File Lengkap, dan Berdonasi. Hub. 081327121707 (SMS Only) untuk konfirmasi lebih lanjut

Selasa, 11 Desember 2012

PROPOSAL SKRIPSI PENGARUH HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP AKHLAK TERPUJI DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU SISWA DI MTs NURUL HUDA CIPOROS KARANGPUCUNG



PROPOSAL SKRIPSI
PENGARUH HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK TERHADAP AKHLAK TERPUJI DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU SISWA DI MTs NURUL HUDA CIPOROS KARANGPUCUNG

A.    Latar Belakang Masalah
Mata  pelajaran  aqidah  akhlak  bertujuan  untuk  menumbuhkan  dan meningkatkan  keimanan  peserta  didik  yang  diwujudkan  dalam  akhlaknya  yang terpuji,  melalui  pemberian  dan  pemupukan  pengetahuan,  penghayatan, pengamalan  serta  pengalaman  peserta  didik  tentang  aqidah  dan  akhlak  Islam, sehingga  menjadi  manusia  muslim  yang  terus  berkembang  dan  meningkat kualitas  keimanan  dan  ketaqwaannya  kepada  Allah  SWT,  serta  berakhlak  mulia dalam  kehidupan  pribadi,  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara,  serta  untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Kompetensi mata pelajaran aqidah akhlak berisi sekumpulan kemampuan minimal  yang  harus  dikuasai  peserta  didik  setelah  menempuh  Mata  Pelajaran Aqidah  Akhlak  di  MTs.  Kompetensi  ini  berorientasi  pada  perilaku  afektif  dan psikomotorik  dengan  dukungan  pengetahuan  kognitif  dalam  rangka  memperkuat aqidah  serta  meningkatkan  kualitas  akhlak  sesuai  dengan  ajaran  Islam. Kompetensi  mata pelajaran  aqidah  akhlak  di  MTs  adalah  meliputi:  rukun  iman, berbudi  pekerti  luhur  yang  tercermin  dalam  perilaku  sehari-hari  dalam hubungannya  dengan  Allah,  sesama  manusia,  dan  alam  sekitar;  mampu  menjaga kemurnian  Aqidah  Islam;  memiliki  keimanan  yang  kokoh  yang  dilandasi  dalil-dalil naqli (al-QurĂ­an dan Hadits), dalil aqli (Rasionalitas).   
Sebagaimana dipahami bahwa para remaja berkembang secara integral, dalam arti fungsi–fungsi jiwanya saling mempengaruhi secara organik. Karenanya sepanjang perkembangannya membutuhkan bimbingan sebaik–baiknya dari orang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab terhadap jiwa para remaja yang menurut kodratnya terbuka terhadap pengaruh dari luar. Namun tidak jarang para remaja mengambil jalan pintas untuk mengatasi kemelut batin yang mereka alami itu. Pelarian batin ini terkadang akan mengarah ke perbuatan negatif dan merusak, seperti kasus narkoba, tawuran antar pelajar, maupun tindak kriminal merupakan bagian dari kegagalan para remaja dalam menemukan jalan hidup yang dapat menentramkan gejolak batinnya. Sehingga jika tingkah laku yang diperlihatkan sesuai dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku tersebut dinilai baik dan diterima. Sebaliknya, jika tingkah laku tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan norma yang berlaku, maka tingkah laku dinilai buruk dan ditolak (Jalaludin, 2005 : 267).
Akibatnya peranan serta efektivitas pendidikan aqidah akhlak di MTs sebagai landasan bagi pengembangan spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat dipertanyakan. Dengan demikian jika pendidikan aqidah akhlak yang dijadikan landasan pengembangan nilai spiritual dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat akan lebih baik. Juga sebagaimana diketahui, bahwa inti ajaran Islam meliputi: masalah keimanan (akidah), masalah keislaman (syari’ah), dan masalah ikhsan (akhlak) (Zuhairini dan Abdul Ghofir, 2004 : 48).
