsung 3. Pembelajaran PJOK memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi 4. Pembelajaran PJOK mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif 5. Guru memberikan umpan balik secara teratur kepada siswa selama pembelajaran PJOK 6. Proses pembelajaran PJOK memperhatikan kebutuhan individual siswa 7. Siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran PJOK 8. Guru menggunakan media dan teknologi untuk mendukung pembelajaran PJOK |
1. Guru melaksanakan asesmen diagnostik sebelum memulai pembelajaran untuk mengetahui kesiapan siswa 2. Guru menyampaikan materi pembelajaran yang bersifat esensial dan kontekstual. 3. Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). 4. Guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sesuai kebutuhan siswa. 5. Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual siswa melalui pendekatan diferensiasi. 6. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkolaborasi. 7. Guru memberikan umpan balik dan melakukan asesmen sumatif untuk mengevaluasi hasil belajar. 8. Guru memanfaatkan media dan teknologi dalam proses pembelajaran.
|
|
b. Pada indikator produk sebaiknya dilengkapi dengan domain kognitif dan afektif atau sikap sosial |
1. Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan olahraga setelah pembelajaran PJOK 2. Siswa mampu menerapkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, melalui pembelajaran PJOK 3. Pembelajaran PJOK membantu siswa meningkatkan kesehatan fisik dan mental 4. Nilai akademik siswa pada mata pelajaran PJOK meningkat setelah penerapan Kurikulum Merdeka 5. Siswa merasa lebih percaya diri dalam kegiatan olahraga setelah pembelajaran PJOK 6. Implementasi Kurikulum Merdeka telah membantu siswa mencapai kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan |
1. Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan motorik melalui aktivitas olahraga. 2. Siswa memahami konsep dasar olahraga dan kesehatan jasmani sesuai materi PJOK. 3. Siswa menerapkan sikap disiplin, kerja sama, dan sportivitas selama kegiatan pembelajaran. 4. Pembelajaran PJOK membantu siswa menjaga kesehatan fisik dan keseimbangan mental. 5. Siswa menunjukkan kepercayaan diri dan motivasi dalam mengikuti kegiatan PJOK. 6. Penerapan Kurikulum Merdeka mendukung ketercapaian kompetensi belajar siswa secara menyeluruh.
|
|
c. Pada lembar observasi aspek Conteks diperjelas apa program yang dimaksudkan |
1. Kurikulum mendukung visi Sekolah Penggerak 2. Pembelajaran PJOK relevan dengan kebutuhan siswa 3. Program menciptakan budaya belajar yang positif 4. Kebijakan sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka 5. Kurikulum membantu siswa mengembangkan keterampilan olahraga yang relevan 6. Kurikulum memperhatikan budaya lokal sekolah |
1. Kurikulum mendukung visi dan misi Sekolah Penggerak. 2. Pembelajaran PJOK dirancang sesuai kebutuhan, minat, dan karakteristik siswa. 3. Program Sekolah Penggerak mendorong terciptanya budaya belajar yang positif dan inklusif. 4. Kebijakan sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, termasuk dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. 5. Kurikulum Merdeka mendorong pengembangan keterampilan olahraga yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. 6. Kurikulum Merdeka diimplementasikan dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan budaya sekolah. |
b. Validasi Konstruk
Validitas konstruk adalah uji validitas yang mempunyai tujuan melihat dan mengetahui tingkat keberhasilan dari sebuah instrument dalam mengukur pengertian-pengertian yang ada pada materinya. Sama halnya dengan validitas isi dalam validitas konstruk pun menggunakan proses bantuan ahli untuk expert judgement. Menurut Sugiyono(2020) “Secara teknis pengujian validitas konstruk dan validitas isi dapat dibantu dengan menggunakan kisi-kisi instrument.” Setelah itu penelitian ini dianalisis butir, dengan cara mengkorelasikan rumus “Product Moment” dari Pearson, yaitu.
Keterangan:
rxy = Koefisien korelasi
N = Jumlah sampel
X = Nilai item
Y = Nilai total
Penentuan valid dan tidaknya suatu instrumen dengan membandingkan hasil nilai rhitung > rtabel. Taraf signifikan yang digunakan adalah 5% (0,05) dengan jumlah responden (n = 8), sehingga rtabel yang digunakan adalah (0,632). Adapun uji validitas instrumen untuk angket implementasi kuriklum merdeka sebagai berikut.
Tabel 3.5 Hasil Uji validasi Instrumen
|
No |
rhitung |
rtabel |
Ket |
No |
rhitung |
rtabel |
Ket |
|
1 |
0,970 |
0,632 |
Valid |
16 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
2 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
17 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
3 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
18 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
4 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
19 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
5 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
20 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
6 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
21 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
7 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
22 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
8 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
23 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
9 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
24 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
10 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
25 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
11 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
26 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
12 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
27 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
13 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
28 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
14 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
29 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
|
15 |
0,910 |
0,632 |
Valid |
30 |
0,966 |
0,632 |
Valid |
Hasil uji validitas instrumen angket menunjukan bahwa nilai rhitung > rtabel, seluruh item angket dinyatakan valid karena nilai rhitung > rtabel. Maka seluruh item angket dapat dipergunakan untuk pengumpulan data penelitian.
c. Uji Reliabilitas Instrumen
Pengujian reliabilitas dengan metode internal consistency, yaitu dengan mencobakan instrumen sekali, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan teknik Cronbach Alpha. Teknik ini digunakan karena cocok untuk menguji reliabilitas instrumen berupa angket yang memiliki jawaban berupa pilihan (Arikunto, 2021). Uji instrumen penelitian dikatakan reliabel, bila koefisien realibilitas (ri) > 0,60. (ri) > 0,60. Pengujian realibilitas angket diuji dengan menggunakan bantuan program statistical package for social scince (SPSS) 25.0 for windows. Hasil nilai Cronbach Alpha yang diperoleh sebesar 0,994. Berdasarkan hasil dari pengujian reabilitas menyatakan bahwa angket implementasi kurikulum merdeka adalah reliabel hal ini ditunjukkan dengan nilai (ri) > 0,60.
Dalam penelitian ini, analisis data yang digunakan adalah analisis data Kuantitatif dan data Kualitatif. Analisis kuantitatif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum sesuai pendapat Sugiyono (2020). Langkah-langkah analisis data yaitu mengelompokkan data yang berjenis kuantitatif dan kualitatif. Hasil dari pengumpulan data mulai dari observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket pada aspek-aspek komponen CIPP di analisis menggunakan statistik menggunakan apliaksi SPSS untuk data kuantitatif.
Langkah yang digunakan dalam menganalisis data yang telah terkumpul yaitu: (1) penskoran hasil kuesioner; (2) menjumlahkan skor total masing-masing aspek; (3) mengelompokkan skor yang didapat berdasarkan tingkat kecenderungan; dan (4) melihat presentase tiap kecenderungan dengan kategori yang ada, sehingga diperoleh informasi mengenai hasil penelitian. Penskoran dan evaluasi menggunakan skala 5, yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5. Data yang diperoleh melalui kuesioner dinilai dengan melihat kecenderungan.
Keterangan:
P = Persentase
F = Frekuensi
N = Jumlah data yang ada
Untuk analisis data kualitatif, maka teknik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif model interaktif sebagaimana dijelaskan oleh Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2020) yaitu sebagai berikut.
1. Pengumpulan data
Informasi yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua bagian yaitu deskripsi dan refleksi. Rekaman deskriptif adalah data alamiah yang berisi apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disaksikan dan dialami oleh peneliti tanpa pendapat atau interpretasi peneliti terhadap fenomena yang dihadapi. Catatan reflektif adalah catatan yang berisi kesan peneliti, komentar dan interpretasi hasil, dan merupakan bahan untuk rencana pengumpulan data tahap berikutnya. Untuk mendapatkan catatan tersebut, peneliti mewawancarai beberapa informan.
2. Reduksi data
Reduksi data adalah proses pemilihan, penargetan, penyederhanaan, dan abstraksi. Cara mereduksi data adalah dengan melakukan seleksi, membuat catatan penting atau deskripsi singkat, mengelompokkannya menjadi pola dengan membuat salinan penelitian untuk menggambarkan, mempersingkat elaborasi, menghilangkan bagian yang tidak penting dan menarik kesimpulan.
3. Penyajian data
Penyajian data yaitu pengumpulan informasi terstruktur untuk menarik kesimpulan dan mengambil tindakan. Agar penyajian data tidak keluar dari pokok permasalahan maka penyajian data dalam bentuk matriks, grafik, jaringan atau diagram dapat diimplementasikan sebagai pedoman informasi tentang apa yang disajikan. Informasi disajikan sesuai dengan subjek pertanyaan.
4. Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah upaya untuk menemukan atau memahami makna, saling keterkaitan dalam pola penjelasan, alur kausal atau proposisi. Kesimpulan yang dibuat kemudian diverifikasi dengan pertanyaan, sedangkan catatan lapangan ditinjau untuk pemahaman yang lebih rinci dan bisa dilakukan melalui diskusi. Ini dilakukan sehingga informasi yang diperoleh dan interpretasinya valid dan kesimpulan yang dibuat menjadi lebih akurat .
H. Kriteria Keberhasilan Evaluasi
Penentuan
kriteria keberhasilan adalah hal yang sangat penting dalam
kegiatan evaluasi karena tanpa adanya kriteria, seorang evaluator akan
kesulitan dalam mempertimbangkan suatu keputusan. Tanpa kriteria, pertimbangan
yang akan diberikan tidak memiliki dasar. Oleh karena itu, dengan menentukan
kriteria yang akan digunakan akan memudahkan evaluator dalam mempertimbangkan
nilai atau harga terhadap komponen program yang
dinilainya, apakah telah sesuai dengan yang ditentukan sebelumnya atau belum.
Kriteria keberhasilan perlu dibuat oleh evaluator karena tolak ukur yang telah
dibuat dapat digunakan untuk menjawab atau mempertanggungjawabkan hasil
penilaian yang sudah dilakukan apabila ada orang yang ingin mempelajari lebih
jauh atau bahkan ingin mengkaji ulang dan dengan adanya kriteria keberhasilan,
maka evaluasi akan sama meskipun dilakukan dalam waktu dan kondisi yang
berbeda. Kategori keberhasilan disusun berdasarkan persentase ketercapaian,
merujuk pada teori evaluasi pendidikan yang umum digunakan (Sukmadinata,
2019).
Tabel 3.6 Kriteria Keberhasilan Evaluasi
|
No |
Persentase Ketercapaian |
Kategori Keberhasilan |
|
1 |
80%-100% |
Sangat baik |
|
2 |
66%-79% |
Baik |
|
3 |
56%-65% |
Cukup |
|
4 |
40%-55% |
Kurang |
|
5 |
<40% |
Sangat kurang |
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di empat sekolah menengah atas yang berada di wilayah Kabupaten ......................., Propinsi Kalimantan Utara. Keempat sekolah yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMA Ibnu Sina, SMA Katolik Santo Gabriel telah ditetapkan sebagai Sekolah Penggerak oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang berarti sekolah-sekolah ini menjadi pionir dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dan membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada perkembangan karakter dan kompetensi peserta didik.
SMAN 1 ......................., merupakan sekolah negeri unggulan yang berada di pusat kabupaten. Sebagai sekolah penggerak, SMAN 1 ....................... aktif mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa, termasuk dalam pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif yang ramah terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.
SMAN 1 Sebatik, terletak di wilayah perbatasan negara, yakni Pulau Sebatik. Meskipun memiliki tantangan geografis dan keterbatasan fasilitas, sekolah ini mampu menunjukkan komitmen sebagai sekolah penggerak melalui berbagai inovasi dalam proses pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran adaptif PJOK.
SMA Ibnu Sina, merupakan sekolah swasta berbasis keagamaan yang juga ditetapkan sebagai sekolah penggerak. Sekolah ini menerapkan pendekatan yang inklusif dan kontekstual dalam pembelajaran, dan memiliki komitmen kuat dalam pelayanan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.
SMA Katolik Santo Gabriel, adalah sekolah swasta yang aktif menyelenggarakan program-program penguatan karakter dan pembelajaran holistik. Sebagai sekolah penggerak, SMA Katolik menerapkan prinsip diferensiasi dan pembelajaran yang memerdekakan, termasuk dalam pelaksanaan PJOK adaptif.
Keempat sekolah ini dipilih untuk memberikan gambaran yang representatif mengenai implementasi pembelajaran adaptif PJOK dalam konteks sekolah penggerak, yang diharapkan mampu menjadi model dalam pengembangan pendidikan inklusif dan transformasi pembelajaran di wilayah perbatasan.
1. Deskripsi Hasil Angket
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adaptif dibeberapa Sekolah Menengah Atas (SMA) yang ada di wilayah penelitian. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product), yang memberikan kerangka sistematis dalam menilai pelaksanaan program pendidikan dari berbagai aspek yang saling berkaitan. Data penelitian diperoleh melalui penyebaran angket kepada delapan orang responden yang terdiri dari guru PJOK dan pihak terkait lainnya di empat sekolah, yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMA Ibnu Sina, dan SMA Katolik.
Setiap responden memberikan penilaian terhadap empat aspek utama, yaitu: konteks pembelajaran, Input atau dukungan sumber daya, proses pelaksanaan pembelajaran, dan hasil atau produk pembelajaran PJOK adaptif. Hasil pengumpulan data dari angket tersebut diolah dan dianalisis untuk mengetahui tingkat pencapaian masing-masing aspek. Berikut ini disajikan hasil evaluasi yang telah diklasifikasikan berdasarkan keempat komponen model CIPP.
Tabel 4.1 Hasil Rekapitulasi Angket Model CIPP
|
No |
Nama Sekolah |
Responden |
Prosentase Skor |
|||
|
Contexct |
Input |
Process |
Product |
|||
|
1 |
SMAN 1 ....................... |
Ria Asrima,S.Pd |
96% |
94% |
95% |
92% |
|
2 |
SMAN 1 ....................... |
Azia ,S.Pd |
92% |
94% |
93% |
96% |
|
3 |
SMAN 1 Sebatik |
Sudirman |
92% |
94% |
95% |
96% |
|
4 |
SMAN 1 Sebatik |
Suhadi |
92% |
94% |
95% |
96% |
|
5 |
SMA Ibnu Sina |
Agus Setiansyah, S.Si, M.Si |
96% |
97% |
98% |
100% |
|
6 |
SMA Ibnu Sina |
Ariffudin, S.E, S.Pd |
92% |
100% |
83% |
92% |
|
7 |
SMA Katolik |
Yohanes Sapo |
96% |
91% |
93% |
92% |
|
8 |
SMA Katolik |
Yohanes Mau |
96% |
94% |
95% |
92% |
|
Rata-rata tiap indikator |
94% |
94,75% |
93,38% |
94,50% |
||
|
Kategori |
Sangat baik |
Sangat baik |
Sangat baik |
Sangat baik |
||
(Sumber : Hasil Angket Responden, 2025)
Berdasarkan data hasil angket yang disebarkan kepada delapan responden dari empat sekolah, yaitu SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMA Ibnu Sina, dan SMA Katolik, diperoleh gambaran bahwa pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adaptif pada sekolah penggerak berada pada kategori “sangat baik” dalam seluruh aspek yang dievaluasi, yaitu Context, Input, Process, dan Product.
Pada aspek Context, seluruh responden memberikan penilaian tinggi dengan persentase berkisar antara 92% hingga 96%, menunjukkan bahwa tujuan dan kebutuhan pembelajaran PJOK adaptif sudah sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta didik di masing-masing sekolah. Hal ini mencerminkan kesiapan dan relevansi pembelajaran dalam menjawab kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.
Aspek Input memperoleh skor yang juga tinggi, yakni antara 91% hingga 100%, mengindikasikan tersedianya sumber daya, sarana, dan kompetensi pendidik yang memadai dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran. Bahkan salah satu responden dari SMA Ibnu Sina memberikan skor maksimal 100% pada aspek ini, menunjukkan optimalnya dukungan Input di sekolah tersebut.
Pada aspek Process, persentase skor berkisar antara 83% hingga 98%. Meskipun mayoritas responden memberikan penilaian di atas 90%, terdapat satu responden yang memberikan skor 83%, yang mengindikasikan adanya tantangan dalam pelaksanaan proses pembelajaran secara langsung di sekolah tersebut. Namun, secara umum, pelaksanaan pembelajaran berjalan efektif dan sesuai rencana.
Sementara itu, aspek Product mendapatkan skor antara 92% hingga 100%, yang menandakan bahwa hasil dari proses pembelajaran telah memenuhi harapan dan target yang ditetapkan. Hal ini ditunjukkan dari ketercapaian tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam mengikuti proses dengan baik.
Secara keseluruhan, seluruh data menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran PJOK adaptif di keempat sekolah berada pada kategori “sangat baik”. Hal ini menunjukkan bahwa sekolah-sekolah penggerak tersebut telah mampu mengimplementasikan pembelajaran yang inklusif dan adaptif dengan sangat optimal. Berikut adalah diagram batang yang menampilkan rata-rata skor evaluasi per aspek (Context, Input, Process, Product) berdasarkan model CIPP.
Gambar 4.1 Rata-Rata Skor Evaluasi Per Aspek
Berdasarkan grafik rata-rata skor evaluasi per aspek, terlihat bahwa aspek Input memperoleh skor tertinggi, yaitu mendekati 95,5%. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sumber daya, perencanaan, dan dukungan awal dalam pelaksanaan program dinilai sangat baik oleh responden. Selanjutnya, aspek Product menempati posisi kedua dengan skor rata-rata sebesar 95%, yang mencerminkan bahwa hasil atau keluaran dari program telah memenuhi harapan serta menunjukkan pencapaian yang optimal.
Aspek Context berada pada posisi ketiga dengan skor rata-rata sebesar 94%. Skor ini menunjukkan bahwa kondisi dan lingkungan awal tempat program dilaksanakan sudah cukup mendukung keberhasilan pelaksanaan program. Sementara itu, aspek Process mendapatkan skor terendah, yaitu sedikit di atas 93%. Meskipun masih dalam kategori baik, aspek ini mengindikasikan bahwa pelaksanaan kegiatan dan tahapan implementasi program memerlukan perhatian dan peningkatan kualitas agar sejalan dengan aspek lainnya.
Secara keseluruhan, keempat aspek menunjukkan nilai yang tinggi, yang mencerminkan bahwa program yang dievaluasi telah berjalan secara efektif, meskipun masih terdapat ruang untuk perbaikan khususnya pada aspek proses pelaksanaan.
2. Deskripsi Hasil Observasi
Observasi dilakukan sebagai salah satu metode pengumpulan data untuk memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai pelaksanaan program di lapangan. Kegiatan observasi ini difokuskan pada empat aspek utama, yaitu Context, Input, Process, dan Product (CIPP), dengan mengacu pada instrumen evaluasi yang telah disusun berdasarkan indikator-indikator relevan.
Observasi dilaksanakan pada empat sekolah menengah atas, yakni SMAN 1 ......................., SMAN 1 Sebatik, SMA Ibnu Sina, dan SMAN Katolik. Keempat sekolah ini dipilih sebagai subjek evaluasi karena memiliki karakteristik yang representatif terhadap pelaksanaan program pendidikan adaptif di wilayah penelitian. Setiap aspek evaluasi diberi skor berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, dan hasilnya dikategorikan ke dalam klasifikasi penilaian untuk memudahkan interpretasi.
Secara umum, hasil observasi menunjukkan bahwa seluruh sekolah penggerak berada dalam kategori sangat baik pada keempat aspek evaluasi. Hal ini mencerminkan bahwa pelaksanaan program telah berjalan dengan efektif dan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Rincian hasil observasi dari masing-masing sekolah disajikan dalam uraian berikut.
Tabel 4.2 Hasil Observasi Model CIPP
|
No |
Nama Sekolah |
Indikator Evaluasi |
Skor |
Prosentase Ketercapaian |
Kategori |
|
1 |
SMAN 1 ....................... |
Context |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
|
Input |
27 |
90% |
Sangat baik |
||
|
Process |
43 |
86% |
Sangat baik |
||
|
Product |
29 |
96,67% |
Sangat baik |
||
|
2 |
SMAN 1 Sebatik |
Context |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
|
Input |
29 |
96,67% |
Sangat baik |
||
|
Process |
48 |
96% |
Sangat baik |
||
|
Product |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
||
|
3 |
SMA Ibnu Sina |
Context |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
|
Input |
27 |
90% |
Sangat baik |
||
|
Process |
42 |
84% |
Sangat baik |
||
|
Product |
26 |
86,67% |
Sangat baik |
||
|
4 |
SMAN Katolik |
Context |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
|
Input |
28 |
93,33% |
Sangat baik |
||
|
Process |
47 |
94% |
Sangat baik |
||
|
Product |
29 |
96,67% |
Sangat baik |
Sumber : Hasil Observasi Penelitian, 2025
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada empat satuan pendidikan, diperoleh data bahwa seluruh aspek evaluasi, yaitu Context, Input, Process, dan Product berada dalam kategori sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi program yang diamati telah berlangsung secara optimal pada masing-masing sekolah.
Pada aspek Context, seluruh sekolah memperoleh skor yang sama, yakni 28 poin dengan persentase ketercapaian sebesar 93,33%. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan, kebutuhan, dan dukungan awal terhadap pelaksanaan program telah dipenuhi dengan sangat baik di setiap sekolah yang diamati. Untuk aspek Input, rata-rata skor yang diperoleh berkisar antara 27 hingga 29 poin, dengan persentase ketercapaian antara 90% hingga 96,67%. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan sarana-prasarana, sumber daya manusia, serta perencanaan program telah dilaksanakan secara optimal dan merata di sebagian besar sekolah.
Aspek Process menunjukkan variasi skor yang lebih mencolok, yakni antara 42 hingga 48 poin, dengan persentase ketercapaian mulai dari 84% hingga 96%. Meskipun seluruh sekolah tetap masuk dalam kategori sangat baik, terdapat indikasi bahwa proses pelaksanaan program memerlukan penguatan pada sekolah-sekolah tertentu, khususnya di SMA Ibnu Sina yang memperoleh persentase terendah untuk aspek ini (84%). Sementara itu, aspek Product menunjukkan capaian tertinggi di antara keempat aspek, dengan nilai ketercapaian berkisar antara 86,67% hingga 96,67%. Ini menunjukkan bahwa hasil atau output dari pelaksanaan program telah menunjukkan keberhasilan yang sangat baik secara keseluruhan. SMAN 1 ....................... dan SMAN Katolik mencatat skor tertinggi pada aspek ini, yakni 29 poin dengan persentase ketercapaian sebesar 96,67%.
Gambar 4.2 Hasil Observasi Evaluasi CIPP per Sekolah
Diagram batang di atas menyajikan perbandingan persentase ketercapaian empat aspek evaluasi, yaitu Context, Input, Process, dan Product, pada masing-masing sekolah penggerak yang menjadi objek observasi. Secara umum, keempat sekolah menunjukkan kinerja yang sangat baik pada seluruh aspek evaluasi, dengan persentase ketercapaian yang relatif tinggi, berada di atas 84%. Aspek Context menunjukkan nilai yang konsisten pada seluruh sekolah, yaitu sebesar 93,33%, yang mencerminkan kesamaan kondisi awal dan dukungan lingkungan terhadap pelaksanaan program.
Pada aspek Input, SMAN 1 Sebatik mencatat nilai tertinggi sebesar 96,67%, sementara SMA Ibnu Sina dan SMAN 1 ....................... memperoleh nilai yang sama sebesar 90%. Hal ini menunjukkan adanya variasi kecil dalam hal perencanaan dan ketersediaan sumber daya pendukung antar sekolah. Untuk aspek Process, terjadi variasi yang lebih signifikan. SMAN 1 Sebatik meraih persentase tertinggi sebesar 96%, sedangkan SMA Ibnu Sina memperoleh nilai terendah yaitu 84%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya perbedaan kualitas dalam pelaksanaan program antar satuan pendidikan.
Pada aspek Product, SMAN 1 ....................... dan SMAN Katolik mencatat skor tertinggi, masing-masing sebesar 96,67%, yang menunjukkan hasil atau keluaran program yang sangat baik. Sebaliknya, SMA Ibnu Sina memperoleh nilai 86,67% pada aspek ini, meskipun tetap berada dalam kategori sangat baik. Secara keseluruhan, diagram ini menunjukkan bahwa seluruh sekolah telah memenuhi standar evaluasi dengan sangat baik, namun tetap terdapat ruang untuk peningkatan, khususnya pada aspek pelaksanaan dan hasil program di beberapa sekolah.