Kemudian ruang lingkup akhlak meliputi tiga bidang yaitu akhlak kepada Allah, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlak terhadap alam lingkungan. Dengan demikian, akhlak mencakup jasmani dan rohani, lahir dan batin, dunia dan akhirat, bersifat universal, berlaku sepanjang zaman dan mencakup hubungan dengan Allah, manusia dan alam lingkungan.
Demikian pula dengan pendidikan yang bijaksana dan mengetahui metodologi yang tepat bagi masing–masing individu (siswa), diharapkan para remaja dapat mencapai kesempurnaan. Selanjutnya kita tahu bahwa pada umumnya pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budinurani) dan jasmani (panca indera serta ketrampilan-ketrampilan).
Di samping itu, pada hakekatnya pendidikan merupakan kebutuhan yang utama bagi manusia, yang dimulai sejak manusia lahir sampai meninggal dunia, bahkan manusia tidak akan menjadi manusia yang berkepribadian utama tanpa melalui pendidikan. Begitu pula dengan pendidikan aqidah akhlak di Madrasah Tsanawiyah memang bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam pembentukan tingkah laku siswa. Apalagi dalam pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak tersebut masih terdapat kelemahan-kelemahan yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terus-menerus.
Kelemahan tersebut terdapat pada materi pendidikan aqidah akhlak yang lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan (kognitif) dan minim dalam pembentukan sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Kendala lainnya adalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekan nilai-nilai keyakinan tauhid dan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pembangunan, serta rendahnya peran serta orang tua siswa.
Dengan pendidikan aqidah akhlak diharapkan dapat menumbuhkan dan meningkatkan keimanan siswa yang diwujudkan dalam tingkah laku terpuji. Karena tingkah laku ditentukan oleh keseluruhan pengalaman yang didasari oleh pribadi seseorang. Kesadaran merupakan sebab dari tingkah laku. Artinya, bahwa apa yang dipikir dan dirasakan oleh individu itu menentukan apa yang akan dikerjakan. Adanya nilai yang dominan mewarnai seluruh kepribadian seseorang dan ikut serta menentukan tingkah lakunya. Dengan demikian dapat disadari betapa pentingnya peranan pendidikan aqidah akhlak dalam membentuk tingkah laku siswa seutuhnya.
Maka dari itu, pendidikan aqidah akhlak mempunyai arti dan peranan penting dalam membentuk tingkah laku siswa seutuhnya. Sebab dengan pendidikan aqidah akhlak ini siswa tidak diarahkan kepada pencapaian kebahagiaan hidup di dunia saja, tetapi juga untuk kebahagiaan hidup di akhirat. Dengan pendidikan aqidah akhlak siswa diarahkan mencapai keseimbangan antara kemajuan lahiriah dan batiniah, keselarasan hubungan antara manusia dalam lingkup sosial masyarakat dan lingkungannya juga hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan dengan pendidikan aqidah akhlak pula siswa akan memiliki derajat yang tinggi yang melebihi makhluk lainnya.
Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa pelaksanaan pendidikan aqidah akhlak dapat dipandang sebagai suatu wadah untuk membina dan membentuk tingkah laku siswa dalam mengembangkan pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) serta pembiasaan (psikomotorik). Oleh sebab itu pendidikan aqidah akhlak bertujuan untuk menumbuhkan pola tingkah laku siswa yang bulat melalui latihan kejiwaan, kecerdasan, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan aqidah akhlak dengan tujuan semacam itu harus melayani pertumbuhan siswa dalam segala aspeknya, baik aspek spiritual, intelektual, imajinasi, jasmaniah, ilmiah maupun bahasa. Pendidikan aqidah akhlak harus mendorong semua aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup berdasarkan nilai-nilai Islam.