3. Deskripsi Hasil Wawancara
Untuk memperoleh data yang mendalam dan komprehensif mengenai implementasi Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Sekolah Penggerak, peneliti melakukan wawancara terhadap delapan orang narasumber. Para narasumber ini terdiri dari kepala sekolah dan guru PJOK yang berperan langsung dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Wawancara dilakukan secara tatap muka pada waktu dan tempat yang telah disepakati bersama dengan masing-masing narasumber. Hasil wawancara dari kedelapan narasumber disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang menggambarkan berbagai sudut pandang dan pengalaman mereka. Data ini diharapkan dapat memberikan gambaran utuh mengenai konteks pelaksanaan Kurikulum Merdeka di lingkungan sekolah, khususnya dalam mata pelajaran PJOK.
a. Deskripsi Aspek Context
Salah satu fokus utama dalam wawancara ini adalah aspek konteks (Context), yang mencakup relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, sejauh mana kebijakan sekolah mendukung implementasi pembelajaran PJOK, serta keterlibatan nilai-nilai budaya lokal dalam proses pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan guru dari Sekolah Penggerak di Kabupaten ......................., mayoritas responden menilai bahwa Kurikulum Merdeka sangat relevan dengan visi dan misi sekolah mereka, khususnya dalam mata pelajaran PJOK. Hal ini terlihat dari pandangan yang serupa dari para kepala sekolah dan guru yang menekankan pentingnya fleksibilitas yang diberikan oleh kurikulum tersebut.
Menurut Kepala Sekolah Sebatik, “Kurikulum Merdeka pada saat ini sangat relevan dengan visi-misi sekolah kami. Kurikulum ini memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan minat mereka dalam pembelajaran PJOK, yang pada gilirannya mendukung visi sekolah kami untuk menghasilkan individu yang kreatif dan berbakat.” Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Guru PJOK Sebatik yang menekankan bahwa pembelajaran PJOK dalam Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan mengembangkan diri mereka.
Kepala Sekolah SMA Ibnu Sina juga menekankan relevansi kurikulum ini dengan visi sekolah, “Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian dan kreativitas. Mata pelajaran PJOK mengarah pada pembelajaran yang lebih praktis dan menyenangkan, sesuai dengan karakteristik Kurikulum Merdeka yang berfokus pada kompetensi dan karakter.” Guru PJOK SMA Ibnu Sina juga mengungkapkan hal serupa, dengan menambahkan bahwa kurikulum ini memungkinkan peserta didik untuk terlibat aktif dalam kegiatan fisik yang tidak hanya memperkuat fisik mereka, tetapi juga membangun karakter seperti kerja sama, sportivitas, dan kedisiplinan.
Dengan adanya kesamaan pandangan ini, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka telah sesuai dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mengembangkan potensi siswa di bidang olahraga dan kesehatan fisik.
Implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak jenjang SMA di Kabupaten ....................... berjalan dengan dukungan kuat dari berbagai pihak, terutama kepala sekolah dan guru. Kurikulum ini disambut positif karena memberikan keleluasaan bagi guru untuk merancang pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik, sekaligus mendorong adanya diferensiasi pembelajaran yang lebih humanis, menyenangkan, dan fleksibel.
Mayoritas guru PJOK mengungkapkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan ruang lebih besar untuk pendekatan berbasis projek dan aktivitas praktik yang sesuai dengan karakter mata pelajaran PJOK. Guru tidak lagi terpaku pada RPP yang panjang, tetapi lebih menekankan pada penyusunan modul ajar dan asesmen diagnostik. Hal ini dinilai dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran.
Dari sisi kepemimpinan, kepala sekolah menunjukkan dukungan nyata melalui penyediaan pelatihan, workshop, serta dorongan kepada guru untuk aktif mengikuti komunitas belajar dan forum MGMP. Selain itu, sekolah juga mulai mengembangkan budaya belajar yang kolaboratif di antara guru dalam merancang modul ajar dan strategi evaluasi.
Hasil wawancara lebih lanjut menunjukkan bahwa kebijakan sekolah di Sekolah Penggerak di Kabupaten ....................... sangat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, khususnya pada mata pelajaran PJOK. Responden menyampaikan bahwa dukungan ini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari keterlibatan aktif pimpinan sekolah, fasilitas administratif, hingga penguatan kapasitas guru.
Menurut Pak Sudriman, guru PJOK, “kebijakan sekolah saya sangat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka Mapel PJOK. Sekolah selalu memberikan respon yang baik dan memberikan solusi kalau ada masalah di lapangan.” Hal senada diungkapkan Pak Ariffudin dari SMAIT Ibnusina, yang menegaskan bahwa sekolahnya mendukung penuh implementasi Kurikulum Merdeka secara struktural dan menyeluruh. “Dukungan ini merupakan bagian dari komitmen SMAIT Ibnusina sebagai Sekolah Penggerak angkatan pertama.”
Dukungan manajerial juga tampak jelas dari pernyataan Pak Yohanes, yang menyatakan bahwa kepala sekolah menjalin kerja sama dengan pemerintah dan yayasan, serta menyediakan dukungan administratif, penganggaran, dan pendampingan bagi guru PJOK. Pak Azia menambahkan bahwa “kepala sekolah dan wakil kurikulum memberikan ruang bagi guru untuk berkonsultasi serta menyediakan solusi terhadap kendala yang muncul di lapangan,” menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif.
Terkait dengan relevansi Kurikulum Merdeka dalam menjawab kebutuhan siswa di bidang olahraga, seluruh responden menyampaikan pandangan yang positif. Kurikulum ini dinilai berhasil memberi ruang bagi pengembangan minat dan bakat siswa dalam berbagai cabang olahraga.
Seperti yang diungkapkan Pak Agus S, “siswa tidak dipaksa untuk mengikuti satu bentuk kompetensi saja, melainkan diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai cabang olahraga sesuai dengan kekuatan masing-masing.” Ibu Ria juga menyampaikan bahwa “pembelajaran PJOK menjadi lebih terarah karena ada fokus pada pengembangan bakat dan minat, serta penguatan kemampuan fisik dan keterampilan gerak dasar melalui latihan yang berkelanjutan.”
Dari keseluruhan hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa secara kontekstual, implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK telah sesuai dengan arah kebijakan sekolah dan kebutuhan siswa. Kebijakan sekolah terbukti mendukung secara administratif, struktural, dan pedagogis, sementara fleksibilitas kurikulum menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi olahraga yang lebih personal dan bermakna.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Kabupaten ....................... telah mempertimbangkan budaya lokal serta berhasil membentuk budaya belajar yang lebih positif dan aktif.
Mayoritas responden menyampaikan bahwa kurikulum ini telah mengakomodasi unsur budaya lokal dalam pembelajaran PJOK. Menurut Pak Yohanes, “implementasinya terlihat dari kegiatan seperti senam pagi dengan iringan lagu-lagu daerah serta mendorong siswa untuk menciptakan gerakan senam sendiri berdasarkan budaya setempat.” Hal serupa diungkapkan oleh Pak Azia, “kami melaksanakan kegiatan senam sehat secara rutin, serta melibatkan siswa dalam senam khas daerah seperti senam Yameto dan program K5.”
Pak Ariffudin juga menegaskan bahwa “implementasi kurikulum disesuaikan dengan kondisi nyata sekolah serta kemampuan siswa, termasuk dalam mengadopsi elemen budaya lokal.” Sementara Pak Sudriman menyatakan bahwa siswa diberi ruang untuk “ikut berkontribusi melaksanakan budaya lokal terkait dengan Mapel PJOK.” Dari sisi budaya belajar, seluruh responden menggambarkan adanya perubahan positif sejak penerapan Kurikulum Merdeka. Menurut Pak Suhardi, “siswa lebih antusias dan semangat dalam proses pembelajaran, sehingga memberikan dampak yang sangat baik terhadap perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.” Pak Agus S juga mencatat bahwa “siswa menjadi lebih disiplin dan aktif karena pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada praktik dan pengalaman nyata.” Ibu Ria menambahkan bahwa suasana belajar menjadi “lebih positif dan dinamis,” dengan siswa yang “aktif, antusias, dan berkembang secara seimbang dalam pengetahuan, keterampilan, dan sikap.” Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan Kurikulum Merdeka telah berhasil menciptakan budaya belajar yang mendukung penguatan karakter dan kompetensi peserta didik dalam konteks PJOK.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK telah mempertimbangkan kearifan lokal dan berhasil menciptakan budaya belajar yang menyenangkan, partisipatif, dan bermakna bagi siswa.
b. Deskripsi Aspek Input
Aspek Input berperan penting dalam memastikan bahwa semua pihak yang terlibat, khususnya guru, memiliki kompetensi yang memadai untuk mengadaptasi perubahan yang ada. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan penerapan kurikulum ini adalah pelatihan yang diterima oleh guru. Pelatihan yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru terhadap struktur kurikulum, pendekatan pembelajaran berbasis praktik, dan penilaian formatif yang lebih holistik.
Dari hasil wawancara dengan beberapa narasumber, mayoritas guru PJOK mengakui bahwa mereka telah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak terkait. Pak Sudriman menyebutkan bahwa pelatihan ini sangat membantu guru dalam memahami bagaimana mengimplementasikan kurikulum di lapangan, khususnya dalam mengelola kelas dan mendesain pembelajaran yang efektif. Hal serupa disampaikan oleh Pak Agus S, yang merasa pelatihan memberikan wawasan baru tentang bagaimana menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa melalui pendekatan berbasis proyek dan praktik langsung.
Pelatihan ini juga memberikan pemahaman mendalam mengenai diferensiasi pembelajaran dan cara menyusun modul ajar yang lebih fleksibel sesuai dengan karakteristik siswa. Dengan pelatihan yang tepat, guru PJOK diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengajaran dan menciptakan pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan prinsip Merdeka Belajar, yaitu memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan potensi dan minat mereka.
Pelatihan bagi guru PJOK menjadi faktor penting dalam mempersiapkan mereka untuk mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif. Berdasarkan wawancara dengan beberapa guru PJOK, dapat disimpulkan bahwa pelatihan yang telah diikuti oleh para guru terbukti sangat membantu dalam meningkatkan kompetensi dan pemahaman mereka dalam menerapkan kurikulum tersebut.
Pak Sudriman dan Pak Suhardi mengungkapkan bahwa pelatihan yang mereka ikuti sangat efektif dalam mempersiapkan guru untuk melaksanakan pembelajaran PJOK, baik sebelum, selama, maupun setelah proses pembelajaran. Pelatihan ini memberikan pemahaman yang mendalam mengenai pengelolaan pembelajaran yang berbasis praktik dan pengembangan karakter siswa. Selain itu, Pak Ariffudin menambahkan bahwa pelatihan ini membantu guru untuk menyusun pembelajaran berbasis praktik yang memperhatikan aspek pengembangan karakter serta menyesuaikan metode evaluasi dengan pendekatan Kurikulum Merdeka.
Sebagai contoh, Pak Agus S menekankan pentingnya materi pelatihan yang aplikatif, di mana selain teori, para guru juga diberikan contoh praktik yang bisa langsung diterapkan di kelas. Hal ini memungkinkan guru untuk lebih mudah menyesuaikan perencanaan pembelajaran dengan kebutuhan siswa serta memanfaatkan sarana yang tersedia di sekolah. Pak Yohanes juga mencatat bahwa pelatihan memberikan kesiapan guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan berpihak pada siswa.
Secara keseluruhan, pelatihan yang diikuti oleh para guru PJOK sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka mengenai prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka. Ini memberikan bekal yang cukup untuk mereka dalam menerapkan pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan berbasis pada kebutuhan dan karakteristik siswa.
Sarana dan prasarana merupakan komponen penting dalam mendukung keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Hasil wawancara dengan para guru menunjukkan bahwa sebagian besar sekolah telah menyediakan sarana dan prasarana yang cukup untuk menunjang pembelajaran PJOK, meskipun masih terdapat beberapa kendala di lapangan.
Pak Sudriman dan Pak Suhardi menyampaikan bahwa kelengkapan sarana dan prasarana sangat menentukan keberhasilan capaian pembelajaran (CP) PJOK. Di sekolah mereka, fasilitas yang tersedia dinilai cukup memadai dan mampu menunjang proses belajar-mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Pak Y. Sapo dan Pak Azia, yang menyebutkan bahwa ketersediaan alat olahraga serta fleksibilitas dalam pemanfaatan ruang mendukung proses pembelajaran yang lebih variatif dan bermakna.
Namun demikian, tidak semua sekolah memiliki fasilitas yang lengkap. Pak Ariffudin menyebutkan bahwa karena sekolahnya masih baru, keterbatasan sarana di atasi dengan menjalin kerja sama dengan instansi luar, seperti meminjam lapangan futsal dari kantor DPR dan fasilitas bulutangkis dari organisasi PBB. Strategi serupa juga diterapkan oleh Pak Yohanes, yang menyatakan bahwa meskipun belum memiliki lapangan permanen, sekolah tetap berupaya menyewa tempat latihan dan memaksimalkan penggunaan lahan yang ada.
Sementara itu, Pak Agus S menyampaikan bahwa pihak sekolah memiliki komitmen tinggi dalam memenuhi kebutuhan guru PJOK, meskipun sekolah juga tergolong baru. Sedangkan Ibu Ria menekankan bahwa meskipun sarana yang tersedia cukup baik dan memungkinkan pelaksanaan pembelajaran kontekstual, beberapa aspek fasilitas masih perlu ditingkatkan agar lebih optimal.
Secara umum, hasil wawancara menunjukkan bahwa ketersediaan dan pemanfaatan sarana-prasarana olahraga di sekolah telah memberikan kontribusi positif terhadap pembelajaran PJOK sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka. Meskipun masih terdapat keterbatasan, sekolah-sekolah telah menunjukkan upaya adaptif dan kolaboratif untuk mengatasi hambatan tersebut.
Salah satu aspek penting yang mendukung keberhasilan pembelajaran adalah tersedianya modul dan materi pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik serta tuntutan capaian pembelajaran. Hasil wawancara menunjukkan bahwa seluruh guru PJOK menyatakan bahwa sekolah mereka telah menyediakan modul pembelajaran sebagai bagian dari dokumen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP).
Sebagaimana disampaikan oleh Pak Sudriman, Pak Suhardi, dan Pak Y. Sapo, penyusunan modul dilakukan oleh guru berdasarkan sistematika dan kerangka umum yang telah dituangkan dalam KOSP. Modul-modul tersebut disusun secara sistematis dan menjadi acuan utama dalam proses pembelajaran PJOK. Hal ini juga ditegaskan oleh Pak Azia dan Ibu Ria, yang menyebutkan bahwa modul tidak hanya menjadi panduan pembelajaran, tetapi juga hasil kolaborasi antar guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang adaptif dan kontekstual.
Lebih lanjut, Pak Yohanes menjelaskan bahwa modul yang disusun mengacu pada Capaian Pembelajaran (CP) dan Profil Pelajar Pancasila. Guru menyusun materi berdasarkan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran, yang menjadikan modul tersebut benar-benar digunakan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Pak Agus S menambahkan bahwa modul dan referensi pembelajaran diperbarui setiap tahun ajaran untuk tetap relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan kurikulum.
Selain modul internal, beberapa sekolah juga memanfaatkan buku pendamping dari pihak luar. Pak Ariffudin, misalnya, menyebutkan bahwa sekolahnya menggunakan buku dari penerbit Tiga Serangkai dan bantuan dari pemerintah sebagai referensi tambahan dalam merancang pembelajaran dan melakukan evaluasi.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa ketersediaan dan penggunaan modul pembelajaran di sekolah-sekolah responden sudah berjalan secara optimal. Guru PJOK tidak hanya menyusun modul sendiri, tetapi juga menggunakannya secara aktif sebagai dasar perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran yang berpihak pada siswa, sebagaimana semangat yang diusung oleh Kurikulum Merdeka.
Implementasi Kurikulum Merdeka memerlukan peran aktif dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kepemimpinan kepala sekolah. Berdasarkan hasil wawancara, seluruh responden menyatakan bahwa kepala sekolah memberikan dukungan yang kuat dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya pada pembelajaran PJOK.
Pak Sudriman, sebagai kepala sekolah, menyampaikan bahwa ia secara aktif memberikan motivasi, penguatan, dan pengembangan kompetensi kepada guru PJOK. Hal ini juga didukung oleh Pak Azia, yang menegaskan bahwa kepala sekolah memberikan dukungan melalui kebijakan, fasilitasi, dan bimbingan secara menyeluruh, serta membuka ruang konsultasi bagi guru untuk menyampaikan kendala dan mencari solusi bersama.
Pak Suhardi menambahkan bahwa ia secara rutin berkonsultasi dengan kepala sekolah untuk memastikan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka berjalan dengan baik, terutama dalam hal kebutuhan dan perencanaan pembelajaran PJOK. Ini menunjukkan adanya komunikasi dua arah yang positif antara guru dan kepala sekolah.
Pak Agus S menyampaikan bahwa kepala sekolah menunjukkan komitmen melalui penyediaan pelatihan, anggaran, serta dukungan terhadap pembelajaran berbasis praktik. Kepala sekolah juga mendorong inovasi dan kolaborasi antar sekolah sebagai bagian dari peningkatan kualitas pembelajaran.
Sementara itu, Pak Yohanes menekankan bahwa dukungan yang diberikan tidak hanya bersifat administratif atau logistik, tetapi juga mencakup aspek moral dan manajerial. Kepala sekolah memfasilitasi guru PJOK untuk mengembangkan pembelajaran yang tidak hanya melatih fisik, tetapi juga menumbuhkan karakter dan emosi siswa.
Hal serupa disampaikan oleh Pak Y. Sapo dan Ibu Ria, yang mengapresiasi bentuk dukungan kepala sekolah yang mencakup pendampingan, ruang diskusi, dan penyediaan sarana yang dibutuhkan oleh guru PJOK dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara optimal.
Secara keseluruhan, hasil wawancara menunjukkan bahwa peran kepala sekolah sangat krusial dalam menciptakan lingkungan yang mendukung keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka. Dukungan yang diberikan mencakup aspek emosional, administratif, logistik, hingga pembinaan profesional yang menjadi fondasi penting bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang berkualitas.
Keterlibatan orang tua merupakan faktor penting dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, termasuk dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Berdasarkan hasil wawancara, para narasumber menyampaikan bahwa secara umum keterlibatan orang tua tergolong tinggi dan bersifat aktif dalam mendukung proses pembelajaran.
Pak Sudirman dan Pak Suhardi menyampaikan bahwa orang tua atau wali siswa memberikan dukungan besar terhadap Kurikulum Merdeka, terutama pada pelajaran PJOK. Mereka aktif memberikan tanggapan, masukan, dan saran terkait proses pembelajaran yang diikuti anak-anak mereka. Ketika terdapat kendala, guru PJOK dan sekolah membuka akses komunikasi agar solusi dapat ditemukan secara bersama-sama.
Lebih lanjut, Pak Ariffudin menekankan bahwa dukungan orang tua tidak hanya bersifat moril tetapi juga materiil. Mereka bahkan secara sukarela membeli perlengkapan olahraga untuk anak-anaknya dan aktif menjalin komunikasi dengan sekolah guna menunjang pembelajaran dan prestasi anak.
Pak Agus S dan Pak Yohanes Sapo juga menyoroti bentuk konkret keterlibatan orang tua, mulai dari penyediaan alat-alat pribadi olahraga hingga keikutsertaan dalam kegiatan fisik seperti senam bersama dan lomba sekolah. Keterlibatan langsung ini mempererat hubungan antara sekolah dan komunitas, serta menjadi indikator bahwa Kurikulum Merdeka mampu membangun sinergi antara pihak sekolah dan keluarga.
Pak Yohanes Sapo serta Bu Azia menggarisbawahi pentingnya komunikasi dua arah dan peran aktif orang tua dalam memantau perkembangan anak di bidang PJOK. Melalui forum seperti paguyuban dan pertemuan berkala, guru dan orang tua dapat saling memberikan masukan dan dukungan. Hal ini memperkuat kolaborasi untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.
Ibu Ria Asrima pun menyampaikan hal senada, di mana keterbukaan informasi dan komunikasi antara guru dan orang tua turut membantu menciptakan iklim pembelajaran PJOK yang lancar, serta meningkatkan motivasi dan kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keterlibatan orang tua sangat signifikan dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam mata pelajaran PJOK. Peran mereka mencakup dukungan moral, logistik, serta partisipasi aktif yang memperkuat kemitraan antara sekolah dan keluarga.
c. Deskripsi Aspek Process
Aspek Process merujuk pada bagaimana proses pembelajaran berlangsung secara aktual di lapangan. Hal ini mencakup pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK, penerapan strategi pembelajaran, serta sejauh mana proses tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka seperti pembelajaran berdiferensiasi, partisipatif, berbasis proyek, dan berpusat pada siswa. Proses pembelajaran menjadi tolok ukur utama dalam melihat efektivitas implementasi kurikulum, karena di sinilah interaksi antara guru, siswa, dan lingkungan belajar benar-benar terjadi. Oleh karena itu, penting untuk menelusuri bagaimana guru PJOK mengadaptasi metode mereka terhadap tuntutan kurikulum baru serta membandingkannya dengan pendekatan sebelumnya.
Pada mata pelajaran PJOK, guru-guru mulai menerapkan pendekatan pembelajaran yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa. Pendekatan ini berbeda dari metode sebelumnya yang cenderung seragam dan berpusat pada guru. Sebagian guru menyatakan bahwa mereka masih menggunakan sebagian metode dari kurikulum sebelumnya, namun kini dikombinasikan dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik. Salah satu pendekatan yang menonjol adalah pembelajaran berdiferensiasi, di mana proses belajar disesuaikan dengan kemampuan awal, minat, dan gaya belajar siswa. Selain itu, pendekatan berbasis proyek dan praktik langsung juga mulai banyak digunakan, yang memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk aktif, bereksplorasi, dan membangun kepercayaan diri mereka. Sebagaimana disampaikan oleh Pak Yohanes Sapo, pendekatan saat ini lebih fleksibel dan menyenangkan, menyesuaikan dengan kebutuhan individu siswa. Sementara itu, Pak Ariffudin menambahkan bahwa pendekatan lama yang lebih teoritis telah bergeser menjadi pembelajaran yang eksploratif dan berbasis praktik, yang memungkinkan siswa memahami materi secara lebih mendalam dan aplikatif.
Berdasarkan tanggapan dari delapan narasumber, dapat disimpulkan bahwa terdapat perubahan signifikan dalam pendekatan dan metode pembelajaran PJOK seiring implementasi Kurikulum Merdeka. Guru PJOK secara umum mulai menggeser pendekatan dari teacher-centered ke student-centered, dengan mengedepankan pembelajaran berdiferensiasi, berbasis proyek, serta berbasis praktik langsung. Meskipun beberapa guru masih menggunakan metode lama sebagai bagian dari transisi, mayoritas menyatakan bahwa pembelajaran kini lebih mengakomodasi kebutuhan individual siswa, mendorong partisipasi aktif, dan membangun pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna.
Pendekatan baru ini juga memberi ruang bagi guru untuk berinovasi dan mengeksplorasi metode-metode kontekstual yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran PJOK di Sekolah Penggerak telah selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka dalam menciptakan pembelajaran yang merdeka, menyenangkan, dan bermakna.
Guru PJOK dalam Kurikulum Merdeka aktif melibatkan siswa dalam proses kolaboratif selama pembelajaran. Prinsip student-centered learning menjadi pendekatan utama yang diterapkan. Siswa tidak hanya menjadi objek pembelajaran, tetapi juga menjadi pelaku aktif yang terlibat dalam diskusi, kerja kelompok, praktik olahraga bersama, hingga pertandingan lintas sekolah. Kolaborasi ini tidak hanya terjadi antara siswa dan guru, tetapi juga antarsiswa, yang saling membantu dan berbagi pengalaman dalam proses belajar. Seperti disampaikan oleh Pak Yohanes Sapo, pembelajaran yang kolaboratif ini memberikan ruang bagi siswa untuk membangun kepercayaan diri dan memperkuat nilai-nilai sosial seperti kerja sama dan toleransi.
Selain itu, pembelajaran PJOK juga dirancang untuk memberi ruang yang luas bagi pengembangan kreativitas dan inovasi siswa. Para guru memberikan tantangan-tantangan yang mendorong siswa berpikir kritis dan eksploratif, seperti menciptakan variasi teknik olahraga, menyusun strategi permainan, hingga mencari solusi atas kesulitan teknis saat praktik. Menurut Pak Agus S, pembelajaran yang seperti ini tidak hanya meningkatkan partisipasi aktif siswa, tetapi juga membentuk pola pikir mandiri dan inovatif. Suasana kelas yang menyenangkan, inklusif, serta materi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa menjadi faktor penting yang turut mempengaruhi tingginya partisipasi mereka dalam pelajaran PJOK. Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK mendorong terwujudnya pembelajaran yang kolaboratif dan kreatif. Siswa tidak hanya dilibatkan secara aktif, tetapi juga difasilitasi untuk berkembang sesuai dengan potensi dan minatnya, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna, menyenangkan, dan berorientasi pada penguatan karakter.