Dan untuk mewujudkan tujuan di atas tentunya harus ditunjang dengan berbagai faktor seperti diantaranya guru atau pendidik, lingkungan, motivasi dan sarana yang relevan. Perkembangan dan pertumbuhan tingkah laku siswa berjalan cepat atau lambat tergantung pada sejauh mana faktor–faktor pendidikan aqidah akhlak dapat disediakan dan difungsikan sebaik mungkin. Yang dalam hal ini adalah lembaga sekolah pendidikan agama yang diberikan di lingkungan sekolah, lembaga sekolah pendidikan agama tidak hanya menyangkut proses belajar-mengajar yang berlangsung di kelas melalui intelegensia (kecerdasan otak) semata, tetapi juga menyangkut pada hal-hal lain seperti dengan guru, teman dan lingkungan yang sangat berpengaruh pada tingkah lakunya.
Dengan  melihat  pentingnya  pendidikan  aqidah  akhlak  diberikan  kepada siswa, maka penulis tertarik untuk lebih mendalami penelitian tentang aqidah akhlak dengan mengambil judul Pengaruh Hasil Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Terhadap Akhlak Terpuji Dalam Pembentukan Perilaku Siswa Di MTs Nurul Huda Ciporos Karangpucung.
B.     Definisi Operasional
Untuk mempermudah dan menghindari salah pengertian serta mempertegas ruang lingkup pembahasan, maka penulis memandang perlu menyampaikan batasan-batasan terhadap beberapa istilah  yang terdapat dalam judul diatas. Adapun istilah-istilah yang perlu dijelaskan antara lain:
1.      Hasil Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
Winkel (1996:162 ) mengatakan bahwa hasil belajar adalahsuatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991: 787), hasil belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru.
Hasil belajar Aqidah Akhlak adalah nilai yang didapat siswa berdasarkan pengetahuan, dan atau pengalamannya dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak, yang ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru, selama siswa tersebut belajar di sekolah.
2.      Akhlak Terpuji
Akhlak Terpuji (al-mahmudah) atau akhlak al-karimah artinya sikap dan sifat yang mulia atau terpuji, yang terkadang disebut dengan budi pekerti yang luhur.
3.      Perilaku Siswa
Dalam  bahasa  Inggris  disebut  dengan  behavior  yang  artinya  kelakuan, tindak-tanduk  jalan.  Perilaku  juga  tediri  dari  dua  kata  peri  dan  laku,  peri  yang artinya  sekeliling,  dekat,  melingkupi.  Dan  laku  artinya  tingkah  laku,  perbuatan, tindak tanduk. Secara  etimologis  perilaku  artinya  setiap  tindakan  manusia  atau  hewan  yang dapat  dilihat. Melihat  beberapa  uraian  di  atas  nampak  jelas  bahwa  perilaku  itu adalah kegiatan atau aktifitas yang melingkup seluruh aspek jasmaniah dan rohaniah yang bisa dilihat. Perilaku siswa yang dimaksud dalam skripsi ini adalah perbuatan atau aktifitas baik jasmani maupun rohani dari seorang siswa.
Maksud dari judul skripsi Pengaruh Hasil Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Terhadap Akhlak Terpuji Dalam Pembentukan Perilaku Siswa Di MTs Nurul Huda Ciporos Karangpucung adalah akibat atau pengaruh yang ditimbulkan dari nilai yang didapat siswa berdasarkan pengetahuan, dan atau pengalamannya dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak, yang ditunjukkan dengan nilai tes atau angka yang diberikan oleh guru, dengan pembentukan budi pekerti yang luhur oleh kegiatan atau aktifitas yang melingkup seluruh aspek jasmaniah dan rohaniah dari siswa di MTs Nurul Huda Ciporos Karangpucung.
C.    Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut sebagai berikut :
1.      Bagaimana hasil belajar siswa mata pelajaran aqidah akhlak di MTs Nurul Huda di desa Ciporos Kecamatan Karangpucung ?
2.      Bagaimana perilaku siswa setelah mempelajari materi aqidah akhlak di MTs Nurul Huda di desa Ciporos Kecamatan Karangpucung ?
3.      Apakah ada pengaruh antara hasil belajar siswa mata pelajaran aqidah akhlak dengan pembentukan perilaku siswa di MTs Nurul Huda di desa Ciporos Kecamatan Karangpucung ?
D.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
  1. Untuk  mengetahui  tingkat  penguasaan  siswa  terhadap  materi  mata  pelajaran  aqidah  akhlak  yang  telah  dipelajari  di  Madrasah  Tsanawiyah  Nurul Huda Ciporos Kecamatan Karangpucung
  2. Untuk memperoleh data tentang perilaku siswa MTs Nurul Huda setelah mereka mempelajari materi mata pelajaran aqidah akhlak.
  3. Untuk  menguji  apakah  benar  ada  pengaruh  yang  signifikan antara  penguasaan  materi  aqidah  akhlak  dengan  perilaku  siswa  MTs  Nurul Huda di Desa Ciporos Kecamatan Karangpucung
E.     Manfaat Penelitian
1.      Sebagai  pengalaman  dan  penanaman  guru  agama  terhadap  pendidkan akhlak  anak  didik  yang  didasarkan  pada  Pendidikan  Agama  Islam  di sekolah.
2.      Hasil  penelitian  ini  juga  dapat  digunakan  untuk  kepentingan pengembangan  ilmu  pengetahuan  tentang  pendidikan  khususnya  pada bidang pendidikan akhlak dan keimanan.
3.      Bagi penulis sendiri, penelitian ini berguna untuk memperdalam masalah akhlak siswa yang relevansinya dengan pendidikan aqidah akhlak sebagai disiplin ilmu.
F.     Telaah Pustaka
Beberapa buku yang dijadikan sebagai pedoman acuan teori-teori yang dipakai oleh penulis diantaranya adalah :
1.      Buku dengan judul Psikologi Agama karya Prof. Dr.H. Jalaludin diterbitkan oleh PT. Raja Grafindo Persada Jakarta tahun 2007, mengupas tentang psikologi agama sebagai disiplin ilmu , perkembangan, jiwa keagamaan pada anak dan remaja dan kesehatan mental.
2.      Buku dengan judul Aqidah Akhlak Untuk Madrasah Tsanawiyah dengan penerbit Intimedia tahun 2000, berisi tentang materi pembelajaran aqidah akhlak untuk Madrasah Tsanawiyah.
3.      Buku dengan judul Akhlak Tasawuf karya Dr. M. Solihin, M.ag, penerbit Nuansa tahun 2004, mengulas pendidikan akhlak manusia yang merupakan pondasi bagi semua tingkah laku manusia yang akan dipertanggung jawabkan nantinya di hadapan Alloh SWT.
4.      Buku dengan judul Menemukan Kembali Mutiara Budi Pekerti Luhur karya Sugeng Subagja, penerbit Majelis Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta tahun 2004, bahwa pendidikan akhlak dan budi pekerti harus tumbuh kembali terutama sebagai kurikulum dalam sekolah.
5.      Buku dengan judul Mendidik Anak Secara Islami karya Jaudah Muhammad Awwad tahun 2004, berisi tentang perkembangan psikologis anak, perkembangan emosi anak dan alternatif cara mengenalkan Islam.
6.      Karya Ilmiah yang dipakai oleh penulis sebagai acuan penulisan skripsi ini adalah skripsi dengan judul Hubungan Antara Perilaku Agama Orang Tua dengan Perilaku Agama Anak karya Komyati fakultas Tarbiyah IAIIG Cilacap tahun 2004, meneliti tentang hubungan yang signifika antara perilaku agama orang tua terhadap perilaku agama anak-anaknya. Dan karya Djahroni (STAIN, 2003) dalam skripsinya yang berjudul Hubungan Suasana Religius dalam Keluarga dengan Prestasi Belajar Qur¶an Hadist di Kelas 5 Dan 6 SDN Gebangsari 01 Genuk Kota Semarang Tahun 2003, yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara keaktifan anak dalam mengikuti kegiatan keagamaan di keluarga dengan nilai hasil belajar Qur’an Hadist yang dicapai. Jika dalam keluarga anak aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti sholat berjamaah dan tilawah Al- Qur’an, maka prestasi belajar Qur’an Hadistnya akan cenderung meningkat.