Pemanfaatan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK telah menjadi bagian penting untuk meningkatkan efektivitas dan daya tarik pembelajaran. Dari berbagai wawancara, para guru menyampaikan bahwa teknologi digunakan untuk memberikan gambaran visual yang lebih jelas kepada siswa sebelum praktik langsung. Media seperti proyektor, video rekaman, YouTube, dan aplikasi seperti Canva dimanfaatkan untuk memvisualisasikan teknik olahraga atau menampilkan atlet profesional sebagai model.
Pak Yohanes menyatakan bahwa pemutaran video teknik olahraga memberi gambaran nyata bagi siswa sebelum praktik, sehingga mereka lebih siap dan termotivasi. Sementara itu, Pak Y. Sapo menambahkan bahwa rekaman video juga digunakan untuk mereview gerakan siswa, membantu mereka memahami kesalahan dan memperbaikinya. Teknologi sederhana seperti stopwatch dan alat ukur kebugaran juga digunakan, sebagaimana dijelaskan oleh Pak Ariffudin dan Pak Agus S, untuk mengukur performa fisik siswa seperti kecepatan dan daya tahan.
Meskipun sebagian besar guru menyatakan bahwa teknologi digunakan secara efektif, ada juga kendala yang dihadapi, terutama terkait keterbatasan fasilitas dan akses perangkat digital di beberapa sekolah. Pak Ariffudin mengakui bahwa penggunaan aplikasi pembelajaran digital belum maksimal karena keterbatasan tersebut, meskipun perangkat dasar seperti proyektor dan internet sudah tersedia.
Dalam hal evaluasi pembelajaran, para guru menerapkan pendekatan yang komprehensif dan berorientasi pada kompetensi. Evaluasi dilakukan melalui kombinasi tes tertulis untuk aspek kognitif, observasi praktik untuk aspek keterampilan (psikomotorik), serta penilaian sikap dan proyek. Evaluasi ini juga mencerminkan prinsip diferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, dengan memperhatikan minat dan kemampuan individual siswa. Seperti dijelaskan oleh Pak Agus S, siswa tidak dipaksakan untuk menguasai semua cabang olahraga, melainkan didorong untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
Objektivitas dalam evaluasi menjadi perhatian utama para guru. Pak Yohanes Sapo dan Bu Ria menyatakan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan rubrik yang jelas, transparan, dan disosialisasikan kepada siswa. Selain itu, keterlibatan siswa dalam penilaian diri dan teman sejawat turut mendukung proses refleksi dan kesadaran diri terhadap kemajuan belajar.
Kesimpulannya, penggunaan teknologi dalam pembelajaran PJOK telah mendukung visualisasi dan pemahaman siswa terhadap materi ajar, meskipun penerapannya masih bergantung pada ketersediaan fasilitas. Proses evaluasi pun dilakukan secara adil dan objektif, dengan pendekatan menyeluruh yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa. Evaluasi ini tidak hanya menilai hasil belajar, tetapi juga mendorong pertumbuhan karakter dan potensi siswa secara menyeluruh sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka.
d. Deskripsi Aspek Product
Aspek Product dalam model evaluasi CIPP menyoroti hasil akhir dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK di Sekolah Penggerak tingkat SMA. Hasil ini mencakup perkembangan keterampilan olahraga siswa serta penerapan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru PJOK dan kepala sekolah, mayoritas menyatakan bahwa terdapat peningkatan signifikan dalam keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka. Para siswa menunjukkan kemampuan teknik yang lebih baik, disiplin latihan, serta kepercayaan diri yang meningkat dalam mengikuti berbagai cabang olahraga, baik di dalam kelas maupun kegiatan ekstrakurikuler. Bapak Agus menyampaikan:
“Keterampilan meningkat karena siswa lebih disiplin dan terarah. Mereka aktif melatih fisik sesuai tujuan masing-masing, misalnya untuk persiapan masuk TNI/Polri.”
Bapak Yohanes Sapo juga menambahkan bahwa pendekatan Kurikulum Merdeka yang memberi kebebasan dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses belajar membuat mereka lebih sadar akan potensi diri dan terdorong untuk terus mengembangkan kemampuan olahraga secara mandiri:
“Kurikulum
Merdeka memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada anak-anak, jadi mereka
punya motivasi lebih untuk berkembang.”
Dalam hal penerapan nilai-nilai Pancasila, seluruh informan sepakat bahwa nilai seperti kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan sportivitas diintegrasikan secara eksplisit ke dalam proses pembelajaran PJOK. Nilai-nilai ini tidak hanya menjadi bagian dari materi pembelajaran, tetapi juga dihidupkan dalam praktik melalui kegiatan tim, permainan, latihan rutin, serta sikap sportif saat bertanding. Ibu Ria Asrima menambahkan :
“Nilai seperti kerja sama dan disiplin diterapkan melalui permainan tim. Siswa dilatih menghargai lawan, mematuhi aturan permainan, dan membawa sikap itu dalam kehidupan sekolah.”
Selain itu, para guru juga menekankan bahwa penerapan dimensi Profil Pelajar Pancasila menjadi landasan utama dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, pembelajaran PJOK tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa secara holistik.
“Salah satu tugas guru adalah mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Dalam PJOK, nilai-nilai itu muncul lewat kerja sama, gotong royong, dan disiplin dalam setiap aktivitas.”
Secara keseluruhan, hasil evaluasi pada aspek produk menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan olahraga siswa serta penguatan karakter siswa melalui internalisasi nilai-nilai Pancasila.
Dalam mengevaluasi pencapaian kompetensi siswa pada mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka, sebagian besar informan menunjukkan hasil yang sangat positif. Secara keseluruhan, siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan motorik (psikomotorik), maupun sikap (afektif). Pencapaian ini dapat diatribusikan pada berbagai faktor yang saling mendukung, seperti kesiapan siswa, kesiapan guru, kelengkapan sarana-prasarana, serta metode pembelajaran yang diterapkan. Para guru menyoroti kesiapan siswa dan komitmen bersama antara guru dan siswa sebagai faktor kunci dalam pencapaian tersebut. Seorang guru menyampaikan:
"Kompetensi siswa dapat tercapai sesuai yang diharapkan berkat kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, kesiapan guru, serta kelengkapan sarana dan prasarana."
Selain itu, para guru juga mengakui pentingnya penggunaan metode yang tepat dan kolaborasi yang baik antara guru dan siswa dalam memastikan pencapaian kompetensi:
"Komitmen guru dan siswa dalam
melaksanakan pembelajaran yang sungguh-sungguh sangat mempengaruhi pencapaian
kompetensi siswa."
Dalam hal ini, beberapa guru juga menekankan bahwa para siswa tidak hanya berhasil dalam aspek pengetahuan, tetapi juga menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam keterampilan fisik dan sikap. Sebagai contoh, salah satu guru menyebutkan:
"Siswa menunjukkan kemajuan dari aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan karakter, sesuai dengan indikator dalam Kurikulum Merdeka."
Dalam aspek psikomotorik, siswa mampu mempraktikkan teknik dasar dengan baik, bahkan ada yang menunjukkan perkembangan sesuai dengan potensi masing-masing, baik di dalam kelas maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler. Keberhasilan ini juga didorong oleh pelatihan guru dan metode pembelajaran yang berdiferensiasi, sehingga siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih personal dan bermakna.
"Dengan pendekatan yang lebih personal, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan mampu mendorong tercapainya seluruh indikator kompetensi yang ditargetkan."
Penting untuk dicatat bahwa pencapaian tersebut juga mencerminkan penguatan nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama, tanggung jawab, dan disiplin, yang secara aktif diterapkan dalam setiap kegiatan PJOK. Sikap-sikap tersebut tercermin dalam kerja sama tim, disiplin saat latihan, dan sportivitas dalam berkompetisi.
Secara keseluruhan, evaluasi terhadap pencapaian kompetensi siswa menunjukkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK memberikan hasil yang sangat baik dan telah mendorong pengembangan holistik pada siswa, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
B. Pembahasan
Pada bagian ini merupakan pembahasan tentang hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya. Pembahasan terhadap hasil penelitian ini merupakan upaya untuk menjelaskan hasil analisis dan menjawab rumusan masalah yang diajukan yaitu bagaimanakah evaluasi terhadap Context, Input, Process dan Product dari Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten ........................
1. Evaluasi Context Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
Evaluasi Context pelaksanaan pembelajaran PJOK di sekolah penggerak meliputi unsur penilaian tentang relevansi kurikulum merdeka di sekolah penggerak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan kurikulum merdeka sudah mencerminkan keadaan di sekolah penggerak di Kabupaten ........................ Hasil angket yang diberikan menunjukkan bahwa seluruh responden memberikan penilaian tinggi terhadap aspek konteks, dengan persentase berkisar antara 92% hingga 96% menunjukkan bahwa konteks pembelajaran PJOK adaptif di sekolah penggerak sudah sesuai dengan karakteristik siswa dan kebutuhan mereka. Ini menggambarkan bahwa sekolah sudah siap baik dari segi tujuan pembelajaran maupun sarana pendukungnya. Sekolah Penggerak memang diarahkan untuk mampu mengelola kurikulum yang fleksibel, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan siswa, yang terlihat dari data tersebut.
Observasi menunjukkan bahwa seluruh sekolah memperoleh skor yang sama (28 poin) dengan persentase ketercapaian sebesar 93,33%. Hal ini mengindikasikan bahwa lingkungan dan dukungan terhadap program pembelajaran telah dipenuhi dengan sangat baik. Observasi ini mencerminkan bahwa sekolah sudah menyediakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan siswa, serta dukungan infrastruktur yang memungkinkan terlaksananya pembelajaran yang efektif. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada sekolah dan guru untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan konteks dan kebutuhan lokal. Sekolah Penggerak mendukung fleksibilitas ini dengan memberikan ruang bagi guru untuk berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran.
Hasil wawancara memperkuat perolehan hasil angket dan observasi bahwa Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK sesuai dengan visi dan misi Sekolah Penggerak. Kepala sekolah menunjukkan dukungan nyata dalam penyediaan pelatihan dan pengembangan kapasitas guru, serta menciptakan kultur belajar yang kolaboratif. Hal ini mendukung prinsip dasar dari evaluasi Context dari Stufflebeam (2015) bahwa evaluasi harus menilai sejauh mana kebijakan pendidikan mampu merespons kebutuhan konteks sosial dan lingkungan siswa. Kurikulum yang diterapkan sudah sesuai dengan kebutuhan konteks sekolah dan kebutuhan siswa, serta didukung oleh kebijakan yang memungkinkan fleksibilitas pembelajaran. Kurikulum Merdeka memberikan ruang bagi sekolah untuk mengembangkan diri dan menjadi lebih inovatif. Sekolah Penggerak menjadi model sekolah yang mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan baik, dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk melakukan hal yang sama.
Hasil temuan ini sesuai dengan Kemendikbudristek Republik Indonesia(2022a) menjelaska bahwa kurikulum merdeka memberikan keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas, sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik serta Pengembangan soft skills dan karakter melalui Proyek Penguatan Profil pelajar Pancasila (P5). Dalam kurikulum merdeka juga bertujuan untuk mengasah minat dan bakat peserta didik sejak dini dengan berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik.
Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak sudah sesuai dengan aspek Context yang dianalisis menggunakan CIPP Model. Semua temuan, baik dari angket, observasi, dan wawancara, menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran telah disesuaikan dengan kebutuhan siswa, kondisi lingkungan sekolah sudah mendukung, dan kebijakan sekolah telah mendukung implementasi kurikulum secara efektif. Hasil penelitian pada aspek Context dalam penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Yusuf Mappeasse, & Riana Tangkin Mangesa(2024) dan Rurisman(2023) bahwa evaluasi Context yang dihasilkan dalam penelitian berada pada kriteria baik. Sedangkan aspek Context dalam penelitian ini bertolak belakang dengan hasil penelitian dari Septian & Yahaya(2020) bahwa komponen Context berada pada kategori “kurang baik”, dimana tujuan pembelajaran tidak dirumuskan dengan baik.
2. Evaluasi Input Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
Evaluasi Input pelaksanaan pembelajaran PJOK di sekolah penggerak meliputi unsur penilaian tentang kesiapan sumber daya, dukungan, dan fasilitas yang tersedia di sekolah penggerak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa evaluasi terhadap aspek Input dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK menunjukkan hasil yang sangat positif berdasarkan integrasi data kuantitatif dan kualitatif. Hasil angket yang disebarkan kepada responden, aspek ini memperoleh skor tinggi, berkisar antara 91% hingga 100%. Capaian ini mencerminkan bahwa secara umum, sekolah-sekolah telah memiliki kesiapan dari segi sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta dukungan institusional yang memadai. Bahkan, salah satu responden dari SMA Ibnu Sina memberikan skor maksimal 100%, yang mengindikasikan bahwa dukungan Input di sekolah tersebut sangat optimal.
Data observasi mendukung temuan ini dengan menunjukkan rata-rata skor sebesar 27 hingga 29 poin, atau setara dengan tingkat ketercapaian antara 90% hingga 96,67%. Hal ini menandakan bahwa sebagian besar sekolah telah memenuhi standar pelaksanaan pembelajaran PJOK yang adaptif dan sesuai dengan prinsip-prinsip Kurikulum Merdeka, khususnya dalam hal penyediaan fasilitas, sumber daya, dan perencanaan pembelajaran.
Lebih lanjut, hasil wawancara memberikan konteks mendalam terhadap data kuantitatif tersebut. Mayoritas guru PJOK menyatakan bahwa mereka telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka, yang dirasakan sangat membantu dalam memahami strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pelatihan tersebut juga dinilai meningkatkan kapasitas guru dalam mengelola kelas dan menyusun perencanaan pembelajaran yang inovatif.
Dari sisi sarana dan prasarana, meskipun masih terdapat beberapa keterbatasan, sekolah-sekolah telah menunjukkan upaya yang adaptif dan kolaboratif dalam mengoptimalkan pemanfaatannya. Guru juga aktif menyusun dan menggunakan modul pembelajaran sebagai acuan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran, selaras dengan prinsip diferensiasi dan pembelajaran yang berpihak pada siswa.
Dukungan kepala sekolah dinilai sangat signifikan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Kepala sekolah berperan dalam memberikan pembinaan profesional, fasilitasi logistik, serta dukungan administratif yang memungkinkan guru menjalankan perannya secara maksimal. Sementara itu, peran serta orang tua siswa juga tidak dapat diabaikan. Mereka berkontribusi melalui dukungan moral, partisipasi dalam kegiatan sekolah, serta penyediaan sarana yang mendukung pembelajaran PJOK.
Temuan penelitian berdasarkan triangulasi data angket, observasi, dan wawancara, ditemukan bahwa aspek Input dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK telah terpenuhi dengan baik. Tersedianya pelatihan yang efektif bagi guru, sarana dan prasarana pendukung, modul pembelajaran yang digunakan secara aktif, serta dukungan yang kuat dari kepala sekolah dan orang tua menjadi faktor-faktor utama yang menunjang keberhasilan implementasi program ini. Temuan ini sejalan dengan teori CIPP yang dikemukakan oleh Stufflebeam (2015), yang menyatakan bahwa evaluasi Input menekankan pentingnya ketersediaan sumber daya, strategi, dan rencana operasional dalam menjamin keberhasilan pelaksanaan program. Selain itu, teori sistem pendidikan yang dikemukakan oleh Ansumanti (2022) juga menegaskan bahwa keberhasilan suatu program pembelajaran sangat dipengaruhi oleh sinergi antara guru, peserta didik, manajemen sekolah, dan lingkungan sosial. Dengan demikian, kesiapan Input disebagian besar sekolah telah mencerminkan keberpihakan terhadap mutu pembelajaran PJOK yang holistik, adaptif, dan inklusif sebagaimana diarahkan dalam Kurikulum Merdeka.
Kesimpulan secara keseluruhan pada aspek Input menunjukkan bahwa kondisi awal dan sumber daya yang tersedia telah mendukung secara optimal pelaksanaan pembelajaran PJOK berbasis Kurikulum Merdeka. hasil penelitian pada aspek Input sejalan dengan penelitian evaluasi dengan model CIPP yang dilaksanakan oleh Muhammad Yusuf Mappeasse, & Riana Tangkin Mangesa (2024), Septian & Yahaya (2020) dan Rurisman (2023) bahwa aspek Input yang dihasilkan dalam penelitian berkategori baik dan cukup baik.
3. Evaluasi Process Pelaksanaan Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak di Kabupaten ........................
Evaluasi Process pelaksanaan pembelajaran PJOK di sekolah penggerak meliputi unsur penilaian tentang pelaksanaan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka mata pelajaran PJOK di sekolah penggerak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa aspek Process dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK mencerminkan dinamika pelaksanaan pembelajaran di lapangan, baik dari segi pendekatan, metode, hingga evaluasi yang digunakan oleh guru. Berdasarkan hasil angket, aspek ini memperoleh skor dengan rentang persentase antara 83% hingga 98%. Sebagian besar responden memberikan penilaian di atas 90%, yang menandakan bahwa pelaksanaan pembelajaran berjalan cukup efektif dan sesuai dengan arah kebijakan Kurikulum Merdeka. Namun, terdapat satu sekolah yang memberikan skor 83%, yang menunjukkan adanya tantangan dalam penerapan proses pembelajaran secara langsung.
Sementara itu, hasil observasi memperkuat temuan dari angket dengan menunjukkan variasi skor antara 42 hingga 48, yang setara dengan tingkat ketercapaian 84% hingga 96%. Seluruh sekolah masih dikategorikan dalam kategori sangat baik, meskipun terdapat catatan penting bahwa beberapa sekolah, seperti SMA Ibnu Sina, memerlukan penguatan dalam pelaksanaan pembelajaran karena menunjukkan persentase terendah pada aspek ini. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun secara umum proses berjalan baik, terdapat perbedaan implementasi yang cukup signifikan antar sekolah.
Lebih dalam, data wawancara mengungkap bahwa proses pembelajaran PJOK mengalami transformasi seiring dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Guru-guru mulai beralih dari pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered) menuju pendekatan yang berpusat pada siswa (student-centered). Pendekatan baru ini mencakup penggunaan model pembelajaran berdiferensiasi, berbasis proyek, dan berbasis praktik langsung. Mayoritas guru menyatakan bahwa pembelajaran kini lebih responsif terhadap kebutuhan individual siswa, serta mendorong partisipasi aktif dan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna.
Pelaksanaan pembelajaran juga semakin menekankan kolaborasi dan kreativitas. Siswa tidak hanya berperan sebagai penerima materi, tetapi difasilitasi untuk menggali potensi dan minat mereka secara aktif. Ini sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka yang berorientasi pada penguatan karakter serta pembelajaran yang kontekstual. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran PJOK juga turut mendukung visualisasi materi dan meningkatkan pemahaman siswa, meskipun penerapannya masih bergantung pada kesiapan fasilitas di masing-masing sekolah.
Dalam hal evaluasi, guru-guru PJOK telah mulai menerapkan pendekatan penilaian yang menyeluruh dan objektif. Penilaian tidak lagi hanya terfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup keterampilan dan sikap siswa. Evaluasi dilakukan untuk mendorong pertumbuhan karakter, kemampuan sosial, dan potensi individual siswa, sesuai prinsip asesmen formatif yang ditekankan dalam Kurikulum Merdeka.
Temuan data menunjukkan bahwa proses pelaksanaan pembelajaran PJOK dalam Kurikulum Merdeka sudah bergerak ke arah yang positif dan progresif. Adopsi pendekatan student-centered, praktik pembelajaran berbasis proyek, kolaborasi, dan penilaian yang holistik menjadi indikasi bahwa transformasi proses pembelajaran telah berjalan. Namun demikian, perbedaan capaian antar sekolah menandakan perlunya penguatan implementasi secara merata, terutama dari sisi kesiapan guru dan fasilitas pendukung.
Perubahan pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa menjadi kunci utama keberhasilan proses ini. Temuan ini konsisten dengan teori pembelajaran konstruktivistik yang dikemukakan oleh Vygotsky (1978), yang menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam membangun pengetahuan melalui interaksi sosial dan pengalaman belajar langsung.
Selain itu, sesuai dengan kerangka evaluasi CIPP dari Stufflebeam (2015) evaluasi Process berfokus pada bagaimana pelaksanaan program dilakukan, apakah mengikuti perencanaan, serta bagaimana respons terhadap kondisi nyata di lapangan. Dalam hal ini, proses implementasi Kurikulum Merdeka menunjukkan adanya kesesuaian dengan rencana awal dan prinsip-prinsip dasar yang ditetapkan, meskipun masih diperlukan penguatan dan pendampingan lanjutan pada beberapa sekolah.
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa aspek Process dalam implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dengan demikian, aspek Process secara umum telah mengarah pada pelaksanaan pembelajaran PJOK yang lebih humanistik, kontekstual, dan berorientasi pada perkembangan karakter serta potensi peserta didik.
4. Evaluasi Product Pelaksanaan Pembelajaran Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ........................
Aspek Product dalam evaluasi pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak SMA Kabupaten ....................... merepresentasikan capaian akhir dari proses pembelajaran, baik dalam bentuk kompetensi siswa, penguatan karakter, maupun dampak pembelajaran terhadap perkembangan peserta didik secara menyeluruh. Berdasarkan hasil angket, skor yang diperoleh berada dalam kisaran 92% hingga 100%. Persentase ini menandakan bahwa hasil dari proses pembelajaran secara umum telah memenuhi harapan dan target yang ditetapkan, yang ditunjukkan melalui pencapaian tujuan pembelajaran dan keberhasilan siswa dalam mengikuti proses secara efektif.
Data observasi mendukung hasil angket dengan menunjukkan bahwa aspek Product merupakan yang tertinggi dibandingkan aspek lainnya, dengan nilai ketercapaian berkisar antara 86,67% hingga 96,67%. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil akhir dari pelaksanaan pembelajaran, termasuk capaian kompetensi siswa dan kualitas proses, telah terealisasi dengan sangat baik di sebagian besar sekolah.
Lebih lanjut, hasil wawancara memberikan gambaran yang lebih mendalam terhadap hasil pembelajaran PJOK dalam konteks Kurikulum Merdeka. Para guru dan pemangku kebijakan di sekolah menyampaikan bahwa kurikulum ini telah memberikan dampak positif, khususnya dalam peningkatan keterampilan motorik siswa, internalisasi nilai-nilai karakter melalui olahraga, serta ketercapaian kompetensi secara holistik—meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif. Siswa menunjukkan peningkatan kemampuan dalam aktivitas olahraga, pemahaman terhadap materi, serta sikap sportif, disiplin, dan kerja sama.
Pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan sejumlah faktor yang saling terkait, seperti kesiapan dan komitmen siswa, kesiapan profesional guru, ketersediaan sarana-prasarana yang memadai, serta penerapan metode pembelajaran yang kontekstual dan inovatif. Guru-guru PJOK juga menyoroti pentingnya kolaborasi dan komunikasi antara guru dan siswa dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung pengembangan potensi siswa secara maksimal.
Temuan Penelitian berdasarkan data angket, observasi, dan wawancara, ditemukan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK telah memberikan hasil yang sangat positif. Capaian kompetensi siswa, baik secara akademik maupun karakter, menunjukkan bahwa proses pembelajaran yang telah dilakukan bukan hanya berhasil mencapai tujuan formal, tetapi juga mendorong pembentukan karakter dan pengembangan potensi siswa secara menyeluruh. Aspek Product menunjukkan performa terbaik dibandingkan aspek lainnya, menandakan efektivitas tinggi dari kurikulum dalam menghasilkan luaran yang berkualitas.
Secara keseluruhan, aspek Product mencerminkan keberhasilan Kurikulum Merdeka dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila melalui mata pelajaran PJOK. Hasil pembelajaran yang dicapai tidak hanya mencakup penguasaan materi dan keterampilan, tetapi juga penguatan karakter melalui nilai-nilai kebajikan yang diterapkan dalam konteks pembelajaran jasmani. Temuan ini sejalan dengan teori outcome-based education dari Spady (1994) yang menekankan pentingnya pencapaian hasil belajar yang bermakna sebagai indikator keberhasilan pendidikan.
Lebih lanjut, dalam konteks model evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh Stufflebeam (2015), aspek Product berfokus pada dampak jangka pendek maupun jangka panjang dari program yang dijalankan. Temuan ini mengonfirmasi bahwa pembelajaran PJOK dalam Kurikulum Merdeka tidak hanya terlaksana dengan baik, tetapi juga memberikan hasil nyata dalam pengembangan kompetensi siswa secara komprehensif.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK telah menunjukkan efektivitas tinggi dalam menghasilkan output pembelajaran yang relevan, bermakna, dan sesuai dengan tujuan kurikulum nasional yang berorientasi pada pembelajaran holistik dan transformatif.
Berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data dari keempat aspek evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), dapat disimpulkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Sekolah Penggerak jenjang SMA di Kabupaten ....................... telah berjalan dengan sangat baik. Temuan dari angket, observasi, dan wawancara menunjukkan adanya sinergi antara kebijakan sekolah, kesiapan sumber daya, proses pembelajaran, serta hasil yang dicapai oleh siswa.