G.    Hipotesis
Menurut asal usulnya hipotesa berarti sesuatu kesimpulan atau pendapat yang masih kurang (hypo berarti kurang dari, sedangkan thesis berarti pendapat). Jadi kesimpulan itu belum final (proto conclution) karena masih harus dibuktikan. Setelah terbukti kebenarannya, hipotesa berubah menjadi tesa. Kemudian menurut Marzuki hipotesa adalah dugaan yang mungkin benar, atau mungkin juga salah. Dia akan ditolak jika salah atau palsu, dan akan diterima jika fakta-fakta membenarkannya.(Marzuki, 2001 : 38).
1.      Hipotesis Kerja (Ha)
Ada pengaruh yang signifikan antara hasil belajar mata pelajaran aqidah akhlak terhadap akhlak terpuji dalam pembentukan perilaku siswa di Mts Nurul Huda Ciporos Karangpucung.
2.      Hipotesis Nihil (Ho)
Tidak ada pengaruh yang signifikan antara hasil belajar mata pelajaran aqidah akhlak terhadap akhlak terpuji dalam pembentukan perilaku siswa di Mts Nurul Huda Ciporos Karangpucung.
H.    Metode Penelitian
Pengumpulan data yang diperlukan, dilaksanakan melalui suatu cara yang disebut “teknik” (sering juga disebut metode). Dan setiap metode atau teknik pengumpulan data menggunakan alat bantu yang disebut instrument pengumpulan data. Menurut Suharsimi Arikunto (1990: 134) metode atauteknik adalah cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untukmengumpulkan data. Teknik pengumpulan data yang banyak dipergunakan dalam ilmu sosial diantaranya adalah angket (kuisoner), wawancara, pengamatan, dokumentasi, daftar cocok dan tabel. (Muslimin, 2002: 20)
1.      Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan yang bersifat kuantitatif yang menggunakan studi deskriptif yaitu dengan menggambarkan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta serta hubungan antar fenomena yang diteliti.
2.      Metode Penentuan Subyek
a.       Populasi
Menurut Sutrisno Hadi (2000: 102), populasi adalah sejumlah individu yang mempunyai satu sifat sama, sedangkan menurut Suharsimi Arikunto (2002: 108), populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh siswa kelas IX MTs Nurul Huda Ciporos Tahun Pelajaran 2011/ 2012 yang berjumlah 245 siswa.
b.      Sampel
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 109), sampel adalah sebagian wakil dari populasi yang diteliti dengan menggunakan cara-cara tertentu. Apabila subyek lebih dari 100, maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih. (Arikunto, 1989: 134). Sampel yang penulis ambil adalah 15% dari 245 siswa yaitu 37 siswa. Untuk mempermudah dalam penghitungan maka jumlah sampel diambil 40 orang.
c.       Teknik Sampling
Teknik sampling adalah cara untuk menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang dijadikan sumber data sebenarnya dengan memperhatikan sifat- sifat dan penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif atau benar- benar mewakili populasi. (Nawawi, 1991: 152). Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik random sampling, yaitu pengambilan sampel secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. (Sugiyono, 2007: 82).
d.      Teknik Pengumpulan Data
Dalam setiap penelitian disamping menggunakan metode yang tepat, diperlukan pula kemampuan memillih dan menyusun teknik dan alat pengumpul data yang relevan. Kecermatan dalam memilih dan menyusun teknik dan alat pengumpul data ini sangat berpengaruh pada obyektivitas hasil penelitian. (Nawawi, 1991: 94). Adapun teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)      Angket atau Kuesioner
Kuesioner merupakan teknik pengumpuan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. (Sugiyono, 2007: 142). Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang pendidikan agama dalam keluarga yang diperoleh siswa kelas IX MTs Nurul Huda Ciporos tahun pelajaran 2011/ 2012.
2)      Dokumentasi
Merupakan cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis, terutama berupa arsip-arsip dan termasuk pula buku-buku tentang pendapat, teori, dalil/ hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. (Nawawi, 1991: 133). Metode ini bertujuan untuk memperoleh data dengan mempelajari hal- hal yang berupa catatan, transkrip, agenda yang dianggap penting yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti, yaitu tentang sejarah, struktur organisasi, kurikulum, keadaan guru dan siswa, sarana dan prasarana, daftar nama siswa, serta prestasi belajar Aqidah Akhlak siswa kelas IX MTs Nurul Huda Ciporos tahun pelajaran 2011/ 2012.
3)      Observasi
Menurut Sutrisno Hadi (dalam Sugiyono, 2007: 145), observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses pengamatan dan ingatan. Metode ini penulis pergunakan unuk memperoleh data-data tentang keadaan umum MTs Nurul Huda , seperti letak geografis, serta sarana dan prasarana.

4)      Wawancara (interview)
Wawancara (interview) adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan, untuk dijawab secara lisan pula. (Nawawi, 1991: 111). Dalam penelitian ini penulis mempergunakan metode interview secara langsung atau terbuka, yaitu pada waktu mengadakan wawancara terhadap responden, penulis menyiapkan daftar pertanyaan yang telah disusun sedemikian rupa dan responden diberi kesempatan untuk menjawab. Adapun yang menjadi responden adalah guru mata pelajaran Aqidah Akhlak kelas IX, dan guru Bimbingan dan Konseling MTs Nurul Huda Ciporos. Metode ini dipergunakan untuk mendapatkan data tentang keadaan wali murid siswa, dan prestasi belajar aqidah akhlak siswa.
e.       Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis data statistik yang digunakan untuk menguji hubungan variabel berupa korelasi Product Moment. Teknik korelasi ini digunakan mencari hubungan dan membuktikan hipotesis hubungan dua variabel. (Sugiyono, 2007: 243). Adapun rumus Korelasi Product Moment adalah:


Keterangan:
rxy    =    angka indeks korelasi "r" product moment
N      =    jumlah responden
X      =    variabel dari pendidikan agama Islam dalam keluarga
Y      =    variabel dari prestasi belajar aqidah akhlak siswa
SXY =    jumlah perkalian antara skor X dan skor Y
∑X         =             jumlah seluruh skor X
∑Y         =             jumlah seluruh skor Y. ( Sudijono, 1996: 193)
Agar dapat menentukan tingkat hubungan antara varia bel-variabel ini maka digunakan juga koefisiensi korelasi, yaitu suatu alat statistik yang dapat digunakan untuk membandingkan hasil pengukuran dua variabel yang berbeda (Arikunto, 1992:213). Agar hasil perhitungan koefisiensi korelasi signifikan, maka perlu dibandingkan dengan r tabel dengan taraf kesalahan tertentu. Dan untuk memberikan penafsiran terhadap koefisiensi korelasi yang ditemukan tersebut tinggi atau lemah, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagai berikut :





I.       Sistematika Penulisan Skripsi
Sistematika penulisan dalam skripsi ini terdiri dari lima bab yaitu :
BAB I       :     Pendahuluan
Latar belakang masalah, definisi operasional, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, telaah pustaka, hipotesis dan sistematika penulisan.
BAB II      :     Landasan Teori
Pengertian dai aqidah akhlak, akhlak terpuji dan perilaku siswa serta macam-macam aqidah akhlak, akhlak terpuji.
BAB III    :     Metode Penelitian
Jenis penelitian, lokasi penelitian, waktu penelitian teknik analisa data
BAB IV    :     Hasil Penelitian dan Pembahasan
Gambaran umum MTs Nurul Huda , analisis dan pembahasan
BAB V      :     Penutup
Kesimpulan dan saran
Pada bagian akhir berisi tentang daftar pustaka dan lampira-lampiran