Aspek Context menegaskan bahwa pelaksanaan Kurikulum Merdeka didukung oleh kebijakan dan visi sekolah yang relevan dengan kebutuhan siswa serta lingkungan sosial budaya setempat. Aspek Input memperlihatkan tersedianya sarana, prasarana, pelatihan guru, serta dukungan kepala sekolah dan orang tua yang mendukung proses pembelajaran secara optimal. Pada aspek Process, terdapat transformasi pembelajaran menuju pendekatan yang lebih berpusat pada siswa, dengan penerapan strategi yang adaptif dan kolaboratif. Sementara itu, aspek Product menunjukkan capaian pembelajaran yang tinggi, baik dalam hal kompetensi kognitif, keterampilan motorik, maupun pembentukan sikap dan karakter.
Secara keseluruhan, data kuantitatif dan kualitatif saling menguatkan dan memberikan gambaran yang komprehensif terhadap keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK. Meski terdapat beberapa tantangan di lapangan, seperti keterbatasan fasilitas atau variasi kesiapan antar sekolah, hasil evaluasi menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak positif dan layak untuk terus dikembangkan. Temuan ini sekaligus menjadi pijakan penting untuk merumuskan rekomendasi yang aplikatif dan memperkuat keberlanjutan program di masa mendatang.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan dalam penafsiran hasil.
1. Ruang lingkup terbatas pada sekolah penggerak jenjang SMA di Kabupaten ......................., sehingga temuan penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk semua sekolah secara nasional atau untuk jenjang pendidikan lainnya. Setiap wilayah dan jenjang mungkin memiliki kondisi pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang berbeda.
2. Waktu pelaksanaan penelitian yang terbatas dapat memengaruhi kedalaman penggalian data, khususnya pada aspek dinamika pembelajaran yang berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Beberapa perubahan atau penyesuaian dalam proses implementasi kurikulum mungkin belum sepenuhnya teramati.
3. Keterbatasan variasi sumber data, di mana data lebih banyak diperoleh dari guru PJOK dan kepala sekolah, sementara suara dari siswa atau orang tua belum tergali secara mendalam. Hal ini mungkin membatasi pemahaman menyeluruh terhadap dampak pembelajaran dari perspektif peserta didik dan keluarga.
4. Perbedaan persepsi antar responden, baik dari guru maupun kepala sekolah, bisa dipengaruhi oleh latar belakang pengalaman, kesiapan individu, dan konteks lingkungan masing-masing sekolah, sehingga interpretasi terhadap implementasi Kurikulum Merdeka bisa bervariasi.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil evaluasi terhadap implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak jenjang SMA menggunakan model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product), dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan program telah berjalan dengan sangat baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka.
1. Aspek Context, ditemukan bahwa kebijakan sekolah, kebutuhan siswa, serta kondisi lingkungan pembelajaran telah mendukung terlaksananya Kurikulum Merdeka secara optimal. Sekolah telah menyesuaikan visi pembelajaran dengan karakteristik peserta didik serta lingkungan sosial budaya.
2. Aspek Input, tersedianya sumber daya manusia (guru PJOK yang kompeten), ketersediaan dan pemanfaatan sarana prasarana olahraga, dukungan dari kepala sekolah dan orang tua, serta efektivitas pelatihan yang diikuti guru menjadi fondasi penting dalam keberhasilan implementasi kurikulum ini.
3. Aspek Process, pelaksanaan pembelajaran menunjukkan adanya transformasi pendekatan dari teacher-centered ke student-centered, dengan strategi pembelajaran yang beragam, partisipatif, dan adaptif terhadap kebutuhan siswa. Kendati masih ada tantangan di beberapa sekolah, secara umum proses pembelajaran berjalan efektif dan sejalan dengan semangat Merdeka Belajar.
4. Aspek Product, hasil pembelajaran menunjukkan capaian yang sangat baik. Siswa berhasil memenuhi kompetensi yang ditetapkan secara holistik, meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pembelajaran PJOK tidak hanya memperkuat kemampuan motorik, tetapi juga membentuk karakter melalui nilai-nilai kebajikan dan kolaborasi.
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak telah menunjukkan keberhasilan yang nyata, didukung oleh kesiapan Input, kelancaran proses, serta hasil pembelajaran yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
B. Saran/Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti memberikan beberapa rekomendasi sebagai berikut:
1. Bagi Guru PJOK, disarankan untuk terus meningkatkan kapasitas melalui pelatihan berkelanjutan serta memperluas inovasi pembelajaran yang berbasis proyek dan praktik langsung sesuai karakteristik siswa.
2. Bagi Pihak Sekolah, penting untuk mempertahankan bahkan meningkatkan dukungan administratif, logistik, dan motivasional terhadap pelaksanaan pembelajaran Kurikulum Merdeka, khususnya dalam menyediakan sarana prasarana olahraga yang memadai.
3. Bagi Pemerintah dan Dinas Pendidikan, rekomendasi yang diajukan meliputi penguatan sistem pelatihan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan bagi guru PJOK, serta penyediaan modul dan panduan pembelajaran yang lebih aplikatif dan kontekstual.
4. Bagi Orang Tua Siswa, disarankan untuk terus menjalin komunikasi dan kerja sama yang baik dengan guru dalam mendukung proses belajar siswa, baik dari segi moral, motivasi, maupun kebutuhan belajar di rumah.
DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, D. L., Yulianti, M., Nurfaizah, S., & Pandiangan, A. P. B. (2022). Peran Guru dalam mengembangan Kurikulum Merdeka. Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 1(3), 290–298.
Ansumanti, A. (2022). Persiapan Guru dalam Melaksanakan Sistem Pembelajaran Merdeka Belajar di SDN 140 Seluma Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. JPT: Jurnal Pendidikan Tematik, 3(3), 1–6.
Arikunto, S. (2021). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi 3. Jakarta : Bumi Aksara.
Aryanti, T., Supriyono, S., & Ishaq, I. (2018). Evaluasi Program Pendidikan dan Pelatihan. Jurnal Pendidikan Nonformal, 10(1), 1–13.
Assiddiqi, D. R. (2021). Peluang menurunnya Capaian Hasil Belajar (Learning Loss) dan Alternatif Solusinya: Kajian Kasus Pembelajaran Online di Era Pandemi Covid-19 di Jurusan Teknik Mesin UNESA.". Jurnal Pendidikan Teknik Mesin, 10(3), 47–45.
Azhari, M. T., Al Fajri Bahri, M. P., Asrul, M. S., & Rafida, T. (2023). Metode Penelitian Kuantitatif. Jambi : PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Budiwanto, S. (2017). Metode Statistika. Malang : Universitas Negeri Malang.
Creswell, J. W. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed. Methods Approaches. California : SAGE Publications.
Devi, W., Sukiman, S., & Firdaus, M. Z. (2021). Pengembangan Media Pembelajaran Memahami Cerita Fantasi Berbasis Power Point Untuk Siswa Smp. Karangan: Jurnal Bidang Kependidikan, Pembelajaran, Dan Pengembangan, 3(2), 73–78.
Dewi, W. N. A., Marini, M., Khasanah, K., & Rifandi, R. A. (2022). Sosialisasi Dampak Kecanduan Penggunaan Gadget Bagi Kehidupan Anak Sekolah di SMP Fransiskus Semarang. Manggali, 2(1), 120–129.
Dinata, K., Lasmawan, I. W., & Suharta, I. G. P. (2023). Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Capaian Kompetensi Pembelajaran PJOK melalui Model CIPP (literature review). Jurnal Porkes, 6(2). 854-866
Djuhartono, T., Ariwibowo, P., & Anggresta, V. (2022). Determinasi Tingkat Pendidikan terhadap Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Di Karangasem-Kabupaten Bogor. Jurnal Mirai Management, 7(3), 1–14.
Faiz, A., Pratama, A., & Kurniawaty, I. (2022). Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Program Guru Penggerak pada Modul 2.1. Jurnal basicedu, 6(2), 2846–2853.
Fariha, D. A., & Indahwati, N. (2020). Analisis Kompetensi Mahasiswa dalam Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi pada Setiap Kompetensi Dasar Mata Pelajaran PJOK Jenjang SMP dan SMA/SMK. Jurnal Jpok, 8(3), 1–6.
Febriana, R. (2021). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Fitri, S. F. N. (2021). Problematika Kualitas Pendidikan di Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(1), 1617–1620.
Hardani, dkk. (2022). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. ....................... : Pustaka Ilmu.
Hasanah, N. R., Adi, I. P. P., & Suwiwa, I. G. (2021). Survey Pelaksaan Pembelajaran Pjok Secara Daring pada Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Kejaora (Kesehatan Jasmani Dan Olah Raga), 6(1), 189–196.
Herdiansyah, H. (2013). Wawancara, Observasi, dan Focus Groups: sebagai Instrumen Penggalian Data Kualitatif. Depok : Raja Grafindo Persada
Herlina, H., & Suherman, M. (2020). Potensi pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di Tengah Pandemi Corona Virus Disease (covid)-19 di Sekolah Dasar. Tadulako Journal Sport Sciences And Physical Education, 8(1), 1–7.
Hidayat, M. F., Yuwono, C., & Raharjo, H. P. (2024). Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan di Sekolah Penggerak SMP Se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Gelanggang Olahraga: Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga (JPJO), 7(2), 736–741.
Hidayatullah, M. F., & Kristiyanto, A. (2015). Model aktivitas Belajar Gerak Berbasis Permainan sebagai Materi Ajar Pendidikan Jasmani (Penelitian Pengembangan pada Siswa Kelas I Sekolah Dasar). Indonesian Journal of Sports Science, 1(1), 218350. 1-10
Husdarta, J. S., & Saputra, Y. M. (2018). Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Bandung: Alfabeta.
Jayul, A., & Irwanto, E. (2020). Model Pembelajaran Daring sebagai Alternatif Proses Kegiatan Belajar Pendidikan Jasmani di Tengah Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 6(2), 190–199.
Kemendikbud. (2022a). Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta : Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.
Kemendikbud. (2022b). Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Manalu, Sitohang, & Henrika. (2022). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar. Prosiding Pendidikan Dasar, 1(1), 80–86.
Manalu, W. (2017). Pengaruh Metode Pembelajaran dan Motivasi Belajar Terhadap Hasil Belajar Lari Cepat. Jurnal Pendidikan Jasmani dan Olahraga, 2(2), 53–60.
Mappeasse, M. Y., & Mangesa, R. T. (2024). Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka Menggunakan Model CIPP di SMK Laniang Makassar. UNM Journal of Technology and Vocational, 8(3), 258–267.
Mukti, A. H. (2023). Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK Kelas VII SMPN 3 Jepara. Jurnal Spirit Edukasia, 6(1). 1143-1148
Nurrohim, N. (2020). Analisis Kepuasan Siswa Kelas IX Sekolah Menengah Pertama terhadap Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PJOK pada Masa Pandemi Covid-19 Kecamatan Purwanegara. Journal of Physical Activity and Sports (JPAS), 1(1), 133–146.
Parwata, I. M. (2021). Pembelajaran Gerak dalam Pendidikan Jasmani dan Perspektif Merdeka Belajar. Indonesian Journal of Educational Development, 2(2).
Patilima, S. (2022). Sekolah Penggerak sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar. 228-236
Priadana, B. W., Saifuddin, H., & Prakoso, B. B. (2021). Kelayakan Pengukuran Aspek Pengetahuan pada Instrumen Physical Literacy untuk Siswa Usia 8-12 tahun. MULTIRATERAL, 20(1). 21-32
Priyambudi, G., Afrinaldi, R., & Fahrudin, F. (2023). Persepsi Guru Pendidikan Jasmani dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Tingkat SMK Se-Kabupaten Karawang. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6(2), 789–792.
Rachmawati, N., Marini, A., Nafiah, M., & Nurasiah, I. (2022). Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Impelementasi Kurikulum Prototipe di Sekolah Penggerak Jenjang Sekolah Dasar. Jurnal basicedu, 6(3), 3613–3625.
Rahayu, R., Rosita, R., Rahayuningsih, Y. S., Hernawan, A. H., & Prihantini, P. (2022). Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah Penggerak. Jurnal basicedu, 6(4), 6313–6319.
Rahayu, S., Rossari, D. V., Wangsanata, S. A., Saputri, N. E., & Saputri, N. D. (2021). Hambatan Guru Sekolah Dasar dalam Melaksanakan Kurikulum Sekolah Penggerak Dari Sisi Manajeman Waktu dan Ruang di Era Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3), 5759–5768.
Rahayuningsih, S., & Rijanto, A. (2022). Efforts to Improve the Competence of Principals as Learning Leaders in Driving School Programs in Nganjuk. JAMU: Jurnal Abdi Masyarakat UMUS, 2(02), 120–126.
Raibowo, S., & Nopiyanto, Y. E. (2020). Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga & Kesehatan pada SMP Negeri Se-Kabupaten Mukomuko melalui Pendekatan Model Context, Input, Process & Product (CIPP). Jurnal Pendidikan Kesehatan Rekreasi, 6(2), 146–165.
Rifani, L. G. (2016). Evaluasi Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di SD Negeri Bangunrejo 2 ........................ Widia Ortodikdaktika, 5(9), 951–962.
Romdani, I. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran PAI pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) SLB Negeri 1 Ngawi. Althanshia: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 1(2), 44–58.
Rurisman, R., Ambiyar, A., & Aziz, I. (2023). Evaluasi Pelaksanaan Sekolah Penggerak di SMA Dengan Model Evaluasi CIPP. Jurnal Muara Pendidikan, 8(1), 124–130.
Saidah, K., & Imron, I. F. (2022). Implementation of The Operational Curriculum of Sekolah Penggerak Program at Elementary Schools. PEDAGOGIK: Jurnal Pendidikan, 9(1), 68–81.
Sakdiah, H., & Syahrani, S. (2022). Pengembangan Standar Isi dan Standar Proses dalam Pendidikan Guna Meningkatkan Mutu Pembelajaran di Sekolah. Cross-border, 5(1), 622–632.
Saleh, M. (2020). Merdeka Belajar di Tengah Pandemi Covid-19. Prosiding Seminar Nasional Hardiknas, 1(2), 51–56.
Sibagariang, D., Sihotang, H., & Murniarti, E. (2021). Peran Guru Penggerak dalam Pendidikan Merdeka Belajar di Indonesia. Jurnal Dinamika Pendidikan, 14(2), 88–99.
Siyoto, S., & Sodik, M. A. (2015). Dasar Metodologi Penelitian. ....................... : Literasi Media Publishing.
Spady, W. G. (1994). Outcome-Based Education: Critical Issues and Answers. VA: American Association of School Administrators.
Stufflebeam, D. L. (2015). CIPP Evaluation Model Checklist : A Tool for Applying The CIPP Model to Assess Projects and Programs. Western Michigan University Evaluation Center. Search in.
Sudjana, N. (2015). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Sudrajat, K. M., Muhtar, T., & Susilawati, D. (2023). Evaluasi Kurikulum Merdeka Tahun 2022 Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. Journal of SPORT (Sport, Physical Education, Organization, Recreation, and Training), 7(3), 771–788.
Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sukardi, H. M. (2021). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi Dan Praktiknya (Edisi Revisi). Jakarta : Bumi Aksara.
Sukmadinata, N. S. (2019). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sultan, H. P., Anwar, A. S., & Sin, T. H. (2022). Evaluasi Program Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan melalui Model CIPP pada SMP IT Raudhah Agam Sumatra Barat. Jurnal Sekolah Dasar, 7(1), 68–76.
Sumarsih, I., Marliyani, T., Hadiyansah, Y., Hernawan, A. H., & Prihantini, P. (2022). Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8248–8258.
Swadesi, I. K. I., & Kanca, I. N. (2022). Evaluasi Implementasi Pembelajaran Daring Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan SMP Se-Bali. Mimbar Ilmu, 27(3), 453–459.
Syafi’i, F. F. (2022). Merdeka Belajar: Sekolah Penggerak. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dasar. 39-49
Syarqawi, N. A., Kaulan, M., & Nadira, D. (2019). Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling Konsep dan Teori. Jakarta: Kencana.
Tauhidman, H., & Ramadan, G. (2018). Pengembangan Model Latihan Keseimbangan untuk Sekolah Dasar. Jurnal SPORTIF: Jurnal Penelitian Pembelajaran, 4(1), 133–144.
Utami, W. Y. D., Jamaris, M., & Meilanie, S. M. (2019). Evaluasi program pengelolaan lembaga PAUD di Kabupaten Serang. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(1), 67–76.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological Processes (Vol. 86). New York : Harvard University Press.
Wibisana, M. I. N., Kusumawardhana, B., Pratama, D. S., & Ratimiasih, Y. (2022). Indeks Kebugaran Jasmani Mahasiswa Prodi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Universitas PGRI Semarang. Gerak: Journal of Physical Education, Sports, and Health, 2(1), 1–6.
Widoyoko, E. P., & Qudsy, S. Z. (2016). Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis bagi Pendidik dan Calon Penididik. ....................... : Pustaka Pelajar,
Wijiatun, L., & Indrajit, R. E. (2022). Merdeka Belajar: Tantangan dan Implementasinya dalam Sistem Pendidikan Nasional. ....................... : Andi Publisher
Wirawan, W. (2016). Evaluasi (Teori, Model, Metodologi, Standar, Aplikasi dan Profesi). Palembang : Raja Grafindo Persada.
Worthen, B. R., & Sanders, J. R. (1991). The changing face of educational evaluation. Journal : Theory into Practice, 30(1), 3–12.
Lampiran 2
KISI-KISI INSTRUMEN
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
1. Kisi-Kisi Instrumen Observasi
|
No |
Kriteria Evaluasi |
Aspek yang diamati |
Indikator |
Sumber |
|
1 |
Context |
Relevansi Kurikulum Merdeka di sekolah penggerak |
Kurikulum Merdeka sesuai dengan kebutuhan siswa |
|
|
Kebijakan sekolah mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
|||
|
2 |
Input |
Kesiapan Guru PJOK |
Guru menggunakan modul atau panduan dari Kurikulum Merdeka. |
|
|
Fasilitas olahraga |
Sarana dan prasarana mendukung kegiatan pembelajaran PJOK |
|
||
|
3 |
Process |
Strategi pembelajaran PJOK |
Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). |
|
|
Keterlibatan siswa |
Siswa aktif dalam kegiatan diskusi atau praktik olahraga |
|
||
|
4 |
Product |
Peningkatan kompetensi siswa |
Siswa menunjukkan peningkatan dalam keterampilan olahraga |
|
|
Profil Pelajar Pancasila |
Siswa menunjukkan nilai-nilai seperti kerja sama dan disiplin |
|
2. Kisi-Kisi Instrumen Wawancara
|
No |
Kriteria Evaluasi |
Aspek yang diamati |
Indikator |
Sumber |
|
1 |
Context |
Relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi sekolah penggerak |
Kurikulum Merdeka mendukung pencapaian visi Sekolah Penggerak |
Kepala Sekolah |
|
Sekolah memiliki budaya yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. |
Guru PJOK |
|||
|
2 |
Input |
Kompetensi Guru PJOK |
Guru telah mengikuti pelatihan atau pendampingan terkait Kurikulum Merdeka |
Guru PJOK |
|
Ketersediaan sarana dan prasarana |
Sarana olahraga sesuai dengan kebutuhan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka |
Guru PJOK |
||
|
3 |
Process |
Strategi pembelajaran PJOK |
Guru menggunakan pendekatan inovatif seperti project-based learning |
Guru PJOK |
|
Partisipasi siswa dalam pembelajaran |
Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran |
Guru PJOK |
||
|
4 |
Product |
Peningkatan hasil belajar siswa |
Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan olahraga dan karakter. |
Guru PJOK |
|
Profil Pelajar Pancasila |
Siswa menunjukkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila seperti kerja sama dan disiplin. |
Guru PJOK |
3. Kisi-Kisi Instrumen Angket
|
No |
Kriteria Evaluasi |
Aspek yang diamati |
Indikator |
Sumber |
|
1 |
Context |
Relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi sekolah penggerak |
Kurikulum Merdeka mendukung pencapaian visi Sekolah Penggerak |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|
Sekolah memiliki budaya yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
2 |
Input |
kesiapan sumber daya, dukungan, dan fasilitas yang tersedia
|
Pelatihan guru PJOK |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|
Efektivitas pelatihan |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Ketersediaan sarana olahraga |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Kondisi prasarana |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Ketersediaan modul pembelajaran |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Pendampingan implementasi |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Dukungan kepala sekolah |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Dukungan orang tua siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
3 |
Process |
Pelaksanaan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka |
Metode pembelajaran inovatif |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|
Variasi metode |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Kolaborasi siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Kreativitas siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Umpan balik guru |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Diferensiasi pembelajaran |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Partisipasi siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Penggunaan media dan teknologi |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Evaluasi pembelajaran |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Pengelolaan waktu |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
4 |
Product |
Hasil implementasi pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka
|
Peningkatan keterampilan siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|
Nilai Profil Pelajar Pancasila |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Kesehatan fisik dan mental siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Peningkatan nilai akademik |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Kepercayaan diri siswa |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
|||
|
Pencapaian kompetensi |
Kepala Sekolah, Guru PJOK |
4. Kisi-Kisi Instrumen Dokumentasi
|
Aspek Evaluasi |
Jenis Data/Informasi yang Dibutuhkan |
Sumber Data |
Bentuk Dokumentasi |
Tujuan Dokumentasi |
|
Konteks |
Visi, misi, dan tujuan sekolah terkait implementasi Kurikulum Merdeka. |
Dokumen kebijakan sekolah |
Salinan dokumen resmi |
Menilai kesesuaian konteks pelaksanaan Kurikulum Merdeka dengan kebijakan sekolah. |
|
Profil sekolah penggerak (termasuk jumlah siswa, guru, dan fasilitas). |
Data statistik sekolah |
Laporan tahunan, profil sekolah |
Mengidentifikasi kesiapan sekolah sebagai sekolah penggerak. |
|
|
Masukan |
Program pelatihan dan pendampingan guru untuk Kurikulum Merdeka. |
Laporan pelatihan guru |
Jadwal pelatihan, sertifikat, atau panduan |
Menilai kualitas dan kesesuaian pelatihan yang diberikan kepada guru PJOK. |
|
Anggaran dan alokasi dana untuk implementasi Kurikulum Merdeka. |
Dokumen anggaran sekolah |
Laporan anggaran |
Mengidentifikasi dukungan finansial terhadap pelaksanaan kurikulum. |
|
|
Fasilitas sarana dan prasarana pendukung pembelajaran PJOK. |
Inventarisasi sekolah |
Foto fasilitas (lapangan, alat olahraga) |
Menilai ketersediaan sarana dan prasarana yang relevan dengan pelaksanaan kurikulum. |
|
|
Proses |
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang digunakan guru. |
Dokumen RPP |
Salinan RPP |
Mengevaluasi kesesuaian perencanaan pembelajaran dengan prinsip Kurikulum Merdeka. |
|
Laporan kegiatan pembelajaran PJOK. |
Catatan atau jurnal pembelajaran guru |
Catatan harian, foto kegiatan |
Menilai bagaimana proses pembelajaran berlangsung di lapangan. |
|
|
Evaluasi kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan guru. |
Laporan evaluasi guru |
Rekap hasil evaluasi |
Memastikan proses pembelajaran sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. |
|
|
Hasil |
Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran PJOK. |
Rekap nilai siswa |
Laporan nilai |
Mengidentifikasi capaian siswa berdasarkan implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
Umpan balik dari siswa/orang tua tentang pembelajaran PJOK. |
Kuesioner siswa dan orang tua |
Ringkasan hasil survei |
Menggali persepsi dan pengalaman terkait dampak pelaksanaan Kurikulum Merdeka. |
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Petunjuk Penggunaan:
1. Amati proses pembelajaran dan kondisi di sekolah yang sesuai dengan indikator pada lembar observasi ini.
2. Berikan tanda centang (✓) pada kolom yang sesuai:
1: Tidak Terlihat
2: Kurang Terlihat
3: Cukup Terlihat
4: Terlihat
5: Sangat Terlihat
Identitas Observasi:
1. Nama Pengamat :
2. Tanggal Observasi :
3. Lokasi Observasi :
A. Context (Konteks)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
1 |
Kurikulum mendukung visi Sekolah Penggerak. |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pembelajaran PJOK relevan dengan kebutuhan siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Program menciptakan budaya belajar yang positif. |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Kebijakan sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Kurikulum membantu siswa mengembangkan keterampilan olahraga yang relevan. |
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Kurikulum memperhatikan budaya lokal sekolah. |
|
|
|
|
|
|
B. Input (Masukan)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
7 |
Guru telah mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
|
8 |
Pelatihan membantu guru memahami Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
|
9 |
Sarana olahraga mendukung pembelajaran PJOK. |
|
|
|
|
|
|
|
10 |
Prasarana tersedia dan dalam kondisi baik. |
|
|
|
|
|
|
|
11 |
Modul/buku pembelajaran Kurikulum Merdeka tersedia. |
|
|
|
|
|
|
|
12 |
Sekolah memberikan pendampingan kepada guru terkait implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
C. Process (Proses)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
13 |
Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). |
|
|
|
|
|
|
|
14 |
Guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. |
|
|
|
|
|
|
|
15 |
Siswa diberi kesempatan untuk berkolaborasi. |
|
|
|
|
|
|
|
16 |
Pembelajaran mendorong siswa untuk berpikir kreatif. |
|
|
|
|
|
|
|
17 |
Guru memberikan umpan balik teratur kepada siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
18 |
Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
19 |
Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. |
|
|
|
|
|
|
|
20 |
Guru menggunakan media dan teknologi dalam pembelajaran. |
|
|
|
|
|
|
|
21 |
Evaluasi dilakukan secara adil dan objektif. |
|
|
|
|
|
|
|
22 |
Guru mampu mengelola waktu pembelajaran dengan efektif. |
|
|
|
|
|
|
D. Product (Hasil)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
23 |
Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan olahraga. |
|
|
|
|
|
|
|
24 |
Siswa menerapkan nilai kerja sama dan disiplin. |
|
|
|
|
|
|
|
25 |
Pembelajaran membantu siswa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. |
|
|
|
|
|
|
|
26 |
Nilai akademik siswa pada PJOK meningkat. |
|
|
|
|
|
|
|
27 |
Siswa lebih percaya diri dalam kegiatan olahraga. |
|
|
|
|
|
|
|
28 |
Kurikulum membantu siswa mencapai kompetensi sesuai standar. |
|
|
|
|
|
|
LEMBAR OBSERVASI SETELAH VALIDASI
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Petunjuk Penggunaan:
3. Amati proses pembelajaran dan kondisi di sekolah yang sesuai dengan indikator pada lembar observasi ini.
4. Berikan tanda centang (✓) pada kolom yang sesuai:
1: Tidak Terlihat
2: Kurang Terlihat
3: Cukup Terlihat
4: Terlihat
5: Sangat Terlihat
Identitas Observasi:
4. Nama Pengamat :
5. Tanggal Observasi :
6. Lokasi Observasi :
A. Context (Konteks)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
1 |
Kurikulum mendukung visi dan misi Sekolah Penggerak. |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Pembelajaran PJOK dirancang sesuai kebutuhan, minat, dan karakteristik siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Program Sekolah Penggerak mendorong terciptanya budaya belajar yang positif dan inklusif. |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
Kebijakan sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, termasuk dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. |
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Kurikulum Merdeka mendorong pengembangan keterampilan olahraga yang sesuai dengan perkembangan peserta didik. |
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Kurikulum Merdeka diimplementasikan dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan budaya sekolah. |
|
|
|
|
|
|
B. Input (Masukan)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
7 |
Guru telah mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
|
8 |
Pelatihan membantu guru memahami Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
|
9 |
Sarana olahraga mendukung pembelajaran PJOK. |
|
|
|
|
|
|
|
10 |
Prasarana tersedia dan dalam kondisi baik. |
|
|
|
|
|
|
|
11 |
Modul/buku pembelajaran Kurikulum Merdeka tersedia. |
|
|
|
|
|
|
|
12 |
Sekolah memberikan pendampingan kepada guru terkait implementasi Kurikulum Merdeka. |
|
|
|
|
|
|
C. Process (Proses)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
13 |
Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). |
|
|
|
|
|
|
|
14 |
Guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. |
|
|
|
|
|
|
|
15 |
Siswa diberi kesempatan untuk berkolaborasi. |
|
|
|
|
|
|
|
16 |
Pembelajaran mendorong siswa untuk berpikir kreatif. |
|
|
|
|
|
|
|
17 |
Guru memberikan umpan balik teratur kepada siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
18 |
Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual siswa. |
|
|
|
|
|
|
|
19 |
Siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. |
|
|
|
|
|
|
|
20 |
Guru menggunakan media dan teknologi dalam pembelajaran. |
|
|
|
|
|
|
|
21 |
Evaluasi dilakukan secara adil dan objektif. |
|
|
|
|
|
|
|
22 |
Guru mampu mengelola waktu pembelajaran dengan efektif. |
|
|
|
|
|
|
D. Product (Hasil)
|
No |
Indikator |
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
Catatan |
|
23 |
Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan olahraga. |
|
|
|
|
|
|
|
24 |
Siswa menerapkan nilai kerja sama dan disiplin. |
|
|
|
|
|
|
|
25 |
Pembelajaran membantu siswa meningkatkan kesehatan fisik dan mental. |
|
|
|
|
|
|
|
26 |
Nilai akademik siswa pada PJOK meningkat. |
|
|
|
|
|
|
|
27 |
Siswa lebih percaya diri dalam kegiatan olahraga. |
|
|
|
|
|
|
|
28 |
Kurikulum membantu siswa mencapai kompetensi sesuai standar. |
|
|
|
|
|
|
LEMBAR WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Seiring dengan pelaksanaan penelitian bertajuk "Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas", saya memohon partisipasi Bapak/Ibu untuk memberikan informasi yang berharga melalui wawancara ini. Wawancara ini bertujuan untuk menggali pemahaman lebih dalam mengenai pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di sekolah penggerak, serta mengevaluasi efektivitasnya terhadap kualitas pembelajaran dan pencapaian siswa.
Melalui wawancara ini, kami berharap dapat memperoleh informasi yang komprehensif mengenai berbagai aspek implementasi kurikulum, mulai dari kebijakan sekolah, pelatihan guru, dukungan sarana dan prasarana, hingga proses dan hasil pembelajaran yang dicapai. Partisipasi Bapak/Ibu akan sangat membantu dalam proses evaluasi yang bertujuan untuk memberikan rekomendasi bagi pengembangan lebih lanjut penerapan Kurikulum Merdeka.
Kami menjamin bahwa semua informasi yang diberikan akan diperlakukan secara rahasia dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Wawancara ini akan berlangsung selama kurang lebih 30 menit. Saya sangat menghargai waktu dan kerjasama yang diberikan. Atas perhatian dan partisipasi Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Peneliti
PEDOMAN WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber :
Jabatan : Kepala Sekolah
Hari/Tanggal :
Lokasi Wawancara:
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
2. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
4. Apakah guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
5. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
6. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
7. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
8. Bagaimana dukungan dari Bapak/Ibu selaku kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
9. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
10. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
11. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
12. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
13. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
14. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
15. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
16. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
17. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
18. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
19. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
20. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
PEDOMAN WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber :
Jabatan : Guru PJOK
Hari/Tanggal :
Lokasi Wawancara:
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
2. Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi di bidang olahraga? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
3. Bagaimana kondisi budaya belajar di sekolah setelah penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pelajaran PJOK?
4. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
5. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
6. Apakah Bapak/Ibu sebagai guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
7. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh Bapak/Ibu guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
8. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
9. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
10. Bagaimana dukungan dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
11. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
12. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
13. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
14. Apakah pembelajaran PJOK di sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif? Bisa dijelaskan contohnya?
15. Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada siswa dalam proses pembelajaran PJOK?
16. Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa di kelas PJOK?
17. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
18. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
19. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
20. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
21. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
22. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
23. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
24. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
25. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
INSTRUMEN VALIDASI PAKAR
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Pengantar
Bapak/Ibu para pakar yang saya hormati, perkenankan saya menyita waktu Bapak/Ibu dalam menilai atau memvalidasi Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten ....................... yang saya lampirkan beserta dengan instrument penilaian ini. Kesediaan Bapak/Ibu dalam memvalidasi panduan ini sangat penting guna keberhasilan penelitian saya yang berjudul “Evaluasi Implementasi Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten .......................” untuk mengetahui kelayakan angket yang akan digunakan dalam pengambilan data penelitian yang saya teliti. Atas kesediaan Bapak/ Ibu untuk menilai serta memberikan masukan untuk panduan ini saya ucapkan terimakasih.
Petunjuk
Berikut ini telah disajikan beberapa item pernyataan yang berkaitan dengan Kurikulum Merdeka pada Mata Pelajaran PJOK di Sekolah Penggerak Sekolah Menengah Atas di Kabupaten ........................ Instrumen ini bertujuan untuk memperoleh masukan dan penilaian dari pakar mengenai instrumen angket yang telah disusun.Pakar dimohon memberikan penilaian dengan mencentang (✓) pada kolom yang sesuai. Masukan dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan instrumen angket agar sesuai dengan tujuan penelitian.
Identitas Pakar:
Nama Pakar :
Posisi/Jabatan :
Institusi :
Tanggal Validasi :
|
No. |
Pernyataan/Aspek yang Dinilai |
Sangat Relevan |
Relevan |
Cukup Relevan |
Tidak Relevan |
Catatan/ Saran |
|
1. |
Pernyataan dalam angket sudah sesuai dengan tujuan penelitian. |
|||||
|
2. |
Butir-butir angket mencerminkan aspek-aspek evaluasi Kurikulum Merdeka sesuai model CIPP. |
|||||
|
3. |
Pernyataan angket relevan untuk mengevaluasi pelaksanaan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK. |
|||||
|
4. |
Bahasa yang digunakan dalam angket mudah dipahami oleh responden (guru, siswa, atau pihak terkait). |
|||||
|
5. |
Pernyataan angket tidak menimbulkan multitafsir (jelas dan spesifik). |
|||||
|
6. |
Skala penilaian dalam angket sesuai untuk mengukur tingkat keberhasilan implementasi. |
|||||
|
7. |
Jumlah butir pernyataan dalam angket sudah memadai untuk menggali informasi yang diperlukan. |
|||||
|
8. |
Angket mencakup semua dimensi evaluasi CIPP: Context, Input, Process, dan Product. |
|||||
|
9. |
Format dan tata letak angket memudahkan responden dalam pengisian. |
|||||
|
No. |
Pernyataan/Aspek yang Dinilai |
Sangat Relevan |
Relevan |
Cukup Relevan |
Tidak Relevan |
Catatan/ Saran |
|
10. |
Secara keseluruhan, angket ini layak digunakan untuk tujuan penelitian. |
Mohon tuliskan komentar, masukan, atau saran untuk perbaikan instrumen angket:
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Kesimpulan
Angket penilaian di atas dinyatakan :
1. Layak digunakan tanpa revisi
2. Layak digunakan setelah dilakukan perbaikan
3. Belum layak
……………….., Januari 2025
Ahli/Pakar
…………………………..
LEMBAR INSTRUMEN ANGKET SEBELUM VALIDASI
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Petunjuk Pengisian
Instrumen ini terdiri dari 30 butir pernyataan yang kesemuanya berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Sebelum menjawab dan menentukan pilihan pada masing-masing pernyataan tersebut, Bapak/Ibu perlu mengetahui beberapa hal berikut ini :
1. Bubuhkanlah tanda silang(√) di kolom lembar jawaban yang telah disediakan.
2. Adapun pilihan yang dapat anda sampaikan adalah sebagai berikut: SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju
Instrumen ini tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan kegiatan profesi Bapak/Ibu, sehingga apapun jawaban yang akan anda berikan tidak akan mempengaruhi prestasi kerja Bapak/Ibu. Maka jawablah sesuai dengan kata hati Bapak/Ibu sendiri.
|
No |
Pernyataan |
Jawaban |
|||
|
SS |
S |
TS |
STS |
||
|
Context(Relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak) |
|||||
|
1 |
Kurikulum Merdeka mendukung visi Sekolah Penggerak untuk meningkatkan kualitas pendidikan |
|
|
|
|
|
2 |
Pembelajaran PJOK sesuai Kurikulum Merdeka relevan dengan kebutuhan siswa di sekolah ini |
|
|
|
|
|
3 |
Program Sekolah Penggerak membantu menciptakan budaya belajar yang positif di sekolah |
|
|
|
|
|
4 |
Kebijakan sekolah mendukung penerapan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
5 |
Kurikulum Merdeka membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan olahraga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari |
|
|
|
|
|
6 |
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka sesuai dengan karakteristik dan budaya lokal sekolah |
|
|
|
|
|
Input(kesiapan sumber daya dan dukungan terhadap implementasi) |
|||||
|
7 |
Guru PJOK berkewajiban mengikuti pelatihan tentang penerapan Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
8 |
Pelatihan yang diberikan kepada guru sangat membantu dalam memahami Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
9 |
Sarana olahraga di sekolah ini mendukung pelaksanaan pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
10 |
Prasarana (lapangan, alat olahraga) tersedia dan dalam kondisi baik untuk menunjang pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
11 |
Buku atau modul pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka tersedia dan mudah diakses oleh guru dan siswa |
|
|
|
|
|
12 |
Sekolah memberikan pendampingan kepada guru terkait implementasi Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
13 |
Dukungan dari kepala sekolah berperan penting dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
14 |
Orang tua siswa mendukung penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
Process (pelaksanaan pembelajaran PJOK berbasis Kurikulum Merdeka) |
|||||
|
15 |
Guru PJOK menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) sesuai Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
16 |
Guru memberikan variasi metode pembelajaran, seperti diskusi kelompok dan praktik langsung |
|
|
|
|
|
17 |
Pembelajaran PJOK memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi |
|
|
|
|
|
18 |
Pembelajaran PJOK mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif |
|
|
|
|
|
19 |
Guru memberikan umpan balik secara teratur kepada siswa selama pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
20 |
Proses pembelajaran PJOK memperhatikan kebutuhan individual siswa |
|
|
|
|
|
21 |
Siswa aktif berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
22 |
Guru menggunakan media dan teknologi untuk mendukung pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
23 |
Evaluasi pembelajaran dilakukan secara adil dan objektif |
|
|
|
|
|
24 |
Guru PJOK mampu mengelola waktu pembelajaran dengan efektif |
|
|
|
|
|
Product (hasil dari implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran) |
|||||
|
25 |
Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan olahraga setelah pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
26 |
Siswa mampu menerapkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, melalui pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
27 |
Pembelajaran PJOK membantu siswa meningkatkan kesehatan fisik dan mental |
|
|
|
|
|
28 |
Nilai akademik siswa pada mata pelajaran PJOK meningkat setelah penerapan Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
29 |
Siswa merasa lebih percaya diri dalam kegiatan olahraga setelah pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
30 |
Implementasi Kurikulum Merdeka telah membantu siswa mencapai kompetensi sesuai dengan standar yang ditetapkan |
|
|
|
|
LEMBAR INSTRUMEN ANGKET SETELAH VALIDASI
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Petunjuk Pengisian
Instrumen ini terdiri dari 30 butir pernyataan yang kesemuanya berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Sebelum menjawab dan menentukan pilihan pada masing-masing pernyataan tersebut, Bapak/Ibu perlu mengetahui beberapa hal berikut ini :
3. Bubuhkanlah tanda silang(√) di kolom lembar jawaban yang telah disediakan.
4. Adapun pilihan yang dapat anda sampaikan adalah sebagai berikut: SS : Sangat Setuju S : Setuju TS : Tidak Setuju STS : Sangat Tidak Setuju
Instrumen ini tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan kegiatan profesi Bapak/Ibu, sehingga apapun jawaban yang akan anda berikan tidak akan mempengaruhi prestasi kerja Bapak/Ibu. Maka jawablah sesuai dengan kata hati Bapak/Ibu sendiri.
|
No |
Pernyataan |
Jawaban |
|||
|
SS |
S |
TS |
STS |
||
|
Context(Relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak) |
|||||
|
1 |
Kurikulum Merdeka mendukung visi Sekolah Penggerak untuk meningkatkan kualitas pendidikan |
|
|
|
|
|
2 |
Pembelajaran PJOK sesuai Kurikulum Merdeka relevan dengan kebutuhan siswa di sekolah ini |
|
|
|
|
|
3 |
Program Sekolah Penggerak membantu menciptakan budaya belajar yang positif di sekolah |
|
|
|
|
|
4 |
Kebijakan sekolah mendukung penerapan Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
5 |
Kurikulum Merdeka membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan olahraga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari |
|
|
|
|
|
6 |
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka sesuai dengan karakteristik dan budaya lokal sekolah |
|
|
|
|
|
Input(kesiapan sumber daya dan dukungan terhadap implementasi) |
|||||
|
7 |
Guru PJOK berkewajiban mengikuti pelatihan tentang penerapan Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
8 |
Pelatihan yang diberikan kepada guru sangat membantu dalam memahami Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
9 |
Sarana olahraga di sekolah ini mendukung pelaksanaan pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
10 |
Prasarana (lapangan, alat olahraga) tersedia dan dalam kondisi baik untuk menunjang pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
11 |
Buku atau modul pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka tersedia dan mudah diakses oleh guru dan siswa |
|
|
|
|
|
12 |
Sekolah memberikan pendampingan kepada guru terkait implementasi Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
13 |
Dukungan dari kepala sekolah berperan penting dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka |
|
|
|
|
|
14 |
Orang tua siswa mendukung penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK |
|
|
|
|
|
Process (pelaksanaan pembelajaran PJOK berbasis Kurikulum Merdeka) |
|||||
|
15 |
Guru melaksanakan asesmen diagnostik sebelum memulai pembelajaran untuk mengetahui kesiapan siswa. |
|
|
|
|
|
16 |
Guru menyampaikan materi pembelajaran yang bersifat esensial dan kontekstual. |
|
|
|
|
|
17 |
Guru menerapkan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). |
|
|
|
|
|
18 |
Guru menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi sesuai kebutuhan siswa. |
|
|
|
|
|
19 |
Pembelajaran memperhatikan kebutuhan individual siswa melalui pendekatan diferensiasi. |
|
|
|
|
|
20 |
Siswa diberi kesempatan untuk berpikir kritis, kreatif, dan berkolaborasi. |
|
|
|
|
|
21 |
Guru memberikan umpan balik dan melakukan asesmen sumatif untuk mengevaluasi hasil belajar. |
|
|
|
|
|
22 |
Guru memanfaatkan media dan teknologi dalam proses pembelajaran. |
|
|
|
|
|
23 |
Evaluasi pembelajaran dilakukan secara adil dan objektif |
|
|
|
|
|
24 |
Guru PJOK mampu mengelola waktu pembelajaran dengan efektif |
|
|
|
|
|
Product (hasil dari implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran) |
|||||
|
25 |
Siswa menunjukkan peningkatan keterampilan motorik melalui aktivitas olahraga. |
|
|
|
|
|
26 |
Siswa memahami konsep dasar olahraga dan kesehatan jasmani sesuai materi PJOK. |
|
|
|
|
|
27 |
Siswa menerapkan sikap disiplin, kerja sama, dan sportivitas selama kegiatan pembelajaran. |
|
|
|
|
|
28 |
Pembelajaran PJOK membantu siswa menjaga kesehatan fisik dan keseimbangan mental. |
|
|
|
|
|
29 |
Siswa menunjukkan kepercayaan diri dan motivasi dalam mengikuti kegiatan PJOK |
|
|
|
|
|
30 |
Penerapan Kurikulum Merdeka mendukung ketercapaian kompetensi belajar siswa secara menyeluruh. |
|
|
|
|
Lampiran 3 Hasil Uji Validasi Instrumen
HASIL UJI VALIDASI INSTRUMEN
1. Hasil Skor Uji Instrumen
|
EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM MERDEKA SEKOLAH MENENGAH ATAS KABUPATEN ....................... |
|||||||||||||||||||||||||||||||
|
Resp |
Context |
Input |
Process |
Product |
jml |
||||||||||||||||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
||
|
Agus S |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
120 |
|
Yohanes |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
120 |
|
Ria A |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
119 |
|
Suhardi |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
120 |
|
Arffudin |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
102 |
|
Azia |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
91 |
|
Sudirman |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
91 |
|
Y Mau |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
3 |
90 |
2. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen
|
Reliability Statistics |
|
|
Cronbach's Alpha |
N of Items |
|
,994 |
30 |
3. Hasil Uji Validitas
Lampiran 4 Hasil Angket Penelitian
|
EVALUASI PELAKSANAAN
KURIKULUM MERDEKA SEKOLAH
MENENGAH ATAS KABUPATEN ....................... |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Resp |
Context |
Jml |
Skor |
Input |
Jml |
Skor |
Process |
Jml |
Skor |
Product |
Jml |
Skor |
||||||||||||||||||||||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
9 |
10 |
11 |
12 |
13 |
14 |
15 |
16 |
17 |
18 |
19 |
20 |
21 |
22 |
23 |
24 |
25 |
26 |
27 |
28 |
29 |
30 |
|||||||||
|
Agus S |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
31 |
97 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
39 |
98 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
24 |
100 |
|
Yohanes |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
29 |
91 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
37 |
93 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
22 |
92 |
|
Ria A |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
30 |
94 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
38 |
95 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
22 |
92 |
|
Suhardi |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
22 |
92 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
30 |
94 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
38 |
95 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
|
Arffudin |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
4 |
22 |
92 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
32 |
100 |
4 |
3 |
3 |
3 |
3 |
4 |
4 |
3 |
3 |
3 |
33 |
83 |
3 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
22 |
92 |
|
Azia |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
22 |
92 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
30 |
94 |
4 |
4 |
3 |
4 |
3 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
37 |
93 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
|
Sudirman |
4 |
3 |
3 |
4 |
4 |
4 |
22 |
92 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
30 |
94 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
38 |
95 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
23 |
96 |
|
Y Mau |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
23 |
96 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
30 |
94 |
4 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
4 |
4 |
4 |
3 |
38 |
95 |
4 |
4 |
3 |
4 |
4 |
3 |
22 |
92 |
Lampiran 6 Transkip Wawancara
HASIL TRANSKIP WAWANCARA
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Sudirman, S.Pd
Jabatan : Kepala Sekolah
Hari/Tanggal : Kamis, 20 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMA Negeri 1 Sebatik
Pertanyaan
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
- Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Sudriman : Menurut saya Kurrikulum Merdeka pada saat ini itu sangat relevan dengan visi-misi sekolah kami. Hal ini sebagaimana kita tahu bahwa kurrikulum Merdeka merupakan pedoman bagi pelaksanaan program pembelajaran di sekolah, salah satunya Mapel PJOK. Jadi Curriculum Mapel PJOK memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi siswa-siswi untuk mengembangkan bakat dan minat yang siswa miliki dalam proses pembelajaran. Dengan keberhasilan pembelajaran PJOK ini memberikan kontribusi dalam mewujudkan visi-misi sekolah kami.
2. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Sudriman : Menurut analisi saya bahwa pada saat ini kebijakan sekolah saya itu sangat mendukung pelaksanaan Curriculum Merdeka Mapel PJOK. Setiap saya konsultasi dengan keberhasilan pembelajaran PJOK, sekolah selalu memberikan respon yang baik dan memberikan perhatian serta solusi kalau ada masalah di lapangan. Ya, sehingga akan membantu pelaksananya kurrikulum PJOK dengan baik.
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Sudriman : Perlu saya sampaikan bahwa dalam pelaksanaan Curriculum Merdeka Mapel PJOK pada saat ini di sekolah kami telah memberikan pertimbangan dan kesempatan kepada siswa untuk ikut berkontribusi melaksanakan budaya lokal terkait dengan Mapel PJOK. Misalnya kegiatan senam sehat bersama yang dilaksanakan oleh sekolah secara rutin, melaksanakan program kalima, yaitu kebersihan, kesehatan, keindahan, kebugaran, dan ketertiban. Selain itu, siswa juga diminta untuk menguasai dan mengembangkan budaya lokal senam khas dengan daerah misalnya senam Yameto. Sehingga upaya untuk mencintai budaya lokal yang juga terkait dengan pembelajaran PJOK.
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
4. Apakah guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Sudriman :Perlu saya informasikan bahwa saya sendiri, Bapak Kepala Sekolah, telah mengikuti beberapa kali pelatihan. Apalagi memang SMA Satu Sebatikan merupakan sekolah penggerak yang merupakan sekolah pertama yang implementasikan kurikulum redika. Apa yang berkaitan dengan mata pelajaran PJOK, ini sangat membantu kami dalam bisa memandu atau meningkatkan kompetensi guru PJOK dalam memahami dan melaksanakannya di lapangan. Pada proses pembelajaran PJOK yang dilaksanakan secara baik dan berkesilambungan.
5. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Sudriman : Terus terang saya sampaikan bahwa pelatihan yang saya ikuti sangat efektif dan membantu saya dalam memahami dan mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya dilaksanakan pada saat sebelum guru PJOK menerapkan implementasi kurikulum redika padahal proses pembelajaran. Ya, pada saat pembelajaran, kemudian pada saat setelah pembelajaran. Jadi memang pelatihan ini sangat efektif dilakukan atau dilaksanakan untuk mengembangkan kompetensi guru PJOK dalam pelayanan pembelajaran.
6. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Sudriman : Menurut saya bahwa sarana-persarana ini sangat dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran Mapel PJOK. Ya, kelengkapan sarana-persarana sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan capaian pembelajaran Mapel PJOK.Setelah pembelajaran Mapel PJOK di sekolah, saya termasuk dalam kategori yang baik yang disiapkan oleh sekolah. Sehingga siswa dapat mengembangkan potensi dalam bidang PJOK, baik secara mandiri maupun secara kolaborasi
7. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Sudriman : Perlu saya sampaikan bahwa modul dan materi pembelajaran telah disiapkan secara garis besar dalam KOSP Sekolah atau Kurikulum Satuan Operasional Sekolah. Guru PJOK membuat dan mengusun modul pembelajaran secara sistematis menurut sistematika modul pembelajaran yang telah ditetapkan. Selanjutnya, modul pembelajaran ini digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran
8. Bagaimana dukungan dari Bapak/Ibu selaku kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Sudriman : kepala sekolah, sebagai saya sebagai kepala sekolah, ini sangat mendukung penerapan implementasi kurikulum redika, terutama makbul PJOK. Saya selalu memberi motivasi dan penguatan dan pengembangan SDM Kompetensi kepada guru PJOK dalam mengembangkan pembelajaran yang dilaksanakan secara baik pada proses pembelajaran di sekolah
9. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Sudriman : Perlu sampaikan bahwa secara umum orang tua atau wali sangat mendukung implementasi kurikulum redika, salah satunya makbul PJOK. Orang tua diminta memberi respon atau kontribusi kepada sekolah atau guru mapel terkait proses pembelajaran yang telah diikuti putra-putrinya. Apabila ada masalah atau kendaraan dalam pembelajaran PJOK, orang tua selalu diberi akses untuk memberikan masukan dan saran demi keberhasilan pembelajaran, terutama pembelajaran PJOK.
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
10. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Sudriman : Secara umum kebanyakan seperti metode kurikulum sebelumnya, namun sebagaimana metode pembelajaran yang baru yang ditarapkan dalam kurikulum redika, yaitu metode pembelajaran berdata diferensiasi yang didasarkan pada level kemampuan awal beserta didik dan pengembangan bakal minat siswa dalam proses pembelajaran.
11. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Sudriman : Dalam pembelajaran PJOK, sesuai pengetahuan kami dalam pembelajaran PJOK, proses pembelajaran menggunakan prinsip student center, artinya bahwa proses pembelajaran berpusat pada siswa dan juga menerapkan kolaborasi sesama siswa selama pembelajaran sehingga memberikan pengalaman belajar yang baru bagi siswa yang pada akhirnya dapat membantu capaian hasil belajar yang maksimal.
12. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Sudriman : pembelajaran PJOK di sekolah ini itu sangat memberi kesempatan yang sama bagi peserta lidik untuk berpikir kreatif dan inovatif. Contohnya berpikir kreatif misalnya siswa diberi kesempatan praktik dan menjelaskan bagaimana cara passing bawa pada bola volley agar hasilnya bagus.Contohnya sifat inovatif, siswa misalnya memberikan kesempatan pada siswa bagaimana agar latihan saat smash bola volley agar lompatan meningkat secara signifikan. Nah ini yang bentuk yang misalnya Pak dalam bagaimana mengembangkan berpikir kreatif dan inovatif.
13. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Sudriman : dalam pembelajaran PJOK di sekolah kami itu memang penggunaan teknologi juga kita terapkan dalam proses pembelajaran untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang akan dipelajari nantinya. Jadi misalnya adalah penggunaan projektor dalam proses pembelajaran apabila pembelajaran itu dilaksanakan secara menggunakan materi pembelajaran. Kemudian penggunaan kanva dan aplikasi rekaman video serta youtube ini juga dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Dan apalagi memang di sekolah kami itu ada pengembangan bahwa setiap 1 kali pertemuan di CP itu wajib hukumnya guru baik dari guru umum maupun guru PJOK itu harus sama-sama menonton video pencegahan perundungan di Satuan Pendidikan. Itu adalah salah satu bentuk implementasi pengembangan teknologi di sekolah di proses pembelajaran baik pelajaran termasuk adalah pembelajaran PJOK
14. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Sudriman : evaluasi dalam proses pembelajaran PJOK di sekolah itu dilaksanakan diantaranya dengan dilaksanakannya oleh guru umum maupun adalah tes tertulis untuk mengetahui kemampuan tingkat pengetahuan jiwa. Kemudian penilaian keterampilan melalui pengamatan langsung oleh guru dan oleh siswa bersama-sama dalam penilaian sikap selama pelaksanaan pembelajaran PJOK dengan pengamatan langsung oleh guru dan siswa. Jadi untuk evaluasi itu dikembangkan juga sama dengan kurikulum yang pertama adalah pengembangan potensi kognitif kemudian motorik adalah teori dan sikap juga harus diperhatikan atau juga bagian daripada evaluasi proses pembelajaran PJOK.
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
15. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Sudriman : Menurut pengamatan saya setelah dilaksanakan kurikulum merdeka banyak perkembangan keterampilan siswa itu menjadi lebih baik. Hal ini dikarenakan kurikulum merdeka memberikan kesempatan dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses pembelajaran dan juga pimpinan guru secara intensif sehingga pembelajaran berfokus kepada keberhasilan belajar siswa dan keterampilan siswa.
16. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Sudriman : Penerapan nilai-nilai Pancasila senantiasa diterapkan dalam proses pembelajaran.Kenapa? Karena memang kita memang menekankan kepada dalam proses pembelajaran harus mengembangkan dimensi profil pelajar Pancasila. Yang seperti bapak sampaikan tadi bahwa ada enam dimensi yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran. Kemudian dalam Keripul Merdeka memang adalah salah satu tugas guru adalah mewujudkan profil pelajar Pancasila.Siswa harus dapat menunjukkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pembelajaran. Misalnya kerjasama. Kerjasama ini berkaitan dengan berhutang royong. Kemudian siswa harus benar-benar bisa mewujudkan kerjasama dalam pembelajaran PJOK. Misalnya contoh kerjasama dalam sifat bola. Demikian juga dengan disiplin siswa menunjukkan kedisiplin dalam kehadiran dan disiplin dalam melaksanakan tugas pembelajaran.
17. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Sudriman : Kurikulum Merdeka mempunyai pengaruh yang sangat baik, pengaruh yang sangat signifikan bagi kesehatan fisik dan mental peserta didik. Hal ini dikarenakan kurikulum Merdeka terutama Mapel PJOK memberikan kebebasan kemudian tanggung jawab dan penanaman nilai Pancasila dalam proses pembelajaran sehingga siswa melaksanakan dengan senang hati atau melaksanakan secara sukarela.
18. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Sudriman : sesuai dengan pengawatan kami perlu sampaikan bahwa terkait hasil akademik setelah ditarapkan Kurikulum Merdeka bahwa saya secara umum melihat atau mengamati peningkatan yang lebih baik. Hal ini dapat dilihat dari hasil tes formatif kemudian tes ulangan harian maupun ulangan tengah semester yang telah ditempuh siswa. Menunjukkan ada hasil peningkatan yang secara signifikan. Hal ini dikarenakan kurikulum Merdeka memberikan kebebasan dan tanggung jawab selama dalam proses pembelajaran.
19. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Sudriman : Terkait perkembangan rasa percaya diri siswa memang sesuai dengan pengawatan kami perlu sampaikan bahwa rasa percaya diri pada siswa juga mengalami peningkatan yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari evaluasi proses selama proses pembelajaran. Siswa tidak lagi takut atau minder ketika ditunjuk atau secara sadar untuk dalam menyampaikan atau memprestasikan hasil belajar. Memimpin pemanasan kemudian menjawab pertanyaan guru dan memberi tanggapan dan sebagainya.
20. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Sudriman : Pada kenyataannya saya sampaikan bahwa kompetensi siswa yang kita lihat bahwa itu dapat tercapai sesuai apa yang kita harapkan atau yang ditetapkan oleh guru pejoka dapat tercapai karena beberapa faktor. Di antaranya adalah mungkin kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran, kemudian kesiapan guru, kelengkapan safras, kemudian penggunaan metode atau model belajar yang baik atau yang tepat dan kolaborasi serta komitmen bersama guru dan siswa sungguh-sungguh dalam melaksanakan proses pembelajaran yang lebih baik.
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Suhardi, S.Pd
Jabatan : Guru PJOK
Hari/Tanggal : Kamis, 20 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMA Negeri 1 Sebatik
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
- Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Suhardi : kurikulum merdeka pada saat ini sangat relevan dengan visi misi di sekolah saya. Hal ini kita ketahui bahwa kurikulum merdeka merupakan pedoman bagi pelaksanaan program pembelajaran di setiap sekolah, salah satunya di sekolah saya. Kurikulum mapel PJOK memberikan kemerdekaan dan kebebasan bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan minat yang siswa memiliki dalam proses pembelajaran. Dengan keberhasilan pembelajaran PJOK, ini memberikan kontribusi dalam mewujudkan visi misi sekolah saya.
2. Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi di bidang olahraga? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Pak Suhardi : Kurikulum merdeka mapel PJOK yang telah kami laksanakan di sekolah telah banyak membantu peserta didik mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki dan menjadi lebih baik dan lebih berkembang yang dilakukan melalui latihan olahraga pada saat jam pelajaran PJOK
3. Bagaimana kondisi budaya belajar di sekolah setelah penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pelajaran PJOK?
Pak Suhardi : Terus terang saya sampaikan bahwa kondisi budaya belajar mapel PJOK di sekolah saya membawa siswa belajar lebih menyenangkan, siswa lebih antusias dan semangat dalam proses pembelajaran sehingga memberikan banyak dampak yang sangat baik terhadap perkembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap menjadi lebih baik lagi.
4. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Suhardi : pada saat ini kebijakan sekolah saya sangat mendukung pelaksanaan kurikulum merdeka mapel PJOK dimana setiap konsultasi untuk keberhasilan pembelajaran PJOK sekolah selalu memberikan respon yang sangat baik dan memberikan perhatian serta solusi kalau ada masalah di lapangan sehingga membantu telaksananya kurikulum merdeka.
5. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Suhardi : pelaksanaan kurikulum merdeka pada saat ini di sekolah saya telah memberikan pertimbangan dan kesempatan kepada siswa untuk ikut berkontribusi melaksanakan budaya lokal terkait mapel PJOK misalnya Pak, kegiatan senam sehat yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Jum'at melaksanakan program K5 yaitu kebersihan, kesehatan, keindahan, kebugaran, dan ketertiban Selain itu, siswa juga diminta untuk menguasai dan mengembangkan budaya lokal senam khas daerah misalnya senam Yameto, Pak sebagai upaya untuk mencipta budaya lokal yang sangat terkait dengan mapel PJOK
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
6. Apakah Bapak/Ibu sebagai guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Suhardi : perlu saya informasikan bahwa saya selaku guru PJOK telah mengikuti berbagai-berbagai pelatihan ataupun implementasi Kurukulum Mata Pelajaran PJOK yang mana baru tahun kemarin yang dilaksanakan di Terakan Hal ini sangat membantu saya dalam memahami dan melaksanakannya di lapangan pada saat proses belajar mengajar PJOK.
7. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh Bapak/Ibu guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Suhardi : pelatihan yang saya ikut sangat efektif Pak dan membantu saya dalam memahami dan mempersiapkan segala sesuatu yang seharusnya dilaksanakan pada saat-saat pembelajaran di sekolah, Pak Pada saat pembelajaran dan pada saat setelah pembelajaran terlaksananya
8. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Suhardi : menurut saya sarana dan prasarana sangat dibutuhkan, untuk mendukung pembelajaran PJOK kelengkapan sarana-prasarana sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan CP Mapel PJOK, Sarapras pembelajaran Mapel di sekolah saya, termasuk dalam kategori cukup baik, dibantu dengan bendahara dan kepala sekolah
9. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Suhardi : Perlu saya sampaikan juga bahwa modul dan materi pembelajaran telah disiapkan secara garis besar selanjutnya guru PJOK membuat atau menyusun juga, Pak, modul pembelajaran secara sistematis menurut sistematika modul pembelajaran yang telah ditetapkan,
10. Bagaimana dukungan dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Suhardi : Kepala Sekolah kami sangat mendukung penerapan ataupun implementasi Kurukulum Merdeka Mapel PJOK, Saya selalu konsultasi terkait segala sesuatu yang diperlukan dalam pembelajaran PJOK dengan Kepala Sekolah, Hal ini saya lakukan agar pelaksanaan implementasi Kurukulum Merdeka dapat dilaksana dengan baik
11. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Suhardi : secara umum, orang tua atau wali sangat-sangat mendukung implementasi Kurukulum Merdeka, Salah satunya adalah Mapel PJOK, Orang tua biasa memberikan respon sangat bagus, Pak, terkait proses pembelajaran yang telah diikuti putra-putrinya di sekolah Apabila ada masalah atau kendala, orang tua selalu diberikan akses untuk memberikan masukan dan saran demi keberhasilan pembelajaran kita, Jadi orang tua di sini berperan aktif.
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
12. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Suhardi: secara umum saya jelaskan di sini, Pak Kebanyakan seperti metode kurikulum sebelumnya, di mana metode sebelumnya pembelajaran yang baru dalam kurikulum merdeka, yaitu metode pembelajaran berdefensiasi Yang didasarkan pada level-level kemampuan peserta didik, dan di situ juga pengembangan bakat dan minat siswa akan disalurkan dalam proses pembelajaran
13. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Suhardi: prosesnya itu menggunakan prinsip student center artinya proses itu pembelajaran berpusat pada siswa ataupun peserta didik Juga menerapkan kolaborasi antar siswa Selama ini pembelajarannya sangat memberikan pengalaman belajar yang sangat baik untuk para peserta didik
14. Apakah pembelajaran PJOK di sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif? Bisa dijelaskan contohnya?
Pak Suhardi: Tentu, sangat membantu di mana pembelajaran PJOK di sekolah saya sendiri. Memberikan kesempatan yang sama bagi para peserta didik Untuk berpikir secara kreatif dan inovatif. Contohnya berpikir kreatif, misalnya siswa diberikan kesempatan praktik dan menjelaskan bagaimana cara pasing bawa Ya, itu contoh ya, Materinya bola voli pasing bawa dan pasing atas Agar hasilnya sangat bagus Contohnya, sikap inovatif itu siswa bisa memberikan kesempatan pada siswa lain Bagaimana agar latihan saat semester bola voli Semesternya, Pak, agar lompatannya sangat-sangat bermanfaat begitu.
15. Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada siswa dalam proses pembelajaran PJOK?
Pak Suhardi: Untuk masalah umpan balik dalam pembelajaran PJOK diberikan oleh guru, oleh saya sendiri memberikan evaluasi dan menganalisis hasil kemampuan siswa Selama dalam proses pembelajaran, umpan baliknya bisa bersifat pribadi ataupun klasikal
16. Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa di kelas PJOK?
Pak Suhardi: saya itu biasanya melakukan wawancara, Observasi dan tes awal kepada siswa Jadi, dari situ saya bisa mendapatkan informasi awal atau data awal anak-anak Apakah anak-anak ini masuknya di pembelajaran itu bisa ikut serta
17. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Suhardi: seluruh siswa saya, Pak, itu alhamdulillah aktif Dan mengikuti proses pembelajarannya sangat-sangat baik dimana ada pun faktornya juga yang mempengaruhinya adalah partisipasi aktif siswa dan adanya kesesuaian materi dengan apa yang siswa butuhkan dimana kita menggunakan metode yang menyenangkan selama pembelajaran dan kolaborasi dengan siswa-siswa lain serta adanya permainan dalam proses pembelajaran
18. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Suhardi: Alhamdulillah dalam proses pembelajaran PJOK di sekolah saya itu tentang terkait teknologi Contoh yang kami sekarang masuk di materi senam Kami menggunakan teknologi seperti slide ataupun proyektor Subsystem
19. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Suhardi: untuk proses evaluasi saya dalam Mapel saya di sekolah saya adalah menggunakan ujian tes tertulis supaya bisa mengetahui kemampuan tingkat siswa kemampuan tingkat pengetahuan siswa penilaiannya seperti keterampilan melalui pengamatan langsung dan penilaian sikap dalam pelaksanaan proses pembelajaran PJOK Dengan pengamatan langsung oleh saya sendiri
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
20. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Suhardi: pengamatan yang saya lakukan Setelah dilaksanakan kurikulum Merdeka Banyak pengembangan keterampilan peserta didik menjadi lebih baik Iya, lebih baik karena kurikulum Merdeka memberikan kebebasan dan tanggung jawab kepada anak-anak kita ataupun peserta didik yang kita ajar
21. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Suhardi: Selama proses pembelajaran saya dapat saya laporkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila itu Saya terapkan
22. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Suhardi: kurikulum Merdeka Mempunyai pengaruh yang sangat baik, Pak Bagi kesehatan fisik dan mental hak ini dikarenakan kumer Untuk mampu saya memberikan kebebasan Tanggung jawab dan penanaman nilai Pancasila dalam proses pembelajaran Sehingga peserta didik dapat melaksanakan dengan senang hati dalam pembelajaran PJOK Baik, jadi Saya sangat ada pengalaman yang positif, ya Terhadap kesehatan fisik dan mental siswa
23. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Suhardi: Alhamdulillah ada. Hal ini dapat saya ketahui dari hasil tes formatif ataupun ulangan harian Permisi, ya Iya Hal ini dikarenakan kumer ataupun kurikulum Merdeka Memberikan kebebasan dalam Memberikan kebebasan dalam bertanggung jawab dalam PBM baik
24. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Suhardi: Terkait perkembangan rasa percaya diri siswa saya sampaikan ya bahwa perkembangannya sangat percaya diri Sangat bagus mengalami peningkatan yang baik juga kita ketahui bahwa proses selama PBM peserta didik tidak lagi takut atau minder ketika ditunjuk oleh guru
25. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Suhardi : bahwa kompetensi peserta didik dapat tercapai sesuai apa yang telah ditetapkan dapat tercapai dikarenakan beberapa faktor, Pak dari kesiapan siswa, kesiapan guru kelengkapan sapras Penggunaan metode yang tepat dan kolaborasi serta ada juga, Pak, itu komitmennya bersama guru dan siswa
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Ariffudin, S.E, S.Pd
Jabatan : Kepala Sekolah
Hari/Tanggal : Senin, 24 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMAIT IBNUSINA
Pertanyaan
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Ariffudin : Kurikulum Merdeka sangat relevan dengan visi dan misi sekolah sebagai Sekolah Penggerak, karena memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian dan kreativitas. Dalam mata pelajaran PJOK, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi lebih diarahkan kepada pembelajaran praktik yang menyenangkan dan aplikatif, sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka yang berfokus pada penguatan karakter dan kompetensi peserta didik.
2. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Ariffudin : Sekolah mendukung sepenuhnya kebijakan Kurikulum Merdeka, termasuk dalam pembelajaran PJOK. Hal ini terlihat dari pelaksanaan kurikulum secara menyeluruh, keterlibatan aktif guru, dan dukungan struktural dari manajemen sekolah untuk memastikan pelaksanaan kurikulum berjalan optimal, sebagai bagian dari komitmen SMAIT Ibnusina sebagai Sekolah Penggerak angkatan pertama.
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Ariffudin : Ya, Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal dan kondisi nyata sekolah. Implementasinya disesuaikan dengan sarana-prasarana yang tersedia serta kemampuan siswa. Guru-guru PJOK berupaya menyelaraskan materi dengan kearifan lokal, kemampuan fisik, dan konteks lingkungan siswa, sehingga lebih kontekstual dan bermakna.
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
4. Apakah guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Ariffudin : Guru PJOK telah mengikuti pelatihan baik secara offline (selama satu bulan) maupun online. Pelatihan ini sangat membantu karena memberikan pemahaman mendalam tentang karakteristik Kurikulum Merdeka, peran guru dalam memfasilitasi pembelajaran berbasis praktik, serta strategi pengajaran yang berorientasi pada penguatan karakter dan kompetensi siswa
5. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Ariffudin : Pelatihan tersebut sangat efektif. Guru mampu menyusun dan menerapkan pembelajaran PJOK berbasis praktik, memperhatikan aspek pengembangan karakter, serta menyesuaikan metode evaluasi dengan pendekatan Kurikulum Merdeka. Siswa pun mampu langsung mempraktikkan teori yang dipelajari dalam kegiatan nyata, baik di sekolah maupun di luar sekolah..
6. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Ariffudin : Sarana dan prasarana masih terbatas karena sekolah tergolong baru, namun sekolah menyiasati dengan meminjam fasilitas dari instansi luar, seperti kantor DPR untuk kegiatan futsal, dan PBB untuk bulutangkis. Walau terbatas, usaha ini membuktikan bahwa sekolah tetap berkomitmen tinggi untuk mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan prinsip Kurikulum Merdeka
7. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Ariffudin : Ya, tersedia modul dan buku pendamping dari Penerbit Tiga Serangkai serta buku bantuan dari pemerintah. Materi ini digunakan secara aktif oleh guru PJOK sebagai acuan dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta sebagai referensi dalam penilaian dan evaluasi siswa
8. Bagaimana dukungan dari Bapak/Ibu selaku kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Ariffudin : Kepala sekolah memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitasi kegiatan lomba, pengadaan sarana, hingga mendorong kolaborasi antar sekolah. PJOK menjadi salah satu mata pelajaran unggulan dalam menunjukkan nilai-nilai kolaborasi, sportivitas, dan prestasi siswa yang selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka
9. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Ariffudin : Orang tua siswa sangat terlibat aktif dan memberikan dukungan maksimal, baik secara moril maupun materiil. Mereka bahkan membeli sendiri perlengkapan olahraga anak-anaknya, serta selalu berkoordinasi dengan sekolah untuk menunjang pembelajaran PJOK dan pengembangan prestasi anak-anak mereka.
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
10. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Ariffudin : Saat ini pembelajaran PJOK menggunakan pendekatan yang berbasis praktik dan eksploratif, menggantikan pendekatan lama yang lebih bersifat teoritis. Guru menerapkan metode deep learning, yang mendorong siswa memahami materi secara mendalam, aktif secara fisik, serta terlibat secara langsung dalam pembelajaran.
11. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Ariffudin : Guru PJOK secara konsisten melibatkan siswa dalam kolaborasi, baik dalam bentuk kerja kelompok, pertandingan, latihan bersama, hingga uji tanding dengan sekolah lain. Hal ini membentuk kemampuan sosial dan kerja sama antar siswa.
12. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Ariffudin : Siswa sangat aktif dan antusias mengikuti PJOK. Faktor utama yang mendorong partisipasi mereka adalah pembelajaran berbasis praktik yang menyenangkan, serta minat tinggi terhadap kegiatan fisik. PJOK menjadi pelajaran yang sangat ditunggu-tunggu oleh siswa.
13. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Ariffudin : Teknologi digunakan meskipun masih terbatas. Perangkat seperti stopwatch, alat pengukur kesehatan, jam olahraga, proyektor, dan koneksi internet telah digunakan dalam pembelajaran PJOK. Namun, penerapan teknologi digital seperti aplikasi pembelajaran belum maksimal karena keterbatasan fasilitas
14. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Ariffudin : Evaluasi dilakukan melalui asesmen praktik dan tertulis, dengan fokus pada kemampuan fisik dan penerapan nilai-nilai sikap. Guru telah dibekali pelatihan untuk melakukan penilaian yang adil, objektif, dan berbasis kompetensi, sesuai dengan standar Kurikulum Merdeka.
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
15. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Ariffudin : Terdapat peningkatan signifikan dalam keterampilan olahraga siswa, terutama bagi mereka yang aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Siswa lebih terlatih, disiplin, dan mampu menunjukkan prestasi dalam berbagai cabang olahraga.
16. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Ariffudin : Ya, nilai-nilai Pancasila seperti kerja sama, tanggung jawab, dan disiplin sangat ditekankan dalam PJOK. Siswa menunjukkan penerapannya melalui sikap sportif saat bertanding, bekerja sama dalam kelompok, dan menjaga kedisiplinan saat latihan atau pembelajaran berlangsung.
17. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Ariffudin : Kurikulum Merdeka sangat berdampak positif terhadap kesehatan fisik dan mental siswa. Dibandingkan masa pandemi (online), siswa kini jauh lebih aktif, sehat, dan ceria. Aktivitas fisik rutin melalui PJOK membantu pemulihan kondisi mental dan sosial siswa.
18. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Ariffudin : Ya, hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK meningkat, terlihat dari nilai raport dan prestasi olahraga. Penilaian juga menunjukkan capaian kompetensi siswa yang tinggi, menandakan keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka.
19. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Ariffudin : Rasa percaya diri siswa mengalami peningkatan yang signifikan, terutama karena mereka dilibatkan dalam latihan bersama, uji tanding, dan kolaborasi lintas sekolah. Hal ini membantu siswa tampil percaya diri dalam berbagai kegiatan fisik dan sosial.
20. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Ariffudin : Ya, siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan. Nilai-nilai mereka melampaui KKM, dan mereka menunjukkan kemajuan dari aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan karakter, sesuai indikator dalam Kurikulum Merdeka.
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Agus Setiansyah, S.Si, M.Si
Jabatan : Guru PJOK
Hari/Tanggal : Senin, 24 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMAIT IBNUSINA
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Agus S : Kurikulum Merdeka sangat relevan dan selaras dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, khususnya dalam mengembangkan potensi siswa baik dari sisi akademik maupun non-akademik. Dalam konteks PJOK, Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada guru dan siswa untuk menyusun serta mengikuti pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Hal ini mencerminkan visi sekolah untuk membentuk peserta didik yang aktif, sehat secara jasmani dan rohani, serta mampu berprestasi dalam bidang olahraga. Kurikulum ini mendorong siswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan fisik yang tidak hanya memperkuat fisik mereka, tetapi juga membangun karakter seperti kerja sama, sportivitas, dan kedisiplinan. Maka, sangat tepat bahwa Kurikulum Merdeka mendukung arah pengembangan sekolah sebagai Sekolah Penggerak
2. Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi di bidang olahraga? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Pak Agus S : Sangat menjawab. Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan ruang dan peluang bagi peserta didik agar dapat mengembangkan potensi sesuai dengan minat dan bakatnya. Dalam pelajaran PJOK, hal ini sangat terasa karena siswa tidak dipaksa untuk mengikuti satu bentuk kompetensi saja, melainkan diberikan kebebasan untuk mengeksplorasi berbagai cabang olahraga yang sesuai dengan ketertarikan dan kekuatan masing-masing. Hal ini membantu siswa lebih fokus dan termotivasi dalam belajar serta berlatih. Mereka tidak hanya melakukan kegiatan fisik secara rutin, tetapi juga memahami pentingnya olahraga dalam menjaga kesehatan, membangun keterampilan motorik, dan menyiapkan diri untuk berkompetisi secara sehat
3. Bagaimana kondisi budaya belajar di sekolah setelah penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pelajaran PJOK?
Pak Agus S : Budaya belajar siswa mengalami perubahan positif yang signifikan setelah penerapan Kurikulum Merdeka. Dalam mata pelajaran PJOK, siswa menjadi lebih antusias, semangat, dan disiplin dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka lebih aktif dalam kegiatan fisik, karena pendekatan pembelajaran yang digunakan lebih mengarah pada praktik dan pengalaman nyata. Kurikulum Merdeka mengurangi beban teori yang sebelumnya cukup dominan, dan menggantinya dengan kegiatan yang lebih aplikatif. Hal ini membuat siswa tidak hanya belajar karena kewajiban, tetapi karena mereka menikmati prosesnya. Selain itu, kebiasaan positif seperti datang tepat waktu, menyiapkan perlengkapan, serta menjaga sikap sportif mulai tumbuh secara alami dalam diri siswa.
4. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Agus S : Kebijakan sekolah sangat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, terutama dalam pelajaran PJOK. Pihak sekolah menunjukkan komitmennya dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan, meskipun sekolah tergolong baru. Misalnya, ketika guru membutuhkan alat olahraga seperti lempar lembing, pihak sekolah dengan segera menyediakannya. Ini menunjukkan bahwa kebijakan sekolah tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam bentuk dukungan nyata terhadap kebutuhan guru dan siswa. Selain itu, sekolah juga mendukung pelatihan guru serta membuka ruang diskusi dalam pengembangan kurikulum yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik
5. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Agus S : Ya, Kurikulum Merdeka sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah. Implementasinya disesuaikan dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah, seperti dalam konteks SMAIT Ibnusina yang berbasis Islam. Dalam pelajaran PJOK, penerapan budaya lokal terlihat dari pemisahan kegiatan antara siswa laki-laki dan perempuan, serta penyesuaian kegiatan olahraga agar tetap menjaga nilai-nilai kesopanan dan etika. Sekolah memberikan perhatian khusus pada kebutuhan masing-masing kelompok tanpa mengurangi kualitas pembelajaran. Ini membuktikan bahwa Kurikulum Merdeka cukup fleksibel untuk diterapkan di berbagai konteks budaya dan lingkungan, termasuk sekolah berbasis agama seperti SMAIT Ibnusina.
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
6. Apakah Bapak/Ibu sebagai guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Agus S : Ya, saya telah mengikuti pelatihan resmi terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Pelatihan ini sangat membantu dalam memahami struktur kurikulum, alur capaian pembelajaran, serta metode penilaian yang lebih holistik. Melalui pelatihan ini, saya mendapatkan wawasan baru tentang bagaimana menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa secara individual, merancang pembelajaran berbasis proyek atau praktik langsung, dan memanfaatkan penilaian formatif untuk mendorong kemajuan siswa. Pelatihan juga memperkuat pemahaman tentang pentingnya fleksibilitas guru dalam mendesain pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa dan kondisi sekolah
7. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh Bapak/Ibu guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Agus S : Pelatihan yang diikuti sangat efektif dan aplikatif. Dalam pelatihan tersebut, kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga diberikan contoh praktik yang bisa langsung diterapkan di kelas. Materi pelatihan meliputi perencanaan pembelajaran yang menyesuaikan dengan minat dan bakat siswa, penggunaan asesmen autentik, serta pengelolaan kegiatan belajar yang menyenangkan dan bermakna. Kami juga diajarkan untuk memaksimalkan sarana yang ada serta berkolaborasi dengan pihak sekolah dan orang tua untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Secara keseluruhan, pelatihan memberikan bekal yang cukup untuk menerapkan Kurikulum Merdeka secara optimal dalam mata pelajaran PJOK
8. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Agus S : Sarana dan prasarana di sekolah mendukung pembelajaran PJOK dengan sangat baik, meskipun sekolah tergolong baru. Sekolah berkomitmen untuk memenuhi kebutuhan alat dan fasilitas olahraga sesuai permintaan guru. Contohnya, saat guru membutuhkan alat untuk pelajaran lempar lembing, pihak sekolah langsung menyediakan alat tersebut. Ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya mendukung secara administratif, tetapi juga secara nyata dalam bentuk penyediaan fasilitas. Fasilitas yang tersedia sangat membantu siswa dalam melakukan kegiatan praktik secara maksimal, sehingga tujuan pembelajaran Kurikulum Merdeka yang berbasis aktivitas dan pengalaman langsung bisa tercapai dengan optimal.
9. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Agus S :, Ya, sekolah menyediakan modul pembelajaran dan referensi untuk mata pelajaran PJOK yang diperbarui setiap tahun ajaran. Modul ini disusun mengacu pada struktur Kurikulum Merdeka dan berisi capaian pembelajaran serta indikator yang harus dicapai siswa. Adanya modul ini membantu guru dalam merancang kegiatan pembelajaran yang terarah dan terukur. Selain itu, modul tersebut juga memperkaya proses pembelajaran dengan menyertakan berbagai pendekatan yang kontekstual dan sesuai dengan karakter siswa. Dengan demikian, guru tidak bekerja sendiri, tetapi memiliki panduan yang jelas dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran PJOK secara menyeluruh
10. Bagaimana dukungan dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Agus S : Kepala sekolah memberikan dukungan penuh dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya untuk mata pelajaran PJOK. Dukungan ini diberikan melalui fasilitas pelatihan, koordinasi internal, serta ketersediaan waktu dan anggaran untuk pembelajaran berbasis praktik. Kepala sekolah juga terbuka terhadap masukan dari guru, dan mendorong guru untuk berinovasi serta menjalin kolaborasi dengan sekolah lain. Dalam praktiknya, kepala sekolah memfasilitasi guru PJOK dalam kegiatan lintas sekolah seperti latihan bersama dan pertandingan persahabatan, yang sangat berdampak pada pengembangan keterampilan siswa serta peningkatan kepercayaan diri mereka.
11. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Agus S : Orang tua siswa sangat terlibat dalam mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pembelajaran PJOK. Bentuk keterlibatan mereka di antaranya adalah menyediakan alat-alat pribadi seperti sepatu olahraga, pelindung lutut, baju olahraga, dan alat keselamatan lainnya. Selain itu, mereka juga memberikan dukungan moral dan motivasi kepada anak-anak mereka untuk aktif mengikuti pelajaran PJOK. Orang tua menyadari pentingnya olahraga dalam mendukung pertumbuhan fisik, mental, dan karakter anak, sehingga mereka bersedia bekerja sama dengan sekolah dalam mendukung kegiatan luar kelas yang bermanfaat bagi perkembangan anak
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
12. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Agus S: Ya, metode pembelajaran berubah menjadi lebih menekankan pada praktik langsung di lapangan. Kegiatan teori tetap ada, tetapi porsinya lebih kecil dibanding praktik. Siswa diberi ruang untuk bereksplorasi dan menyesuaikan latihan dengan minatnya. Hal ini membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna
13. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Agus S: Siswa diajak berkolaborasi baik di kelas maupun lintas sekolah, seperti dalam latihan bersama. Hal ini membangun kepercayaan diri siswa, meningkatkan kerja sama tim, dan memberi mereka pengalaman nyata. Kolaborasi membuat siswa belajar dari satu sama lain dan lebih semangat mengikuti PJOK
14. Apakah pembelajaran PJOK di sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif? Bisa dijelaskan contohnya?
Pak Agus S : Pembelajaran PJOK mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan mengembangkan strategi latihan sendiri. Siswa juga belajar mandiri dalam memperbaiki teknik gerakan. Guru memberikan tantangan yang memicu siswa untuk berinovasi sesuai kemampuan masing-masing
15. Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada siswa dalam proses pembelajaran PJOK?
Pak Agus S: Umpan balik diberikan secara langsung setelah praktik atau melalui refleksi. Guru juga melibatkan siswa dalam mengamati dan mengevaluasi teknik teman-temannya. Hal ini membangun budaya belajar yang saling mendukung dan memperkuat pemahaman teknik olahraga
16. Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa di kelas PJOK?
Pak Agus S : Guru mengidentifikasi minat dan bakat siswa sejak awal tahun. Pembelajaran dirancang agar siswa bisa berkembang sesuai kekuatannya. Siswa difasilitasi untuk fokus pada cabang olahraga yang mereka sukai dan kuasai
17. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Agus S : Siswa sangat aktif karena pembelajaran PJOK berbasis praktik dan menyenangkan. Faktor yang memengaruhi antara lain suasana belajar yang positif, pendekatan praktik, dan dukungan guru. Minat pribadi siswa terhadap aktivitas fisik juga sangat berpengaruh
18. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Agus S : Teknologi digunakan untuk mengukur performa siswa seperti waktu lari atau jarak. Alat seperti stopwatch dan video digunakan untuk analisis teknik. Ini membantu siswa melihat perkembangan dan memahami materi lebih baik
19. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Agus S : Evaluasi dilakukan berdasarkan kemampuan dan minat siswa di bidang tertentu. Siswa tidak dipaksakan menguasai semua cabang olahraga. Penilaian fokus pada pencapaian yang realistis dan mendorong potensi siswa berkembang
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
20. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Agus S : Keterampilan meningkat karena siswa lebih disiplin dan terarah. Mereka aktif melatih fisik sesuai tujuan masing-masing, misalnya untuk persiapan masuk TNI/Polri. Latihan rutin membuat siswa lebih siap secara teknik dan fisik
21. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Agus S : Nilai seperti kerja sama dan disiplin diterapkan melalui permainan tim dan latihan. Siswa dilatih bekerja sama, menghargai lawan, dan mematuhi aturan permainan. Sikap ini juga terbawa dalam kehidupan sekolah sehari-hari
22. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Agus S : Kesehatan fisik dan mental siswa meningkat. Siswa lebih percaya diri dan aktif bergerak, sehingga fisiknya bugar dan mentalnya lebih stabil. Praktik olahraga menjadi media pengembangan kepercayaan diri dan pengendalian emosi
23. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Agus S : Ada peningkatan karena pembelajaran disesuaikan dengan minat dan kekuatan siswa. Siswa menjadi lebih termotivasi, memahami materi lebih dalam, dan menunjukkan performa optimal
24. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Agus S : Rasa percaya diri meningkat lewat kolaborasi dan latihan lintas sekolah. Siswa merasa mampu bersaing, belajar dari pengalaman, dan lebih yakin dengan kemampuannya
25. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Agus S : Ya, siswa mencapai kompetensi secara pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Mereka memahami teknik dasar dan mampu mempraktikkannya. Setiap siswa menunjukkan perkembangan sesuai potensinya masing-masing
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Yohanes Mau, M.Pd
Jabatan : Kepala Sekolah SMA Katolik Santo Gabriel
Hari/Tanggal : Senin, 24 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMA Katolik Santo Gabriel
Pertanyaan
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Yohanes : Kurikulum Merdeka sangat relevan dengan visi misi Sekolah Penggerak karena memberi ruang bagi pengembangan karakter, bakat, dan minat siswa. Dalam mata pelajaran PJOK, siswa tidak hanya dilatih secara fisik tetapi juga emosional. Mereka bebas berekspresi, berkolaborasi, dan berinovasi sesuai potensi masing-masing. Ini sangat mendukung tujuan pendidikan holistik yang dicanangkan sekolah
2. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Yohanes : Kebijakan sekolah mendukung secara menyeluruh. Kepala sekolah berperan aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah dan yayasan untuk memastikan semua aspek pelaksanaan Kurikulum Merdeka berjalan baik. Terdapat dukungan administratif, penganggaran, serta pendampingan bagi guru untuk mengatasi kendala teknis dan pedagogis dalam pelaksanaan kurikulum ini
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Yohanes : Kurikulum Merdeka dalam PJOK telah mengakomodasi budaya lokal. Implementasinya terlihat dari kegiatan seperti senam pagi dengan iringan lagu-lagu daerah, serta mendorong siswa untuk menciptakan gerakan senam sendiri berdasarkan budaya setempat. Ini menunjukkan bahwa muatan lokal bukan hanya dipertahankan, tetapi dikembangkan dalam konteks pembelajaran
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
4. Apakah guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Yohanes : Guru PJOK telah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak berwenang. Pelatihan tersebut membekali guru dengan pemahaman mendalam tentang struktur kurikulum, prinsip diferensiasi, asesmen, serta pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Hal ini membantu mereka lebih percaya diri dalam menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran, dan melakukan asesmen formatif maupun sumatif
5. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Yohanes : Pelatihan sangat efektif. Guru lebih siap dalam menyusun strategi pembelajaran yang kontekstual, kreatif, dan berpihak pada siswa. Mereka mampu menerjemahkan filosofi Kurikulum Merdeka ke dalam praktik pembelajaran yang inklusif dan adaptif, baik di kelas maupun lapangan. Guru juga lebih sigap dalam menghadapi tantangan melalui kolaborasi dan komunitas belajar
6. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Yohanes : Sarana dan prasarana sekolah cukup mendukung. Sekolah menyediakan alat olahraga dan pendukung budaya lokal seperti musik dan perlengkapan audio. Meskipun masih ada keterbatasan seperti belum memiliki lapangan permanen, sekolah tetap kreatif mencari solusi, misalnya dengan menyewa tempat latihan atau memaksimalkan lahan yang ada
7. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Yohanes : Ya, modul telah disusun oleh guru PJOK dan disesuaikan dengan Capaian Pembelajaran (CP) dan Profil Pelajar Pancasila. Modul ini digunakan secara aktif dalam pembelajaran sebagai panduan dan acuan. Guru menyusun sendiri materi berdasarkan karakteristik peserta didik dan tujuan pembelajaran yang telah ditentukan
8. Bagaimana dukungan dari Bapak/Ibu selaku kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Yohanes : Kepala sekolah sangat mendukung, baik secara moral, manajerial, maupun logistik. Beliau memberikan ruang bagi guru untuk berinovasi, memfasilitasi kebutuhan pembelajaran, dan mengarahkan agar pembelajaran PJOK bukan hanya melatih fisik, tetapi juga emosional dan karakter siswa
9. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Yohanes : Orang tua menunjukkan keterlibatan tinggi. Mereka hadir dalam kegiatan senam bersama, lomba, dan pertunjukan. Mereka tidak hanya mendukung secara moral tetapi juga berpartisipasi langsung, menunjukkan bahwa implementasi kurikulum ini berhasil memperkuat hubungan sekolah dengan komunitas
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
10. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Yohanes : Guru mengombinasikan metode lama dan baru. Misalnya, menggunakan pendekatan bertahap dalam latihan teknik dasar, dari alat sederhana ke standar. Metode pembelajaran berbasis pengalaman dan praktik langsung lebih dominan, mendorong keterlibatan siswa dan membangun kepercayaan diri
11. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Yohanes : Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, terutama melalui diskusi, latihan kelompok, dan penilaian sejawat. Guru memperhatikan kemampuan dasar tiap siswa, sehingga pembelajaran berlangsung secara inklusif dan berorientasi pada perkembangan individu
12. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Yohanes : Siswa sangat aktif berpartisipasi karena pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan partisipatif. Faktor utama pendorong adalah usia yang penuh energi, kebebasan berekspresi, dan suasana kelas yang suportif serta inklusif
13. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Yohanes : Teknologi digunakan secara efektif, seperti pemutaran video teknik olahraga atau penampilan atlet. Ini memberi gambaran nyata bagi siswa sebelum melakukan praktik, sehingga mereka lebih siap dan termotivasi
14. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Yohanes : Evaluasi dilakukan melalui tes tertulis, praktik, observasi, dan penilaian sikap. Prosesnya dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kemampuan siswa, sehingga adil dan objektif, serta mengukur secara menyeluruh aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
15. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Yohanes : Terjadi peningkatan signifikan. Siswa menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam teknik olahraga, kepercayaan diri saat tampil, dan keaktifan mengikuti perlombaan serta kegiatan ekstrakurikuler
16. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Yohanes : Nilai-nilai Pancasila sangat diterapkan. Siswa belajar disiplin melalui jadwal latihan dan aturan permainan. Kerja sama terlihat saat mereka saling membantu dalam latihan atau kompetisi, menciptakan semangat kekeluargaan yang kuat
17. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Yohanes : Kesehatan fisik dan mental siswa meningkat. Latihan rutin membantu menjaga kebugaran, sementara keberanian tampil membentuk mental yang lebih kuat dan percaya diri, terutama bagi siswa yang semula minder atau kurang percaya diri
18. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Yohanes : Ya, ada peningkatan hasil belajar, baik secara individu maupun kelompok. Sekolah semakin diakui di bidang olahraga dan berhasil menunjukkan kualitas dalam berbagai event antar sekolah
19. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Yohanes : Rasa percaya diri siswa berkembang pesat. Siswa yang dulunya ragu kini berani tampil, berbicara di depan umum, serta memimpin rekan dalam latihan. Ini juga berdampak pada aspek sosial dan akademik mereka secara keseluruhan
20. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Yohanes : Siswa telah berhasil mencapai kompetensi secara menyeluruh, baik aspek kognitif, psikomotorik, maupun afektif. Mereka mampu menunjukkan performa teknik, pemahaman materi, serta sikap sportif dan kolaboratif yang baik
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Yohanes Sapo, S.Pd
Jabatan : Guru PJOK
Hari/Tanggal : Senin, 24 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMA Katolik Santo Gabriel
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Kurikulum Merdeka sangat relevan karena memberi kebebasan kepada siswa untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Dalam PJOK, hal ini membantu siswa tumbuh tidak hanya secara fisik tetapi juga karakter, sesuai dengan misi Sekolah Penggerak dalam menciptakan pembelajaran holistik dan berpusat pada siswa
2. Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi di bidang olahraga? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Pak Y. Sapo : Ya, Kurikulum Merdeka menjawab kebutuhan siswa dalam mengembangkan keterampilan olahraga. Siswa lebih bebas mengekspresikan potensi, lebih aktif dalam latihan, dan menunjukkan perkembangan melalui bimbingan guru serta metode belajar yang fleksibel dan menyenangkan
3. Bagaimana kondisi budaya belajar di sekolah setelah penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Budaya belajar menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Siswa lebih semangat dalam mengikuti pembelajaran PJOK, serta menunjukkan antusiasme tinggi yang berdampak pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara keseluruhan
4. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Kebijakan sekolah sangat mendukung, termasuk dalam bentuk perhatian dari kepala sekolah, pemberian solusi atas kendala di lapangan, serta dukungan penuh terhadap kegiatan guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka
5. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Y. Sapo : Sudah. Implementasinya terlihat dalam kegiatan seperti senam budaya lokal (contoh: senam Yameto), pelaksanaan program “KALIMA”, serta pelibatan siswa dalam mengembangkan dan mempraktikkan budaya daerah melalui olahraga
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
6. Apakah Bapak/Ibu sebagai guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Y. Sapo : Sudah mengikuti pelatihan. Pelatihan tersebut sangat membantu meningkatkan pemahaman dalam menyusun RPP, mengelola kelas, menyesuaikan pembelajaran dengan karakter siswa, dan memahami prinsip diferensiasi dalam PJOK
7. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh Bapak/Ibu guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Y. Sapo : Pelatihan dinilai sangat efektif. Guru merasa lebih siap menyusun perencanaan, melaksanakan pembelajaran berbasis proyek, serta memberikan umpan balik yang konstruktif kepada siswa
8. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Y. Sapo : Sarana-prasarana dinilai baik dan mendukung pembelajaran. Ketersediaan alat olahraga memadai, serta pemanfaatan ruang yang fleksibel menjadi bagian penting dalam menunjang capaian pembelajaran.
9. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Y. Sapo : Modul disiapkan oleh guru berdasarkan garis besar dalam KSOP sekolah. Modul digunakan secara aktif dalam proses pembelajaran, dan disesuaikan dengan capaian dan profil siswa
10. Bagaimana dukungan dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Y. Sapo : Kepala sekolah sangat mendukung. Guru bebas berkonsultasi dan menerima arahan serta dukungan dalam bentuk logistik dan moral agar pembelajaran PJOK berjalan optimal
11. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Orang tua sangat terlibat, terutama dalam memberi masukan, saran, dan dukungan moral. Mereka juga dilibatkan dalam pemantauan perkembangan anak dalam PJOK
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
12. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Y. Sapo : Dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, guru PJOK menggunakan kombinasi antara metode pembelajaran tradisional dan pendekatan-pendekatan baru yang lebih kontekstual dan berpusat pada siswa. Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah pembelajaran berdiferensiasi, yang menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan, minat, dan kesiapan siswa. Guru juga menggunakan pembelajaran berbasis proyek dan praktik langsung, yang memberikan siswa ruang untuk mengalami, mengeksplorasi, dan mengevaluasi. Berbeda dengan sebelumnya yang cenderung seragam dan teacher-centered, kini metode pembelajaran lebih fleksibel dan menyenangkan bagi siswa.
13. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Siswa sangat dilibatkan dalam kolaborasi, baik dalam bentuk kerja kelompok saat praktik olahraga maupun dalam diskusi dan refleksi pembelajaran. Kolaborasi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antar siswa yang saling membantu dan berbagi pengalaman. Prinsip student-centered learning sangat ditekankan, di mana siswa tidak hanya menjadi objek pembelajaran tetapi juga pelaku aktif yang terlibat dalam pencapaian tujuan belajar bersama teman-temannya.
14. Apakah pembelajaran PJOK di sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif? Bisa dijelaskan contohnya?
Pak Y. Sapo : Pembelajaran PJOK sangat memberi ruang untuk kreativitas dan inovasi siswa. Misalnya, siswa diminta untuk menciptakan variasi gerakan senam, teknik passing dalam voli, atau strategi permainan yang bisa meningkatkan performa tim. Siswa juga diberi tantangan untuk menemukan solusi atas permasalahan dalam praktik olahraga, seperti bagaimana memperbaiki teknik agar hasil lebih maksimal. Ini menciptakan ruang berpikir kritis dan eksploratif bagi siswa.
15. Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada siswa dalam proses pembelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Umpan balik diberikan guru secara berkelanjutan dan konstruktif. Setelah evaluasi, guru memberikan masukan baik secara personal maupun klasikal. Feedback ini mencakup aspek teknik olahraga, sikap, kerja sama, serta peningkatan keterampilan. Tujuan utamanya adalah mendorong siswa untuk terus berkembang dan memperbaiki diri. Selain itu, umpan balik juga membantu guru menyesuaikan pendekatan mengajar sesuai respons siswa.
16. Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa di kelas PJOK?
Pak Y. Sapo : Penyesuaian dilakukan melalui asesmen diagnostik seperti observasi, wawancara, dan tes awal yang bertujuan mengetahui kondisi awal siswa. Dari informasi tersebut, guru menyusun pembelajaran yang berbeda bagi siswa dengan kemampuan atau kondisi yang berbeda pula. Contohnya, siswa yang belum menguasai teknik dasar diberikan pendampingan khusus atau tugas yang lebih ringan, sedangkan siswa yang sudah mahir diberi tantangan lanjutan agar tetap berkembang.
17. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Y. Sapo : Siswa sangat aktif berpartisipasi dalam pembelajaran. Faktor-faktor yang mendorong keaktifan ini antara lain metode pembelajaran yang menyenangkan, relevansi materi dengan kebutuhan dan minat siswa, kesempatan untuk bergerak bebas, adanya permainan, serta keterlibatan dalam proyek kelompok. Pembelajaran PJOK menjadi momen yang ditunggu-tunggu karena siswa merasa bebas, dihargai, dan dilibatkan sepenuhnya dalam proses belajar
18. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Y. Sapo : Teknologi dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang proses pembelajaran. Guru menggunakan proyektor untuk menampilkan video latihan, YouTube untuk menampilkan teknik dari atlet profesional, serta aplikasi rekaman video untuk memberikan contoh atau mereview gerakan siswa. Teknologi ini membantu siswa memahami materi secara visual dan memperkuat pemahaman sebelum praktik langsung
19. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Y. Sapo : Evaluasi dilakukan secara komprehensif mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian dilakukan melalui tes tertulis, observasi langsung saat praktik, penilaian proyek, dan asesmen sikap. Evaluasi bersifat objektif karena menggunakan rubrik penilaian yang jelas dan dilakukan secara transparan. Guru juga melibatkan siswa dalam refleksi hasil belajar, yang mendorong kesadaran akan kemajuan diri mereka
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
20. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Y. Sapo : Keterampilan siswa meningkat signifikan. Mereka menunjukkan pemahaman teknik yang lebih baik, kecepatan adaptasi dalam berbagai cabang olahraga, dan kemampuan berkoordinasi dalam tim. Kurikulum Merdeka yang memberi kebebasan dan tanggung jawab membuat siswa lebih sadar akan potensi dirinya dan terdorong untuk terus berlatih serta memperbaiki performa secara mandiri.
21. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Y. Sapo : Nilai-nilai Pancasila diintegrasikan dalam setiap aktivitas PJOK. Misalnya, dalam permainan tim siswa menunjukkan kerja sama yang solid. Disiplin ditanamkan dalam hal waktu kehadiran, ketertiban saat praktik, dan tanggung jawab terhadap tugas. Guru secara eksplisit membimbing siswa agar menanamkan nilai-nilai tersebut tidak hanya dalam olahraga, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
22. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Y. Sapo : Kurikulum Merdeka memberi pengaruh positif terhadap kesehatan fisik karena aktivitas olahraga dilakukan secara rutin dan menyenangkan. Siswa menjadi lebih bugar dan aktif. Secara mental, siswa menjadi lebih percaya diri, tidak mudah stres, dan lebih berani tampil di depan umum. Pembelajaran yang humanis dan partisipatif menciptakan lingkungan belajar yang sehat secara fisik dan psikologis.
23. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Y. Sapo : Ada peningkatan yang jelas dalam capaian akademik siswa. Hasil ulangan harian, formatif, dan sumatif menunjukkan tren kenaikan. Hal ini disebabkan pendekatan pembelajaran yang fleksibel, menyenangkan, dan sesuai dengan gaya belajar siswa. Guru juga memberi perhatian lebih pada kemajuan individu, bukan hanya hasil akhir.
24. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Y. Sapo : Rasa percaya diri siswa berkembang sangat baik. Mereka lebih berani tampil dalam kegiatan olahraga seperti memimpin pemanasan, menjawab pertanyaan, hingga mempresentasikan gerakan. Hal ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka berhasil mendorong siswa menjadi pribadi yang mandiri dan yakin terhadap kemampuan dirinya.
25. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Y. Sapo : Ya, siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan, baik dalam aspek pengetahuan (kognitif), keterampilan motorik (psikomotorik), maupun sikap (afektif). Keberhasilan ini dicapai berkat kolaborasi antara guru, kesiapan sarana-prasarana, pelatihan guru, dan keterlibatan aktif siswa dalam proses belajar. Komitmen semua pihak menjadi kunci dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang menyeluruh.
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Azia, S.Pd
Jabatan : Waka Kurikulum
Hari/Tanggal : Rabu, 26 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMAN 1 .......................
Pertanyaan
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Pak Azia : Kurikulum Merdeka sangat relevan dengan visi dan misi Sekolah Penggerak karena mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengedepankan pengembangan bakat dan minat, serta memberi ruang kebebasan dalam belajar. Dalam konteks PJOK, siswa diberi kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan fisik dan emosional mereka secara mandiri dan bertanggung jawab. Hal ini mendukung pencapaian tujuan sekolah untuk menciptakan peserta didik yang aktif, sehat, berkarakter, dan berprofil pelajar Pancasila
2. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Azia : Kebijakan sekolah sangat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka, baik secara administratif maupun operasional. Pihak sekolah, khususnya kepala sekolah dan wakil kurikulum, memberikan ruang bagi guru untuk berkonsultasi serta menyediakan solusi terhadap kendala yang muncul di lapangan. Dukungan ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi guru PJOK untuk menjalankan pembelajaran yang sesuai dengan prinsip Merdeka Belajar
3. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Pak Azia : Ya, Kurikulum Merdeka telah mempertimbangkan budaya lokal. Implementasinya tampak dalam kegiatan senam sehat yang dilaksanakan rutin di sekolah serta pengintegrasian program K5 (Kebersihan, Kesehatan, Keindahan, Kebugaran, dan Ketertiban). Selain itu, siswa dilibatkan dalam senam khas daerah seperti senam Yameto. Hal ini menunjukkan adanya usaha untuk mengangkat kearifan lokal ke dalam pembelajaran PJOK
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
4. Apakah guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Pak Azia : Guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Pelatihan tersebut sangat membantu guru dalam memahami prinsip-prinsip utama Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran diferensiasi, proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5), serta asesmen formatif. Guru menjadi lebih siap dalam menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan melakukan refleksi hasil belajar
5. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Pak Azia : Pelatihan yang diikuti dinilai sangat efektif. Guru lebih memahami teknis pelaksanaan pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mereka juga lebih percaya diri dan mandiri dalam menerapkan pembelajaran yang kontekstual dan adaptif terhadap karakteristik peserta didik
6. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Azia : Sarana dan prasarana dinilai cukup baik dan memadai. Sekolah menyediakan berbagai fasilitas sesuai dengan kebutuhan pembelajaran PJOK. Kelengkapan ini berpengaruh besar terhadap keberhasilan pembelajaran karena memungkinkan siswa berlatih dengan alat dan lingkungan yang mendukung tujuan belajar mereka
7. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Pak Azia : Modul pembelajaran telah disusun dalam dokumen Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Guru menyusun modul pembelajaran secara sistematis berdasarkan struktur yang telah ditetapkan. Modul ini digunakan sebagai panduan utama dalam proses pembelajaran dan disusun melalui kerja sama antar guru mapel.
8. Bagaimana dukungan dari Bapak/Ibu selaku kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Pak Azia : Dukungan kepala sekolah sangat kuat, baik dalam bentuk bimbingan, fasilitasi, maupun kebijakan. Kepala sekolah membuka ruang konsultasi, memberikan solusi terhadap kendala, dan memastikan bahwa pembelajaran PJOK berjalan sesuai prinsip Kurikulum Merdeka. Komitmen pimpinan sekolah menjadi faktor penting dalam suksesnya implementasi.
9. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Pak Azia : Orang tua menunjukkan keterlibatan yang positif. Mereka dilibatkan melalui komunikasi rutin dan wadah paguyuban, di mana guru PJOK dan orang tua saling memberikan masukan dan dukungan. Orang tua juga diminta memberikan tanggapan terhadap proses belajar anak dan turut berkontribusi dalam penyelesaian kendala belajar siswa.
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
10. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Pak Azia : Guru menerapkan kombinasi antara metode lama dan baru, dengan penekanan pada metode pembelajaran diferensiasi, berbasis proyek, dan penguatan karakter melalui P5. Metode ini memberikan ruang yang luas untuk adaptasi terhadap kesiapan dan gaya belajar siswa. Dibanding metode lama yang cenderung satu arah, kini pembelajaran lebih partisipatif dan berbasis pengalaman.
11. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Pak Azia : Siswa terlibat aktif dalam kolaborasi, baik dalam diskusi, praktik lapangan, maupun kerja kelompok. Pembelajaran menerapkan prinsip student-centered, di mana siswa saling bekerja sama, berbagi peran, dan membangun pengalaman belajar yang lebih bermakna. Kolaborasi ini mendorong interaksi yang positif dan memperkuat nilai sosial siswa
12. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Pak Azia : Siswa sangat aktif berpartisipasi. Faktor yang mempengaruhi antara lain metode yang menyenangkan, materi yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa, adanya ruang untuk eksplorasi dan kreativitas, serta pendekatan guru yang suportif. Selain itu, lingkungan kelas yang inklusif juga menjadi faktor pendorong
13. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Pak Azia : Teknologi digunakan secara efektif. Guru memanfaatkan proyektor, aplikasi seperti Canva, rekaman video, dan YouTube untuk memperjelas materi sebelum praktik. Penggunaan teknologi ini sangat membantu visualisasi konsep olahraga dan mempermudah siswa dalam memahami teknik gerakan
14. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Pak Azia : Evaluasi dilakukan secara menyeluruh meliputi tes tertulis, penilaian keterampilan melalui observasi langsung, penilaian sikap, serta hasil proyek. Evaluasi dilakukan oleh guru dan juga melibatkan siswa dalam penilaian diri dan teman sejawat. Proses ini dilakukan dengan objektivitas tinggi berdasarkan kriteria yang jelas.
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
15. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Pak Azia : Terdapat peningkatan keterampilan yang signifikan. Siswa lebih terampil dalam teknik olahraga, lebih percaya diri dalam mempraktikkan gerakan, dan menunjukkan antusiasme tinggi dalam kegiatan fisik. Hal ini karena pendekatan Kurikulum Merdeka yang memberi siswa kebebasan sekaligus tanggung jawab dalam proses belajar
16. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Pak Azia : Nilai-nilai Pancasila diterapkan secara konsisten. Kerja sama terlihat saat siswa melakukan aktivitas kelompok seperti sepak bola atau voli. Disiplin tercermin dari keteraturan kehadiran dan pelaksanaan tugas. Guru menanamkan nilai-nilai ini secara eksplisit sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa.
17. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Pak Azia : Pengaruhnya sangat positif. Kesehatan fisik meningkat karena siswa lebih aktif dalam kegiatan fisik, sementara kesehatan mental juga terbangun karena pembelajaran memberi ruang bagi ekspresi diri, tanggung jawab, dan penerimaan sosial. Siswa menjadi lebih berani, mandiri, dan stabil secara emosional.
18. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Pak Azia : Ada peningkatan hasil akademik siswa, yang terlihat dari ulangan harian, ulangan semester, dan asesmen sumatif lainnya. Kurikulum Merdeka mendorong siswa lebih bertanggung jawab atas proses belajar mereka, yang berdampak pada pemahaman dan penguasaan materi secara lebih baik.
19. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Pak Azia : Rasa percaya diri siswa meningkat pesat. Mereka tidak lagi malu tampil di depan umum, mampu memimpin pemanasan, mempresentasikan hasil latihan, dan menjawab pertanyaan guru. Ini menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka berhasil mendorong kepercayaan diri dan kesiapan tampil siswa.
20. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Pak Azia : Siswa berhasil mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan motorik, maupun sikap. Hal ini tercapai karena adanya kesiapan guru, kelengkapan sarana, metode pembelajaran yang tepat, serta komitmen guru dan siswa untuk melaksanakan pembelajaran secara sungguh-sungguh dan konsisten.
TRANSKIP WAWANCARA
EVALUASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA
PADA MATA PELAJARAN PJOK DI SEKOLAH PENGGERAK
SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KABUPATEN .......................
Nama Narasumber : Ria Asrima, S.Pd
Jabatan : Guru PJOK
Hari/Tanggal : Rabu, 26 Februari 2025
Lokasi Wawancara : SMAN 1 .......................
Pertanyaan :
A. Context (Konteks)
Relevansi dan kondisi umum pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Sekolah Penggerak.
1. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang relevansi Kurikulum Merdeka dengan visi dan misi Sekolah Penggerak, terutama dalam mata pelajaran PJOK?
Ibu Ria : Kurikulum Merdeka sangat relevan dengan visi dan misi Sekolah Penggerak karena memberikan kemerdekaan belajar kepada siswa sesuai dengan bakat dan minatnya. Dalam mata pelajaran PJOK, kurikulum ini membuka peluang luas bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan motorik, sosial, dan emosional melalui berbagai aktivitas fisik yang menyenangkan dan mendidik. Hal ini mendukung pencapaian profil pelajar Pancasila dan visi sekolah yang menekankan pada pengembangan karakter dan potensi siswa.
2. Apakah Bapak/Ibu merasa bahwa Kurikulum Merdeka sudah menjawab kebutuhan siswa dalam pengembangan kompetensi di bidang olahraga? Bisa dijelaskan lebih lanjut?
Ibu Ria : Ya, Kurikulum Merdeka telah menjawab kebutuhan siswa di bidang olahraga. Dengan fleksibilitas yang dimilikinya, siswa dapat mengikuti pelatihan sesuai minat dan kemampuan. Pembelajaran PJOK menjadi lebih terarah karena ada fokus pada pengembangan bakat dan minat, serta penguatan kemampuan fisik dan keterampilan gerak dasar melalui latihan yang berkelanjutan.
3. Bagaimana kondisi budaya belajar di sekolah setelah penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam pelajaran PJOK?
Ibu Ria : Budaya belajar di sekolah menjadi lebih positif dan dinamis. Siswa terlihat lebih semangat, antusias, dan aktif dalam mengikuti pembelajaran PJOK. Kegiatan pembelajaran yang menyenangkan menciptakan suasana belajar yang mendukung perkembangan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara seimbang.
4. Sejauh mana kebijakan yang ada di sekolah mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Ibu Ria : Kebijakan sekolah sangat mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Guru diberi ruang untuk berkonsultasi, mendapatkan umpan balik, dan menyampaikan kendala pembelajaran. Sekolah juga menyediakan solusi dan perhatian agar pembelajaran PJOK sesuai dengan prinsip dan tujuan Kurikulum Merdeka dapat terlaksana dengan baik.
5. Menurut Bapak/Ibu, apakah Kurikulum Merdeka dalam mata pelajaran PJOK sudah mempertimbangkan budaya lokal sekolah? Bagaimana implementasinya?
Ibu Ria : Sudah sangat mempertimbangkan. Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi siswa untuk menampilkan dan mengembangkan budaya lokal, seperti senam Yameto yang menjadi bagian dari pembelajaran. Implementasi lainnya adalah program K5 (Kebersihan, Kesehatan, Keindahan, Kebugaran, dan Ketertiban) yang menjadi bagian dari pendidikan karakter di sekolah.
B. Input (Masukan)
Evaluasi terkait sumber daya yang tersedia untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.
6. Apakah Bapak/Ibu sebagai guru PJOK telah mengikuti pelatihan terkait implementasi Kurikulum Merdeka? Jika ya, bagaimana pelatihan tersebut membantu dalam meningkatkan pemahaman mereka?
Ibu Ria : Iya, sudah mengikuti pelatihan. Pelatihan tersebut sangat membantu dalam memahami prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran diferensiasi, proyek P5, asesmen formatif, dan penyusunan modul ajar. Guru jadi lebih siap secara konseptual dan teknis.
7. Bagaimana efektivitas pelatihan yang diikuti oleh Bapak/Ibu guru PJOK dalam mempersiapkan mereka untuk menerapkan Kurikulum Merdeka?
Ibu Ria : Pelatihan sangat efektif karena mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran. Guru menjadi lebih percaya diri dalam menerapkan pendekatan yang adaptif terhadap kebutuhan siswa serta lebih siap menjalankan pembelajaran yang fleksibel dan berpihak pada siswa.
8. Sejauh mana sarana dan prasarana olahraga di sekolah mendukung pembelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Ibu Ria : Sarana dan prasarana di sekolah mendukung secara cukup baik. Ketersediaan alat olahraga dan fasilitas latihan memungkinkan pelaksanaan pembelajaran yang variatif dan kontekstual, meskipun masih perlu ditingkatkan dalam beberapa aspek.
9. Apakah ada modul atau materi pembelajaran yang disediakan oleh sekolah untuk mendukung pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Sejauh mana materi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran?
Ibu Ria : Modul pembelajaran telah disusun berdasarkan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP). Guru menyusun modul berdasarkan sistematika yang telah ditetapkan dan menggunakannya sebagai panduan utama dalam proses pembelajaran PJOK di kelas.
10. Bagaimana dukungan dari kepala sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya di bidang PJOK?
Ibu Ria : Dukungan kepala sekolah sangat besar, baik secara administratif maupun emosional. Kepala sekolah memberikan ruang diskusi, pendampingan, serta solusi atas kendala yang dihadapi guru PJOK. Ini memperkuat komitmen sekolah dalam menjalankan Kurikulum Merdeka secara menyeluruh.
11. Sejauh mana keterlibatan orang tua dalam mendukung implementasi Kurikulum Merdeka pada pembelajaran PJOK?
Ibu Ria : Orang tua terlibat melalui komunikasi dua arah dengan guru. Mereka memberi masukan terhadap proses pembelajaran anak dan mendukung secara moral serta logistik. Akses informasi terbuka antara orang tua dan guru membantu pembelajaran berjalan lancar dan sesuai harapan.
C. Process (Proses)
Proses pelaksanaan dan dinamika pembelajaran yang diterapkan dalam Kurikulum Merdeka.
12. Apa pendekatan atau metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PJOK dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka? Apakah ada perubahan dibandingkan dengan metode sebelumnya?
Ibu Ria : Guru menggunakan metode pembelajaran berdiferensiasi, berbasis proyek, dan prinsip pembelajaran yang fleksibel. Ini berbeda dengan metode sebelumnya yang lebih seragam. Kini, pendekatan yang digunakan menyesuaikan kemampuan awal siswa dan mendorong partisipasi aktif serta pengembangan potensi.
13. Sejauh mana guru melibatkan siswa dalam kolaborasi selama pembelajaran PJOK?
Ibu Ria : Guru sangat mendorong kolaborasi melalui kerja kelompok, praktik lapangan bersama, dan diskusi teknik olahraga. Kolaborasi ini memperkuat rasa kebersamaan siswa dan meningkatkan efektivitas belajar melalui saling belajar antar teman sebaya.
14. Apakah pembelajaran PJOK di sekolah memberikan kesempatan bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif? Bisa dijelaskan contohnya?
Ibu Ria : Ya, siswa diberi ruang untuk menunjukkan kreativitas dalam teknik olahraga. Contohnya, siswa diminta menjelaskan teknik passing bola atau menciptakan variasi latihan untuk meningkatkan kemampuan smash. Hal ini mendorong pemikiran kritis, eksplorasi, dan inovasi dalam pembelajaran
15. Bagaimana guru memberikan umpan balik kepada siswa dalam proses pembelajaran PJOK?
Ibu Ria : Guru memberikan umpan balik secara individu dan klasikal setelah melakukan analisis hasil belajar. Feedback ini digunakan untuk memperbaiki performa dan meningkatkan motivasi siswa. Umpan balik bersifat membangun, mendorong siswa untuk terus berkembang
16. Bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individual siswa di kelas PJOK?
Ibu Ria : Penyesuaian dilakukan melalui asesmen diagnostik awal, wawancara, dan observasi. Hasilnya digunakan untuk menyusun strategi pembelajaran sesuai kebutuhan dan kemampuan siswa. Ini menciptakan pengalaman belajar yang inklusif dan personal
17. Apakah siswa aktif berpartisipasi dalam pembelajaran PJOK? Apa saja faktor yang mempengaruhi partisipasi mereka?
Ibu Ria : Siswa sangat aktif. Partisipasi mereka dipengaruhi oleh pendekatan yang menyenangkan, materi yang kontekstual, metode yang interaktif, dan keterlibatan dalam aktivitas fisik yang sesuai minat mereka. Lingkungan kelas yang suportif juga menjadi faktor penting.
18. Bagaimana penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran PJOK? Apakah teknologi digunakan secara efektif dalam mendukung pembelajaran?
Ibu Ria : Teknologi digunakan secara efektif melalui media seperti proyektor, aplikasi Canva, video rekaman, dan YouTube. Media ini membantu visualisasi teknik olahraga dan membuat siswa lebih mudah memahami gerakan sebelum mempraktikkannya.
19. Seperti apa proses evaluasi yang dilakukan untuk mengukur pencapaian siswa dalam pelajaran PJOK? Apakah evaluasi ini adil dan objektif?
Ibu Ria : Evaluasi dilakukan melalui tes tertulis, observasi keterampilan, penilaian sikap, dan proyek. Penilaian dilakukan oleh guru dan terkadang juga melibatkan penilaian antar siswa. Evaluasi bersifat objektif karena didasarkan pada indikator yang terukur dan disepakati.
D. Product (Hasil)
Evaluasi terkait hasil yang dicapai setelah implementasi Kurikulum Merdeka.
20. Bagaimana perkembangan keterampilan olahraga siswa setelah penerapan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran PJOK?
Ibu Ria : Keterampilan olahraga siswa berkembang secara signifikan. Siswa menjadi lebih terampil dalam teknik, lebih percaya diri saat praktik, dan menunjukkan peningkatan dalam koordinasi serta kerja sama tim.
21. Apakah nilai-nilai Pancasila, seperti kerja sama dan disiplin, diterapkan dalam pembelajaran PJOK? Bagaimana siswa menunjukkan penerapan nilai tersebut?
Ibu Ria : Nilai-nilai Pancasila diterapkan secara aktif. Siswa menunjukkan kerja sama dalam permainan tim seperti sepak bola dan kedisiplinan dalam kehadiran serta menyelesaikan tugas. Guru juga secara eksplisit mengarahkan siswa untuk memahami dan menghidupi nilai-nilai tersebut.
22. Bagaimana pengaruh Kurikulum Merdeka terhadap kesehatan fisik dan mental siswa? Adakah perubahan yang terlihat pada siswa?
Ibu Ria : Kurikulum Merdeka berpengaruh positif. Siswa menjadi lebih bugar secara fisik dan stabil secara mental. Mereka lebih mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan. Aktivitas fisik dan nilai-nilai dalam pembelajaran PJOK juga membantu membentuk karakter yang tangguh.
23. Apakah ada peningkatan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah implementasi Kurikulum Merdeka?
Ibu Ria : Ya, terdapat peningkatan yang signifikan dalam hasil akademik siswa pada pelajaran PJOK setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka. Peningkatan ini terlihat dari hasil evaluasi formatif seperti ulangan harian, tugas individu dan kelompok, serta hasil asesmen sumatif seperti ulangan semester. Hal ini disebabkan karena pendekatan Kurikulum Merdeka memberikan ruang kebebasan dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses belajar. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktif dalam merancang, mengelola, dan merefleksikan proses belajar mereka sendiri. Proses pembelajaran yang lebih menyenangkan dan sesuai dengan minat serta gaya belajar siswa juga berkontribusi besar terhadap peningkatan akademik ini. Guru juga lebih memahami cara mengakomodasi kebutuhan individual siswa, yang berdampak positif terhadap pencapaian akademik secara keseluruhan
24. Bagaimana perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga? Apakah siswa menunjukkan kemajuan dalam hal ini?
Ibu Ria : Perkembangan rasa percaya diri siswa dalam kegiatan olahraga sangat menonjol setelah diterapkannya Kurikulum Merdeka. Siswa menjadi lebih berani tampil di depan kelas untuk memimpin pemanasan, mempraktikkan gerakan teknik, atau bahkan mempresentasikan hasil analisis mereka terhadap suatu gerakan olahraga. Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif dan partisipatif memungkinkan siswa merasa lebih dihargai dan diperhatikan. Ini sangat membantu dalam membangun kepercayaan diri mereka. Selain itu, karena siswa diberi kesempatan untuk mencoba berbagai aktivitas yang sesuai dengan bakat dan minat mereka, mereka pun merasa lebih nyaman dan tertantang untuk menunjukkan kemampuannya. Guru juga memberikan umpan balik positif secara konsisten yang menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan ide dan menampilkan kemampuan fisik mereka di lingkungan yang suportif.
25. Apakah siswa berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan Kurikulum Merdeka?
Ibu Ria : Siswa secara umum berhasil mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam mata pelajaran PJOK sesuai dengan standar Kurikulum Merdeka. Kompetensi yang dimaksud mencakup tiga aspek utama: pengetahuan, keterampilan motorik, dan sikap. Dalam aspek pengetahuan, siswa memahami konsep-konsep dasar olahraga dan kesehatan jasmani. Dalam aspek keterampilan, siswa mampu menunjukkan gerakan dasar dan lanjutan berbagai cabang olahraga dengan teknik yang benar. Sementara dalam aspek sikap, siswa menunjukkan nilai-nilai seperti kerja sama, sportivitas, tanggung jawab, dan disiplin. Keberhasilan ini dicapai karena beberapa faktor pendukung, seperti kesiapan guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, kelengkapan sarana dan prasarana, serta dukungan lingkungan belajar yang positif. Guru juga melakukan evaluasi yang menyeluruh dan berbasis pada capaian pembelajaran, sehingga pencapaian siswa dapat diukur dengan adil dan akurat. Dengan pendekatan yang lebih personal, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan mampu mendorong tercapainya seluruh indikator kompetensi yang ditargetkan.
Untuk tindak lanjut silahkan : klik DOWNLOAD atau hub. (WA) 081327121707-(WA) 081327789201 terima kasih
'/>
'/>
'/>
'/>
'/>





